Senin, 13 April 2020

BUKAN YANG PERTAMA YANG MENDAPAT.


Yohanes 20:1-18

Keduanya berlari bersama-sama,

tetapi murid yang lain itu berlari lebih cepat dari pada Petrus

sehingga lebih dahulu sampai di kubur.

(Yoh. 20:4)
 
"Aneh ya, berita hoaks seperti ini kok mudah sekali diteruskan kepada orang lain," kata Erick penuh keheranan. Hari masih menunjukkan pukul 05.45 pagi, saat Erick mulai membuka gawainya seusai doa pagi. Pagi itu, sudah ada 3 pesan terusan yang dikirimkan oleh teman-temannya. Padahal, jika dicermati lebih lanjut, pesan-pesan itu belum terkonfirmasi kebenarannya. Namun, tetap diteruskan oleh teman-temannya, seolah-olah berita itu sangat penting untuk disebarluaskan. Di balik kenyataan itu, ada godaan untuk menjadi yang pertama dalam menyampaikan berita. Tak peduli apakah beritanya benar, namun saya harus menjadi yang pertama. "Sungguh zaman yang aneh," keluh Erick.

Simon Petrus ingin menjadi yang pertama tiba di kuburan Yesus, setelah Maria Magdalena menyampaikan berita bahwa batu penutup kubur Yesus telah terbuka. Murid yang dikasihi pun tidak mau kalah, ia berlari secepatnya untuk sampai di kubur. Mereka diteguhkan bahwa Yesus telah bangkit, keduanya lalu pulang ke rumah. Tetapi, Maria Magdalena bertahan di kubur. Ia sedih dalam kebingungan. Di manakah (jenazah) Yesus? Di tengah kesedihannya, ia dijumpai oleh Yesus yang bangkit. Kepadanya, Yesus memberikan tugas untuk memberitakan kebangkitan-Nya.

Dalam bacaan hari ini, bukan murid yang pertama tiba di kubur yang mendapat pesan kebangkitan dari Yesus, tetapi Maria Magdalena. Dalam hidup ini, menjadi yang pertama bukanlah yang terpenting. Bagi Yesus, hal yang terpenting adalah kesediaan kita untuk menjadi saksi bahwa Ia penuh kasih, dan telah bangkit untuk menjadi bukti penebusan dunia. 

Tuhan Yesus Memberkati..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar