Senin, 23 November 2020

Yg salah bukanlah sistem demokrasi Indonesia

"Level Fadli Zon, Aktivis 98, Ferdinand Ladeni Politik Tingkat Tinggi Jusuf Kalla" https://www.kompasiana.com/tokapelawi/5fb9ea6a8ede482a332fd8c2/dangkalnya-fadli-zon-aktivis-98-ferdinand-ladeni-politik-tingkat-tinggi-jusuf-kalla

"Level Fadli Zon, Aktivis 98, Ferdinand Ladeni Politik Tingkat Tinggi Jusuf Kalla" https://www.kompasiana.com/tokapelawi/5fb9ea6a8ede482a332fd8c2/dangkalnya-fadli-zon-aktivis-98-ferdinand-ladeni-politik-tingkat-tinggi-jusuf-kalla

FOLLOW
POLITIK PILIHAN
Level Fadli Zon, Aktivis 98, Ferdinand Ladeni Politik Tingkat Tinggi Jusuf Kalla
22 November 2020   12:15 Diperbarui: 22 November 2020   12:15 1254 8 0
Lihat fotoLevel Fadli Zon, Aktivis 98, Ferdinand Ladeni Politik Tingkat Tinggi Jusuf Kalla
sumber gambar Tribunnews.com

"Yg salah bukanlah sistem demokrasi Indonesia ttp elit politik yg menggunakan politik identitas menjual agama utk mengejar ambisi mrk. "Yang salah itu yang Jualan agama, ayat dan Tuhan serta surga. Itu memang salah dalam demokrasi,"Ferdinand Hutahaean.

Politik hari ini tampaknya membuka ke publik Siapa sebenarnya yang menghargai perjalanan bangsa ini. Setidaknya tulisan ini akan melibatkan beberapa tokoh. Pertama Fadli Zon. Sampai hari ini kader Gerindra yang mengambil Jalan terpisah dari partainya ini, terus mengkritik ulah Tentara Nasional Indonesia yang menurunkan seluruh baliho Habib Rizieq di Indonesia.

Pangdam Jaya Mayjen TNI Dudung Abdurachman tak mundur sekalipun banyak dikritik. sebab dukungan yang diterimanya juga banyak. Dan yang terpenting tindakannya didukung oleh Presiden Joko Widodo. Fadli Zon tak henti hentinya mengkritik Pangdam Jaya Mayjen TNI Dudung Abdurrahman, Fadli Zon mempermasalahkan tupoksi TNI seharusnya tidak menurunkan baliho.


Saat beberapa politisi sudah memotret Kejadian ini dengan dalam, Fadli Zon tampaknya betah berenang di permukaan. bahkan beberapa pihak sudah menjelaskan bahwa TNI boleh dilibatkan dalam menjaga keamanan dalam negeri. Itu kenapa TNI dilibatkan dalam bencana alam.

Namun sekali lagi, Fadli Zon tampaknya begitu polos walau sejatinya Dia terlihat pintar. Pendidikan Fadli Zon tidak main-main dia lulusan dari luar negeri. Tapi sayang analisanya sangat tidak mewakili pendidikan yang disandangnya. Penurunan baliho yang dilakukan oleh tentara nasional Indonesia itu hanyalah simbol.

Ini bukan sekadar penurunan baliho karena tidak bayar pajak atau merusak keindahan. Tapi penurunan baliho itu adalah simbol bahwa negara tidak takut dan negara akan melawan siapa pun yang berusaha memecah belah NKRI. Sebenarnya simbol-simbol itu sudah diperjelas oleh pernyataan Mayjen Dudung Abdurrahman, beliau sudah berkata Siapapun yang berusaha memecah belah rakyat indonesia akan dibubarkan dan akan berhadapan dengan TNI.

Harusnya Fadli Zon bangga melihat negara hadir. Bayangkan kalau yang turun kejalan adalah ormas lain, maka bisa ada konflik horizontal hingga pertikaian sesama rakyat. Maka turunnya TNI harus disyukuri sehingga tidak perlu ada konflik horizontal yang berkepanjangan.

Fadli Zon juga meminta agar Mayjen Dudung Abdurrahman dipecat, Fadli Zon lupa Siapa menteri pertahanan Indonesia saat ini. Bukankah Bapak Prabowo Subianto? Kenapa Fadli Zon tidak berani mengkritik Prabowo? Fadli Zon benar-benar sudah error.

Ini Politik Tingkat Tinggi Dengan Segudang Misteri
Persoalan ini sejatinya bukan hanya tentang Habib Rizieq. Jika mengutip tulisan pegiat media sosial Denny Siregar, dikatakan Habib Rizieq malah hanya pion. Sementara dari kacamata orang Awam Habib Rizieq adalah tokoh Sentral dan sosok paling penting dari polemik yang ada.

Masih mengutip tulisan-tulisan Denny Siregar, konon kelompok-kelompok radikal di Indonesia sejatinya hanya dimanfaatkan untuk kepentingan ekonomi oleh negara luar. Hal itu juga yang terjadi kepada negara di Timur Tengah yang mempunyai banyak cadangan minyak.

Negara-negara adikuasa sengaja menciptakan kelompok pemberontak yang melawan Pemerintah. Hal itulah yang terjadi juga di Indonesia. Indonesia konon memiliki banyak cadangan nikel, dan berharap Indonesia mau mengekspor mentahnya.

Tapi Jokowi tidak mau dan ingin memproduksi nikel tersebut menjadi baterai di Indonesia sehingga harganya dapat lebih mahal. Tindakan Jokowi tidak disenangi negara asing, sehingga politik adu domba adalah jalannya. Konon kelompok-kelompok radikal di Indonesia dibiayai oleh asing untuk menciptakan kerusuhan. Contohnya ya negara Timur Tengah tadi.

Kecurigaan juga muncul pada Jusuf Kalla yang belakangan turun gunung mengomentari Habib Rizieq. beberapa analisa sudah muncul di Facebook yang ditulis oleh orang-orang berkompeten. Tapi saya tidak akan masuk pada spekulasi tentang hal tersebut walaupun saya punya keyakinan tentang hal itu

Tapi yang jadi menarik adalah pernyataan Jusuf Kalla tentang ada yang salah dengan demokrasi Indonesia. Jusuf Kalla juga bicara tentang kesalahan partai Islam, tapi tentang kesalahan partai islam ini saya tidak punya keresahan untuk mengomentarinya.

Pernyataan Jusuf Kalla yang mengatakan ada yang salah dengan demokrasi di Indonesia menuai polemik. Jika demokrasi ini salah, apa Jusuf Kalla sudah lupa bahwa di demokrasi yang salah Inilah dia bersahasil menjadi wakil presiden dua kali dengan dua presiden yang berbeda.

Menanggapi pernyataan Jusuf Kalla, Budiman sudjatmiko mantan aktivis 98 yang pernah dipenjara di era Soeharto pun mengomentari.

"Pak JK atau siapapun jgn mengeluhkan ikhtiar baik dr masa lalu yg menghasilkan manfaat pd kalian di masa kini. Terlebih lagi mengangkangi masa depan dgn meludahi ikhtiar baik masa lalu. Jgn meludahi tangan yg memberimu makan, meskipun ia tangan berkusta."

"Saat generasi kami memperjuangkan demokrasi, kami tak berandai2 kesempurnaan tp terus memperbaiki. Bahkan bisa mengantar bpk 2 kali jd Wapres. Jika ukuran baiknya demokrasi itu dgn mendukung orang2 kesayangan pak JK yg tak cakap, kami BUKAN demokrat yg "baik".

Kalimat di atas adalah komentar Budiman atas pernyataan Jusuf Kalla. Jika dimaknai dengan benar pernyataan Budiman sebenarnya sangat keras. Di sana Budiman mengaitkan jika demokrasi yang dimaksud Jusuf Kalla adalah keuntungan untuk orang-orang yang didukungnya, maka Jusuf Kalla tidak tulus karena punya banyak kepentingan.

Hal yang sama juga dinyatakan oleh Ferdinand Hutahaean, mantan kader Demokrat ini berkata, bahwa demokrasinya tidak salah yang salah adalah orang yang memainkan isu identitas yang berpotensi memecah belah.

Sebenarnya ini sudah masuk ke dalam politik tingkat tinggi. Karena yang berbicara adalah mantan orang nomor dua di negara ini dan juga pengusaha besar. Ada banyak rahasia dan kepentingan di dalamnya. Itu kenapa kita butuh presiden yang kuat seperti Jokowi.

Karena harus kita akui pengadilan di negara ini belum berwibawa, juga hukumnya belum ditegakkan dengan ideal seperti di negara-negara maju. Bayangkan, di Korea Selatan sana anak dari pendiri Samsung saja bisa di penjara Padahal dia adalah Pangeran Samsung yang akan meneruskan konglomerasi perusahaan itu.

Sedangkan di Indonesia beda, di negara kita pengusaha Jadi penguasa, penguasa jadi pengusaha. Semua tujuannya sama yaitu untuk mengakali hukum dan peraturan agar kelompoknya semakin diuntungkan.

Inilah politik tingkat tinggi di balik layar yang tidak bisa dilihat Fadli Zon. Dan ternyata Fadli Zon tidak sepintar yang kita bayangkan.

Boleh setuju boleh tidak.
Level Fadli Zon, Aktivis 98, Ferdinand Ladeni Politik Tingkat Tinggi Jusuf Kalla
22 November 2020   12:15 Diperbarui: 22 November 2020   12:15 1254 8 0
Lihat fotoLevel Fadli Zon, Aktivis 98, Ferdinand Ladeni Politik Tingkat Tinggi Jusuf Kalla
sumber gambar Tribunnews.com

"Yg salah bukanlah sistem demokrasi Indonesia ttp elit politik yg menggunakan politik identitas menjual agama utk mengejar ambisi mrk. "Yang salah itu yang Jualan agama, ayat dan Tuhan serta surga. Itu memang salah dalam demokrasi,"Ferdinand Hutahaean.

Politik hari ini tampaknya membuka ke publik Siapa sebenarnya yang menghargai perjalanan bangsa ini. Setidaknya tulisan ini akan melibatkan beberapa tokoh. Pertama Fadli Zon. Sampai hari ini kader Gerindra yang mengambil Jalan terpisah dari partainya ini, terus mengkritik ulah Tentara Nasional Indonesia yang menurunkan seluruh baliho Habib Rizieq di Indonesia.

Pangdam Jaya Mayjen TNI Dudung Abdurachman tak mundur sekalipun banyak dikritik. sebab dukungan yang diterimanya juga banyak. Dan yang terpenting tindakannya didukung oleh Presiden Joko Widodo. Fadli Zon tak henti hentinya mengkritik Pangdam Jaya Mayjen TNI Dudung Abdurrahman, Fadli Zon mempermasalahkan tupoksi TNI seharusnya tidak menurunkan baliho.


Saat beberapa politisi sudah memotret Kejadian ini dengan dalam, Fadli Zon tampaknya betah berenang di permukaan. bahkan beberapa pihak sudah menjelaskan bahwa TNI boleh dilibatkan dalam menjaga keamanan dalam negeri. Itu kenapa TNI dilibatkan dalam bencana alam.

Namun sekali lagi, Fadli Zon tampaknya begitu polos walau sejatinya Dia terlihat pintar. Pendidikan Fadli Zon tidak main-main dia lulusan dari luar negeri. Tapi sayang analisanya sangat tidak mewakili pendidikan yang disandangnya. Penurunan baliho yang dilakukan oleh tentara nasional Indonesia itu hanyalah simbol.

Ini bukan sekadar penurunan baliho karena tidak bayar pajak atau merusak keindahan. Tapi penurunan baliho itu adalah simbol bahwa negara tidak takut dan negara akan melawan siapa pun yang berusaha memecah belah NKRI. Sebenarnya simbol-simbol itu sudah diperjelas oleh pernyataan Mayjen Dudung Abdurrahman, beliau sudah berkata Siapapun yang berusaha memecah belah rakyat indonesia akan dibubarkan dan akan berhadapan dengan TNI.

Harusnya Fadli Zon bangga melihat negara hadir. Bayangkan kalau yang turun kejalan adalah ormas lain, maka bisa ada konflik horizontal hingga pertikaian sesama rakyat. Maka turunnya TNI harus disyukuri sehingga tidak perlu ada konflik horizontal yang berkepanjangan.

Fadli Zon juga meminta agar Mayjen Dudung Abdurrahman dipecat, Fadli Zon lupa Siapa menteri pertahanan Indonesia saat ini. Bukankah Bapak Prabowo Subianto? Kenapa Fadli Zon tidak berani mengkritik Prabowo? Fadli Zon benar-benar sudah error.

Ini Politik Tingkat Tinggi Dengan Segudang Misteri
Persoalan ini sejatinya bukan hanya tentang Habib Rizieq. Jika mengutip tulisan pegiat media sosial Denny Siregar, dikatakan Habib Rizieq malah hanya pion. Sementara dari kacamata orang Awam Habib Rizieq adalah tokoh Sentral dan sosok paling penting dari polemik yang ada.

Masih mengutip tulisan-tulisan Denny Siregar, konon kelompok-kelompok radikal di Indonesia sejatinya hanya dimanfaatkan untuk kepentingan ekonomi oleh negara luar. Hal itu juga yang terjadi kepada negara di Timur Tengah yang mempunyai banyak cadangan minyak.

Negara-negara adikuasa sengaja menciptakan kelompok pemberontak yang melawan Pemerintah. Hal itulah yang terjadi juga di Indonesia. Indonesia konon memiliki banyak cadangan nikel, dan berharap Indonesia mau mengekspor mentahnya.

Tapi Jokowi tidak mau dan ingin memproduksi nikel tersebut menjadi baterai di Indonesia sehingga harganya dapat lebih mahal. Tindakan Jokowi tidak disenangi negara asing, sehingga politik adu domba adalah jalannya. Konon kelompok-kelompok radikal di Indonesia dibiayai oleh asing untuk menciptakan kerusuhan. Contohnya ya negara Timur Tengah tadi.

Kecurigaan juga muncul pada Jusuf Kalla yang belakangan turun gunung mengomentari Habib Rizieq. beberapa analisa sudah muncul di Facebook yang ditulis oleh orang-orang berkompeten. Tapi saya tidak akan masuk pada spekulasi tentang hal tersebut walaupun saya punya keyakinan tentang hal itu

Tapi yang jadi menarik adalah pernyataan Jusuf Kalla tentang ada yang salah dengan demokrasi Indonesia. Jusuf Kalla juga bicara tentang kesalahan partai Islam, tapi tentang kesalahan partai islam ini saya tidak punya keresahan untuk mengomentarinya.

Pernyataan Jusuf Kalla yang mengatakan ada yang salah dengan demokrasi di Indonesia menuai polemik. Jika demokrasi ini salah, apa Jusuf Kalla sudah lupa bahwa di demokrasi yang salah Inilah dia bersahasil menjadi wakil presiden dua kali dengan dua presiden yang berbeda.

Menanggapi pernyataan Jusuf Kalla, Budiman sudjatmiko mantan aktivis 98 yang pernah dipenjara di era Soeharto pun mengomentari.

"Pak JK atau siapapun jgn mengeluhkan ikhtiar baik dr masa lalu yg menghasilkan manfaat pd kalian di masa kini. Terlebih lagi mengangkangi masa depan dgn meludahi ikhtiar baik masa lalu. Jgn meludahi tangan yg memberimu makan, meskipun ia tangan berkusta."

"Saat generasi kami memperjuangkan demokrasi, kami tak berandai2 kesempurnaan tp terus memperbaiki. Bahkan bisa mengantar bpk 2 kali jd Wapres. Jika ukuran baiknya demokrasi itu dgn mendukung orang2 kesayangan pak JK yg tak cakap, kami BUKAN demokrat yg "baik".

Kalimat di atas adalah komentar Budiman atas pernyataan Jusuf Kalla. Jika dimaknai dengan benar pernyataan Budiman sebenarnya sangat keras. Di sana Budiman mengaitkan jika demokrasi yang dimaksud Jusuf Kalla adalah keuntungan untuk orang-orang yang didukungnya, maka Jusuf Kalla tidak tulus karena punya banyak kepentingan.

Hal yang sama juga dinyatakan oleh Ferdinand Hutahaean, mantan kader Demokrat ini berkata, bahwa demokrasinya tidak salah yang salah adalah orang yang memainkan isu identitas yang berpotensi memecah belah.

Sebenarnya ini sudah masuk ke dalam politik tingkat tinggi. Karena yang berbicara adalah mantan orang nomor dua di negara ini dan juga pengusaha besar. Ada banyak rahasia dan kepentingan di dalamnya. Itu kenapa kita butuh presiden yang kuat seperti Jokowi.

Karena harus kita akui pengadilan di negara ini belum berwibawa, juga hukumnya belum ditegakkan dengan ideal seperti di negara-negara maju. Bayangkan, di Korea Selatan sana anak dari pendiri Samsung saja bisa di penjara Padahal dia adalah Pangeran Samsung yang akan meneruskan konglomerasi perusahaan itu.

Sedangkan di Indonesia beda, di negara kita pengusaha Jadi penguasa, penguasa jadi pengusaha. Semua tujuannya sama yaitu untuk mengakali hukum dan peraturan agar kelompoknya semakin diuntungkan.

Inilah politik tingkat tinggi di balik layar yang tidak bisa dilihat Fadli Zon. Dan ternyata Fadli Zon tidak sepintar yang kita bayangkan.

Boleh setuju boleh tidak.iug

Tidak ada komentar:

Posting Komentar