Kamis, 26 November 2020

SAAT IBU SUSi TAMPIL?



SAAT IBU SUSi TAMPIL?    .  Kemrungsung, gundah pikiran dan hati kita seringkali hadir karena sebab tak terpenuhinya hal logis yang seharusnya terjadi. Hal tak masuk akal, sebagai ganti apa yang seharusnya menurut nalar kita, justru adalah yang selalu kita dapatkan.    Menyaksikan Abas tetap berdiri kokoh, seolah tak pernah sedikitpun goyah dalam banyak badai telanjang yang menerpanya, adalah salah satu contoh.     Kita sering dibuat bingung dan tak mengerti. Hanya ada tanya kenapa, terucap pada bibir dan tak pernah ada jawab disana.     Demikian pula ketika seorang Susi Pudjiastuti justru diganti figur tak jelas apalagi masuk akal. Sampai hari ini, tanya yang tak pernah terjawab itu masih berserak dalam sisa sampah pikiran dan gerundelan kita.    Harapan atas tanya kenapa, tiba-tiba kembali menyeruak. Seolah jawab atas asa sudah dalam jangkauan, kita bersorak.     "Ini saatnya!"    Kita bergumam dalam semangat atas sosok kita rindu, untuk hadir mengisi celah itu. Celah lebar rasa kecewa kenapa bukan dia. Kenapa dulu bukan Susi seperti angan kita pernah.    Edhy Prabowo sosok tak pernah kita inginkan ditangkap oleh KPK.     Itu berita gembira bagi bukti bahwa dulu memang Susi seharusnya duduk di sana. Itu asa atas sebentar lagi Susi, sosok perempuan gahar yang mewakili pikiran logis kita akan kembali duduk di sana.    "Benarkah?"    Kita memang tak pernah mengerti kenapa harus sosok Edhy duduk di sana. Kalkulasi politik, hanya itu yang mungkin sedikit membuat kita menerimanya ketika sosok Jokowi harus kita sandingkan. Jokowi sebagai figur kita suka, ternyata berbicara tak seperti apa kita ingin. Dan kita tetap membela Jokowi meski hati tak puas.    Edhy di tangkap bukan karena sebab OTT.  Ada indikasi pidana padanya dan sangat mungkin karena hasil olah perkara yang sudah lama diselidiki KPK. Dia tidak sendiri, kabarnya bahkan anak hingga istrinya pun turut serta, persis setelah kepulangannya dari Amerika.    Ada perkara apa, bijaknya kita tunggu pers rilis KPK nanti. Bahwa ada slentingan terkait dengan kebijakan ekspor benih lobster, bukankah itu juga yang menjadi concern kita?    Kabarnya, KKP dilaporkan pernah memberikan izin kepada 30 perusahaan yang terdiri atas 25 perseroan terbatas atau PT, tiga CV, dan dua perusahaan berbentuk usaha dagang atau UD.     Dan katanya 25 perusahaan baru itu dibentuk hanya dalam waktu 2-3 bulan ke belakang bila dikaitkan dengan aktanya.    Pada PT RSN, misalnya, disana tercantum nama ABS sebaga komisaris utama. Dan, ABS ini adalah merupakan Wakil Ketua Umum Tunas Indonesia Raya, yang merupakan underbouw Partai Gerindra.     Mash ada tiga eksportir lainnya yang juga terafiliasi dengan partai yang sama.     Ada pula nama FH, mantan Wakil Ketua DPR, sebagai pemegang saham salah satu perusahaan. Trus, bisik-bisik, disana juga tertera beberapa nama lain dari Partai Golkar loh..    Akan kemana dan siapa saja bakal terseret, berikan ruang kepada KPK. Yang pasti, ini adalah cerita yang bakal heboh. Mengaitkan langsung dengan PS, please jangan buru-buru yak...    Tapi, dia yang sedang berjibaku dengan pilkada di Tangsel, bukan tak mungkin akan terdampak cerita ini bahkan hingga sang ayah.    Itu akan dengan mudah dikaitkan dengan tiga eksportir yang terafiliasi dimana ada nama terjalin erat dengan mereka yang posisinya sangat terhormat.    "Berarti, sudah tepat dong bila bu Susi harus tampil lagi menggantikan Edhy Prabowo?"    Saat penangkapan itu, nama Novel Baswedan tampil. Bahwa saat ini adalah waktu tepat bagi tabrakan, atau sengaja ditabrakkan bukan lagi cerita mustahil. Bukan saat kebetulan pula ribut kelompok MRS bersama boss besarnya yakni pak kumis yang sedang riuh dimaknai sebagai timing tepat. Nama Novel Baswedan sangat famliar dengan jenis pekerjaan seperti ini diagendakan.    Idenya adalah memecah ombak. Ombak besar Pilpres 2019 adalah badai berbahaya bagi Pilpres 2024 nanti. Pecah dan buatlah dia menjadi ombak-ombak kecil dan kemudian mereka akan saling membenturkan diri, hanya soal waktu kapan dan pada jalur mana.    Dijamin, siapa pembuat sekenario itu, pasti orang pintar. Siapa orang pintar itu, mundurlah pada cerita di mana sebagian besar dari kita marah dan gusar saat diangkatnya PS sebagai menteri. Di sana, awal cerita itu bermula. Batu pijakan pertamanya tampak tak meyakinkan dan kita pun tak mengerti kemana sebenarnya dia akan melangkah.    Siapa akan mengantikan posisi Edhy Prabowo, harapan besar kita pada sosok Susi bukan sesuatu yang salah apalagi buruk. Sosok itu sangat mewakili banyak hati dan pikiran rakyat Indonesia. Dia dengan segala lebih dan kurangnya adalah gambaran tentang pribadi yang membumi. Perempuan nyablak, modis, dan galak,  Susi Pudjiastuti namanya.    Namun menawarkan gagasan atas pikiran baik kita pada Presiden, tak selalu berarti sama. Dia lebih mengerti apa itu butuh bagi dirinya. Benar bahwa dia tak akan menilai Susi kurang hebat, namun Presiden kenal dirinya sendiri jauh lebih baik dibanding angan dan harapan kita.    Yang jelas, melepaskan Susi dan kemudian memberikan kursi itu pada Edhy demi puzzel tersusun dengan benar, sedang dan masih dia lakukan dan kita masih tak mengerti apa pun gambaran besarnya. Kita masih tak tahu gambar apa akan diberikan pada kita saat semua puzzel itu tersusun.    Bagaimana dengan Susi dan kursi itu, yakinlah dia pasti lebih tahu di mana Susi harus berdiri bersamanya.  .  .  RAHAYU  .  Karto Bugel

Tidak ada komentar:

Posting Komentar