Senin, 28 September 2020

Agama vs Customer Service*

Seorang pria ke rumah ibadah bersama istrinya.
Ia lupa mematikan ringer hp-nya, dan secara tiba tiba berdering keras waktu ibadah sdg berlangsung. Dengan grogi dia mengeluarkan hpnya dan mencari tombol silent, namun kelamaan karena kegrogiannya, sehingga keburu petugas datang dan menegurnya.
Orang2 disekelilingnya ikut menggerutu karena dia sdh mengganggu kekhusukan dan ketenangan ibadah. 

Keluar dari tempat ibadah, orang2 memandanginya, menunjuk2 ke arahnya, bisik2,  mentertawakannya.

Sepanjang perjalanan pulang, Istrinya yg merasa malu terus menerus memarahinya karena keteledorannya itu.

Rasa bersalahnya menggunung jauh lebih tinggi daripada yg sewajarnya.
Sejak itu dia tidak lagi melangkahkan kakinya ke rumah ibadah tsb.
Rumah ibadah yg konon berisi orang2 yang beragama dan yang beriman ternyata TIDAK mudah memaafkan orang yang bersalah bahkan terus menerus mempermasalahkan kesalahannya.

_Dan......😡

Malamnya, ia pergi ke bar menenangkan dirinya. Dia memesan minuman, dan karena masih grogi, ia TIDAK sengaja menumpahkan minumannya.
Pelayan bar dgn sigap memberikan lap bersih kepadanya untuk membersihkan pakaiannya, & bersimpati atas kejadian tsb. 
Petugas yg lain segera datang dan mengepel lantai.
Dan usai itu Manajer bar mendatangi memberinya minuman pengganti. Ia juga menepuk pundaknya serta berkata 
*"Jgn kuatir sobat, tenang saja, siapa sih yg TiDAK pernah melakukan kesalahan?"*

Rasa bersalahnya segera Pudar.
Sejak saat itu, ia tidak pernah berhenti datang ke bar itu sebagai tempat pelariannya
Bar adalah tempat orang2 entertaint begitu bersimpati dengan kesalahannya dan mendukung bathinnya yang merasa bersalah.

PERENUNGAN:
Mengapa sikap orang yang beriman malah mudah melihat kesalahan orang dan sulit untuk memaafkan?

Sementara dunia entertaint yg hanya bermodal customer service lebih melayani dan mendukung?

Mengapa tentang pelajaran cinta kasih didalam kitab SUCI tidak dipraktekkan seperti semudah mempraktekkan SOP customer service?

sungguh suatu Ironi
 sekaligus suatu perenungan.

Mari kita Tertawa dulu, sebelum diprotes oleh para agamawan dan agamawati yg serba suci dan tidak bisa menerima adanya org yang bersalah....
🙏🙏🙏
Sebuah perenungan...karena kejadian seperti hal diatas☝bisa juga terjadi pada kita atau di lingkungan kita...🙏🙏🙏

Tidak ada komentar:

Posting Komentar