Rabu, 11 Mei 2022

Suamiku Jadul part 4

CERBUNG 

Suamiku Jadul
part 4

Keesokan harinya kami ke bank, suami mau mencairkan uang lima puluh juta, katanya mau beli motor baru untukku. Tentu saja aku senang sekali. Motor Mio-ku sudah benar-benar buluk  Umurnya sudah lebih sepuluh tahun. Akan tetapi aku heran, kenapa suami tak punya kenderaan?  Tak inginkah dia punya motor atau mobil? 

Setelah uangnya kami ambil, langsung kami ke showroom motor. Suami suruh aku milih-milih, sedangkan dia hanya duduk. Sebenarnya aku ingin motor matic besar keluaran terbaru. Jika bertemu si Rapi lagi aku bisa membusungkan dada. Akan tetapi teringat perkataan suami untuk beli yang dibutuhkan saja, bukan yang diinginkan. Akhirnya aku pilih yang standar saja yang harganya dua puluhan juta. 

"Ini depenya tiga jutaan, kreditnya sejutaan perbulan," kata seorang penjaga toko. 

"Kami mau beli kontan," jawab suami. 

Wanita penjaga toko itu justru melihat suami dengan pandangan aneh, mungkin dia tak menyangka suamiku bisa beli tunai. Melihat penampilan suami yang seperti tukang bangunan saja. 

"Ini harganya dua puluhan juta, lo, Pak?" kata wanita itu lagi. 

"Iya, boleh beli kontan kan?" tanya suami. 

"Boleh, boleh," kata wanita itu. 

Aku bingung antara pilih Vario atau scoopy, sementara suami hanya mendampingi, membiarkan aku memilih. Mungkin karena terlalu lama aku memilih, si penjaga toko kesal. 

"Mau beli nggak sih?" katanya ketus. 

Beli Vario atau Scoopy, Bang, aku bingung," tanyaku pada suami. 

"Udah, dari pada bingung, beli aja dua-duanya," jawab suami. 

Penjaga toko itu seperti heran, "beli dua, tunai?" tanyanya seperti tak percaya. 

"Iya, boleh kan?" tanya suami. 

"Bolehlah," 

Aku ingin beli keduanya, akan tetapi lagi-lagi aku teringat perkataan suami, beli yang dibutuhkan saja. Akhirnya aku pilih vario. Si wanita penjaga melihat kami dengan mata melotot ketika suami bayar motor tersebut dengan tunai. Ketika kami mau pulang, kulihat wanita itu berbicara dengan suami, entah apa yang dia bicarakan aku tak tahu. 

Kami pulang, motor baru akan mereka antar ke rumah. 

"Itu cewek tadi bilang apa sama Abang?" tanyaku penasaran. 

"Dia minta nomor WA, aku bilang gak ada, dia gak percaya," jawab suami. 

Wah, bibit pelakor itu. Ternyata betul juga kata orang, pelakor ada di mana-mana, berani sekali dia minta nomor WA suamiku di depan mataku pula. 

Ayah akhirnya jadi berangkat ke tanah suci, tiket dan segalanya sudah diurus, sebelum berangkat beliau minta kami semua berkumpul di rumah orang tua. Acara makan bersama melepas Ayah pergi umroh. 

"Motor baru kau, Nia?" kata kakak ipar begitu kami sampai, belum sempat juga kami turun dari motor. 

"Iya, Kak," jawabku singkat. 

"Ambil kredit berapa tahun?" tanyanya lagi.

"Beli kes, Kak," jawabku jujur. 

"Waw, hebat kau ya," kata Kakak ipar. 

Aku hanya tersenyum, kami tinggalkan dia yang terus memperhatikan motor Vario baruku. 

Ketika kami masuk rumah, para saudaraku lagi berunding tentang komsumsi. "Hei, Nia, sini dulu kau," panggil abangku yang tertua. 

"Begini Nia, entah kenapa akhir-akhir ini Ayah kita banyak permintaan, tadi dia minta sop kepala kambing, serta kari kambing untuk kita makan semua. Dari mana uangnya, dah berapa itu." terang abangku yang nomor dua. 

"Memang berapaan?" tanyaku kemudian. 

"Kita semua dua belas orang, tambah Ayah dan anak-anak, semua dua puluh satu orang, berarti butuh dua puluh satu porsi, dikali dua puluh lima ribu udah lima ratus lebih lebih, sup kepala kambing lagi," kata abangku yang nomor dua. 

"Entah kenapa Ayah begitu, makin tua makin seperti anak-anak saja," sambung kakak ipar. 

Kulihat suami, dia mengangguk seperti paham yang yang ingin kukatakan, dia lalu mengeluarkan dompetnya, memberikan uang merah sepuluh lembar. 

"Ini, ayo kita makan-makan," kata suami seraya meletakkan uang tersebut di atas meja. 

Semua saudaraku terdiam. Mereka saling pandang. Kemudian disepakati adik laki-lakiku dan suamiku yang pergi beli makanannya. 

Sepeninggal mereka, aku diinterogasi para saudara dan iparku. 

"Nia, jika dilihat tampang suamimu itu dari dulu aku sudah curiga padanya," kata Kakak ipar. 

"Curiga bagaimana?" tanyaku. 

"Lihat saja wajahnya, dingin, jarang bicara, jarang senyum," sambung abangku yang tertua. 

"Terus?" 

"Jujur sajalah, Nia, dia itu mencurigakan, kalau bukan kelompok begal, dia pasti pelihara tuyul atau babi ngepet," kata Kakak ipar. 

"Hahaha, hahaha," tawaku justru pecah. 

"Ketawa pula kau, Nia, ini serius, lihat ini, artikel ini," kata kakak ipar seraya menunjukkan HP-nya. 

Aku justru makin tertawa, tak tertarik melihat artikel yang dia tunjukkan. 

"Orang kampung itu banyak yang seperti itu, Nia, apalagi dari Mandailing sana, gak kerja tapi banyak duit, dari mana duitnya coba, lihat itu mudah kali dia berikan satu juta, pasti kan karena mudah datangnya," sambung Abang tertua. 

"Gak lah, souzon kalian," kataku masih berusaha menahan tawa. 

"Kerjamu jaga lilin kan tiap malam?" kata kakak ipar lagi. 

"Hahaha, hahaha," entah kenapa aku merasa lucu, kutinggalkan mereka dan menemui Ayah di kamarnya. 

"Ayah!" 

"Eh, kau Nia, Ayah lagi teringat ibumu, Nak," kata Ayah seraya memandang foto almarhumah Ibu. 

"Ibu sudah tenang di sana, Yah," kataku kemudian. 

"Iya, Nak, Ayah bentar lagi juga nyusul ibumu," 

Semenjak Ibu meninggal dua tahun lalu, Ayah memang banyak berubah, banyak permintaan, suka panggil kami semua untuk berkumpul. 

"Di mana Ayah kenal Bang Parlin?" tanyaku seraya duduk di dekat Ayah. 

"Dia anak temanku Pardomuan, teman masa muda Ayah, dia berhasil mendidik anak-anaknya."

"Ayah tahu sapinya banyak?"

"Tidak tau, yang Ayah tahu sawitnya luas, tapi bukan karena itu kau kujodohkan dengannya, tapi karena keserhanaannya, di jaman sekarang sulit cari orang seperti dia." 

Wah, ternyata selain punya sapi yang banyak, kebun sawit lagi luas, mungkin itu maksud suami, sapi itu sampingan, usaha utama adalah kebun sawit. Wah, aku istri juragan sawit?

*kalo masih ramai lancar lanjut part 5*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar