Jumat, 13 Mei 2022

Cerbung, Part 15

Suami melirikku, aku mengerti lirikannya, ya, aku memang salah, sempat aku cerita ke Rapi soal kami mau bayarkan zakat ke satu orang. Mungkin dialah yang cerita ke kakak iparku, sehingga kakak ipar berubah seratus delapan puluh derajat. Jadi ramah dan tiba-tiba bawa oleh-oleh. 

"Dalam agama juga dianjurkan supaya memberi ke orang terdekat dahulu," kata kakak ipar lagi. 

"Tapi itu zakat, Kak." Bang Parlin akhirnya bicara. 

"Iya, gak apa-apa, zakat pun jadi," abangku tampak semangat.

"Apakah Abang merasa orang yang berhak menerima zakat?" kata Bang Parlin lagi. 

Abang dan kakak iparku terdiam, mereka menunduk. 

"Karena kebetulan Kakak singgung soal agama, menurut agama kita orang yang berhak menerima zakat adalah. Fakir, miskin, amil, mualaf, riqab, Gharimin, fisabilillah dan ibnu sabil, itu kata Allah dalam al-quran, surat At-Taubah ayat 60. Jadi pertanyaanku adakah diantara yang delapan itu termasuk Abang, apakah Abang fakir, apakah Abang miskin, atau mualaf, atau barangkali fisabilillah?" kata suami lagi. 

Aku sampai melongo mendengar Bang Parlin bicara, pantas saja dia pernah mondok lima tahun, cara dia bicara mirip ustadz. Abang dan kakak ipar seperti kena mental, tak  bicara lagi. 

"Bergayalah sesuai isi dompet, kalau sampai minta warisan, minta zakat untuk gaya hidup, maaf, Bang, Kak, itu memalukan," kata Abang Parlin lagi. 

"Ya, udah, kami permisi dulu," kata abangku akhirnya.

"Maaf, Bang, hari itu kubilang si Rapi kita mau bayar zakat untuk satu orang, minta bantuan dia untuk menyelidiki orang yang aja kita bantu," kataku pada suami berharap dia tak marah. 

Aku tak menyangka Rapi akan bicara ke kakak ipar, memang aku juga salah, tak kubilang kalau ini rahasia. Ah, kadang sebel juga punya suami begini, orang kasih zakat sedikit saja sudah pakai pengumuman di medsos, ini musti diam-diam. Kadang sesekali ada juga keinginan untuk pamer. Entahlah. 

"Kenapa sih, Bang, harus diberikan ke satu orang, kita berikan saja ke panti asuhan, atau Lembaga Amil zakat resmi, kita jadi gak pusing." tanyaku pada suami. 

"Karena begitu yang kudapat, Dek, karena ada orang yang memberikan zakat dengan cara seperti itu pada Abang dulu, makanya Abang bisa begini, aku ingin berbuat seperti itu juga, biar ada yang terselamatkan kehidupannya," kata suami. 

"Pasti si Rara," kataku kemudian. 

"Bukan, Dek, orang tuanya, dia dokter puskesmas di desa dulu, dia yang berbuat begitu pada Abang, Abang dikasih lahan, ketika aku mau bayar kembali pada bapak itu, dia justru bilang begini, "Nanti kalau kau sukses, lakukan seperti yang kulakukan padamu, modali orang yang benar-benar mau berusaha, anggap saja Zakat, harta bersih, orang terbantu." kata Bang Parlin. 

"Oh, begitu,"

"Orang yang sudah kubantu pun pesan kita begitu, bila dia sukses, lakukan seperti yang dia dapatkan, jadi semacam arisan berantai, Ayahnya Rara bantu aku, setelah aku sukses, kubantu minimal tiga orang, yang tiga orang ini bantu tiga orang pula, begitu seterusnya, jadi ini akan menyebar, akan banyak orang yang terbantu."

Metode kebaikan yang sederhana, tapi hasilnya sangat nyata, luar biasa, aku jadi penasaran siapa pencetus ide tersebut, apakah Ayah Rara?

"Hebat sekali Ayah Rara ini ya, Bang, aku jadi penasaran ingin bertemu, ide kebaikannya bagus," kataku pada suami. 

"Bukan ide dia, dia pun dapat begitu, ada orang yang bantu dia kuliah kedokteran, baru bapak itu bantu tiga orang, Abang salah satunya,"

"Andaikan orang kaya begitu semua ya, Bang,"

"Iya, Dek, tapi Abang tak berhasil, yang Abang bantu sudah banyak, tapi mereka belum bisa seperti yang dipesankan, bahkan ada yang justru setelah kaya kawin lagi sampai tiga," kata Bang Parlindungan. 

Akhirnya kuputuskan berikan uang dua puluh juta kepada seorang janda dengan empat orang anak, dia butuh motor untuk usaha dagang onlinenya. Aku pelanggannya, masakannya enak, bila aku pesan, dia selalu antar dengan jalan kali. 

"Bu, ini uang dua puluh juta, untuk ibu sebagai modal jualan dan beli motor," kataku ketika memberikan uang tersebut. 

"Maaf Bu Nia, aku gak berani utang," katanya. 

"Bukan utang, Bu, ini zakat," kataku. 

"Alhamdulillah," katanya seraya berurai air mata. 

"Bagaimana aku bisa membalas kebaikan Bu Nia?" 

Aku lalu teringat metode yang dikatakan Bang Parlin, ingin kucoba juga. 

"Gak usah, Bu, tapi bila Ibu sukses suatu hari nanti, bantulah orang yang betul-betul butuh bantuan, jadi bayarnya bukan ke kami, tapi entah pada siapa saja yang butuh bantuan," kataku lagi. 

"Sekali lagi terima kasih, Bu." katanya kemudian. Ada rasa bahagia tak terlukiskan, tak tertulis dengan kalimat. Ternyata begini rasanya bahagia bila bisa membantu orang. 

"Sudah beres, Bang," laporku pada suami. 

"Alhamdulillah, sama siapa jadinya?" tanya suami. 

"Itu, Bu Rena, yang suaminya baru meninggal, anaknya empat," 

"Oh, alhamdulillah, membantu janda memang tak harus menikahinya," kata Bang Parlin. 

"Emang abang mau nikahi janda?"

"Gak lah, Dek, siapa bilang?"

"Kenapa Abang bilang membantu janda tak harus menikahinya?"

"Abang salah omong apa Adek yang salah mengerti?"

Kami mulai dikenal sebagai keluarga tajir, makin banyak orang datang meminta. Saudara-saudaraku juga berubah jadi tiba-tiba baik. Akan tetapi selalu saja ada mulut yang nyinyir karena memang kami terlihat tak pernah kerja. Kemana-mana selalu bersama, kegiatan suami justru bertanam sayur di halaman rumah kami. 

(Niyet)  pesan WA dari Rapi. 

(Apa Rapet) 

(Bukan mau ngompori ya) 

(Ya, ada apa, Rapet) 

(Rumah tangga itu tak kita tahu bagaimana ke depannya, sekarang kalian baik, siapa tahu nanti kalian cerai) 

(Hei, Rapet, rumah tanggamu aja, urus) 

(Gitu kau, kan, padahal niatku ingin membantu kau, Niyet,) 

(Bantu apa) 

(Bagaimana seandainya kalian cerai? apa sudah ada persiapan?) 

("Persiapan seperti apa) 

(Capek kali ngomong sama kau, Niyet, kalau kalian berpisah, itu pasti, kalau tak direbut pelakor suamimu ya diambil Tuhan, perpisahan itu pasti terjadi, kalau itu terjadi, apa kau sudah ada persiapan?) 

(Berbelit-belit kau, Rapet, bilang aja langsung) 

(Gini, Niyet, sudah adakah harta yang atas namamu, karena harta suamimu bukan percarian kalian bersama, bila tak ada, hartanya nanti ya kembali ke orang tuanya, kau tinggal gigit jari, bangun rumah atau beli tanah atas namamu, hanya untuk jaga-jaga)

(Repot kali kau Rapet, harta orang kau urusi) 

Akan tetapi dalam hati aku mengakui kebenaran kata-kata Rapi. Aku datang Bang Parlin sudah kaya raya, bagaimana kalau kami cerai? siapa tahu semakin ke sini dia mulai berubah, siapa tahu nanti ada pelakor yang bisa mencurinya, siapa tahu dia nanti mau poligami?  Ah, di Rapet telah meracuni pikiranku. 

Aku terkejut Bang Parlin pulang dari pasar bawa HP baru, padahal dia tadinya mau beli obat pertanian yang mau dikirim ke kampung. Apakah suamiku sudah mulai berubah, tak bisa kubayangkan dia punya akun Facebook. 

"Dek, ini HP untukmu saja, hadiah dari toko China itu tadi, HP-mu sudah buluk itu," kata suami. HP-ku ini memang sudah tiga tahun. 

Duh, ternyata aku yang selalu berburuk sangka pada suami. Segera kupeluk suami dan mengucapkan terima kasih. 

"Ada apa ini, Dek, masih siang ini udah peluk-peluk, nanti malam bagianmu, Dek," kata suami. 

"Aku ingin punya anak, Bang," kataku. 

"Iya, Dek, abang juga ingin punya anak, tapi nanti malam kita bikin anak ya, sekarang masih panas,"


Bersambuang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar