Rabu, 11 Mei 2022

Suamiku Jadul Part 7

Bang Parlin lalu menyerahkan kembali seruling tersebut, sementara para temanku masih melongo. 

"Kau dapat di mana tu laki? manis sekali," kata teman yang duduk di sampingku seraya menyenggol bahu ini. 

"Aku merantau ke Amerika, pulangnya bawa laki," jawabku sekenanya, karena begitu temanku ini tadi berkata. 

Bang Parlin turun dari panggung, masih disambut antusias oleh pengunjung pesta. Mereka berteriak "Tambah, tambah," tapi suamiku tetap turun seraya melambaikan tangan. Ah, gayanya, bak penyanyi terkenal saja. 

Pembawa acara mengambil alih mikrofon.

"Sekedar informasi, lagu yang baru kita dengarkan tersebut adalah ungut-ungut, kesenian khas Tapanuli Selatan. Biasanya dinyanyikan orang ketika menggembala ternak atau menidurkan bayi. Saya cukup terkejut masih ada orang yang bisa menyanyi begitu, karena kesenian itu hampir punah, terakhir saya mendengar orang menyanyikan lagu tersebut dua puluh tahun lalu," kata pembawa acara tersebut. 

Semua mata memandang suami yang sudah duduk di dekatku lagi.  Ah, suamiku memang jadul, selera musiknya ikut jadul. Dan ternyata banyak orang yang suka jadul ini. 

Ketika mau pulang, kami berpapasan dengan abangku yang tertua, ternyata dia juga diundang. Kakak iparku langsung tertawa melihat penampilan kami. 

"Kau pakai gamis tapi tel4njang," kata kakak ipar. 

"Apa maksudnya tel4njang?" suamiku menjawab, tak biasanya suami bicara, biasanya dia hanya diam kalau kami bicara. 

"Kau mana ngerti, Parlin, itu bahasa sarkas," jawab kakak ipar. 

Suami terlihat bingung, kuajak dia segera pulang, aku tak ingin suami makin bertambah banyak pertanyaan. 

"Kenapa Adek dibilang tel4njang? pakaian begini dibilang tel4njang, yang tel4njang itu dia, pakai rok panjang tapi belahannya sampai paha," gerutu Bang Parlin ketika kami di perjalanan pulang. 

"Udah, Bang, udah, gak usah ditanggapi," kataku. 

"Tidak bisa, Abang gak terima adek dibilang tel4njang, seperti tak mampu saja Abang beli pakaian," di luar dugaan suara suami mengeras baru kali ini suami seperti membentak. 

Aku menghentikan motor, ini harus dijelaskan dari pada suami tak tenang.  

"Gini, Bang, tel4njang maksudnya gak pake perhiasan, kalau orang ke pesta gak pakai perhiasan, dibilang tel4njang, itu bahasa emak-emak, gak usah ditanggapi,"  kataku kemudian. 

"Oh, begitu," jawab suami seraya manggut-manggut. 

"Iya, Bang, bahasa kami memang kasar, itu sudah dari dulu, kata orang ciri khas, tau Abang kenapa aku dipanggil Niyet? si Rapi jadi Rapet, itu singkatan dari Nia monyet, Rapi monyet," sambungku lagi. 

"Bar-bar sekali kalian, kami yang setiap hari bertemu monyet gak begitu," kata suami. 

Duh, lagi-lagi aku merasa tertampar. 

"Udah, Bang, kita pulang ya?" tanyaku lagi. 

"Nanti dulu, Dek, ambil uang dulu ke ATM."

"Ngapain, Bang, uang kita masih banyak ini," jawabku. 

"Abang mau beli perhiasan, Abang gak rela Adek disebut tel4njang," kata Bang Parlin. 

Reflek aku memeluk suami seraya menangis, entah kenapa aku terharu sekali. 

"Kebutuhan atau keinginan ini, Bang?"

"Kebutuhan, Dek, suami macam apa aku ini membiarkan istrinya tel4njang ke pesta," kata suami lagi. 

Akhirnya kami singgah di ATM, kuambil sebanyak yang bisa diambil lewat ATM tersebut. Hanya bisa diambil sepuluh juta. 

"Sepuluh juta Bang," laporku kemudian. 

"Cukup? ini tambahnya," kata Bang Parlin seraya memberikan uang segepok. 

Akhirnya kami singgah di toko emas, aku senang sekali, untuk pertama kali dalam hidupku aku masuk toko emas, selama ini aku tak pernah beli emas. 

Kami beli kalung, gelang dan anting dari emas murni, ketika uangnya kurang, kuberikan kartu ATM tersebut, ternyata bisa digesek di toko itu. Tak dapat kulukiskan betapa bahagianya aku saat itu, bukan karena emasnya, akan tetapi karena perhatian suami. Eh, aku bohong, memang karena emasnya.

Sampai di rumah, langsung kucoba emas tersebut, seraya berdiri di depan cermin melihat diri ini. Ah, aku harus berhias untuk menyenangkan suami. Suamiku  memang jadul, akan tetapi seiring waktu dia akan makin berubah. Apalagi nanti orang tahu tentang suami, pelakor akan mengincarnya. Ketika asyik melihat dan memuji diri di depan cermin, tetangga datang. 

"Mbak Nia, pinjam gergaji," teriak tetangga dari pintu. Aku segera mencari di kotak peralatan suami. Dan memberikan kepada tetangga itu. 

"Waw, baru beli emas, ya?" kata tetangga ini. Duh, aku lupa membukanya tadi. 

"Hehehe, iya, Bu," jawabku singkat. 

"Cantik sekali, berapa Gram ini? pasti mahal ya," kata tetangga itu lagi. 

"Hanya sedikit, Bu," jawabku seraya berharap dia cepat pergi. 

Dia malah duduk dengan gergaji masih di tangannya. "Aku juga dulu punya yang begini, tapi udah dijual tuk bayar sewa rumah," katanya lagi. 

"Oh, semoga cepet dapet gantinya," jawabku basa-basi. 

"Kalian berapa sewanya ini?" tanyanya lagi. 

Duh, tentu saja aku tak tahu, aku mau bilang ini rumah kami saja, tapi teringat perkataan suami untuk slow saja, akan tetapi berapa kubilang?  nanti beda sama rumah dia? 

"Kalian berapa, Bu?" tanyaku akhirnya. 

"Delapan juta satu tahun."

"Oh, kamipun segitu," jawabku. 

"Wah, gak adil itu, masa sama, rumah kalian kan paling pinggir, lebih besar lagi, ada halaman di samping, masa sama?" kata ibu tetangga ini. 

Duh, aku salah omong lagi, "aku kurang tahu pasti, suami yang bayar hari itu," kataku kemudian. Sementara suami lagi di kamar mandi. 

Aku lega, akhirnya tetangga itu pergi juga, masih sempat dia bertanya suamiku kerja apa sebelum dia pergi, aku jawab saja petani. 

Segera kubuka perhiasan tersebut, kusimpan di lemari, seketika mataku tertuju kee HP jadul suami, kulihat ada dua SMS belum terbaca. Bang Parlindungan sangat jarang memakai HP tersebut, tak pernah bunyi juga. 

Iseng kubuka HP jadul itu, membuka SMS yang masuk, ternyata hanya pesan dari nomor tak dikenal. Tulisannya pun bahasa daerah. Akan tetapi aku penasaran isinya, begini tulisannya. 

(Si Nunung marun, dung do kehe Abang, seteres ia, mulak jolo, Bang, ligi si Nunung) 

Begitu isi SMS tersebut. Wah, apa artinya? siapa si Nunung? Jangan-jangan? Pikiran buruk bergelantungan di kepala ini. Teringat perkataan suami tentang orang dari masa lalu. Jangan-jangan dia punya istri di kampung, Jangan-jangan aku istri kedua, Jangan-jangan jadul itu hanya modus? 

Kufotokan isi sms tersebut, akan kutanyakan pada orang yang mengerti bahasa daerah Tapanuli Selatan. 

Aku langsung teringat si Rapi, dia orang Batak, mungkin dia mengerti, kukirim dia foto tersebut seraya bertanya.

(Tolong translate ini, Rapet) 

Sedetik dua detik, belum ada balasan, suami masih di kamar mandi. Lalu ... 

(Artinya kira-kira begini, Si Nunung sakit, semenjak Abang pergi, dia stres, pulanglah, lihat si Nunung) 
 
Begitu balasan si Rapi. H

Duh, aku makin curiga saja. 

.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar