Rabu, 11 Mei 2022

Suamiku Jadul Part 5


Ketika mengantar Ayah ke bandara, ayah memeluk kami satu persatu, beliau menangis seperti mau pisah selamanya saja, padahal hanya mau umroh. 

"Tugas Ayah selesai, kalian semua sudah berumah tangga, yang rukun ya, Anak-anakku jangan saling iri," kata Ayah. 

Memang ketika aku belum menikah Ayah seperti merasa masih ada beban, setiap jumpa selalu ditanya kapan nikah. Aku memang terlambat nikah, bukan karena gak laku, tapi memang gak ada yang mau, entah kenapa setiap aku menjalin hubungan dengan seseorang itu selalu kandas sebelum ke pelaminan sampai akhirnya aku lelah sendiri, pasrah menunggu nasib. Siapa sangka di usia tiga puluh dua tahun bertemu jodoh usia tiga puluh enam tahun, tajir pula. 

Setelah Ayah berangkat kami semua kembali ke rumah masing-masing, tinggal adikku yang paling bungsu tinggal di rumah orang tua. Kami enam bersaudara, tiga laki-laki dan tiga perempuan. Anak pertama laki-laki, baru yang kedua perempuan, baru aku, dan tiga adikku dua laki-laki dan satu perempuan. Mereka semua sudah punya anak, tinggal aku yang belum. 

"Bang, aku pengen pulang ke kampung Abang," kataku di suatu sore. Saat itu suami sedang membuat bangku dari kayu. Memang begitu suamiku ini, ada saja yang dia kerjakan. Buat kandang ayam, buat kursi, buat meja, bahkan dia buat lemari untuk kami. 

"Gak ada enaknya di kampung, Dek, Adek gak akan tahan, rumah terdekat jauhnya seratus meter, lembu banyak berkeliaran, bukan lembu yang dikandangkan lagi, tapi rumah yang dikandang, sementara lembu berkeliaran bebas." kata suami. 

Aku justru makin penasaran dengan kampungnya, seperti apa kira-kira peternakan lembu dua ratus ekor? 

"Abang punya kebun sawit ya?" tanyaku lagi. 

"Sedikit, Dek."

"Ayah bilang luas?"

"Gini, Dek, Abang berikan gambaran tentang kampung Abang ya. Ada kebun sawit sepuluh hektar, sekeliling kebun ini dikandang, baru dilepas lembu di bawah sawit itu, di dalam kebun, ada rumah karyawan enam, sama rumah kita jadi tujuh, bisa bayangkan, Dek, seluas sepuluh hektar hanya ada tujuh keluarga. Jarak dari jalan besar ke kebun kita ada empat puluh kilometer, jalan belum bagus, kalau adek ke sana belum sampai udah pingsan duluan, hahaha," kata suami. 

Baru kali ini suami tertawa lepas begitu, dia orang yang jarang tertawa betul kata kakakku bagi orang yang belum kenal dia orang akan mengira suamiku yang aneh-aneh. 

"Aku tetap pengen, Bang," kataku lagi. 

"Ya, udah, nanti kita ke sana, sekarang kita masih bulan madu," kata suami seraya melirikku nakal. 

"Dah tiga bulan, masih bulan madu?" kataku sambil mencubit pinggangnya pelan. 

"Iya, Dek, sebenarnya Abang ingin selamanya bulan madu, sudah lelah Abang yang kerja itu dua puluh tahun sudah, Abang ingin menikmati hidup dulu, ingin melihat dunia yang luas ini," kata suami. 

"Emang bisa, Bang, selamanya bulan madu, gak diurus rupanya kebun dan sapi itu?" 

"Orang yang urus, Dek, kita hanya terima hasil setahun sekali, panen lembu hanya Idul adha saja."

"Sawit?"

"Oh, itu Ayah yang urus, biar sudah tua Ayah masih sanggup urus."

"Bagaimana penghasilan sapi ini, Bang?" entah kenapa aku ingin tahu banyak. 

"Begini, Dek, sapinya dibesarkan di lahan kita, pekerja dapat setengah, kita setengah, satu keluarga paling bisa urus sapi empat puluh, maksimal itu, bila sapinya beranak, bagi dua." 

"Penghasilannya berapa setahun?"

"Tergantung, Dek, satu sapi betina beranak satu kali dalam satu tahun, kita memakai dua sistem, penggemukan dan pembibitan. Bila penggemukan, sapi bakalan dibeli dan dibesarkan di lahan sawit itu, setelah satu tahun baru dijual, keuntungan dari satu sapi penggemukan kira-kira sepuluh juta satu tahun, tergantung sapinya, bagi dua sama pekerja, jadi kita dapat lima juta, selama ini Abang yang kerjakan sendiri, sekarang abang sudah lelah, ingin menikmati hidup, capek kawinkan sapi terus, diri sendiri tidak kawin."

Aku mulai menghitung keuntungan, satu sapi lima juta, kali dua ratus sapi, dua ratus juta setahun,  bagi dua belas bulan kira-kira lima belas juta sebulan. Itu baru dari penggemukan, ada lagi katanya pembibitan  Wah, hebat suamiku, dia bergaji lima belas juta hanya duduk ongkang kaki di rumah.

"Kenapa Abang lama kawin?" tanyaku lagi. 

Aneh memang kami bila dipikir-pikir, setelah tiga bulan menikah baru mulai ada komunikasi, mungkin ini yang dikatakan orang pacaran setelah menikah, saling mengenal pribadi pasangan setelah menikah. 

"Gak ada yang mau, Dek, gak ada cewek yang mau sama tukang sapi, keahlianku hanya mengawinkan sapi, hingga lupa diri sendiri, udahlah, Dek, gak usah bahas itu, pokoknya kita bahagia, gak perlu kerja."

Pembicaraan kami terhenti karena ada tamu datang, ternyata si Rapi yang datang. 

"Gimana sih kau, Niyet, ditelepon gak diangkat, di-Wa gak dibaca, kirain kau sudah pindah ke kutub utara?" kata Rapi begitu dia buka helm. 

Aku baru ingat, HP-ku kuletak di kamar, entah kenapa aku jadi terikut suami tak pegang HP. 

"Emang ngapain kau cari aku, Rapet?"

"Ini nih, ngantar  undangan, aku gak kayak kau, kawin gak undang teman," kata Rapi seraya memberikan undangan. 

"Wah, laku juganya kau, ya, Rapet,"

"Ya, iyalah, datang kau ya, sekalian kita reuni, ajak si Rambo ini," kata Rapi sebelum dia akhirnya pergi. 

Wah, reuni?  Apa nanti kata teman satu gengku bila melihat suamiku yang jadul ini?

Rumah tanggaku jadi aneh, setidaknya begitu kata orang, kami lakukan semuanya bersama, belanja bersama, makan bersama-sama, bahkan mandi dan nyuci pun kami selalu bersama. Bersama suami aku mulai bisa mengurangi ketergantungan gatget, jadulnya seperti menular padaku. Kegiatan suami hanya mengurus ayam jago tiga ekor. 

"Pagi, Mas, gak pergi kerja?" kudengar tetangga sebelah menyapa suamiku. Saat itu aku lagi nonton TV, sedangkan suami di luar menyapu halaman. 

"Pagi juga, Mbak," jawab suami. 

"Gak kerja, Mas?" tanyanya lagi. 

"Ini lagi kerja," jawab suami. 

"Eh, Mbak Nia, maaf ya, bukannya mau kepo, tapi cuma heran memang suaminya gak kerja?" tanyanya lagi, ketika aku keluar. Eh, ini tetangga katanya gak kepo, tapi kepo juga. 

Aku tak tahu harus jawab apa, mungkin mereka sudah heran, suamiku selalu di rumah tiap hari. Gak pernah pergi ke mana-mana, kalau pergi kami selalu berdua.

"Lagi nganggur,"  jawabku akhirnya. 

"Oh, kasihan sekali ya, nanti kutanya suami mana tau ada lowongan," kata tetangga ini.

Tetangga mulai banyak bertanya, penampilan suami yang seperti tukang kebun ditambah lagi rambut gobelnya membuat para tetangga menggunjing. Sering sampai terdengar telinga Ini mereka membicarakan suamiku. 

"Bang, kita tak bisa begini terus berhentilah pura-pura miskin," kataku pada suami. 

"Abang gak pernah pura-pura, Dek, memang begini adanya. Orang saja yang menganggap miskin."

"Kita pergi aja tiap hari, Bang, biar dikira tetangga pergi kerja,"

"Itu baru pura-pura, Dek," 

Ah, susah memang ngomong sama suamiku ini, dia bisa saja tenang jadi pembicaraan orang, dia tak peduli orang berkata apa. Pernah tetangga nyindir suami. 

"Jadi laki gak tanggung jawab, kerjanya cuma ngurus ayam," 

Suamiku hanya membalasnya dengan senyuman. Ingin rasanya kubungkam mulut tetangga ini, tapi suami selalu melarang. 

"Biar saja dianggap orang miskin, Dek, daripada dianggap kaya," begitu selalu kata suami. 

Padahal di luaran sana banyak orang berlomba-lomba supaya dianggap kaya, nyicil mobil, nyicil motor, HP canggih.

Suatu hari aku panas melihat pesan kakak ipar di grup WA keluarga. Dia tulis begini;

(Hasil dari jaga lilin tak akan berkah, lihat saja rumah saja ngontrak, dikasih rumah kredit gak mau) 

Aku tahu pesan itu ditujukan untukku. 

(Bukan jaga lilin, tapi miara bocil, botak cilik) 

Sambung istri dari adikku. 

Aku makin panas, aku berteriak memanggil suami. 

"Banggg ...!" 

"Apa sih, Dek?"
"Aku lelah selalu dihina, saudara sendiri pun menghina, aku mau tunjukkan pada mereka suamiku punya rumah, rumah itu hanya sepuluh sapi," kataku pada suami. 

"Duh, ada apa, sih, Dek, yang hina siapa, kapan, perasaan kita gak ke mana-mana hari ini,"

"Di WAG keluarga, Bang," kataku. 

"WAG itu apa?" 

Duh, aku lupa suamiku berasal dari tahun delapan puluhan. 

Ini, Bang, ini," kataku seraya menunjukkan HP-ku. 

"Wah, menggosip pun bisa lewat HP ya," kata suami. 

"Suami gak peka, gak ngerti perasaan istri," kataku seraya membalikkan badan. 

"Aku juga manusia, Bang, sedikit pamer itu sudah kodrat manusia, ini tahun dua ribuan, bukan delapan puluhan," omelku lagi. 

Saudara yang menghinaku, suami yang kumarahi. 

"Udah, Dek, kita beli rumah dan mobil, telepon Bank, kita cairkan uang kita, bila kurang kita jual sapi," kata suami. 

Ternyata ini kelemahan suami, dia tak terima bila istrinya yang dihina. Ah, aku makin cinta pada lelaki jadul ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar