Kamis, 19 Mei 2022

DARAH ORANG2 CHINA

Sejak Ribuan Tahun lalu, GDP China selalu no.1 di dunia. Hanya kalah satu masa, yakni sejak tahun 1890+ GDP China dikalahkan kelicikan Amerika & Inggris melalui Perang Candu & berbagai Perdagangan Tak Adil. Rakyat Cina dipasok narkoba sebanyak2nya oleh Inggris. Akibatnya, 2 Generasi China rusak karena jadi pemadat candu. Sejak itu, hampir 100 tahun China menjadi miskin & tertutup, seluruh rakyat menderita & tak produktif, serta penuh dgn konflik politik. Kekayaan China disedot habis2an oleh Inggris & sekutunya di depan mata mereka.

Akhirnya China sadar bahwa mereka telah diadu domba oleh negara2 Barat. Nasionalisme mereka bangkit & muncul keinginan besar membangun bangsa mereka kembali. Mirip kondisi Indonesia saat ini yg sedang diadu domba Amerika melalui corong2 para proxy nya, yakni para Politikus2 busuk & para Radikalis Agama yg selalu teriak-teriak "Usir China!! Ganyang PKI!!! Jokowi & PDI Antek Komunis!! Tegakkan Khilafaaaahhh!!!

Jika provokator2 seperti itu tidak dibasmi, INDONESIA akan sulit melangkah menjadi negara maju seperti China. Jokowi memang lemah sekali dalam menyikapi radikalisme ini.

Tahun 1980an, Deng Xiao Ping (Bacanya : Teng Siao Bing) menggulirkan Pola 1 negara 2 sistem. Sistem Politik Komunis & Sistem Dagang Kapitalis. Sejak itulah China membuka diri & memodernisasi seluruh industrinya.

Hanya butuh 20-30 tahun. Tahun 2000 an China sudah menggeser Inggris, Jerman & Jepang menduduki posisi Runner Up mengejar Amerika. Di tahun 2010+ Amerika mulai tumbang & dikalahkan China sebagai pemegang Rekor GDP terbesar no.1 di dunia. Dan kekuatan militer nya melejit dari tak masuk 30 besar, kini masuk 3 besar terkuat, bahkan tentara aktif & non aktif serta paramilitary nya terbesar di dunia.

Beda dengan negara2 Barat yg membentuk kolonialisme & menjajah bangsa2 pribumi, China adalah negeri yg tak pernah mau menjajah. Dalam 5000 tahun+ sejarah China, tak satupun China menjajah negara lain. Tujuannya hanya ingin berdagang & saling menguntungkan. Tak heran, mulai dari Malaysia hingga Arab Saudi mendekat pada China untuk mensupport ekonomi negeri mereka. Bahkan produk finansial sukuk syariah Saudi Arabia menggunakan mata uang RMB China, bukan Dollar atau Dinar.

Tak heran, Hegemoni kekuasaan Amerika selama 100 tahun terakhir mulai runtuh, sehingga Presiden Songong Amerika, Donald Trump terus koar2 memprovokasi China untuk perang fisik & mengajak sekutu2nya utk memerangi China. Tapi negara2 sekutunya pada menolak. Filipina adalah negara pertama yg menolak pangkalan militernya dipakai utk perang melawan China. 

Jerman & Prancis bahkan menentang perang dagang maupun fisik AS melawan China yg Militer nya terkuat no.3 di dunia (lihat grafis). Rusia juga sudah mengumumkan bahwa mereka siap membantu China dalam perang semesta. Jika sekutu China spt Rusia, Korut, Vietnam, Iran & Kuba bergabung, seluruh Amerika & sekutu2nya pasti amburadul.

Walaupun tetap bersiap perang dengan mengintensifkan latihan perangnya di kawasan Asia, dan melatih rakyatnya utk darurat perang, serta mengarahkan puluhan rudal berhulu ledak nuklir nya ke arah Washington DC. Rudal2 tsb mampu menjangkau & meluluhlantakkan Amerika dalam waktu singkat. Tapi China tak menggubris ocehan gendheng Donald Duck itu. China diam, namun bukannya tak bersiap. Presiden Xi Jin Ping hanya senyum2 saja saat ditanya soal provokasi Amerika. 

Darah orang2 China itu sejatinya memang pebisnis ulung, jadi mereka pengennya hanya ingin berdagang yg saling menguntungkan, tak mau bermusuhan & berperang. Tapi bukan berarti mereka tak menyiapkan pisau dipunggungnya utk berjaga2.

( Philips Joeng )

Guangzhou, 050820

Tidak ada komentar:

Posting Komentar