Rabu, 13 Januari 2021

PENDENGKI, DITENGAH PANDEMI.



Iyyas Subiakto PENDENGKI, DITENGAH PANDEMI. Kaum kawarij modern yg tumbuh pesat di Indonesia dimotori para pesakit hati, atau minimal pembiaran akut yg dilakukan pada awalnya. Hal ini jelas dilakukan dgn rencana jangka panjang dalam pengamanan kekuasaan atau mengumpul kekayaan dari upeti kekuasaan. PENDENGKI tanpa prestasi ini bergerombol kesana-sini. Lihatlah pergerakan mereka saat pandemi. Ada yg maksa lock down, ada yg deklarasi, ada media tv yg terus mencaci maki, untung tidak lanjut lagi karena hostnya tersangkut korupsi. Walau beritanya mulai sunyi, atau malah hilang ditelan negosiasi. Ramai mencoba memakai preman berbaju seragam Islam, tukang obat yg pulang dijadikan tunggangan, sayang kudanya patah kaki, dan sekarang sdg ngandang dibalik jeruji besi. Ah...inilah kalau manusia over gelar, imam besar itu berat boss, karena imam umat Islam hanya satu Rasul Muhammad. Pada situasi pandemi yg membuat kehidupan terseleksi tapi tidak bagi mereka yg tak punya hati. Mereka terus menyerang pemerintah yg tidak terbantahkan membuat langkah mereka berantakan tempat karena cari makan sudah mati krannya. SBY sudah jeda agak lama tak bersuara, kita senang kalau dia menahan statement, karena kalau sudah bicara blunder kemana-mana, mau bicara apa saja yg seolah menyalahkan pemerintah, padahal bekasnya dia yg pernah memerintah ibarat bekas muntahan, yg masih meninggalkan bau sampah. SBY itu bekas presiden gagal, meninggalkan bekas luka atas prekonomian Indonesia, hutang menumpuk tidak jadi apa-apa, jgn kan kesejahteraan rakyat, Papua minta harga BBM sama dgn Jawa saja dia tak bisa, begitu kok menasihati Jokowi yg baru memimpin 6 thn jalan tol nya kemana-mana, walau kalah dalam bidang rekaman, tapi kami tak butuh dikasi lagu, gak enak di kuping dan cempreng. Menepuk air didulang, terpecik muka sendiri. Fenomena ini makin menjadi sekarang ini. Ramai mereka mencibir Jokowi tapi diri sendiri tidak terbenahi. Dunia itu harus di pijak, jangan di junjung, berat pak. Silakan merenung sebelum mendung menggulung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar