Jumat, 20 Januari 2017

Rizieq, Mainan Asyik Jokowi-Tito-Mega Sampai Lebaran Kuda

Uaaaseeemmm... menarik juga 
Rizieq, Mainan Asyik Jokowi-Tito-Mega Sampai Lebaran Kuda

Untuk memahami Rizieq-FPI sebagai mainan asyik Jokowi-Tito-Mega, kita perlu menilik ke belakang sebentar. Sambil minum teh lemon anti kolesterol, kita lihat bagaimana Rizieq mengelembung dan berada pada puncak kesombongannya saat mencoba memaksakan kehendak atas Ahok dan Jokowi.

Berkat demo 411 dan 212, nama Rizieq melambung. Di atas mobil komando, Rizieq dengan gagah mengaum, penuh kemenangan. Aroma kemenangan Rizieq menarik Amin Rais, Fadli Zon dan Fahri Hamzah untuk menebeng ketenaran Rizieq. Mereka untuk sementara mabuk kepayang dan berhalusinasi. Kemenangan besar di depan mata. Ahok dipenjara, Jokowi lengser, negara Islam tegak, NKRI tinggal sejarah.

Akan tetapi Rizieq yang sudah terlalu menggelembung bak balon raksasa, lupa daratan. Ia lupa bahwa ia besar karena ia digelembungkan oleh MUI, Cikeas, AA Gym, HTI, Amien Rais, Fadli Zon, Fahri Hamzah, Din Syamsuddin, Ratna Sarumpaet, Ahmad Dhani, Rachmawati, Sri Bintang Pamungkas dan berbagai ormas pendukung lainnya.

Bukan hanya itu, Rizieq lupa bahwa ia bersama FPI-nya hanyalah segelintir ormas seupil di hadapan mayoritas rakyat Indonesia yang mencintai NKRI. Dan kesalahan fatal Rizieq lainnya adalah ketidakmampuannya memprediksi kemampuan Jokowi dalam menyerang balik dirinya. Rizieq lupa bahwa di belakangan Jokowi ada kekuatan raksasa yang siap menerkamnya. Seolah Rizieq meremehkan kekuatan Jokowi, ia membabi buta menyerang. Rizieq lupa, bahwa panah api Jokowi sedang membidiknya.

Jokowi amat paham bahwa Rizieq bersama FPI-nya menjadi biang demo, biang gejolak-gejolak intoleran, biang perongrongan NKRI.  Jokowi juga amat paham bahwa Rizieq dan FPI-nya adalah kendaraan siap pakai untuk ditunggangi  oleh lawan-lawan politisnya. Apalagi Rizieq-FPI amat rajin menggoda para penunggang liar agar dimanfaatkan sebagai tunggangan, maka FPI dalam situasi panas Pilkada amat cepat mendapat penggemar. Rizieqpun menggelembung ke angkasa dan meninggi setinggi langit.

Ketika Rizieq berada pada puncak kesombongannya sekaligus kedunguannya, Jokowi bersama Tito dengan sigap ikut-ikutan menggelumbungkan Rizieq.  Jokowi-Tito membiarkan Ahok yang menjadi incarannya, tersangka. Namun tuntutan Rizieq untuk agar Ahok ditahan, tidak digubris oleh Tito. Ikuti setengah kemauannya, namun setengahnya abaikan. Begitulah taktik jitu Jokowi-Tito.

Jokowi kemudian harus membagi energinya untuk mengimbangi Rizieq yang sudah menggelembung itu. Caranya, naik kuda bersama Prabowo, ketawa-ketawa bersama NU dan Muhammadyah serta bertepuk tangan di markas TNI dan Brimob. Dan Jokowi berhasil. Sesudahnya, Jokowi fokus kerja dan membiarkan Tito mengempiskan si Rizieq.

Cara Tito mengempiskan Rizieq amat elegan. Tito terlebih dahulu membidik orang-orang yang menunggangi Rizieq. Setelah semuanya tersingkir, tersungkur dan terjungkal, kini Rizieq-FPI seorang diri. Laporan-laporan tentang Rizieq mulai diproses. Penistaan Pancasila, penistaan agama, penistaan uang baru BI, pelesetan kata 'sampurasun' menjadi 'campur racun', penghinaan hansip menjadi ajang untuk menjadikan Rizieq sebagai mainan baru.

 
Cara menjadikan Rizieq-FPI menjadi mainan asyikpun sangat mudah. Ia akan dipanggil berkali-kali untuk diperiksa. Sesudahnya ia dipanggil untuk diperiksa, diperiksa dan diperiksa. Rizieq kemungkinan akan dipanggil berulang kali terkait berbagai penistaan dan penghinaannya. Jadi Rizieq ke depan akan dimainkan secara asyik. Minggu depan, Polda Metro Jaya sudah membuat jadwal untuk memanggil Rizieq terkait penghinaan uang baru BI.

Nah, jika Rizieq mangkir dari panggilan polisi, maka ia akan dijadikan anak kecil. Ia akan diancam-ancam akan ditangkap atau dijemput paksa. Tentu saja Rizieq malu kalau ditangkap atau dijemput paksa karena ia adalah imam besar umat Islam Indonesia dan The man of the year 2016, sosok pembawa damai, versi komunitas Tionghoa bikinan Lieus Sungkharisma. Maka bisa dipastikan Rizieq walaupun terpaksa akan terus memenuhi panggilan polisi sampai lebaran kuda. Nah ke depannya, setelah energi Rizieq habis, maka satu ketukan terakhir yakni ketukan tersangka, akan disematkan kepadanya.

Rizieq sendiri sudah paham bahwa ia akan dijadikan sasaran bidikan panah Jokowi- Tito. Itulah sebabnya Rizieq masih mencoba mengerahkan sisa-sisa kebesarannya untuk melawan sambil menggertak. Tujuannya agar ada pihak yang mau membelanya. Jika sebelumnya Rizieq pernah sesumbar akan memenjarakan Jokowi dan Tito bila melarangnya melakukan demo, maka dengan sesumbar lagi meminta Tito mencopot Kapolda Jawa Barat, Irjen Anton Charlyan dan Kapolda Metro Jaya, Irjen M. Iriawan.

Tidak puas menuntut Kapolda dicopot, Rizieq juga dengan pongahnya berani menyerang Megawati tanpa dasar. Ia mengancam akan melaporkan Megawati  kepada polisi dengan tuduhan penistaan agama. Namun manufer Rizieq itu tak ada lagi yang mendukung. Ucapan-ucapan pongahnya itu terlihat hanya sebagai gertakan. Tak ada lagi massa 7 juta (katanya) yang turun menuruti perkataannya ataupun yang ingin membelanya. Nyatanya, masyarakat hanya ketawa saat Rizieq menjadi bidikan dan mainan baru Jokowi-Tito.

Kini, ketika Rizieq tidak lagi ada yang berani menungganginya, maka ia kembali menjadi setengah waras. Ia meminta agar segala persoalan diselesaikan dengan mediasi polisi dan tidak perlu lapor-melapor. Ketika Rizieq sadar bahwa ia telah  lancang menyentuh Mega, iapun cepat-cepat bertobat 180 derajat dan batal melaporkannya. Tentu saja permintaan Rizieq ini tidak akan direspon sebab ia sangat cocok dijadikan sebagai mainan asyik sampai lebaran kuda oleh Jokowi-Tito dan Mega.

Nah,  jika demikian, maka Rizieq yang sempat menggelembung bagai gajah raksasa, kini kempis sudah dan tinggal sebesar kura-kura.

Salam Seword,

Asaaro Lahagu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar