Selasa, 20 Juli 2021

Menurunkan mortalitas pengidap Covid-19

(Prof Dr Ong Koeswandi Skc)

Saya adalah seorang Prof Doktor spesialis Covid 19, yg saat ini melakukan "tele rawat" lebih dari 300 pasien isoman di 20 kota berbeda atas permintaan mereka. Setiap hari saya mendampinginya. 

Seorang Profesor doktor sebenarnya adalah dokter yg tidak merawat pasien secara langsung seharusnya. Tapi ini terpaksa karena panggilan kemanusiaan dan membantu pasien isoman. Harusnya ia adalah tempatnya dokter berkonsultasi. Dokternya ya dokter kalau orang bilang.

Semoga share ini membantu mencegah kematian mereka yg terpapar covid. Menurunkan mortalitas pengidap Covid-19

Oke, "pertama"
pahami dulu Covid. Covid, adalah infeksi virus SARS COV-2. Lawan (obat) virus hanyalah "antibodi" yg diproduksi oleh tubuh kita. Obat2an itu hanya "inhibitor cegah virus bereplikasi", juga obat yang meringankan symptom (gejala) saja dan tidak membunuh virus. Antibodilah yg bisa "makan" / membunuh virus.

Untuk memproduksi antibodi dibutuhkan:
- protein
- vit lengkap terutama C D E
- air (minum) cukup
- kalori
- istirahat (tidur). Imun tubuh diproduksi optimal saat tidur.

"Kedua", 
kita bandingkan kondisi yg terjadi pada pasien covid.
Kami amati org terkena covid keluhan yg paling mengganggu adalah "batuk, radang tenggorok, dan sakit perut". Walhasil nafsu makan drop. Ketika nafsu makan buruk maka mereka mulai makan bubur atau nasi putih dg sedikit lauk. Ayo silahkan cek mereka yg kena covid, rata-rata kualitas makannya jadi buruk karena tak enak. Parahnya lagi karbo dan gula adalah makanan virus. Blunderkan....?
So, ini adalah "pintu awal perburukan". Jika hal ini bertahan di atas 3 hari, maka hasilnya mereka akan lemas dan memburuk kondisinya.

Setelah itu krn batuk dan tidak nyaman, "pintu masuk perburukan yg kedua" adalah pasien mulai kurang tidur. Kurang istirahat.

"Pintu masuk perburukan yg ketiga", tidak jarang pasien juga kurang minum serta asupan vitamin dan mineral yg buruk.

Nah, ingat lawan virus adalah antibodi. Sayangnya kondisi covid menyebabkan pasien:
- asupan buruk,
- kurang minum,
- dan kurang tidur,
maka antibodi tak terproduksi dg baik. Walhasil kesehatan makin menurun dan menurun terus. Tak jarang kematian disebabkan oleh treatment awal yg buruk seperti ini. Pasien meninggal dunia padahal seharusnya masih ada harapan hidup.

"Nah jangan2 banyak pasien meninggal karena kurang makan dan kurang minum. Inilah hebatnya Virus Sars Cov-2, ia memblokade jalur utama asupan kita."

Oleh karena itu, sesulit apapun, paksakanlah untuk:
1. Makan. Makanlah yg tinggi protein seperti telur, susu, kedelai, daging, ayam, ikan, "tetap harus masuk", bahkan lebih dari biasanya pd saat sehat. Walau tenggorokan sakit dan makan tidakk ada rasanya. Paksakan makan, anggap itu obat. Kalau muntah, makan lagi. Itu battleground anda.
2. Konsumsi multivitamin dan fokuskan pada C, D, E.
3. Minum sekitar 2 botol besar air mineral (3 liter) sehari.
4. Tidur yg cukup, kendalikan psikis dg optimisme dan hiburan, atau ibadah dekatkan diri kepada Tuhan, tergantung selera.
5. Obati gejala-gejalanya. (Maaf "obat harus atas petunjuk dokter", maka saya tidak menuliskannya).

Syukurlah dalam beberapa kasus, terapi ini berhasil mengubah pasien yg tadinya sdh tampak pucat dan lemas bisa kembali bangkit. Semoga dpt menurunkan mortalitas Covid-19.

Oh iya satu lagi, 
yg sehat jangan lupa "divaksin". Vaksin memancing tubuh kita memproduksi atibodi lebih dulu sebelum terpapar betulan. Dan sel memori kita mencatat kode protein virus covid. Jadi, amit-amit suatu hari terpapar, tubuh lebih siap dan langsung "perang" melawan virus SARS COV 2. Sehingga menurunkan resiko gejala infeksinya.

Demikian sharing saya, terimakasih, dan semoga bermanfaat. Salam.

Prof Dr Ong Koeswandi Skc
🙏🙏🙏🙏🙏

Tidak ada komentar:

Posting Komentar