Selasa, 02 Mei 2017

Sebuah tulisan kepada kaum 43%.

📜
Setelah menurunkan suhu emosi kita, tulisan berikut ini rasanya baik utk dicerna :

Sebuah tulisan kepada kaum 43%.

Dari kemarin saya meyaksikan berbagai ekspresi karena kekalahan Koh Ahok, pahlawan Jakarta, bintang kaum 43% (angka kira2).

Sy melihat seusai quick count, Ahok sendiri langsung menghubungi dan siap mendukung Anies utk membangun Jakarta jadi lebih baik.

Kalau kita yg 43% memang mendukung Ahok, tentu kita akan melakukan hal yg sama dengan beliau, yaitu ingin Jakarta lebih baik, siapapun gubernurnya.

Anies pun akan segera mengemban amanah seperti Ahok. Bahkan mungkin akan lebih berat karena perseteruan 43% vs 57% ini.

Satu hal yg pasti, update status, komentar, copas message dr grup ke grup, menyindir program Anies (rumah 0% dsb) dipastikan TIDAK membangun Jakarta, apalagi mengurangi banjir ataupun kemacetan, dan jangan harap komentar kita di FB bisa menyelesaikan pembangunan MRT.

Sy rasa Anies-Sandi hanya menjalankan tugasnya sebagai kandidat, dan mereka berjuang sebaik mungkin utk menang, and they got it.

Kita juga tak perlu wasting time berdebat panas dengan kaum 57%.
Mereka adalah 'korban' pembelokkan fakta dan pola pikir. Mereka adalah orang tersesat yang harusnya diberi arahan dengan kasih, bukan dgn urat (sy menulis ini dlm konteks positif, bukan menyindir).
Meski mungkin mereka malah akan menginjak kita, tapi pada akhirnya kasih akan lebih baik daripada kebencian.

Karena 43% suara tidak akan pernah membawa Ahok kembali menjadi gubernur, apalagi jadi presiden, dlm mimpi pun sulit.
Dan kebencian tidak akan pernah menambah 1% pun suara utk Ahok.
Buktinya hasil vote putaran 1 hampir tidak berbeda dengan putaran 2.

So we better spend our energy on something wiser.

Lalu ijinkan sy bertanya:
Berapa orang dari kaum 43% ini (termasuk saya) yg sudah berkontribusi bagi Jakarta?
Atau negative words yg kita keluarkan jangan2 lebih banyak daripada positive actions kita? (Selain nyoblos).

Apa jangan2 kita merasa puas kalau nantinya program Anies gagal, supaya bisa kita sindir? Supaya ada topik debat dgn kaum 57%?

Hati2 dengan ego dan kekesalan kita yg out of control, it will definitely destroy us, slowly but surely will.

Untuk kita yg katanya ber-Tuhan, mengapa harus khawatir berlebih?
Mengapa banyak yg menghibur diri dgn mengatur jalan hidup Ahok? (Jadi Mendagri/ketua KPK, jadi PRESIDEN???).
Siapa yg jadi Tuhan sebenarnya?

Saya yakin sikap seperti di atas bukan teladan dari Ahok sendiri.
Dan tentunya takkan membawa Jakarta menjadi sesuai yg Ahok harapkan.
Sebaliknya pilkada DKI ini bisa2 menjadi kehancuran bagi Jakarta bahkan sebelum Anies dilantik.
Bukan Anies yg menghancurkan, tapi kita, lewat socmed dan copas antar grup, atau mungkin lewat keputusasaan.

IF WE DO LOVE AHOK, DO WHAT AHOK LOVE.

Sekian dari saya, seorang pendukung Ahok yang juga kecewa utk kekalahan beliau.
Namun hormat & dukungan & doa akan tetap sy haturkan bagi Ahok,
bagi Jakarta (including Anies-Sandi),
bagi Indonesia.

Doakan Anis agar dia dapat menjadi Gubernur yang baik dan Doakan Ahok supaya dia bisa membantu bangsa Indonesia. 

Be wise and have faith.
Rm SUHADI.                               Sebuah pemikiran yg jitu....kita doakan Anies-Sandi berhasil nantinya...krn keberhasilan mereka adalah rahmat bagi masyarakat Jakarta dan sekitarnya.....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar