Minggu, 09 Oktober 2016

Ahok, menurut intelektual Muslim Mohammad Monib, pria asal Madura ini

Hampir setiap menjelang pemilihan pemimpin (pemilu dan pilkada), kerap kali beredar isu-isu miring yang melekat pada para calon pemimpin, mulai dari isu-isu sensitif seperti neoliberal dari segi ekonomi, antek partai terlarang, rasis, atau latar belakang keyakinan agama.

Dalam konteks Pilkada DKI 2017, isu yang sangat santer berkecamuk adalah SARA (suku, agama, ras dan antargolongan).

Hal ini karena salah satu calon, yakni petahana Basuki Tjahaja Purnama (ahok) dari latar belakang etnis dan agama minoritas.

Berpasangan dengan Djarot Saiful Hidayat, Ahok banyak diserang karena latar belakang agamanya.

Namun, hal ini tak berlaku bagi intelektual Muslim Mohammad Monib.

Murid almarhum Nurcholis Madjid ini mempunyai alasan tersendiri mengenai pemimpin non-Muslim yang memerintah umat Islam.

Baginya, non-Muslim boleh menjadi pemimpin selama dia tidak memushi Islam, apalagi dia sebagai warga negara yang sah dan berhak untuk mencalonkan dirinya sebagai pemimpin.

Mendukung Ahok

Direktur Indonesian Conference on Religions and Peace (ICRP) Mohammad Monib menjelaskan jika ayat yang mengharamkan pemimpin non-Muslim itu memiliki asbabun nuzul (sebab turunnya suatu ayat) yang lekat dengan konteks sosio-politik saat itu.

"Ahok bekerja dengan baik dan terlihat hasilnya. Banyak programnya yang tidak dilakukan oleh gubernur Muslim sebelumnya," kata Monib kepada Rimanews ditemui di kediamannya, Rabu (06/10/2016) malam.

Terkait kesantunan Ahok yang dikritik banyak pihak, alumni Gontor yang tengah merintis sebuah pondok pesantren untuk kaum dhuafa ini mengatakan jika bekas bupati Belitung Timur itu tidak bicara kasar kepada orang-orang baik.

"Ada konteksnya," jelasnya.

Monib mendukung Ahok juga karena keyakinannya bahwa Ahok tak akan mengusir pribumi dari Jakarta, termasuk tidak berlaku diskriminatif.

"Biar program-program yang sudah baik bisa dilanjutkan; biar preman-preman politik dan birokrasi ada lawan tandingnya,' ujarnya.

Ahok, menurut pria asal Madura ini, sudah mengajari publik tentang transparansi dalam birokrasi.

"Bekerja untuk publik dan cukup bersih dari korupsi. Saya butuh manajer birokrasi dan pelayan publik, bukan imam shalat," katanya.

Dalam memilih pemimpin, dia mengimbau masyarakat untuk berpijak kepada konstitusi UUD 45, yang memberikan hak kepada semua warga negara yang bisa melewati prosedur birokrasi untuk berkompetisi dalam kepemimpinan.

Menurutnya, bangsa ini bukan hanya milik orang Islam, tapi milik bersama.

"Saya lelah melihat politisi dan birokrasi seiman nyolong dan garong uang rakyat. Saya otonom dalam pemikiran agama, etika dan jalan hidup. Kelak saya mandiri di hadapan Allah. Karenanya, saya wajib mandiri dalam menentukan jalan hidup," katanya.

Polemik al-Maidah ayat 51

Baru-baru ini, publik dibuat geger oleh pernyataan Ahok terkait surat al-Maidah ayat 51 yang sering dijadikan argumen untuk melarang non-Muslim menjadi pemimpin.

Menurut Monib, masyarakat harus cerdas dalam memahami makna dengan melihat historisitas ayat tersebut diturunkan.

"Bagi saya, konteks ayat yang digunakan kan clear. Saat itu habis perang Uhud (22 Maret 625 M); penduduk Madinah mengalami kegoncangan, Islam kalah, sebagian orang Islam sangat terancam, kemudian mereka menyelamatkan diri, bagaimana caranya? Ada yang berfikir mencari penyelamatan, berkoalisi dengan kaum Quraisy, ada yang berpikir dengan Yahudi, sementara yahudi itu melakukan banyak pelanggaran. Jadi, al-Quran mengkritik (pemimpin non-Muslim, red) itu adalah ga ada. Sehingga, bagi saya, kritik terhadap Ahok tidak serta-merta (dapat dipakai untuk konteks Ahok, red), karena bagi saya Ahok tidak memusuhi Islam," jelasnya.

Monib menilai tidak sepatutnya kepemimpinan dilihat dari identitas agama.

"Saya lebih butuh kepada orang yang menjalankan prinsip-prinsip kebenaran universal dibandingkan dari sekadar apa yang disebut saya 'islam minimalis' itu, sekedar baca syahadat. Jadi bagi saya gak ada masalah (dengan pemimpin non-Muslim, red)," katanya.

Monib pun mengutarakan kekecewaan kepada sejumlah politisi yang dari luar tampak saleh, tetapi tak mampu menanggalkan perilaku koruptif.

"Secara khusus, saya kecewa; temen-temen saya, Anas Urbaningrum (mantan Ketum Demokrat) saya kenal baik, Fuad Amin (Kyai dan Mantan Bupati Bangkalan). Di departemen agama itu korupsinya luar biasa. Jadi, bagi saya kalau ada orang yang bisa saya percaya sampai detik ini antikorupsi, bersih, ya Ahok ini," ujarnya.

Mengapa bukan yang lain?

Monib mempunyai penilaian khusus tentang petarung lain di Pilkada DKI 2017.

Sebagaimana diketahui, pasangan lain yang bakal menantang Ahok-Djarot adalah Anies Baswedan-Sandiaga Uno dan Agus Harimurti Yudhoyono dan Sylviana Murni.

Terkait Anies, Monib mengaku mengenalnya secara pribadi sebagai civitas Universitas Paramadina, jauh sebelum namanya moncer di media.

"Anies gak ada prestasinya, di paramadina, di kementrian juga tidak ada prestasinya, orang dia batu loncat dan orang yang sangat pragmatis. Ahok saya lihat bekerja dan saya tidak peduli degan iman dia, yang penting dia bekerja dengan prinsip-prinsip sebagai profesional sebagai gubernur, masjid-masjid dia bangun dan sebagainya," terangnya.

Menurut Monib, nama Anies tiba-tiba melambung bukan karena hasil kerja keras sendiri.

"Anies itu hanya penjual kalimat yang indah, tertata bagus dan wajah yang menawan, orang terpukau; sudah itu saja," jelasnya.

Tentang Agus, Monib mengaku masih belum percaya. "Saya tahu Sandiaga Uno, dan juga Agus misalnya, belum percaya. Ya kalau mau dipercaya, buktikan kalau begitu. Kenapa saya musti membuktikan kalau saya masih melihat Ahok bekerja?" pungkasnya.(rimanews.com)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar