Selasa, 27 Juni 2017

PERKENALANKU DENGAN AHOK

PERKENALANKU DENGAN AHOK

Sebuah kisah nyata oleh: Wanda Ponika  @wandaponika

*Edisi Ulang Tahun Ahok

Tak pernah terpikirkan akan mengenal langsung seorang Ahok. Keluargaku fans berat Ahok. Akupun mengaguminya, namun sebatas membaca koran dan menonton nya di televisi.
Bahkan saat orang orang di sekitarku heboh mengumpulkan KTP untuk Ahok, aku tak ikut. Latah lah.. begitu pikiranku saat itu.

Sampai seorang teman mengajakku membantu acara makan siang untuk fund rising Ahok. Cuma bantu kecil kecilan. Jualan tiket dan urus tetek bengek. Kekaguman semakin besar, tapi belum cukup menjadikanku seorang Ahoker.

Aku pernah pula datang berfoto ke rumah Lembang. Tapi hanya karena penasaran dan kekinian. Bahkan saat itu aku ogah memakai baju atau syal kotak-kotak. Pakai blus putih saja dan syal batik. Akhirnya aku punya foto bersama Ahok. Lumayan buat kenang kenangan.

Tapi rupanya takdir berkata lain. Aku kecemplung. Berlanjut ke beberapa kegiatan kecil. Akhirnya aku berkenalan langsung dengan Ahok. Kami makan malam dan dia bercerita banyak. Butuh konsentrasi penuh untuk menyimak dan memaknai cerita seorang Ahok. Dia bicara cepat dan cerdas. Tentang bagaimana mengelola Jakarta dan menciptakan good governance. 

Tapi yang paling membekas ketika dia berkata, " Memang salah kalau pejabat hanya bisa kerja tapi mulutnya kasar. Saya ini pelayan warga Jakarta . Mereka pelanggan saya, juga bos saya. Jadi pejabat harus bisa kerja dan santun tutur katanya. Aku sedang terus berusaha memperbaiki diri, mengikuti keinginan warga Jakata."

Saat blusukan, aku lebih terperangah lagi. Dia melihat semua hal secara detail. Masuk melihat rumah orang dipinggir kali. Bahkan bawelnya kadang melebihi emak-emak. Ibu tua penuh peluh memeluknya erat. Berterimakasih anaknya telah mendapat oprasi gratis tumor payudara. Tak tahan, si ibupun menangis dalam pelukan Ahok. Ahok menepuk nepuknya seraya berkata, "ibu jangan sedih. Sekarang jaga anak ibu biar sehat dan bisa kuliah  di negri. Bilangin yang semangat ya."

Belum lagi bapak-bapak yang menagis menjabat tangannya, memeluk erat leher Ahok. Seorang pak tua berusia 97 tahun menjerit jerit meneriakkan dukungan dan doa nya. Semua orang ingin bersalaman dan memeluknya. Bukan untuk kekinian saja, salaman dengan pejabat. Tapi karena mereka semua sudah merasakan perbaikan hidup selama Ahok menjabat. 

Begitu banyak orang yg mengerumuninya, dan saat aku sudah hampir pingsan karena panas menyengat , bau keringat, pengap, dan dehidrasi. Ahok tiba tiba menunjuk seorang ibu. Bu, kok giginya hitam. Pake KJS. Periksa ke dokter gigi. Kalau gigi busuk, nanti ibu gampang sakit. Jadi harus buruan ke dokter gigi ya bu...

Astaga Ahok.. hal sekecil itupun kau lihat dan kau urus, seperti orang  tua yang mengurus anak- anaknya. Gang sempit pendek itu harus kami lalui 1 jam karena begitu banyak orang.
Sekali lagi, Bukan sekedar ingin melihat Ahok.
Mereka mau berterimakasih secara langsung, dalam lautan air mata penuh haru.

Sejak hari itu ... Aku berubah pikiran. Aku tak lagi berjuang untuk Ahok pribadi. Tapi memperjuangkan spirit Ahok. Mataku terbuka lebar. Begitu banyak orang susah di negri ini. Keadilan sosial memang harus ditegakkan. Dengan berjuang memenangkan Ahok, berarti akan begitu banyak orang tertolong. Aku ingin menggunakan tangan Ahok untuk menolong banyak orang, karena aku tahu, tangan ku tak mampu melakukannya.

Di suatu hari Minggu sore.. aku berinisiatif menengok anak yang habis operasi tumor. Aku hanya mengirim WA ke beliau. Minta dikirim voice message untuk anak itu. Ternyata dia balas, "Wanda, aku mau video call sama anak itu". Seketika muncullah wajahnya di iphone ku. Wajah baru bangun dengah  kaus tidur. Tapi suara khas nya begitu ramah menyapa dan memberi penghiburan pada sang anak. Saat sang ibu pun minta bicara,  dengan sabar dia layani. Mengobrol panjang lebar. Tak ada kamera TV. Tak ada wartawan. Hanya ada aku, seorang temanku dan keluarga ibu itu. Tak ada dokumentasi. Hanya ada ketulusan

Dalam perjalanan pulang, dia WA aku. "Teruslah mebantu orang. Kita harus melayani the poor and needy." Seketika air mataku menetes...

Pun ketika kami membesuk almarhumah Julia Perez. Ahok tak seperti pejabat yang berkata normatif. Dia duduk disamping Jupe, benar benar memberi penghiburan, ngobrol dan bercanda. " Jangan percaya kalau ada yang bilang orang sakit karena berdosa. Kamu sakit karena Tuhan ingin pakai kamu menginspirasi orang banyak".

Masih Banyak sekali cerita lainnya . Yang dia ceritakan sambil makan, ataupun santai.. Sarat pelajaran disana.. Sarat hal lucu pula. Tak ada gaya dan gestur seorang pejabat. 

Saat mengajarinya permainan flip bottle challenge, yang membuatnya penasaran setengah mati.. Juga saat dia bercerita bahwa dia ga bisa main hover board seperti Daud. Ahok adalah orang luar biasa. Sekaligus manusia biasa juga.

Dua hari sebelum ditahan, ada pesannya yang tak bisa kulupakan. "Panggilah Tuhan, belajarlah berkomunikasi dgn Tuhan. Curahkan semua masalahmu hanya pada Nya. Berpeganglah pada Tuhan, maka dia akan selalu menolongmu. Me time terbaik adalah saat bersama Tuhan di pagi hari."

Sehari sebelum dia ditahan, masih sempat kami bertemu di balai kota. Wajahnya ceria, berseragam PNS warna coklat. Ditengah lautan warga yang histeris ingin menemuinya. Dia bersemangat bercerita bagaimana rasanya  kberfoto dengan lebih dari 2000 orang dalam sehari. Tentang bunga dan balon.. tapi yg terpenting adalah kata pamungkasnya sebelum aku pamit. "Aku mesti ngebut beresin utang kerjaan. Targetnya,biar oktober nanti, saat masa tugasku berakhir, janji-janji pelerjaanku sudah beres. 
 
Esok harinya, Ahok divonis bersalah dan dihukum 2 tahun, serta langsung ditahan...
Tak bisa ku  deskripsikan perasaanku.
Telefonku berdering tanpa henti, penuh jerit tangisan histeris dari teman temanku.

Kini tak ada lagi sosok lucu, tegas dan cerdas itu. TV dan media sepi tanpanya. Entah apa yg dia kerjakan disana. Banyak cerita yg beredar di medsos. Tapi hanya dia yang tau apa yang dia rasakan.

Selalu ada hari-hari kesedihan datang mengingat dia terkurung disana. Akan kuhitung purnama, hingga saatnya bisa menjemput dia. Melihatnya kembali berkarya, menolong orang banyak walau tak lagi menjadi pejabat. Menjalankan panggilan hatinya untuk melayani The Poor and Needy.
 
Kami biasa memanggilnya Bapak. Si Bapak. Dan aku senang dengan panggilan itu, karena dia memang seperti Bapak kami. Bapaknya warga Jakarta.

Ahok memang one of a kind
Tak akan ada sosok seperti dia di belahan dunia ini. Semoga suatu saat Indonesia menyadari, betapa beruntungnya memiliki seorang Ahok.

Terimakasih Bapak ku  atas semua pembelajarannya

Tulisan ini dibuat dalam tangisanku mengenang Bapak ku di dalam sana

Tidak ada komentar:

Posting Komentar