Selasa, 22 Agustus 2023

PRABOWO BERKUASA, PAGEBLUK KEPEMIMPINAN MELANDA INDONESIA

oleh Kajitow Elkayeni

Ngeri membayangkan jika Prabowo jadi presiden, yang saya takutkan nanti akan terjadi pagebluk kepemimpinan. Pagebluk itu wabah penyakit yang belum ditemukan obatnya.

Pagebluk kepemimpinan terjadi, karena pemimpinnya hanya ingin berkuasa. Dia tidak ingin melayani rakyat. Yang terjadi kemudian adalah pembungkaman terstruktur, sistematis dan masif.

Saya dengar isu, Prabowo dibilang psikopat. Tentu saja saya tidak mudah percaya isu semacam ini. Kecuali jika istilah psikopat itu dibuat klasifikasi yang jelas terlebih dahulu.

Apakah sebutan psikopat itu untuk pembunuh berantai seperti yang ada dalam film? Atau itu untuk siapapun yang membunuh tanpa merasa berdosa, dengan alasan itu perintah?

Kalau istilah kedua itu diterima, maka Indonesia memang punya banyak psikopat yang berkuasa. Dan banyak dari mereka yang tidak diadili dengan semestinya, mungkin termasuk Prabowo?

Prabowo disebut oleh Allan Nairn, wartawan investigasi dari luar negeri, pernah membumihanguskan desa-desa terpencil dalam sebuah operasi militer di Timor Leste dan Papua Barat. 

Yang menyedihkan, saat di Papua Barat, pasukan Prabowo katanya menyamar sebagai anggota Palang Merah Internasional (ICRC). Menyaru petugas kemanusiaan, tapi bertujuan menghilangkan nyawa.

Dia juga dianggap bertanggung jawab pada kasus penculikan dan penghilangan aktivis pro demokrasi di Jakarta.

Tim Mawar, pasukan Prabowo yang dulu menculik para aktivis itu, empat orang di antaranya sekarang ada di Kemenhan. Di bawah kendali Prabowo.

Tim Mawar terbentuk karena peristiwa 27 Juli 1996 yang dikenal sebagai peristiwa Kudatuli. Kemudian mereka bertugas menculik para aktivis pada 1998, menjelang kejatuhan Soeharto. 

Generasi ompol zaman sekarang mungkin tidak paham istilah "diculik". Karena sekarang ini kata diculik sering dibuat bercandaan oleh youtuber atau influencer instagram. 

Tapi begini adik-adik yang belum paham. Diculik itu, kamu disergap di tengah jalan, atau dijemput di rumahmu saat tengah malam. 

Kemudian kamu dibawa di suatu tempat yang sepi, digebukin sampai yang mukulin kamu kecapean sendiri. 

Kamu ditelanjangi, kemaluanmu disetrum, kepalamu dimasukkan ke bak kamar mandi. Kamu diminta membocorkan nama teman-temanmu. Termasuk, bahkan yang tidak terlibat secara langsung dalam demonstrasi.

Dosamu hanya satu, karena kamu mengkritik Soeharto. Kamu demo dan minta keadilan pada penguasa. Itu bidah yang tidak bisa diterima dalam logika Orde Baru.

Saat itu Soeharto sangat menakutkan, Dik. Kalau kamu menyebut nama Soeharto tanpa kata "Pak" di depan namanya, kamu dalam masalah. Minimal diinterogasi di "pos pengawasan" lebih dulu dan disuruh minta maaf.

Kalau sekarang kamu bisa bilang presiden tolol, plonga-plongo, klemar-klemer, karena dulu banyak sekali tumbal Reformasi yang dihilangkan.

Jadi bisa dibayangkan, jika orang dengan ambisi besar ingin berkuasa itu jadi presiden Indonesia. Mengerikan sekali.

Kalaupun tidak lagi melakukan penghilangan nyawa, risiko paling ringan adalah terjadi pagebluk kepemimpinan. Ada kekacauan tak terkontrol dalam birokrasi. Korupsi dan nepotisme tak terbendung lagi.

Jangan membayangkan proyek yang sudah digagas Jokowi akan tetap berjalan. Kecuali yang sudah diamanatkan oleh Undang-Undang seperti IKN. Kalaupun proyek itu berjalan, pasti akan ada banyak masalah. 

Prabowo tidak memiliki pengalaman untuk menata dan membangun. Dia tumbuh dalam genangan darah dan tangisan para korban. Dan ilusi perintah, "segera amankan". Itu ilusi, karena memang tidak ada perintah dari atasan. Tapi Prabowo bergerak sendiri.

Maklum saja, saat itu dia kan mantu Soeharto. Siapa yang berani nyenggol Soeharto? Nyawamu dianggap murah sekali, Dik.

Maka semua proyek yang ada di bawah kendali Prabowo pasti berantakan. Sebut saja food estate, belanja alutsista bekas, visi kemandirian pertahanan Indonesia yang zonk. 

Food estate sebenarnya ada yang berhasil, tapi yang bukan ditangani Prabowo. Khusus kebon singkong hasil membabat ladang yang masih digarap rakyat, itu gagal total.

Tempo mendeteksi peranan perusahaan PT Agro Industri Nasional (Agrinas) yang sahamnya dimiliki Yayasan Pengembangan Potensi Sumber Daya Pertahanan (YPPSDP). Mereka juga main di alutsista melalui PT Teknologi Militer Indonesia (TMI).

Perusahaan-perusahaan itu isinya orang-orang Gerindra, bawahannya Prabowo. Ada juga yang merangkap di Kemenhan.

Semua yang dikelola Prabowo berantakan. Karena tidak jelas pengawasannya, dan berpotensi dijadikan bancakan kroni-kroninya. 

Dia tidak punya watak blusukan seperti Jokowi. Turun ke lapangan dan mengecek semua proyek yang sedang dikerjakan. Karena dia ini sama sekali bukan tipe figur merakyat. 

Prabowo tipe orang yang puas dengan laporan Asal Bos Senang. Kalau diminta blusukan, dia pasti juga kesulitan membawa perut besarnya itu ke pelosok-pelosok desa sana.

Baru diajak Jokowi blusukan ke pasar saja mukanya pucat bersimbah peluh. Napasnya ngos-ngosan, pandangan matanya kosong dan tampak menderita.

Karena dia tidak pernah hidup susah. Dia tidak pernah mulai dari bawah. Saat di militer, dx
Begitu juga saat dia masuk kabinet Jokowi. Niatnya dulu atas nama rekonsiliasi. Agar kadrun berhenti mencaci dan merecoki pembangunan Jokowi. Tapi boro-boro rekonsiliasi. Rocky Gerung, pendukung terdepan Prabowo tetap menyebut Jokowi tolol dan bajingan.

Maka posisi menteri yang diberikan karena kasihan pada Prabowo itu, akhirnya juga tidak menghasilkan prestasi apa-apa. Selain baliho segede gaban dengan gambar Jokowi dan Prabowo di dalamnya.

Baru membayangkan saja sudah ngeri. Tapi saya tidak mengerti, kenapa banyak orang sulit mengerti.

Ketika terjadi pagebluk kepemimpinan itu, target Indonesia menjadi negara kuat di tahun 2045 hanya akan jadi mimpi. UUD 45 pasti akan diamandemen sekali lagi. Presiden dipilih MPR, UU subversi berlaku kembali. 

Saat itu, kalau kalian berani menyebut Prabowo bajingan-tolol, sebagaimana Rocky memaki Jokowi, siap-siap kena setrum itu biji.

Kajitow Elkayeni

Tidak ada komentar:

Posting Komentar