Kamis, 08 Januari 2026

Surga Buat Tikus



Baru baca soal eksperimen legendaris yang dilakukan oleh John B. Calhoun, seorang ilmuwan perilaku dari Amerika, dari tahun 1958 sampai awal 1970-an (ya Allah, niat banget risetnya!). Namanya: Universe 25. Jadi ceritanya, Calhoun bikin semacam "surga" buat tikus: makanan selalu ada, air ngalir, tempat tinggal bersih, pasangan tersedia, suhu kandang dijaga tetap nyaman, dan tidak ada predator. Pokoknya, hidup para tikus ini enak banget, gak perlu kerja. Mereka tinggal hidup, makan, kawin, dan rebahan. Satu-satunya kekurangan adalah luas kandang yang terbatas. Ya iyalah, namanya juga percobaan. Area lab pasti terbatas. Nah, awalnya semua berjalan mulus. Tikus-tikus hidup bahagia. Tapi begitu populasi makin padat dan ruang makin sesak, mulai deh muncul gejala sosial. Tikus yang dominan jadi agresif. Yang lemah mundur ke pojokan dan mengisolasi diri. Tikus jantan kehilangan minat kawin, sementara betina stres ngurus anak sendirian. Yang muda-muda gak sempat tumbuh dewasa karena mati duluan akibat kalah dominasi. Lama-lama, gak ada lagi yang peduli satu sama lain. Koloni pun ambyar, bukan karena bencana alam, tapi karena kehilangan makna hidup. Eksperimen ini diulang 25 kali—makanya namanya Universe 25—dan hasilnya selalu sama: kehancuran total. Padahal secara fisik, semua kebutuhan mereka terpenuhi. Yang gak terpenuhi adalah makna hidup. Gak ada lagi tujuan bersama. Gak perlu lagi kerja sama. Interaksi sosial memudar karena hidup sudah terlalu nyaman. Wong semuanya sudah tersedia, buat apa repot-repot minta tolong atau berbagi? Calhoun bilang, ini bukan cuma tentang tikus. Ini tentang kita, manusia. Ini cermin interaksi sosial makhluk hidup. Kalau hidup kita terlalu nyaman tapi kita lupa menjaga koneksi antar sesama, kalau kita cuma fokus ke diri sendiri dan mengejar kenyamanan pribadi.  Jangan heran kalau kita juga bisa jadi seperti "tikus cantik": wangi, stylish, sibuk tapi kosong. Eksperimen Universe 25 ini ngajarin satu hal penting: Ketika hidup terlalu mudah, yang pertama hilang justru rasa saling membutuhkan. Saling menjaga. Saling berbagi. Saling tanya, "Kamu gimana hari ini?" Kenyamanan itu nikmat, tapi juga bisa menumpulkan rasa sosial. Hidup bukan cuma soal isi piring dan isi dompet tetapi juga isi hati, dan isi waktu yang kita sempatkan untuk orang lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar