Kamis, 08 Januari 2026

Ironi Rumah Ibadah dan "Dosa" Kolektif Kita

Indonesia adalah sebuah paradoks besar yang hidup. Di satu sisi, kita adalah negara dengan jumlah rumah ibadah terbanyak di dunia. Suara azan, lonceng gereja, dan puji-pujian membumbung ke langit setiap hari dari ratusan ribu titik. Namun, di sisi lain, data menceritakan realitas yang kontradiktif: kita secara konsisten masih bergelut di zona merah indeks persepsi korupsi dan memegang rekor laju kerusakan hutan (deforestasi) yang mengkhawatirkan. Fakta ini adalah tamparan keras bagi narasi Tasawuf Irfani atau spiritualitas batin mana pun yang hanya berhenti di level estetika. Jika rumah ibadah kian megah namun kejujuran kian langka, dan jika zikir kian kencang namun alam kian hancur, maka ada yang salah dengan cara kita beragama.

_Kesalehan Ritual vs Kejahatan Struktural_

Keberadaan masjid, gereja, pura, dan wihara yang melimpah seharusnya menjadi laboratorium moral yang melahirkan manusia-manusia berintegritas. Namun, yang terjadi sering kali adalah pemisahan (dikotomi) antara kesalehan ritual dan perilaku publik. Banyak orang merasa telah "menebus" dosa korupsinya dengan menyumbang secara besar-besaran untuk pembangunan rumah ibadah. Secara sosiologis, ini adalah bentuk kompensasi spiritual. Agama digunakan sebagai kedok untuk menutupi kejahatan struktural. Kita terjebak pada jumlah (kuantitas) ritual, namun abai pada substansi (kualitas) keadilan. Korupsi yang masih masuk dalam peringkat atas adalah bukti bahwa Tuhan hanya dihadirkan di dalam rumah ibadah, namun "diusir" saat kita menandatangani kontrak proyek atau kebijakan publik.

_Ekosida: Saat Doa Tak Lagi Membumi_

Kerusakan alam di Indonesia adalah bentuk pengkhianatan spiritual yang paling nyata. Dalam perspektif irfani, alam adalah "ayat" Tuhan yang tidak tertulis. Merusak hutan dan mencemari sungai demi keserakahan ekonomi adalah bentuk penghinaan terhadap Sang Pencipta. Data deforestasi yang tinggi menunjukkan bahwa spiritualitas kita telah kehilangan dimensi ekologisnya. Kita sibuk mencari "Air Kehidupan" Nabi Khidir di dalam imajinasi, sementara sumber air nyata bagi jutaan rakyat kita hancur oleh tambang dan perkebunan monokultur. Jika zikir kita tidak mampu mencegah tangan kita dari merusak pohon, maka zikir itu hanyalah gema kosong di tengah hutan yang gundul.

_Menggugat Khidir di Meja Kekuasaan_

Narasi tentang Nabi Khidir yang memperbaiki tembok anak yatim seharusnya menjadi inspirasi bagi para pengambil kebijakan. Khidir bukan simbol mistisisme pasif; ia adalah simbol intervensi demi keadilan. Indonesia tidak butuh lebih banyak orang yang hanya tahu cara menangis di dalam rumah ibadah; Indonesia butuh orang yang mampu membawa rasa takut kepada Tuhan itu ke meja-meja kekuasaan, ke kantor-kantor dinas, dan ke lapangan-lapangan konservasi. Tanpa perbuatan keajaiban berupa keberanian untuk jujur (melawan korupsi) dan keberanian untuk melindungi bumi (melawan kerusakan alam), maka seluruh tulisan spiritual dan banyaknya rumah ibadah kita hanyalah sebuah mimpi panjang.

_Penutup: Dari Menara Gading ke Akar Rumput_

Sudah saatnya kita berhenti membanggakan jumlah rumah ibadah jika di saat yang sama kita masih menduduki peringkat atas dalam daftar perilaku koruptif. Kesalehan batin harus berujung pada keajaiban kemanusiaan yang terukur: turunnya angka korupsi, pulihnya hutan kita, dan tegaknya keadilan bagi si miskin. Rajab kali ini bukan hanya tentang membasuh wajah dengan air mata tobat, tapi tentang membasuh bangsa ini dari kotoran kerakusan. Jika agama tidak lagi bisa menjadi rem bagi korupsi dan pelindung bagi alam, maka ia hanya akan menjadi ornamen kebudayaan yang tak punya jiwa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar