Senin, 11 Oktober 2021

EGO & HARGA DIRI

By GC

Kisah dibawah ini adalah Kisah nyata yang ditulis oleh Rizky Taufan di Majalah Intisari bulan Agustus 2004.

Seorang teman dari Rizky Taufan ini menceritakan pengalamannya ketika ia & ibunya sedang pulang ke Sleman, Yogyakarta. Ketika itu ia & ibunya ingin membeli ayam goreng yang biasanya mangkal di depan Pasar Godean untuk makan malam. Kebetulan saat itu hari mulai senja..

Tidak ada sesuatu yang istimewa dengan ayam goreng di Pasar Godean tersebut. Namun di samping warung ayam goreng tersebut ada seorang nenek yang menarik. Ia berpakaian lusuh seperti layaknya seorang pengemis, duduk bersimpuh tanpa alas, sambil merangkul 3 ikat sapu ijuk.

Keadaannya terlihat payah, lemah, dan tidak berdaya. Oleh karenanya, setelah ibu teman saya membayar ayam goreng, ia pun memberi Rp. 1.000,-kepada nenek tua tersebut, karena iba & karena ia berpikir bahwa nenek tadi pengemis. Saat sodorkan lembaran uang tadi, tidak terduga respon si nenek malahan menunduk kecewa & menggeleng pelan. Sekali lagi diberi uang, sekali lagi nenek itu menolak.

Penjual ayam goreng yang kebetulan melihat kejadian itu buru-buru menjelaskan bahwa nenek itu bukan pengemis, melainkan penjual sapu ijuk. Paham akan maksud keberadaan sang nenek yang sebenarnya, ibu teman saya akhirnya memutuskan untuk membeli ketiga sapunya yg berharga Rp. 1.500,- per ikat. Meskipun ijuknya jarang-jarang & kualitasnya jauh dari bagus serta ikatannya pun longgar.

Menerima uang Rp. 5.000,- si nenek tampak ngedumel sendiri. Ternyata dia tidak punya uang kembalian. "Ambil saja uang kembaliannya", kata ibu teman saya. Namun, si nenek ngotot untuk mencari uang kembalian Rp. 500,-. Dia lalu bangkit & dengan susah payah menukar uang di warung terdekat.

Ibu teman saya terpaku melihat polah sang nenek. Sesampainya di mbol, ia masih terus berpikir, bagaimana mungkin di zaman sekarang masih ada orang yang begitu jujur, mandiri dan punya harga diri / Ego yang begitu tinggi.

Namun di satu sisi yang lain, Sang nenek yang keras kepala ini juga menunjukkan bahwa ia tidak mau berubah, mungkin banyak orang yang sudah memberinya nasehat padanya tentang produknya, Bajunya yang lusuh dan lain lain.

Ketika seseorang tidak memiliki apa-apa, harta tidak banyak atau bahkan nyaris tidak ada. Uang pun tidak banyak maka yang tersisa yang berharga adalah dirinya. Oleh karena itu dia memasang Harga dirinya tinggi-tinggi. "Aku memang miskin, tapi aku tidak mengemis pada orang lain!" begitu kira-kira statement yang ada di dalam dirinya.

Dalam hal ini memang orang tipe ini masih jauh terhormat daripada orang yang tidak mau berusaha dan maunya meminta-minta, mengharapkan iba dengan meminta sedekah pada orang lain. Padahal seringkali mereka masih muda dan cukup sehat untuk bisa bekerja seperti orang lainnya. Mereka melakukannya karena satu alasan saja yaitu… "MALAS"

Ibu penjual sapu ijuk ini sangat berbeda, ia tidak mau menerima kebaikan orang lain. Ia melakukan usaha halal dengan berusaha untuk menjual sapu ijuk, dan ia berharap orang tidak mengasihaninya dengan memberi sedekah padanya. Ia malahan merasa terhina jika ada orang yang melakukan tindakan tersebut.

Tidak ada yang salah untuk mempunyai Ego, harga diri dan prinsip hidup. Namun begitu, mempunyai Ego dan harga diri bukan berarti tidak mau mendengarkan orang lain dan melakukan perubahan diri kearah yang lebih baik. Rasa percaya diri, terkadang dapat membuat kita menjadi keras kepala, keras kepala membuat kita menjadi sombong / angkuh. Hindarilah itu. Mempunyai prinsip itu penting, tetapi rendah hati itu adalah sebuah keharusan, ini Prinsip hidup yang benar.

Dunia kita terus berubah, kita pun pasti berubah menjadi lebih dan lebih tua. Mari, jadilah orang-orang yang bijaksana, orang yang mau mendengarkan orang lain dan orang yang mau melakukan perubahan diri. Ini adalah tindakan bijaksana untuk melanjutkan hidup kita kearah yang lebih baik serta mengangkat harkat dan martabat kita.

_"Egotism is the anesthetic which nature gives us to deaden the pain of being a fool."_ - Dr. Herbert Shofield 

Selamat Pagi Frens !


Tidak ada komentar:

Posting Komentar