Sabtu, 24 Oktober 2026

POHON ARA DI DALAM BAYANGAN

Refleksi berdasarkan Efesus 4:7–16 dan Lukas 13:1–9

Aku mengumpulkan karunia seperti mengumpulkan cermin,
lalu berdiri di tengah Gereja
untuk mengagumi wajahku sendiri.
Kusebut itu pelayanan,
padahal diam-diam aku sedang membangun altar
bagi bayangan yang ingin kusembunyikan.

Kristus turun ke tempat yang paling rendah,
menjemput Adam dari rahim kegelapan
(Ef 4:9–10).
Tetapi aku, yang mengaku mengikuti-Nya,
masih takut turun ke ruang bawah tanah jiwaku—
tempat iri hati tidur bersama kesalehan,
tempat luka masa kecil menyamar menjadi panggilan,
tempat topeng orang kudus
menutupi manusia yang lapar akan pujian.

Aku ingin menjadi Kepala,
tetapi lupa bahwa aku hanyalah anggota;
ingin menjadi terang,
tetapi menyangkal bayangan sendiri.
Tubuh Kristus tumbuh menuju kepenuhan-Nya
(Ef 4:13–16),
sementara egoku tumbuh diam-diam
di balik setiap keberhasilan pelayanan.

Lalu sebuah menara runtuh.
Beberapa orang mati sebelum sempat menjelaskan
mengapa hidup mereka harus berakhir.
Aku bertanya, dosa siapa yang sedang dihukum?
Barangkali lebih mudah menuduh langit
daripada mendengar tanah yang retak
di bawah kakiku sendiri
(Luk 13:1–5).

Di kebun anggur itu,
sebatang pohon ara berdiri tanpa buah.
Tiga tahun menjadi saksi kesabarannya,
tetapi juga saksi penundaannya.
Pengurus kebun memohon satu musim lagi:
tanah digemburkan,
akar diberi makan,
harapan belum dicabut
(Luk 13:6–9).

Betapa miripnya pohon itu denganku:
aku ingin diselamatkan dari kapak,
tetapi belum tentu ingin diubah.
Aku memohon kesabaran Allah,
namun sering kehilangan kesabaran
terhadap diriku sendiri dan orang lain.
Aku menyebut ketakutanku sebagai kehati-hatian,
keenggananku sebagai penantian,
dan kemandekanku sebagai misteri kehendak Tuhan.

Barangkali pertobatan dimulai
ketika aku berhenti membunuh bayanganku
dengan doa-doa yang terdengar suci,
lalu berani menatapnya
tanpa menjadikannya raja.
Sebab yang kutolak dalam diriku
dapat tumbuh menjadi penguasa gelap;
yang kuakui dengan jujur
dapat kubawa ke hadapan rahmat.

Tuhan, jangan biarkan aku puas
menjadi pohon yang tampak hidup
karena daunnya rimbun.
Gemburkan tanahku,
meski cangkul-Mu melukai kesombongan.
Berilah aku waktu,
tetapi jangan biarkan waktu
menjadi tempat persembunyian.

Dan jika suatu hari buah itu tumbuh,
jangan biarkan aku memetiknya
untuk membuktikan bahwa aku istimewa.
Biarlah ia menjadi makanan bagi yang lapar,
naungan bagi yang letih,
dan tanda kecil bahwa rahmat-Mu
telah menembus tanah keras
yang selama ini kusebut:
diriku sendiri.

~BDM, 24.10.26


Uploaded Image

Tidak ada komentar:

Posting Komentar