Refleksi berdasarkan Efesus 4:7–16 dan Lukas 13:1–9 Aku mengumpulkan karunia seperti mengumpulkan cermin, lalu berdiri di tengah Gereja untuk mengagumi wajahku sendiri. Kusebut itu pelayanan, padahal diam-diam aku sedang membangun altar bagi bayangan yang ingin kusembunyikan. Kristus turun ke tempat yang paling rendah, menjemput Adam dari rahim kegelapan (Ef 4:9–10). Tetapi aku, yang mengaku mengikuti-Nya, masih takut turun ke ruang bawah tanah jiwaku— tempat iri hati tidur bersama kesalehan, tempat luka masa kecil menyamar menjadi panggilan, tempat topeng orang kudus menutupi manusia yang lapar akan pujian. Aku ingin menjadi Kepala, tetapi lupa bahwa aku hanyalah anggota; ingin menjadi terang, tetapi menyangkal bayangan sendiri. Tubuh Kristus tumbuh menuju kepenuhan-Nya (Ef 4:13–16), sementara egoku tumbuh diam-diam di balik setiap keberhasilan pelayanan. Lalu sebuah menara runtuh. Beberapa orang mati sebelum sempat menjelaskan mengapa hidup mereka harus berakhir. Aku bertanya, dosa siapa yang sedang dihukum? Barangkali lebih mudah menuduh langit daripada mendengar tanah yang retak di bawah kakiku sendiri (Luk 13:1–5). Di kebun anggur itu, sebatang pohon ara berdiri tanpa buah. Tiga tahun menjadi saksi kesabarannya, tetapi juga saksi penundaannya. Pengurus kebun memohon satu musim lagi: tanah digemburkan, akar diberi makan, harapan belum dicabut (Luk 13:6–9). Betapa miripnya pohon itu denganku: aku ingin diselamatkan dari kapak, tetapi belum tentu ingin diubah. Aku memohon kesabaran Allah, namun sering kehilangan kesabaran terhadap diriku sendiri dan orang lain. Aku menyebut ketakutanku sebagai kehati-hatian, keenggananku sebagai penantian, dan kemandekanku sebagai misteri kehendak Tuhan. Barangkali pertobatan dimulai ketika aku berhenti membunuh bayanganku dengan doa-doa yang terdengar suci, lalu berani menatapnya tanpa menjadikannya raja. Sebab yang kutolak dalam diriku dapat tumbuh menjadi penguasa gelap; yang kuakui dengan jujur dapat kubawa ke hadapan rahmat. Tuhan, jangan biarkan aku puas menjadi pohon yang tampak hidup karena daunnya rimbun. Gemburkan tanahku, meski cangkul-Mu melukai kesombongan. Berilah aku waktu, tetapi jangan biarkan waktu menjadi tempat persembunyian. Dan jika suatu hari buah itu tumbuh, jangan biarkan aku memetiknya untuk membuktikan bahwa aku istimewa. Biarlah ia menjadi makanan bagi yang lapar, naungan bagi yang letih, dan tanda kecil bahwa rahmat-Mu telah menembus tanah keras yang selama ini kusebut: diriku sendiri. ~BDM, 24.10.26
Sabtu, 24 Oktober 2026
POHON ARA DI DALAM BAYANGAN
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar