Pono Geneng saat masih menjadi tukang becak di kawasan Prawirotaman, Yogyakarta, Pono menemukan tas milik wisatawan asal Swiss bernama Charli Morandi dan istrinya. Tas itu berisi uang tunai dalam dolar AS yang nilainya disebut-sebut 42 miliar rupiah jika dikonversikan ke nilai saat itu. Pono membawa tas itu pulang dan memperlihatkan pada ibunya. Ia membayangkan dengan uang yang ia temukan bisa merubah hidup mereka yang sangat sederhana. Tapi sang ibu mengingatkan, kalau itu bukan miliknya, tidak akan berkah hidupnya jika menggunakan uang itu, jadi sang ibu menyuruh Pono untuk mengembalikan uang yang ditemukannya. Namun sayangnya, uang dikembalikan, pasangan turis itu tak memberikan apa-apa pada Pono, mereka hanya minta Pono memperlihatkan KTP untuk difoto. Saat keluar dari hotel, becak yang ia parkir di depan sudah raib pula dibawa maling. Pono pun pulang dengan tangan kosong dan berjalan kaki. Pemilik tas pun melanjutkan perjalanan mereka ke Bali, tapi 3 hari kemudian mereka kembali ke Jogja, mencari Pono berbekal alamat di KTP. Setelah ketemu, mereka memutuskan menginap di rumah Pono yang sederhana, mereka bilang 3 hari belakangan tak bisa tidur karena memikirkan Pono. Kejujuran Pono yang langka, membuat mereka ingin mengajak Pono untuk mengubah nasibnya di Swiss. Pono pun berangkat ke Swiss dengan semua biaya dan fasilitas ditanggung Charly. Charly dan istrinya sudah menganggap Pono seperti anak sendiri, karena selain jujur, Pono dikenal baik budi. Sampai di Swiss Pono bertani dan belajar. Sebelumnya selama jadi tukang becak Pono juga belajar berbagai bahasa, hingga ia menguasai 5 bahasa, jadi di Swiss pun ia tak ada kendala bahasa. Pono kemudian mulai memiliki bisnis, dan terus berkembang. Hingga kedua orangtua angkat Pono meninggal, mereka mewariskan semua hartanya pada Pono. Bisnis Pono pun makin berkembang pesat, ia memegang bisnis bidang perdagangan (trading), terutama komoditas pertanian seperti kopi, kakao, lada, cengkeh, dan hasil bumi lain dari Indonesia untuk pasar Eropa. Kejujuran Pono Geneng, telah membawanya menjadi pengusaha kaya di Swiss, tapi ia tetap memilih jadi WNI. Kisah inspiratif Pono menunjukkan betapa kejujuran itu mahal harganya. Bayangkan siapa yang mau mengembalikan uang sebanyak itu padahal tak tau siapa pemiliknya. Keberuntungan Pono memiliki orangtua yang tidak serakah, telah membawanya pada kesuksesan luar biasa.
Minggu, 02 Agustus 2026
Tukang Becak jadi Miliarder
Terang Kecil Yang Membawa Harapan
Di sebuah hutan, seekor kunang-kunang kecil merasa dirinya tidak berguna. “Cahayaku terlalu redup,” keluhnya. Ia iri melihat matahari yang terang dan bulan yang indah. Suatu malam, seekor burung kecil tersesat di tengah hutan yang gelap. Tidak ada matahari atau bulan yang dapat menolongnya karena langit tertutup awan. Kunang-kunang itu memberanikan diri terbang sambil memancarkan cahayanya yang kecil. Burung itu pun berhasil menemukan jalan pulang. Saat itulah kunang-kunang sadar bahwa cahaya kecil yang dipakai dengan setia dapat menjadi berkat besar bagi orang lain. Yesus mengajarkan bahwa setiap orang dipanggil menjadi terang bagi dunia. Terang itu bukan berasal dari kehebatan kita, melainkan dari Tuhan yang bekerja melalui hidup kita. Dalam Matius 5:14-16, Yesus berkata, “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di surga.” Tuhan tidak menuntut kita menjadi yang paling hebat, tetapi menjadi setia dalam melakukan kebaikan sekecil apa pun. Saudaraku, jangan pernah meremehkan hal-hal kecil yang dapat kita lakukan hari ini. Senyuman, doa, pengampunan, perhatian, atau pertolongan sederhana dapat menjadi terang yang membawa harapan bagi seseorang. Ketika kita membiarkan Tuhan bersinar melalui hidup kita, orang lain akan melihat kasih-Nya dan dimuliakanlah nama Tuhan. “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di surga.” (Matius 5:16) Bacaan: Yeremia 26:1-9; Mazmur 69:5, 8-10, 14; Matius 13:54-58. (Gbu!)
Anda Pengemudi bukan Penumpang
Suatu Hari Nanti Anda Akan Melihat Semuanya dengan Jelas
03 Agustus 2026
Bacaan Hari ini:
2 Korintus 4:17-18 "Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar daripada penderitaan kami. Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal."
----------------
Ketika krisis melanda, Anda harus melakukan hal-hal bijaksana yang diperlukan untuk melewatinya. Dengarkan Firman Allah dan nasihat yang saleh, ambillah keputusan-keputusan yang benar dan teruslah melangkah maju sambil mengingat bahwa semua ini akan berlalu. Semua ini tidak akan berlangsung selamanya!
Alkitab menyatakan dalam 1 Petrus 4:12 demikian: "Saudara-saudara yang kekasih, janganlah kamu heran akan nyala api siksaan yang datang kepadamu sebagai ujian, seolah-olah ada sesuatu yang luar biasa terjadi atas kamu"
Di dunia ini akan selalu ada masa-masa pencobaan dan ujian. Hal itu sudah pasti! Sejak dosa masuk ke dalam dunia, tidak ada lagi yang berjalan dengan sempurna. Segala sesuatu di planet ini telah rusak—cuaca, perekonomian, tubuh Anda, bahkan rencana terbaik Anda sekalipun. Tidak ada yang berjalan sempurna dalam hidup ini karena dosa telah merusak segala sesuatu di bumi.
Alkitab berkata, "Bumi cemar karena penduduknya, sebab mereka melanggar undang-undang, mengubah ketetapan dan mengingkari perjanjian abadi.... Bumi remuk redam, bumi hancur luluh." (Yesaya 24:5, 19).
Di bumi ini, segala sesuatu dapat hilang, ditinggalkan, dan menjadi kacau. Bahkan alam semesta pun mengeluh. Kita mungkin bertanya-tanya mengapa Allah mengizinkan dosa dan kejahatan masuk ke dalam dunia. Jawabannya adalah karena Allah menghendaki agar kita memiliki pilihan.
Dan kitalah yang memilih untuk melakukan kejahatan. Kitalah yang hidup dalam keegoisan dan berpusat pada diri sendiri sehingga menimbulkan berbagai persoalan dalam masyarakat maupun lingkungan kita.
Bumi ini bukanlah surga. Itulah sebabnya Yesus mengajarkan kita untuk berdoa, "Jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga." (Matius 6:10). Surga adalah tempat yang sempurna, tanpa dukacita, penyakit, kesedihan, maupun tekanan hidup. Namun, kita tidak boleh mengharapkan surga ada di bumi. Suatu hari nanti kita akan berada di sana, tetapi saat ini kita belum sampai di sana.
Masih akan ada tantangan dan kesukaran lain yang harus dihadapi. Namun, Anda selalu dapat berharap pada kebenaran ini:
"Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar daripada penderitaan kami. Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal." (2 Korintus 4:17-18).
Renungkan :
- Dalam masa pencobaan yang sedang Anda alami saat ini, dengan cara apa Anda berharap dapat bertumbuh secara rohani, jasmani, dan emosional?
- Allah tidak menyebabkan hal-hal buruk terjadi, tetapi Dia dapat memakai hal-hal buruk itu untuk mendatangkan kebaikan. Bagaimana Anda pernah melihat Allah menebus suatu kesukaran dalam hidup Anda atau dalam kehidupan orang lain?
- Kepada apa Anda menaruh pengharapan ketika menghadapi krisis? Apakah itu cukup untuk menopang Anda?
Bacaan Alkitab Setahun :
Mazmur 60-62; Roma 5
__________
Anda akan melewati ujian apa pun yang sedang Anda hadapi saat ini. Kelak, Anda akan takjub melihat semua yang Allah kerjakan di tengah-tengah kesulitan Anda ketika Anda memandangnya dari sisi yang lain.
(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
========
One Day You’ll See It All Clearly
By Rick Warren
"Our light and momentary troubles are achieving for us an eternal glory that far outweighs them all. So we fix our eyes not on what is seen, but on what is unseen, since what is seen is temporary, but what is unseen is eternal." 2 Corinthians 4:17-18 (NIV)
------------------
When a crisis hits, you have to do the smart things necessary to get through it. You listen to God’s Word and godly advice, you make good choices, and you keep moving forward while remembering that this will pass. It’s not going to last forever!
The Living Bible paraphrases 1 Peter 4:12 this way: "Dear friends, don't be bewildered or surprised when you go through the fiery trials ahead, for this is no strange, unusual thing that is going to happen to you" (TLB).
In this world, there will be times of trial and testing. It’s guaranteed! Since sin entered the world, nothing works perfectly. Everything on this planet is broken—the weather, the economy, your body, and even your best plans. Nothing works perfectly in this life because sin broke everything on earth.
The Bible says, “The earth suffers for the sins of its people, for they have twisted God’s instructions, violated his laws, and broken his everlasting covenant . . . The earth has broken up. It has utterly collapsed" (Isaiah 24:5, 19 NLT).
On earth, everything is lost, abandoned, and confused. Even nature is groaning. We may wonder why God allowed sin and evil to enter the world; it’s because God wanted us to have a choice.
And we're the ones who have chosen to cause evil. We're the ones who are selfish and self-centered and cause problems in society and in our environment.
This earth is not heaven. That’s why Jesus taught us to pray the Lord's Prayer—"your will be done, on earth as it is in heaven" (Matthew 6:10 NIV). Heaven is a perfect place with no sorrow, sickness, sadness, or stress, but we shouldn't expect heaven on earth. One day we'll get there, but we're not there yet.
You will get through whatever trial you’re facing right now. Soon enough you will marvel at all that God did in the midst of your trouble as you look at it from the other side.
There will be more challenges to face and adversity to endure. But you can always hope in this truth: "Our light and momentary troubles are achieving for us an eternal glory that far outweighs them all. So we fix our eyes not on what is seen, but on what is unseen, since what is seen is temporary, but what is unseen is eternal" (2 Corinthians 4:17-18 NIV).
Tuhan...aku lelah
Sabtu, 01 Agustus 2026
Bersiaplah Sekarang untuk Menghadapi Lembah-Lembah Kehidupan
02 Agustus 2026
Bacaan Hari ini:
Mazmur 23:4 "Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku"
------------------
Jalan dari Yerusalem ke Yerikho melewati lembah-lembah padang gurun yang terjal, yang terkenal karena berbahaya dan medannya yang curam. Pada zamannya, Raja Daud kemungkinan telah berkali-kali melewati jalan itu. Beberapa ngarai di sepanjang jalan menuju Yerikho sangat sempit di bagian dasarnya dan memiliki tebing setinggi sekitar 800 kaki. Satu-satunya waktu sinar matahari dapat mencapai dasar ngarai adalah pada tengah hari, ketika matahari tepat berada di atas kepala. Di dalam Alkitab, lembah sering menjadi gambaran tentang masa-masa kegelapan, keputusasaan, kekalahan, atau patah semangat.
Mazmur 23:4 berkata, "Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku". Alkitab mengajarkan bahwa Allah bukan hanya hadir dalam pengalaman-pengalaman Anda di puncak gunung. Dia juga menyertai Anda di lembah-lembah kehidupan. Ada empat hal yang perlu Anda ingat tentang lembah:
Lembah adalah bagian dari kehidupan. Alkitab berkata, "Tetapi negeri, ke mana kamu pergi untuk mendudukinya, ialah negeri yang bergunung-gunung dan berlembah-lembah" (Ulangan 11:11).
Lembah tidak dapat dihindari. Kemungkinan besar Anda baru saja keluar dari sebuah lembah, sedang berada di tengah sebuah lembah saat ini atau sedang menuju lembah yang berikutnya. Tidak ada cara untuk menghindari lembah selama Anda masih hidup di dunia ini. Sebaliknya, Anda harus menyadari bahwa lembah pasti akan datang.
Lembah dialami oleh setiap orang. Lembah tidak memandang siapa pun. Hal-hal baik terjadi pada orang jahat dan hal-hal buruk juga terjadi pada orang baik. Kita hidup di dunia yang telah jatuh ke dalam dosa dan telah rusak, sehingga kita semua menghadapi berbagai persoalan. Tidak seorang pun kebal terhadap penderitaan. Tidak seorang pun terlindung sepenuhnya dari rasa sakit. Tidak seorang pun menjalani hidup tanpa masalah.
Alkitab berkata,"Kemalangan orang benar banyak, tetapi TUHAN melepaskan dia dari semuanya itu" (Mazmur 34:19).
Lembah datang tanpa dapat diperkirakan. Anda tidak dapat merencanakannya. Anda tidak dapat menentukan waktunya. Masalah biasanya datang secara tiba-tiba. Bahkan, lembah dan persoalan dalam hidup sering muncul pada saat yang paling tidak tepat—ketika Anda tidak punya waktu, ketika Anda belum siap dan ketika semuanya terasa sangat tidak nyaman. Bukankah akan lebih mudah jika Anda bisa menjadwalkan semua lembah itu pada saat Anda cukup tidur, tubuh Anda sehat, dan tidak ada seorang pun yang mengganggu Anda? Namun, hidup tidak berjalan seperti itu. Amsal 27:1 mengingatkan kita, "Janganlah memuji diri karena esok hari, karena engkau tidak tahu apa yang akan terjadi hari itu."
Renungkan :
- Di manakah posisi Anda dalam perjalanan hidup saat ini: sedang berada di sebuah lembah, sedang keluar dari sebuah lembah, berada di antara lembah dan puncak gunung, atau sedang berada di puncak gunung?
- Bagaimana Anda dapat mempersiapkan diri secara mental, jasmani, dan rohani untuk menghadapi lembah-lembah dalam hidup Anda?
- Menurut Anda, mengapa Allah mengizinkan Anda melewati lembah-lembah kehidupan dan tidak membiarkan Anda tetap berada di puncak gunung?
Bacaan Alkitab Setahun :
Mazmur 57-59; Roma 4
____________
Ketika Anda mengetahui apa yang dapat diharapkan dari lembah-lembah kehidupan, Anda akan lebih siap menghadapinya dan tetap percaya kepada penyertaan serta pemeliharaan Allah.
(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
========
Prepare Now for the Valleys
By Rick Warren
“Even though I walk through the darkest valley, I will fear no evil, for you are with me.” Psalm 23:4 (NIV)
--------------
The road from Jerusalem to Jericho passes through rugged desert valleys known for danger and steep terrain. In his day, King David probably traveled through them many times. Some of the canyons along the road to Jericho were narrow at the bottom and as tall as 800 feet. The only time you could see sunshine at the bottom was at noon when the sun was straight overhead. In the Bible, valleys are often a metaphor for times of darkness, despair, defeat, or discouragement.
Psalm 23:4 says, “Even though I walk through the darkest valley, I will fear no evil, for you are with me” (NIV). The Bible teaches that God is not just a part of your mountaintop experiences. He is also with you in the valleys. There are three things you need to remember about the valleys:
Valleys are a part of life. The Bible says in Deuteronomy 11:11, “The land you will soon take over is a land of hills and valleys” (NLT).
Valleys are inevitable. You likely just came out of a valley, are in the middle of one right now, or are headed into another one. There’s no way to avoid valleys while you’re on this earth. Instead, you can count on them.
Valleys happen to everybody. They’re impartial. Good things happen to bad people, and bad things happen to good people. We live in a fallen and broken world, so we have problems. Nobody’s immune. Nobody’s insulated from pain. Nobody sails through life problem-free.
The Living Bible paraphrase says, “The good man does not escape all troubles—he has them too. But the Lord helps him in each and every one” (Psalm 34:19).
Valleys are unpredictable. You can’t plan them. You can’t time them. Problems typically catch you off guard. In fact, your valleys and your problems usually come at the worst times—when you don’t have time, when you’re unprepared, and when it’s inconvenient. Wouldn’t it be easier if you could schedule all your valleys when you’re caught up on your sleep, your health is good, and nobody is bugging you? But life doesn’t work that way. Proverbs 27:1 reminds us, “Don’t brag about tomorrow, since you don’t know what the day will bring” (NLT).
When you know what to expect in the valleys of life, you know how to better prepare for them and keep trusting in God’s presence and provision.
Jumat, 31 Juli 2026
Tiga Kebenaran yang Perlu Diingat Saat Berada di Lembah
01 Agustus 2026
Bacaan Hari ini:
Mazmur 23:4 "Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku."
-------------------
Mungkin saat ini Anda tidak sedang berada di lembah kekelaman, tetapi Anda mungkin sedang berada di lembah yang lain. Lembah adalah masa-masa sulit dalam perjalanan hidup Anda, ketika sangat mudah untuk meragukan atau mengabaikan kebaikan Allah. Namun, Anda selalu dapat percaya bahwa Allah berjalan bersama Anda melewati setiap lembah. Dan Dia telah berjanji akan membawa Anda keluar hingga tiba di seberang.
Mazmur 23:4 berkata, "Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku."
Berikut adalah tiga kebenaran yang perlu Anda ingat ketika sedang berada di lembah:
1. Anda tidak sendirian. Allah menyertai Anda.
Bayang-bayang dalam hidup Anda adalah bukti bahwa ada terang. Bagaimana Anda menghadapi bayangan? Berbaliklah membelakangi bayangan itu dan arahkan pandangan Anda kepada terang. Yesus berkata, "Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup" (Yohanes 8:12)
Alkitab mengatakan bahwa Allah adalah terang, dan di dalam Dia sama sekali tidak ada kegelapan. Anda perlu berhenti memusatkan perhatian pada hal-hal gelap yang menakutkan Anda—tagihan-tagihan yang harus dibayar, masalah kesehatan, atau kekhawatiran mengenai anak-anak maupun orang tua yang semakin lanjut usia. Ketika Anda mengalihkan perhatian dari rasa takut, Anda dapat memusatkan perhatian kepada Bapa.
2. Allah mempunyai tujuan yang baik melalui lembah yang Anda lalui.
Allah tidak dapat berbuat jahat. Bahkan ketika Anda sedang menghadapi masalah, konflik, dukacita, ketakutan atau kegagalan, Allah tetap bekerja, mendatangkan kebaikan melalui lembah yang sedang Anda lalui.
Roma 5:3-5 berkata, "Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita."
3. Upahnya akan berlangsung untuk selama-lamanya.
Anda akan menerima upah karena tetap setia kepada Kristus di tengah lembah kegagalan, ketakutan, konflik, dukacita, atau kesusahan. Belum genap satu menit Anda berada di surga, Anda akan berkata, "Mengapa dahulu aku begitu khawatir ketika melewati semua lembah itu? Allah ternyata selalu ada bersamaku, dan Dia selalu baik kepadaku."
Seperti yang dikatakan Alkitab, "Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar daripada penderitaan kami." (2 Korintus 4:17)
Renungkan :
- Apa yang paling Anda takutkan saat ini? Kebohongan apa yang Anda percayai sehingga membuat Anda begitu takut?
- Bagaimana Anda dapat terus diingatkan akan kebaikan Allah ketika Anda melewati lembah berikutnya atau ketika Anda masih sedang berjalan melalui lembah yang sekarang?
- Mengapa penting untuk mencari kebaikan yang sedang Allah kerjakan ketika Anda masih berada di dalam lembah, bukan hanya setelah Anda berhasil melewatinya?
Bacaan Alkitab Setahun :
Mazmur 54-56; Roma 3
___________
Anda selalu dapat percaya bahwa Allah berjalan bersama Anda melewati setiap lembah dan Dia telah berjanji akan membawa Anda keluar hingga tiba di seberang.
(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
========
3 Truths to Remember in the Valley
By Rick Warren
“Even though I walk through the darkest valley, I will fear no evil, for you are with me.” Psalm 23:4 (NIV)
------------------
You may not be in the valley of the shadow of death right now, but you may be in another valley. Valleys are the hard places on your journey, where it’s easy to doubt or overlook God’s goodness. But you can always trust that God walks through the valleys with you. And he’s promised to bring you through to the other side.
Psalm 23:4 says, “Even though I walk through the darkest valley, I will fear no evil, for you are with me” (NIV).
Here are three truths to remember when you are in the valley:
1. You are not alone. God is with you.
The shadows in your life are evidence of the presence of light. How do you deal with a shadow? You turn your back to the shadow and look at the light. Jesus said, “I am the light for the world! Follow me, and you won’t be walking in the dark. You will have the light that gives life” (John 8:12 CEV).
The Bible says that God is light and that in him there is no darkness at all. You need to stop focusing on the dark things that scare you: those bills, health concerns, or worries about your children or aging parents. When you move your focus off your fears, you can focus on the Father.
2. God has a good purpose for your valley.
God can’t do evil. Even when you’re facing problems, conflict, grief, fear, or failure, God is at work, creating good from your valley.
Romans 5:3-5 says, “We rejoice in our sufferings, knowing that suffering produces endurance, and endurance produces character, and character produces hope, and hope does not put us to shame, because God’s love has been poured into our hearts through the Holy Spirit who has been given to us” (ESV).
3. The reward will last forever.
You’re going to be rewarded for remaining faithful to Christ in the valley of failure, fear, conflict, grief, or trouble. You’ll be in heaven less than a minute before thinking, “Why did I worry when I was going through those valleys? God was right there with me all the time, and he was good to me all the time.”
As the Bible says, “For our present troubles are small and won’t last very long. Yet they produce for us a glory that vastly outweighs them and will last forever!” (2 Corinthians 4:17 NLT).
Kamis, 30 Juli 2026
Tuntunan Allah Tidak Membiarkan Anda Hidup dalam Kebingungan
31 Juli 2026
Bacaan Hari ini:
Mazmur 77:19 "Melalui laut jalan-Mu dan lorong-Mu melalui muka air yang luas, tetapi jejak-Mu tidak kelihatan."
---------------------
Alkitab mengatakan bahwa Allah secara aktif bekerja melalui keadaan-keadaan yang Anda alami. Namun, Anda tidak dapat menilai keadaan Anda tanpa hikmat Allah. Dengan kata lain, Anda harus menyerahkan kepada Allah untuk menafsirkan keadaan yang sedang Anda hadapi.
Hanya Allah yang sanggup memahami seluruh fakta, dan hanya Dia yang melihat arti dari setiap detail. Itulah sebabnya sangat penting untuk menggunakan firman-Nya sebagai ukuran dalam menilai apa yang sedang Anda alami.
Jika Anda merasa kewalahan atau bingung dalam mengambil suatu keputusan, mungkin itu karena Anda terlalu terpaku pada cara berpikir Anda yang terbatas sehingga suara Allah tertutupi. Alkitab berkata, "Sebab Allah tidak menghendaki kekacauan, tetapi damai sejahtera." (1 Korintus 14:33) Dia bukanlah sumber kebingungan. Jadi, jika Anda sedang diliputi kebingungan, ketahuilah bahwa itu bukanlah suara Allah yang sedang berbicara dalam hidup Anda.
Akan ada saat-saat ketika Anda menghadapi hambatan yang sangat besar, baik secara keuangan, rohani, maupun jasmani. Pada saat seperti itu, Anda perlu mengakui, "Ya Allah, di sebelah kanan dan kiriku ada gunung-gunung, dan di depanku ada penghalang yang tidak mungkin kulewati." Lalu, nantikanlah Allah menjawab dan meyakinkan Anda bahwa Dia telah menempatkan Anda tepat di tempat yang Dia kehendaki. Dia akan membuat jalan di tempat yang tampaknya tidak ada jalan.
Mazmur 77:20 berkata, "Melalui laut jalan-Mu dan lorong-Mu melalui muka air yang luas, tetapi jejak-Mu tidak kelihatan."
Ketika Anda tidak tahu apa yang harus dilakukan, Allah akan menuntun Anda. Dia tidak merancang Anda untuk menjalani hidup hanya dengan mengandalkan kecerdikan dan kekuatan Anda sendiri. Anda tidak perlu sekadar berharap dapat menemukan jalan keluarnya sendiri.
Renungkan :
- Ketika Anda merasa frustrasi karena Allah tampaknya belum menjawab doa Anda untuk mendapatkan tuntunan, menurut Anda apa yang Dia ingin Anda lakukan? Apa yang telah Anda pelajari dari pengalaman-pengalaman seperti itu di masa lalu?
- Bagaimana Allah telah memakai penderitaan Anda untuk menunjukkan tujuan-Nya bagi hidup Anda?
- Menurut Anda, mengapa Allah terkadang mengizinkan Anda sampai pada titik di mana tampaknya tidak ada jalan keluar dari suatu keadaan yang sulit?
Bacaan Alkitab Setahun :
Mazmur 51-53; Roma 2
____________
Allah ingin menuntun Anda di jalan yang benar, dan Dia akan melakukannya ketika Anda menyerahkan diri kepada-Nya dan kepada tuntunan-Nya.
(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
=========
God’s Guidance Doesn’t Leave You Confused
By Rick Warren
“Your road led through the sea, your pathway through the mighty waters—a pathway no one knew was there!” Psalm 77:19 (NLT)
-------------------
The Bible says God actively works through your circumstances. But you cannot judge your situation apart from God’s wisdom. In other words, you must leave it up to God to interpret your circumstances.
Only God is capable of understanding all the facts, and only he sees the significance of every detail. That’s why it is so important that you use his Word to test what you’re going through.
If you feel overwhelmed or confused about a decision, it might be because you’re so caught up in your own limited way of thinking that it blocks out God’s voice. The Bible says, “God is not a God of disorder but of peace” (1 Corinthians 14:33 NIV). He is not the author of confusion. So if you’re feeling confused, guess what? It’s not God’s voice speaking in your life.
There will be times you come up against enormous financial, spiritual, or physical barriers. That’s when you need to confess, “God, there are mountains on either side and an impassable barrier in front of me.” And then you wait for God to respond and assure you that he’s got you exactly where he wants you to be. He will make a pathway where there seems to be no way.
Psalm 77:19 says, “Your road led through the sea, your pathway through the mighty waters—a pathway no one knew was there!” (NLT).
When you don’t know what to do, God will guide you. He didn’t design you to go through life on your own ingenuity and power. You don’t have to just hope you can figure things out.
God wants to lead you on the right path, and he will do that when you surrender to him and his guidance.
Rabu, 29 Juli 2026
Kasihilah Manusia, Bukan Sistem Nilai Dunia
30 Juli 2026
Bacaan Hari ini:
Roma 12:2 "Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna."
--------------------
Ada dua ayat dalam Alkitab yang ditulis oleh penulis yang sama, tetapi tampaknya menyampaikan pesan yang saling bertentangan.
1 Yohanes 2:15 berkata, "Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu." Itu sangat jelas!
Tetapi Yohanes 3:16 berkata, "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini..." Sekilas, kedua ayat ini tampak saling bertentangan.
Kata "dunia" digunakan dalam dua pengertian yang berbeda di dalam ayat-ayat tersebut. Ayat yang pertama menunjuk kepada sistem nilai dunia, sedangkan ayat yang kedua menunjuk kepada manusia di dunia. Sebagai pengikut Yesus, kita harus mengasihi semua orang, apa pun pilihan hidup yang mereka ambil. Sebaliknya, kita harus menolak sistem nilai dunia, termasuk hal-hal seperti mengejar status, hidup mementingkan diri sendiri, dan percabulan.
Masalahnya, kita sering membalikkan semuanya. Kita mengasihi sistem nilainya, tetapi membenci manusianya. Orang-orang Kristen sering melakukan hal ini. Alih-alih hidup berbeda, kita justru sering sama materialistis dan sama mengejar kesenangan seperti budaya tempat kita hidup. Padahal, itulah kebalikan dari cara hidup yang Allah kehendaki.
Sepanjang hidup Anda, Anda akan menghadapi tekanan besar untuk menyesuaikan diri dengan budaya dunia. Inilah masalah terbesar yang dihadapi bangsa Israel selama ribuan tahun. Mereka ingin menjadi sama seperti bangsa-bangsa lain. Namun, Allah memberikan kepada mereka berbagai hukum moral, hukum kemasyarakatan dan hukum ibadah dengan tujuan supaya mereka hidup berbeda.
Allah juga melakukan hal yang sama bagi Anda dan saya. Kita memang tidak hidup di bawah Hukum Taurat Perjanjian Lama, tetapi Allah telah memberitahukan dengan jelas bagaimana kita harus hidup dan bagaimana memperoleh hikmat serta kuasa untuk tampil berbeda di dunia ini:
"Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna." (Roma 12:2)
Salah satu alasan mengapa Anda mungkin belum mengetahui apa yang Allah kehendaki dalam hidup Anda adalah karena Anda mungkin sudah terlalu menyesuaikan diri dengan budaya di sekitar Anda. Sering kali hal itu terjadi tanpa Anda sadari. Namun, Anda tidak mungkin berpikir seperti dunia sekaligus berpikir seperti Allah. Anda harus memilih.
Masalahnya, segala sesuatu yang ditawarkan oleh budaya dunia hanyalah sementara. Anda perlu mengikuti sesuatu yang kekal, yaitu firman Allah.
Renungkan :
- Tuliskan beberapa bidang dalam hidup Anda (keluarga, karier, pelayanan di gereja dan sebagainya), lalu tuliskan lima nilai utama yang menjadi dasar keputusan Anda dalam setiap bidang tersebut. Dalam hal apa nilai-nilai itu dipengaruhi oleh budaya dunia? Dalam hal apa nilai-nilai itu didasarkan pada firman Allah?
- Mengapa menurut Anda hal-hal yang bersifat sementara sering kali terasa memuaskan dalam jangka pendek?
- Dalam hal apa saja Anda telah mengasihi orang lain sebagaimana Allah mengasihi mereka?
Bacaan Alkitab Setahun :
Mazmur 49-50; Roma 1
_____________
Penuhilah pikiran Anda dengan kebenaran Firman Allah dan biarkan firman itu mengubah hidup Anda, sehingga Anda dapat mengasihi manusia tanpa mengasihi sistem nilai dunia.
(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
=======
Love People, Not the World’s Value System
By Rick Warren
“Don’t copy the behavior and customs of this world, but let God transform you into a new person by changing the way you think. Then you will learn to know God’s will for you, which is good and pleasing and perfect.” Romans 12:2 (NLT)
-------------------
There are two verses in the Bible that are written by the same author but seem to send opposite messages:
1 John 2:15 says, “Do not love the world or anything in the world. If anyone loves the world, love for the Father is not in them” (NIV). That’s pretty clear!
But John 3:16 says, “For God so loved the world . . .” (NIV). That looks like a big contradiction right there.
“The world” is used two ways in these verses. The first verse refers to the world’s value system, and the second refers to the world’s people. Followers of Jesus are to love people, no matter what choices they make. On the other hand, we are to hate the world’s value system, including things like status, selfishness, and sexual immorality.
The problem is that we often get it reversed. We love the value system and hate the people. Christians do this all the time. Instead of being different, we’re often just as materialistic and hedonistic as the culture we live in. But that’s backwards from how God calls us to live.
For the rest of your life, you’ll face great pressure to conform to the culture. This was Israel’s biggest problem for thousands of years. They wanted to be like other nations. Yet God gave them all kinds of moral, civil, and ceremonial laws to make them different on purpose.
God has done the same for you and me. We don’t live under Old Testament Law, but God has told us exactly how we should live and how to get the wisdom and power to stand out in this world: “Don’t copy the behavior and customs of this world, but let God transform you into a new person by changing the way you think. Then you will learn to know God’s will for you, which is good and pleasing and perfect” (Romans 12:2 NLT).
One reason you may not know what God wants you to do in life is because you may be too assimilated to your culture. Often this happens without you realizing it. But you can’t think like the world and think like God thinks. You have to make a choice.
The problem with following culture is that it’s all temporary. You need to follow something eternal: God’s Word.
Fill your mind with God’s truth, and let it transform your life by helping you love people without loving the world’s value system.
Selasa, 28 Juli 2026
Satu-Satunya Cara untuk Melepaskan Diri dari Rasa Bersalah
29 Juli 2026
Bacaan Hari ini:
Yesaya 53:5-6 "Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh. Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian."
---------------------
Setiap kita memiliki alasan untuk merasa bersalah. Tidak seorang pun selalu melakukan segala sesuatu dengan benar! Kita melukai orang lain. Kita bertindak egois. Sering kali, perkataan dan tindakan yang paling menyakitkan justru kita tujukan kepada orang-orang yang paling kita kasihi.
Sama seperti Anda tidak dapat menyembunyikan dosa-dosa Anda dari Allah, Anda juga tidak dapat menyembunyikan rasa bersalah Anda dari-Nya. Bukan hanya itu, ketika Anda berusaha menutupi perasaan bersalah, rasa bersalah itu mulai menggerogoti Anda dari dalam.
Hanya ada satu cara yang benar-benar dapat menghilangkan rasa bersalah: Akuilah dosa-dosa Anda, dan percayalah kepada pengampunan Allah. Kata "pengakuan" dalam Alkitab, dalam bahasa Yunani adalah homologeo, yang berarti "mengatakan hal yang sama." Jadi, mengaku dosa berarti menyetujui apa yang Allah katakan: "Engkau benar, ya Allah. Akulah yang bersalah."
Segala sesuatu yang akan Anda lakukan yang salah—termasuk kesalahan yang akan Anda lakukan besok, minggu depan, bahkan sepuluh tahun dari sekarang—telah dibayar lunas. Itulah kebaikan Allah.
Yesus menanggung seluruh rasa bersalah Anda ke atas diri-Nya. Sebagai gantinya, Dia memberikan kepada Anda kebaikan-Nya—yaitu kebenaran-Nya. Inilah kebenaran yang paling mendasar dalam Alkitab: Jiwa Anda yang telah hancur dipulihkan kembali di dalam Dia.
Alkitab berkata dalam Yesaya 53:5-6, "Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh. Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian."
Jika Anda tidak merasa telah diampuni, itu berarti Anda belum sepenuhnya memahami kebaikan Allah. Ketika Yesus mati di kayu salib, Dia telah menanggung seluruh dosa Anda. Seolah-olah Dia membuang semuanya ke dasar laut yang paling dalam, lalu memasang sebuah papan bertuliskan, "Dilarang Memancing."
Renungkan :
- Apa saja cara-cara yang umum tetapi tidak sehat yang sering digunakan orang untuk mengatasi rasa bersalah?
- Adakah rasa bersalah yang perlu Anda lepaskan hari ini? Apa yang menghalangi Anda untuk mengambil keputusan mengakui dosa Anda dan menerima pengampunan Allah?
- Mengapa sukacita merupakan hasil yang wajar dari memahami kasih karunia Allah?
Bacaan Alkitab Setahun :
Mazmur 46-48; Kisah Para Rasul 28:17-31
_____________
Akuilah dosa Anda kepada Allah. Dan karena Dia mengampuni serta tidak lagi mengingat dosa Anda, Anda tidak perlu lagi mengungkit-ungkitnya.
(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
=======
The Only Way to Get Rid of Guilt
By Rick Warren
“But He was pierced for our offenses, He was crushed for our wrongdoings. . . . All of us, like sheep, have gone astray, each of us has turned to his own way; but the LORD has caused the wrongdoing of us all to fall on Him.” Isaiah 53:5-6 (NASB)
-------------------
Every one of us has a good reason to feel guilt. No one does everything right! We hurt other people. We act selfishly. Often the unkindest things we say and do are to the people we love the most.
Just like you can’t hide your sins from God, you can’t hide your guilt from him either. Not only that, but when you try to cover up your guilty feelings, they start to eat at you on the inside.
Only one thing works to get rid of guilt: Confess your sins, and trust in God’s forgiveness. The word “confession” in the Bible in Greek is homologeo, which means “to say the same thing.” So confession simply means to agree with God: “You’re right, God. I was wrong.”
Everything you’re going to do wrong—including the stuff you’re going to do tomorrow, next week, and 10 years from now—has already been paid for. That is the goodness of God.
Jesus takes all your guilt on himself. He gives you his goodness—his righteousness. This is the most basic, fundamental truth of the Bible: Your broken soul becomes whole again in him.
The Bible says in Isaiah 53:5-6, “But He was pierced for our offenses, He was crushed for our wrongdoings. . . . All of us, like sheep, have gone astray, each of us has turned to his own way; but the LORD has caused the wrongdoing of us all to fall on Him” (NASB).
If you don’t feel forgiven, it means you don’t fully understand God’s goodness. When Jesus died, he covered all your sins. It’s as if he threw them into the deepest part of the sea and put up a “No Fishing” sign.
Confess your sin to God. And because he forgives and forgets your sin, you’ll have no need to drag it out again.
Senin, 27 Juli 2026
Kebenaran Paling Mendasar dalam Alkitab
28 Juli 2026
Bacaan Hari ini:
Yesaya 53:5 "Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh."
--------------------
Pernahkah Anda bertanya-tanya apa kebenaran yang paling mendasar dalam Alkitab? Inilah jawabannya:
"Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh. Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian." (Yesaya 53:5-6)
Itulah kebenaran yang paling mendasar dalam seluruh Alkitab. Segala dosa yang pernah Anda lakukan—dan segala dosa yang akan Anda lakukan di masa depan—telah dibayar lunas. Yang perlu Anda lakukan hanyalah menerima kasih karunia dan kebaikan Allah.
Suatu hari, setelah kebaktian gereja selesai, seorang pria datang kepada saya dengan sangat gelisah dan berkata, "Saya harus tahu—apa yang harus saya lakukan supaya bisa masuk surga?"
Saya menjawab, "Sayangnya, Anda sudah terlambat"
Dia pun berkata, "Apa maksud Anda? Pasti ada sesuatu yang bisa saya lakukan."
Saya menjawab, "Tidak ada. Semuanya sudah diselesaikan oleh Yesus Kristus 2.000 tahun yang lalu"
Inilah yang membuat Kekristenan berbeda dari semua agama lainnya. Setiap agama lain memiliki daftar hal-hal yang harus dilakukan agar dapat masuk surga. Agama-agama lain dapat diringkas dengan kata "melakukan." Kekristenan diringkas dengan kata "sudah selesai"
Ketika Yesus berada di kayu salib, Dia berseru, "Sudah selesai!" (Yohanes 19:30). Itu berarti Anda tidak perlu menambahkan apa pun pada apa yang telah Yesus lakukan bagi Anda. Anda hanya perlu memiliki kerendahan hati untuk mengakui, "Saya adalah seorang berdosa, dan saya membutuhkan seorang Juruselamat."
Apakah Anda siap mengakuinya hari ini? Jika Anda belum pernah mengundang Yesus masuk ke dalam hati Anda, saya ingin memberi Anda kesempatan untuk melakukannya sekarang. Sampaikan kepada Allah bahwa Anda percaya kepada janji keselamatan-Nya melalui Yesus dengan mendoakan doa berikut ini:
"Bapa yang di surga, Engkau telah berjanji bahwa jika aku percaya kepada Yesus, aku akan diselamatkan—bukan karena perbuatanku, tetapi semata-mata oleh kasih karunia-Mu. Aku percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatku. Aku mengakui dosa-dosaku dan memohon agar Engkau mengampuniku. Aku menyerahkan hidupku kepada-Mu. Bimbinglah aku, pimpinlah aku, dan tolonglah aku untuk mengikuti Yesus dengan iman dan ketaatan. Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin."
Renungkan :
- Apakah sulit bagi Anda untuk menerima bahwa Yesus telah melakukan segala sesuatu yang diperlukan bagi keselamatan Anda? Sekalipun Anda sudah diselamatkan, dalam hal apa saja Anda masih berusaha memperoleh keselamatan itu melalui usaha sendiri?
- Bagaimana Anda telah mengalami damai sejahtera dan kesembuhan yang diberikan Yesus dalam hidup Anda?
- Apa perbedaan yang Anda rasakan ketika mengetahui bahwa semua dosa Anda—masa lalu, masa kini, dan masa depan—telah dibayar lunas?
Bacaan Alkitab Setahun :
Mazmur 43-45; Kisah Para Rasul 28:1-16
__________
Anda tidak perlu menambahkan apa pun pada apa yang telah Yesus lakukan bagi Anda. Segala dosa yang pernah dan yang akan Anda lakukan telah dibayar lunas.
(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
========
The Bible’s Most Basic Truth
By Rick Warren
“He was punished so that we could have peace, and we received healing from his wounds.” Isaiah 53:5 (GW)
----------------
Have you ever wondered what the most fundamental truth of the Bible is? Here it is:
“He was wounded for our rebellious acts. He was crushed for our sins. He was punished so that we could have peace, and we received healing from his wounds. We have all strayed like sheep. Each one of us has turned to go his own way, and the Lord has laid all our sins on him” (Isaiah 53:5-6 GW).
That’s the most basic truth of the whole Bible. Everything you’ve ever done wrong—and everything you ever will do wrong—has already been paid for. All you have to do is accept God’s grace and goodness.
One day a man came up to me frantically after a church service and said, "I need to know—what do I need to do to get to heaven?"
I said, "Well, you're too late."
And he said, "What do you mean? There's got to be something I can do."
I said, "There's nothing. It's already been done by Jesus Christ 2,000 years ago."
This is what makes Christianity different from every other religion. Every other religion has a list of things to do to get to heaven. Other religions can be summed up in the word “do.” Christianity is summed up in the word “done.”
When Jesus was on the cross, he cried out, “It is finished!” (John 19:30 GW). That means you don’t need to add anything to what Jesus has done for you. You simply need to have the humility to admit, “I’m a sinner, and I need a Savior.”
Are you ready to admit that today? If you’ve never invited Jesus into your heart, I want you to have that opportunity now. Tell God you trust his promise of salvation through Jesus by praying this prayer:
Dear Father, you have promised that if I trust in Jesus, I will be saved—not by my works, but by your grace alone. I believe in Jesus as my Lord and Savior. I confess my sins and ask that you forgive me. And I surrender my life to you. Guide me, lead me, and help me to follow Jesus in faith and obedience. In Jesus’ name I pray. Amen.
Minggu, 26 Juli 2026
Bagaimana Yesus Memulihkan Jiwamu
27 Juli 2026
Bacaan Hari ini:
Mazmur 23:1-3 "TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya."
-----------------
Dalam Mazmur 23, Alkitab mengatakan bahwa Tuhan memulihkan jiwa kita. Namun, mengapa jiwa kita perlu dipulihkan dan bagaimana Tuhan memulihkannya?
Ada banyak hal yang dapat melukai jiwa kita, tetapi yang paling sering terjadi adalah ketika kita berusaha menghadapi sendiri kepahitan, rasa bersalah dan dukacita. Padahal, Tuhan tidak pernah menghendaki kita memikul beban-beban itu sendirian. Lalu, bagaimana Yesus memberikan kelegaan dan memulihkan jiwa kita?
Yesus Mengubah Luka Menjadi Kekudusan
Sering kali kita terus menyimpan luka hati. Dengan kata lain, kita menyimpan kepahitan terhadap orang yang telah menyakiti kita. Ketika kita mulai memikirkan pembalasan atau ingin membalas dendam, hati kita akan dipenuhi kepahitan.
Namun, kita dapat mempercayakan luka itu kepada Tuhan. Dia sanggup mendatangkan kebaikan bahkan dari keadaan yang paling buruk.
Firman Tuhan menjanjikan: "Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah." (Roma 8:28)
Yesus Menanggung Dosa-Dosa Kita
Rasa bersalah seharusnya hanya berlangsung sesaat—cukup lama untuk menyadari bahwa kita telah berbuat salah, mengakuinya kepada Tuhan, lalu melepaskannya. Namun, banyak orang terus membawa beban rasa bersalah karena dosa yang belum mereka akui di hadapan Tuhan.
Alkitab mengajarkan: "Sebab itu Aku akan membagikan kepadanya orang-orang besar sebagai rampasan, dan ia akan memperoleh orang-orang kuat sebagai jarahan, yaitu sebagai ganti karena ia telah menyerahkan nyawanya ke dalam maut dan karena ia terhitung di antara pemberontak-pemberontak, sekalipun ia menanggung dosa banyak orang dan berdoa untuk pemberontak-pemberontak" (Yesaya 53:12)
Karena Yesus telah menanggung dosa-dosa kita, kita tidak perlu terus hidup dalam rasa bersalah atas dosa yang telah Tuhan ampuni. Terimalah pengampunan-Nya dan hiduplah dalam kebebasan sebagai orang yang telah ditebus.
Yesus Merasakan Dukacita Kita dan Menyembuhkan Hati Kita
Berdukacita bukanlah sesuatu yang buruk. Dukacita adalah bagian dari proses menghadapi kehilangan dan perubahan dalam hidup. Namun, terkadang kita terjebak di dalamnya. Dukacita yang tidak diproses dapat melukai hati dan kehidupan kita. Kabar baiknya, Yesus memahami dukacita kita karena Dia sendiri pernah mengalaminya.
Firman Tuhan berkata: "Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kitapun dia tidak masuk hitungan. Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah." (Yesaya 53:3-4)
Namun, Yesus tidak hanya memahami penderitaan kita, Dia juga menyembuhkan hati kita.
Firman Tuhan berkata: "Ia menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan membalut luka-luka mereka." (Mazmur 147:3)
Tuhan tidak pernah menghendaki kita menjalani hidup dengan memikul sendiri kepahitan, rasa bersalah dan dukacita. Yesus mengundang kita datang kepada-Nya untuk menerima pemulihan.
Dia berjanji: "Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu." (Matius 11:28)
Renungkan :
- Luka hati apa yang masih Anda simpan hingga berubah menjadi kepahitan? Serahkanlah luka itu kepada Tuhan dan percayalah bahwa Dia sanggup mendatangkan kebaikan melaluinya.
- Dosa lama apa yang masih membuat Anda merasa bersalah? Luangkan waktu untuk mengakuinya kepada Tuhan, menerima pengampunan-Nya dan memohon agar Dia menolong Anda hidup dalam kebebasan sebagai orang yang telah diampuni.
- Dukacita apa yang belum pernah benar-benar Anda proses? Mintalah Tuhan menolong Anda melewati proses itu dan membawa pemulihan bagi hati Anda.
Bacaan Alkitab Setahun :
Mazmur 40-42; Kisah Para Rasul 27
___________
Yesus tidak hanya memahami penderitaan kita, Dia juga menyembuhkan hati kita.
(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
=========
How Jesus Restores Your Soul
By Rick Warren
“The LORD is my shepherd; I shall not want. He makes me lie down in green pastures. He leads me beside still waters. He restores my soul.” Psalm 23:1-3 (ESV)
------------------
In Psalm 23, the Bible says that God will restore your soul. But why does your soul need to be restored—and how can God restore it?
There are all kinds of ways that souls are damaged, but they most often are damaged when we try to deal with our grudges, our guilt, and our grief on our own. The truth is, God never intended for you to carry those burdens alone. So how does Jesus bring you rest and restore your soul?
Jesus turns your hurts into holiness.
Sometimes we hold onto our hurt; in other words, we hold grudges. And when you start thinking about retaliation or getting revenge against someone who’s hurt you, you become bitter.
But you can trust God with your hurt. He has a way of bringing good even out of evil. Romans 8:28 promises, “We know that in all things God works for the good of those who love him” (NIV).
Jesus takes your sins on himself.
You should only hold on to guilt for about five seconds—long enough to realize you were wrong, confess it to God, and let it go. But instead, many people carry around the burden of unconfessed guilt.
The Bible teaches, “[Jesus] was willing to give his life as a sacrifice. He was counted among those who had committed crimes. He took the sins of many people on himself. And he gave his life for those who had done what is wrong” (Isaiah 53:12 NIRV). There’s no need for you to keep living with guilt for something that God has already forgiven and forgotten.
Jesus feels your grief and heals your heart.
Grief is good; it’s how we get through life transitions. But sometimes we get stuck in our grief. And unprocessed grief will hurt you. But there’s good news: Jesus understands your grief because he’s experienced it too.
Isaiah 53:3-4 says, “He was hated and rejected by people. He had much pain and suffering. . . . But he took our suffering on him and felt our pain for us” (NCV). But he doesn’t just feel your grief; he heals it: “He heals the brokenhearted and binds up their wounds” (Psalm 147:3 NIV).
God never intended for you to go through life carrying all your grudges, guilt, and grief alone. Jesus wants you to come to him for restoration. He promises, “Come to me, all of you who are weary and carry heavy burdens, and I will give you rest” (Matthew 11:28 NLT).
Sabtu, 25 Juli 2026
Allah Memakai Dukacita untuk Menolong Anda Bertumbuh
26 Juli 2026
Bacaan Hari ini:
Roma 8:28 "Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah."
-----------------
Dukacita, kehilangan, dan penderitaan adalah bagian yang tidak dapat dihindari dari kehidupan. Tetapi tahukah Anda bahwa Allah memakai semua itu untuk menolong Anda bertumbuh? Dia melakukannya dengan tiga cara.
Pertama, Allah memakai penderitaan untuk menarik perhatian Anda. C. S. Lewis pernah menulis, "Allah berbisik kepada kita melalui kesenangan kita, berbicara melalui hati nurani kita, tetapi berseru melalui penderitaan kita." Penderitaan adalah pengeras suara Allah. Jarang sekali Anda berubah ketika melihat terang. Anda berubah ketika merasakan panasnya.
Amsal 20:30 berkata, "Bilur-bilur yang berdarah membersihkan kejahatan, dan pukulan membersihkan lubuk hati."
Kedua, Allah mendatangkan kebaikan dari hal-hal yang buruk. Salah satu ayat Alkitab yang paling terkenal adalah Roma 8:28: "Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah."
Ketika Anda mengalami kehilangan, itu adalah kesempatan untuk bertumbuh dalam karakter. Anda tidak dapat mengendalikan penderitaan yang Anda alami, tetapi Anda dapat memutuskan apakah penderitaan itu akan membuat Anda menjadi pahit atau menjadi lebih baik. Anda dapat memutuskan apakah hal itu akan menjadi batu loncatan atau batu sandungan. Anda harus mengingat bahwa, bahkan di tengah penderitaan Anda, Allah sedang bekerja demi kebaikan Anda.
Ketiga, Allah mempersiapkan Anda untuk kekekalan. Alkitab berkata dalam 2 Korintus 4:17-18: "Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami. Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal."
Anda mungkin pernah mendengar saya mengatakan sebelumnya bahwa Anda tidak akan membawa mobil Anda ke surga. Anda tidak akan membawa telepon pintar ataupun pakaian Anda ke surga. Anda tidak akan membawa karier Anda ke surga. Tetapi Anda akan membawa karakter Anda. Anda akan membawa diri Anda sendiri.
Allah lebih tertarik pada pembentukan karakter Anda daripada pada kenyamanan Anda. Mengapa? Karena Anda akan memiliki waktu yang tidak terbatas untuk hidup tanpa rasa sakit dan dukacita di surga. Tetapi sekarang bukan waktunya untuk itu; sekarang adalah masa persiapan. Sekarang adalah masa pembelajaran. Sekarang adalah tahap pemanasan. Allah memakai kesukaran yang Anda alami di dunia ini untuk mempersiapkan Anda bagi kemuliaan yang kekal. Itulah penghiburan yang sejati.
Ketika Anda sedang menderita, Anda perlu bertanya, "Apa yang sedang Allah kerjakan?" Apakah Dia sedang berusaha menarik perhatian Anda? Apakah Dia sedang mendatangkan kebaikan dari hal-hal yang buruk? Apakah Dia sedang mempersiapkan karakter Anda untuk surga?
Renungkan :
- Apa artinya bahwa Allah sedang bekerja demi kebaikan Anda? Apakah itu berarti Allah hanya mengizinkan hal-hal yang baik saja terjadi kepada orang-orang percaya?
- Mengapa sering kali lebih mudah berfokus pada kenyataan hidup hari ini daripada pada janji-janji tentang surga?
- Bagaimana Anda dapat mempersiapkan diri mulai sekarang agar siap mendengar suara Allah ketika Anda sedang mengalami masa-masa penderitaan?
Bacaan Alkitab Setahun :
Mazmur 37-39; Kisah Para Rasul 26
__________
Apa pun yang terjadi, Anda dapat percaya bahwa Allah akan memakai penderitaan Anda untuk menolong Anda bertumbuh.
(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
========
God Uses Grief to Help You Grow
By Rick Warren
“We know that in all things God works for the good of those who love him.” Romans 8:28 (NIV)
-----------------
Grief, loss, and pain are inevitable parts of life. But did you know that God uses these things to help you grow? He does it in three ways.
First, God uses pain to get your attention. C. S. Lewis wrote, “God whispers to us in our pleasures, speaks in our conscience, but shouts in our pain.” Pain is God’s megaphone. You rarely change when you see the light. You change when you feel the heat.
Proverbs 20:30 says, “Sometimes it takes a painful experience to make us change our ways” (GNT).
Second, God brings good out of bad. One of the most famous verses in the Bible is Romans 8:28: “We know that in all things God works for the good of those who love him” (NIV).
When you experience a loss, it’s an opportunity to grow in character. You can’t control the pain you go through, but you can decide whether it’s going to make you bitter or better. You can decide whether it’s going to be a stepping stone or a stumbling block. You have to remember that, even in your pain, God is working for your good.
Third, God prepares you for eternity. The Bible says in 2 Corinthians 4:17-18: “These little troubles are getting us ready for an eternal glory that will make all our troubles seem like nothing. Things that are seen don’t last forever, but things that are not seen are eternal. This is why we keep our minds on the things that cannot be seen” (CEV).
You’ve probably heard me say before that you’re not taking your car to heaven. You’re not taking your smartphone and your clothes to heaven. You’re not taking your career to heaven. But you are taking your character. You are taking you.
God is more interested in your character development than in your comfort. Why? Because you’ll have plenty of time to live free from pain and sorrow in heaven, but now is not the time for that; this is the get-ready stage. This is the learning stage. This is the warm-up act. God uses your troubles here on earth to get you ready for an eternal glory. That’s a comfort.
When you’re in pain, you need to ask, “What is God doing?” Is he trying to get your attention? Is he trying to bring good out of bad? Is he preparing your character for heaven?
No matter what, you can trust that God will use your pain to help you grow.