Ada kalanya gemas itu terlalu besar untuk diam. Tidak bisa diam mendengar Menteri Bahlil bicara dari LPG ke CNG. 40% lebih murah!
—
Saya sudah hampir dua dekade hidup di luar Indonesia. Tiga kota. Tiga negara. Dan dari ketiganya, saya ingin bercerita satu hal yang sama: tidak pernah sekalipun saya memikirkan soal tabung gas.
𝐃𝐮𝐛𝐚𝐢. Di sinilah saya bekerja sekarang. Setiap pagi kompor menyala dalam hitungan detik. DUSUP — Dubai Supply Authority — membangun Gas Control Station pertamanya di Jebel Ali pada 1993. Dari nol. Dalam dua dekade, seluruh emirat sudah terhubung. Tidak ada tabung. Tidak ada antrean. Tidak ada ojek yang memikul besi berat di gang sempit. Gas mengalir dari pipa yang tertanam di dinding — tidak terlihat, tidak pernah habis, tidak pernah dipikirkan. Dubai bahkan tidak punya sumber gas sendiri — semuanya diimpor dari Qatar melalui pipa Dolphin sepanjang ratusan kilometer. Tapi energi sudah lama berhenti menjadi masalah rakyatnya. Mereka membangun infrastrukturnya lebih dulu. Mereka tidak menunggu sampai krisis memaksa mereka berpikir.
—
𝐔𝐊. Di sinilah keluarga saya tinggal. Setiap musim dingin, boiler gas mendesis pelan di balik dinding — menghangatkan air, menghangatkan rumah, dan menghangatkan rutinitas pagi yang tidak pernah berubah. Tidak ada yang memikirkan dari mana gasnya. Tidak ada yang perlu memikirkannya. Jaringan pipa nasional UK dimulai 1962 — pipeline pertama membentang 320 kilometer dari Canvey Island ke Leeds. Mayoritas jaringan nasionalnya selesai dalam satu dekade. Hari ini lebih dari 7.600 kilometer pipa baja tertanam di bawah tanah Inggris, melayani hampir setiap rumah tanpa kecuali. Anak-anak saya tumbuh di sana tanpa pernah tahu apa itu tabung gas. Bagi mereka, gas adalah sesuatu yang ada begitu saja — seperti air dari keran. Bukan komoditas yang diperebutkan. Bukan kebijakan yang berubah setiap pergantian menteri.
—
𝐒𝐢𝐧𝐠𝐚𝐩𝐮𝐫𝐚. Di sinilah dua anak saya lahir. Delapan belas tahun yang lalu. Ingatan tentang Singapura bukan hanya ingatan profesional — ada dapur flat HDB yang entah berapa kali menyala tengah malam, ketika bayi baru pulang dari rumah sakit dan badan sudah habis tapi perut tetap harus diisi. Kompor menyala. Gas mengalir. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan soal itu. Jaringan pipanya sudah ada sejak 1861 — dimulai Singapore Gas Company untuk menerangi lampu jalan dengan gas batu bara. Sejak awal 1950-an, piped gas sudah mengalir langsung ke flat-flat HDB di seluruh pulau.
Tapi inilah yang tidak saya sadari waktu itu — atau mungkin saya tahu, tapi belum cukup marah untuk benar-benar merasakannya.
𝑺𝒊𝒏𝒈𝒂𝒑𝒖𝒓𝒂 𝒕𝒊𝒅𝒂𝒌 𝒑𝒖𝒏𝒚𝒂 𝒔𝒂𝒕𝒖 𝒎𝒆𝒕𝒆𝒓 𝒌𝒖𝒃𝒊𝒌 𝒑𝒖𝒏 𝒄𝒂𝒅𝒂𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒈𝒂𝒔 𝒔𝒆𝒏𝒅𝒊𝒓𝒊. 𝑵𝒐𝒍.
Dan gas yang mengalir ke dapur saya malam itu, ketika anak saya baru saja belajar duduk — 𝒔𝒆𝒃𝒂𝒈𝒊𝒂𝒏 𝒃𝒆𝒔𝒂𝒓𝒏𝒚𝒂 𝒃𝒆𝒓𝒂𝒔𝒂𝒍 𝒅𝒂𝒓𝒊 𝒃𝒖𝒎𝒊 𝑰𝒏𝒅𝒐𝒏𝒆𝒔𝒊𝒂.
Dari Sumatera. Melewati pipa bawah laut. Masuk ke jaringan kota Singapura yang rapi, andal, dan tidak pernah putus.
Gas Indonesia. Dinikmati dengan sistem yang tidak pernah dibangun untuk rakyat Indonesia sendiri.
Sementara di Jakarta, di Makassar, di Flores — Bu Sari masih mengantre tabung oranye setiap pagi.
—
𝐃𝐮𝐛𝐚𝐢: dua dekade dari nol menjadi kota tanpa tabung gas.
𝐔𝐊: satu dekade untuk membangun jaringan nasional.
𝐒𝐢𝐧𝐠𝐚𝐩𝐮𝐫𝐚: sudah mulai sejak zaman kolonial — dengan gas yang sebagian besar datang dari perut bumi Indonesia.
𝐃𝐚𝐧 𝐈𝐧𝐝𝐨𝐧𝐞𝐬𝐢𝐚? Rencana Umum Energi Nasional tertulis rapi sejak 2017. Jaringan gas kota ada di sana — sebagai target. Angkanya tersebut. Grafiknya indah. Tapi solusi yang ditawarkan hari ini adalah: 𝑡𝑎𝑏𝑢𝑛𝑔 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑠𝑎𝑚𝑎, 𝑡𝑎𝑝𝑖 𝑙𝑖𝑚𝑎 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑎𝑖 𝑠𝑒𝑝𝑢𝑙𝑢ℎ 𝑘𝑎𝑙𝑖 𝑙𝑒𝑏𝑖ℎ 𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡.
Kita tidak kekurangan waktu. Kita tidak kekurangan gas. Kita tidak kekurangan contoh.
Yang kita kekurangan adalah keberanian untuk memulai sesuatu yang tidak akan selesai sebelum pemilu berikutnya.
—
Ada lima hal yang seharusnya tidak pernah menjadi agenda politik. Tidak perlu seremoni. Tidak perlu foto peresmian. Tidak perlu diklaim sebagai warisan satu periode presiden.
𝑷𝒆𝒏𝒅𝒊𝒅𝒊𝒌𝒂𝒏. 𝑲𝒆𝒔𝒆𝒉𝒂𝒕𝒂𝒏. 𝑷𝒆𝒓𝒖𝒎𝒂𝒉𝒂𝒏. 𝑻𝒓𝒂𝒏𝒔𝒑𝒐𝒓𝒕𝒂𝒔𝒊. 𝑬𝒏𝒆𝒓𝒈𝒊.
Ini bukan program. Ini fondasi. Bedanya besar.
Program bisa dihentikan. Program bisa diganti ketika pemerintahan berganti. Program butuh nama, butuh logo, butuh narasi keberhasilan yang bisa disampaikan dalam pidato akhir jabatan. Fondasi tidak butuh semua itu. Fondasi hanya butuh satu hal: 𝑘𝑜𝑛𝑠𝑖𝑠𝑡𝑒𝑛𝑠𝑖 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑙𝑎𝑚𝑝𝑎𝑢𝑖 𝑠𝑖𝑘𝑙𝑢𝑠 𝑒𝑙𝑒𝑘𝑡𝑜𝑟𝑎𝑙.
Jaringan pipa gas ke seluruh Indonesia tidak akan selesai dalam lima tahun. Mungkin dua puluh. Mungkin tiga puluh. Tapi kalau dimulai hari ini dengan serius — dengan anggaran yang terlindungi, dengan regulasi yang tidak bisa diutak-atik setiap pergantian menteri, dengan komitmen yang ditulis bukan di brosur kampanye tapi di undang-undang — maka anak-anak yang sekarang masih di sekolah dasar akan dewasa di negara yang berbeda.
1. Negara di mana ibu mereka tidak perlu mengantre tabung gas di pagi buta.
2. Negara di mana rumah sakit tidak bergantung pada generator diesel ketika listrik padam.
3. Negara di mana seorang buruh di Bekasi tidak menghabiskan tiga jam sehari di jalanan hanya untuk sampai ke tempat kerjanya — karena transportasi publiknya andal, terjangkau, dan bermartabat.
4. Negara di mana setiap anak, di manapun ia lahir — di Jakarta atau di Flores Timur — mendapat pendidikan yang tidak ditentukan oleh kode pos.
5. Negara di mana atap di atas kepala bukan privilese, tapi hak.
𝑲𝒊𝒕𝒂 𝒔𝒖𝒅𝒂𝒉 𝒕𝒆𝒓𝒍𝒂𝒍𝒖 𝒍𝒂𝒎𝒂 𝒎𝒆𝒎𝒃𝒂𝒏𝒈𝒖𝒏 𝒎𝒐𝒏𝒖𝒎𝒆𝒏. 𝑺𝒖𝒅𝒂𝒉 𝒘𝒂𝒌𝒕𝒖𝒏𝒚𝒂 𝒎𝒆𝒎𝒃𝒂𝒏𝒈𝒖𝒏 𝒇𝒐𝒏𝒅𝒂𝒔𝒊.
Bukan untuk presiden yang sedang menjabat. Bukan untuk partai yang memenangkan pemilu berikutnya.
Untuk Bu Sari. Untuk anak-anaknya. Untuk cucu-cucunya yang belum lahir — yang berhak mewarisi negara yang lebih baik dari yang kita terima.
—
Gas bumi Indonesia sudah mengalir ke dapur-dapur Singapura selama puluhan tahun. Sudah waktunya ia mengalir ke dapur Bu Sari di Tambora.
Bukan dalam tabung besi yang lebih berat. Tapi melalui pipa. Diam. Konsisten. Tanpa drama. Tanpa pergantian skema setiap pemilu.
𝑺𝒆𝒑𝒆𝒓𝒕𝒊 𝒔𝒆𝒉𝒂𝒓𝒖𝒔𝒏𝒚𝒂 𝒔𝒆𝒃𝒖𝒂𝒉 𝒏𝒆𝒈𝒂𝒓𝒂 𝒃𝒆𝒌𝒆𝒓𝒋𝒂 𝒖𝒏𝒕𝒖𝒌 𝒓𝒂𝒌𝒚𝒂𝒕𝒏𝒚𝒂.
Bukan dengan program yang berganti nama setiap periode. Bukan dengan makan siang bergizi yang pelaksanaannya bermasalah di lapangan sebelum anak-anak sempat kenyang. Bukan dengan koperasi desa yang belum jelas modelnya tapi sudah ramai seremoninya.
Tapi dengan pipa. Yang dibangun pelan. Yang tidak butuh nama presiden di plangnya. Yang tidak selesai dalam satu periode — dan memang tidak perlu selesai dalam satu periode — karena fondasi tidak bekerja dengan jadwal kampanye.
𝑰𝒕𝒖 𝒔𝒂𝒋𝒂 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒌𝒊𝒕𝒂 𝒎𝒊𝒏𝒕𝒂. 𝑺𝒕𝒂𝒏𝒅𝒂𝒓 𝒑𝒂𝒍𝒊𝒏𝒈 𝒅𝒂𝒔𝒂𝒓. 𝒀𝒂𝒏𝒈 𝒔𝒆𝒉𝒂𝒓𝒖𝒔𝒏𝒚𝒂 𝒕𝒊𝒅𝒂𝒌 𝒑𝒆𝒓𝒍𝒖 𝒅𝒊𝒑𝒆𝒓𝒋𝒖𝒂𝒏𝒈𝒌𝒂𝒏
𝑊𝑎𝑙𝑙𝑎ℎ𝑢 𝑎’𝑙𝑎𝑚 𝑏𝑖𝑠ℎ𝑠ℎ𝑎𝑤𝑎𝑏.
Ruly Achdiat Santabrata
Tidak ada komentar:
Posting Komentar