Veni Vidi Vici
Selasa, 22 September 2026
Dalam Pernikahan, Pikirkan "Kita", Bukan "Saya"
23 September 2026
Bacaan Hari ini:
1 Korintus 1:10 "Tetapi aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, demi nama Tuhan kita Yesus Kristus, supaya kamu seia sekata dan jangan ada perpecahan di antara kamu, tetapi sebaliknya supaya kamu erat bersatu dan sehati sepikir."
---------------
Ketika Anda menikah, inilah waktunya untuk mulai berpikir tentang "kita" dan bukan "saya". Alkitab mengatakannya seperti ini: "supaya kamu seia sekata dan jangan ada perpecahan di antara kamu, tetapi sebaliknya supaya kamu erat bersatu dan sehati sepikir." (1 Korintus 1:10). Ketika Anda mempertimbangkan orang lain, Anda memperhatikan mereka, sopan kepada mereka dan memperlakukan mereka dengan hormat dan perhatian.
Perhatikan bahwa 1 Korintus mengatakan Anda perlu "seia sekata .. erat bersatu dan sehati sepikir". Hal itu tidak muncul secara alami! Secara alami, kita egois. Kita memikirkan kebutuhan, luka hati dan keinginan kita sendiri sebelum memikirkan orang lain. Tetapi salah satu tujuan Allah bagi pernikahan adalah mengajar kita untuk menjadi lebih perhatian terhadap orang lain, karena begitulah Yesus memperlakukan semua orang.
Apakah Anda siap untuk belajar menjadi lebih perhatian dalam pernikahan Anda dan bahkan dalam hubungan Anda yang lain? Berikut tiga cara praktis untuk menunjukkan perhatian kepada orang-orang di sekitar Anda:
Tawarkan bantuan praktis.
Perhatian berarti menyadari apa yang dibutuhkan orang lain dan mengambil inisiatif untuk bertanya, "Bisakah saya membantu Anda?" Alkitab mengajarkan, "Layanilah seorang akan yang lain oleh kasih" (Galatia 5:13).
Terkadang kita saling membantu dalam hal-hal besar, tetapi biasanya dalam hal-hal kecil. Perhatian terlihat seperti menghentikan apa yang sedang Anda lakukan untuk membantu istri Anda membawa belanjaan ke dalam rumah. Perhatian terlihat seperti menidurkan anak-anak ketika suami Anda sedang lelah. Perhatian terlihat seperti bekerja sama mengerjakan pekerjaan rumah di akhir pekan sehingga Anda berdua dapat memiliki waktu luang nantinya.
Berempatilah terhadap keraguan dan ketakutan mereka.
Alkitab berkata, "Kita, yang kuat, wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat dan jangan kita mencari kesenangan kita sendiri." (Roma 15:1). Kita sering berpikir bahwa ketakutan orang lain tidak masuk akal, sementara kita menganggap ketakutan kita sendiri sangat serius. Tetapi dalam pernikahan yang kuat, Anda juga menganggap serius ketakutan pasangan Anda.
Saya dibesarkan di daerah pedesaan, tempat kami tidak pernah mengunci pintu. Sebaliknya, keluarga istri saya sangat memperhatikan keamanan. Selama bertahun-tahun, saya berusaha untuk memperhatikan istri saya dalam hal ini, meskipun saya tidak memiliki kekhawatiran yang sama.
Ampuni kesalahan mereka.
Anda tidak sempurna dan Anda menikah dengan orang yang tidak sempurna, dan itu membuat dua orang yang tidak sempurna tidak mungkin memiliki pernikahan yang sempurna. Orang berdosa menikah dengan orang berdosa, jadi semua pernikahan membutuhkan banyak sekali pengampunan. Alkitab berkata, "Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian." (Kolose 3:13). Pengampunan adalah salah satu dasar utama dalam membangun pernikahan. Dan itu adalah salah satu cara untuk menunjukkan perhatian.
Yakobus 3 mengajarkan, "Hikmat yang datang dari surga adalah...murni, pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik." (Yakobus 3:17). Jika Anda ingin menjadi bijaksana dalam pernikahan Anda, Anda perlu belajar untuk memperhatikan pasangan Anda!
Renungkan :
- Apa satu cara yang dapat Anda lakukan untuk membantu pasangan Anda (atau orang lain dalam hidup Anda) hari ini?
- Apa satu ketakutan pasangan Anda yang belum Anda anggap serius? Bagaimana Anda dapat lebih memperhatikan ketakutan tersebut?
- Luka hati apa yang selama ini Anda simpan dan perlu Anda ampuni?
Bacaan Alkitab Setahun :
Pengkotbah 8-10; Galatia 3
____________
Ketika Anda mempertimbangkan orang lain, Anda memperhatikan mereka, sopan kepada mereka dan memperlakukan mereka dengan hormat dan perhatian.
(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
========
In a Marriage, Think ‘We,’ Not ‘Me’
By Rick Warren
“You must learn to be considerate of one another, cultivating a life in common.” 1 Corinthians 1:10 (MSG)
-------------------
When you get married, it’s time to start thinking of “we” instead of “me.” The Message paraphrase says it like this: “You must learn to be considerate of one another, cultivating a life in common” (1 Corinthians 1:10). When you’re considerate of someone else, you pay attention to them, show them courtesy, and treat them with respect and care.
Notice that 1 Corinthians says you need to “learn to be considerate.” It doesn’t come naturally! By nature, we’re selfish. We think about our own needs, hurts, and wants before we think about anyone else. But one of God’s purposes for marriage is to teach us to become more considerate, because that’s how Jesus treats people.
Are you ready to learn to be more considerate in your marriage and even in your other relationships? Here are three practical ways to show consideration to the people around you:
Offer practical help. Consideration means noticing what the other person needs and taking the initiative to ask, “Can I help you?” The Bible teaches, “Serve one another humbly in love” (Galatians 5:13 NIV).
Sometimes we’re helpful to each other in big ways, but usually it’s in small ways. Consideration looks like stopping what you’re doing to help your wife bring the groceries in. It looks like putting the kids to bed when your husband is tired. It looks like working together to do weekend chores so you both can have free time later.
Sympathize with their doubts and fears. The Living Bible paraphrase says, “We must bear the ‘burden’ of being considerate of the doubts and fears of others” (Romans 15:1). We often think other people’s fears are irrational, while we take our own fears very seriously. But in a strong marriage, you take your spouse’s fears seriously too.
I grew up out in the country, where we never locked any door. My wife’s family, on the other hand, was diligent about security. Over the years, I’ve worked to be considerate of my wife in this area, even though I don’t have the same concerns.
Forgive their mistakes. You’re imperfect and you married an imperfect person, and that makes it impossible for two imperfect people to have a perfect marriage. Sinners marry sinners, so all marriages need massive doses of forgiveness. The Bible says, “Make allowance for each other’s faults, and forgive anyone who offends you. Remember, the Lord forgave you, so you must forgive others” (Colossians 3:13 NLT). Forgiveness is one of the primary building blocks of marriage. And it’s a way of showing consideration.
James 3 teaches, “The wisdom that comes from heaven is . . . considerate” (James 3:17 NIV). If you want to be wise in your marriage, you need to learn to be considerate of your spouse!
Senin, 21 September 2026
Komunikasi adalah Kunci dalam Pernikahan Anda
22 September 2026
Bacaan Hari ini:
Amsal 13:17 "Utusan orang fasik menjerumuskan orang ke dalam celaka, tetapi duta yang setia mendatangkan kesembuhan"
------------------
Bentuk ideal yang Allah inginkan bagi pernikahan Anda adalah keharmonisan, kesatuan dan keintiman. Alkitab berkata, "Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat." (Efesus 5:31-32).
Kenyataannya, sebagian besar pernikahan tidak mencapai wujud ideal tersebut. Tetapi ada beberapa kunci yang dapat membantu membuka potensi pernikahan Anda dan membantunya menjadi seperti yang Allah kehendaki.
Salah satu kunci untuk pernikahan yang hebat adalah komunikasi. Alkitab berkata, "Utusan orang fasik menjerumuskan orang ke dalam celaka, tetapi duta yang setia mendatangkan kesembuhan" (Amsal 13:17).
Jika Anda ingin membuat kemajuan dalam hubungan apa pun, Anda harus belajar bagaimana berbicara satu sama lain.
Kita semua memiliki gaya dan kebutuhan yang berbeda dalam hal komunikasi. Salah satu pasangan mungkin berkomunikasi dengan fakta, sementara yang lain lebih banyak berkomunikasi dengan emosi. Yang satu mungkin berkomunikasi dalam potongan-potongan singkat, sementara yang lain berkomunikasi dalam penjelasan yang panjang. Komunikasi yang baik dalam pernikahan mempertimbangkan gaya orang lain.
Komunikasi yang baik juga jujur dan terus terang. Alkitab berkata, "Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat" (Matius 5:37).
Dan terkadang, komunikasi yang baik berarti Anda perlu berkompromi. Jika Anda sudah menikah lebih dari sehari, Anda tahu ada beberapa hal yang tidak akan pernah Anda sepakati. Bahkan, salah satu alasan Allah memberikan pasangan kepada Anda adalah agar Anda dapat melihat kehidupan melalui sudut pandang yang berbeda. Latar belakang, kepribadian dan cara Anda dibentuk semuanya dapat membuat Anda melihat kehidupan secara berbeda dari pasangan Anda. Dan jika Anda tidak mau berkompromi, hal itu akan membawa kehancuran. "jika suatu rumah tangga terpecah-pecah, rumah tangga itu tidak dapat bertahan" (Markus 3:25).
Pasangan harus belajar berkompromi tentang bagaimana mereka membesarkan anak-anak, di mana mereka menghabiskan liburan, berapa banyak waktu yang mereka habiskan bersama keluarga dari pihak pasangan, bagaimana rumah mereka didekorasi, dan bahkan seperti apa keintiman fisik dalam hubungan mereka.
Pada akhirnya, kompromi adalah tentang kedewasaan dan belajar untuk tidak mementingkan diri sendiri. Alkitab berkata, "Semoga Allah, yang adalah sumber ketekunan dan penghiburan, mengaruniakan kerukunan kepada kamu, sesuai dengan kehendak Kristus Yesus" (Roma 15:5).
Dan sebenarnya, semuanya tentang belajar mengasihi satu sama lain dengan baik. Inti dari kompromi dan semua komunikasi yang baik, adalah kasih. Paulus menulis, "Kasih itu...tidak mencari keuntungan diri sendiri" (1 Korintus 13:4-5).
Renungkan :
- Pikirkan tentang pernikahan Anda atau hubungan dekat lainnya dalam hidup Anda. Kapan Anda memiliki komunikasi yang baik? Dalam hal apa Anda perlu belajar berkomunikasi dengan lebih baik?
- Kapan Anda pernah melihat sebuah hubungan menjadi lebih kuat melalui kompromi?
- Paulus berkata bahwa kasih "tidak mencari keuntungan diri sendiri" Di mana Anda akhir-akhir ini menuntut agar keinginan Anda sendiri dipenuhi? Berdoalah dan mintalah Allah menolong Anda belajar menjadi dewasa dan tidak mementingkan diri sendiri dalam hal tersebut.
Bacaan Alkitab Setahun :
Pengkotbah 5-7; Galatia 2
____________
Komunikasi yang baik berarti Anda perlu berkompromi.
(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
=======
Communication Is Key in Your Marriage
By Rick Warren
“Reliable communication permits progress.” Proverbs 13:17 (TLB)
---------------------
God’s ideal for your marriage is harmony, unity, and intimacy. The Bible says, “A man leaves his father and mother and is joined to his wife, and the two are united into one. This is a great mystery, but it is an illustration of the way Christ and the church are one” (Ephesians 5:31-32 NLT).
The reality is, most marriages fall short of that ideal. But there are some keys that can help unlock the potential of your marriage and help it become all God wants it to be.
One key to a great marriage is communication. The Living Bible paraphrase says, “Reliable communication permits progress” (Proverbs 13:17). If you want to make progress in any relationship, you have to learn how to talk with each other.
We all have different styles and needs when it comes to communication. One spouse may communicate in facts while the other mostly communicates in emotions. One may communicate in sound bites while the other communicates in mega bites. Good communication in a marriage considers the style of the other person.
Good communication is also honest and straightforward. The Message paraphrase says, “Just say ‘yes’ and ‘no.’ When you manipulate words to get your own way, you go wrong” (Matthew 5:37).
And sometimes, good communication means that you need to compromise. If you’ve been married longer than a day, you know there are some things you’re just never going to see eye to eye on. In fact, one reason God has given you a spouse is so you can look at life through a different set of lenses. Your background, your personality, and your wiring can all make you see life differently from how your spouse does. And if you don’t compromise, it will lead to destruction. “If a household is divided against itself, that household will not last” (Mark 3:25 GW).
Couples have to learn to compromise about how they raise their kids, where they spend their holidays, how much time they spend with the in-laws, how their house is decorated, and even what physical intimacy is like in their relationship.
At the end of the day, compromise is about maturity and learning to be unselfish. The Message paraphrase says, “May . . . God develop maturity in you so that you get along with each other as well as Jesus gets along with us all” (Romans 15:5).
And really, it’s all about learning to love each other well. At the heart of compromise, and all good communication, is love. Paul writes, “Love . . . does not demand its own way” (1 Corinthians 13:4-5 NLT).
Minggu, 20 September 2026
Apakah Anda Sehat Secara Emosional?
21 September 2026
Bacaan Hari ini:
Amsal 20:7 "Orang benar yang bersih kelakuannya berbahagialah keturunannya"
-----------------
Jika Anda tidak menikah sampai Anda menemukan istri yang sempurna atau suami yang sempurna, Anda tidak akan pernah menikah, karena tidak ada seorang pun yang sempurna. Tetapi Anda perlu menikah dengan seseorang yang sehat secara emosional dan terus bertumbuh. Dan Anda juga perlu memastikan bahwa Anda bertumbuh dalam hal-hal tersebut.
Alkitab banyak berbicara tentang kesehatan emosional. Berikut adalah daftar faktor-faktor kesehatan emosional dari Firman Allah:
Orang yang sehat secara emosional tidak memiliki kemarahan yang tidak terkendali. "Jangan berteman dengan orang yang lekas gusar, jangan bergaul dengan seorang pemarah" (Amsal 22:24). Pasangan yang pemarah pada akhirnya akan mengarahkan kemarahannya kepada Anda.
Orang yang sehat secara emosional tidak memiliki kecanduan. "Janganlah engkau ada di antara peminum anggur dan pelahap daging" (Amsal 23:20). Makanan dan alkohol disebutkan di sini, tetapi ada banyak cara untuk menjadi kecanduan, termasuk kecanduan teknologi, pornografi, dan bahkan menghabiskan uang.
Orang yang sehat secara emosional tidak menyimpan kepahitan. "Jagalah supaya jangan ada seorangpun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang." (Ibrani 12:15). Kepahitan seperti racun; kepahitan menggerogoti Anda dari dalam.
Orang yang sehat secara emosional tidak egois. "Orang yang loba, menimbulkan pertengkaran" (Amsal 28:25). Jika diringkas, penyebab utama konflik dalam pernikahan sebenarnya sederhana: keegoisan.
Orang yang sehat secara emosional tidak serakah. "Siapa loba akan keuntungan gelap, mengacaukan rumah tangganya" (Amsal 15:27). Dan Amsal 23:6 membuatnya bahkan lebih jelas: "Jangan makan roti orang yang kikir"
Orang yang sehat secara emosional murah hati dan baik hati. "Siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan, siapa memberi minum, ia sendiri akan diberi minum" (Amsal 11:25). Dan Amsal 11:17 berkata, "Orang yang murah hati berbuat baik kepada diri sendiri, tetapi orang yang kejam menyiksa badannya sendiri."
Orang yang sehat secara emosional mengatakan kebenaran. "Orang benar yang bersih kelakuannya berbahagialah keturunannya" (Amsal 20:7). Kasih didasarkan pada kepercayaan dan kepercayaan didasarkan pada kebenaran.
Mungkin Anda telah membaca daftar ini dan menyadari bahwa banyak dari sifat-sifat ini tidak ada dalam diri orang yang sedang dekat dengan Anda. Jika demikian, inilah waktunya untuk mempertimbangkan kembali hubungan tersebut. Dan jika Anda melihat bahwa beberapa sifat ini tidak ada dalam kehidupan Anda sendiri, mintalah Allah untuk membantu Anda bertumbuh sebelum Anda berkomitmen untuk menikah.
Tentu saja, jika Anda sudah menikah, tidak pernah ada kata terlambat bagi Anda dan pasangan untuk menyadari di mana Anda masih belum matang secara emosional, berkomitmen untuk berubah dan meminta pertolongan Allah saat Anda bertumbuh menuju kesehatan emosional.
Renungkan :
- Lihat kembali sifat-sifat orang yang sehat secara emosional ini. Dalam hal-hal apa Anda sudah melakukannya dengan sangat baik?
- Dalam hal kesehatan emosional apa Anda perlu bertumbuh? Pertolongan apa yang Anda perlukan untuk bertumbuh dalam hal tersebut?
- Apakah Anda sedang menjajaki hubungan yang lebih serius, atau mempertimbangkan untuk memulai hubungan, dengan seseorang yang menunjukkan tanda-tanda ketidakdewasaan emosional? Jika ya, perubahan apa yang perlu Anda lakukan?
Bacaan Alkitab Setahun :
Pengkotbah 3-4; Galatia 1
____________
Jadilah versi terbaru diri Anda secara emosional dengan selalu berkaca pada Firman Tuhan
(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
========
Are You Emotionally Healthy?
By Rick Warren
“A righteous person lives on the basis of his integrity. Blessed are his children after he is gone.” Proverbs 20:7 (GW)
------------------
If you don’t get married until you find the perfect wife or perfect husband, you’ll never marry, because no one is perfect. But you do need to marry someone who’s emotionally healthy and growing. And you need to make sure you’re growing in those areas too.
The Bible has a lot to say about emotional health. Here’s a list of emotional health factors from God’s Word:
An emotionally healthy person doesn’t have uncontrolled anger. “Do not make friends with a hot-tempered person. Do not associate with one easily angered” (Proverbs 22:24 NIV). An angry spouse will eventually direct their anger toward you.
An emotionally healthy person doesn’t have addictions. “Don’t associate with people who drink too much or stuff themselves with food” (Proverbs 23:20 GNT). Food and alcohol are mentioned here, but there are countless ways to be addicted, including to technology, pornography, and even spending money.
An emotionally healthy person is not bitter. “Make sure that everyone has kindness from God so that bitterness doesn’t take root and grow up to cause trouble that corrupts many of you” (Hebrews 12:15 GW). Bitterness is a like a poison; it eats you alive.
An emotionally healthy person is not selfish. “Selfish people cause trouble” (Proverbs 28:25 CEV). The number one cause of conflict in marriage, when you boil it all down, is simple: selfishness.
An emotionally healthy person is not greedy. “Whoever is greedy... brings trouble to his family” (Proverbs 15:27 GW). And Proverbs 23:6 makes it even more blatant: “Don’t eat with people who are stingy” (NLT).
An emotionally healthy person is generous and kind. “A generous person will prosper; whoever refreshes others will be refreshed” (Proverbs 11:25 NIV). And Proverbs 11:17 says, “Kindness is rewarded— but if you are cruel, you hurt yourself” (CEV).
An emotionally healthy person tells the truth. “A righteous person lives on the basis of his integrity. Blessed are his children after he is gone” (Proverbs 20:7 GW). Love is based on trust, and trust is based on truth.
Maybe you’ve read through this list and realized that many of these qualities are missing in the person you’re dating. If so, it’s time to reconsider the relationship. And if you see some of these qualities missing in your own life, ask God to help you grow before you commit to marriage.
Of course, if you’re married already, it’s never too late for you and your spouse to realize where you’re emotionally immature, commit to change, and ask for God’s help as you grow toward emotional health.
Sabtu, 19 September 2026
Mengapa Kesatuan Rohani Penting dalam Pernikahan
20 September 2026
Bacaan Hari ini:
Roma 1:12 *"supaya aku ada di antara kamu dan turut terhibur oleh iman kita bersama, baik oleh imanmu maupun oleh imanku."*
--------------------
Anda bisa memiliki banyak kesamaan dengan seseorang, tetapi jika Anda tidak memiliki bagian terpenting dalam hidup Anda bersama-sama—yaitu hubungan Anda dengan Allah—Anda tidak akan pernah memiliki kesatuan rohani yang Allah kehendaki dalam pernikahan.
Ketika Anda memiliki kesatuan rohani, Anda mempercayai hal-hal yang sama tentang Allah, Anda bersama-sama menikmati hubungan dengan-Nya dan Anda sedang menuju ke arah yang sama. Dan kesatuan rohani memungkinkan Anda memiliki kesatuan dalam banyak bidang kehidupan.
Namun, jika Anda tidak memiliki kesatuan rohani dengan pasangan Anda, Anda tidak akan pernah menikmati kesatuan fisik, emosional, dan relasional yang mendalam yang Allah kehendaki bagi pernikahan Anda. Anda memang tidak dapat melakukannya. Anda perlu memiliki kesatuan dalam bidang nomor satu dalam hidup Anda, yaitu hubungan Anda dengan Allah.
Alkitab mengajarkan, "Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap? Persamaan apakah yang terdapat antara Kristus dan Belial? Apakah bagian bersama orang-orang percaya dengan orang-orang tak percaya?"(2 Korintus 6:14-15 ).
Dengan kata lain, jika Anda tidak memiliki kesatuan rohani, bagaimana mungkin Anda dapat bersatu dalam bidang kehidupan lainnya?
Izinkan saya berbicara terus terang kepada Anda. Sebagai seorang pendeta, saya tidak suka mengecewakan orang atau menyakiti perasaan mereka. Saya ingin mereka menyukai saya; saya ingin mereka bahagia. Tetapi entah sudah berapa kali seseorang menceritakan kepada saya tentang tunangannya yang luar biasa, hanya untuk kemudian mengatakan kepada saya bahwa orang tersebut bukanlah seorang percaya.
Segala sesuatu dalam diri saya ingin berkata, "Ini bukan masalah besar. Lanjutkan saja. Berbahagialah." Tetapi setelah melihat begitu banyak pernikahan yang terpecah secara rohani berakhir dengan perceraian, saya berbicara terus terang kepada mereka. Saya berkata, "Saya cukup mengasihi Anda untuk mengatakan kebenaran kepada Anda. Anda sedang melakukan kesalahan terbesar dalam hidup Anda. Jika Anda tidak memiliki kesatuan rohani, Anda tidak akan pernah memiliki kesatuan dalam bidang-bidang lain seperti yang Allah kehendaki. Jika Anda telah menyerahkan hidup Anda kepada Kristus, tidak mungkin Anda menyerahkan hidup Anda kepada seseorang yang menolak Juruselamat Anda."
Alkitab sangat jelas mengenai hal ini: "Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya." (2 Korintus 6:14).
Jika Anda menginginkan yang terbaik dari Allah, jangan pertimbangkan seseorang yang tidak berkomitmen kepada Yesus Kristus.
Namun, inilah gambaran pernikahan Anda ketika Anda memiliki kesatuan rohani: "supaya aku ada di antara kamu dan turut terhibur oleh iman kita bersama, baik oleh imanmu maupun oleh imanku." (Roma 1:12).
Itulah yang Allah kehendaki bagi pernikahan Anda. Dia ingin iman suami membantu istri dan iman istri membantu suami.
Renungkan :
- Pikirkan tentang sebuah hubungan di mana Anda memiliki kesatuan rohani dengan orang tersebut. Orang itu mungkin pasangan Anda, anggota keluarga, atau teman dekat. Bagaimana iman Anda membantu orang tersebut, dan sebaliknya?
- Dalam 2 Korintus 6:15, Paulus bertanya, "Apakah bagian bersama orang-orang percaya dengan orang-orang tak percaya?" .Bagaimana Anda akan menjawab pertanyaan tersebut?
- Kapan Anda pernah melihat Allah memberkati dan melindungi sebuah pernikahan yang memiliki kesatuan rohani? Bagaimana gambaran tersebut memberikan dorongan kepada Anda?
Bacaan Alkitab Setahun :
Pengkotbah 1-2; II Korintus 13
___________
Allah ingin melindungi dan memberkati pernikahan Anda. Dia ingin menjadi perekat yang menyatukan pernikahan Anda. Dan Dia hanya dapat melakukan hal itu ketika Anda memiliki kesatuan rohani dalam pernikahan Anda.
(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
========
*Why Spiritual Unity Matters in Marriage*
By Rick Warren
*“I want us to help each other with the faith we have. Your faith will help me, and my faith will help you.”* Romans 1:12 (NCV)
-----------------
You can have a lot in common with someone, but if you don’t share the most important part of your life—your relationship with God—you’ll never have the spiritual unity God intends for marriage.
When you have spiritual unity, you believe the same things about God, you enjoy a relationship with him together, and you’re headed in the same direction. And spiritual unity allows you to have unity in many areas of life.
But if you aren’t spiritually unified with your spouse, you’re never going to enjoy the deep physical, emotional, and relational unity God desires for your marriage. You just can’t do it. You need to be unified in the number-one area of your life, which is your relationship with God.
The Bible teaches, “Stop forming inappropriate relationships with unbelievers. Can right and wrong be partners? Can light have anything in common with darkness? . . . Can a believer share life with an unbeliever?” (2 Corinthians 6:14-15 GW). In other words, if you don’t have spiritual unity, how in the world can you be unified in any other area?
Let me just be honest with you. As a pastor, I don’t like to disappoint people or hurt their feelings. I want them to like me; I want them to be happy. But I can’t tell you how many times someone has told me about their wonderful fiancé, only to tell me later that the person isn’t a believer.
Everything in me wants to say, “It’s no big deal. Go ahead. Be happy.” But after seeing so many spiritually divided marriages end in divorce, I’m blunt with them. I say, “I love you enough to tell you the truth. You’re making the biggest mistake of your life. If you don’t have spiritual unity, you’re never going to have unity in other areas the way God intended. If you have committed your life to Christ, there is no way you can give your life away to somebody who rejects your Savior.”
The Bible is really clear about this: “Do not be yoked together with unbelievers” (2 Corinthians 6:14 NIV). If you want God’s best, don’t even consider somebody who’s not committed to Jesus Christ.
But here’s what your marriage can look like when you do have spiritual unity: “I want us to help each other with the faith we have. Your faith will help me, and my faith will help you” (Romans 1:12 NCV). That’s what God wants for your marriage. He wants the faith of the husband to help the wife and the faith of the wife to help the husband.
God wants to protect and bless your marriage. He wants to be the glue that holds it together. And he can only do that when you have spiritual unity in your marriage.
MATA AIR DAN POHON KURMA
Jumat, 18 September 2026
Kabar Baik Membuat Anda Bersukacita
19 September 2026
Bacaan Hari ini:
Kisah Para Rasul 2:46-47 *"Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. ....sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan."*
-----------------
Menurut Anda, apakah gereja seharusnya menyenangkan? Saya rasa begitu!
Ibadah adalah sebuah perayaan. Ibadah adalah festival, bukan pemakaman. Ibadah adalah pesta bagi Kerajaan Allah. Ibadah yang penuh sukacita menarik orang-orang yang belum percaya kepada gereja, karena orang-orang sedang mencari sukacita.
Ada begitu banyak berita buruk di dunia. Tetapi "gospel" berarti "kabar baik," bukan "kabar buruk." Injil adalah kabar baik yang membuat orang bersukacita! Jadi, ketika Anda berkumpul bersama orang-orang Kristen lainnya, Anda dapat merayakannya, bukan saling meratapi.
Itulah yang dilakukan oleh gereja mula-mula. Kisah Para Rasul 2:46-47 mengatakan, "Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. ....sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan."
Perhatikan dua kata di sana: "memuji" dan "menikmati." Ibadah mereka penuh sukacita! Allah telah memberikan kepada kita banyak emosi untuk diekspresikan dan salah satu tempat kita dapat mengekspresikan kebahagiaan kita adalah dalam ibadah.
Sebagai orang Kristen, dosa-dosa masa lalu kita telah diampuni, kita memiliki tujuan untuk hidup, dan kita memiliki rumah di surga. Jika hal itu tidak membuat Anda bahagia, saya tidak tahu apa yang bisa membuat Anda bahagia! Seperti yang dikatakan Petrus pada hari ketika gereja lahir, "Sebab itu hatiku bersukacita dan jiwaku bersorak-sorak, bahkan tubuhku akan diam dengan tenteram, " (Kisah Para Rasul 2:26).
Kita tidak perlu menciptakan sukacita itu dengan kekuatan kita sendiri. Petrus mengutip Raja Daud, dengan berkata, "Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; Engkau akan melimpahi aku dengan sukacita di hadapan-Mu." (Kisah Para Rasul 2:28). Ketika Anda mengetahui jalan Anda (tujuan Allah bagi hidup Anda) dan Anda merasakan kehadiran Allah, Anda secara otomatis dipenuhi dengan sukacita.
Namun, benar bahwa terkadang sukacita dapat memudar. Dalam keadaan seperti itu, ada beberapa hal yang dapat dilakukan. Pertama, Anda dapat berdoa seperti yang dilakukan Daud, "Bangkitkanlah kembali padaku kegirangan karena selamat yang dari pada-Mu" (Mazmur 51:12).
Dan jawaban berikutnya mungkin mengejutkan Anda: Anda dapat mempraktikkan kemurahan hati! Itulah yang dilakukan oleh orang-orang Kristen mula-mula: "Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing." (Kisah Para Rasul 2:44-45).
Dan bagaimana mereka melakukannya? "dengan gembira dan dengan tulus hati" (Kisah Para Rasul 2:46).
Renungkan :
- Menurut Anda, mengapa ibadah yang penuh sukacita dapat menarik bagi orang-orang yang belum percaya?
- Kapan Anda pernah mengalami sukacita dalam ibadah?
- Apakah akhir-akhir ini Anda mengalami sukacita dalam ibadah? Jika tidak, luangkan waktu untuk berdoa seperti Daud, "Bangkitkanlah kembali padaku kegirangan karena selamat yang dari pada-Mu" (Mazmur 51:12).
Bacaan Alkitab Setahun :
Amsal 30-31; II Korintus 12
___________
Kekristenan yang sejati adalah Kabar Baik bagi semua orang. Dan Kabar Baik itu membuat Anda bersukacita!
(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
=======
The Good News Makes You Joyful
By Rick Warren
“They worshiped together at the Temple each day . . . praising God and enjoying the goodwill of all the people.” Acts 2:46-47 (NLT)
---------------
Do you think church ought to be fun? I do!
Worship is a celebration. It’s a festival, not a funeral. It’s a party for the kingdom of God. Joyful worship attracts non-believers to the church, because people are looking for joy!
There’s so much bad news in the world. But “gospel” means “good news,” not “bad news.” The gospel is good news that makes people joyful! So when you gather with other Christians, you can celebrate, not commiserate.
That’s what the early church did. Acts 2:46-47 says, “They worshiped together at the Temple each day . . . praising God and enjoying the goodwill of all the people” (NLT).
Notice two words there: “praising” and “enjoying.” Their worship was happy! God has given us lots of emotions to express, and one place we can express our happiness is in worship.
As Christians, we have our past forgiven, a purpose for living, and a home in heaven. If that doesn’t make you happy, I don’t know what will! As Peter said on the day the church was born, “Because of this, my heart will be glad, my words will be joyful, and I will live in hope” (Acts 2:26 CEV).
We don’t have to manufacture that joy on our own. Peter quoted King David, saying, “You have shown me the paths that lead to life, and your presence will fill me with joy” (Acts 2:28 GNT). When you know your path (God’s purpose for your life) and you feel God’s presence, you’re automatically filled with joy.
But it’s true that sometimes joy can fade. In that case, there are a couple of things to do. First, you can pray like David did, “Restore to me the joy of your salvation” (Psalm 51:12 NLT).
And the next answer may surprise you: You can practice generosity! That’s what the early Christians did: “ All the believers . . . shared everything they had. They sold their property and possessions and shared the money with those in need” (Acts 2:44-45 NLT).
And how did they do it? “With great joy and generosity” (Acts 2:46 NLT).
Real Christianity is Good News for everyone. And that Good News makes you joyful!