Rabu, 18 Februari 2026

Keterampilan yang Membangun Relasi

19 Februari 2026

Bacaan Hari ini:
Roma 15:2 "Setiap orang di antara kita harus mencari kesenangan sesama kita demi kebaikannya untuk membangunnya"
-------------------
Mendengarkan adalah salah satu keterampilan terpenting dalam membangun persahabatan dan relasi yang sehat. Anda tidak dapat sungguh-sungguh mengasihi seseorang tanpa bersedia mendengarkannya.

Namun, banyak orang mengalami masalah dalam relasi karena mengira bahwa mendengar dan mendengarkan adalah hal yang sama. Padahal keduanya berbeda. Anda bisa saja mendengar kata-kata seseorang, tetapi tidak benar-benar mendengarkan isi hatinya.

Sering kali pertengkaran terjadi bukan karena kata-kata yang diucapkan, melainkan karena perasaan yang tidak dipahami. Seseorang mungkin berkata, "Saya baik-baik saja," tetapi nada suaranya menunjukkan sebaliknya. Mendengarkan yang sejati berarti menangkap bukan hanya kata-kata, tetapi juga emosi yang tersembunyi di baliknya.

Mendengarkan seperti ini disebut empati. Empati berarti berusaha menempatkan diri pada posisi orang lain dan melihat keadaan dari sudut pandangnya. Anda bertanya dalam hati, "Bagaimana perasaan saya jika berada dalam situasi itu?"

Mendengarkan  dengan empati berarti:

- Tidak memotong pembicaraan.

- Tidak langsung memberi nasihat.

- Tidak buru-buru memperbaiki keadaan.

- Memberi perhatian penuh tanpa gangguan.

Roma 15:2 mengajarkan bahwa kita perlu menanggung beban orang lain—termasuk keraguan dan ketakutan mereka. Artinya, ketika seseorang sedang begitu terluka hingga bingung dengan apa yang ia rasakan atau percayai, ia membutuhkan seorang sahabat yang setia. Ia membutuhkan seseorang yang mau hadir dan mendengarkan dengan penuh perhatian.
Maukah Anda menjadi sahabat seperti itu hari ini?

Renungkan :

- Bagaimana bahasa tubuh Anda menunjukkan bahwa Anda sungguh-sungguh mendengarkan?

- Apa manfaatnya bertanya, "Bagaimana jika saya berada dalam situasi itu?"

- Langkah apa yang dapat Anda lakukan untuk mengurangi gangguan saat seseorang berbicara kepada Anda?

Bacaan Alkitab Setahun :
Imamat 23-24; Markus 1:1-22
_____________
Sering kali, penyembuhan terjadi bukan karena solusi yang diberikan, melainkan karena seseorang merasa didengarkan.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
=========
The Skill That Builds Relationships - Daily Hope with Rick Warren - February 19, 2026

"We must bear the 'burden' of being considerate of the doubts and fears of others." Romans 15:2 (TLB)
-----------------------
Listening is probably the most important skill in building friendships and relationships. You can't love people without listening to them.

But sometimes people run into trouble in their relationships when they think hearing and listening are the same thing. The truth is that there's a big difference between hearing someone and listening to them.

You can hear something and not really be listening. I can't tell you how many arguments I've had with my kids or my wife because I was hearing the words but not really listening to the emotions. Sometimes the words don't even matter. Someone can say to you, "I'm fine," but the way they say it tells you that they're not fine. Listening means you also hear what the person isn't saying.

When you listen that way, you're showing empathy. Empathy means to put yourself in the other person's shoes and learn their point of view. You ask yourself, "How would I feel if I were in that situation?"

Listening with empathy means you listen without interruption and you listen for what's not being said—the feelings and fears behind the words. And you don't need to try to fix the situation. In fact, sometimes healing comes just from someone listening!

Romans 15:2 says, "We must bear the 'burden' of being considerate of the doubts and fears of others" (TLB).

What does it mean to be considerate or to bear the burden of someone else's doubts? It means that, when people are in so much pain that they don't even know what they believe, they need the devotion of a loyal friend. They need someone who will be present and listen with empathy.

Will you be that friend today?


Selasa, 17 Februari 2026

Di Mana Anda Menemukan Keberanian untuk Membangun Relasi

18 Februari 2026

Bacaan Hari ini:
2 Timotius 1:7 "Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban."
-----------------
Ketika hati Anda dipenuhi ketakutan dan kecemasan, Anda cenderung menjauh dari orang lain. Anda takut ditolak, disakiti, dimanfaatkan atau tidak diterima apa adanya. Ketakutan-ketakutan ini membuat Anda menarik diri dan membatasi kedekatan dengan orang di sekitar Anda.

Ketakutan seperti ini sudah ada sejak awal manusia. Ketika Adam dan Hawa berbuat dosa, mereka bersembunyi. Adam berkata, "Aku menjadi takut… sebab itu aku bersembunyi" (Kejadian 3:10). Sejak saat itu, manusia terus belajar bersembunyi.

Mungkin Anda tidak bersembunyi secara fisik, tetapi Anda menyembunyikan diri yang sebenarnya. Anda tidak menunjukkan isi hati Anda yang sesungguhnya. Anda takut jika orang lain melihat kelemahan Anda dan tidak menyukainya. Akibatnya, Anda mencoba menjadi pribadi yang berbeda dari diri Anda yang sebenarnya.

Ketakutan ini dapat merusak relasi dalam tiga cara:

Pertama, ketakutan membuat Anda defensif.
Ketika kelemahan Anda terlihat, Anda segera membela diri atau menyerang balik.

Kedua, ketakutan membuat Anda menjaga jarak.
Anda sulit terbuka dan jujur. Anda menarik diri dan menahan perasaan.

Ketiga, ketakutan membuat Anda ingin mengendalikan.
Semakin Anda merasa tidak aman, semakin Anda ingin memegang kendali—misalnya dengan selalu ingin menjadi pihak terakhir yang berbicara atau menentukan segalanya.

Jelaslah bahwa ketakutan hanya merusak hubungan. Lalu, dari mana Anda memperoleh keberanian untuk mengambil langkah pertama dan membangun kedekatan yang sehat?

Jawabannya adalah dari Roh Allah yang bekerja di dalam hidup Anda. Firman Tuhan berkata bahwa Roh Kudus tidak membuat Anda menjadi penakut, melainkan memberi kekuatan untuk mengasihi dan menikmati kebersamaan dengan orang lain.

Bagaimana Anda tahu bahwa Roh Allah bekerja dalam hidup Anda? Salah satu tandanya adalah Anda semakin berani dalam relasi. Anda tidak lagi dikuasai rasa takut, tetapi semakin bebas untuk mengasihi.

Alkitab mengatakan bahwa Allah adalah kasih dan kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan. Langkah pertama untuk membangun relasi yang lebih dalam sangat sederhana: berhenti sejenak, berdoa dan berkata : "Tuhan, berikan saya keberanian untuk mengambil langkah pertama."

Maukah Anda memanjatkan doa itu hari ini untuk salah satu relasi dalam hidup Anda?

Renungkan :

- Dalam hal apa ketakutan memengaruhi hubungan Anda saat ini?

- Kapan Anda pernah merasakan keberanian yang Tuhan berikan dalam sebuah relasi?

- Dalam relasi mana Anda perlu meminta pertolongan Tuhan untuk memulai langkah pertama menuju kedekatan yang lebih sehat?

Bacaan Alkitab Setahun :
Imamat 21-22; Matius 28
______________
Semakin Anda hidup dekat dengan Tuhan, semakin berkurang ketakutan dalam diri Anda.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
==========
Where to Find the Courage to Connect - Daily Hope with Rick Warren - February 19, 2026

"For the Holy Spirit, God's gift, does not want you to be afraid of people, but to be wise and strong, and to love them and enjoy being with them." 2 Timothy 1:7 (TLB)
---------------------
When you're full of fear and anxiety, you don't get close to other people. Instead, you back off. You fear being rejected, manipulated, vulnerable, hurt, or used, and these fears cause you to disconnect from the people around you.

This fear is as old as humanity. When Adam and Eve sinned, God came looking for them. Then Adam said, "I was afraid . . . and I hid myself" (Genesis 3:10 ESV). People have been hiding ever since.

You may not physically hide, but you hide your true self. You don't let people know what you're really like. You don't let them see inside you. Why? Because you believe that if you show people your true self and they don't like it, you'll be up a creek without a paddle. Instead, you pretend to be someone you're not.

Fear leads to three things that will damage your relationships:

Fear makes you defensive. You're afraid to reveal yourself, but people inevitably spot some of your weaknesses. And when they point out those weaknesses, you defend yourself and retaliate.

Fear keeps you distant. You're afraid to be open and honest—to let people get close to you. Instead, you withdraw and pull back, hide your emotions, and become defensive and distant.

Fear makes you demanding. The more insecure you are, the more you try to control and dominate. For you, it might look like always having to get in the last word in a conversation. Being demanding is always a symptom of fear and insecurity.

Clearly, fear only damages your relationships. But where do you get the courage to take the first step to connect with someone and move toward deeper intimacy?

You get it from God's Spirit in your life. Paul says in the Living Bible paraphrase, "For the Holy Spirit, God's gift, does not want you to be afraid of people, but to be wise and strong, and to love them and enjoy being with them" (2 Timothy 1:7).

How do you know you're filled with God's Spirit? You're filled with God's Spirit when you've become more courageous in your relationships. Rather than fearing people, you're free to love them and enjoy being with them.

The Bible says that "God is love" (1 John 4:8 TLB) and that "perfect love drives out all fear" (1 John 4:18 GNT). The more of God you have in your life, the less fear you're going to have in your life.

The starting point in connecting with anyone is to pause, pray, and say, "God, give me the courage to take the first step." Are you ready to pray that for one of your relationships today?

Keluarga yang Sehat adalah Keluarga yang Penuh Sukacita

17 Februari 2026

Bacaan Hari ini:
Pengkhotbah 11:8 "Oleh sebab itu jikalau orang panjang umurnya, biarlah ia bersukacita di dalamnya"
------------------
Berikut satu ciri penting keluarga yang sehat: keluarga yang sehat tahu bagaimana menikmati kebersamaan. Mereka tidak hanya menjalani hidup bersama, tetapi juga menikmati hidup itu bersama. Dengan kata lain, mereka tahu bagaimana bersukacita dan bersenang-senang.

Sayangnya, inilah yang sering hilang dalam banyak keluarga saat ini. Banyak keluarga terlalu sibuk, terlalu lelah, terlalu tertekan, terlalu negatif dan terlalu serius. Padahal, siapa yang ingin pulang ke rumah yang dipenuhi suasana seperti itu? Keluarga seharusnya menjadi tempat yang menyenangkan.

Alkitab bahkan menasihatkan hal ini secara jelas. Pengkhotbah 11:8 mengatakan bahwa manusia seharusnya menikmati hidup yang diberikan Allah kepadanya. Mengapa hal ini penting? Karena tidak seorang pun tahu berapa lama ia akan hidup. Anda tidak tahu apakah masih memiliki minggu depan, bulan depan atau bahkan hari esok. Karena itu, waktu untuk menikmati hidup adalah sekarang.

Kebersamaan yang penuh sukacita tidak hanya terbatas pada keluarga biologis atau keluarga adopsi. Jika Anda tinggal jauh dari keluarga, Anda tetap dapat membangun kebersamaan seperti ini di dalam keluarga gereja. Kelas Sekolah Minggu atau kelompok kecil dapat menjadi tempat yang baik untuk menikmati hidup bersama orang-orang dari berbagai usia.

Ketika anak-anak saya masih kecil, saya menetapkan satu tujuan penting: saya tidak ingin mereka hanya mengenal keluarga kami sebagai keluarga yang baik atau pintar, tetapi sebagai keluarga yang penuh kasih dan penuh sukacita. Karena itu, saya sengaja menciptakan berbagai kegiatan hanya untuk bersenang-senang bersama.

Salah satunya adalah kegiatan yang kami sebut "Petualangan Misterius Ayah." Anak-anak sangat menyukainya. Hingga kini, kegiatan itu menjadi kenangan berharga dan saya bahkan melakukannya bersama cucu-cucu saya. Saat anak-anak masih kecil, saya akan membangunkan mereka dan berkata, "Bangun! Hari ini kita akan berpetualang!" Mereka langsung bersemangat karena tahu hari itu akan diisi dengan hal-hal menyenangkan, entah itu pergi ke tempat berenang atau sekadar menikmati es krim bersama.

Ada satu hal penting yang perlu Anda ingat: orang mungkin lupa apa yang Anda katakan, tetapi mereka akan selalu mengingat bagaimana perasaan yang Anda tinggalkan dalam hati mereka. Nasihat ini berlaku bagi siapa pun—orang tua, pasangan, pemimpin, maupun sahabat.

Anak-anak saya tidak mengingat sebagian besar nasihat yang saya ucapkan ketika mereka masih kecil. Namun, mereka mengingat bagaimana perasaan mereka ketika bersama saya. Mereka mengingat bahwa kami menikmati kebersamaan itu.

Alkitab juga berkata, "Oleh sebab itu aku memuji kesukaan, karena tak ada kebahagiaan lain bagi manusia di bawah matahari, kecuali makan dan minum dan bersukaria. Itu yang menyertainya di dalam jerih payahnya seumur hidupnya yang diberikan Allah kepadanya di bawah matahari." (Pengkhotbah 8:15).

Renungkan :

- Kesibukan atau gangguan apa yang selama ini menghalangi keluarga Anda untuk menikmati kebersamaan?

- Apakah Anda lebih sering fokus pada apa yang Anda katakan kepada anak-anak atau orang terdekat, atau pada perasaan yang Anda ciptakan bagi mereka?

- Apa satu hal sederhana yang dapat Anda lakukan hari ini untuk menciptakan suasana yang lebih ceria dan menyenangkan di dalam keluarga atau kelompok kecil Anda?

Bacaan Alkitab Setahun :
Imamat 19-20; Matius 27:51-66
___________
Keluarga yang sehat tahu bagaimana bersukacita bersama.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
=========
Awesome Families Are Fun Families - Daily Hope with Rick Warren - February 17, 2026

"People ought to enjoy every day of their lives, no matter how long they live." Ecclesiastes 11:8 (NCV)
-------------------
Here's the first common denominator of great families: Awesome families are playful. They know how to have fun. They enjoy life together. In other words, they know how to play.

This is the missing ingredient in so many families today. These days, many families are too busy, too tired, too negative, too worn out, and too serious. Who wants to come home from school to that? Families should be fun.

The Bible talks about this and actually commands it. Ecclesiastes 11:8 says, "People ought to enjoy every day of their lives, no matter how long they live" (NCV).

Why is it important for you to enjoy every day? Because you don't know how long you're going to live. You don't know if you've got the next week or the next month. You don't even know if you've got tomorrow. Whatever living you're going to do, you better do it now.

You can think beyond your biological or adoptive family for this kind of fun too. If you don't live near your family, learn to have this kind of fun in your church family. Being part of a Sunday School class or small group can give you a great opportunity to find people of all ages to enjoy life with.

When my kids were growing up, I determined that the number one thing I wanted them to know about our family was not that we were good or smart—I wanted them to know that they were loved and that we had fun together. And I created all kinds of things to do just to have fun.

One of them was called Daddy's Magical Mystery Tour. The kids loved it. It's a hallowed tradition in our family. Now I do it with our grandkids. When the kids were in preschool and grade school, I'd wake them up and yell, "Get out of bed! It's time for Daddy's Magical Mystery Tour!" And they'd get excited because they knew that meant they didn't have to go to school and we were about to do something really fun, whether it was driving to a hotel with a pool or making an ice cream run.

You need to keep this in mind: People don't remember what you say, but they will remember how you make them feel. That's important advice for a boss, boyfriend or girlfriend, parent, or spouse.

My kids don't remember most of what I said in the early years of their lives. But they do remember how Daddy made them feel. They remember that we had a lot of fun.

Awesome families are playful.

"I recommend having fun. . . . That way [you] will experience some happiness along with all the hard work God gives [you]" (Ecclesiastes 8:15 NLT).


Minggu, 15 Februari 2026

Meninggalkan Warisan Kasih dan Pelayanan

16 Februari 2026

Bacaan Hari ini:
Ibrani 10:24 "Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik"
--------------------
Keluarga yang sehat mengajarkan kepada anak-anaknya bahwa mereka bukan pusat dari segalanya. Keluarga seperti ini menolong setiap anggotanya memahami bahwa Allah menciptakan mereka dengan tujuan dan panggilan. Mereka memberi teladan dalam kesetiaan, pelayanan, kemurahan hati, dan doa.

Keluarga yang biasa-biasa saja jarang melakukan hal-hal tersebut. Namun keluarga yang sungguh-sungguh membangun iman akan melakukannya dengan konsisten.

Saya menjadi pribadi seperti sekarang ini karena didikan orang tua saya. Mereka menanamkan nilai penting untuk peduli kepada orang lain.

Orang tua saya tidak memiliki banyak uang, tetapi mereka memiliki hati yang murah dan terbuka. Mereka senang memberi, meskipun hidup dalam keterbatasan. Kami tinggal di daerah pedesaan dan ayah saya menanam kebun yang sangat luas dengan berbagai jenis sayuran. Hasilnya jauh lebih banyak daripada yang kami butuhkan. Tujuannya bukan untuk disimpan, melainkan untuk dibagikan—karena ia tidak memiliki kelebihan uang, tetapi ingin tetap menolong orang lain.

Rumah kami hampir selalu dipenuhi tamu. Orang-orang yang sedang terluka datang ke rumah kami. Mereka yang sedang dalam perjalanan singgah di rumah kami. Mereka yang sedang mengalami konflik atau pergumulan juga datang ke rumah kami. Bahkan para pemimpin rohani yang lewat di daerah kami sering menginap di rumah kami.

Suatu hari, ayah saya menghitung berapa banyak makanan yang dimasak ibu saya untuk para tamu dalam satu tahun. Jumlahnya lebih dari seribu porsi! Saya dibesarkan dengan sikap hidup yang sederhana: hidup bukan tentang diri sendiri, melainkan tentang melayani orang lain.

Itulah yang dilakukan keluarga yang membangun iman. Mereka saling mengajar untuk mengasihi dan melakukan perbuatan baik—melayani dan menolong sesama.

Alkitab memberikan contoh melalui keluarga Kornelius: "Ia saleh, ia serta seisi rumahnya takut akan Allah dan ia memberi banyak sedekah kepada umat Yahudi dan senantiasa berdoa kepada Allah. " (Kisah Para Rasul 10:2)

Itu adalah warisan yang indah. Bukankah Anda juga ingin suatu hari nanti orang-orang mengingat Anda dan keluarga Anda dengan cara seperti itu?

Renungkan :

- Warisan seperti apa yang ingin Anda tinggalkan melalui hidup Anda? Apa langkah nyata yang dapat Anda lakukan untuk mewujudkannya?

- Jika Anda tidak memiliki anak, siapa generasi muda di sekitar Anda yang dapat Anda bimbing dan dorong untuk hidup sesuai tujuan Allah?

- Bagaimana Anda dapat menggunakan rumah Anda—baik rumah besar maupun tempat tinggal sederhana—sebagai sarana untuk melayani orang lain?

Bacaan Alkitab Setahun :
Imamat 17-18; Matius 27:27-50
____________
Baik Anda memiliki anak atau tidak, Allah tetap memanggil Anda untuk meninggalkan warisan kasih dan pelayanan. Di sekitar Anda selalu ada orang yang lebih muda—baik dalam usia maupun dalam iman. Maukah Anda meluangkan waktu untuk menolong mereka belajar melayani dan mengasihi sesama?

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
============
Leave a Legacy of Love and Service - Daily Hope with Rick Warren - February 16, 2026

"Let us think about each other and help each other to show love and do good deeds." Hebrews 10:24 (NCV)
------------------
Awesome families teach their kids that they're not the center of the universe. They help their kids understand that God made them and shaped them for a mission. They model dedication, service, generosity, and prayer. Average families don't do those things. Awesome families do.

I am the man that I am today because of my parents. They instilled in me the value of caring about other people.

My parents didn't have much money, but they both had the gifts of hospitality and generosity. They loved to give to others even though they didn't have much. We lived out in the country, and my dad would plant an acre garden with all kinds of vegetables. There was no way our family could eat all that food, but he did it just so he could give it away—because he didn't have any extra money to give. So we always planted more than we needed and then gave it away to help people in need.

Our home was constantly filled with visitors. If people were in pain, they were at our house. If they were on the road, they were at our house. If they were going through a conflict, they were at our house. If they were a Christian leader coming through town, they were at our house. One day my dad added up how many meals my mom had cooked for guests in our home in one year. It was over a thousand meals! I grew up learning a "give your life away" attitude. My parents taught me that life's not about me; it's about helping other people.

That's what awesome families do. They teach each other to show love and to do good deeds—to minister and to serve.  

A good example of this is Cornelius' family in the book of Acts: "He and all his family were devout and God-fearing; he gave generously to those in need and prayed to God regularly" (Acts 10:2 NIV).

What a great legacy! Wouldn't you like to have people writing that about you and your family one day?

Whether you have children or not, God wants you to leave a legacy like that. You'll find people younger in age—or younger in the faith—all around you. Will you take the time to help them learn to serve the people around them?


Sabtu, 14 Februari 2026

Mengasihi dengan Kasih yang Tak Berkesudahan

15 Februari 2026

Bacaan Hari ini:
Filipi 1:7 "Memang sudahlah sepatutnya aku berpikir demikian akan kamu semua, sebab kamu ada di dalam hatiku"
--------------
Ada satu kenyataan sederhana dalam hidup: orang yang tidak kita tempatkan di hati, sering kali justru terasa mengganggu. Jika pasangan, anak, sahabat atau rekan kerja tidak kita kasihi dari hati, hubungan dengan mereka mudah berubah menjadi sumber kejengkelan.

Banyak pernikahan mengalami masalah karena suami dan istri saling bereaksi dari pikiran, bukan dari hati. Ketika istri berkata, "Saya merasa sedih atau tertekan," perasaan itu perlu didengarkan dan dihargai. Ketika suami berkata, "aya merasa ini bukan keputusan yang tepat," pendapat itu juga perlu didengarkan.

Mengasihi dari hati berarti berusaha memahami perasaan orang lain, bukan langsung membantah atau menghakimi. Ajukan pertanyaan, lalu dengarkan dengan sungguh-sungguh. Cobalah melihat persoalan dari sudut pandang mereka. Perhatikan luka yang mungkin tersembunyi di balik kata-kata atau sikap mereka.

Namun, mengasihi orang-orang terdekat tidak selalu mudah. Bahkan ketika Anda sudah berusaha memahami, rasa lelah dan kecewa tetap bisa muncul. Di sinilah Anda membutuhkan kasih yang lebih besar daripada kasih manusia biasa.

Rasul Paulus berkata, "Sebab Allah adalah saksiku betapa aku dengan kasih mesra Kristus Yesus merindukan kamu sekalian." (Filipi 1:8). Kasih yang ia maksud bukanlah kasih yang berasal dari kekuatan manusia, melainkan kasih yang berasal dari Yesus sendiri.

Kasih manusia bisa habis. Ia dapat melemah ketika menghadapi masalah, luka batin atau keadaan yang sulit. Tetapi kasih Allah tidak pernah habis. Kasih inilah yang sanggup membuat seseorang tetap mengasihi, bahkan ketika keadaan tidak menyenangkan.

Bagaimana Anda bisa memiliki kasih seperti itu? Alkitab menjelaskan: "Kasih Allah telah dicurahkan ke dalam hati kita oleh Roh Kudus" (Roma 5:5).

Renungkan :

- Kapan terakhir kali Anda tetap memilih mengasihi seseorang meskipun perasaan Anda tidak mendukung?

- Apa yang dapat Anda lakukan agar lebih mau mendengarkan dan memahami perasaan orang-orang terdekat Anda?

- Dalam hal apa Anda perlu meminta Tuhan menolong Anda mengasihi dengan kasih-Nya yang tidak pernah habis?

Bacaan Alkitab Setahun :
Imamat 15-16; Matius 27:1-26
____________
Kasih ini bukan sesuatu yang Anda hasilkan sendiri. Kasih ini adalah pemberian Allah, yang bekerja di dalam hidup Anda ketika Anda menyerahkan diri kepada-Nya setiap hari.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
=========
Love with a Lasting Love - Daily Hope with Rick Warren - February 15, 2026

"It is right for me to feel this way about all of you, since I have you in my heart." Philippians 1:7 (NIV)
--------------------
I've discovered that if people are not on my heart, they're likely on my nerves. If you don't have your spouse, kids, friends, or coworkers on your heart, they can start to get on your nerves too.

The reason so many marriages struggle is that spouses often react to each other from their minds rather than their hearts. When your wife says, "I feel depressed," listen to her; it's legitimate. When your husband says, "I don't feel this is the right thing to do; we ought to do it this other way," listen to him.

Heart love begins with understanding why someone feels the way they do. Ask questions and then listen. Hear the hurt, look at the problems from their point of view, and work to know what makes your them tick. Try to understand the temperaments of the people in your life and why they act the way they do. If you care, you'll be aware.

Sometimes it's a struggle to love the people closest to you, even when you're working hard to understand them. So how does one do it? "God can testify how I long for all of you with the affection of Christ Jesus" (Philippians 1:8 NIV). In Greek, the word affection is the word for intestines. The Greeks thought that the seat of emotion was in your stomach, your liver, your internal organs.

Paul was saying, "My love for you comes from a gut feeling." That is not a natural kind of love. It is supernatural. That's why Paul said it's not from himself, but it's the affection of Christ Jesus.

Human love wears out. It dries up and dies on the vine. The only kind of love that lasts in spite of heartache and difficulty and tough circumstances is God's love—the affection of Jesus.

So how do you get this kind of gut love? "God has poured out his love into our hearts by means of the Holy Spirit, who is God's gift to us" (Romans 5:5 GNT). God's love is not something you work to build up. It is something that is poured into you by the Holy Spirit as you let him live in you day by day.


Jumat, 13 Februari 2026

Relasi Seperti Jas Hujan di Tengah Badai Kehidupan

14 Februari 2026

Bacaan Hari ini:
Pengkhotbah 4:9–10 "Berdua lebih baik dari pada seorang diri,... kalau mereka jatuh, yang seorang mengangkat temannya, tetapi wai orang yang jatuh, yang tidak mempunyai orang lain untuk mengangkatnya!"
---------------
Relasi ibarat jas hujan di tengah badai kehidupan. Ketika sahabat atau anggota keluarga menghadapi badai, Anda saling melindungi. Orang-orang yang berkomitmen satu sama lain akan saling menjaga ketika badai datang.

Pengkhotbah 4:9–10 mengingatkan: "Berdua lebih baik dari pada seorang diri,... kalau mereka jatuh, yang seorang mengangkat temannya, tetapi wai orang yang jatuh, yang tidak mempunyai orang lain untuk mengangkatnya!"

Hidup membawa berbagai macam badai. Terkadang badai itu berupa masa-masa perubahan; di lain waktu, badai hadir sebagai pengaruh yang merugikan. Dalam semua situasi itu, Anda dipanggil untuk melindungi orang-orang yang Anda kasihi.

Namun, badai yang paling menyakitkan adalah penolakan. Ketika seorang sahabat, anak atau pasangan merasa ditolak, Anda—bersama orang-orang terdekat lainnya—perlu berdiri di sekeliling mereka dan menjadi jas hujan yang melindungi di tengah badai tersebut.

Bertahun-tahun yang lalu, anak sulung saya, Amy, masih duduk di bangku SMA. Ia mengikuti seleksi pemandu sorak dan berlatih dengan sungguh-sungguh. Pada akhirnya, teman-temannya diterima, tetapi ia tidak. Penolakan itu sangat melukai hatinya.

Ketika pulang ke rumah, ia berlari ke kamarnya, masuk ke dalam lemari, duduk di lantai dan menangis tersedu-sedu. Semua anggota keluarga mendengar tangisannya. Satu per satu, tanpa direncanakan, kami masuk ke kamarnya, duduk di lantai di dalam lemari itu, dan menangis bersamanya.

Kami tidak memberinya nasihat—ia tidak membutuhkannya. Kami tidak berkata, "Jangan khawatir, itu bukan masalah besar." Bagi Amy, itu adalah masalah besar. Kami juga tidak berkata, "Jangan menangis." Itu bukan respons yang penuh empati bagi seseorang yang sedang berduka. Sebaliknya, selama sekitar tiga puluh menit, kami hanya duduk di sana dan menangis bersamanya.

Keluarga kami tidak pernah melupakan pengalaman itu. Mengapa? Karena pada saat itu, kami menjadi jas hujan bagi Amy. Kami melindunginya di tengah badai. Ketika salah satu dari kami terluka, kami tidak meremehkannya, tidak mencoba mengalihkannya, dan tidak memaksanya untuk segera merasa lebih baik. Kami hanya hadir dan berbagi air mata.

Renungkan :

- Mengapa seseorang seharusnya merasakan dukungan terbesar justru dari keluarganya?

- Ketika seorang anak atau orang terdekat Anda mengalami penolakan, apa reaksi Anda biasanya? Menurut Anda, apa respons yang penuh kasih dan sesuai dengan Alkitab?

- Dalam hal apa Anda terkadang mencoba "membujuk" orang lain agar tidak merasa terluka atau ditolak? Mengapa sikap ini justru dapat melukai mereka?

Bacaan Alkitab Setahun :
Imamat 14; Matius 26:51-75
___________
Keluarga yang sehat—baik keluarga biologis, keluarga adopsi, maupun keluarga rohani—saling melindungi di tengah badai kehidupan.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
=========
Relationships Are like a Raincoat in Life's Storms - Daily Hope with Rick Warren - February 15, 2026

"Two are better off than one. . . . If one of them falls down, the other can help him up. But if someone is alone and falls, it's just too bad, because there is no one to help him." Ecclesiastes 4:9-10 (GNT)
---------------------
Relationships are like a raincoat during the storms of life. When friends or family members go through a storm, you help each other. People committed to one another protect each other in the storm.

Ecclesiastes 4:9-10 says, "Two are better off than one. . . . If one of them falls down, the other can help him up. But if someone is alone and falls, it's just too bad, because there is no one to help him" (GNT).

Life brings all kinds of storms, and you'll need to protect your loved ones through them. Sometimes those storms are seasons of change; other times they come as harmful influences.

But the most painful storm of all is rejection. When your friend, your child, or your spouse feels rejected, you—and others close to them—need to rally around them and act as a raincoat in the storm.

Many years ago, my oldest child, Amy, was in high school. She tried out to be a cheerleader. She went to practice after practice for the tryouts. Eventually, her friends got accepted, but she was rejected—and it broke her heart. When she came home, she ran into her room, went into her closet, sat down on the floor, and burst into tears.

Everyone in our family could hear Amy crying. And one by one, all on our own, we ended up walking into her room, sitting down on the floor in her closet, and crying with her.

We didn't give her any advice; she didn't need advice. We didn't say, "Don't worry. It's not a big deal." It was a big deal! We didn't say, "Don't cry!" That's an insensitive thing to say to somebody who's grieving. Instead, we all sat there for about 30 minutes and just cried with her.

Our family will never forget that experience. Why? Because, at that point, we were being a raincoat for Amy. We were being storm catchers. We were being protectors. Somebody in our family had been hurt, and we weren't demeaning it. We weren't trying to talk her out of it. We weren't trying to cheer her up. We just wept with her.

Awesome families—biological, adoptive, and spiritual—protect each other in the storm.


Kamis, 12 Februari 2026

Bagaimana Keluarga Saling Menolong untuk Bertumbuh

13 Februari 2026

Bacaan Hari ini:
Yohanes 13:14–15 "Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu; sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu."
------------------
Salah satu ciri keluarga yang sehat—baik keluarga biologis, keluarga adopsi, maupun keluarga gereja—adalah kemauan untuk saling menolong agar setiap anggotanya bertumbuh. Namun, bagaimana caranya menolong satu sama lain untuk bertumbuh dengan benar?

Ada dua cara yang efektif untuk menolong orang bertumbuh, dan ada dua cara yang justru tidak membantu. Prinsip-prinsip ini berlaku dalam semua relasi, bukan hanya di dalam keluarga.

Cara yang menolong pertumbuhan

1. Melalui teladan

Yesus mengajar murid-murid-Nya melalui teladan hidup. Alkitab mencatat: "Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu; sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu." (Yohanes 13:14–15).
Anak-anak—dan sesungguhnya siapa pun—tidak terlalu membutuhkan khotbah panjang. Mereka membutuhkan contoh nyata. Mereka ingin melihat bagaimana Yesus dinyatakan melalui sikap, perkataan, dan tindakan Anda setiap hari.

2. Melalui percakapan yang bermakna

Jika Anda tidak memiliki percakapan yang jujur dan bermakna tentang kehidupan, Anda sedang melewatkan banyak kesempatan untuk menolong orang lain bertumbuh. Sayangnya, banyak percakapan dalam keluarga hanya berkisar pada jadwal, makanan atau tugas—bukan tentang hal-hal yang sungguh penting dalam hidup.
Ulangan 6:7 menasihatkan: "haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun."

Cara yang tidak menolong pertumbuhan

1. Melalui kritik dan celaan

Mengomel, menyalahkan, atau mengkritik tidak pernah efektif untuk membawa perubahan sejati. Ketika Anda mengkritik, fokus Anda tertuju pada apa yang tidak Anda inginkan, bukan pada pertumbuhan yang Anda harapkan.
Alkitab mengingatkan: "Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu ,tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan." (Efesus 6:4).

2. Melalui perbandingan

Setiap orang diciptakan unik. Tidak ada seorang pun yang sama persis dengan orang lain. Karena itu, membandingkan satu orang dengan yang lain tidak pernah menghasilkan pertumbuhan—bahkan sering merusak relasi.
Alkitab berkata: "Baiklah tiap-tiap orang menguji pekerjaannya sendiri; maka ia boleh bermegah melihat keadaannya sendiri dan bukan melihat keadaan orang lain." (Galatia 6:4).

Inilah rancangan Allah bagi keluarga dan komunitas. Alkitab menasihatkan: "Karena itu, nasihatilah seorang akan yang lain dan saling membangunlah kamu, seperti yang memang kamu lakukan" (1 Tesalonika 5:11).

Renungkan :

- Perhatikan percakapan Anda dengan keluarga atau sahabat dalam satu atau dua hari terakhir. Apakah percakapan itu menyentuh hal-hal yang sungguh penting dalam hidup? Jika belum, bagaimana Anda dapat mengarahkannya ke sana?

- Jika Anda seorang orang tua, dalam hal apa terakhir kali Anda menegur anak Anda? Bagaimana Anda dapat menjadi teladan terlebih dahulu dalam hal tersebut, bukan hanya memberi perintah?

- Daripada membandingkan atau mengkritik, langkah apa yang dapat Anda ambil hari ini untuk membangun dan menguatkan orang-orang di sekitar Anda?

Bacaan Alkitab Setahun :
Imamat 13; Matius 26:26-50
_____________
Alkitab penuh dengan arahan tentang bagaimana manusia seharusnya saling memperlakukan. Bahkan terdapat puluhan perintah "saling": saling mengasihi, saling peduli, saling mendoakan, saling menguatkan, saling menolong, saling menasihati, dan saling menopang.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
===========
How Families Can Help Each Other Grow - Daily Hope with Rick Warren - February 13, 2026

"Since I . . . have washed your feet, you ought to wash each other's feet. I have given you an example to follow. Do as I have done to you." John 13:14-15 (NLT)
------------------
One of the marks of an awesome family—whether it's your biological family, your adoptive family, or your church family—is that you help each other grow. But how do you do that?

Let me give you two methods that help people grow and two that don't. These apply in every area of life, not just in families.

People do help each other grow:

1. Through example. Jesus did this in teaching his disciples. John 13:14-15 says, "Since I . . . have washed your feet, you ought to wash each other's feet. I have given you an example to follow. Do as I have done to you" (NLT). Your kids don't want to hear a sermon. They want to see Jesus' example in your life.

2. Through conversations. If you're not having critical conversations with your kids about real issues, you're missing opportunities to help them grow. Unfortunately, most conversations parents have with kids are about schedules, eating, or homework—not about the things that really matter in life.

Deuteronomy 6:7 says, "Repeat [God's commandments] again and again to your children. Talk about them when you are at home and when you are on the road, when you are going to bed and when you are getting up" (NLT).

On the other hand, people don't help each other grow:

1. Through criticism. Nagging doesn't work. Condemning doesn't work. Criticizing and complaining are totally ineffective in helping a person change. Why? Because when you criticize, you're focusing on what you don't want rather than what you do want.

The Living Bible paraphrase says, "Don't keep on scolding and nagging your children, making them angry and resentful. Rather, bring them up with the loving discipline the Lord himself approves, with suggestions and godly advice"(Ephesians 6:4).

2. Through comparing. Everybody's unique. There's nobody in the world like you! That's why comparing never, ever works. In fact, it's lethal to any relationship. The Bible says, "Each person should judge his own actions and not compare himself with others. Then he can be proud for what he himself has done" (Galatians 6:4 NCV).

The Bible is full of instructions and examples about how people should treat each other. In fact, the Bible includes 58 "one another" statements—things like love one another, care for one another, pray for one another, encourage one another, help one another, counsel one another, and support one another.

That's the way God meant for it to be. The New Testament tells us to "encourage one another and build each other up, just as in fact you are doing" (1 Thessalonians 5:11 NIV).