Sabtu, 11 April 2026

Anda—Ya, Anda—Dipanggil untuk Melayani Tuhan

12 April 2026

Bacaan Hari ini:
Roma 6:13 "Dan janganlah kamu menyerahkan anggota-anggota tubuhmu kepada dosa untuk dipakai sebagai senjata kelaliman, tetapi serahkanlah dirimu kepada Allah sebagai orang-orang, yang dahulu mati, tetapi yang sekarang hidup. Dan serahkanlah anggota-anggota tubuhmu kepada Allah untuk menjadi senjata-senjata kebenaran"
----------------------
Tidak ada sukacita yang lebih besar daripada dipakai oleh Allah untuk suatu tujuan yang lebih besar daripada diri Anda sendiri. Tidak ada yang dapat dibandingkan dengan perasaan yang Anda rasakan pada saat Anda menyadari, “Inilah dia! Inilah alasan saya hidup. Sekarang saya mengerti.”

Jika Anda belum pernah merasakan hal ini, Anda kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Tujuan hidup bukanlah sekadar mendapatkan pendidikan, memperoleh pekerjaan, menghasilkan uang, dan pensiun sebelum Anda meninggal. Hidup Anda jauh lebih berarti daripada karier Anda. Anda diciptakan untuk tujuan yang kekal.

Alkitab menyatakan, "Dan janganlah kamu menyerahkan anggota-anggota tubuhmu kepada dosa untuk dipakai sebagai senjata kelaliman, tetapi serahkanlah dirimu kepada Allah sebagai orang-orang, yang dahulu mati, tetapi yang sekarang hidup. Dan serahkanlah anggota-anggota tubuhmu kepada Allah untuk menjadi senjata-senjata kebenaran"

Masalahnya adalah, banyak orang diam-diam takut bahwa Allah tidak mungkin dapat memakai mereka. Beberapa orang merasa tidak layak karena dosa dan kesalahan di masa lalu mereka. Yang lain merasa tidak memenuhi syarat karena mereka merasa tidak memiliki pendidikan, talenta, atau latar belakang yang tepat.

Mungkin Anda merasakan salah satu dari dua hal tersebut—tidak layak atau tidak memenuhi syarat. Namun Anda hanya perlu melihat kehidupan rasul Paulus untuk mengetahui bahwa Allah ingin memakai Anda dengan cara yang bahkan tidak dapat Anda bayangkan.

Tidak ada seorang pun dalam sejarah yang dipakai oleh Allah lebih daripada Paulus. Paulus hampir seorang diri menyebarkan kekristenan ke seluruh Kekaisaran Romawi. Ia mendirikan banyak jemaat di berbagai tempat. Ia menulis sekitar setengah dari Perjanjian Baru. Ia hidup dengan tujuan untuk menyenangkan Allah.

Namun, tahukah Anda apa yang Paulus lakukan sebelum ia menjadi pengkhotbah, gembala, dan perintis jemaat? Ia adalah seorang penentang kekristenan. Ia pergi dari desa ke desa menganiaya orang-orang Kristen dan membuat mereka dipenjarakan. Paulus adalah kebalikan dari seseorang yang Anda kira dapat dipakai oleh Allah.

Paulus menulis, "Sebab kamu telah mendengar tentang hidupku dahulu dalam agama Yahudi: tanpa batas aku menganiaya jemaat Allah dan berusaha membinasakannya. Tetapi waktu Ia, yang telah memilih aku sejak kandungan ibuku dan memanggil aku oleh kasih karunia-Nya" (Galatia 1:13, 15)

Masa lalu Anda adalah masa lalu. Hal itu tidak membuat Anda tidak layak untuk dipakai oleh Allah. Hal yang sama juga berlaku untuk berbagai kesempatan yang pernah atau tidak pernah Anda miliki. Semua itu tidak membuat Anda tidak memenuhi syarat. Allah telah memilih dan memanggil Anda dan Ia ingin memakai Anda hari ini karena "kasih karunia-Nya yang ajaib."

Renungkan:

- Dosa atau kesalahan apa dari masa lalu Anda yang membuat Anda merasa tidak layak untuk dipakai oleh Allah? Aspek apa dari diri Anda atau kisah hidup Anda yang membuat Anda merasa tidak memenuhi syarat?

- Siapakah dalam hidup Anda yang seperti Paulus—seseorang yang pernah membuat banyak kesalahan tetapi pada akhirnya dipakai oleh Allah secara luar biasa? Bagaimana kisah orang tersebut menguatkan Anda?

- Jelaskan suatu waktu ketika Anda mengetahui bahwa Allah sedang memakai Anda untuk tujuan yang lebih besar daripada diri Anda sendiri. Apa yang menjadi ciri kehidupan Anda pada saat itu? Bagaimana Anda dapat membuka diri untuk dipakai oleh Allah dengan cara yang serupa hari ini?

Bacaan Alkitab Setahun :
1 Samuel 17-18; Lukas 11:1-28
___________
Masa lalu Anda tidak menentukan masa depan Anda.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
==========
You—Yes, You—Are Qualified to Serve God - Daily Hope with Rick Warren - April 12, 2026

“Give yourselves completely to God—every part of you—for you are back from death and you want to be tools in the hands of God, to be used for his good purposes.” Romans 6:13 (TLB)
---------------------
There is no greater joy than to be used by God for a purpose bigger than yourself. Nothing compares to that feeling you get the moment you realize, “This is it! This is why I’m alive. I get it now.”

If you’ve never had this feeling, you’re missing out. The purpose of life isn’t to get an education, get a job, make money, and retire before you die. Your life is far more significant than your career. You were made for eternal purposes.

The Living Bible paraphrase says, “Give yourselves completely to God—every part of you—for you are back from death and you want to be tools in the hands of God, to be used for his good purposes” (Romans 6:13 TLB).

The problem is, many people secretly fear that God could never use them. Some people feel disqualified because of their past sins and mistakes. Others feel unqualified because they don’t feel like they have the right education, talents, or background.  

Maybe you feel one of those two ways—disqualified or unqualified. But you only have to look at the life of the apostle Paul to know that God wants to use you in ways you can’t even imagine.

Nobody in history has been used by God more than Paul. Paul almost single-handedly spread Christianity all over the Roman Empire. He planted churches everywhere. He wrote about half of the New Testament. He lived with purpose to please God.

But do you know what Paul was doing before he became a preacher, a pastor, and a church planter? He was an anti-Christian crusader. He went from village to village persecuting Christians, having them thrown into prison. Paul was the exact opposite of someone you’d think God could use.

Paul wrote, “You know what I was like . . . how I violently persecuted God’s church. I did my best to destroy it. . . . But even before I was born, God chose me and called me by his marvelous grace” (Galatians 1:13, 15 NLT).

Your past does not preclude your future. Your past is past. It doesn’t disqualify you from being used by God. The same is true with the kinds of opportunities you’ve had or didn’t have. They don’t make you unqualified. God chose you and called you, and he wants to use you today because of “his marvelous grace.”


Cara Ajukan Pengurangan PBB 2026, Ini Syarat dan Batas Waktunya

https://www.detik.com/properti/tips-dan-panduan/d-8437527/cara-ajukan-pengurangan-pbb-2026-ini-syarat-dan-batas-waktunya

Simon of Cyrene

I received this and wanted to share. Quite beautiful, and so very meaningful...

*Simon of Cyrene*

I did not wake up that morning expecting to carry a cross.

I was just passing through.
Just another man in the crowd.
Just another face in Jerusalem.
Just another pilgrim with dust on my sandals and plans for the day.

I had children to think about.
Work waiting.
Responsibilities.
A life that felt ordinary.

And then Rome interrupted me.
The soldiers’ hands were rough.
They did not ask.
They seized me.
“You. Carry it.”

I remember the weight of it before it ever touched my shoulders.
The splintered wood.
The metallic scent of blood already soaked into it.
The murmuring crowd.
The sound of women weeping.
The hatred.
The chaos.

And then I saw Him.
His back was shredded and torn open.
His face barely recognizable.
Blood matted in His hair.
A crown of thorns pressed into skin.

He was trying to carry it.
Trying.
But His body was giving out under the weight.

And suddenly, that weight became mine.
I wanted to protest.
I wanted to say, “This is not my fight. I have done nothing wrong. I do not belong in this story.”

But before the words could leave my mouth, the wood pressed into my shoulder.
The cross was heavier than I imagined.
It dug into flesh.
It scraped bone.
It pressed the air out of my lungs.

And I was angry.
Angry at the soldiers.
Angry at the crowd.
Angry that my day had been interrupted by someone else’s suffering.

But then I looked at Him.
He was close enough that I could hear His breathing.
Labored.
Shallow.
Determined.

His eyes met mine.
There was no resentment there.
No shame.
No apology.
Only love.

Love?
For me?
I was the one forced to carry His cross.
I was the unwilling participant.
The drafted helper.
The man caught in the wrong place at the wrong time.
And yet when His eyes met mine, it felt like I had been chosen.

Chosen.
I thought I was helping Him.
But somewhere between Pilate’s Hall and Golgotha, I realized something terrifying and holy, He was letting me carry it.

The weight on my shoulders was wood and blood and splinters.

But the weight on His shoulders was the sin of the world.
My burden was temporary.
His was eternal.

And still…
He let me step into it.
He let me feel the heaviness.
He let me taste the cost.
He let me walk beside Him in the suffering.

I had planned to simply observe Passover.
Instead, I carried the Lamb.

I did not know then that this cross would not be the end.
I did not know that three days later the stone would roll.
That death would bow.
That the One I walked beside would rise in glory.

All I knew was the weight.
And sometimes I think about that day when my life was interrupted by obedience I did not volunteer for.

I have come to understand something since then.
Some crosses we do not choose.
Some burdens find us.
Some callings feel forced upon our shoulders by circumstances we did not pray for.
But if you look closely—
He is always near.

Breathing.
Bleeding.
Walking beside you.
And what feels like punishment
may be proximity.
What feels like interruption
may be invitation.
What feels like inconvenience
may be initiation into glory.

I thought Rome conscripted me.
But Heaven had written my name into the story long before that morning.
I carried His cross for a mile.
He carried mine for eternity.
And now when I feel the weight of obedience,
when I feel pressed into service I did not plan,
when suffering brushes up against my life without permission—

I remember His eyes.
And I no longer ask,
“Why me?”
I whisper instead,
“Let me be close enough to feel the weight.”
===========
Saya menerima ini dan ingin berbagi. Cukup indah, dan sangat bermakna...

*Simon dari Kirene*

Saya tidak bangun pagi itu dengan harapan memikul salib.

Saya baru saja lewat.
Hanya seorang pria lain di antara kerumunan itu.
Hanya wajah lain di Yerusalem.
Hanya seorang peziarah dengan debu di sandal saya dan rencana untuk hari itu.

Aku punya anak untuk dipikirkan.
Pekerjaan menunggu.
Tanggung jawab.
Kehidupan yang terasa biasa saja.

Dan kemudian Roma menyela saya.
Tangan para prajurit itu kasar.
Mereka tidak bertanya.
Mereka menangkap saya.
"Kamu. Bawalah."

Saya ingat beratnya sebelum menyentuh bahu saya.
Kayu yang pecah.
Aroma darah metalik sudah meresap ke dalamnya.
Kerumunan yang bergumam.
Suara wanita menangis.
Kebencian.
Kekacauan.

Dan kemudian saya melihat Dia.
Punggungnya robek dan robek.
Wajahnya hampir tidak bisa dikenali.
Darah berceceran di rambut-Nya.
Mahkota duri menempel di kulit.

Dia mencoba membawanya.
Mencoba.
Namun tubuh-Nya lemas karena beban.

Dan tiba-tiba, beban itu menjadi milikku.
Saya ingin memprotes.
Saya ingin mengatakan, "Ini bukan pertarungan saya. Saya tidak melakukan kesalahan apa pun. Saya tidak pantas berada dalam cerita ini."

Tapi sebelum kata-kata itu keluar dari mulutku, kayu itu menempel di bahuku.
Salib itu lebih berat dari yang saya bayangkan.
Itu menggali ke dalam daging.
Itu menggores tulang.
Itu menekan udara keluar dari paru-paruku.

Dan saya marah.
Marah pada tentara.
Marah pada orang banyak.
Marah karena hariku diganggu oleh penderitaan orang lain.

Namun kemudian aku memandang Dia.
Dia cukup dekat sehingga saya bisa mendengar napas-Nya.
Bekerja keras.
Dangkal.
Bertekad.

Matanya bertemu mataku.
Tidak ada rasa dendam di sana.
Tidak perlu malu.
Tidak ada permintaan maaf.
Hanya cinta.

Cinta?
Untukku?
Akulah yang terpaksa memikul salib-Nya.
Saya adalah peserta yang enggan.
Pembantu yang dirancang.
Pria itu terjebak di tempat yang salah pada waktu yang salah.
Namun ketika mata-Nya bertemu dengan mataku, rasanya seperti aku telah dipilih.

Terpilih.
Saya pikir saya sedang membantu Dia.
Namun di suatu tempat antara Aula Pilatus dan Golgota, saya menyadari sesuatu yang menakutkan dan sucidia membiarkanku membawanya.

Beban di pundakku adalah kayu, darah, dan serpihan.

Namun beban di pundak-Nya adalah dosa dunia.
Beban saya hanya bersifat sementara.
Miliknya abadi.

Dan masih…
Dia membiarkanku masuk ke dalamnya.
Dia membiarkanku merasakan bebannya.
Dia membiarkan saya merasakan biayanya.
Dia membiarkanku berjalan di samping-Nya dalam penderitaan.

Saya berencana untuk sekadar merayakan Paskah.
Sebaliknya, saya membawa Anak Domba itu.

Saat itu saya tidak tahu bahwa salib ini bukanlah akhir.
Saya tidak tahu bahwa tiga hari kemudian batu itu akan terguling.
Kematian itu akan tunduk.
Bahwa Dia yang berjalan di sampingku akan bangkit dalam kemuliaan.

Yang saya tahu hanyalah beratnya.
Dan kadang-kadang saya berpikir tentang hari ketika hidup saya terganggu oleh ketaatan yang tidak saya lakukan secara sukarela.

Saya mulai memahami sesuatu sejak saat itu.
Beberapa persilangan tidak kita pilih.
Beberapa beban menemukan kita.
Beberapa pemanggilan terasa dipaksakan ke pundak kita karena keadaan yang tidak kita doakan.
Tapi jika kamu melihat lebih dekat—
Dia selalu dekat.

Pernafasan.
Perdarahan.
Berjalan di sampingmu.
Dan apa yang terasa seperti hukuman
mungkin kedekatan.
Apa yang terasa seperti gangguan
mungkin undangan.
Apa yang terasa seperti ketidaknyamanan
mungkin inisiasi menuju kemuliaan.

Saya pikir Roma mewajibkan saya.
Namun Surga telah menuliskan namaku ke dalam cerita itu jauh sebelum pagi itu.
Saya memikul salib-Nya sejauh satu mil.
Dia membawa milikku untuk selamanya.
Dan kini ketika aku merasakan beban ketaatan,
ketika saya merasa terdesak untuk bertugas, saya tidak membuat rencana,
ketika penderitaan menyerang hidupku tanpa izin—

Saya ingat matanya.
Dan aku tidak lagi bertanya,
“Kenapa aku?”
Aku malah berbisik,
“Biarkan aku berada cukup dekat untuk merasakan bebannya..”

Jumat, 10 April 2026

KOK JUSUF KALLA BILANG ORANG KRISTEN DIPERINTAHKAN BUNUH ORANG ISLAM? Ku...

https://youtube.com/watch?v=S2ghRLL9p2k&si=hl1h0ktAZvbRgNyb

FITNAH KEJI JUSUF KALLA : KRISTEN DIAJAR MEMBUNUH ? || Ps Lukas Kusuma |...

https://youtube.com/watch?v=s9DdPliccVE&si=FdpJK8T303rKwVQI

Perbedaan yang Dihasilkan oleh Belas Kasihan

11 April 2026

Bacaan Hari ini:
Mazmur 86:5 "Sebab Engkau, ya Tuhan, baik dan suka mengampuni dan berlimpah kasih setia bagi semua orang yang berseru kepada-Mu."
---------------
Pada musim Paskah ini, kita telah mempelajari tentang belas kasihan Allah dan mengapa Anda membutuhkannya dalam hidup Anda. Belas kasihan-Nya adalah sesuatu yang tidak dapat Anda jalani tanpanya. Dan meskipun Anda tidak layak menerimanya dan tidak dapat memperolehnya, Dia selalu merespons dengan belas kasihan ketika Anda dengan rendah hati berdoa, "Tuhan, saya membutuhkan belas kasihan-Mu dalam hidup saya"

Alkitab berkata, "Sebab Engkau, ya Tuhan, baik dan suka mengampuni dan berlimpah kasih setia bagi semua orang yang berseru kepada-Mu." (Mazmur 86:5).

Namun, Anda mungkin bertanya, "Perbedaan apa yang benar-benar akan dihasilkan oleh belas kasihan Allah dalam hidup saya?"

Berikut adalah tiga hal yang terjadi ketika Anda meminta belas kasihan kepada Allah:

1. Allah mengampuni Anda dan membebaskan Anda.

Pengampunan Allah mengatasi rasa bersalah Anda di masa lalu. Dan kebebasan-Nya memberi Anda kekuatan untuk berubah di masa depan. Banyak orang bergumul karena mereka tidak dapat melepaskan masa lalu. Namun Yesus berkata, "untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang." (Lukas 4:18)

Mungkin Anda adalah tawanan dari iri hati atau kepahitan. Mungkin Anda terikat oleh kekhawatiran atau kecanduan. Saya memiliki kabar baik: Yesus tidak datang untuk menghakimi Anda. Ia datang untuk menunjukkan belas kasihan kepada Anda! Bahkan, Ia berkata,"Aku datang bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya" (Yohanes 12:47). Yakobus 2:13 berkata, "belas kasihan akan menang atas penghakiman.". Ya, akan ada hari penghakiman. Namun Yesus datang untuk menawarkan belas kasihan kepada Anda sebelum hari itu tiba.

Dan jikalau seorang mendengar perkataan-Ku, tetapi tidak melakukannya, Aku tidak menjadi hakimnya, sebab Aku datang bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya

2. Allah menjadikan yang mustahil menjadi mungkin.

Setiap kali Anda menggunakan kata "mustahil," dengarkanlah seakan-akan ada tawa dari surga—karena "mustahil" tidak ada dalam catatan Allah. Allah dapat melakukan hal-hal yang tidak dapat Anda lakukan. Ia memiliki kuasa dan sumber daya yang belum pernah Anda bayangkan miliki. Yesus berkata, "Apa yang tidak mungkin bagi manusia, mungkin bagi Allah" (Lukas 18:27).

Mengapa Allah tidak langsung menghilangkan semua masalah Anda? Karena Allah menggunakan masa-masa sulit untuk membentuk karakter Anda. Jika Anda tidak pernah mengalami masalah, ketekunan, tekad, kerajinan, dan kesabaran Anda tidak akan pernah memiliki kesempatan untuk bertumbuh. Pekerjaan Allah dalam hidup Anda selama masa-masa sulit memungkinkan sifat-sifat karakter tersebut berkembang.

3. Allah menyelamatkan Anda untuk kekekalan.

Anda diciptakan oleh Allah untuk hidup selama-lamanya, dan Ia menginginkan Anda berada dalam keluarga-Nya untuk selamanya. Namun ada satu syarat: Anda perlu meminta belas kasihan. Alkitab menyatakan, "Dan barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan akan diselamatkan." (Kisah Para Rasul 2:21).

Alasan kita merayakan Paskah adalah karena Yesus berkata, "Akulah kebangkitan dan hidup. Barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati" (Yohanes 11:25). Jika Yesus tidak bangkit dari kematian, Anda tidak memiliki alasan yang sah untuk percaya bahwa ada kehidupan setelah kematian di surga. Namun karena Ia telah bangkit, Ia juga dapat membangkitkan Anda.

Renungkan:

- Dalam bidang apa dalam hidup Anda, Anda pernah mengalami kebebasan dari Allah di masa lalu? Di mana Anda perlu mengalami kebebasan-Nya hari ini?

- Bagaimana Anda melihat Allah membentuk karakter Anda selama masa-masa sulit?

- Ketika Anda memikirkan kekekalan, apa arti kebangkitan Yesus bagi Anda?

Bacaan Alkitab Setahun :
1 Samuel 15-16; Lukas 10:25-42
____________
Ketika Anda menerima belas kasihan Allah, hal itu benar-benar membuat perbedaan yang besar dalam hidup Anda.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
==========
The Difference Mercy Makes - Daily Hope with Rick Warren - April 11, 2026

“You, O Lord, are good and forgiving, full of mercy toward everyone who calls out to you.”  Psalm 86:5 (GW)
-------------------
This Easter season, we’ve been looking at God’s mercy and why you need it in your life. His mercy is something you can’t live without. And even though you don’t deserve it and can’t earn it, he always responds mercifully when you humbly pray, “God, I need your mercy in my life.”

The Bible says, “You, O Lord, are good and forgiving, full of mercy toward everyone who calls out to you” (Psalm 86:5 GW).

But you might be wondering, “What difference will God’s mercy really make in my life?”

Here are three things that happen when you ask God for mercy:

God forgives you and frees you. God’s forgiveness takes care of your past guilt. And his freedom gives you the power to change in the future. Many people struggle because they can’t let go of the past. But Jesus says, “The Lord has sent me to announce freedom for prisoners, to give sight to the blind, to free everyone who suffers” (Luke 4:18 CEV).

Maybe you’re a prisoner to envy or resentment. Maybe you’re held captive by worry or addiction. I have good news: Jesus didn’t come to judge you. He came to show you mercy! In fact, he said, “I did not come to judge the world, but to save the world" (John 12:47 NIV). James 2:13 says, “Mercy triumphs over judgment” (NIV). Yes, there will be a judgment day. But Jesus came to offer you mercy before that day comes.

God makes the impossible possible. Anytime you use the word “impossible,” listen for laughter from heaven—because “impossible” is not in God’s book. God can do things you can’t do. He has power and resources you’ve never dreamed of having. Jesus says, "What is impossible with man is possible with God" (Luke 18:27 NIV).

Why doesn’t God just take away all your problems? Because God uses tough times to grow your character. If you never had any problems, your persistence, determination, diligence, and patience would never have a chance to grow. God’s work in your life during hard times makes having these character traits possible.

God saves you for eternity. You were made by God to last forever, and he wants you in his forever family. But there’s one condition: You need to ask for mercy. The Living Bible paraphrase says, “Anyone who asks for mercy from the Lord shall have it and shall be saved” (Acts 2:21).

The reason we celebrate Easter is because Jesus said, “I am the resurrection and the life. Whoever believes in me, though he die, yet shall he live” (John 11:25 ESV). If Jesus had not risen from the dead, you would have no valid reason to believe that there is life after death in heaven. But because he raised himself, he can raise you.

When you accept the mercy of God, it truly makes all the difference in the world.


Kamis, 09 April 2026

Kejiwaan Iran

Oleh: Dahlan Iskan

Kamis 09-04-2026

--

Presiden Trump tidak marah ketika ahli psikologi mengatakan kejiwaanya menurun drastis dalam dua minggu terakhir. Jangan-jangan itu justru dianggap penting bagi Trump: kelak bisa dipakai alibi agar tidak bisa dituntut ke pengadilan. Orang yang kena gangguan jiwa tidak bisa diadili --hanya saja harus dibawa ke dokter ahli jiwa.

Ancaman diseret ke pengadilan itu ada. Tuduhannya: sebagai penjahat perang. Yang mengadili: hakim Mahkamah Internasional. Kedudukannya di Den Haag, Belanda.

Anda sudah tahu siapa yang menyatakan Trump bisa dibawa ke Mahkamah Internasional: Jan Egeland, ketua komisi pengungsi Norwegia. Alumnus Universitas Oslo di Norwegia dan Berkeley di California itu punya kompetensi tinggi untuk menilai  itu. Usianya 68 tahun. Pernah jadi menteri di bidang itu di sana. Punya banyak jabatan internasional urusan pengungsi. Juga duduk di komisi hak-hak asasi manusia Eropa.

Tindakan Trump yang mana yang dianggap Egeland sebagai kejahatan perang?

Anda sudah tahu yang mana. Yang ini. Yang diucapkan Trump ini: "Seluruh peradaban Iran akan punah malam ini". 

Trump memang banyak mengeluarkan kata-kata serem tiga hari lalu. Misalnya:  Amerika akan melancarkan serangan terdahsyat yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Amerika mampu melakukan itu karena kemampuan militer dan persenjataanmya terhebat di dunia. Juga: "Hari ini adalah Hari Jembatan dan Hari Pembangkit Listrik". Maksudnya: di hari itu serangan Amerika dan Israel akan difokuskan untuk menghancurkan seluruh jembatan dan pembangkit listrik di Iran. Dua infrastruktur itu akan dihancurkan dalam satu paket.

Begitu Egeland membaca/melihat ucapan Trump soal pemusnahan peradaban itu ia langsung posting komentar: "Menghancurkan peradaban tergolong kejahatan perang," katanya. Egeland serius mengingatkan itu. "Yang saya ucapkan itu bukan sekadar rekomendasi. Ini hukum internasional di bidang kemanusiaan," tegasnya.

Egeland juga sekjen Palang Merah Norwegia. Ia lahir di Stavanger dan jadi guru besar di kota itu. Kota Stavanger penting bagi saya: dari kota itu saya terbang ke Sommerset untuk kemudian terbang lagi ke kutub utara.

Tidak hanya soal peradaban. Menyasar infrastruktur sipil juga bisa dianggap kejahatan perang. Berarti di dua hal itu Trump bisa terancam dibawa ke pengadilan internasional.

Itu kalau ada yang mengadukan. Atau berani mengadukan.

Dalam statuta pengadilan internasional pengaduan itu sendiri tidak wajib sebagai syarat penuntutan. Jaksa pengadilan internasional bisa melakukan penuntutan tanpa adanya laporan. 

Jabatan jaksa itu kini dipegang oleh Karim Khan. Ia ahli hukum dari Inggris. Pernah jadi jaksa penuntut di pengadilan umum,  pernah pula jadi pengacara membela terdakwa. Karim punya pengalaman di dua sisi sekaligus. Masa jabatannya pun masih panjang: sampai 2029. Masa jabatan jaksa pengadilan internasional itu delapan tahun --mulai dijabat Karim tahun 2021.

Di masa jabatannya itu Karim sudah berani  menetapkan tiga tokoh dunia jadi tersangka: Vladimir Putin, Benjamin Netanyahu, dan Rodrigo Duterte. 

Sejauh ini baru mantan presiden Filipina itu yang sudah ditangkap. Kini masih ditahan di Den Haag. Belum mulai diadili. Anda sudah tahu kasusnya: memerintahkan membunuh para bandar narkoba di Filipina. Tidak perlu lewat pengadilan. Langsung habisi. Kalau lewat pengadilan bisa bebas.

Putin dan Netanyahu belum ditangkap. Jaksa tidak punya aparat untuk melakukan penangkapan. Jaksa punya dua wakil dan tim penyidik tapi tidak punya polisi yang bisa menangkap tersangka.

Duterte bisa ditangkap karena sudah bukan presiden. Apalagi presiden berikutnya merasa diuntungkan dengan penangkapan Duterte. Maka polisi Filipina menangkap Duterte dan menyerahkannya ke Den Haag. Statusnya: menunggu sidang pengadilan.

Sedangkan polisi Rusia, bagaimana menurut Anda, mungkinkah menangkap Putin. Pun polisi Israel, tidak akan mau menangkap Netanyahu.

Pemimpin Asia yang pernah jadi tersangka adalah Pol Pot dari Kamboja. Tapi ia keburu meninggal sebelum disidangkan.

Kini semua berpulang ke Karim Khan: apakah akan menyeret Trump ke Mahkamah Internasional. Kalau pun Karim menjadikannya tersangka apakah polisi Amerika mau menangkapnya. 

Pun Netanyahu. Apakah Karim bisa membuat pemimpin Israel itu tersangka untuk kali kedua. Bisa jadi satu-satunya yang dua kali tersangka.

Masalahnya: Amerika dan Israel belum mau menjadi anggota ICC. Demikian juga Tiongkok dan Rusia. 

Sebenarnya ICC tetap bisa menjadikan tokoh negara non anggota sebagai tersangka. Masalahnya: siapa yang akan menangkapnya.

Anda sudah tahu: pengadilan internasional ini didirikan tahun 1998 ketika Indonesia sedang dilanda krismon yang gawat. Tahun 2000 Indonesia mendaftar jadi anggota --berarti di zaman Presiden B.J. Habibie. Tapi keanggotaan Indonesia belum sah: sampai sekarang DPR belum mau meratifikasi UU internasional itu.

Betapa arogannya negara-negara yang tidak mau jadi anggota ICC. Seolah mereka memang sengaja agar bisa melakukan kejahatan apa saja di kala perang. Hanya negara-negara dengan kekuatan kelas menengah yang getol mendirikan dan menegakkan pengadilan internasional itu. Misalnya: Kanada, Jerman, Belanda, Australia, dan seterusnya.

Jelaslah bahwa Trump memenuhi syarat untuk jadi pesakitan di Mahkamah Internasional. Masalahnya: kejiwaannya merosot drastis dalam dua minggu terakhir.(Dahlan Iskan)