https://youtube.com/watch?v=-c_L73lO00A&si=84K6UZwVBHrSlpDV
Veni Vidi Vici
Selasa, 05 Mei 2026
Fokus pada Kemajuan, Bukan Kesempurnaan
06 Mei 2026
Bacaan Hari ini:
Filipi 1:6 "Akan hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus."
------------------
Ketika anak-anak saya masih kecil, mereka sering membawa gambar yang mereka buat dan berkata, "Menurut Ayah bagaimana?" Saya akan berkata kepada mereka, "Itu sempurna! Sangat bagus." Ketika saya mengatakan itu sempurna, saya tidak bermaksud bahwa itu seperti karya Picasso. Saya menyukai apa yang mereka buat karena itu sempurna untuk tahap kehidupan mereka saat itu.
Demikian juga, Allah tidak menunggu sampai Anda menjadi dewasa secara rohani untuk mulai mengasihi Anda. Ia tidak menunggu sampai Anda memperbaiki hidup Anda atau menjadi lebih baik untuk menganggap Anda layak menerima kasih-Nya.
Anda juga tidak seharusnya bersikap demikian terhadap orang lain. Anda perlu mengasihi mereka apa adanya, dengan segala kekurangan mereka. Anda perlu bersabar terhadap proses pertumbuhan mereka.
Rasul Paulus adalah contoh yang baik dalam hal ini: "Akan hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus." (Filipi 1:6). Paulus mengetahui bahwa Allah sedang mengerjakan sesuatu yang baik dan berlangsung lama dalam hidup orang-orang di jemaat Filipi, dan ia bersabar terhadap pertumbuhan mereka.
Bersabar terhadap perkembangan orang lain adalah bagian penting dari kebahagiaan. Mengapa? Jika Anda selalu menuntut kesempurnaan dari orang lain sebelum Anda dapat menikmati hubungan dengan mereka, maka Anda tidak akan pernah merasa bahagia. Itu karena tidak ada seorang pun yang sempurna—termasuk Anda.
Berikut satu prinsip sederhana untuk kebahagiaan: Jika Anda ingin memiliki hubungan yang lebih bahagia dan sehat, rayakan sejauh mana orang lain telah bertumbuh daripada menghakimi mereka karena sejauh mana mereka masih harus bertumbuh. Anda perlu bersabar terhadap perkembangan mereka.
Untuk dapat merayakan orang lain daripada menghakimi ketidaksempurnaan mereka, Anda membutuhkan kesabaran. Dan kunci dari kesabaran adalah kasih.
Paulus berkata dalam ayat berikutnya, "Memang sudahlah sepatutnya aku berpikir demikian akan kamu semua, sebab kamu ada di dalam hatiku, oleh karena kamu semua turut mendapat bagian dalam kasih karunia yang diberikan kepadaku" (Filipi 1:7).
"Di hatiku": Memberi tempat yang istimewa bagi orang lain di dalam hati Anda adalah kunci kebahagiaan.
Renungkan:
- Apa dampaknya bagi Anda ketika teman-teman Anda merayakan keberhasilan Anda?
- Bagaimana mengingat kasih Allah kepada Anda menolong Anda mengasihi orang lain dengan lebih baik?
- Jika Anda merasa bukan orang yang sabar, langkah apa yang dapat Anda ambil untuk mengembangkan buah Roh ini dalam hidup Anda?
Bacaan Alkitab Setahun :
1 Raja-raja 19-20; Lukas 23:1-25
____________
Ketika Anda mengasihi dan merayakan orang lain serta berfokus pada langkah maju mereka, Anda akan membangun hubungan yang sehat dan membahagiakan.
(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
==========
Look for Progress, Not Perfection - Daily Hope with Rick Warren - May 06, 2026
“I am certain that God, who began the good work within you, will continue his work until it is finally finished on the day when Christ Jesus returns.” Philippians 1:6 (NLT)
------------------
When my kids were little, they would bring pictures to me that they had drawn and say, “What do you think of this, Daddy?” I would tell them, “That’s perfect! It looks great.” When I told them it was perfect, I didn’t mean that it was a Picasso. I loved what they had created because it was perfect for that stage in their lives.
In the same way, God doesn’t wait until you’re mature to start loving you. He doesn’t wait for you to clean up or straighten up to think you’re good enough for his love.
You shouldn’t do that with others, either. You’ve got to love them, warts and all. You’ve got to be patient with their progress.
The apostle Paul is a great example of this: “I am certain that God, who began the good work within you, will continue his work until it is finally finished on the day when Christ Jesus returns” (Philippians 1:6 NLT). Paul knew God was doing a good, long work in the lives of the people in the Philippian church, and he was patient with their progress.
Being patient with other people’s progress is an essential part of happiness. Why? If you’re always expecting perfection in people before you can enjoy a relationship with them, then you’re never going to be happy. That’s because nobody’s perfect—especially you.
Here’s a little happiness hint: If you want to have happier and healthier relationships, then celebrate how far people have come rather than judging them for how far they still have to go. You’ve got to be patient with people’s progress.
To be able to celebrate people instead of judging them for their imperfections, you need patience. And the key to patience is love.
Paul says in the next verse, “It is right that I should feel as I do about all of you, for you have a special place in my heart” (Philippians 1:7 NLT).
“In my heart”: Allowing other people to have a special place in your heart is a key to happiness. When you love and celebrate people and focus on their steps forward, then you’re going to build healthy, happy relationships.
Teman Seperti Apa?
Kadang Tutp Mulut adalah Yang Terbaik
Alkitab dengan jelas mengajak anda dan saya agar hidup yg dipimpin oleh Roh, bukan oleh daging. Mengapa banyak orang Kristen yang gagal dalam hal ini ? Jawabannya adalah karena kita masih hidup di dalam *dunia*, dan dunia di kuasai oleh si *jahat*, perhatikan gambar diatas itu ☝️, si jahat itu hobinya mancing dan setiap saat sedang melepaskan *umpan*. Umpan yang di tebarkan si jahat ke dunia ini melalui : * Kenikmatan hidup * Kenikmatan mata * Keangkuhan hidup * Meragukan Firman Tuhan Melalui : * Kotbah diatas mimbar * Kotbah di sosmed * Berita hoaks yg menyebarkan ketakutan, intimidasi dan Kerusakan mental. * Berita ttg Injil kemakmuran yang membuat orang mabuk, berhalusinasi dan hidup di masa depannya akibatnya yg dikejar berkat bukan si empunya berkat. Ketika fokus anda ke daging, bukan ke Manusia Roh anda, maka yang pasti akan anda dapatkan adalah :*Makan Umpan*, yg disebarkan oleh Iblis. Setelah anda makan umpan iblis, maka mulailah terjadi HAMARTIA dan anda akan sulit membebaskan diri darinya 🙏
SEORANG NEGARAWAN TIDAK MEMINJAM AGAMA
SEORANG NEGARAWAN TIDAK MEMINJAM AGAMA Oleh Dimas Supriyanto Jika seorang pemimpin pernah mengajarkan damai saat konflik komunal, maka ujian sesungguhnya adalah ketika ia diserang secara personal: apakah ia tetap meredam, atau justru menggelorakan? Di titik inilah kata “negarawan” berhenti menjadi gelar, dan berubah menjadi ujian. Kita bicara tentang HM Jusuf Kalla, mantan wapres dan pengusaha, juru damai dari berbagai konflik, yang semestinya "mandito" dengan gelar negarawan. Alih alih menikmati hari tua dengan bijak dia justru menemui 40 ormas Islam dan mengibarkan perang pada pihak pihak yang dianggap memfitnahnya. Saya - dan kita semua semestinya - mencium mara bahaya di sini. Ketika ormas keagamaan dihimpun - ketika masalah iman disentuh - konflik tidak lagi berdiri di atas logika. Melainkan di atas sentimen, loyalitas dan emosi. Hilang nalar. Dalam kerangka "Social Identity Theory", batas “kami” dan “mereka” jadi mengeras. Orang tidak lagi bertanya: apa yang benar? Mereka bertanya: siapa yang harus kita bela? Kita serang? Siapa musuh kita kali ini? Rasionalitas surut, akal sehat merosot, solidaritas mengeras. Dan dari situ, eskalasi hanya tinggal menunggu waktu. Apakah JK sadar hal ini? Tentu! Bahwa sekali konflik bergeser menjadi konflik identitas, ia berhenti menjadi soal individu - ia menjadi soal kelompok. Massa fanatik. Lebih berbahaya lagi, agama bukan sekadar identitas. Ia adalah yang sakral. Dan seperti diingatkan oleh Émile Durkheim, "yang sakral cenderung ditempatkan di luar jangkauan kritik". Ketika sesuatu telah dibingkai sebagai “membela agama,” maka setiap upaya meredakan bisa dituduh sebagai pengkhianatan. Kompromi menjadi kecurigaan. Moderasi menjadi kelemahan. Di titik ini, bahkan aksi kekerasan bisa terasa sah. Kita pernah melihat bagaimana api itu menyala ; di kerusuhan Ambon, di kerusuhan Poso - yang kemudian dia damaikan. Pada awalnya persoalan lokal, sosial, bahkan administratif, berubah menjadi pertikaian yang dibakar oleh identitas. Sekali agama masuk sebagai bahan bakar, konflik tidak lagi mencari solusi. Dia mencari kemenangan. Apakah kita ingin mengulang pelajaran mahal itu?! Hanya karena satu sengketa pernyataan? Hanya karena merasa pidatonya diplintir?! Apa tidak belajar pada kasus Ahok BTP pada 2017 lalu ?! Lantaran pidatonya di Kepulauan Seribu diplintir dia dimundurkan dari gubernur Jakarta dan dibui dua tahun. Kini giliran pidato JK merasa diplintir dan bernafsu memenjarakan Ade Armando, Abu Janda dan Grace Natalie. Dulu atas nama agama - kubu ormas Islam menang. Dan kini dengan mengerahkan 40 ormas Islam, JK berharap menang lagi. JK menolak senasib dengan Ahok. JK paham betul 40 ormas Islam bisa menekan penegak hukum dan menggetarkan persidangan. Dalam prinsip "Rule of Law", keadilan menuntut ketenangan, jarak, dan kebebasan dari tekanan. Namun ketika massa digerakkan atas nama iman (baca: atas nama Islam) ruang itu menyempit. Hakim tidak hanya membaca berkas, tapi juga membaca suasana. Jaksa tidak hanya menimbang bukti, tapi juga menimbang risiko. Pengacara tidak hanya membela klien, tapi juga menghadapi stigma. Akibatnya : upaya penegakkan hukum menjadi gamang. Dan negara, pelan-pelan, kehilangan wibawanya. Apakah ini berdampak? Jelas. Karena negara yang tunduk pada tekanan massa kehilangan satu hal paling mendasar: kepercayaan. Di sinilah kita kembali pada pertanyaan awal: apa yang seharusnya dilakukan seorang negarawan? Negarawan sepatutnya tidak alergi terhadap kritik - bahwa "pidatonya bermasalah" itu peringatan dan kritik. Ia mestinya juga sadar bahwa dia tidak kebal dari serangan : kasus hutang di bank yang Rp30 triliun yang kemudian dipersoalkan. Tapi - yang utama - ia harus memahami satu hal yang lebih besar dari dirinya: bahwa setiap reaksinya adalah sinyal bagi publik. Ketika ia memilih meredam, ia sedang menurunkan suhu bangsa. Ketika ia memilih menggelorakan, ia sedang menaikkan tensi yang mungkin tak lagi bisa ia kendalikan. Negarawan tidak meminjam agama untuk membela dirinya. Ia justru melindungi agama dari ditarik ke pusaran konflik politik. Seorang negarawan tidak mengumpulkan massa untuk memperkuat posisi, melainkan menguatkan institusi agar persoalan kembali ke jalurnya. Dan yang paling sulit: menahan diri. Indonesia terlalu akrab dengan luka berbasis identitas. Terlalu sering kita membayar mahal untuk konflik yang seharusnya bisa dicegah. Maka - setiap upaya menghimpun kekuatan atas nama agama - untuk kepentingan sesaat, sekecil apa pun itu, bukan sekadar langkah keliru - ia adalah pengingkaran terhadap pelajaran sejarah. Dan di titik itu, kita berhak bertanya, dengan nada yang mungkin getir: Apakah ini sikap seorang negarawan? Ataukah sekadar politisi dan pengusaha - yang kepentingannyan sedang terganggu - dan hanya kebetulan pernah bicara tentang damai?