Senin, 22 Juni 2026

Lima Cara Tetap Lapar Akan Tuhan

23 Juni 2026

Bacaan Hari ini:
1 Petrus 2:2 "Dan jadilah sama seperti bayi yang baru lahir, yang selalu ingin akan air susu yang murni dan yang rohani, supaya olehnya kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan"
-----------------------
Apakah Anda sungguh-sungguh lapar akan Tuhan?
Sama seperti tubuh membutuhkan makanan setiap hari, jiwa kita juga membutuhkan makanan rohani agar tetap sehat dan bertumbuh. Alkitab mengajarkan bahwa kerinduan kepada Tuhan bukan sesuatu yang terjadi secara otomatis; kerinduan itu perlu dipelihara.

Berikut lima cara untuk menjaga agar hati tetap lapar akan Tuhan.

1. Ingatlah Betapa Besarnya Kasih Tuhan

Semakin Anda memahami kasih Tuhan, semakin Anda akan mengasihi-Nya.
Efesus 3:18-19 mengajarkan bahwa kasih Kristus begitu lebar, panjang, tinggi, dan dalam sehingga melampaui pengertian manusia.
Ketika kita menyadari bahwa Tuhan mengasihi kita tanpa syarat, hati kita akan terdorong untuk semakin dekat kepada-Nya.
Praktik sederhana: Mulailah hari dengan mengingat satu berkat atau bukti kasih Tuhan dalam hidup Anda.

2. Berhenti Mengisi Diri dengan "Makanan Sampah" Rohani

Ada kekosongan dalam hati manusia yang hanya dapat diisi oleh Tuhan.
Banyak orang mencoba mengisinya dengan:

- Uang

- Kesuksesan

- Popularitas

- Hobi

- Hiburan

- Kekuasaan

Namun semua itu tidak pernah benar-benar memuaskan jiwa.
Amsal 15:14 berkata: "Orang bijak lapar akan pengetahuan, sedangkan orang bodoh memakan sampah."
Apa yang kita konsumsi setiap hari akan memengaruhi kerohanian kita.

3. Jadikan Mengenal Tuhan Sebagai Prioritas Utama

Yesus berkata: "Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu." Matius 6:33
Kebahagiaan sejati bukan tujuan utama hidup; kebahagiaan adalah hasil sampingan dari hubungan yang dekat dengan Tuhan.
Ketika mengenal Tuhan menjadi prioritas pertama, banyak hal lain dalam hidup akan menemukan tempat yang benar.

4. Bacalah Firman Tuhan Setiap Hari

Alkitab adalah makanan bagi jiwa.
Tubuh tidak bisa sehat jika hanya makan sekali seminggu. Demikian juga iman tidak akan bertumbuh jika kita hanya mendengar Firman pada hari Minggu.
Firman Tuhan:

- Menguatkan iman

- Memberi hikmat

- Menuntun keputusan

- Menghibur saat susah

- Mengingatkan janji-janji Tuhan

Luangkan waktu setiap hari, walaupun hanya 10 - 15 menit, untuk membaca dan merenungkan Firman Tuhan.

5. Bergaullah dengan Orang-Orang yang Mengasihi Tuhan

Lingkungan sangat memengaruhi kerinduan rohani kita.
Jika kita terus-menerus berada di sekitar orang yang hanya membicarakan dunia, hati kita akan semakin tertarik pada hal-hal duniawi.
Sebaliknya, ketika kita bersekutu dengan orang-orang yang mengasihi Tuhan, iman kita ikut bertumbuh.
Amsal 2:20 berkata: "Sebab itu tempuhlah jalan orang baik, dan peliharalah jalan-jalan orang benar."

Renungkan

- Apa arti "lapar akan Tuhan" bagi Anda secara pribadi?

- Adakah "makanan sampah rohani" yang sedang mengurangi kerinduan Anda kepada Tuhan?

- Dari lima langkah di atas, mana yang perlu Anda tingkatkan minggu ini?

Bacaan Alkitab Setahun :
Ester 6-8; Kisah Para Rasul 6
-----------------
Persekutuan yang sehat membantu kita tetap fokus kepada Tuhan.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
=========
Five Ways to Stay Hungry for God - Daily Hope with Rick Warren - June 22, 2026

“You must crave pure spiritual milk so that you will grow into a full experience of salvation. Cry out for this nourishment.” 1 Peter 2:2 (NLT)
--------------------
Are you hungry for God?

That kind of hunger can stay with you throughout your life. Here are five ways to keep your spiritual appetite strong:

1. Remind yourself how much God loves you.

The more you understand how much God loves you, the more you’re going to love him. The Bible says in Ephesians 3:18-19, “May you have the power to understand . . . how wide, how long, how high, and how deep his love is. May you experience the love of Christ, though it is too great to understand fully. Then you will be made complete with all the fullness of life and power that comes from God” (NLT).

2. Stop filling up on junk food.

You are a spiritual being with a God-shaped hole in your heart that only God can fill. When you try to fill it with salary, status, success, passion, possessions, power, prestige, or anything other than God, it’s not going to be fulfilling. Proverbs 15:14 says, “A wise person is hungry for knowledge, while the fool feeds on trash” (NLT).

3. Make knowing God your number one goal.

Happiness is a byproduct of knowing God. Jesus says in Matthew 6:33, “Seek first God’s kingdom and what God wants. Then all your other needs will be met as well” (NCV).

4. Get into God’s Word every day.

The Bible is food for your soul. Eating just one meal a week won’t keep your body healthy. In the same way, you need to feed on God’s Word every day. “You must crave pure spiritual milk so that you will grow into a full experience of salvation. Cry out for this nourishment” (1 Peter 2:2 NLT).

5. Surround yourself with other believers.

If you hang out with people who only care about politics, you’ll care about politics. If you hang out with people who only care about sports, you’ll care about sports. If you hang out with people whose focus is knowing God, that will become your focus too.

That’s why you need to join a small group of Christians for support—because whatever you talk about when you’re with others is what you’re going to be hungry for. Proverbs 2:20 says, “Follow the steps of the good, and stay on the paths of the righteous” (NLT).

Minggu, 21 Juni 2026

Anda Dapat Dibenarkan di Hadapan Tuhan

22 Juni 2026

Bacaan Hari ini:
Roma 10:9-10 "Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati , maka kamu akan diselamatkan. Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan."
--------------------
Kemarin kita belajar bahwa kebenaran (righteousness) berarti memiliki hubungan yang benar dengan Tuhan dan hidup sesuai kehendak-Nya.
Pertanyaannya adalah:
Bagaimana seseorang bisa menjadi benar di hadapan Tuhan?
Jawabannya hanya satu: melalui Yesus Kristus.

Kita Tidak Dapat Membenarkan Diri Sendiri
Surga adalah tempat yang sempurna.
Tidak ada:

- Dosa

- Kejahatan

- Kesedihan

- Ketidakadilan

Masalahnya, tidak ada manusia yang sempurna.
Alkitab berkata: "Sebab tidak seorangpun yang dapat dibenarkan di hadapan Allah oleh karena melakukan hukum Taurat" Roma 3:20

Sebagus apa pun seseorang, tetap tidak ada yang mampu memenuhi standar kesempurnaan Allah.
Karena itu manusia membutuhkan Juruselamat.

Tuhan Mengutus Yesus untuk Menanggung Hukuman Dosa
Setiap pelanggaran memiliki konsekuensi. Karena Allah adalah adil dan kudus, dosa tidak bisa diabaikan begitu saja.

Namun karena kasih-Nya yang besar, Tuhan menyediakan jalan keselamatan melalui Yesus Kristus. Yesus datang ke dunia untuk menanggung hukuman yang seharusnya kita terima.

Ia mati di kayu salib sebagai pengganti kita. Alkitab berkata: "Dia menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya." — Titus 3:5
Inilah yang membuat Injil disebut Kabar Baik. Semua dosa yang telah kita lakukan telah ditanggung oleh Kristus di kayu salib.

Keselamatan Diterima Melalui Iman

Keselamatan bukan hadiah karena usaha manusia. Keselamatan diterima melalui iman kepada Yesus Kristus.
Roma 10:9-10 menjelaskan bahwa seseorang diselamatkan ketika ia:

1. Percaya dalam hatinya bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat.

2. Mengaku iman tersebut dengan mulutnya.

3. Menaruh kepercayaan kepada Kristus dan karya-Nya di kayu salib.

Tidak peduli siapa kita.Tidak peduli masa lalu kita. Tidak peduli seberapa besar kesalahan kita.
Kasih karunia Tuhan tersedia bagi setiap orang yang datang kepada-Nya dengan iman.

Anugerah yang Membebaskan
Salah satu kebenaran yang paling menguatkan dalam iman Kristen adalah bahwa keselamatan tidak bergantung pada kemampuan kita mempertahankan kesempurnaan.
Keselamatan bergantung pada karya Yesus yang sempurna. Karena itu orang percaya tidak hidup dalam ketakutan terus-menerus, tetapi hidup dalam rasa syukur, kasih, dan ketaatan kepada Tuhan.

Renungkan :

- Pernahkah Anda mencoba mendapatkan penerimaan Tuhan melalui usaha dan kemampuan sendiri?

- Apa arti kasih karunia Tuhan bagi Anda secara pribadi?

- Bagaimana hidup Anda berubah ketika menyadari bahwa keselamatan adalah pemberian Tuhan, bukan hasil usaha manusia?

Bacaan Alkitab Setahun :
Ester 3-5; Kisah Para Rasul 5:22-42
___________
Kita tidak melakukan kebaikan untuk mendapatkan keselamatan. Kita melakukan kebaikan karena telah menerima keselamatan.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
==========
You Can Be Made Right with God - Daily Hope with Rick Warren - June 22, 2026

“If you openly declare that Jesus is Lord and believe in your heart that God raised him from the dead, you will be saved. For it is by believing in your heart that you are made right with God, and it is by openly declaring your faith that you are saved.” Romans 10:9-10 (NLT)
------------------
The Bible says in Romans 1:17, “The Good News shows how God makes people right with himself” (NCV).

How does God make you right with himself? Through Jesus. Here’s an explanation of what that means:

You can’t make yourself righteous.

Heaven is a perfect place. There’s no sin, sadness, evil, or injustice. But here’s the problem: All people are imperfect, and God can’t let sinful people into heaven because then it would be full of sin too.

Romans 3:20 says, “No one can ever be made right with God by doing what the law commands. The law simply shows us how sinful we are” (NLT).

The only people who think they can keep God’s laws are those who don’t know them—because God’s laws are perfect, and none of us are perfect. We cannot be made right on our own, and so God made a plan to rescue us from our sin and bring us into a relationship with him.

God sent Jesus to pay for your sins so you could be declared righteous.

When you break man’s laws, you pay man’s penalty. When you break God’s laws, you pay God’s penalty, which is eternity in hell. Somebody must pay for all the things you’ve done in life that hurt other people, yourself, God. And so God sent Jesus on a rescue mission. He essentially said, “I’ll send my Son, Jesus, to pay the penalty. He will take your place so you don’t have to go to hell. You can be with me forever.”

Do you understand why the gospel is called Good News? The gospel says that everything you’ve ever done or will ever do wrong in life has already been paid for by Jesus Christ on the cross. Through Jesus you can be made right with God. That’s Good News!

The Bible says, “[God] saved us, not because of the righteous things we had done, but because of his mercy” (Titus 3:5 NLT).

You need to accept by faith what God did for you.

To be made right with God, you need to believe and accept by faith that Jesus paid for your sins when he died on the cross. The Bible says, “If you openly declare that Jesus is Lord and believe in your heart that God raised him from the dead, you will be saved. For it is by believing in your heart that you are made right with God, and it is by openly declaring your faith that you are saved” (Romans 10:9-10 NLT).

Hallelujah! We all can be saved—no matter who we are, what we’ve done, or how long we’ve done it.

Today is the day to settle this. If you aren’t sure you’re going to heaven when you die, please pray this prayer: “Dear God, thank you that you created me, that you have a plan and purpose for my life, and that you made me to know you. Thank you for the choice that you’ve given me to accept or reject your offer of salvation. Today I repent of my sins and humbly ask you to save me—not based on what I’ve done but based on what Jesus Christ did for me. I don’t understand it all, but as much as I know how, I want to put my trust in your Son. God, I want to get to know you. I want to learn to love you. I want to hunger and thirst for righteousness the rest of my life. I put my trust in your grace and in your forgiveness. I want you to be the Lord of my life. Amen.”
.


Sabtu, 20 Juni 2026

Bagaimana Berdoa dengan Efektif

21 Juni 2026

Bacaan Hari ini:
Nehemia 1:8-9 "Ingatlah akan firman yang Kaupesan kepada Musa, hamba-Mu itu, yakni: Bila kamu berubah setia, kamu akan Kucerai-beraikan di antara bangsa-bangsa. Tetapi, bila kamu berbalik kepada-Ku dan tetap mengikuti perintah-perintah-Ku serta melakukannya, maka sekalipun orang-orang buanganmu ada di ujung langit, akan Kukumpulkan mereka kembali dan Kubawa ke tempat yang telah Kupilih untuk membuat nama-Ku diam di sana."
-------------------
Doa mengarahkan perhatian kita kepada Tuhan dan mengingatkan bahwa Dia jauh lebih besar daripada masalah apa pun yang kita hadapi. Saat kita melihat Tuhan menjawab doa-doa kita, iman kita juga semakin bertumbuh.

Melalui kehidupan Nehemiah, kita dapat belajar empat prinsip doa yang efektif.

1. Dasarkan Permohonan pada Karakter Tuhan

Datanglah kepada Tuhan dengan keyakinan akan siapa Dia.
Berdoalah seperti ini: "Tuhan, aku percaya Engkau sanggup menjawab doaku karena Engkau adalah Allah yang setia, penuh kasih, bijaksana, dan berkuasa."
Kita tidak berdoa karena layak menerima jawaban, tetapi karena Tuhan adalah Pribadi yang baik dan setia.

2. Akui Dosa dengan Jujur

Nehemia berdoa: "Kami telah berdosa terhadap-Mu."
Meskipun Nehemia tidak secara langsung menyebabkan bangsa Israel dibuang ke negeri asing, ia tetap merendahkan diri dan mengakui dosa bangsanya.
Saat berdoa, mintalah Roh Kudus menunjukkan area hidup yang perlu diperbaiki.
Pengakuan dosa bukan untuk membuat kita merasa bersalah, tetapi untuk memulihkan hubungan yang dekat dengan Tuhan.

3. Pegang Janji-Janji Tuhan

Nehemia mengingatkan Tuhan akan janji yang pernah diberikan kepada Musa.
Tentu Tuhan tidak lupa. Namun ketika kita mengingat janji Tuhan dalam doa, kita sedang menguatkan iman kita sendiri.
Contohnya:

- Saat takut: ingat bahwa Tuhan menyertai kita.

- Saat khawatir: ingat bahwa Tuhan memelihara kebutuhan kita.

- Saat lemah: ingat bahwa kekuatan Tuhan menjadi sempurna dalam kelemahan.

Janji Tuhan menjadi dasar pengharapan kita.

4. Berdoalah Secara Spesifik

Jika kita menginginkan jawaban yang jelas, mintalah dengan jelas.
Daripada berdoa: "Tuhan, berkati pekerjaanku."

Cobalah berdoa: "Tuhan, berikan hikmat untuk mengambil keputusan yang tepat dalam proyek ini dan bukakan jalan yang terbaik."
Doa yang spesifik membantu kita melihat dengan lebih jelas bagaimana Tuhan bekerja dalam hidup kita.

Doa Menyelaraskan Hati dengan Kehendak Tuhan. Doa bukan hanya tentang meminta sesuatu.
Doa juga menolong kita:

- Mengenal hati Tuhan.

- Mempercayai waktu Tuhan.

- Menerima kehendak Tuhan.

- Melihat situasi dari sudut pandang Tuhan.

Renungkan

- Permohonan apa yang saat ini masih Anda nantikan jawabannya dari Tuhan?

- Dari empat prinsip doa Nehemia, bagian mana yang paling perlu Anda terapkan?

- Janji Tuhan apa yang sedang Anda pegang dalam musim kehidupan saat ini?

Bacaan Alkitab Setahun :
Ester 1-2; Kisah Para Rasul 5:1-21
___________
Saat berdoa, kita mengakui bahwa Tuhan berdaulat atas setiap detail kehidupan kita.
Dan satu hal yang pasti: Tuhan selalu mendengar doa anak-anak-Nya.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
==========
How You Can Pray Effectively - Daily Hope with Rick Warren - June 21, 2026

“Please remember what you told your servant Moses: ‘If you are unfaithful to me, I will scatter you among the nations. But if you return to me and obey my commands and live by them . . . I will bring you back to the place I have chosen for my name to be honored.’” Nehemiah 1:8-9 (NLT)
----------------
When you pray, it turns your attention toward God and helps you to see that he is bigger and more powerful than any of your concerns. And as you watch God answer your prayers, your faith deepens.

Today I want to talk to you about four ways to pray effectively, based on the life of Nehemiah:

1. Base your request on God’s character. Pray like you know God will answer you. You can say something like, “God, I’m expecting you to answer this prayer because of who you are. You are a faithful God. You are a great God. You are a loving God. You are a wonderful God. You can handle this problem!”

2. Confess the sins you’re aware of. That’s what Nehemiah did. He said, “I confess that we have sinned against you. Yes, even my own family and I have sinned! We have sinned terribly by not obeying the commands, decrees, and regulations that you gave us” (Nehemiah 1:6-7 NLT). It wasn’t Nehemiah’s fault that Israel went into captivity. He wasn’t even born when it happened; he was most likely born in captivity. Yet he included himself in the sins of his people. He essentially said, “I’ve been a part of the problem.”

3. Claim the promises of God. Nehemiah prayed to the Lord, saying, “Please remember what you told your servant Moses” (Nehemiah 1:8 NLT). Can you imagine saying “remember” to God? Nehemiah reminded God of a promise he made to the nation of Israel. In effect, Nehemiah prayed, “God, you warned through Moses that if we were unfaithful, we would lose the land of Israel. But you also promised that if we’d repent, you’d give it back to us.”

Does God have to be reminded? No. Does he forget what he’s promised? No. Then why should you claim God’s promises when you pray? Because it helps you remember what God has promised.

4. Be specific in what you ask for. If you want specific answers to prayer, make specific requests. If your prayers consist of general requests, how will you know if they’re answered?

When you pray, you’re submitting yourself to God’s sovereignty, acknowledging that he is active in all the details of your life and able to provide for your every need. But prayer also brings you into alignment with God’s will, helping you understand how and why he answered the way he did. 

And _never_ doubt this: God answers your prayers.


Jumat, 19 Juni 2026

Tuhan Selalu Menyertai Anda, Apa Pun yang Anda Rasakan

20 Juni 2026

Bacaan Hari ini:
Ayub 1:21 "Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!"
--------------------
Saat seseorang baru mulai mengikuti Kristus, Tuhan sering memberikan banyak pengalaman yang menguatkan iman. Doa-doa sederhana dijawab, hati dipenuhi sukacita, dan kehadiran Tuhan terasa begitu nyata.
Namun seiring pertumbuhan rohani, Tuhan mengajarkan sesuatu yang lebih dalam: hidup berdasarkan iman, bukan perasaan.
Fakta dan Perasaan Tidak Selalu Sama
Ada perbedaan antara:

- Kehadiran Tuhan sebagai fakta, dan

- Merasakan kehadiran Tuhan sebagai pengalaman.

Tuhan selalu hadir. Itu adalah fakta.
Namun kita tidak selalu merasakan kehadiran-Nya. Itu adalah pengalaman yang bisa berubah-ubah.
Kadang kita merasa dekat dengan Tuhan. Kadang kita merasa doa seakan tidak dijawab. Kadang Tuhan terasa diam.
Tetapi ketidakhadiran perasaan bukan berarti ketidakhadiran Tuhan.

Pelajaran dari Ayub
Tokoh Alkitab Ayub mengalami salah satu penderitaan terbesar yang pernah dicatat dalam Alkitab.
Dalam waktu singkat ia kehilangan:

- Anak-anaknya

- Hartanya

- Kesehatannya

- Mata pencahariannya

Yang lebih sulit lagi, selama sebagian besar kisahnya Tuhan seolah-olah diam.
Namun respons Ayub luar biasa: "TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN."
Ayub tidak memahami apa yang sedang terjadi, tetapi ia tetap memilih percaya kepada Tuhan.

Tuhan Lebih Peduli pada Iman daripada Perasaan
Perasaan sangat berharga, tetapi perasaan tidak selalu dapat dipercaya.
Hari ini Anda mungkin merasa:

- Takut

- Bingung

- Marah

- Kecewa

- Sedih

- Merasa Tuhan jauh

Namun firman Tuhan mengajarkan bahwa iman berarti tetap mempercayai Tuhan bahkan ketika kita tidak memahami keadaan.
Iman berkata: "Aku tidak mengerti apa yang sedang terjadi, tetapi aku tetap percaya bahwa Tuhan memegang kendali."

Curahkan Semua Isi Hati kepada Tuhan
Ayub tidak berpura-pura kuat.
Ia mengungkapkan kesedihannya.
Ia mengungkapkan kebingungannya.
Ia mengungkapkan pertanyaannya.
Tuhan tidak marah karena kejujuran Ayub.

Demikian juga hari ini.
Tuhan sanggup menerima:

- Pertanyaan Anda

- Air mata Anda

- Kekecewaan Anda

- Ketakutan Anda

- Pergumulan Anda

Datanglah kepada-Nya apa adanya.

Janji Tuhan

"Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?" Roma 8:31
Mungkin Anda tidak selalu merasakan kehadiran Tuhan.
Namun firman-Nya tetap benar:

- Tuhan menyertai Anda.

- Tuhan mengasihi Anda.

- Tuhan bekerja bagi kebaikan Anda.

- Tuhan tidak pernah meninggalkan Anda.

Renungkan

- Pernahkah Anda mengalami masa ketika Tuhan terasa jauh atau diam? Apa yang menolong Anda tetap percaya?

- Mengapa iman sering kali bertumbuh paling besar justru dalam masa-masa sulit?

- Adakah hal yang selama ini Anda ceritakan kepada orang lain, tetapi belum Anda sampaikan dengan jujur kepada Tuhan?

Bacaan Alkitab Setahun :
Nehemia 12-13; Kisah Para Rasul 4:23-37
____________
Jangan bergantung pada apa yang Anda rasakan hari ini. Bergantunglah pada siapa Tuhan itu dan apa yang telah Dia janjikan.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
=========
God Is Always with You, No Matter How You Feel - Daily Hope with Rick Warren - June 20, 2026

“Naked I came from my mother’s womb, and naked I will depart. The LORD gave and the LORD has taken away; may the name of the LORD be praised.” Job 1:21 (NIV)
--------------
When you’re a baby Christian, God gives you a lot of confirming emotions and often answers immature, self-centered prayers so you’ll know he exists. But as you grow in faith, he will wean you off these dependencies.

God’s omnipresence and the manifestation of his presence are two different things. One is a fact; the other is often a feeling. It’s a fact that God is omnipresent; he’s always there, even when you’re unaware of him. Even when you don’t feel his presence, you can always trust the fact that God is with you. His presence is too profound to be measured just by emotion.

Yes, God wants you to sense his presence, but he’s more concerned that you trust him than feel him. We live by faith, not by sight or by our feelings.

The situations that will stretch your faith most will be those times when life falls apart and God is nowhere to be found. That happened to a man named Job. On a single day he lost everything—his family, his business, his health, and all his possessions. And then, for 37 chapters in the Old Testament book of Job, God said nothing!

How do you praise God when you don’t understand what’s happening in your life and God is silent? How do you stay connected in a crisis without communication? How do you keep your eyes on Jesus when they’re full of tears? You do what Job did: “Then he fell to the ground in worship and said: ‘Naked I came from my mother’s womb, and naked I will depart. The LORD gave and the LORD has taken away; may the name of the LORD be praised’” (Job 1:20-21 NIV).

Tell God exactly how you feel. Pour out your heart to him. Unload every emotion that you’re feeling. Job did this when he said, “I can’t be quiet! I am angry and bitter. I have to speak” (Job 7:11 GNT).

He cried out when God seemed distant: “Oh, for the days when I was in my prime, when God’s intimate friendship blessed my house” (Job 29:4 NIV).

Whether or not you can feel God today, you can trust that he’s there with you. Are you full of doubt, anger, fear, grief, confusion, or questions? Bring it all to God. He is with you, he is for you, and he can handle all your questions and concerns.

The Bible says, “If God is for us, who can be against us?” (Romans 8:31 NIV).


Kamis, 18 Juni 2026

Apa Artinya Menjadi Benar di Hadapan Tuhan?

19 Juni 2026

Bacaan Hari ini:
Roma 1:17 "Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: "Orang benar akan hidup oleh iman"
-----------------
Kata "kebenaran" atau "righteousness" adalah salah satu istilah penting dalam Alkitab. Kata ini muncul ratusan kali. Alkitab mengatakan bahwa Allah mengasihi kebenaran, Allah itu benar, dan suatu hari nanti Dia akan menghakimi dunia dengan keadilan dan kebenaran-Nya.
Namun, apa sebenarnya arti "righteousness"?
Sederhananya, kebenaran memiliki dua makna utama: hubungan dan gaya hidup.

1. Kebenaran adalah Hubungan dengan Tuhan

Kebenaran berarti berada dalam hubungan yang benar dengan Allah.
Roma 1:17 berkata: "Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: "Orang benar akan hidup oleh iman"
Kabar Baik (Injil) adalah bahwa melalui kematian dan kebangkitan Yesus Kristus, dosa manusia dapat diampuni sehingga manusia dapat diperdamaikan dengan Allah.
Kita tidak menjadi benar karena usaha atau kebaikan kita sendiri, tetapi karena kasih karunia Tuhan melalui iman kepada Yesus Kristus.
Ketika hubungan dengan Tuhan dipulihkan, hidup memiliki tujuan dan arah yang jelas.

2. Kebenaran adalah Cara Hidup

Menjadi benar di hadapan Tuhan juga berarti belajar hidup sesuai kehendak-Nya setiap hari.
Alkitab berkata: "Jikalau kamu tahu, bahwa Ia adalah benar, kamu harus tahu juga, bahwa setiap orang, yang berbuat kebenaran, lahir dari pada-Nya." 1 Yohanes 2:29
Ini bukan berarti kita menjadi sempurna, tetapi kita terus bertumbuh untuk semakin menyerupai Kristus dalam perkataan, pikiran, dan tindakan.

Mengapa Menjadi Benar di Hadapan Tuhan Itu Penting?
Karena tanpa hubungan dengan Tuhan, manusia hanya sekadar menjalani hidup, bukan benar-benar hidup.

Banyak orang mengejar:

- Uang

- Jabatan

- Kesuksesan

- Popularitas

- Kenyamanan

Tetapi semua itu tidak dapat memberikan makna hidup yang sejati.
Kita diciptakan untuk mengenal Tuhan dan hidup dalam hubungan dengan-Nya. Saat hubungan itu dipulihkan, hidup menemukan tujuan yang sebenarnya.

Kebenaran Membawa Dampak Kekal
Tuhan mengasihi manusia dan ingin setiap orang bersama-Nya untuk selama-lamanya.
Namun Tuhan tidak memaksa siapa pun untuk mengasihi-Nya.
Dia memberikan pilihan kepada setiap orang untuk menerima atau menolak hubungan dengan-Nya.

Hari ini adalah kesempatan untuk memilih berjalan bersama Tuhan dan hidup dalam hubungan yang benar dengan-Nya.

Renungkan

- Apa arti memiliki hubungan pribadi dengan Tuhan bagi Anda?

- Dalam area apa Tuhan sedang membentuk Anda agar semakin hidup benar sesuai kehendak-Nya?

- Bagaimana Anda menjelaskan arti "kebenaran" kepada seseorang yang belum mengenal Kristus?

Bacaan Alkitab Setahun :
Nehemia 10-11; Kisah Para Rasul 4:1-22
___________
Ketika seseorang menerima kasih karunia Tuhan melalui Yesus Kristus, hidupnya diubahkan—bukan hanya untuk hari ini, tetapi juga untuk kekekalan.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
==========
What It Means to Be Right with God - Daily Hope with Rick Warren - June 15, 2026

“The Good News shows how God makes people right with himself.” Romans 1:17 (NCV)
--------------------
“Righteousness” is a big word in the Bible. It’s used hundreds of times. For example, the Bible says that God loves righteousness and that God is righteous. It says that one day God is going to judge the world in righteousness. Psalm 23 says that God leads us “in the paths of righteousness” (Psalm 23:3 KJV).

But what in the world does this word “righteousness” really mean?

I once looked it up in a theological dictionary, and its definition went on for 27 pages! But I’ll boil it down to two things: Righteousness is a relationship and a lifestyle.

Righteousness simply means being right with God. Romans 1:17 says, “The Good News shows how God makes people right with himself” (NCV). The Good News is that God made us right with himself through Jesus’ death as payment for our sins. Because of Jesus’ death, we can have a personal relationship with God.

Righteousness is also a lifestyle. It means living right, as God intends. The Message paraphrase says, “All who practice righteousness are God’s true children” (1 John 2:29).

So why should you care about being right with God? Because it’s the only way to truly live, and it’s the only way to heaven.

When you are disconnected from God, you’re not really living; you’re just existing. Most people in the world aren’t really fully alive. They just exist, trying to make it to the weekend. When you’re disconnected from your Creator who made you for a purpose, life is nonsense.

Life is not about the acquisition of things or the achievement of goals. Life is about getting to know God—the one who loves you and made you for a purpose. You’re not really living until you’re right with God and have a relationship with him.

Righteousness is also the way you get to heaven. God created heaven as a place for his children whom he loves, and he wants you to be with him forever. He wants you to be in heaven, but he’s not going to force you to go to heaven. You can choose to be disconnected from God here on earth, but when your life on earth is done, you will not be given a second chance to choose where you spend eternity—no matter how many good things you’ve done.

God gives you the choice right now to have a relationship with him. He wants you to choose to love him! And when you do, you will be made right with him. It will change your life—here on earth and for eternity!


Rabu, 17 Juni 2026

Kelemahlembutan Lebih Penting Daripada yang Anda Kira

18 Juni 2026

Bacaan Hari ini:
Matius 11:28-29 "Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan."
--------------------
Kelemahlembutan sangat penting karena banyak alasan. Kelemahlembutan meredakan konflik, melunakkan kritik, membuat kita lebih mudah didengarkan, lebih disukai dan menjadi cara yang nyata untuk menunjukkan kasih kepada orang lain.
Namun yang terpenting, kelemahlembutan membuat kita semakin serupa dengan Yesus.

Dalam Matius 11:28-29, Yesus berkata: "Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan."

Apakah hari ini Anda merasa lelah? Terbebani? Gelisah?
Yesus menawarkan ketenangan bagi jiwa yang lelah. Menariknya, Dia menghubungkan ketenangan itu dengan karakter-Nya yang lemah lembut dan rendah hati. Semakin kita belajar hidup seperti Yesus, semakin kita mengalami damai sejahtera yang sejati.

Kelemahlembutan Berasal dari Dalam
Kita tidak bisa hanya berkata, "Mulai hari ini saya akan menjadi orang yang lemah lembut," lalu langsung berhasil.

Kelemahlembutan adalah hasil pekerjaan Roh Kudus di dalam hati kita. Semakin dekat kita berjalan bersama Yesus, semakin karakter-Nya terbentuk dalam hidup kita.
Tiga Cara Praktis Melatih Kelemahlembutan

1. Saat seseorang melayani Anda, jadilah pengertian, bukan menuntut

Ketika antre panjang di kantor pelayanan, restoran, bank, atau tempat lain, ingatlah bahwa orang yang melayani Anda juga manusia yang bisa lelah dan memiliki pergumulannya sendiri.
Tunjukkan kesabaran dan pengertian.

2. Saat seseorang tidak setuju dengan Anda, bersikaplah lembut tanpa menyerah pada kebenaran

Kita tidak harus mengorbankan prinsip atau keyakinan untuk bersikap baik.
Kita bisa tetap menyampaikan kebenaran dengan hormat dan kasih.
Sering kali orang tidak menolak pesan kita, tetapi menolak cara kita menyampaikannya.

3. Saat seseorang mengecewakan Anda, bersikaplah lembut, bukan menghakimi

Efesus 4:32 mengingatkan: "Hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu."
Karena kita telah menerima pengampunan dari Tuhan, kita juga dipanggil untuk memperlakukan orang lain dengan kasih dan kelemahlembutan.

Renungkan :

- Mengapa kuk (alat penarik bajak) yang diberikan Yesus justru membawa kelegaan dan bukan beban?

- Pernahkah Anda berkata, "Saya memang bukan orang yang lembut"? Apakah itu alasan yang selama ini menghambat pertumbuhan karakter Anda?

- Dalam hal apa Roh Kudus telah mengubah hidup Anda sejak Anda mengenal Tuhan?

Bacaan Alkitab Setahun :
Nehemia 7-9; Kisah Para Rasul 3
__________
Kelemahlembutan membuat kita semakin serupa dengan Yesus.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
=========
Being Gentle Matters More Than You Think - Daily Hope with Rick Warren - June 18, 2026

“Come to me, all you who are weary and burdened, and I will give you rest. Take my yoke upon you and learn from me, for I am gentle and humble in heart, and you will find rest for your souls.” Matthew 11:28-29 (NIV)
------------------
Gentleness is important for so many reasons. It defuses conflict. It disarms critics. It’s persuasive. It’s attractive. It communicates love.

Most importantly, gentleness makes you more like Jesus. In Matthew 11:28-29, Jesus says, “Come to me, all you who are weary and burdened, and I will give you rest. Take my yoke upon you and learn from me, for I am gentle and humble in heart, and you will find rest for your souls” (NIV).

Do you feel weary and burdened today? Do you want to find rest and be at peace instead? Rest and peace come from being like Jesus—from being gentle.

You can’t just walk out your door and force yourself to be gentle. Gentleness needs to be an “inside job.” It should be the fruit of God’s Spirit in you. Jesus is gentle, and when you walk alongside him, you’ll learn to be gentle too.

For decades, I’ve prayed the same prayer almost every day: “Lord, help me to treat people the way Jesus would.” Why? Because I am not by nature a gentle person. So I have to let God produce gentleness in my life.

Here are three simple ways for you to practice gentleness with God’s help this week:

1. When somebody serves you, be understanding, not demanding. 

Then next time you’re in a long line at a government office or coffee shop, be considerate—be understanding—of the person who eventually helps you.

2. When somebody disagrees with you, be tender without surrender.

You’ll never get your point across by being cross. You don’t have to back down from God’s truth, but you can treat people with gentleness and respect.

3. When somebody disappoints you, be gentle, not judgmental.

The Message paraphrase says it like this: “Be gentle with one another, sensitive. Forgive one another as quickly and thoroughly as God in Christ forgave you” (Ephesians 4:32). 

As you walk alongside Jesus and put these things into practice every day, you’ll find yourself becoming gentler and more like Jesus.


Selasa, 16 Juni 2026

Pemimpin yang Efektif Bersikap Lembut

17 Juni 2026

Bacaan Hari ini:
Amsal 11:16 "Perempuan yang baik hati beroleh hormat; sedangkan seorang penindas beroleh kekayaan."
---------------------
Kelemahlembutan adalah salah satu syarat penting untuk menjadi pemimpin yang efektif. Di mana pun Anda ingin memimpin—di gereja, pemerintahan, bisnis, keluarga, sekolah atau masyarakat—Anda perlu belajar bersikap lemah lembut terlebih dahulu.

Amsal 11:16 mengatakan, "Perempuan yang baik hati beroleh hormat; sedangkan seorang penindas beroleh kekayaan." Prinsip ini berlaku bukan hanya bagi perempuan, tetapi juga bagi laki-laki. Kelemahlembutan menghasilkan rasa hormat, dan tidak ada seorang pun yang dapat memimpin dengan baik tanpa terlebih dahulu dihormati.

Yesus: Teladan Kelemahlembutan
Yesus berkata bahwa Dia "lemah lembut dan rendah hati" (Matius 11:29).
Padahal Yesus sangat kuat. Ia mampu membuat para pemimpin agama yang sombong terdiam. Ia juga pernah membalikkan meja-meja para pedagang di Bait Allah. Namun, Ia tidak pernah kehilangan kendali diri. Kekuatan-Nya selalu berada di bawah kendali Bapa. Itulah kelemahlembutan sejati.

Musa: Pemimpin Besar yang Belajar Menjadi Lembut
Selain Yesus, salah satu tokoh Alkitab yang secara khusus disebut sangat lemah lembut adalah Moses.
Kita mengenal Musa sebagai pemimpin yang berani menghadapi Firaun, penguasa paling kuat pada zamannya. Namun Alkitab berkata: "Adapun Musa ialah seorang yang sangat lembut hatinya, lebih dari setiap manusia yang di atas muka bumi." Bilangan 12:3

Menariknya, kelemahlembutan tidak datang secara alami bagi Musa. Ia memiliki masalah besar dengan kemarahan.

- Ia pernah membunuh seorang Mesir karena marah.

- Ia pernah menghancurkan loh batu berisi Sepuluh Perintah Allah karena kecewa kepada bangsa Israel.

- Bahkan kemarahannya membuatnya tidak masuk ke Tanah Perjanjian.

Lalu bagaimana seseorang yang bergumul dengan amarah bisa disebut sangat lemah lembut?
Karena Musa memiliki hati yang mau diajar. Ketika ditegur atau dikoreksi, ia belajar dan bertumbuh. Ia tidak membiarkan kesombongan menguasainya.

Roh yang Mau Diajar
Kelemahlembutan bukan berarti lemah. Kelemahlembutan berarti memiliki hati yang terbuka untuk belajar, dikoreksi dan dibentuk oleh Tuhan.
Mungkin pergumulan Anda bukan kemarahan seperti Musa.

Mungkin pergumulan Anda adalah :

- Tidak sabar.

- Mudah tersinggung.

- Terlalu pasif.

- Malas.

- Sulit menerima masukan.

Apa pun pergumulan Anda, mintalah Tuhan membentuk roh yang lemah lembut dan mau diajar.

Semakin Anda memiliki sikap seperti itu, semakin Anda akan dihormati oleh orang-orang di sekitar Anda. Dan rasa hormat itulah yang membuat kepemimpinan Anda menjadi lebih efektif.

Renungkan :

- Siapa pemimpin yang paling Anda hormati? Apa bentuk kelemahlembutan yang Anda lihat dalam hidupnya?

- Apakah menurut Anda kelemahlembutan adalah kualitas yang mengagumkan? Mengapa?

- Dalam area apa Tuhan sedang mengajar Anda untuk memiliki hati yang lebih mudah dibentuk dan diajar?

Bacaan Alkitab Setahun :
Nehemia 4-6; Kisah Para Rasul 2:22-47
___________
Kelemahlembutan menghasilkan rasa hormat, dan tidak ada seorang pun yang dapat memimpin dengan baik tanpa terlebih dahulu dihormati.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
=========
Effective Leaders Are Gentle - Daily Hope with Rick Warren - June 17, 2026

“A woman of gentle grace gets respect.” Proverbs 11:16 (MSG)
------------------
Gentleness is a prerequisite to leadership. No matter where you want to be a leader—in church, government, business, home, school, or your community—you first have to be gentle.

The Message paraphrase says, “A woman of gentle grace gets respect” (Proverbs 11:16)—and that’s true for men too. Gentleness leads to respect, and no one can truly lead without being respected. 

Jesus was “gentle and humble in heart” (Matthew 11:29 NIV). He was strong in every way. He could make arrogant leaders speechless and overturn tables in the temple. But he never lost his temper. He kept his strength under control. He was gentle.

Other than Jesus, Moses is one of the few people in the Bible described as deeply humble—the kind of humility that shows up as gentleness

You probably think of Moses as a strong leader. He took on Pharaoh, the most powerful man in the world at the time, and demanded that Pharaoh let God’s people go. Moses had nothing but God on his side—and that was enough for him. But before Moses was a leader, Moses was gentle.

Here’s what the Bible says about Moses: “Now the man Moses was very humble (gentle, kind, devoid of self-righteousness), more than any man who was on the face of the earth” (Numbers 12:3 AMP).

But it’s likely that gentleness didn’t come naturally for Moses. His persistent sin was uncontrolled anger; he had a violent temper, and he had trouble managing it.

One time Moses got so angry that he killed an Egyptian. Another time, when Moses came down from the mountain after receiving the Ten Commandments, he found the Hebrew people worshiping an idol. He was so angry that he threw down the Ten Commandments and broke them. And anger kept Moses from entering the Promised Land.

So how could the guy who had a lifelong problem with anger be the only one in the Bible besides Jesus who is called gentle? Because Moses was teachable. When people spoke to him about areas of his life that needed changing, it didn’t make him angry. Instead, he learned from them.

He was gentle. And that gentleness earned him respect. And that respect made him a leader.

Maybe you struggle with anger like Moses. Or maybe you’re too submissive, or impatient, or lazy. Whatever you struggle with, choose to have a gentle, teachable spirit. You’ll find that your gentleness earns you the respect of the people around you.