Kamis, 08 Oktober 2026

Kebiasaan yang Menghasilkan Sukacita

09 Oktober 2026

Bacaan Hari ini:
1 Tesalonika 5:18 "Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu."
----------------------
Ketika Anda sedang melewati masa yang penuh dengan perubahan besar dan tekanan, bagaimana Anda mempertahankan sukacita? Anda melakukannya dengan mengembangkan kebiasaan untuk bersyukur kepada Allah atas segala sesuatu yang baik, terlepas dari semua hal yang buruk.

Prinsip ini terdapat dalam 1 Tesalonika 5:18: "Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.". Ini berarti kita harus mengembangkan sikap penuh rasa syukur dalam setiap keadaan. Bukan berarti kita harus bersyukur atas segala sesuatu yang terjadi pada kita, terutama hal-hal buruk seperti kanker atau kecelakaan mobil. Kita tidak harus bersyukur atas semua kejahatan yang ada di dunia.

Namun, setiap kali Anda meluangkan waktu sejenak untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Allah atas sesuatu—entah itu musik favorit Anda, suatu tempat di alam yang Anda sukai atau ayat-ayat Alkitab—hal itu membantu mengisi kembali tangki emosi Anda yang kosong sehingga Anda dapat terus menjalani hidup. Memilih untuk bersyukur adalah demi kebaikan Anda sendiri; hal itu mencegah Anda menjadi pahit dan membantu Anda menyelesaikan perjalanan hidup dengan kuat.

Bersyukur itu mudah ketika tangki emosi Anda penuh dan segala sesuatu berjalan dengan baik. Jauh lebih sulit menemukan sesuatu untuk disyukuri ketika Anda sedang menghadapi krisis atau tekanan berkepanjangan yang terus-menerus. Namun, justru pada saat itulah Anda paling perlu mengungkapkan rasa syukur.

Kisah Ayub merupakan contoh yang sangat baik tentang rasa syukur di masa-masa sulit. Ia adalah seorang pria kaya dan sukses, tetapi kehilangan segalanya dalam satu hari. Ia tidak tahu mengapa semua itu terjadi kepadanya, dan ia memiliki banyak alasan untuk marah dan menjadi pahit. Meskipun demikian, ia tetap percaya kepada Allah. Bahkan pada saat tergelap dalam hidupnya, ia tersungkur ke tanah dan menyembah Allah sambil berkata, "Terpujilah nama TUHAN" (Ayub 1:21).

Salah satu kebiasaan paling praktis sekaligus paling ampuh yang dapat Anda kembangkan adalah membuat daftar hal-hal yang Anda syukuri setiap hari. Luangkan waktu lima menit setiap hari untuk duduk dan bertanya kepada diri sendiri, "Apa yang saya syukuri?" Kebiasaan ini akan menguatkan jiwa Anda dan membantu Anda terus melangkah ketika Anda merasa ingin menyerah.

Renungkan :

- Apa yang diungkapkan oleh sikap penuh rasa syukur tentang kepercayaan Anda kepada Allah yang baik?

- Apa saja hal yang selama ini Anda anggap biasa, tetapi mulai hari ini dapat Anda syukuri kepada Allah?

- Kapan sikap penuh rasa syukur memberi Anda kekuatan untuk melewati masa sulit?

Bacaan Alkitab Setahun :
Yesaya 41-43; Filipi 4 : 1-9
_____________
Bahkan pada saat-saat tergelap dalam hidup kita, kita dapat mengikuti teladan Ayub dan menyembah Allah dengan penuh rasa syukur, karena kita tahu bahwa kehendak-Nya bagi kita adalah untuk bersyukur dalam segala keadaan.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
=======
The Habit That Produces Joy
By Rick Warren

"Be thankful in all circumstances, for this is God’s will for you who belong to Christ Jesus.” 1 Thessalonians 5:18 (NLT)
------------------
When you’re going through a season of great change and stress, how do you maintain joy? You do it by developing the habit of thanking God for all that’s good, despite all that’s bad.

This principle is found in 1 Thessalonians 5:18: “Be thankful in all circumstances, for this is God’s will for you who belong to Christ Jesus” (NLT). This means that we should develop an attitude of gratitude in every situation. It doesn't mean that we have to be thankful for everything that happens to us, especially the bad things like cancer or car accidents. We don’t have to be thankful for all the evil in the world.

But every time you take a minute to express gratitude to God about anything—it could be your favorite music, a spot in nature, or Scripture—it helps refill your empty emotional tank so you can move forward in life. Choosing to be thankful is for your own good; it keeps you from becoming bitter and helps you to finish strong.

Being grateful is easy when your emotional tank is full and things are going great. It’s much harder to find something to be thankful for when you're facing a crisis or prolonged chronic stress. But that’s when you need to express gratitude the most.

The story of Job is a great example of gratitude during hard times. He was a wealthy and successful man, but he lost everything in a single day. He didn't know why it all happened to him, and he had every reason to be angry and bitter. Despite this, he continued to trust God. Even in his darkest moment, he fell to the ground and worshiped God, saying, “May the name of the LORD be praised” (Job 1:21 NIV).

One of the most practical yet powerful habits you can develop is to make a daily gratitude list. Just sit down for five minutes each day and ask yourself, "What am I grateful for?” It’s a habit that will strengthen your soul and keep you going when you feel like giving up.

Even in our darkest moments, we can follow Job's example and gratefully worship God, knowing that his will for us is to give thanks in all circumstances.


Rabu, 07 Oktober 2026

Anda Bisa Bersikap Jujur kepada Allah

08 Oktober 2026

Bacaan Hari ini:
1 Petrus 5:7 "Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu"
--------------------
Pernahkah Anda berdoa seperti ini? "Allah, tolonglah saya. Saya merasa kewalahan dan putus asa. Saya tidak tahu apakah saya sanggup terus melangkah." Jika pernah, berarti Anda sedang bersikap jujur kepada Allah—dan itulah tepatnya jenis doa yang ingin Dia dengar dari Anda.

Apakah Anda merasa sedang diserang? Katakan kepada Allah. Apakah Anda merasa tidak memiliki tenaga lagi? Katakan kepada Allah. Apakah Anda merasa ditolak atau kesepian? Katakan kepada Allah. Anda diizinkan untuk mencurahkan segala sesuatu yang sedang Anda rasakan saat ini kepada Tuhan karena Alkitab berkata, "Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu" (1 Petrus 5:7).

Namun, terkadang bersikap jujur kepada Allah bisa terasa menakutkan. Anda mungkin berpikir bahwa Dia belum mengetahui segala sesuatu tentang hidup Anda, tetapi sebenarnya Dia tahu. Itulah sebabnya penting untuk mengingat tiga fakta tentang Allah ketika Anda berdoa.

Allah mengetahui setiap emosi yang Anda rasakan. Alkitab berkata, "Dia yang membentuk hati mereka sekalian, yang memperhatikan segala pekerjaan mereka." (Mazmur 33:15)

Ketika Anda memberi tahu Allah tentang perasaan Anda, Dia tidak akan pernah berkata, "Itu mengejutkan-Ku." Mengapa? Karena Dia menciptakan pikiran Anda, sama seperti Dia menciptakan segala sesuatu yang lain. Anda dapat berbicara dengan bebas kepada-Nya. Tidak ada satu pun yang Anda katakan yang akan membuat-Nya terkejut.

Ketika Anda mengungkapkan perasaan kepada Allah, hal itu bermanfaat bagi Anda, bukan bagi Dia. Allah tahu bahwa ketika Anda "menyerahkan semua kekhawatiran kepada-Nya", hal itu dapat mengurangi banyak ketegangan yang tidak Anda sadari dan konflik batin dalam hidup Anda.

Allah memahami perasaan Anda lebih baik daripada Anda sendiri. Alkitab berkata, "TUHAN menyelidiki segala hati dan mengerti segala niat dan cita-cita" (1 Tawarikh 28:9).

Saya ragu Anda memahami segala sesuatu yang Anda pikirkan. Saya sendiri tentu tidak memahami segala sesuatu yang saya pikirkan. Terkadang Anda merasakan suatu emosi yang membuat Anda bertanya-tanya, "Dari mana perasaan ini berasal?" Namun, karena Allah memberi Anda emosi, Dia selalu memahaminya.

Satu-satunya alasan Anda memiliki emosi adalah karena Anda diciptakan menurut gambar Allah—dan Allah adalah Allah yang memiliki emosi. Alkitab mengatakan bahwa Allah merasa sedih dan marah, bahkan Dia juga tertawa. Setiap emosi yang Anda miliki berasal dari Allah.

Allah senang mendengarkan Anda. Alkitab berkata, "Aku mengasihi TUHAN sebab Ia mendengarkan suaraku dan permohonanku. Sebab Ia menyendengkan telinga-Nya kepadaku, maka seumur hidupku aku akan berseru kepada-Nya." (Mazmur 116:1-2).

Allah adalah Allah yang mendengarkan. Anda mungkin terlalu sibuk untuk berbicara dengan-Nya, tetapi Dia tidak pernah terlalu sibuk untuk berbicara dengan Anda. Dia juga tidak mudah kehilangan perhatian; Dia tidak akan berkata, "Apa yang tadi Anda katakan? Bisakah Anda mengatakannya sekali lagi?" Allah selalu memberikan perhatian penuh.

Jadi, setiap kali Anda merasa tertekan dan tidak tahu harus berbuat apa lagi, berdoalah dengan jujur dan "Bangunlah, mengeranglah pada malam hari, pada permulaan giliran jaga malam; curahkanlah isi hatimu bagaikan air di hadapan Tuhan" (Ratapan 2:19).

Renungkan :

- Meskipun Allah ingin Anda “menyerahkan semua kekhawatiran kepada-Nya”, apakah masih ada sesuatu yang membuat Anda tidak bisa sepenuhnya jujur kepada-Nya?

- Apa yang akan Anda katakan kepada Allah saat ini jika Anda benar-benar jujur tentang perasaan Anda?

- Mazmur 55:17 berkata, "Di waktu petang, pagi dan tengah hari aku cemas dan menangis; dan Ia mendengar suaraku." Menurut ayat ini, kapan waktu yang tepat untuk berseru kepada Allah?

Bacaan Alkitab Setahun :
Yesaya 37-40; Filipi 3
____________
Allah memahami perasaan Anda lebih baik daripada Anda sendiri. Allah sanggup menanggungnya dan Dia siap mendengarkan doa-doa Anda.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
========
You Can Be Honest with God
By Rick Warren

“Throw all your worry on [God], because he cares for you.” 1 Peter 5:7 (ISV)
-----------------
Have you ever prayed a prayer like this? “God, help me. I’m overwhelmed and discouraged. I don't know if I can keep going.” If so, you were being honest with God—and that’s exactly the kind of prayer he wants to hear from you.

Do you feel under attack? Tell God. Do you feel like you have no energy? Tell God. Do you feel rejected or lonely? Tell God. You have permission to dump everything you’re feeling right now onto the Lord because the Bible says: “Throw all your worry on [God], because he cares for you” (1 Peter 5:7 ISV).

But sometimes being honest with God can be intimidating. You might think he doesn’t already know everything about your life, but he does. That’s why it’s important to remember three facts about God when you pray.

God knows every emotion you feel. The Bible says, “The LORD gave each of us a mind, and nothing we do can be hidden from him” (Psalm 33:15 CEV).

When you tell God how you feel, he will never say, “That’s a surprise to me.” Why? Because he created your mind along with everything else. You can speak freely to him. Nothing you say will ever catch him off guard.

And when you do share your feelings with God, it’s for your benefit, not his. God knows that when you “throw all your worries on him,” it relieves a lot of unconscious tension and internal conflict in your life.

God understands your feelings better than you do. The Bible says, “The LORD knows what is in everyone's mind. He understands everything you think” (1 Chronicles 28:9 NCV).

I doubt you understand everything you think. I certainly don’t understand everything I think. And sometimes you’ll have an emotion that makes you wonder, “Where did that come from?” But because God gave you your emotions, he always understands them.

The only reason you have emotions is because you’re made in God’s image—and God is an emotional God. The Bible says God gets sad and angry, and he even laughs. Every emotion you have comes from God.

God loves to listen to you. The Bible says, “I love the LORD, because he hears me. . . . He listens to me every time I call to him” (Psalm 116:1-2 GNT).

God is a listening God. You may get too busy for a conversation with him, but he is never too busy for a conversation with you. And he doesn't have a short attention span; he won’t say, “What were you talking about? Can you say that again?" God is always attentive.

So whenever you're distressed and at the end of your rope, pray honestly and “cry out in the night . . . pour out your heart like water in the presence of the Lord” (Lamentations 2:19 NIV). God can handle it, and he’s ready to hear your prayers.

Selasa, 06 Oktober 2026

Pengharapan yang Tidak Mengecewakan

Selama lebih dari lima tahun, Maya bergumul dengan kegagalan usaha yang membawanya ke puncak titik terendah. Di tengah beban hutang yang menumpuk dan rasa malu yang mendalam, ia hampir kehilangan harapan dan merasa doa-doanya hanya berhenti di langit-langit kamar. Namun, di saat ia akhirnya belajar untuk menyerahkan seluruh kendali hidupnya dan tidak lagi mengandalkan kekuatannya sendiri, pintu-pintu pertolongan yang tidak pernah ia duga justru terbuka satu per satu secara ajaib.

​Kisah kesaksian ini mengingatkan kita akan kebenaran firman Tuhan dalam Surat Roma 5:5, yang menyatakan bahwa "pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikurniakan kepada kita." Ketika situasi di sekitar kita tampaknya tidak memberikan kepastian, iman mengajar kita untuk tetap percaya bahwa Tuhan sedang bekerja di balik layar. Penderitaan dan proses yang kita alami sering kali menjadi sarana yang membentuk ketekunan, karakter, dan keteguhan iman yang murni.

​Saudaraku, mungkin saat ini Anda sedang berada di tengah badai kehidupan yang membuat Anda mempertanyakan kehadiran-Nya. Percayalah bahwa tidak ada air mata yang terbuang sia-sia di hadapan Tuhan, dan setiap janji-Nya adalah ya dan amin. Tetaplah setia melangkah, sebab Ia tidak pernah terlambat untuk menolong dan memulihkan setiap orang yang berharap kepada-Nya.
​Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan. (Yeremia 29:11)
​Bacaan: Galatia 1:13-24
​(Gbu!)

Lampiran foto: IMG-20261007-WA0000.jpg
Uploaded Image

Kuasa untuk Terus Melangkah

07 Oktober 2026

Bacaan Hari ini:
2 Korintus 4:9 "kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa."
------------------
Jika Anda pernah menyaksikan perlombaan, Anda mungkin pernah mendengar para penonton berteriak, "Teruslah melangkah!" untuk menyemangati para atlet. Nasihat ini juga sangat baik bagi siapa pun yang merasa lelah secara emosional, mental, atau rohani karena menjalani maraton kehidupan: Teruslah melangkah!

Alkitab memuat banyak contoh orang yang memiliki tekad untuk terus melangkah ketika menghadapi perlawanan, termasuk Yesus dan Paulus.

Yesus terus-menerus menghadapi perlawanan. Para pemimpin agama dan politik berusaha mengintimidasi-Nya. Mereka berulang kali mencoba menghentikan-Nya mengajar dan menolong orang-orang. Pada suatu saat, mereka bahkan memperingatkan-Nya bahwa Raja Herodes ingin membunuh-Nya.

Namun, Yesus berkata kepada mereka, "Pergilah dan katakanlah kepada si serigala itu: Aku mengusir setan dan menyembuhkan orang, pada hari ini dan besok, dan pada hari yang ketiga Aku akan selesai. Tetapi hari ini dan besok dan lusa Aku harus meneruskan perjalanan-Ku" (Lukas 13:32-33).

Tidak ada yang dapat menghentikan Yesus untuk menyelesaikan tujuan-Nya—bukan rasa takut, perlawanan, ataupun kritik. Dia tangguh dan memiliki daya tahan untuk terus melangkah tanpa menyerah.

Paulus juga menghadapi berbagai rintangan yang mengancam untuk memperlambat langkahnya. Dalam Alkitab, ia berkata, "Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa." (2 Korintus 4:8-9).

Mungkin kata-kata itu terasa akrab bagi Anda karena Anda merasa berbagai masalah datang dari segala arah. Anda lelah dan kehabisan tenaga dan Anda merasa tidak akan mampu mencapai garis akhir.

Bagaimana Anda dapat terus melangkah? Anda mendapatkan kuasa untuk terus melangkah dari sumber yang sama dengan Yesus dan Paulus: Allah.

Alkitab mengatakan, "Jadi janganlah malu bersaksi tentang Tuhan kita dan janganlah malu karena aku, seorang hukuman karena Dia, melainkan ikutlah menderita bagi Injil-Nya oleh kekuatan Allah. Dialah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus" (2 Timotius 1:8-9).

Allah tidak mengharapkan Anda memenuhi tujuan hidup Anda dan melakukan kehendak-Nya dengan mengandalkan kekuatan sendiri. Pertama, Dia menyelamatkan Anda, lalu Dia memberikan kuasa kepada Anda untuk menjalani kehidupan sehari-hari.

Renungkan :

- Rasa takut, perlawanan, atau kritik seperti apa yang membuat Anda tergoda untuk mundur dari melakukan hal-hal yang telah Allah panggil untuk Anda lakukan?

- Dalam hal apa Anda merasa "terdesak dari segala sisi oleh berbagai masalah" saat ini?

- Kemana orang-orang berpaling selain kepada Allah untuk mencari kekuatan agar dapat bertahan menghadapi kesulitan? Kapan Anda pernah melihat kuasa Allah menopang Anda melewati masa sulit?

Bacaan Alkitab Setahun :
Yesaya 33-36; Filipi 2 : 19-30
_____________
Allah akan memberikan segala sesuatu yang Anda perlukan untuk terus melangkah dan menyelesaikan apa yang telah Dia panggil untuk Anda lakukan.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
=========
The Power to Keep Going
By Rick Warren

“We get knocked down, but we get up again and keep going.” 2 Corinthians 4:9 (TLB)
--------------------
If you’ve ever been at a race, you’ve probably heard spectators shout, “Keep going!” to motivate the athletes. That’s also great advice for anyone who feels emotionally, mentally, or spiritually exhausted from running the marathon of life: Keep going!

Scripture includes many examples of people who had determination to keep going in the face of opposition, including Jesus and Paul.

Jesus faced constant opposition. Religious and political leaders tried to intimidate him. They repeatedly tried to stop him from teaching and helping people. At one point, they even warned him that King Herod wanted to kill him.

But Jesus said to them, “Go tell that fox that I will keep on casting out demons and healing people today and tomorrow; and the third day I will accomplish my purpose. Yes, today, tomorrow, and the next day I must proceed on my way” (Luke 13:32-33 NLT).

Nothing was going to stop Jesus from accomplishing his purposes—not fear, opposition, or criticism. He was resilient and had the endurance to keep on keeping on. 

Paul also faced obstacles that threatened to slow him down. In the Living Bible paraphrase, he said, “We are pressed on every side by troubles, but not crushed and broken. We are perplexed because we don't know why things happen as they do, but we don't give up and quit. We are hunted down, but God never abandons us. We get knocked down, but we get up again and keep going” (2 Corinthians 4:8-9).

Maybe that sounds familiar, because you feel like troubles are coming at you from every direction. You’re tired and worn out, and you don’t think you’ll make it to the finish line.

How do you keep going? You get the power to keep going from the same place Jesus and Paul did: God.

The Message paraphrase says, “We can only keep on going, after all, by the power of God, who first saved us and then called us to this holy work” (2 Timothy 1:8-9).

God doesn’t expect you to fulfill your purpose and do his will in your own power. First, he saves you, and then he gives you the power for daily living. He will give you everything you need to keep going and finish what he has called you to do.


Senin, 05 Oktober 2026

DETIK-DETIK MUJIZAT DI ATAS LANGIT YORDANIA



Tragedi pesawat Flydubai FZ1073 

Ketika Penjaga Israel Tidak Pernah Terlelap

Pada tanggal 30 September 2026, pesawat Flydubai FZ1073 lepas landas dari Dubai menuju Tel Aviv. 

Di dalamnya ada 174 jiwa, 166 di antaranya adalah warga Israel yang ingin pulang ke rumah. 

Tidak ada yang tahu, bahwa di ketinggian 36.000 kaki, maut sedang mengintai.

Di dalam kokpit, tanpa peringatan, kopilot m3nyer@n9 kapten pilot, Smit Machchhar, seorang pilot asal India.

Dengan p|5@u, ia m3n1£@am berkali-kali di kepala dan tangan pilot. 

D4r@h membasahi lantai kokpit. 

Pesawat Boeing 737 itu kemudian menukik tajam, kehilangan ketinggian 4.300 meter dalam 30 detik. 

Alarm meraung. 

Di menara pengawas, transponder pesawat berubah menjadi kode 7500, kode internasional untuk P3MB4J@K4N.

Di kabin anak-anak menjerit  menangis. 

Banyak yang sudah mengucapkan doa terakhir, mengira pesawat akan h@ncur di padang gurun Arab.

Namun di saat manusia tidak berdaya, Tuhan yang tidak pernah terlelap itu sedang bekerja.

Kata Alkitab 
Mazmur 121:4
"Sesungguhnya tidak terlelap dan tidak tertidur Penjaga Israel."

Dengan sisa tenaga terakhir, Kapten Machchhar yang bersimbah d4r*h berhasil menekan tombol pembuka pintu kokpit.

Itu adalah mujizat pertama. 

Pintu yang seharusnya terkunci rapat, terbuka.

Mendengar kegaduhan, seorang pramugari memberi isyarat kepada suaminya, Tzvika Manes, yang duduk di baris depan. 

Ia melihat sang kapten terjatuh, Tanpa pikir panjang, Tzvika berlari.

Tuhan telah menyiapkan 3 orang biasa dengan hati luar biasa di pesawat itu:

1. Yaniv Hayoun, seorang tukang ledeng.

Ia bukan pilot, bukan tentara. 

Ia menerobos masuk dan melihat kekacauan. 

Dengan insting yang Tuhan berikan, ia meraih yoke atau kemudi pesawat dan menariknya kembali. 

Ia berkata, "Saya belajar dari menonton film dokumenter pesawat." 

Tuhan memakai apa yang ia tonton untuk menyelamatkan 174 nyawa.

2. Asaf Rajuan, seorang ayah.

Ia tidak memikirkan keselamatannya sendiri. 

Ia berkata, "Anda hanya berlari untuk menyelamatkan nyawa putri Anda, nyawa keluarga Anda." 

Bersama Yaniv, ia bergulat dengan kopilot selama hampir 25 menit, hingga akhirnya mereka berhasil m3ng1k4tnya dengan kabel headphone.

3. Dr. Shota Musaev, seorang dokter gigi.

Satu-satunya dokter di pesawat itu.

Di tengah guncangan hebat, ia merawat kepala Kapten yang terluka parah, menghentikan pendarahan, dan menjaga agar sang kapten tetap selamat sampai mendarat.

Di kokpit itu juga ada dua pilot Flydubai yang sedang off-duty sebagai penumpang. 

Mereka mengambil alih kendali dan menerbangkan pesawat yang rusak, bahkan bagian kemudinya hilang karena menukik terlalu kencang, menuju pendaratan darurat di Tabuk, Arab Saudi.

Puji Tuhan, pesawat mendarat dengan selamat dan semua penumpang hidup.

Saudaraku, kisah ini bukan kebetulan. 

Di pesawat itu ada 174 orang, tetapi Tuhan tempatkan tukang ledeng, seorang ayah yang berani, dan seorang dokter duduk di baris depan untuk tujuan ilahi. 

Ketika iblis merencanakan kejatuhan, Tuhan sudah merencanakan penyelamatan.

Hari ini, jika hidupmu seperti pesawat yang  menukik tajam, ingatlah: Penjaga Israel tidak pernah terlelap. 

Ia melihat, Ia membuka pintu, dan Ia mengirim pertolongan tepat pada waktunya.

Jangan takut, sebab Ia yang memegang tangan kananmu dan mengendalikan hidupmu.

Tuhan Yesus memberkati 🙏

Uploaded Image

Kasih yang Bertahan Mengharapkan yang Terbaik dan Bertahan Menghadapi yang Terburuk

06 Oktober 2026

Bacaan Hari ini:
1 Korintus 13:7 *l"Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu."
---------------------
Kita telah melihat pilihan-pilihan yang membantu pernikahan bertahan dalam ujian waktu. Kemarin kita membahas tentang memilih untuk memberikan kasih karunia. Hari ini saya ingin membagikan dua pilihan terakhir yang akan membantu Anda membangun kasih yang bertahan.

Kasih yang bertahan mengharapkan yang terbaik. Kasih itu penuh harapan, memandang ke depan, dan optimistis. Kasih itu tidak terjebak di masa lalu. 1 Korintus 13:7 mengatakan, "Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu."

Inilah masalahnya: Semakin lama Anda berada dalam suatu hubungan dengan orang yang tidak sempurna, semakin besar kecenderungan Anda untuk mengharapkan yang terburuk karena Anda mengetahui kesalahan dan kelemahan mereka lebih baik daripada siapa pun. Namun, ketika Anda mengharapkan yang terburuk, Anda membuat diri Anda sendiri mengalami apa yang Anda harapkan.

Anda tidak dapat mengubah perilaku buruk menjadi perilaku baik dengan mengatakan kepada seseorang bahwa mereka buruk. Anda mengubah perilaku buruk dengan membantu mereka melihat gambaran tentang seperti apa mereka dapat menjadi. Jangan mengatakan apa adanya. Katakan seperti apa yang mungkin terjadi. Perlakukan orang seperti yang Anda ingin mereka menjadi.

Alkitab mengatakan, "Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu." (1 Korintus 13:7).

Pilihan keempat untuk menumbuhkan kasih yang bertahan adalah ini: Kasih yang bertahan bertahan menghadapi yang terburuk.

Sebagian dari Anda sedang berada dalam pernikahan yang tidak bahagia saat ini, dan Anda siap untuk menyerah. Atas nama Allah, saya mengatakan ini: Jangan. Jangan lakukan itu. Anda tidak tahu apa yang akan Anda lewatkan. Selalu lebih memuaskan untuk memulihkan sebuah hubungan daripada melarikan diri darinya.

Saya tahu bahwa sebagian dari Anda telah menanggung begitu banyak rasa sakit. Jangan sia-siakan itu. Setidaknya, dapatkan sesuatu dari pengalaman itu.

Sebagian dari Anda merasa bahwa Anda tidak dapat mempercayai pasangan Anda lagi. Jika demikian, inilah yang harus Anda lakukan: Percayalah kepada Allah. Katakan, "Allah, Engkau lebih besar daripada pasangan saya dan saya akan mempercayai-Mu untuk bekerja dalam hidupnya dan menjaga saya." Sebelum Anda menyerah pada hubungan tersebut, berikan kesempatan kepada Allah.

Mazmur 62:8 mengatakan, "Percayalah kepada-Nya setiap waktu, hai umat, curahkanlah isi hatimu di hadapan-Nya; Allah ialah tempat perlindungan kita." Pasangan Anda bukanlah perlindungan Anda. Allah adalah perlindungan Anda.

Sebagian dari Anda memiliki pasangan yang telah meninggalkan Allah, dan mereka bahkan tidak lagi percaya kepada-Nya. Tetapi coba pikirkan ini: Allah tidak ingin Anda meninggalkan mereka. Mereka membutuhkan Anda sekarang lebih dari sebelumnya.

Alkitab mengatakan, "Siapa menahan kasih sayang terhadap sesamanya, melalaikan takut akan Yang Mahakuasa." (Ayub 6:14).

Saya ingin Anda memperhatikan sesuatu tentang pilihan-pilihan yang menumbuhkan kasih yang bertahan: memberikan kasih karunia, mengharapkan yang terbaik dan bertahan menghadapi yang terburuk. Itulah cara yang sama seperti Yesus mengasihi Anda.

Renungkan :

- Apakah Anda mengharapkan yang terbaik atau yang terburuk dari pasangan Anda? Apa satu hal yang dapat Anda lakukan untuk mulai mengatakan kepada mereka tentang seperti apa mereka bisa menjadi, bukan hanya seperti apa mereka sekarang?

- Jika pasangan Anda telah mengkhianati kepercayaan Anda, bagaimana Anda dapat tetap berada dalam pernikahan sambil mempercayai Allah? Bagaimana perubahan cara pandang dapat mengubah pandangan Anda tentang masa depan pernikahan Anda?

- Jika pasangan Anda telah meninggalkan Allah, jangan tinggalkan mereka! Bagaimana Anda dapat terus mengasihi pasangan Anda bahkan di tengah krisis iman yang sedang mereka alami?

Bacaan Alkitab Setahun :
Yesaya 29-32; Filipi 2 : 1-18
_____________
Jika Anda ingin belajar mengasihi orang dengan cara Yesus mengasihi, inilah rahasianya: Milikilah Yesus di dalam diri Anda. Hanya dengan Dia dalam hidup Anda, Anda akan mampu mengasihi pasangan Anda dengan kasih Allah yang kekal.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
========
Lasting Love Expects the Best and Endures the Worst
By Rick Warren

“Love . . . never stops hoping, never gives up.” 1 Corinthians 13:7 (GW)
--------------------
We’ve been looking at the choices that help a marriage stand the test of time. Yesterday we talked about choosing to extend grace. Today I want to share the final two choices that will help you build a love that lasts.

Lasting love expects the best. It’s hopeful and forward-looking and optimistic. It’s not stuck in the past.   First Corinthians 13:7 says, “Love . . . never stops hoping”(GW) and “always expects the best” (MSG). 

Here’s the problem: The longer you’re in a relationship with an imperfect person, the more you tend to expect the worst because you know their faults and weaknesses better than anybody else. But when you expect the worst, you set yourself up for a self-fulfilling prophecy.

You can’t change bad behavior into good behavior by telling somebody they’re bad. You change bad behavior by helping them see a picture of what they could become. Don’t tell it like it is. Tell it like it could be. Treat people the way you want them to become. 

The Living Bible paraphrase says, “If you love someone, you will be loyal to him no matter what the cost. You will always believe in him, always expect the best of him, and always stand your ground in defending him” (1 Corinthians 13:7).

The fourth choice for growing a love that lasts is this: Lasting love endures the worst.

Some of you are in an unhappy marriage right now, and you’re ready to give up. On behalf of God, I say this: Don’t. Don’t you do it. You have no idea what you’ll miss. It’s always more rewarding to restore a relationship than to run from it. 

I know that some of you have endured so much pain. Don’t waste it. At least get something from it.

Some of you feel like you can’t trust your spouse anymore. If that’s the case, here’s what you do: You trust God. Say, “God you’re greater than my spouse, and I’m going to trust you to work in their life and to take care of me.” Before you give up on the relationship, give God a chance. 

Psalm 62:8 says, “Trust God all the time. Tell him all your problems, because God is our protection” (NCV). Your spouse is not your protection. God is your protection.

Some of you have a spouse who’s walked away from God, and they don’t even believe in him anymore. But guess what? God does not want you walking away from them. They need you now more than ever.

The Bible says, "A despairing man should have the kindness of his friend, even if he forsakes the fear of the Almighty” (Job 6:14 BSB).

I want you to notice something about the choices that grow a lasting love: extending grace, expecting the best, and enduring the worst. They are the same ways Jesus loves you. 

If you want to learn to love people the way Jesus loves, here’s the secret: Get Jesus in you. Only with him in your life will you ever be able to love your spouse with God’s everlasting love.


Minggu, 04 Oktober 2026

Kasih yang Bertahan Selalu Memberikan Kasih Karunia

05 Oktober 2026

Bacaan Hari ini:
1 Korintus 13:7 "Kasih menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu."
------------------
Jika Anda ingin pernikahan Anda bertahan dalam jangka panjang, Anda perlu membuat pilihan-pilihan sulit untuk tetap mengasihi—dan terus membuat pilihan-pilihan itu berulang kali. Salah satu pilihan tersebut adalah memberikan kasih karunia, bahkan ketika hidup terasa sulit.

Semakin lama Anda menikah, semakin mudah bagi Anda untuk menjadi kurang berbelas kasih. Tidak ada pernikahan yang dapat bertahan tanpa kasih karunia, pengampunan, penerimaan dan banyak kesabaran. Anda harus memilih untuk memberikan kelonggaran kepada pasangan Anda.

Mudah untuk menunjukkan kasih karunia satu kali. Itu bukan masalah besar. Yang sulit adalah ketika seseorang berulang kali menyakiti atau mengganggu Anda. 1 Korintus 13:7 berkata, "Kasih menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu." Alkitab mengatakannya seperti ini: "Kasih...sabar menanggung segala sesuatu.."

Berikut tiga situasi yang akan terus-menerus membutuhkan kasih karunia dalam pernikahan Anda:

Anda perlu memberikan kasih karunia ketika kekurangan dan kesalahan mereka mengganggu Anda.

Semakin lama Anda mengasihi seseorang, semakin Anda mengetahui kekurangan mereka. Anda dapat memilih untuk menjadi kritis atau penuh kasih karunia, suka mencari-cari kesalahan atau baik hati, perfeksionis atau penuh belas kasihan. Alkitab berkata dalam Amsal 17:9, "Siapa menutupi pelanggaran, mengejar kasih"

Suatu kali dua orang wanita sedang berbicara setelah kebaktian di gereja dan salah satu dari mereka berkata kepada yang lain, "Apakah Anda ingat ketika suami Anda melakukan hal itu?" Dia sedang berbicara tentang sesuatu yang buruk yang pernah terjadi. Saya menyukai jawaban wanita yang lain: "Saya ingat dengan jelas bahwa saya sudah melupakannya."

Sahabat, itu adalah sebuah pilihan. Sungguh tidak bijaksana untuk berpikir bahwa dua orang yang tidak sempurna dapat memiliki hubungan yang sempurna. Anda harus memberikan kasih karunia. Kasih mengabaikan kesalahan orang lain. Kasih melupakan kesalahan. Efesus 4:2 berkata, "Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu"

Anda perlu memberikan kasih karunia ketika perkataan atau tindakan mereka menyakiti Anda.

Kenyataannya adalah kita manusia dan kita saling menyakiti, terkadang dengan sengaja tetapi sering kali tanpa sengaja. Kita mengatakan hal-hal yang sebenarnya tidak kita maksudkan. Kita tidak mempertimbangkan perasaan orang lain dan kita egois. Kita ceroboh dalam perkataan dan tindakan kita.

Suatu hari saya sedang berbicara dengan seorang pria. Dia berkata, "Saya melakukan sesuatu yang salah, dan istri saya menjadi historical."
Saya berkata, "Maksud Anda hysterical!" Kemudian dia berkata, "Tidak, historical. Dia menceritakan kepada saya semua kesalahan yang pernah saya lakukan."

Alkitab berkata bahwa kasih "tidak menyimpan kesalahan" (1 Korintus 13:5). Anda harus melepaskannya jika Anda menginginkan kasih yang bertahan.

Anda perlu memberikan kasih karunia ketika mereka berdosa.

Pasangan Anda akan berdosa, terkadang terhadap Anda, terkadang terhadap Allah, dan terkadang terhadap orang lain. Kolose 3:13 berkata, "Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian." Kasih mengampuni.

Besok kita akan belajar dua pilihan lagi untuk menumbuhkan kasih yang bertahan.

Renungkan :

- Apakah Anda mudah memberikan kasih karunia ketika kesalahan pasangan Anda mengganggu Anda? Bagaimana Anda dapat "dengan jelas melupakan" hal-hal yang mungkin dilakukan pasangan Anda yang menyakiti atau mengganggu Anda?


- Apakah Anda cenderung menjadi "historical" ketika pasangan Anda menyakiti Anda? Bagaimana Anda dapat mulai melepaskan kesalahan daripada menyimpannya seperti amunisi?


- Bagaimana Anda dapat menjadikan pernikahan Anda sebagai penyatuan dua orang yang hebat dalam mengampuni ketika Anda dan pasangan jatuh dalam dosa dan melakukan kesalahan?

Bacaan Alkitab Setahun :
Yesaya 25-28; Filipi 1 : 12-30
____________
Pernikahan yang hebat pada dasarnya adalah penyatuan dua orang yang hebat dalam mengampuni.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
=========
*Lasting Love Extends Grace*
By Rick Warren

*“Love never stops being patient . . .”* 1 Corinthians 13:7 (GW)
------------------
If you want your marriage to last for the long haul, you’re going to need to make tough choices to stay in love—and keep making those choices again and again. One of those choices is to extend grace, even when life is hard.

The longer you’re married, the easier it is to become ungracious. No marriage will last without grace, forgiveness, acceptance, and a lot of patience. You have to choose to cut your spouse slack.  

It’s easy to show grace one time. That’s no big deal. What’s hard is when someone repeatedly hurts or irritates you. First Corinthians 13:7 says, “Love never stops being patient . . .” (GW). The Message paraphrase says it like this: “Love . . . puts up with anything.”

Here are three situations that will continually call for grace in your marriage:

You need to extend grace when their flaws and faults irritate you. 

The longer you love somebody, the more you know their flaws. You can choose to be either critical or gracious, picky or kind, perfectionistic or merciful. The Living Bible paraphrase says in Proverb 17:9, “Love forgets mistakes.”

One time two women were talking after church and one said to the other, “Do you remember when your husband did that?” She was talking about a bad thing that had happened. I love what the other woman said: “I distinctly remember forgetting that.” 

Friend, it’s a choice. It’s foolish to think that two imperfect people could have a perfect relationship. You must extend grace. Love disregards another person’s faults. Love forgets mistakes. Ephesians 4:2 says, “Always be humble and gentle. Be patient with each other, making allowance for each other’s faults because of your love” (NLT).

You need to extend grace when their words or actions hurt you.

The truth is, we’re human and we hurt each other, sometimes intentionally but many times unintentionally. We say things we don’t mean. We’re inconsiderate and selfish. We’re careless with our words and actions.

I was talking to a man one day. He said, “I did something wrong, and my wife got historical.” 

I said, “You mean hysterical!” He then said, “No, historical. She told me everything I’d ever done wrong.” 

The Bible says that love “keeps no record of wrongs” (1 Corinthians 13:5 NIV). You’ve got to let it go if you want a love that lasts.

You need to extend grace when they sin.

Your spouse is going to sin, sometimes against you, sometimes against God, and sometimes against others. Colossians 3:13 says, “Put up with each other, and forgive each other. . . . Forgive as the Lord forgave you” (GW). Love forgives. 

A great marriage is simply the union of two great forgivers. 

Tomorrow we’ll learn two more choices for growing a love that lasts.