Rabu, 21 Oktober 2026

Kuasa untuk Memilih dengan Bijaksana

22 Oktober 2026

Bacaan Hari ini:
1 Korintus 10:23 "Segala sesuatu diperbolehkan." Benar, tetapi bukan segala sesuatu berguna. "Segala sesuatu diperbolehkan." Benar, tetapi bukan segala sesuatu membangun."
--------------------
Semakin bertambah usia saya, semakin saya menyadari betapa pentingnya memilih dengan bijaksana. Akan selalu ada banyak pilihan dan kesempatan. Namun, kunci untuk menjadi efektif adalah memilih dengan bijaksana.

Alkitab berkata dalam 1 Korintus 10:23, "Segala sesuatu diperbolehkan." Benar, tetapi bukan segala sesuatu berguna. "Segala sesuatu diperbolehkan." Benar, tetapi bukan segala sesuatu membangun."

Dengan kata lain, beberapa hal belum tentu salah—hal-hal itu hanya tidak diperlukan. Setelah Anda memahami hal ini, Anda akan lebih siap untuk bertahan menghadapi masa-masa sulit dalam hidup. Dan kemampuan bertahan menghadapi masa-masa sulit akan membuat Anda tangguh!

Ketika Anda berfokus pada arah yang Allah panggil untuk Anda tempuh, kemungkinan Anda teralihkan oleh hal-hal yang tidak begitu penting akan semakin kecil. Anda menetapkan prioritas yang berfokus pada kekekalan. Anda menyadari apa yang paling penting dalam hidup, dan Anda memilih bukan hanya hal-hal yang baik, tetapi juga hal-hal yang terbaik.

Yesus adalah pribadi yang sangat mampu memusatkan perhatian, yang berarti Dia menjalani hidup dengan penuh pilihan. Hal ini memungkinkan-Nya untuk hidup bagi Kerajaan Allah dan melakukan apa yang menyenangkan Bapa-Nya.

Alkitab mengatakan, "Ketika hampir genap waktunya Yesus diangkat ke sorga, Ia mengarahkan pandangan-Nya untuk pergi ke Yerusalem" (Lukas 9:51).

Dia memberikan teladan tentang tekad yang kuat dan memenuhi tujuan-Nya—meskipun Dia tahu bahwa hal itu akan membawa-Nya kepada kematian. Fokus-Nya menolong-Nya bertahan menghadapi rasa sakit, tekanan, dan penganiayaan. Paulus juga demikian. Dia berkata, "tetapi ini yang kulakukan" (Filipi 3:13), bukan "40 hal yang saya lakukan sesekali." Dia melakukan satu hal dalam hidupnya—hal yang paling penting.

Anda memiliki potensi luar biasa untuk dipakai oleh Allah, tetapi penghalangnya sering kali adalah Anda belum menetapkan apa yang paling penting. Jika Anda berpikir bahwa Anda tidak punya waktu untuk melayani Allah, berarti Anda tidak berfokus. Jika Anda menghabiskan lebih banyak waktu di media sosial daripada waktu untuk mengenal Allah, berarti Anda tidak berfokus. Jika Anda harus melakukan hal lain sebelum mengikuti Yesus, berarti Anda tidak berfokus.

Alkitab memperjelas hal ini: "Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah" (Lukas 9:62).

Renungkan :

- Apakah Anda menjalani hidup dengan fokus? Contoh apa dari hidup Anda yang mendukung jawaban Anda?

- Apa saja hal yang mengalihkan perhatian Anda (bahkan hal-hal yang baik) sehingga Anda tidak berfokus pada hal-hal yang paling penting?

- Bagaimana Allah menunjukkan kepada Anda apa yang paling penting untuk menjadi fokus Anda dan untuk Anda kejar?

Bacaan Alkitab Setahun :
Yeremia 29-33; I Tesalonika 4 : 13-18
_____________
Suatu hari nanti, Anda akan berdiri di hadapan Allah. Bagaimana Anda akan menjawab ketika Dia bertanya apa yang telah Anda lakukan dengan apa yang telah diberikan kepada Anda?

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
=========
The Power of Being Selective
By Rick Warren

“Someone may say, ‘I’m allowed to do anything,’ but not everything is helpful. I’m allowed to do anything, but not everything encourages growth.” 1 Corinthians 10:23 (GW)
-------------------
The older I get, the more I realize how important it is to be selective. There will always be a lot of options and opportunities. But the key to effectiveness is being selective.

The Bible says in 1 Corinthians 10:23, “Someone may say, ‘I’m allowed to do anything,’ but not everything is helpful. I’m allowed to do anything, but not everything encourages growth” (GW).

In other words, some things aren’t necessarily wrong—they’re just not necessary. Once you figure that out, you’ll be better equipped to withstand the hard times in life. And withstanding hard times will make you resilient!

When you focus on the direction God is calling you to go, you’re less likely to get distracted by things that aren’t as important. You set priorities that have an eternal focus. You realize what matters most in life, and you choose not just good things but the best things.

Jesus was a master of concentration, meaning he lived a selective life. This allowed him to live for God’s kingdom and do what pleased his Father.

The Living Bible paraphrase says, “As the time drew near for his return to heaven, [Jesus] moved steadily onward toward Jerusalem with an iron will” (Luke 9:51).

He modeled an iron will and fulfilled his purpose—even though he knew it would lead to his death. His focus helped him endure the pain and stress and persecution. Paul was the same way. He said, “This one thing I do” (Philippians 3:13 KJV), not “these 40 things I dabble in.” He did one thing with his life—the most important thing.

You have incredible potential to be used by God, but the barrier is often that you haven’t settled what’s most important. If you think you don’t have time to serve God, then you’re not focused. If you spend more time on social media than you do getting to know God, then you’re not focused. If you have to do something else before you follow Jesus, then you are not focused.

The Living Bible paraphrase makes it clear: “Anyone who lets himself be distracted from the work I plan for him is not fit for the Kingdom of God” (Luke 9:62).

One day you’re going to stand before God. How will you answer him when he asks what you did with what you were given?


Selasa, 20 Oktober 2026

Berhentilah Berusaha Menyenangkan Semua Orang

21 Oktober 2026

Bacaan Hari ini:
Yohanes 5:30 "Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri; Aku menghakimi sesuai dengan apa yang Aku dengar, dan penghakiman-Ku adil, sebab Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku"
---------------------
Apa yang memotivasi Anda untuk bangun setiap pagi? Untuk pergi bekerja? Untuk belajar dengan giat? Untuk melayani, memberi, dan mengasihi orang lain? Untuk terus melangkah ketika hidup terasa penuh tekanan?

Jika Anda tidak ingin terus-menerus bergumul dengan stres, Anda perlu mengetahui motivasi terdalam Anda.

Mengapa? Karena motivasi yang bercampur aduk akan membuat Anda merasa tertarik ke berbagai arah. Yesus berkata, "Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan" (Lukas 16:13).

Bahkan Allah pun tidak dapat menyenangkan semua orang. Ketika seseorang berdoa agar hujan turun, orang lain berdoa agar cuaca cerah. Sebagai pendeta selama lebih dari 40 tahun, saya tahu bahwa selalu ada seseorang yang merasa kecewa terhadap saya karena orang-orang sering memiliki harapan yang berbeda-beda. Saya tidak dapat menyenangkan semua orang, begitu juga Anda.

Alkitab mengatakan bahwa takut kepada manusia adalah perangkap. Hal itu akan menguasai hati dan pikiran Anda serta menyebabkan Anda tersandung. Itulah sebabnya Yesus berkata dalam Yohanes 5:30, "Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri; Aku menghakimi sesuai dengan apa yang Aku dengar, dan penghakiman-Ku adil, sebab Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku". Yesus tahu siapa yang ingin Dia senangkan.

Jika Anda tidak berusaha menyenangkan Allah, kemungkinan besar Anda sedang berusaha menyenangkan banyak orang lain. Jauh lebih mudah dan tidak terlalu membuat stres jika Anda memutuskan untuk menyenangkan Allah—karena apa pun yang Anda lakukan untuk menyenangkan-Nya akan selalu menjadi hal yang benar. Inilah sebabnya Yesus begitu tangguh ketika menghadapi tekanan. Dia hanya berusaha menyenangkan satu Pribadi.

Persetujuan siapa yang Anda andalkan untuk memperoleh kebahagiaan? Siapa yang masih berusaha Anda senangkan? Bagi sebagian orang, orang itu adalah orang tua yang tidak pernah menunjukkan penerimaan atau memberikan dorongan. Bagi orang lain, mungkin seorang atasan yang mustahil dipuaskan, sekeras apa pun Anda berusaha.

Namun, Anda bukanlah korban. Anda sebebas yang Anda pilih untuk menjadi bebas. Tidak seorang pun dapat menekan Anda untuk memenuhi harapan mereka tanpa izin dari Anda.

Renungkan :

- Menurut Anda, bagaimana mengutamakan usaha untuk menyenangkan Allah daripada menyenangkan orang lain dapat membantu Anda mengalami kebebasan emosional dan mental yang lebih besar?

- Dalam hal-hal spesifik apa saja stres yang Anda alami disebabkan oleh usaha untuk menyenangkan orang lain?

- Bagaimana Anda dapat mengetahui apa yang menyenangkan hati Allah?

Bacaan Alkitab Setahun :
Yeremia 25-28; I Tesalonika 4 : 1-12
_____________
Ketika Anda hidup hanya untuk menyenangkan satu Pribadi, yaitu Allah, Anda tidak akan dikendalikan oleh rasa takut ditolak. Sebaliknya, Anda akan digerakkan oleh kasih dan bebas menjadi pribadi yang Allah ciptakan.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
========
Stop Trying to Please Everyone Else
By Rick Warren

“I am not trying to do what I want, but only what he who sent me wants.” John 5:30 (GNT)
----------------------
What motivates you to get up in the morning? To go to work? To study hard? To serve and give and love others? To keep going when life gets stressful?

If you don’t want to fight stress all the time, you need to know your deepest motivation.

Why? Because mixed motivations will leave you feeling pulled in different directions. Jesus said, “No one can serve two masters” (Luke 16:13 NLT).

Even God can’t please everybody. When somebody’s praying for it to rain, someone else is praying for it to be sunny. As a pastor for over 40 years, I knew that I was always disappointing somebody, because people often have different expectations. I can’t please everyone, and neither can you.

The Bible says the fear of man is a trap. It will capture your heart and mind and cause you to stumble. That’s why Jesus said in John 5:30, “I am not trying to do what I want, but only what he who sent me wants” (GNT). Jesus knew who he was trying to please.

If you’re not trying to please God, then in all likelihood, you’re trying to please a bunch of other people. It’s a lot easier and less stressful to decide you’re going to please God—because whatever you do that pleases him will always be the right thing. This is why Jesus was so resilient under stress. He only tried to please one person.

Whose approval are you depending on for your happiness? Who are you still trying to please? For some, it’s a parent who never showed approval or encouragement. For others, it may be a boss who’s impossible to please, no matter how hard you try.

But you are not a victim. You are as free as you choose to be. Nobody can pressure you into meeting their expectations without your permission.

When you live for an audience of one, you won’t be controlled by the fear of rejection. Instead, you’ll be motivated by love and free to be the person God made you to be.


Senin, 19 Oktober 2026

Pedagang Kaya & Ular Phyton

_*Mesir tak hanya terkenal dengan dongeng "1001 Malam" saja, tapi juga mempunyai sejumlah dongeng menarik, penuh makna dan kaya moralnya. Pesan moral dongeng tidak hanya tertuju pada kaum anak-anak, tetapi banyak bersifat universal dan berlaku untuk semua kelompok usia, termasuk orang dewasa.*_

_*Salah satu dongeng Mesir yang terkenal, menceritakan tentang seorang saudagar kaya yang mempunya hobi tidak biasa, yakni memelihara seekor ular piton. Awalnya ular tak berbisa itu hanya berukuran kecil. Seiring perjalanan waktu, mendapat asupan bergizi dan cukup. Ular tersebut cepat bertumbuh besar. Perlahan ular itu menjadi sangat jinak, dan menjadi temannya sepanjang malam. Edannya,  ularnya yang bagi orang lain menjijikkan itu,  malah dibiarkan tidur bersamanya di ranjang.*_

_*Namun, suatu hari ular piton itu tiba-tiba mogok makan selama berhari-hari. Khawatir peliharaannya sakit, saudagar ini mendatangkan seorang "Urlugaledinna", istilah untuk dokter hewan jaman kuno. Setelah memeriksa kondisi piaraan dan seksama mendengar cerita siempunya ular. Katanya ularnya sering tidur bersamanya sambil meregangkan tubuh lurus di samping badannya. Dokter  hewan itu memberikan jawaban serius yang mengejutkan.*_

_*Sang dokter menyarankan sesegera mungkin melepaskan ularnya ke hutan atau kebun binatang. Katanya "Ular Anda tidak sedang sakit. Ia berhenti makan karena sedang mengosongkan perutnya, dan meregangkan tubuh di samping Anda untuk mengukur ukuran tubuh Anda agar tahu apakah sudah cukup besar untuk menelan Anda bulat-bulat."  Seketika, saudagar itu merasa dingin menjalar dari ujung kaki hingga ke tengkuknya. Ia mencoba menenangkan diri, namun jantungnya sudah empot-empotan.*_

_*Pesan moral cerita ini bermakna, "Musuh dalam Selimut". Bila ada  seseorang tampak mendadak dekat, pura-pura bersikap baik dan  menyayangi, atau selalu berada di sisi kita. Belum tentu mereka memiliki niat tulus. Terkadang berniat menjatuhkan atau mencelakai kita, dan sedang "mengukur" kelemahan kita secara perlahan sebelum akhirnya mengambil kesempatan untuk menyerang.*_

_*Berhati-hatilah*_

_*Rudy Chandra*_
_*Episode 2325*_

Pedagang Kaya & Ular Phyton

_*Mesir tak hanya terkenal dengan dongeng "1001 Malam" saja, tapi juga mempunyai sejumlah dongeng menarik, penuh makna dan kaya moralnya. Pesan moral dongeng tidak hanya tertuju pada kaum anak-anak, tetapi banyak bersifat universal dan berlaku untuk semua kelompok usia, termasuk orang dewasa.*_

_*Salah satu dongeng Mesir yang terkenal, menceritakan tentang seorang saudagar kaya yang mempunya hobi tidak biasa, yakni memelihara seekor ular piton. Awalnya ular tak berbisa itu hanya berukuran kecil. Seiring perjalanan waktu, mendapat asupan bergizi dan cukup. Ular tersebut cepat bertumbuh besar. Perlahan ular itu menjadi sangat jinak, dan menjadi temannya sepanjang malam. Edannya,  ularnya yang bagi orang lain menjijikkan itu,  malah dibiarkan tidur bersamanya di ranjang.*_

_*Namun, suatu hari ular piton itu tiba-tiba mogok makan selama berhari-hari. Khawatir peliharaannya sakit, saudagar ini mendatangkan seorang "Urlugaledinna", istilah untuk dokter hewan jaman kuno. Setelah memeriksa kondisi piaraan dan seksama mendengar cerita siempunya ular. Katanya ularnya sering tidur bersamanya sambil meregangkan tubuh lurus di samping badannya. Dokter  hewan itu memberikan jawaban serius yang mengejutkan.*_

_*Sang dokter menyarankan sesegera mungkin melepaskan ularnya ke hutan atau kebun binatang. Katanya "Ular Anda tidak sedang sakit. Ia berhenti makan karena sedang mengosongkan perutnya, dan meregangkan tubuh di samping Anda untuk mengukur ukuran tubuh Anda agar tahu apakah sudah cukup besar untuk menelan Anda bulat-bulat."  Seketika, saudagar itu merasa dingin menjalar dari ujung kaki hingga ke tengkuknya. Ia mencoba menenangkan diri, namun jantungnya sudah empot-empotan.*_

_*Pesan moral cerita ini bermakna, "Musuh dalam Selimut". Bila ada  seseorang tampak mendadak dekat, pura-pura bersikap baik dan  menyayangi, atau selalu berada di sisi kita. Belum tentu mereka memiliki niat tulus. Terkadang berniat menjatuhkan atau mencelakai kita, dan sedang "mengukur" kelemahan kita secara perlahan sebelum akhirnya mengambil kesempatan untuk menyerang.*_

_*Berhati-hatilah*_

_*Rudy Chandra*_
_*Episode 2325*_

Hanya Pendapat Allah yang Penting

20 Oktober 2026

Bacaan Hari ini:
Matius 5:14 "Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi."
--------------------
Jika Anda tidak yakin siapa diri Anda sebenarnya, Anda dapat dimanipulasi dan dibentuk oleh tekanan, masalah dan orang-orang di sekitar Anda—dan hal itu menyebabkan stres!

Budaya kita terus-menerus berusaha membentuk Anda agar sesuai dengan polanya. Ketika identitas Anda membingungkan dan tidak jelas, ketika Anda benar-benar tidak mengenal diri sendiri, Anda menjadi lebih rentan terhadap pengaruh budaya. Sampai Anda benar-benar meyakini dalam pikiran Anda bahwa Allah mengasihi Anda tanpa syarat dan bahwa Anda adalah anak-Nya, Anda akan cenderung mudah mengalami stres.

Yesus tidak pernah meragukan jati diri-Nya. Bahkan, sebanyak 18 kali dalam Alkitab, Dia menyatakan secara terbuka siapa diri-Nya. Pernyataan-pernyataan ini disebut pernyataan "Akulah" : "Akulah terang dunia" (Yohanes 8:12). "Akulah Anak Allah" (Yohanes 10:36). "Akulah jalan, kebenaran, dan hidup" (Yohanes 14:6). "Akulah roti hidup" (Yohanes 6:35). Yesus menegaskan dengan jelas bahwa Dia benar-benar mengetahui siapa diri-Nya.

Dalam Yohanes 8:18, Yesus berkata, "Akulah yang bersaksi tentang diri-Ku sendiri". Dia tidak membutuhkan orang lain untuk memberi tahu-Nya siapa diri-Nya. Dia tidak mencari pengakuan dari orang lain untuk meneguhkan jati diri-Nya.

Ketika Anda bergantung pada pendapat orang lain untuk mendapatkan pengakuan, Anda tidak akan mampu menghadapi stres dengan tangguh. Sebab, jika Anda tidak mengetahui siapa diri Anda, orang lain akan menentukannya untuk Anda. Mereka akan memaksa Anda mengikuti pola mereka dan Anda akan mengalami stres karena berusaha menjadi seseorang yang bukan diri Anda. Pada akhirnya, Anda akan berpura-pura dan memakai topeng. Hal itu akan menguras tenaga Anda!

Yesus tahu bahwa Dia adalah terang dunia. Dan Dia juga berkata kepada para pengikut-Nya,"Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi." (Matius 5:14). Ketika Anda mengikuti-Nya, Anda memancarkan terang-Nya kepada orang lain. Apakah Anda menyadari betapa istimewanya diri Anda? Bukan karena apa yang dikatakan orang lain, melainkan karena apa yang dikatakan Allah. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang persis sama dengan Anda.

Anda harus menerima kebenaran tentang diri Anda—baik kelebihan maupun keterbatasan dan kelemahan Anda.
Allah menciptakan Anda dengan semua hal tersebut dan Dia telah memberikan segala sesuatu yang Anda perlukan untuk melakukan kehendak-Nya.

Ketika Anda menerima hal itu, Anda akan merasa yakin dengan jati diri Anda dan mengalami jauh lebih sedikit stres.

Renungkan :

- Apa artinya menjadi anak Allah? Apa saja manfaatnya? Apa saja yang diharapkan dari Anda?

- Mengapa Anda perlu menerima kebenaran tentang kelemahan Anda, bukan hanya tentang kelebihan Anda?

- Ingatlah suatu saat ketika Anda lebih mendasarkan jati diri Anda pada apa yang dikatakan orang lain tentang Anda daripada pada apa yang dikatakan Allah. Apa dampaknya bagi diri Anda?

Bacaan Alkitab Setahun :
Yeremia 21-24; I Tesalonika 3
__________
Apakah Anda menyadari betapa istimewanya diri Anda? Bukan karena apa yang dikatakan orang lain, melainkan karena apa yang dikatakan Allah

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
=========
Only God’s Opinion Matters
By Rick Warren

“You are the light of the world—like a city on a hilltop that cannot be hidden.” Matthew 5:14 (NLT)
----------------------
If you’re not sure who you really are, then you can be manipulated and molded by the pressures, problems, and people around you—and that leads to stress!

Our culture is constantly trying to fit you into its mold. When you have a confused and unclear identity, when you don’t really know who you are, it makes you more vulnerable to the culture’s influence. Until you settle in your mind that God loves you unconditionally and that you’re a child of his, you’re going to be prone to stress.

Jesus never had any doubts about his identity. In fact, 18 times in Scripture he publicly declared who he was. These are called his “I am” statements: “I am the light of the world” (John 8:12 NLT). “I am the Son of God” (John 10:36 NLT). “I am the way, the truth, and the life” (John 14:6 NLT). “I am the bread of life” (John 6:35 NLT). Jesus made it clear that he knew exactly who he was.

In John 8:18, Jesus said, “I testify on my own behalf” (GNT). He didn’t need other people to tell him who he was. He didn’t look to others for validation.

When you depend on other people’s opinions for validation, you can’t be resilient to stress. Because if you don’t know who you are, then other people will decide it for you. They’ll force you into a mold, and you’ll get stressed out trying to be someone you’re not. You’ll end up pretending and wearing a mask. It will wear you out!

Jesus knew he was the light of the world. And he also told his followers: “You are the light of the world—like a city on a hilltop that cannot be hidden” (Matthew 5:14 NLT). As you follow him, you reflect his light to others. Do you realize how special you are? Not because of what other people say but because of what God says. There’s nobody in the world exactly like you.

You must accept the truth about you—your strengths along with your limitations and weaknesses. God made you with all of those things, and he has given you everything you need to do his will.

When you accept that, you’ll be secure in your identity and a lot less stressed.


Minggu, 18 Oktober 2026

Dasar Ketangguhan Anda

19 Oktober 2026

Bacaan Hari ini:
1 Yohanes 3:1 "Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah."
-------------------
Kita hidup di masa yang penuh tekanan. Lebih dari sebelumnya, kita perlu belajar menjadi tangguh agar dapat melakukan apa yang telah Allah panggil untuk kita lakukan. Itulah sebabnya langkah pertama untuk menjadi tangguh adalah mengingat betapa besar kasih Allah kepada Anda. Itulah penawar stres!

Bagian dari memenuhi tujuan hidup Anda adalah menjadi semakin serupa dengan Yesus. Dan Yesus sama sekali tidak meragukan bahwa Allah Bapa mengasihi-Nya. Dia berulang kali membicarakan hal itu dalam ayat-ayat seperti Yohanes 10:17, yang mengatakan, "Bapa mengasihi Aku"

Mengetahui dan mengingat bahwa Allah memiliki kasih yang tanpa syarat, berlimpah, terus-menerus, dan tidak pernah berakhir bagi Anda, sama seperti kasih-Nya kepada Yesus, merupakan dasar kehidupan yang tangguh. Seperti yang dikatakan Paulus, "Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita" (Roma 8:38-39).

Anda mungkin berpikir, "Tentu saja Allah mengasihi Yesus. Dia adalah Anak-Nya." Namun, tahukah Anda bahwa Yesus mengatakan hal yang sama tentang kasih-Nya kepada Anda? Dalam Yohanes 15:9-10, Yesus berkata, "Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu. Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya."

Memahami betapa besar kasih Allah kepada Anda adalah dasar ketangguhan Anda. Jika Anda tidak yakin bahwa Allah mengasihi Anda setiap saat—tanpa syarat dan sepenuhnya—Anda akan mudah menjadi sasaran ketidaksetujuan orang lain. Anda akan menjadi orang yang selalu berusaha menyenangkan orang lain.

Namun, ketika Anda merasa aman dengan jati diri Anda sebagai anak Allah—ketika Anda memahami dan menerima bagaimana Allah memandang Anda—Anda dapat menghadapi masa-masa sulit dengan penuh keyakinan dan lebih sedikit stres.

Ketika Anda perlu diingatkan tentang betapa besar kasih Allah kepada Anda, lihatlah Firman-Nya.
"Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah." (1 Yohanes 3:1).

Renungkan :

- Menurut Anda, mengapa mengingat kasih Allah kepada Anda membuat Anda menjadi lebih tangguh?

- Mengapa penting untuk tidak hanya memahami kasih Allah kepada Anda, tetapi juga menerimanya?

- Dalam situasi apa Anda perlu menunjukkan ketangguhan yang lebih besar? Apa yang akan Anda lakukan untuk tetap terhubung dengan Firman Allah?

Bacaan Alkitab Setahun :
Yeremia 17-20; I Tesalonika 2
_____________
Kita dapat menjadi tangguh karena mengetahui bahwa kita tidak akan pernah terpisah dari kasih Allah.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
========
The Foundation of Your Resilience
By Rick Warren

“See what great love the Father has lavished on us, that we should be called children of God! And that is what we are!” 1 John 3:1 (NIV)
---------------------
We are living in stressful times. More than ever, we need to learn resilience so that we can do what God has called us to do. That’s why the first step to being resilient is to remember how much God loves you. That’s the antidote to stress!

Part of fulfilling your purpose is becoming more like Jesus. And Jesus had no doubt in his mind that God the Father loved him. He talked about it over and over in verses like John 10:17, which says, “The Father loves me” (NLT).

Knowing and remembering that God has unconditional, extravagant, continuous, and never-ending love for you, just like he did for Jesus, is the foundation of a resilient life. As Paul says, “I am convinced that neither death nor life . . . nor anything else in all creation, will be able to separate us from the love of God that is in Christ Jesus our Lord” (Romans 8:38-39 NIV). We can be resilient, knowing that we can never be separated from God’s love.

You may be thinking, “Well, of course God loves Jesus. That’s his Son.” But did you know that Jesus says the same thing about his love for you? In John 15:9-10, Jesus says, “As the Father has loved me, so have I loved you. Now remain in my love. If you keep my commands, you will remain in my love” (NIV).

Understanding how much God loves you is the basis of your resilience. If you are not convinced that God loves you at all times—unconditionally and completely—then you’re going to be easy prey for the disapproval of other people. You’re going to be a people pleaser.

But when you are secure in who you are as God’s child—when you understand and accept how God feels about you—then you can face difficult times with confidence and less stress.

When you need to be reminded of how much God loves you, just look to his Word.

“See what great love the Father has lavished on us, that we should be called children of God! And that is what we are!” (1 John 3:1 NIV).


Sabtu, 17 Oktober 2026

Mengembalikan Segambar dengan Pencipta

Di sebuah rimba yang luas, ada seekor kancil yang menemukan kepingan koin emas berukir gambar sang Raja Hutan, Sang Singa. Dengan bangga, kancil menyimpannya dan menganggap koin itu sebagai miliknya yang paling berharga. Namun, sang kancil tersadar bahwa pada koin itu terukir wajah dan stempel kekuasaan sang raja, sehingga koin itu pada hakikatnya milik istana.

​Namun, ketika kancil memandang bayangan dirinya di jernihnya air sungai, ia teringat akan nasihat tua-tua rimba: "Setiap hewan diciptakan oleh Sang Pencipta Agung dan membawa ciptaan-Nya di dalam napas hidup mereka." Kancil menyadari bahwa benda berukir wajah raja memang harus dikembalikan kepada raja, tetapi seluruh jiwa dan raga ciptaan harus diserahkan seutuhnya kepada Sang Pencipta.

​Melalui kisah fabel ini, kita diajak memahami pengajaran Yesus dalam Matius 22:15-21. Ketika orang-orang Farisi mencoba menjerat-Nya dengan pertanyaan tentang kewajiban membayar pajak kepada Kaisar, Yesus meminta tunjukkan mata uang dinar dan bertanya gambar siapakah yang ada pada uang itu. Yesus menjawab, "Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar, dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah" (Matius 22:21). Uang koin mencantumkan gambar kaisar sehingga itu milik duniawi/pemerintah, namun diri manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Kejadian 1:27), sehingga hidup dan hati kita sepenuhnya adalah milik Allah.  

​Saudaraku, kita sering kali disibukkan dan terikat oleh tuntutan duniawi hingga lupa menyerahkan hati dan hidup kita kepada Pemilik sesungguhnya. Menjalankan kewajiban di dunia adalah hal yang baik dan wajar, tetapi jangan sampai kita menyerahkan seluruh jiwa kita kepada hal-hal fana. Ingatlah bahwa gambar Allah terpateri di dalam jiwa kita, maka serahkanlah seluruh hidup, kesetiaan, dan kasih kita kembali kepada-Nya.
​"Lalu kata Yesus kepada mereka: 'Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar, dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.'" (Matius 22:21)  
​Bacaan: Matius 22:15-21  
​(Have a blessed Sunday! Gbu!)


Uploaded Image