Rabu, 20 Mei 2026

Pertanyaan yang Terus Diajukan oleh Orang Bahagia

21 Mei 2026

Bacaan Hari ini:
Filipi 3:12-13 "Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena akupun telah ditangkap oleh Kristus Yesus. Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku"
------------------
Alkitab berkata "Ujilah dirimu sendiri, apakah kamu tetap tegak di dalam iman. Selidikilah dirimu! Apakah kamu tidak yakin akan dirimu, bahwa Kristus Yesus ada di dalam diri kamu? Sebab jika tidak demikian, kamu tidak tahan uji." (2 Korintus 13:5).

Apakah Anda melakukan pemeriksaan rutin terhadap diri sendiri? Cobalah ini: Bangun setiap hari dan bertanya kepada Allah, "Apa yang perlu saya perbaiki hari ini?" Hal ini membutuhkan kerendahan hati, tetapi itu adalah kebiasaan yang akan membawa kepada kebahagiaan.

Paulus memahami pentingnya bertumbuh dan belajar dengan rendah hati. Ia menulis dalam Filipi 3:12-13: "Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena akupun telah ditangkap oleh Kristus Yesus. Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku"

Ketika Paulus menulis hal ini, ia sudah tua dan berada di penjara di Roma. Ia berada di akhir hidupnya. Ia adalah pribadi yang sangat dewasa secara rohani. Namun ia tetap mengatakan bahwa dirinya belum "sampai." Jika ada orang yang berhak berkata, "Saya sudah dewasa secara rohani," itu adalah orang yang menulis sebagian besar Perjanjian Baru. Tetapi Paulus berkata, "Tidak, saya belum sampai. Saya masih bertumbuh, belajar, dan menjadi semakin serupa dengan Kristus."

Kesombongan adalah jebakan yang sering membuat orang Kristen berhenti mengikuti teladan Paulus dan berhenti bertumbuh di dalam Kristus. Mengapa? Karena ketika Anda merasa sudah memiliki semuanya dengan baik, Anda menjadi sulit untuk terus berusaha bertumbuh secara rohani. Sebaliknya, kerendahan hati membawa kebahagiaan karena membuat Anda mau diajar.

Kebahagiaan dan kerendahan hati berjalan bersama karena keduanya mendorong Anda untuk bertanya, "Bagaimana saya dapat menjadi pasangan yang lebih baik? Bagaimana saya dapat menjadi teman yang lebih baik? Bagaimana saya dapat menjadi pemimpin yang lebih baik? Bagaimana saya dapat menjadi pengikut Yesus yang lebih baik?" Ketika Anda berhenti mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini, Anda kehilangan sesuatu yang penting karena Anda berhenti bertumbuh—padahal Allah menciptakan Anda untuk terus bertumbuh.

Ambillah langkah menuju kebahagiaan hari ini dengan rendah hati berdoa seperti dalam Mazmur 139:23-24: "Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!"

Renungkan:

- Siapa dalam hidup Anda yang Anda anggap sebagai orang yang bahagia? Bagaimana mereka juga menunjukkan kerendahan hati?

- Bagaimana Anda telah bertumbuh secara rohani dalam satu tahun terakhir? Bukti pertumbuhan apa yang dapat dilihat orang lain dalam diri Anda?

- Mengapa penting memiliki dukungan dari kelompok kecil saat Anda berusaha bertumbuh secara rohani?

Bacaan Alkitab Setahun :
1 Tawarikh 10-12; Yohanes 6:45-71

Orang yang rendah hati adalah orang yang bahagia. Mengapa? Karena mereka tidak pernah berhenti bertumbuh dan belajar.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
=========
Questions Happy People Keep Asking - Daily Hope with Rick Warren - May 21, 2026

“I don’t mean to say I am perfect. I haven’t learned all I should even yet, but I keep working toward that day when I will finally be all that Christ saved me for and wants me to be. No, dear brothers, I am still not all I should be.” Philippians 3:12-13 (TLB)
------------------
Humble people are happy people. Why? Because they never stop growing and learning.

The Bible says in The Message paraphrase, “Test yourselves to make sure you are solid in the faith . . . Give yourselves regular checkups” (2 Corinthians 13:5).

Do you give yourself regular checkups? Try this: Wake up every day and ask God, “What do I need to work on today?” This takes humility, but it’s a habit that will lead to happiness.

Paul knew the importance of humbly growing and learning. He wrote in Philippians 3:12-13: “I don’t mean to say I am perfect. I haven’t learned all I should even yet, but I keep working toward that day when I will finally be all that Christ saved me for and wants me to be. No, dear brothers, I am still not all I should be” (TLB).

When Paul wrote this, he was an older man in prison in Rome. He was at the end of his life. He was an incredibly mature person. Yet he said he hadn’t arrived. If anybody had the right to say, “I’ve arrived spiritually,” it would be the guy who wrote so much of the New Testament. But Paul said, “No, I haven’t arrived. I’m still growing, learning, and becoming more like Christ.”

Pride is the trap that so often keeps Christians from following Paul’s example and continuing to grow in Christ. Why? Because when you think you’ve got it all together, it’s harder to make an effort to grow in spiritual maturity. Humility, on the other hand, leads to happiness because it makes you teachable.

Happiness and humility go together because you’re compelled to ask, “How can I be a better spouse? How can I be a better friend? How can I be a better boss? How can I be a better follower of Jesus?” When you aren’t asking these questions, you’re missing out because you’ve stopped growing—and God made you to grow.

Take a step toward happiness today by humbly praying Psalm 139:23-24: “Search me, O God, and know my heart! Try me and know my thoughts! And see if there be any grievous way in me, and lead me in the way everlasting!” (ESV).


BONGKAR TRAGEDI KERUSUH*N & P3MERK*SA*N MEI 98‼️"BUKAN PRABOWO", DALANGN...

https://youtube.com/watch?v=vTk_bAgKKgY&si=Cyjk3F8vnTOdXD8X

Selasa, 19 Mei 2026

Rakyat Pintar Lebih Sulit Dikendalikan

 
Lampiran foto: IMG-20260520-WA0011.jpg

Ahok bilang dengan sangat tegas: pengadaan Chromebook itu sebenarnya adalah kebijakan yg sangat masuk akal secara logika. Chromebook itu bukan laptop biasa. Operating system-nya berbasis cloud sekali beli langsung include semuanya, tidak perlu diperbarui terus-menerus. Harganya jauh lebih terjangkau dari laptop konvensional. Dan yg paling penting sistemnya dirancang agar anak tidak bisa nonton video porno, tidak bisa judi online, dan seluruh aktivitas belajar bisa dipantau. Ahok kasih contoh nyata. Ada guru di Jawa Barat yang punya empat sertifikat internasional bisa mengajar di level dunia. Ujiannya hanya 10 dolar. Bayangkan kalau semua guru Indonesia bisa akses sertifikasi seperti itu lewat Chromebook yg terhubung Starlink di daerah terpencil anak di kampung tiba-tiba bisa belajar setara dengan anak di Kanada atau Australia. Itu bukan mimpi. Itu sudah bisa dilakukan sekarang dengan teknologi yang ada. "Bayangin kalau semua anak kita di kampung ada Starlink juga kan. Anak di kampung kita tiba-tiba belajar setara dengan orang di Kanada atau di Amerika atau di Australia." Lalu kenapa Ahok merasa ini sengaja karena takut diproses hukum lagi tapi dia tetap bilang: "Saya pikir ini sengaja." Logikanya sederhana dan sangat keras. Kalau rakyat pintar, rakyat kritis, rakyat bisa akses informasi dari mana saja mereka lebih sulit dikuasai. Lebih sulit dibohongi. Lebih sulit dimanipulasi menjelang pemilu. Sistem yg membiarkan rakyat bodoh dan miskin adalah sistem yg menguntungkan mereka yang berkuasa. Karena rakyat yg bodoh dan miskin lebih mudah disuap dengan sembako, lebih mudah digiring dengan hoaks, lebih mudah dikontrol dengan ketergantungan pada program-program yg terkesan murah hati tapi tidak memberdayakan. MBG- makan bergizi gratis menurut Ahok adalah contoh dari cara berpikir yg sama. Daripada kasih rakyat laptop yang bisa membuka pintu dunia, lebih mudah kasih makanan yg habis dimakan dan orang tetap tergantung besok makannya dari mana. "Kalau saya tanya mau bikin sekolah bagus, kasih makan bergizi atau rakyat punya laptop yg bisa komunikasi ke mana-mana?" Yang paling menohok soal survei dan legitimasi: Ahok tidak berhenti di situ. Dia lanjutkan dengan sesuatu yg sangat pedas. Pemerintah melakukan survei. Rakyat bilang mereka suka makanan gratis. Lalu itu dijadikan legitimasi untuk program MBG. Seolah-olah karena rakyat minta ya sudah diberikan. Tapi Ahok membaliknya: kalau kamu memberikan sesuatu kepada orang yg tidak pernah tahu bahwa ada pilihan yg jauh lebih baik tentu mereka akan pilih yg ada di depan mata. Itu bukan preferensi yg genuine. Itu keterbatasan informasi yg dimanfaatkan sebagai justifikasi. "Mereka juga pintar. Dia survei, Pak. Rakyat suka makanan itu jadi legitimasi." Dan soal Nadiem yg sekarang dituntut 27 tahun: Ahok tidak membela Nadiem secara personal. Tapi dia bilang satu hal yg sangat logis dan sangat sulit dibantah: Menteri itu tidak pernah menyentuh anggaran secara langsung. Menteri membuat kebijakan. Yg mengeksekusi adalah birokrasi di bawahnya. Kalau ada yg salah dalam eksekusi pertanyaannya adalah: apakah menteri yg memerintahkan secara eksplisit? Apakah ada aliran dana yg bisa dibuktikan masuk ke kantong menteri? PPATK sudah menjawab: tidak ada. Nol aliran dana ke Nadiem dari siapapun. "Saya pikir ya ini soal profesionalisme. Menteri kan enggak pernah nyentuh anggaran perantaran kan, kecuali dia nyuruh ya atau terima ya." Ahok tidak sedang bicara soal Chromebook sebagai produk. Dia sedang bicara soal pilihan fundamental sebuah bangsa: apakah kita mau membangun rakyat yg pintar dan mandiri, atau kita mau mempertahankan sistem di mana rakyat tetap bergantung pada belas kasihan penguasa? MBG memberikan makan hari ini. Chromebook bisa mengubah nasib seumur hidup. Dan ketika kebijakan yg lebih transformatif justru dipersoalkan secara hukum sementara program yg lebih konsumtif dirayakan sebagai prestasi itu bukan kebetulan. Itu adalah pilihan yg sangat disengaja oleh mereka yg paling diuntungkan dari rakyat yg tetap tidak berdaya.

Uploaded Image

Apakah Kesibukan Menghalangi Anda Mengenal Allah?

20 Mei 2026

Bacaan Hari ini:
Filipi 3:10 "Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya"
---------------------
Paulus berkata dalam Filipi 3:10, "Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya"

Terjemahan lain mengatakan bahwa Paulus menjadi "sangat mengenal" Allah karena ia memiliki hubungan dengan-Nya dan meluangkan waktu untuk mengenal-Nya. Ia memahami perbedaan antara mengetahui tentang seseorang dan benar-benar mengenal seseorang—dan Paulus ingin sungguh-sungguh mengenal Kristus.

Anda tidak akan menjadi sangat mengenal Allah secara kebetulan. Anda tidak bangun suatu pagi lalu tanpa sengaja memiliki hubungan yang dekat dengan Yesus. Paulus mengatakan bahwa ini adalah tujuan yang disengaja. Ini adalah sesuatu yang harus Anda usahakan. Anda harus menginvestasikan waktu Anda untuk itu. Anda harus menginvestasikan hati Anda untuk itu. Anda harus menginvestasikan sumber daya dan tenaga Anda. Mengenal Allah membutuhkan yang terbaik dari semua yang Anda miliki!

Salah satu jebakan yang dapat menghalangi Anda untuk semakin mengenal Allah adalah kesibukan. Sama seperti kesibukan dapat merusak hubungan Anda dengan orang lain, kesibukan juga dapat merusak hubungan Anda dengan Allah.

Mazmur 46:10 berkata, "Diamlah dan ketahuilah bahwa Akulah Allah"

Untuk bertumbuh dalam hubungan Anda dengan Allah, Anda perlu menyediakan waktu bagi-Nya dan belajar untuk diam. Hanya beberapa menit waktu yang benar-benar terfokus setiap hari dapat membawa perubahan besar. Saya tidak mengatakan bahwa Anda harus menghabiskan satu jam penuh dalam doa setiap hari. Anda dapat memulainya dengan 10 atau 15 menit setiap pagi, membaca Alkitab dan berbicara dengan Allah.

Hal yang paling penting adalah menjadikannya kebiasaan dan berkomitmen untuk mengenal Allah lebih dalam. Hanya dengan demikian Anda, seperti Paulus, akan mulai memahami keajaiban Allah dengan lebih jelas.

Jadikan ini doa harian Anda: "Tuhan, jika hari ini saya tidak melakukan hal lain apa pun, saya ingin mengenal Engkau sedikit lebih dalam dan mengasihi Engkau sedikit lebih lagi." Ketika Anda berdoa dan menjalani hal ini, Anda akan mulai mengalami kebahagiaan yang lebih besar dalam hidup Anda.

Renungkan:

- Apa saja hal yang Anda lakukan setiap hari selama setidaknya 15 menit? Apakah Anda melakukannya karena itu penting atau hanya karena sudah menjadi kebiasaan?

- Gangguan apa yang membuat Anda terlalu sibuk untuk meluangkan waktu bersama Allah?

- Bagaimana Anda akan menyesuaikan jadwal Anda agar dapat memiliki lebih banyak waktu bersama Allah?

Bacaan Alkitab Setahun :
1 Tawarikh 7-9; Yohanes 6:22-44
___________
Kebahagiaan ditemukan ketika Anda semakin mengenal Allah setiap hari.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
==========
Is Busyness Keeping You from Knowing God? - Daily Hope with Rick Warren - May 20, 2026

“I want to know Christ and experience the mighty power that raised him from the dead. I want to suffer with him, sharing in his death.” Philippians 3:10 (NLT)
--------------------
Happiness is found in getting to know God more every day.

Paul said in Philippians 3:10, “I want to know Christ and experience the mighty power that raised him from the dead. I want to suffer with him, sharing in his death” (NLT).

Another translation says that Paul became “thoroughly acquainted” (AMP) with God because he had a relationship with him and took the time to get to know him. He understood the difference between knowing about someone and actually knowing someone—and Paul wanted to really know Christ.

You don’t become thoroughly acquainted with God by accident. You don’t just wake up and accidentally fall into a relationship with Jesus. Paul says it’s a determined purpose. It’s something you have to do something about. You have to invest your time in it. You have to invest your heart in it. You have to invest your resources and your energy. Getting to know God requires the best of everything you have!

One trap that can keep you from getting to know God better is busyness. Just like busyness can destroy your relationships, it can also destroy your relationship with God.

Psalm 46:10 says, “Be still, and know that I am God” (NIV).

To grow in your relationship with God, you need to make time for him and be still. Just a few minutes of focused time every day can make all the difference in the world. I’m not saying you have to spend an hour in prayer every day. You can start with 10 or 15 minutes each morning, reading the Bible and talking with God.

The most important thing is to make it a habit and commit to getting to know God. Only then will you, like Paul, begin understanding the wonders of God with greater clarity.

Make this your daily prayer: “Lord, if I don’t do anything else today, I want to get to know you a little bit better and I want to love you a little bit more.” As you pray and live this out, you’ll begin to experience greater happiness in your life.

Senin, 18 Mei 2026

LAGI²AHOK :GUE JADI PRESIDEN GUE BAGI SEMUA RAKYAT TANAH GRATIS, MBG GAK...

https://youtube.com/watch?v=tCXE5JsQnPU&si=uashIY-oowr7PNZ7

Pilih untuk Bermegah dalam Kasih Karunia Allah

19 Mei 2026

Bacaan Hari ini:
Filipi 3:9 "dan berada dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri karena mentaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan kepercayaan."
---------------
Menyadari bahwa tidak ada yang dapat Anda lakukan untuk membuat Allah lebih mengasihi Anda adalah salah satu perasaan paling membebaskan di dunia—dan itu merupakan kunci menuju kebahagiaan.

Alkitab berkata, "karena kitalah orang-orang bersunat, yang beribadah oleh Roh Allah, dan bermegah dalam Kristus Yesus dan tidak menaruh percaya pada hal-hal lahiriah." (Filipi 3:3).

Setiap kali Anda melupakan kebenaran ini dan berpikir bahwa Anda harus mendapatkan kasih Allah dengan usaha sendiri, itulah legalisme dan hal itu merampas kebahagiaan Anda.

Legalisme adalah mempercayai apa yang dapat Anda lakukan bagi Allah daripada mempercayai apa yang telah Yesus lakukan bagi Anda. Legalisme berarti mengikuti daftar aturan dan peraturan untuk membuktikan bahwa Anda layak dan itu adalah jebakan yang menghalangi Anda untuk beristirahat dalam kasih karunia Allah.

Paulus tahu bagaimana hidup dalam kasih karunia Allah. Ia berkata dalam Filipi 3:9, "dan berada dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri karena mentaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan kepercayaan."
Dengan kata lain, cara untuk memperoleh kasih Allah adalah ini: Anda tidak dapat memperolehnya dengan usaha sendiri. Ini bukan tentang prestasi Anda; ini tentang pengampunan-Nya.

Bagaimana Anda tahu ketika Anda sedang hidup dalam legalisme? Ketika Anda hidup secara legalistis, Anda cenderung menghakimi orang lain. Itu karena lebih mudah mengkritik orang lain ketika Anda sendiri tidak merasa diterima dan dikasihi. Mengapa Anda ingin orang lain merasa baik tentang diri mereka jika Anda sendiri tidak merasakannya?

Sebaliknya, bagaimana Anda tahu ketika Anda hidup dalam kasih karunia? Ketika Anda hidup dalam kasih karunia, Anda akan penuh kasih kepada orang lain. Anda lebih mudah mengampuni karena Anda menyadari bahwa Allah terus mengampuni Anda. Dan karena Anda tidak sedang berusaha mendapatkan jalan ke surga dengan usaha sendiri, Anda dapat hidup dengan tenang.

Setiap pagi, ingatkan diri Anda akan kasih karunia Allah dengan berdoa, "Tuhan, hari ini saya bersyukur karena saya telah sepenuhnya diampuni. Tidak ada yang dapat saya lakukan untuk membuat Engkau lebih mengasihi saya. Dan tidak ada yang dapat saya lakukan yang akan membuat Engkau mengasihi saya lebih sedikit!"

Renungkan:

- Apakah Anda sudah mempercayakan hidup Anda kepada Yesus?

Alkitab mengatakan bahwa Anda hanya dapat masuk surga dengan percaya kepada Allah melalui Anak-Nya, Yesus Kristus. Anda tidak dapat memperoleh keselamatan dengan usaha sendiri: "Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri." (Efesus 2:8-9).

Jika Anda siap mengakui dosa-dosa Anda dan mempercayakan hidup Anda kepada Yesus, mulailah dengan doa ini:
"Tuhan, Engkau telah berjanji bahwa jika saya percaya kepada Yesus, semua dosa saya akan diampuni, saya akan memahami tujuan hidup saya dan suatu hari nanti Engkau akan menerima saya ke dalam rumah-Mu yang kekal di surga."
"Saya percaya bahwa Engkau datang ke dunia, hidup tanpa dosa, mati di kayu salib dan bangkit dari kematian. Melalui kematian dan kebangkitan-Mu, dosa-dosa saya diampuni dan saya dapat memiliki hubungan dengan Allah serta rumah kekal bersama-Nya."
"Saya mengakui dosa-dosa saya terhadap-Mu dan bahwa saya telah hidup untuk diri sendiri. Saya menerima Yesus sebagai Juruselamat dan Tuhan atas hidup saya. Yesus, saya ingin mengikuti dan melayani-Mu. Saya menyerahkan hidup saya kepada-Mu dan memohon agar Engkau menyelamatkan saya dan menerima saya ke dalam keluarga-Mu. Dalam nama-Mu saya berdoa. Amin."

Bacaan Alkitab Setahun :
1 Tawarikh 4-6; Yohanes 6:1-21
___________
Semakin Anda hidup dalam kasih karunia, semakin besar sukacita yang akan Anda miliki.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
==========
Choose to Glory in God’s Grace - Daily Hope with Rick Warren - May 19, 2026

“I no longer count on my own righteousness through obeying the law; rather, I become righteous through faith in Christ. For God’s way of making us right with himself depends on faith.” Philippians 3:9 (NLT)
---------------------
Realizing there’s nothing you can do to make God love you more is one of the most liberating feelings in the world—and it’s a key to happiness.

The Bible says, “We Christians glory in what Christ Jesus has done for us and realize that we are helpless to save ourselves” (Philippians 3:3 TLB).

Each time you forget this truth and think you’ve got to somehow earn God’s love, that’s legalism, and it robs you of happiness.

Legalism is trusting in what you can do for God instead of trusting in what Jesus has already done for you. It’s following a list of rules and regulations to prove yourself worthy, and it’s a trap that keeps you from relaxing in God’s grace.

Paul knew how to relax in God’s grace. He said in Philippians 3:9, “I no longer count on my own righteousness through obeying the law; rather, I become righteous through faith in Christ” (NLT). In other words, the way you earn the love of God is this: You don’t earn it. It’s not about your performance; it’s about his pardon. 

How do you know when you’re being legalistic? When you’re being legalistic, you’re often judgmental of other people. That’s because it’s easier to be critical of others when you don’t feel accepted and loved yourself. Why would you want other people to feel good about themselves when you don’t feel good about yourself?

On the other hand, how do you know when you’re living by grace? When you’re living by grace, you’re gracious to others. You find it easier to forgive because you recognize that God continues to forgive you. And since you’re not trying to earn your way to heaven, you can relax.

Every morning, remind yourself of God’s grace by praying, “Lord, today I’m thankful that I am completely forgiven. There’s nothing I can do to make you love me more. And there’s nothing I could do that would make you love me less!”

The more you live by grace, the more joy you’ll have.