Sabtu, 14 Februari 2026

Mengasihi dengan Kasih yang Tak Berkesudahan

15 Februari 2026

Bacaan Hari ini:
Filipi 1:7 "Memang sudahlah sepatutnya aku berpikir demikian akan kamu semua, sebab kamu ada di dalam hatiku"
--------------
Ada satu kenyataan sederhana dalam hidup: orang yang tidak kita tempatkan di hati, sering kali justru terasa mengganggu. Jika pasangan, anak, sahabat atau rekan kerja tidak kita kasihi dari hati, hubungan dengan mereka mudah berubah menjadi sumber kejengkelan.

Banyak pernikahan mengalami masalah karena suami dan istri saling bereaksi dari pikiran, bukan dari hati. Ketika istri berkata, "Saya merasa sedih atau tertekan," perasaan itu perlu didengarkan dan dihargai. Ketika suami berkata, "aya merasa ini bukan keputusan yang tepat," pendapat itu juga perlu didengarkan.

Mengasihi dari hati berarti berusaha memahami perasaan orang lain, bukan langsung membantah atau menghakimi. Ajukan pertanyaan, lalu dengarkan dengan sungguh-sungguh. Cobalah melihat persoalan dari sudut pandang mereka. Perhatikan luka yang mungkin tersembunyi di balik kata-kata atau sikap mereka.

Namun, mengasihi orang-orang terdekat tidak selalu mudah. Bahkan ketika Anda sudah berusaha memahami, rasa lelah dan kecewa tetap bisa muncul. Di sinilah Anda membutuhkan kasih yang lebih besar daripada kasih manusia biasa.

Rasul Paulus berkata, "Sebab Allah adalah saksiku betapa aku dengan kasih mesra Kristus Yesus merindukan kamu sekalian." (Filipi 1:8). Kasih yang ia maksud bukanlah kasih yang berasal dari kekuatan manusia, melainkan kasih yang berasal dari Yesus sendiri.

Kasih manusia bisa habis. Ia dapat melemah ketika menghadapi masalah, luka batin atau keadaan yang sulit. Tetapi kasih Allah tidak pernah habis. Kasih inilah yang sanggup membuat seseorang tetap mengasihi, bahkan ketika keadaan tidak menyenangkan.

Bagaimana Anda bisa memiliki kasih seperti itu? Alkitab menjelaskan: "Kasih Allah telah dicurahkan ke dalam hati kita oleh Roh Kudus" (Roma 5:5).

Renungkan :

- Kapan terakhir kali Anda tetap memilih mengasihi seseorang meskipun perasaan Anda tidak mendukung?

- Apa yang dapat Anda lakukan agar lebih mau mendengarkan dan memahami perasaan orang-orang terdekat Anda?

- Dalam hal apa Anda perlu meminta Tuhan menolong Anda mengasihi dengan kasih-Nya yang tidak pernah habis?

Bacaan Alkitab Setahun :
Imamat 15-16; Matius 27:1-26
____________
Kasih ini bukan sesuatu yang Anda hasilkan sendiri. Kasih ini adalah pemberian Allah, yang bekerja di dalam hidup Anda ketika Anda menyerahkan diri kepada-Nya setiap hari.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
=========
Love with a Lasting Love - Daily Hope with Rick Warren - February 15, 2026

"It is right for me to feel this way about all of you, since I have you in my heart." Philippians 1:7 (NIV)
--------------------
I've discovered that if people are not on my heart, they're likely on my nerves. If you don't have your spouse, kids, friends, or coworkers on your heart, they can start to get on your nerves too.

The reason so many marriages struggle is that spouses often react to each other from their minds rather than their hearts. When your wife says, "I feel depressed," listen to her; it's legitimate. When your husband says, "I don't feel this is the right thing to do; we ought to do it this other way," listen to him.

Heart love begins with understanding why someone feels the way they do. Ask questions and then listen. Hear the hurt, look at the problems from their point of view, and work to know what makes your them tick. Try to understand the temperaments of the people in your life and why they act the way they do. If you care, you'll be aware.

Sometimes it's a struggle to love the people closest to you, even when you're working hard to understand them. So how does one do it? "God can testify how I long for all of you with the affection of Christ Jesus" (Philippians 1:8 NIV). In Greek, the word affection is the word for intestines. The Greeks thought that the seat of emotion was in your stomach, your liver, your internal organs.

Paul was saying, "My love for you comes from a gut feeling." That is not a natural kind of love. It is supernatural. That's why Paul said it's not from himself, but it's the affection of Christ Jesus.

Human love wears out. It dries up and dies on the vine. The only kind of love that lasts in spite of heartache and difficulty and tough circumstances is God's love—the affection of Jesus.

So how do you get this kind of gut love? "God has poured out his love into our hearts by means of the Holy Spirit, who is God's gift to us" (Romans 5:5 GNT). God's love is not something you work to build up. It is something that is poured into you by the Holy Spirit as you let him live in you day by day.


Jumat, 13 Februari 2026

Relasi Seperti Jas Hujan di Tengah Badai Kehidupan

14 Februari 2026

Bacaan Hari ini:
Pengkhotbah 4:9–10 "Berdua lebih baik dari pada seorang diri,... kalau mereka jatuh, yang seorang mengangkat temannya, tetapi wai orang yang jatuh, yang tidak mempunyai orang lain untuk mengangkatnya!"
---------------
Relasi ibarat jas hujan di tengah badai kehidupan. Ketika sahabat atau anggota keluarga menghadapi badai, Anda saling melindungi. Orang-orang yang berkomitmen satu sama lain akan saling menjaga ketika badai datang.

Pengkhotbah 4:9–10 mengingatkan: "Berdua lebih baik dari pada seorang diri,... kalau mereka jatuh, yang seorang mengangkat temannya, tetapi wai orang yang jatuh, yang tidak mempunyai orang lain untuk mengangkatnya!"

Hidup membawa berbagai macam badai. Terkadang badai itu berupa masa-masa perubahan; di lain waktu, badai hadir sebagai pengaruh yang merugikan. Dalam semua situasi itu, Anda dipanggil untuk melindungi orang-orang yang Anda kasihi.

Namun, badai yang paling menyakitkan adalah penolakan. Ketika seorang sahabat, anak atau pasangan merasa ditolak, Anda—bersama orang-orang terdekat lainnya—perlu berdiri di sekeliling mereka dan menjadi jas hujan yang melindungi di tengah badai tersebut.

Bertahun-tahun yang lalu, anak sulung saya, Amy, masih duduk di bangku SMA. Ia mengikuti seleksi pemandu sorak dan berlatih dengan sungguh-sungguh. Pada akhirnya, teman-temannya diterima, tetapi ia tidak. Penolakan itu sangat melukai hatinya.

Ketika pulang ke rumah, ia berlari ke kamarnya, masuk ke dalam lemari, duduk di lantai dan menangis tersedu-sedu. Semua anggota keluarga mendengar tangisannya. Satu per satu, tanpa direncanakan, kami masuk ke kamarnya, duduk di lantai di dalam lemari itu, dan menangis bersamanya.

Kami tidak memberinya nasihat—ia tidak membutuhkannya. Kami tidak berkata, "Jangan khawatir, itu bukan masalah besar." Bagi Amy, itu adalah masalah besar. Kami juga tidak berkata, "Jangan menangis." Itu bukan respons yang penuh empati bagi seseorang yang sedang berduka. Sebaliknya, selama sekitar tiga puluh menit, kami hanya duduk di sana dan menangis bersamanya.

Keluarga kami tidak pernah melupakan pengalaman itu. Mengapa? Karena pada saat itu, kami menjadi jas hujan bagi Amy. Kami melindunginya di tengah badai. Ketika salah satu dari kami terluka, kami tidak meremehkannya, tidak mencoba mengalihkannya, dan tidak memaksanya untuk segera merasa lebih baik. Kami hanya hadir dan berbagi air mata.

Renungkan :

- Mengapa seseorang seharusnya merasakan dukungan terbesar justru dari keluarganya?

- Ketika seorang anak atau orang terdekat Anda mengalami penolakan, apa reaksi Anda biasanya? Menurut Anda, apa respons yang penuh kasih dan sesuai dengan Alkitab?

- Dalam hal apa Anda terkadang mencoba "membujuk" orang lain agar tidak merasa terluka atau ditolak? Mengapa sikap ini justru dapat melukai mereka?

Bacaan Alkitab Setahun :
Imamat 14; Matius 26:51-75
___________
Keluarga yang sehat—baik keluarga biologis, keluarga adopsi, maupun keluarga rohani—saling melindungi di tengah badai kehidupan.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
=========
Relationships Are like a Raincoat in Life's Storms - Daily Hope with Rick Warren - February 15, 2026

"Two are better off than one. . . . If one of them falls down, the other can help him up. But if someone is alone and falls, it's just too bad, because there is no one to help him." Ecclesiastes 4:9-10 (GNT)
---------------------
Relationships are like a raincoat during the storms of life. When friends or family members go through a storm, you help each other. People committed to one another protect each other in the storm.

Ecclesiastes 4:9-10 says, "Two are better off than one. . . . If one of them falls down, the other can help him up. But if someone is alone and falls, it's just too bad, because there is no one to help him" (GNT).

Life brings all kinds of storms, and you'll need to protect your loved ones through them. Sometimes those storms are seasons of change; other times they come as harmful influences.

But the most painful storm of all is rejection. When your friend, your child, or your spouse feels rejected, you—and others close to them—need to rally around them and act as a raincoat in the storm.

Many years ago, my oldest child, Amy, was in high school. She tried out to be a cheerleader. She went to practice after practice for the tryouts. Eventually, her friends got accepted, but she was rejected—and it broke her heart. When she came home, she ran into her room, went into her closet, sat down on the floor, and burst into tears.

Everyone in our family could hear Amy crying. And one by one, all on our own, we ended up walking into her room, sitting down on the floor in her closet, and crying with her.

We didn't give her any advice; she didn't need advice. We didn't say, "Don't worry. It's not a big deal." It was a big deal! We didn't say, "Don't cry!" That's an insensitive thing to say to somebody who's grieving. Instead, we all sat there for about 30 minutes and just cried with her.

Our family will never forget that experience. Why? Because, at that point, we were being a raincoat for Amy. We were being storm catchers. We were being protectors. Somebody in our family had been hurt, and we weren't demeaning it. We weren't trying to talk her out of it. We weren't trying to cheer her up. We just wept with her.

Awesome families—biological, adoptive, and spiritual—protect each other in the storm.


Kamis, 12 Februari 2026

Bagaimana Keluarga Saling Menolong untuk Bertumbuh

13 Februari 2026

Bacaan Hari ini:
Yohanes 13:14–15 "Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu; sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu."
------------------
Salah satu ciri keluarga yang sehat—baik keluarga biologis, keluarga adopsi, maupun keluarga gereja—adalah kemauan untuk saling menolong agar setiap anggotanya bertumbuh. Namun, bagaimana caranya menolong satu sama lain untuk bertumbuh dengan benar?

Ada dua cara yang efektif untuk menolong orang bertumbuh, dan ada dua cara yang justru tidak membantu. Prinsip-prinsip ini berlaku dalam semua relasi, bukan hanya di dalam keluarga.

Cara yang menolong pertumbuhan

1. Melalui teladan

Yesus mengajar murid-murid-Nya melalui teladan hidup. Alkitab mencatat: "Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu; sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu." (Yohanes 13:14–15).
Anak-anak—dan sesungguhnya siapa pun—tidak terlalu membutuhkan khotbah panjang. Mereka membutuhkan contoh nyata. Mereka ingin melihat bagaimana Yesus dinyatakan melalui sikap, perkataan, dan tindakan Anda setiap hari.

2. Melalui percakapan yang bermakna

Jika Anda tidak memiliki percakapan yang jujur dan bermakna tentang kehidupan, Anda sedang melewatkan banyak kesempatan untuk menolong orang lain bertumbuh. Sayangnya, banyak percakapan dalam keluarga hanya berkisar pada jadwal, makanan atau tugas—bukan tentang hal-hal yang sungguh penting dalam hidup.
Ulangan 6:7 menasihatkan: "haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun."

Cara yang tidak menolong pertumbuhan

1. Melalui kritik dan celaan

Mengomel, menyalahkan, atau mengkritik tidak pernah efektif untuk membawa perubahan sejati. Ketika Anda mengkritik, fokus Anda tertuju pada apa yang tidak Anda inginkan, bukan pada pertumbuhan yang Anda harapkan.
Alkitab mengingatkan: "Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu ,tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan." (Efesus 6:4).

2. Melalui perbandingan

Setiap orang diciptakan unik. Tidak ada seorang pun yang sama persis dengan orang lain. Karena itu, membandingkan satu orang dengan yang lain tidak pernah menghasilkan pertumbuhan—bahkan sering merusak relasi.
Alkitab berkata: "Baiklah tiap-tiap orang menguji pekerjaannya sendiri; maka ia boleh bermegah melihat keadaannya sendiri dan bukan melihat keadaan orang lain." (Galatia 6:4).

Inilah rancangan Allah bagi keluarga dan komunitas. Alkitab menasihatkan: "Karena itu, nasihatilah seorang akan yang lain dan saling membangunlah kamu, seperti yang memang kamu lakukan" (1 Tesalonika 5:11).

Renungkan :

- Perhatikan percakapan Anda dengan keluarga atau sahabat dalam satu atau dua hari terakhir. Apakah percakapan itu menyentuh hal-hal yang sungguh penting dalam hidup? Jika belum, bagaimana Anda dapat mengarahkannya ke sana?

- Jika Anda seorang orang tua, dalam hal apa terakhir kali Anda menegur anak Anda? Bagaimana Anda dapat menjadi teladan terlebih dahulu dalam hal tersebut, bukan hanya memberi perintah?

- Daripada membandingkan atau mengkritik, langkah apa yang dapat Anda ambil hari ini untuk membangun dan menguatkan orang-orang di sekitar Anda?

Bacaan Alkitab Setahun :
Imamat 13; Matius 26:26-50
_____________
Alkitab penuh dengan arahan tentang bagaimana manusia seharusnya saling memperlakukan. Bahkan terdapat puluhan perintah "saling": saling mengasihi, saling peduli, saling mendoakan, saling menguatkan, saling menolong, saling menasihati, dan saling menopang.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
===========
How Families Can Help Each Other Grow - Daily Hope with Rick Warren - February 13, 2026

"Since I . . . have washed your feet, you ought to wash each other's feet. I have given you an example to follow. Do as I have done to you." John 13:14-15 (NLT)
------------------
One of the marks of an awesome family—whether it's your biological family, your adoptive family, or your church family—is that you help each other grow. But how do you do that?

Let me give you two methods that help people grow and two that don't. These apply in every area of life, not just in families.

People do help each other grow:

1. Through example. Jesus did this in teaching his disciples. John 13:14-15 says, "Since I . . . have washed your feet, you ought to wash each other's feet. I have given you an example to follow. Do as I have done to you" (NLT). Your kids don't want to hear a sermon. They want to see Jesus' example in your life.

2. Through conversations. If you're not having critical conversations with your kids about real issues, you're missing opportunities to help them grow. Unfortunately, most conversations parents have with kids are about schedules, eating, or homework—not about the things that really matter in life.

Deuteronomy 6:7 says, "Repeat [God's commandments] again and again to your children. Talk about them when you are at home and when you are on the road, when you are going to bed and when you are getting up" (NLT).

On the other hand, people don't help each other grow:

1. Through criticism. Nagging doesn't work. Condemning doesn't work. Criticizing and complaining are totally ineffective in helping a person change. Why? Because when you criticize, you're focusing on what you don't want rather than what you do want.

The Living Bible paraphrase says, "Don't keep on scolding and nagging your children, making them angry and resentful. Rather, bring them up with the loving discipline the Lord himself approves, with suggestions and godly advice"(Ephesians 6:4).

2. Through comparing. Everybody's unique. There's nobody in the world like you! That's why comparing never, ever works. In fact, it's lethal to any relationship. The Bible says, "Each person should judge his own actions and not compare himself with others. Then he can be proud for what he himself has done" (Galatians 6:4 NCV).

The Bible is full of instructions and examples about how people should treat each other. In fact, the Bible includes 58 "one another" statements—things like love one another, care for one another, pray for one another, encourage one another, help one another, counsel one another, and support one another.

That's the way God meant for it to be. The New Testament tells us to "encourage one another and build each other up, just as in fact you are doing" (1 Thessalonians 5:11 NIV).


Rabu, 11 Februari 2026

Lima Hal yang Perlu Dipelajari dalam Keluarga

12 Februari 2026

Bacaan Hari ini:
Lukas 2:52 "Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia."
----------------
Keluarga yang sehat mendorong pertumbuhan. Keluarga seperti ini menciptakan suasana belajar seumur hidup—saling menolong untuk berkembang, mendorong penemuan karunia dan kemampuan rohani setiap pribadi, serta memberi ruang untuk mempelajari hal-hal baru dan menumbuhkan minat yang baru.

Anda tidak selalu membutuhkan keluarga "ideal" untuk dapat bertumbuh. Keluarga gereja Anda juga dapat—dan seharusnya—menjadi kekuatan yang menumbuhkan hidup Anda. Ada pelajaran-pelajaran tertentu yang tidak bisa dipelajari di sekolah atau di tempat kerja. Pelajaran-pelajaran itu hanya dapat dipelajari melalui relasi dengan orang lain. Karena itu, Anda membutuhkan komunitas.

Faktanya, banyak pergumulan orang dewasa berakar pada hal-hal penting yang tidak dipelajari dengan baik sejak kecil. Berikut lima hal penting yang seharusnya dipelajari dalam keluarga, baik keluarga biologis maupun keluarga rohani:

1. Mengelola perasaan

Dalam keluarga yang sehat, Anda belajar mengenali, mengakui, mengekspresikan, dan mengelola perasaan dengan benar. Keluarga yang baik memberi ruang bagi kejujuran, termasuk membiarkan anak-anak mengekspresikan emosi mereka tanpa rasa takut.

2. Menghadapi konflik dengan sehat

Anak-anak perlu melihat bagaimana orang dewasa menyelesaikan perbedaan dengan cara yang dewasa dan penuh kasih. Konflik tidak harus dihindari, tetapi dikelola dengan bijaksana.

3. Menghadapi kehilangan dan kegagalan

Anak-anak tidak perlu selalu menang. Jika mereka selalu menang, kegagalan di masa dewasa dapat terasa menghancurkan. Mereka perlu belajar bahwa kegagalan tidak mengakhiri hidup dan kehilangan bukanlah akhir dari segalanya.

4. Menentukan nilai-nilai yang paling penting

Penting untuk mengajarkan nilai-nilai yang benar agar seseorang tidak mudah terbawa oleh nilai dunia. Godaan hidup sering berpusat pada apa yang dirasakan, apa yang dilakukan dan apa yang dimiliki—atau yang sering diringkas sebagai seks, penghasilan dan status. Keluarga perlu menolong anggotanya melihat nilai-nilai Allah sebagai yang utama.

5. Membentuk kebiasaan yang baik

Kebiasaan membentuk karakter. Karena itu, keluarga seharusnya saling menolong untuk bertumbuh sehingga karakter setiap anggotanya semakin mencerminkan karakter Yesus Kristus.

Mulailah melakukan perubahan hari ini, agar keluarga Anda—baik keluarga biologis, keluarga adopsi, maupun keluarga rohani—menjadi tempat yang aman bagi setiap orang untuk belajar, bertumbuh dan mengalami kebersamaan yang membangun.

Renungkan

- Bagaimana Anda dapat menciptakan suasana belajar dan pertumbuhan di dalam keluarga Anda?

- Mengapa mengajarkan cara menghadapi kegagalan menjadi semakin sulit dalam budaya saat ini?

- Nilai apa yang paling penting bagi Anda? Nilai-nilai Alkitab apa yang ingin Anda tanamkan kepada anak-anak atau generasi muda dalam hidup Anda?

Bacaan Alkitab Setahun :
Imamat 11-12; Matius 26:1-25
____________
Keluarga yang sehat mendorong pertumbuhan.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
=========
Five Things to Learn in a Family - Daily Hope with Rick Warren - February 12, 2026

"Jesus grew in wisdom and stature, and in favor with God and man." Luke 2:52 (NIV)
--------------------
Awesome families encourage growth.

How? They create an atmosphere of lifelong learning. They help each other develop. They encourage the discovery of each person's spiritual gifts and abilities. They allow people to learn new things and develop new interests.

But you don't necessarily need a typical family to help you grow. Your church family can—and should—be a force for growth in your life.

There are some things you're never going to learn if you don't learn them in relationship with others. You can't learn them at school. You can't learn them at work. You only can learn them with other people.

You need community.

In fact, most of your problems as an adult come from the fact that you didn't learn certain things correctly as a child. Here are five things you must learn in your family—whether biological or otherwise:

1. You learn what to do with feelings. In a healthy family, you learn how to identify, own up to, express, and deal with your feelings. Awesome families should let everyone be honest and let kids express their emotions too.

2. You learn how to handle conflict. Kids need to see their parents working problems out in front of them and dealing with differences in a healthy way.

3. You learn how to handle loss. You don't want your kids to win all the time. If they do, they'll find it devastating when they face inevitable losses as adults in the real world. They need to learn that failure won't destroy them, that a loss isn't the end of life.

4. You learn which values matter most. It's important to teach kids the three basic temptations of life so they are not swayed by what the world values. Those temptations have to do with how you feel, what you do, and what you get in life. In other words, that's sex, salary, and status.

5. You learn good habits. Habits determine your character. Families should help each other grow so that everyone's character is more like Jesus Christ.

Start to make changes today so that your family—whether it's biological, adoptive, or spiritual—is a safe place for everyone to learn and grow.


Selasa, 10 Februari 2026

Pernikahan yang Kuat Memberi Manfaat bagi Semua Orang

11 Februari 2026

Bacaan Hari ini:
Roma 12:9–10 "Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik. Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat."
----------------
Pernikahan yang kuat membawa kebaikan bagi semua orang. Pernikahan seperti ini tidak hanya memberkati mereka yang menjalaninya, tetapi juga membantu menguatkan komunitas dan masyarakat di sekitarnya.

Sepanjang sejarah, pernikahan telah menjadi fondasi utama setiap masyarakat dan kebudayaan. Ketika pernikahan-pernikahan kuat, bangsa-bangsa pun menjadi kuat. Sebaliknya, ketika pernikahan dan keluarga melemah, budaya dan masyarakat ikut merosot.

Pernikahan yang sehat juga memberi dampak bagi orang-orang di sekitarnya. Melalui hubungan ini, Allah membentuk karakter Anda—mengajar Anda untuk hidup tidak mementingkan diri sendiri dan belajar mengasihi dengan sungguh. Jika Anda menikah, tidak ada relasi lain yang memiliki pengaruh sebesar pernikahan terhadap pembentukan hidup Anda.

Namun jika Anda belum menikah, Allah tetap sedang bekerja membentuk karakter Anda melalui relasi-relasi lain. Anda tidak dikecualikan. Pribadi lajang yang hidup benar dan berfokus pada sesama memiliki peran yang sangat penting dalam membangun masyarakat yang sehat. Bahkan, dalam beberapa hal, mereka dapat menjalankan peran yang tidak selalu dapat dilakukan oleh pasangan menikah.

Hidup ini adalah ruang pembelajaran untuk mengasihi. Belajar mengasihi adalah hal terpenting yang dapat Anda lakukan, karena Allah adalah kasih dan Ia rindu Anda menjadi serupa dengan-Nya—menjadi semakin seperti Yesus Kristus. Allah ingin membangun karakter Anda, baik Anda menikah maupun tidak.

Jika Anda menikah, salah satu alat utama yang Allah gunakan untuk membentuk karakter Kristus dalam diri Anda adalah pasangan Anda. Setiap hari, Allah memberi Anda banyak kesempatan untuk memikirkan kebutuhan orang lain lebih dahulu daripada kebutuhan diri sendiri.

Alkitab menasihatkan: "Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik. Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat." (Roma 12:9–10).

Apakah prinsip ini Anda hidupi dalam pernikahan Anda? Sebelum menikah, seseorang mungkin merasa sudah memahami arti kasih. Namun seiring waktu, kasih itu nyata dalam hal-hal sederhana: melakukan tugas rumah, memperhatikan hal kecil, dan menempatkan pasangan lebih dahulu. Kasih sejati diwujudkan dalam tindakan sehari-hari.

Karena itu, "kasihilah dengan tulus dan saling mendahului dalam memberi hormat." Ketika Anda hidup dengan cara ini, Anda akan bertumbuh semakin serupa dengan Kristus. Hasilnya bukan hanya pernikahan yang lebih kuat, tetapi juga masyarakat yang lebih sehat bagi semua orang.

Renungkan :

- Dalam hal apa Anda pernah melihat pernikahan yang kuat membawa dampak positif bagi lingkungan atau masyarakat sekitar?

- Baik Anda menikah maupun tidak, relasi apa yang saat ini Allah pakai untuk membentuk karakter Anda? Apa yang sedang Anda pelajari tentang mengasihi dan menghormati sesama?

- Hari ini, cobalah untuk lebih dahulu menunjukkan kasih dan hormat kepada pasangan Anda. (Jika Anda belum menikah, terapkan prinsip yang sama kepada anggota keluarga, teman serumah, atau rekan kerja.) Apa dampaknya?

Bacaan Alkitab Setahun :
Imamat 8-10; Matius 25:31-46
_______________
Pernikahan yang sehat memberi dampak bagi orang-orang di sekitarnya.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
=========
Strong Marriages Benefit Everyone - Daily Hope with Rick Warren - February 11, 2026

"Love sincerely. . . . Hold on to what is good. Be devoted to each other like a loving family. Excel in showing respect for each other." Romans 12:9-10 (GW)
------------------
Strong marriages are good for everyone. They benefit those who are part of those relationships and even help strengthen whole communities.

Throughout history, marriage has been the fundamental building block of every society and culture. When marriages have been strong, nations have been strong. When marriages and families weaken, cultures decline.

Healthy marriages also benefit the people around them. God uses these relationships to shape your character, helping you learn how to be unselfish and loving. And if you get married, no other relationship will have a greater impact on your life.

If you're not married, God can still use and will use other people to build your character. You're not off the hook! Single people who are godly and others-focused play a critical role in flourishing cultures. In fact, sometimes they play roles that married couples can't.

Life is a laboratory for learning how to love. Learning to love is the most important thing you can do because God is love, and he wants you to become like him. He wants to make you like Jesus Christ. He wants to build your character—and he wants to do that whether or not you're married.

If you're married, one tool God uses in your life to build Christ-like character is your spouse. Every day, he gives you hundreds of opportunities to think about the other person's needs instead of your own.

The Bible says, "Love sincerely. . . . Hold on to what is good. Be devoted to each other like a loving family. Excel in showing respect for each other" (Romans 12:9-10 GW).

Do you do that in your marriage? Before I got married so many years ago, I really thought I knew how to love a woman. But I knew nothing about love! Now, after 50 years of marriage, I know that love washes the dishes. I know that love takes out the garbage. I know that love puts the other person first.

So, "Love sincerely. . . . Excel in showing respect for each other" so that you grow to be more like Christ. It will lead to a stronger relationship for you and a stronger society for everyone.


Senin, 09 Februari 2026

Pernikahan Diciptakan untuk Kebersamaan

10 Februari 2026

Bacaan Hari ini:
1 Korintus 11:11 "Namun demikian, dalam Tuhan tidak ada perempuan tanpa laki-laki dan tidak ada laki-laki tanpa perempuan."
------------------
Pernikahan tidak menyelesaikan masalah Anda. Pernikahan juga tidak menciptakan masalah baru. Pernikahan justru menyingkapkan apa yang sudah ada di dalam diri Anda sejak awal. Apa pun yang menjadi pergumulan ketika Anda hidup sendiri, akan terlihat lebih jelas ketika Anda hidup bersama orang lain.

Lalu, jika demikian, mengapa Allah merancang pernikahan? Salah satu jawabannya sederhana namun penting: Allah menciptakan pernikahan untuk kebersamaan.

Alkitab menyatakan: "Namun demikian, dalam Tuhan tidak ada perempuan tanpa laki-laki dan tidak ada laki-laki tanpa perempuan." (1 Korintus 11:11). Tidak seorang pun diciptakan untuk menjalani hidup sendirian. Allah membentuk manusia dengan kebutuhan untuk berjalan bersama, saling melengkapi dan saling menopang.

Kebenaran ini berlaku bagi semua orang, baik yang menikah maupun yang belum menikah. Tidak ada satu pribadi pun yang mencerminkan gambaran Allah secara utuh sendirian. Karena itu, Allah merancang kita untuk hidup berdampingan, bukan terpisah.

Sejak awal penciptaan, Allah sudah menyatakan hal ini dengan jelas: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja; Aku akan menjadikan seorang penolong baginya" (Kejadian 2:18). Pernyataan ini menunjukkan bahwa kebersamaan bukanlah tambahan, melainkan bagian dari rancangan Allah sejak semula.

Setiap orang membutuhkan kebersamaan dalam berbagai aspek kehidupan. Namun pernikahan memiliki tempat yang sangat khusus. Ia adalah bentuk kebersamaan yang unik, yang mengajak dua pribadi untuk belajar hidup berdampingan dalam komitmen, kesetiaan dan tanggung jawab.

Yesus sendiri menegaskan maksud Allah tentang pernikahan:
"Sebab pada awal dunia, Allah menjadikan mereka laki-laki dan perempuan… keduanya menjadi satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia." (Markus 10:6–9).

Dari perkataan Yesus ini, kita melihat bahwa pernikahan adalah rencana Allah, dijalani dalam kebersamaan antara laki-laki dan perempuan dan dimaksudkan untuk dipelihara sepanjang hidup.

Renungkan :

- Mengapa kebersamaan menjadi bagian penting dari rancangan Allah bagi pernikahan?

- Apa tantangan terbesar dalam menjalani kebersamaan dengan orang lain?

- Bagaimana Anda dapat belajar membangun kebersamaan yang sehat dan saling membangun dalam relasi Anda hari ini?

Bacaan Alkitab Setahun :
Imamat 6-7; Matius 25:1-30
_____________
Walaupun realitas kehidupan tidak selalu mencerminkan rancangan ini, kebenaran Allah tetap tidak berubah. Ketika Anda memilih untuk hidup sesuai dengan batas-batas yang Allah tetapkan, Anda sedang membuka diri untuk mengalami kebersamaan sebagaimana yang sejak semula Ia kehendaki.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
==========
Marriage Was Intended for Connection - Daily Hope with Rick Warren - February 10, 2026

"In God's plan men and women need each other." 1 Corinthians 11:11 (TLB)
--------------------
Marriage doesn't solve your problems. Marriage doesn't create your problems. Marriage reveals your problems. It simply magnifies what was already a problem when you were living as a single adult.

So if marriage doesn't solve your problems, what does marriage do? Why did God design marriage in the first place?

One reason is this: God created marriage for the deep companionship of men and women.

The Living Bible paraphrase says, "In God's plan men and women need each other" (1 Corinthians 11:11).

Whether or not you get married, if you're a woman, you need men in your life; if you're a man, you need women in your life. Why? Because nobody holds the full image of God. Women get part of it and men get part of it, and we need each other. God wired us this way. God thought up gender, sex, and marriage. What a God!

Did you ever wonder why God made man first and then woman a little bit later? Why didn't he make them both at the same time?

I think he did it for Adam's benefit. I think he wanted Adam to realize how much he needed a woman in his life.

The Living Bible paraphrase says, "It isn't good for man to be alone; I will make a companion for him" (Genesis 2:18).

You need companions in all different areas of your life. But marriage is a particularly significant way to provide companionship; it's in a relational class all by itself.

Here's what Jesus had to say about it: "'God made them male and female' from the beginning of creation. 'This explains why a man leaves his father and mother and is joined to his wife, and the two are united into one.' Since they are no longer two but one, let no one split apart what God has joined together" (Mark 10:6-9 NLT).

This passage makes three major points about marriage:

1. Marriage is God's plan. It's not a tradition you can just throw out.

2. Marriage is between a man and a woman. They were created to fit together for a purpose—the creation of everybody else.

3. Marriage is designed to be permanent. That doesn't always happen, but marriage is meant to be for life.

Do you realize how radical those three statements are? Even if many people don't believe them, they're still the truth!

The reality of life today is that many people live outside of this marriage ideal. But the ideal still exists—even if it's not the reality many people are living in or willing to accept.

When you choose to live within the boundaries God designed for marriage, you'll enjoy the deep connection he intended it to bring.


Minggu, 08 Februari 2026

NGOPI DIISTANA



Semua akan setuju klo diajak ngopi di istana bukan diwarkop ================================ Sama seperti MUI dan ormas-ormas Islam besar yg awalnya menolak keras BoP (Board of Peace) bentukan Donald Trump, sekarang giliran si Dino Patti Djalal dan prof Alwi Shihab (pamannya Najwa Shihab sekaligus mantan menlu Indonesia di jaman Gusdur dulu) Akhirnya setuju dan mendukung penuh keputusan Prabowo Subianto untuk bergabung di BoP dan nyumbang 1 Miliar dollar (16 Triliun rupiah). --------------------------------------------------- Padahal beberapa hari lalu Dino Patti Djalal masih ngotot menolak dan mengecam Prabowo beserta kementrian luar negri karena dianggap gak becus diplomasi luar negri karena mau tunduk dengan Donald Trump dan tidak berpihak kepada Palestina. Tapi begitu diajak Prabowo ngopi-ngopi di istana negara, sama seperti MUI kmrn juga yg diajak cangkruk di istana negara, pernyataan di Dino Patti Djalal berubah 180 derajat. Sekarang Dino malah memuji setinggi langit keputusan Prabowo ini, dengan mengatakan : "Saya surprise karena suasana totally open, diskusi ini tidak ada batasannya, tidak ada dibilang kita tidak boleh nanya ini, tidak boleh nanya itu, dan diskusi ini dua arah, jadi bukan satu arah" "Kesan saya adalah Beliau, Presiden Prabowo itu, mempunyai pendekatan yang realistis; sekarang ini memang satu-satunya opsi di atas meja adalah mengenai Board of Peace, tidak ada formula lain, tidak ada solusi lain, tidak ada jalur lain." "Yang saya paling suka, dan ini align juga dengan posisi core policy luar negeri Indonesia, adalah bahwa kita masuk dengan hati-hati dan terus berpegang pada opsi untuk bisa keluar kalau ini bertentangan dengan prinsip kita dan kepentingan kita." --------------------------------------------------- Tapi selain si Dino, pro Alwi Shihab yg juga awalnya menolak keputusan Prabowo ini walaupun tidak sekencang si Dino juga akhirnya setuju dengan keputusan Prabowo dan kementrian luar negri, dengan mengatakan : "Pertemuan tadi ini membuka cakrawala kita sebenarnya dan banyak pertanyaan-pertanyaan yang selama ini kita ingin ketahui tadi oleh Bapak Presiden dijelaskan sejelas-jelasnya." "Yang paling penting dalam hal penjelasan beliau itu bahwa Indonesia tidak pernah meninggalkan komitmen terhadap perjuangan Palestina dan tetap menginginkan adanya two-state solution, itu 'harga mati." --------------------------------------------------- Lihatkan semua akan cincai pada waktunya klo sudah diajakin ngopi di Istana, gak MUI, gak NU, gak Muhamadiyah, gak Dino, semua sama aja. Yg masih ribut gak setuju cuman netizen rakyat jelata yg ngopinya sachetan diwarkop pula bukan di Istana wkwkwkwkw *Agungbaster Perjuangan*