Minggu, 08 Maret 2026

CEPAT TAPI TIDAK TEPAT!

Ada sebuah ARTIKEL PENDEK sungguh TAJAM dan DALAM.


"Bukan soal seberapa CEPAT MELANGKAH, tetapi seberapa TEPAT MEMILIH ARAH. Kadang TIDAK PENTING seberapa CEPAT MELANGKAH maju, yang LEBIH PENTING adalah BAGAIMANA MELANGKAH dengan BENAR. "

ARTINYA: CEPAT tapi SALAH ARAH adalah sesuatu yang TIDAK ADA GUNANYA, bahkan justru membuat kita SEMAKIN JAUH dari TUJUAN yang BENAR.

Sayangnya, kita INGINNYA CEPAT saja, bahkan TIDAK MENCERMATI APAKAH kita sudah di JALAN yang BENAR atau BELUM.

Baru, setelah kita TERSESAT dan HILANG ARAH, kita jadi KELABAKAN sendiri.

WAKTU yang DIBUTUHKAN untuk KEMBALI ke JALAN yang BENAR menjadi LEBIH LAMA jika dibandingkan kita DARI AWAL BERTINDAK HATI-HATI dan TIDAK TERGESA-GESA.

Ketika MENGENDARAI MOBIL, kita harus berada di JALUR yang TEPAT.

jika ingin BELOK ke KIRI, kita harus ambil LAJUR KIRI.

Jika ingin LURUS, harus mengambil LAJUR di TENGAH.

Jika hendak BELOK ke KANAN, kita harus mengambil LAJUR KANAN.

Karena TERBURU-BURU dan INGIN CEPAT tiba di tujuan, saya ambil JALUR yang SALAH hanya gara-gara ANTREAN mobilnya SANGAT SEDIKIT dibandingkan JALUR saya yang SEHARUSNYA.

INGIN CEPAT, tapi malah MOLOR SANGAT LAMA karena ternyata polisi MEMBERHENTIKAN saya.

Sudah MOLOR LAMA, masih harus BAYAR DENDA karena tilang!

BENAR DULU, BARU CEPAT.

JANGAN DIBALIK!

"TANPA PENGETAHUAN KERAJINAN pun TIDAK BAIK; orang yang TERGESA-GESA akan SALAH LANGKAH."

TERGESA-GESA hanya menambah MASALAH saja.

INGINNYA CEPAT, tapi malah SEMAKIN LAMBAT.

Hal ini BERLAKU dalam BIDANG APAPUN, termasuk dalam hal KEUANGAN.

Banyak orang INGIN CEPAT KAYA.

TERGESA-GESA untuk KAYA, justru membuatnya semakin BERKEKURANGAN.

JANGAN menjadi TIDAK SABARAN.

JANGAN TERGESA-GESA.

JANGAN menginginkan yang SERBA INSTAN.

Kalau SALAH ARAH, itu BAHAYA!

*TETAP SEMANGAT,PANTANG MENYERAH & HANYA BERHARAP KEPADA TUHAN*.   Selamat Pagi. Selamat Beraktivitas. Sehat dan Sukses selalu. GBUπŸ™πŸΌπŸ™πŸΌπŸ™πŸΌ


Bagikan Kegagalan Anda, Bukan Hanya Keberhasilan Anda

09 Maret 2026

Bacaan Hari ini:
Matius 6:1 "Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga."
--------------------
Suatu kali saya melihat sebuah foto di media sosial: seorang wanita lanjut usia berada di tengah sekelompok anak muda yang semuanya mengangkat ponsel untuk merekam apa yang ada di depan mereka. Wanita itu satu-satunya yang tidak memegang ponsel. Wajahnya tampak tenang dan ia tersenyum, seolah-olah benar-benar menikmati momen tersebut.

Anda tidak dapat sungguh-sungguh menikmati suatu momen jika Anda terlalu sibuk berusaha merekamnya.

Sebagai contoh, Anda tidak akan pernah melihat foto saya saat sedang berdoa secara pribadi. Mengapa? Karena jika saya sibuk mengambil gambar untuk dipublikasikan, maka waktu saya bersama Tuhan tidak lagi murni. Motivasi saya akan berubah. Waktu teduh seharusnya menjadi pertemuan pribadi antara Anda dan Tuhan, bukan untuk dipamerkan.

Yesus berkata dalam Khotbah di Bukit:"Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga." (Matius 6:1)

Artinya, jika Anda melakukan sesuatu yang baik lalu mempublikasikannya hanya untuk mendapatkan pujian, maka pujian itulah satu-satunya "upah" yang akan Anda terima.

Media sosial sangat mudah mendorong orang untuk menonjolkan diri. Namun sikap pamer tidak membangun hubungan yang sejati. Sebaliknya, hal itu menciptakan jarak dan perbandingan.

Jika Anda ingin membangun kedekatan yang nyata, lakukan hal yang berbeda: bagikan juga pergumulan yang sedang Tuhan tolong Anda lewati. Tunjukkan bahwa Anda juga manusia biasa. Jangan hanya menampilkan momen-momen terbaik, tetapi beranilah membagikan proses pertumbuhan Anda. Sikap yang tulus seperti ini dapat mendorong orang lain untuk datang kepada Tuhan dengan⁴ masalah mereka sendiri.

Alkitab berkata: "Rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya." (1 Petrus 5:6)
4
Tidak perlu khawatir jika orang lain berusaha mempromosikan diri mereka sendiri. Ketika Anda berhenti berpura-pura menjadi orang lain, Anda akan mengalami damai sejahtera sebagai pribadi yang Tuhan ciptakan.

Dan pada saat itulah, Anda benar-benar dapat menikmati setiap momen.

Renungkan :

- Apakah sulit bagi Anda untuk merasa cukup dengan perkenanan Tuhan tanpa mencari pujian manusia? Mengapa?

- Mengapa sikap pamer dapat menghalangi terbentuknya hubungan yang mendalam dan tulus?

- Bagaimana unggahan "momen terbaik" orang lain di media sosial memengaruhi perasaan Anda terhadap hidup Anda sendiri?

Bacaan Alkitab Setahun :
Ulangan 5-7; Markus 11:1-18
___________
Jika Anda adalah anak Tuhan, Ia sendiri yang akan meninggikan Anda pada waktu yang tepat.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
=========
Share Your Bloopers, Not Just Your Highlight Reel - Daily Hope with Rick Warren - March 09, 2026

"Watch out! Don't do your good deeds publicly, to be admired by others, for you will lose the reward from your Father in heaven." Matthew 6:1 (NLT)
----------------
I once saw a photo online of an elderly woman in a group of young people who all had their phones up, trying to record whatever was in front of them. The woman was the only one who wasn't trying to capture the moment on her phone. In fact, she had the most serene look on her face and was smiling, as if she were truly relishing the moment.

You can't be in the moment while you're trying to capture the moment.

Here's an example: You'll never see a photo of me during my quiet time. Why? If I'm trying to get a great picture for Instagram, my time with God won't be real. I wouldn't have the right motivations. You need to spend time with God every day, but that time should be between you and him.

Jesus says in the Sermon on the Mount, "Watch out! Don't do your good deeds publicly, to be admired by others, for you will lose the reward from your Father in heaven" (Matthew 6:1 NLT). In other words, if you take the good you've done and brag about it online just so other people will give you recognition, then that's all the reward you're going to get.

Social media makes it really tempting to show off. But when you show off, it builds barriers. It doesn't build fellowship. It doesn't draw you closer to anybody.

If you want to draw closer to people, then do the opposite: Share the problems Jesus is helping you through. Be real! Give people a look at your bloopers and not just your highlight reel. They will be encouraged to ask God to help them with their problems too.

"Humble yourselves, then, under God's mighty hand, so that he will lift you up in his own good time" (1 Peter 5:6 GNT).

Don't worry when others use social media to promote themselves. If you're a child of God, then he will promote you at the right time. When you stop pretending to be somebody you're not, you'll be at peace just being who God made you to be, right where he meant for you to be.

Then you can really enjoy the moment.


Israel Berhasil Menyingkirkan Pemimpin Tertinggi Baru Iran - YouTube

https://www.youtube.com/watch?v=OUoLpY-Jmk4

Sabtu, 07 Maret 2026

TERKU4K FAKTA BARU !! Dunia Harus Tahu, Bongkar Sisi Gelap Iran Ali Kham...

https://youtube.com/watch?v=QLtphwMTfFg&si=k5JhmCBafGF0fyg0

Keluarga Pdt.Mugiyono

Keluarga sangat sederhana Nama-nama: 1. Mugiyono 2. Yanti 3. Frederiko Eldad Mugiyono 4. Giovanna Aletha Mugiyono
=============

Minggu, 8 Maret 2026

Sebuah Tinjauan Eksegetis Yeremia 49:35–39

Pendahuluan
Salah satu bahaya dalam penafsiran Alkitab adalah praktik eisegesis, yaitu memasukkan ide atau peristiwa masa kini ke dalam teks Alkitab*. Seperti yang dilakukan oleh seorang pendeta dalam khotbahnya di youtube yang mencoba mencocokkan nubuat Alkitab dengan peristiwa geopolitik modern. Salah satu contoh yang muncul adalah klaim bahwa "Elam dalam Yeremia 49:35–39 sama dengan negara Iran saat ini."

Sekilas pernyataan ini tampak masuk akal karena wilayah Elam kuno memang berada di kawasan yang sekarang termasuk wilayah Iran barat daya. Namun secara eksegetis dan historis, menyamakan Elam secara langsung dengan Iran modern adalah sebuah penyederhanaan yang berbahaya dan berpotensi menjadi eisegesis.

Tulisan ini akan meninjau Yeremia 49:35–39 berdasarkan konteks sejarah dan bahasa Ibrani untuk menunjukkan apa yang sebenarnya dimaksud oleh penulis kitab Yeremia.

1. Konteks Historis Nubuat Tentang Elam
Yeremia 49:34 membuka nubuat ini dengan kalimat:
"Firman TUHAN yang datang kepada nabi Yeremia mengenai Elam, pada permulaan pemerintahan Zedekia, raja Yehuda." Dalam teks aslinya tertulis "beresit lanjut sidqiyyahu" artinya pada awalnya pemerintahan Zedekia.

Secara historis ini menunjuk pada sekitar 597 SM, suatu periode ketika Babilonia sedang memperluas kekuasaannya di kawasan Timur Dekat. Nubuat ini termasuk dalam bagian nubuat terhadap bangsa-bangsa (Yer. 46-51) yang menguatkan penghukuman Tuhan atas berbagai bangsa di sekitar Yehuda.

Dengan demikian, sejak awal teks sudah menunjukkan bahwa nubuat ini berbicara mengenai bangsa Elam yang hidup pada zaman Yeremia, bukan tentang negara modern ribuan tahun kemudian.

2. Identitas Elam dalam Dunia Kuno
Dalam sejarah Timur Dekat kuno, Elam adalah sebuah kerajaan kuno yang terletak di sebelah timur Babilonia, dengan pusat kota di Susa. Wilayahnya memang berada di daerah yang sekarang *termasuk Iran barat daya*, tetapi Elam bukanlah Iran modern. Elam adalah bangsa kuno dengan budaya, bahasa, dan kerajaan tersendiri yang kemudian diserap ke dalam kekaisaran Persia. 

Karena itu, secara historis, *Elam tidak sama dengan Iran modern*. Alam hanyalah *salah satu wilayah kuno yang kemudian menjadi bagian dari Persia*. *Mengabaikan fakta sejarah* ini akan membawa Penafsir pada kesalahan hermeneutik.

*3. Eksegesis Yeremia 49:35–37*

Frasa "Aku mematahkan busur Elam" dalam Yeremia 49:35 Dalam bahasa aslinya tertulis "hinneni sober 'et-qeset 'elam."* Kata "qeset" artinya busur panah. Dalam dunia kuno, busur adalah simbol kekuatan militer. Elam terkenal sebagai bangsa pemanah yang kuat (bsk. Yes. 22:6).

Artinya nubuat ini menyatakan bahwa kekuatan militer Elam akan dihancurkan oleh Tuhan. Di sini, tidak ada indikasi bahwa kata ini menunjuk pada senjata modern, misil, atau nuklir. Menafsirkan "busur" sebagai teknologi militer modern jelas merupakan contoh eisegesis modern.

Lalu frasa "Aku akan menyerakkan mereka ke segala penjuru" Yeremia 49:36, dalam bahasa aslinya "'arba' ruhot hassamayim" artinya empat angin dari langit. Ungkapan ini adalah idiom Ibrani yang berarti penyebaran ke segala arah. Ini menggambarkan diaspora akibat perang atau penaklukan.

Ini adalah gambaran umum *tentang penghancuran bangsa dalam konteks peperangan kuno*, bukan deskripsi migrasi global abad modern.

Kemudian frasa "Aku akan menaruh takhta-Ku di Elam" Yeremia 49:38 Dalam teks aslinya berbunyi "wesamti kis'i be'elam" secara teologis berarti Allah menyatakan kedaulatan-Nya melalui penghakiman atas bangsa itu. Ini bukan berarti Tuhan secara literal memindahkan takhta ke negara tertentu di masa depan, tetapi merupakan bahasa penghakiman ilahi yang umum dalam kitab para nabi.

Dan frasa "Tetapi di kemudian hari Aku akan memulihkan keadaan Elam" (Yer. 49:39), dalam bahasa aslinya "be'aharit  hayyamim" artinya pada hari-hari kemudian. Ungkapan ini tidak selalu berarti akhir zaman eskatologis. Dalam banyak teks Perjanjian Lama, frasa ini bisa berarti masa depan setelah masa penghukuman.

Menariknya, dalam Kisah Para Rasul 2:9 disebutkan bahwa orang Elam hadir pada peristiwa Pentakosta, menunjukkan bahwa bangsa ini tidak punah. Ini kemungkinan menjadi indikasi awal penggenapan pemulihan tersebut.

Jadi, mengidentikkan Elam dengan Iran modern sering dilakukan dengan langkah berikut:
• Mengambil nama Elam.
• Menariknya langsung ke peta modern.
• Mencocokkannya dengan peristiwa politik masa kini.
Metode ini tidak mengikuti prinsip hermeneutika historis-gramatikal, melainkan eisegesis, yaitu memasukkan ide modern ke dalam teks kuno.

Padahal prinsip dasar eksegese adalah Teks harus dimengerti terlebih dahulu dalam konteks sejarah dan bahasa penulis aslinya.

Kesimpulan
Berdasarkan eksegesis Yeremia 49:35–39, dapat disimpulkan bahwa:
Nubuat ini diberikan sekitar tahun 597 SM pada masa pemerintahan Zedekia.
Elam adalah bangsa kuno di Timur Dekat, bukan negara Iran modern.
"Busur Elam" merujuk pada kekuatan militer pemanah Elam, bukan senjata modern.
• Nubuat ini berbicara tentang penghakiman Allah atas Elam dalam sejarah, disertai janji pemulihan di masa depan.
• Menyamakan Elam secara langsung dengan Iran modern adalah bentuk eisegesis, bukan hasil eksegese yang bertanggung jawab.

Karena itu, orang percaya perlu berhati-hati agar tidak menggunakan Alkitab untuk mencocokkan peristiwa politik masa kini. Tugas penafsir firman Tuhan bukanlah memasukkan berita dunia ke dalam Alkitab, melainkan mendengarkan apa yang benar-benar dikatakan oleh teks Alkitab itu sendiri. All truth is God's truth, Soli Deo Gloria, ❗❗πŸ€”πŸŒ➡️πŸ“–


Inggris Imbau Warganya Siapkan Persediaan Darurat dan Obat-obatan

https://travel.detik.com/travel-news/d-8387068/inggris-imbau-warganya-siapkan-persediaan-darurat-dan-obat-obatan

Tetap Rendah Hati Saat Beraktivitas di Dunia Online

08 Maret 2026

Bacaan Hari ini:
Amsal 26:4 *"Jangan menjawab orang bebal menurut kebodohannya, supaya jangan engkau sendiri menjadi sama dengan dia."*
---------------------
Saat ini, ada banyak hal negatif di dunia online. Media sosial membuat orang sangat mudah terpengaruh oleh komentar negatif dan terlibat dalam perdebatan yang tidak membangun. Sering kali Anda mungkin tergoda untuk meluruskan atau membela diri.

Namun, Alkitab berkata : "Tetapi hindarilah persoalan yang dicari-cari dan yang bodoh, persoalan silsilah, percekcokan dan pertengkaran mengenai hukum Taurat, karena semua itu tidak berguna dan sia-sia belaka."(Titus 3:9)

Tuhan tidak menghendaki Anda terlibat dalam perdebatan yang sia-sia, termasuk di dunia online. Banyak orang memang sengaja mencari perdebatan. Mereka ingin bertengkar, bukan mencari kebenaran. Apa pun yang Anda katakan sering kali tidak akan mengubah sikap mereka.

Alkitab juga berkata: "Seperti arang untuk bara menyala dan kayu untuk api, demikianlah orang yang suka bertengkar untuk panasnya perbantahan." (Amsal 26:21)

Karena itu, jangan menambah "bahan bakar" pada pertengkaran. Firman Tuhan mengingatkan :"Jangan menjawab orang bebal menurut kebodohannya, supaya jangan engkau sendiri menjadi sama dengan dia." (Amsal 26:4)
Jangan biarkan diri Anda terpancing.

Apa yang orang lain pikirkan tentang Anda seharusnya tidak menentukan kebahagiaan Anda. Sebaliknya, perhatikan apa yang Yesus katakan: "Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman" (Matius 12:36)

Suatu hari nanti, Anda akan mempertanggungjawabkan setiap kata yang Anda tulis atau ucapkan, termasuk di media sosial. Kesadaran ini seharusnya membuat Anda lebih berhati-hati sebelum berbicara atau menulis sesuatu.

Alkitab juga mengajarkan bahwa kesombongan sering kali menjadi penyebab pertengkaran (Amsal 13:10). Ketika kesombongan bertemu dengan kesombongan, konflik pun terjadi.
Karena itu, sebelum Anda beraktivitas di dunia online, mintalah Tuhan memberikan Anda kerendahan hati.

Renungkan :

- Perubahan apa yang dapat Anda lakukan agar media sosial Anda menjadi sarana yang membangun, bukan merusak?

- Pernahkah Anda mengatakan sesuatu secara online yang tidak akan Anda katakan secara langsung? Mengapa hal itu bisa terjadi?

- Bagaimana Tuhan menghendaki Anda merespons orang yang tidak sependapat dengan Anda?

Bacaan Alkitab Setahun :
Ulangan 3-4; Markus 10:32-52
___________
Kerendahan hati akan menolong Anda memilih untuk berbicara dengan kasih, bukan dengan kemarahan.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
==========
Take Humility with You Online - Daily Hope with Rick Warren - March 08, 2026

"Don't answer fools when they speak foolishly, or you will be just like them." Proverbs 26:4 (NCV)
-----------------
There's a lot of negative stuff online. It's never been easier to take to heart the negativity you read on social media and get drawn into unproductive arguments. It's tempting to want to set people straight!

But the Bible says, "Stay away from those who have foolish arguments and talk about useless family histories and argue and quarrel about the law. Those things are worth nothing and will not help anyone" (Titus 3:9 NCV).

God doesn't want you to get involved in useless arguments—that includes those online. There are plenty of people just waiting for someone to challenge them. They even go looking for arguments. But those folks use motivated reasoning, which means no matter what you say, it's not going to change anything. The Bible has something to say about people who live for the fight: "Just as charcoal and wood keep a fire going, a quarrelsome person keeps an argument going" (Proverbs 26:21 NCV).

Don't add fuel to the fire. "Don't answer fools when they speak foolishly, or you will be just like them" (Proverbs 26:4 NCV). Don't let them hook you!

What people think about you should not concern you and does not have any degree of influence on your happiness. Instead, here's what Jesus says you should be worrying about: "And I tell you that on the Judgment Day people will be responsible for every careless thing they have said" (Matthew 12:36 NCV).

One day, we're going to give an account of every word we used online or our phones. That ought to give anyone pause before they post anything.

The Bible says that pride always causes conflict (Proverbs 13:10). Anywhere you find conflict, ego is involved. When my pride hits your pride, that causes conflict.

Before you go online, ask God to give you a good dose of humility. You'll need it as you face the fire and make the right choice to speak in love.