Minggu, 30 Agustus 2026

Cara Memilih Kebahagiaan Hari Ini

31 Agustus 2026

Bacaan Hari ini:
Pengkhotbah 5:19 *"Setiap orang yang dikaruniai Allah kekayaan dan harta benda dan kuasa untuk menikmatinya, untuk menerima bahagiannya, dan untuk bersukacita dalam jerih payahnya--juga itupun karunia Allah."*
--------------------
Alkitab berkata dalam 1 Timotius 6:17 bahwa Allah "yang dalam kekayaan-Nya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati.". Itulah Allah yang kita sembah. Dia memberikan dunia ini kepada kita untuk kita nikmati! Namun, inilah masalahnya: kita terlalu sibuk berusaha mendapatkan lebih banyak sehingga tidak menikmati apa yang sudah kita miliki.

Rahasia untuk merasa cukup adalah belajar menikmati apa yang telah Allah berikan kepada Anda. Pengkhotbah 5:19 berkata: "Setiap orang yang dikaruniai Allah kekayaan dan harta benda dan kuasa untuk menikmatinya, untuk menerima bahagiannya, dan untuk bersukacita dalam jerih payahnya--juga itupun karunia Allah."

Salah satu hal yang paling saya sukai adalah melihat matahari terbit dari lereng di halaman rumah kami. Puluhan tahun yang lalu, saya menaruh kursi santai di sana. Saya rasa saya membelinya di Target, dan harganya tidak mahal. Warnanya sudah pudar, dan beberapa bilah kayunya sudah rusak. Saya senang duduk di kursi tua yang sudah usang itu sambil melihat matahari terbit. Hal itu memberi saya kebahagiaan yang besar!

Apakah saya akan mendapatkan lebih banyak kebahagiaan jika melihat matahari terbit sambil duduk di kursi malas bertabur berlian daripada di kursi tua saya? Tidak, itu tidak akan menambah kebahagiaan saya sedikit pun. Bahkan, ada keuntungan karena saya tidak memiliki kursi malas bertabur berlian dan memilih merasa cukup dengan kursi lama saya: tidak ada orang yang akan mencurinya!

Anda perlu bertanya kepada diri sendiri, “Apa yang belum saya nikmati saat ini?”

Sebagian besar dari kita terjebak dalam pola pikir yang saya sebut “nanti kalau, baru kemudian.” Kita berpikir, “Kalau ini terjadi, barulah saya akan bahagia.”

"Kalau saya punya pacar, barulah saya bahagia."

"Kalau saya menikah, barulah saya bahagia."

"Kalau saya punya anak, barulah saya bahagia."

"Kalau anak-anak saya sudah pergi sekolah, barulah saya bahagia."

"Kalau saya menikah lagi, barulah saya bahagia."

Namun, inilah kebenarannya: kebahagiaan Anda bergantung pada pilihan Anda. Jika Anda tidak bahagia sekarang, Anda tidak akan otomatis bahagia nanti. Kebahagiaan adalah sebuah pilihan!

Saya bisa membawa Anda ke beberapa tempat yang paling miskin di dunia dan menunjukkan dua orang yang tinggal bersebelahan. Yang satu hidup dengan penuh kesengsaraan, sementara yang satu lagi bahagia. Mengapa? Kebahagiaan tidak bergantung pada keadaan Anda, tetapi sangat berkaitan dengan sikap Anda.

Jika Anda tidak bahagia dengan apa yang Anda miliki dan jalani sekarang, saya dapat memastikan bahwa Anda tidak akan otomatis bahagia hanya karena memiliki lebih banyak. Sebab, sebanyak apa pun yang Anda miliki, Anda akan selalu menginginkan sedikit lebih banyak lagi.

Kebahagiaan adalah sebuah pilihan. Pilihlah sekarang untuk menikmati apa yang telah Allah berikan kepada Anda!

Renungkan :

- Apa saja yang telah Allah berikan sebagai berkat dalam hidup Anda, tetapi belum Anda nikmati sepenuhnya?


- Apa yang selama ini Anda tunggu agar Anda bisa merasa bahagia?


- Jika kebahagiaan adalah sebuah pilihan, mengapa orang memilih untuk tidak bahagia?

Bacaan Alkitab Setahun :
Mazmur 129-131; 1 Korintus 11:1-16
____________
Daripada terus berusaha mendapatkan lebih banyak, perhatikan apa yang Anda miliki sekarang. Bukalah mata Anda, hargai apa yang telah Allah berikan kepada Anda dan nikmatilah apa yang Anda miliki.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
=======
*How to Choose Happiness Today*
By Rick Warren

*“If God gives us wealth and property and lets us enjoy them, we should be grateful and enjoy what we have worked for. It is a gift from God.”* Ecclesiastes 5:19 (GNT)
----------------
The Bible says in 1 Timothy 6:17 that God “richly provides us with everything for our enjoyment” (NIV). That’s the kind of God we serve. He gave us the world for our enjoyment! But here’s the problem: We’re so busy getting more that we don’t enjoy what we’ve got.

The secret of contentment is to learn to enjoy what God has given you. Ecclesiastes 5:19 says, “If God gives us wealth and property and lets us enjoy them, we should be grateful and enjoy what we have worked for. It is a gift from God” (GNT).

Instead of grasping for more, pay attention to what you have now. Open your eyes, appreciate what God has already given you, and enjoy what you’ve got.

One of my favorite things to do is to watch the sunrise from the slope in our yard. I put a deck chair out there decades ago. I think I bought it at Target, and it wasn’t expensive. It’s faded, and a couple of slats are broken. I love to sit in that ratty old chair and watch the sun come up. It gives me great pleasure!

Would I have any more joy watching the sunrise if I were sitting in a diamond-encrusted recliner instead of my old, worn chair? No, it would not increase my joy one bit. In fact, there is an advantage to not having a diamond-encrusted recliner and instead being content with my old chair: No one will steal it!

You need to ask yourself, “What am I not enjoying right now?” Most of us get into what I call “when and then” thinking: “When this happens, then I’ll be happy.”

“When I get a boyfriend, then I’ll be happy.” “When I get married, then I’ll be happy.” “When I have kids, then I’ll be happy.” “When my kids go off to school, then I’ll be happy.” “When I get married again, then I’ll be happy.”

But here’s the truth: You are as happy as you choose to be. If you’re not happy now, you’re not going to be happy later. Happiness is a choice!

I could take you to some of the poorest places in the world and show you two people living right next door to each other. One is miserable, and one is happy. Why? Happiness has nothing to do with your circumstances and everything to do with your attitude.

If you’re not happy with what you’re living on right now, I can guarantee that you’re not going to be happy with more. Because no matter what you have, you’re always going to want a little bit more.

Happiness is a choice. Choose right now to enjoy what God has given you!


Sabtu, 29 Agustus 2026

Pilihan Anda: Membandingkan atau Merasa Cukup

30 Agustus 2026

Bacaan Hari ini:
Pengkhotbah 6:9 "Lebih baik melihat saja dari pada menuruti nafsu. Inipun kesia-siaan dan usaha menjaring angin"
------------------
Langkah pertama untuk menjadi orang yang merasa cukup adalah berhenti membandingkan diri Anda dengan orang lain. Namun, masalahnya adalah membandingkan diri dengan orang lain seolah-olah menjadi kegiatan yang paling sering kita lakukan! Kita melakukannya hampir setiap saat.

Anda masuk ke rumah seseorang, dan hal pertama yang Anda lakukan adalah membandingkan: "Saya suka lantainya! Lihat tirainya! Wah, televisinya bagus sekali!" Kemudian Anda berpikir, "Rumah saya sama sekali tidak seperti ini!" Atau Anda berjalan melewati seseorang dan berpikir, "Saya suka gaya rambutnya; rambut saya hari ini terlihat buruk."

Anda terus-menerus membandingkan diri dengan orang lain dan hal itu membuat Anda frustrasi. Anda harus menghentikannya! Jika Anda ingin belajar merasa cukup, Anda harus berhenti membandingkan kehidupan Anda dengan kehidupan orang lain.

Anda juga perlu belajar mengagumi tanpa harus memiliki. Anda perlu belajar ikut bersukacita ketika orang lain mengalami keberhasilan atau memiliki sesuatu yang baik, tanpa merasa iri dan berpikir bahwa Anda juga harus memilikinya.

Ada sebuah prinsip penting yang sering tidak dipahami banyak orang:
Anda tidak harus memilikinya untuk dapat menikmatinya!

Mungkin Anda senang berlibur di pegunungan. Mengapa Anda harus membeli rumah atau kabin di pegunungan jika Anda hanya perlu menyewa atau bahkan meminjam kabin milik seorang teman, pada saat Anda pergi ke pegunungan setahun sekali? Memiliki sesuatu bukanlah satu-satunya cara untuk menikmatinya.

Tidak membandingkan diri dengan orang lain bukan hanya sebuah saran yang baik; ini adalah perintah dari Allah. "Jangan mengingini . . . apa pun yang dipunyai sesamamu." Keluaran 20:17

Mengingini adalah keinginan yang tidak terkendali untuk mendapatkan sesuatu. Ini merupakan dosa yang begitu penting untuk dihindari sehingga termasuk dalam Sepuluh Perintah Allah.

Kata covet dalam bahasa Yunani menggambarkan keinginan untuk menggenggam sesuatu dengan begitu erat sehingga Anda tidak sanggup melepaskannya. Jika suatu hari Allah memberikan sesuatu kepada Anda dan kemudian meminta Anda untuk memberikannya kepada orang lain, tetapi Anda tidak sanggup melepaskannya, berarti Anda bukan lagi yang memiliki benda itu—benda itu yang telah menguasai Anda.

Allah tidak mengatakan bahwa Anda tidak boleh menginginkan apa pun. Keinginan itu sendiri tidak salah. Bahkan, banyak keinginan Anda berasal dari Allah.

Namun, ketika sebuah keinginan menjadi tidak terkendali, keinginan itu berubah menjadi sikap mengingini milik orang lain. Anda mulai membandingkan diri dengan orang lain dan berpikir bahwa Anda harus memiliki lebih banyak. Keinginan yang tidak terkendali terhadap sesuatu yang bukan milik Anda adalah dosa dan dapat membawa kepada berbagai masalah.

Tetapi keinginan tidak selalu negatif. Bahkan, tidak ada sesuatu yang dapat dicapai tanpa adanya keinginan untuk melakukannya.

Anda tidak dapat menjadi semakin serupa dengan Kristus tanpa memiliki keinginan untuk menjadi semakin serupa dengan Kristus. Anda tidak dapat menjadi orang yang lebih mengasihi tanpa memiliki keinginan untuk lebih mengasihi. Anda tidak dapat menjadi orang yang lebih murah hati tanpa memiliki keinginan untuk menjadi lebih murah hati.

Kehidupan yang serupa dengan Kristus dan penuh rasa cukup hanya dapat terjadi ketika Anda belajar untuk tidak membandingkan diri dengan orang lain.
Kitab Pengkhotbah menyampaikannya dengan sederhana: "Lebih baik melihat saja dari pada menuruti nafsu. Inipun kesia-siaan dan usaha menjaring angin" Pengkhotbah 6:9

Renungkan :

- Bagaimana Anda dapat mengubah cara pandang terhadap barang-barang yang Anda miliki sehingga Anda dapat ikut bersukacita bersama orang lain atas apa yang mereka miliki?

- Menurut Anda, apa yang Allah ingin memenuhi kehidupan Anda, selain dengan berbagai kepemilikan?

- Orang Kristen sering berbicara tentang Allah yang memberikan keinginan hati mereka. Menurut Anda, keinginan seperti apa yang Allah ingin berikan kepada Anda?

Bacaan Alkitab Setahun :
Mazmur 126-128; 1 Korintus 10:19-33
____________
Ketika Anda membandingkan diri, hal itu dapat membawa Anda kepada keinginan yang tidak terkendali. Dan ketika Anda terus mengingini apa yang dimiliki orang lain, Anda tidak akan pernah merasa cukup.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
=========
Your Choice: Comparison or Contentment
By Rick Warren

“It is better to be satisfied with what you have than to be always wanting something else.” Ecclesiastes 6:9 (GNT)
-----------------
The first step to becoming a contented person is to stop comparing yourself to others. But the problem is that comparison is our favorite pastime! We do it all the time.

You walk into somebody’s house, and the first thing you do is make comparisons: “I like that floor! Look at that drapery! Wow, what a television!” You think to yourself, “My house doesn’t look anything like this!” Or you walk past somebody and think, “I like thaving to acquire. You need to learn to rejoice in other people’s prosperity without getting envious and feeling like you need it too.

Here’s a great principle that many people don’t understand: You don’t have to own it to enjoy it! Maybe you like to vacation in the mountains. Why do you have to buy a mountain cabin when you can just rent or even borrow a friend’s cabin the one time a year you go to the mountains? Ownership isn’t the only way to enjoy something.

Not making comparisons isn’t just a good idea; it’s a commandment from God. Exodus 20:17 says, “You shall not covet . . . anything that belongs to your neighbor” (NIV).

Coveting is the uncontrolled desire to acquire. It’s such an important sin to avoid that it’s included in the Ten Commandments. The word covet in Greek means that you grasp something so tightly that you can’t let it go. If God ever gives you something and he tells you to give it away and you can’t, then you don’t own it; it owns you.

God is not saying you should never desire anything. Desires are not wrong. In fact, many of your desires come from God. But when a desire is uncontrolled, it becomes coveting; you compare yourself to others and think you must have more. That uncontrolled desire for something that is not yours is sinful and leads to all kinds of problems.

But desire isn’t always negative. In fact, nothing can be accomplished unless you desire to do it. You can’t become more like Christ without desiring to become more like Christ. You can’t be a more loving person without desiring to be a more loving person. You can’t be a more generous person without desiring to be a more generous person.

This kind of Christ-like, contented life only happens when you learn not to compare. When you compare, that leads to coveting, and when you covet, you can’t be content.

The book of Ecclesiastes says it simply: “It is better to be satisfied with what you have than to be always wanting something else” (Ecclesiastes 6:9 GNT)


Jumat, 28 Agustus 2026

Iman Mengalahkan Ketakutan dalam Keuangan

29 Agustus 2026

Bacaan Hari ini:
Matius 25:28-29 "Sebab itu ambillah talenta itu dari padanya dan berikanlah kepada orang yang mempunyai sepuluh talenta itu. Karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya."
------------------
Apa yang membuat Anda takut mengembangkan kehidupan Anda? Apa yang membuat Anda sulit bergerak menuju kebebasan finansial? Jawabannya adalah ketakutan.

Ada berbagai macam ketakutan yang dapat menahan Anda. Salah satunya adalah keraguan terhadap diri sendiri, yang berkata, "Anda pernah gagal sebelumnya, jadi Anda tidak akan pernah mencoba lagi." Tetapi hanya karena Anda pernah gagal, bukan berarti Anda harus menyerah. Semua orang pernah gagal; kegagalan adalah salah satu cara Anda belajar tentang apa yang berhasil dan apa yang tidak. Allah menggunakan orang-orang biasa yang memilih untuk terus melangkah setelah mengalami kegagalan, bukan menyerah.

Dua murid, Yudas dan Petrus, menyangkal Yesus sebelum penyaliban-Nya. Mereka melakukan dosa yang sama, tetapi perbedaannya terletak pada bagaimana masing-masing merespons kegagalan mereka. Yudas berfokus pada dosanya dan bukan pada pengampunan Allah. Penyesalannya begitu berat sampai akhirnya ia mengakhiri hidupnya.

Namun, ketika Petrus menyadari dosanya, ia berdoa, bertobat dan meminta pengampunan Allah. Kemudian Yesus memilih Petrus untuk berkhotbah pada hari Pentakosta dan 3.000 orang diselamatkan pada hari pertama. Yesus memilih untuk membangun gereja melalui salah satu orang yang mengalami kegagalan terbesar di antara mereka.

Sungguh luar biasa Allah kita! Dia tidak memilih orang yang paling hebat. Diatas memilih orang yang pernah melakukan kesalahan paling besar.
Mungkin Anda pernah melakukan kesalahan besar dalam hal keuangan atau dalam bidang kehidupan lainnya. Tetapi itu tidak menentukan segalanya. Yang penting bukan di mana Anda pernah berada, tetapi ke arah mana Anda sedang berjalan sekarang.

Dalam perumpamaan tentang talenta yang kita lihat kemarin dalam Matius 25, seorang kaya mempercayakan uangnya kepada tiga orang hambanya sebelum pergi melakukan perjalanan panjang. Ketika ia kembali, ia meminta pertanggungjawaban dari mereka. Dua orang hamba berhasil melipatgandakan uang tuannya, tetapi hamba yang ketiga merasa takut dan menyembunyikan apa yang telah dipercayakan kepadanya, bukannya mengelola dan mengembangkannya.

Ketakutannya mengecewakan dan membuat tuannya marah. Tuannya berkata: "Sebab itu ambillah talenta itu dari padanya dan berikanlah kepada orang yang mempunyai sepuluh talenta itu." Matius 25:28
Sang tuan mengambil kembali apa yang telah dipercayakan kepada hamba tersebut.

Ketika Anda berusaha menjalani hidup sesuai dengan cara Allah, Anda mungkin merasa takut. Bahkan, Iblis akan berusaha membuat Anda mengabaikan prinsip-prinsip Allah dalam mengelola uang dengan menanamkan ketakutan akan kegagalan atau membuat Anda meragukan kemampuan Anda untuk menjadi pengelola yang baik atas apa yang Allah percayakan kepada Anda.

Namun, jika Anda ingin berhasil dalam hidup, Anda perlu melawan ketakutan Anda. Anda perlu berani melakukan hal yang paling Anda takuti.

Ketika Anda melangkah maju dengan iman dan mengikuti prinsip-prinsip Allah untuk mencapai kedamaian dalam keuangan, Anda akan mengalami berkat-Nya. Seperti hamba yang setia dalam perumpamaan itu, Allah dapat mempercayakan kepada Anda lebih banyak sumber daya atau tanggung jawab.

Seperti yang dikatakan Matius 25:29: "Karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya." Matius 25:29

Renungkan :

- Kegagalan keuangan apa yang pernah membuat Anda sulit untuk melangkah maju dan mengikuti prinsip-prinsip keuangan Allah dalam hidup Anda?

- Apakah Anda berdoa agar Allah memberi Anda lebih banyak tanggung jawab dalam mengelola uang yang Dia percayakan kepada Anda? Mengapa atau mengapa tidak?

- Apa yang membuat Anda takut untuk menaati cara Allah dalam mengelola uang? Bicarakan ketakutan tersebut kepada Allah hari ini.

Bacaan Alkitab Setahun :
Mazmur 123-125; 1 Korintus 10:1-18
_____________
Allah menggunakan orang-orang biasa yang memilih untuk terus melangkah setelah mengalami kegagalan, bukan menyerah.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
=========
Faith over Fear in Your Finances
By Rick Warren

“Take the money from this servant, and give it to the one with the ten bags of silver. To those who use well what they are given, even more will be given, and they will have an abundance. But from those who do nothing, even what little they have will be taken away.” Matthew 25:28-29 (NLT)
-----------------
What keeps you from investing your life? What keeps you from moving toward financial freedom? I’ll tell you what it is: fear.

Many kinds of fear can hold you back. One type of fear is self-doubt, which says: “You’ve failed in the past, so you’re never going to try again.” But just because you fail doesn’t mean you should give up. Everybody fails; it’s the only way you learn what works! God uses ordinary people who choose to keep on going after failure instead of giving up.

Two disciples, Judas and Peter, denied Jesus before his crucifixion. They committed the same sin, but the difference was the way each reacted to his failure. Judas focused on his sin and not the forgiveness of God. His remorse overwhelmed him, and he ultimately took his own life.

But when Peter realized his sin, he prayed, repented, and asked God for forgiveness. Then Jesus chose Peter to preach on Pentecost, and 3,000 people were saved the first day. Jesus chose to build the church on the biggest failure in the bunch.

What a God! He didn’t choose the superstar. He chose the guy who had blown it the worst.

You may have really messed up financially or in other ways. But it doesn’t matter where you’ve been. What matters is the direction you are going right now.

In the parable of the talents we looked at yesterday in Matthew 25, a rich man entrusted his money to three servants before leaving on a long trip. When he returned, he asked for an account from the servants. Two of them had doubled the master’s money, but the third had been afraid and had hidden his portion instead of working and investing it. His fear disappointed and angered his master, who said, “Take the money from this servant, and give it to the one with the ten bags of silver” (Matthew 25:28 NLT). The master took away everything the servant had been given.

When you try to do things God’s way, you may feel afraid. In fact, Satan will try to get you to ignore God’s principles for money management by making you afraid of failure or making you doubt your ability to be a good steward of God’s money.

But if you’re going to be successful in life, you have to move against your fears. You have to do the very thing that you fear the most!

When you move forward in faith and follow God’s guidelines for financial peace, you will experience his blessing; like the servant, God may give you even more resources or more responsibility.

As Matthew 25:29 says, “To those who use well what they are given, even more will be given, and they will have an abundance. But from those who do nothing, even what little they have will be taken away” (NLT).

Rabu, 26 Agustus 2026

Anda Bukan Pemilik Uang; Anda Hanya Mengelolanya

28 Agustus 2026

Bacaan Hari ini:
Matius 25:14-15 "Sebab hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang yang mau bepergian ke luar negeri, yang memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka. Yang seorang diberikannya lima talenta, yang seorang lagi dua dan yang seorang lain lagi satu, masing-masing menurut kesanggupannya, lalu ia berangkat."
--------------------
Yesus menceritakan tentang seorang kaya yang mempercayakan hartanya kepada hamba-hambanya ketika ia pergi melakukan perjalanan yang cukup lama. Ketika ia kembali, ia meminta setiap hamba memberikan pertanggungjawaban tentang bagaimana mereka mengelola uang yang telah dipercayakan kepada mereka.

Kisahnya seperti ini: "Sebab hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang yang mau bepergian ke luar negeri, yang memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka. Yang seorang diberikannya lima talenta, yang seorang lagi dua dan yang seorang lain lagi satu, masing-masing menurut kesanggupannya, lalu ia berangkat." Matius 25:14-15

Orang kaya tersebut mengharapkan pengelolaan yang baik. Istilah "stewardship" berkaitan dengan kata dalam bahasa Inggris Kuno yang berarti "pengelola." Cara Anda mengelola apa yang dipercayakan kepada Anda sangat penting bagi kebebasan finansial Anda.

Prinsip pertama kebebasan finansial adalah prinsip kepemilikan: segala sesuatu yang Anda miliki adalah milik Allah; Anda hanya bertugas mengelolanya!
Anda dipanggil untuk menjadi pengelola waktu Anda. Anda dipanggil untuk mengelola pengaruh Anda. Anda dipanggil untuk mengelola kesehatan, hubungan dan kesempatan yang Anda miliki. Allah memanggil Anda untuk menjadi pengelola segala sesuatu yang telah diberikan kepada Anda.

Anda mungkin berkata, "Tunggu dulu! Saya bekerja untuk mendapatkan uang saya, dan sekarang Anda mengatakan bahwa uang itu bukan milik saya?"

Dari mana Anda mendapatkan tubuh yang dapat bekerja untuk menghasilkan uang? Dari mana Anda mendapatkan pikiran untuk bekerja? Dari mana Anda mendapatkan tenaga untuk bekerja? Dari mana Anda mendapatkan kemampuan dan kecerdasan untuk bekerja?

Segala sesuatu yang Anda miliki berasal dari Allah.
Sebenarnya, Anda tidak benar-benar memiliki apa pun dalam kehidupan ini; semuanya hanya dipercayakan kepada Anda untuk sementara. Anda hanya menggunakan apa yang Allah berikan selama Anda hidup di dunia. Allah mempercayakannya kepada Anda selama beberapa puluh tahun. Sebelumnya, hal itu mungkin telah dipercayakan kepada orang lain, dan setelah Anda meninggal, hal itu akan dipercayakan kepada orang lain lagi.

Anda bukan pemiliknya; Sang Tuanlah yang memiliki semuanya. Anda hanya bertugas mengelolanya.

Tahukah Anda tanda bahwa seseorang telah melupakan prinsip kepemilikan ini?
Ketika Anda mulai berpikir bahwa uang adalah milik Anda sepenuhnya, Anda akan mulai mengkhawatirkannya. Anda akan merasakan tekanan dan stres yang sebenarnya tidak perlu Anda tanggung.

Mengelola uang adalah disiplin rohani. Allah memperhatikan bagaimana Anda mengelola apa yang Dia percayakan kepada Anda, untuk melihat seberapa besar kekayaan rohani yang dapat Dia percayakan kepada Anda di surga.
Hal ini mungkin terdengar seperti sebuah tekanan, tetapi sebenarnya ada kebebasan ketika Anda memahami prinsip kepemilikan.

Renungkan :

- Jika Anda menjadi pengelola sebuah bisnis, apakah tekanan untuk berhasil akan sebesar tekanan yang dirasakan pemiliknya? Apakah Anda tetap ingin bisnis tersebut berhasil sebesar keinginan pemiliknya? Mengapa?

- Bagaimana Anda belajar menjalankan disiplin rohani seperti mengelola keuangan?

- Apa peran doa dalam mengambil keputusan keuangan Anda? Mengapa doa penting dalam mengelola keuangan?

Bacaan Alkitab Setahun :
Mazmur 120-122; 1 Korintus 9
______________
Ketika Anda mengingat bahwa Allah adalah pemilik dan Anda adalah pengelola, Anda akan jauh lebih sedikit merasa khawatir dan dapat lebih berfokus pada bagaimana mengelola apa yang Allah percayakan kepada Anda dengan baik.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
========
You Don’t Own Money; You Manage It
By Rick Warren

“Once there was a man who was about to leave home on a trip; he called his servants and put them in charge of his property. He gave to each one according to his ability: to one he gave five thousand gold coins, to another he gave two thousand, and to another he gave one thousand. Then he left on his trip.” Matthew 25:14-15 (GNT)
----------------
Jesus told a story about a rich man who entrusted his property to his servants while he was away on a long trip. When he returned, he asked each one for an account of how they’d handled his money.

It goes like this: “Once there was a man who was about to leave home on a trip; he called his servants and put them in charge of his property. He gave to each one according to his ability: to one he gave five thousand gold coins, to another he gave two thousand, and to another he gave one thousand. Then he left on his trip” (Matthew 25:14-15 GNT).

The rich man was looking for good stewardship. The word stewardship is related to the Old English word for “manager.” Your stewardship, your management, is key to your financial freedom. The first law of financial freedom is the law of possession: Everything you have belongs to God; you are only a manager!

You are called to be a steward of your time. You are called to be a steward of your influence. You are called to be a steward of your health, your relationships, and your opportunities. God calls you to be a steward or manager of everything you have.

You may say, “But wait a minute! I worked for my money, and now you want to tell me it isn’t mine?” Where do you think you got your body to work for your money? Where do you think you got your mind to work for it? Where do you think you got the energy to work for it? Where do you think you got the intelligence to work for it? Everything you have comes from God.

You don’t really own anything in life; it’s all on loan. You only get to use God’s money while you’re here on earth. He’s loaned it to you for a few decades. He loaned it to somebody before you, and he’s going to loan it to somebody else after you die. You don’t own it; the Master owns it all. You just get to manage it.

Do you know what the sign is that you’ve forgotten the law of possession? When you think your money is yours, you worry about it. You feel pressure and stress that you weren’t meant to.

Money management is a spiritual discipline. God is watching how you handle his money to see what spiritual riches he can trust you with in heaven. This might make you feel pressure, but there is actually freedom in the law of possession.

When you remember that God is the owner and you are the manager, you’ll worry a whole lot less and focus more on managing God’s money well.


Allah Menghargai Kesetiaan dalam Mengelola Keuangan

27 Agustus 2026

Bacaan Hari ini:
Matius 25:21 "Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu."
-------------------
Allah menggunakan uang lebih daripada banyak hal lain dalam hidup Anda untuk menguji iman Anda. Mengapa? Karena uang adalah salah satu hal yang paling sulit untuk kita kelola dengan benar.

Perhatikan penghargaan yang Allah berikan untuk pengelolaan uang yang bijaksana: "Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu." Matius 25:21

Prinsipnya adalah: Allah akan menghargai Anda ketika Anda mengelola uang dengan baik. Matius 25 menunjukkan tiga tahap penghargaan tersebut: pengakuan, tanggung jawab yang lebih besar dan sukacita.

Seolah-olah Allah memberikan pengakuan kepada Anda dengan berkata, "Bagus! Aku sedang menguji apakah Aku dapat mempercayakan apa yang telah Kuberikan kepadamu dan Anda telah melewati ujian itu. Baik sekali, hai hamba yang baik dan setia."

Tahap kedua adalah tanggung jawab yang lebih besar. Ketika Anda menunjukkan kesetiaan dalam mengelola perkara-perkara kecil, Allah dapat memberikan kepada Anda tanggung jawab yang lebih besar.
Kemudian, ketika Anda menunjukkan bahwa Anda dapat menjalankan tanggung jawab tersebut dengan baik, Allah akan berbagi sukacita bersama Anda. Anda akan turut menikmati kebahagiaan yang berasal dari Allah.

Yesus berkata: "Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon" Matius 6:24

Perhatikan bahwa Yesus tidak mengatakan bahwa Anda sebaiknya tidak mengabdi kepada Allah dan uang. Dia mengatakan bahwa Anda tidak dapat melakukannya. Itu tidak mungkin. Tidak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan.
Jadi, Anda harus menentukan apa yang menjadi nomor satu dalam hidup Anda: Allah atau uang.

Uang adalah pelayan yang sangat baik, tetapi tuan yang sangat buruk. Ketika uang menguasai Anda, Anda akan terus berada dalam tekanan. Anda akan terus merasa khawatir dan gelisah tentang uang.

Namun, ketika Anda dapat mengendalikan uang Anda dan menjadikannya sebagai pelayan, uang dapat membantu Anda. Ketika uang bekerja untuk Anda, bukan Anda yang terus-menerus bekerja hanya demi uang, Anda akan memiliki lebih banyak ketenangan.

Renungkan :

- Jika Allah memeriksa keuangan Anda, menurut Anda nilai apa yang akan Dia berikan kepada Anda, dan mengapa?

- Kapan uang pernah menguasai Anda? Kapan Anda berhasil mengendalikan uang Anda? Apa perbedaan hubungan Anda dengan Allah pada masa-masa tersebut?

- Bagaimana Anda dapat mengelola uang dengan lebih bijaksana sehingga uang dapat bekerja untuk Anda, bukan mengendalikan Anda?

Bacaan Alkitab Setahun :
Mazmur 119:89-176; 1 Korintus 8
____________
Uang adalah salah satu ujian terbesar terhadap kesetiaan Anda.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
========
God Rewards Financial Faithfulness
By Rick Warren

“[The] master replied, ‘Well done, good and faithful servant! You have been faithful with a few things; I will put you in charge of many things. Come and share your master’s happiness!’” Matthew 25:21 (NIV)
--------------------
Money is the acid test of your faithfulness. God uses it more than any other thing in your life to test your faith. Why? Because it’s the thing people have the hardest time with.

Look at the rewards God gives for wise money management: “[The] master replied, ‘Well done, good and faithful servant! You have been faithful with a few things; I will put you in charge of many things. Come and share your master’s happiness!’” (Matthew 25:21 NIV).

The law of compensation is this: God will reward you for good money management. Matthew 25 suggests three steps of this reward: affirmation, promotion, and celebration.

It’s as if God affirms you by saying, “Good job! I was testing you to see if you could be trusted with what I gave you, and you passed the test. Well done, good and faithful servant.”

The second step is promotion. As you show faithfulness with a few things, God will give you greater responsibility.

Then, as you show your responsibility, God will celebrate with you. You will share in God’s happiness!

Jesus said, “No one can serve two masters. Either you will hate the one and love the other, or you will be devoted to the one and despise the other. You cannot serve both God and money” (Matthew 6:24 NIV).

Notice he doesn’t say you shouldn’t serve God and money. He says you can’t. It’s impossible. Nobody can serve two masters. So you’re going to have to decide what will be number one in your life: God or money.

Money is a terrific servant but a terrible master. When it masters you, you’re always under stress. You’re always worried. You’re always uptight about it.

But when you master your money, when you make it your servant, it serves you. When money works for you, instead of you working for your money, you will have peace.


Selasa, 25 Agustus 2026

4 Alasan Mengapa Menunjukkan Belas Kasihan Itu Penting

26 Agustus 2026

Bacaan Hari ini:
Matius 5:7 "Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan"
--------------------
Pernahkah Anda memperhatikan bahwa ketika Anda kritis terhadap orang lain, mereka juga cenderung kritis terhadap Anda? Ketika Anda bersikap baik kepada orang lain, mereka juga cenderung bersikap baik kepada Anda? Atau ketika Anda murah hati kepada orang lain, mereka juga cenderung murah hati kepada Anda? Apa pun yang Anda berikan dalam hidup, biasanya akan kembali kepada Anda.

Hal yang sama juga berlaku dalam hal belas kasihan Allah.
Yesus berkata dalam Matius 5:7: "Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan"

Tetapi mengapa Allah ingin Anda menunjukkan belas kasihan kepada orang lain? Mengapa menjadi orang yang penuh belas kasihan begitu penting?

1. Karena Allah telah menunjukkan belas kasihan kepada Anda.

Efesus 2:4-5 berkata: "Tetapi Allah yang kaya dengan rahmat, oleh karena kasih-Nya yang besar, yang dilimpahkan-Nya kepada kita, telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita--oleh kasih karunia kamu diselamatkan"
Allah ingin Anda meneruskan belas kasihan yang telah Anda terima dari-Nya kepada orang lain.

2. Karena Allah memerintahkan Anda untuk berbelas kasihan.

Apakah Anda ingin mengetahui ringkasan tentang apa yang seharusnya menjadi tujuan hidup? Inilah jawabannya:
"Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu : selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?" Mikha 6:8
Allah ingin Anda melakukan apa yang benar, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan-Nya.

3. Karena Anda akan membutuhkan lebih banyak belas kasihan di masa depan.

Anda akan melakukan banyak kesalahan antara sekarang sampai Anda tiba di surga, dan Anda akan membutuhkan belas kasihan Allah. Namun, Anda tidak dapat menerima sesuatu yang tidak bersedia Anda berikan kepada orang lain.
Yakobus 2:13 berkata: "Sebab penghakiman yang tak berbelas kasihan akan berlaku atas orang yang tidak berbelas kasihan. Tetapi belas kasihan akan menang atas penghakiman."

4. Karena menunjukkan belas kasihan membawa kebahagiaan.

Matius 5:7 berkata: "Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan"
Kata "berbahagialah" juga memiliki arti "bahagia." Jadi, semakin Anda belajar dan mempraktikkan belas kasihan, semakin Anda akan mengalami kebahagiaan dan berkat.
Karena begitu banyak orang di dunia hidup hanya untuk kepentingan diri sendiri, menunjukkan belas kasihan dan kasih karunia kepada orang lain akan selalu terlihat berbeda.

Renungkan :

- Menurut Anda, apa artinya "mencintai kesetiaan"? (Mikha 6:8)

- Bagaimana Anda pernah melihat Allah memberkati Anda ketika Anda menunjukkan belas kasihan kepada seseorang, bahkan ketika hal itu sulit dilakukan?

- Pikirkan satu kesempatan dalam minggu terakhir ketika Anda sebenarnya bisa menunjukkan belas kasihan kepada seseorang, tetapi tidak melakukannya. Menurut Anda, bagaimana hasil dari situasi tersebut mungkin akan berbeda jika Anda menunjukkan belas kasihan?

Bacaan Alkitab Setahun :
Mazmur 119:1-88; 1 Korintus 7:20-40
___________
Jadilah seseorang yang dikenal karena belas kasihannya. Tunjukkan kepada orang lain betapa baiknya Allah kepada Anda melalui cara Anda memperlakukan mereka. Dengan demikian, Anda dapat membawa perubahan yang berdampak sampai kepada kekekalan.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
=========
4 Reasons Why Showing Mercy Is Important
By Rick Warren

“God blesses those who are merciful, for they will be shown mercy.” Matthew 5:7 (NLT)
------------------
Have you ever noticed that if you’re critical of others, they’re critical of you? If you’re kind to others, they’re kind to you? Or if you’re generous to others, they’re generous to you? Whatever you give in life, you’re going to get in return.

The same is true of God’s mercy.

Jesus says in Matthew 5:7, “God blesses those who are merciful, for they will be shown mercy” (NLT).

But why does God want you to show mercy to others? Why is being merciful so important?

Because God has shown you mercy.

Ephesians 2:4-5 says, “God’s mercy is so abundant, and his love for us is so great, that while we were spiritually dead in our disobedience he brought us to life with Christ. It is by God’s grace that you have been saved” (GNT). God wants you to pass on the mercy that you’ve received from him.

Because God commands you to be merciful.

Do you want a summary of what life’s all about? Here it is: “The Lord has told you what is good. This is what the Lord requires from you: to do what is right, to love mercy, and to live humbly with your God” (Micah 6:8 GW).

Because you’re going to need more mercy in the future.

You’re going to make a lot of mistakes between now and when you get to heaven, and you’re going to need God’s mercy. But you cannot receive what you are unwilling to give. James 2:13 says, “You must show mercy to others, or God will not show mercy to you when he judges you. But the person who shows mercy can stand without fear at the judgment” (NCV).

Because showing mercy brings happiness.

Matthew 5:7 says, “Blessed are the merciful” (NIV). The word “blessed” also means “happy,” so the more you learn and demonstrate mercy, the happier and more blessed you’re going to be.

Because so many people in the world are living for themselves, showing mercy and grace to others will always stand out. Be known for your mercy as you model for others how good God has been to you, and you will make an eternal difference!


Senin, 24 Agustus 2026

Dibalik kabut ada kemenangan

Lampiran foto: IMG-20260825-WA0007.jpg

== Inspirasi pagi ==

*KESULITAN* itu seperti air dikolam  yang sedang keruh, *BERSABARLAH*, jangan mengaduknya, karena sebentar lagi ia akan *JERNIH* dengan sendirinya

*KEMARAHAN* hanyalah membuat kita bertindak terlalu sembrono karena *EMOSI*

*PIKIRAN* yang besar membicarakan ide ide*POSITIF*
*PIKIRAN* yang rata-rata membicarakan *KEJADIAN* masa lalu,
Dan *PIKIRAN* yang kerdil membicarakan orang sekitarnya atau biasa disebut *ngegossip*

Belajarlah dari *KESALAHAN* orang lain, karena Kita tidak dapat hidup cukup lama utk mendapatkan *SEMUA* pelajaran atau pengalaman itu dari diri kita sendiri, Orang pintar *BELAJAR* dari kesalahan diri sendiri, tetapi org yg *LEBIH* pintar belajar dari *KESALAHAN* orang lain

Orang yang paling *BERKUASA* adalah org yang dapat *MENGUASAI* dirinya sendiri

Melihat *TUJUAN* hidup adalah hal *PENTING* bagi kita. Namun Kehidupan melatih kita bukan *HIDUP* karena *MELIHAT*, tapi *HIDUP* karena *KEADAAN* Sehingga saat *KABUT KEHIDUPAN* membuat *TUJUAN* kita terlihat *KABUR* & *SAMAR*, tetaplah *BERJUANG* & terus *MELANGKAH*.

Jika kita sudah *MELANGKAH* serta *BERJUANG*, percayalah bahwa, *KEMENANGAN* sudah ada di depan mata.
Jangan justru *MENYERAH* dalam dalam keadaan *TERTEKAN*, karena semua itu pasti akan *BERAKHIR* Tetaplah *BERSEMANGAT* & Yakin bhw di suatu *TITIK*, dibalik *KABUT* itu αdα *KEMENANGAN* kita.

Seribu *LANGKAH* dimulai dari *LANGKAH* pertama tidak ada kata *TERLAMBAT* untuk *MEMULAI*, setelah memulai
*SELESAIKANLAH* αƿα yg telah kita *MULAI*..!!

Selamat pagi ...........
Good morning .........
早上好 .....................
Selamat Beraktivitas. Sehat dan Sukses selalu. GBU. 🙏🏼🙏🏼🙏🏼


Uploaded Image