Senin, 19 Oktober 2026

Pedagang Kaya & Ular Phyton

_*Mesir tak hanya terkenal dengan dongeng "1001 Malam" saja, tapi juga mempunyai sejumlah dongeng menarik, penuh makna dan kaya moralnya. Pesan moral dongeng tidak hanya tertuju pada kaum anak-anak, tetapi banyak bersifat universal dan berlaku untuk semua kelompok usia, termasuk orang dewasa.*_

_*Salah satu dongeng Mesir yang terkenal, menceritakan tentang seorang saudagar kaya yang mempunya hobi tidak biasa, yakni memelihara seekor ular piton. Awalnya ular tak berbisa itu hanya berukuran kecil. Seiring perjalanan waktu, mendapat asupan bergizi dan cukup. Ular tersebut cepat bertumbuh besar. Perlahan ular itu menjadi sangat jinak, dan menjadi temannya sepanjang malam. Edannya,  ularnya yang bagi orang lain menjijikkan itu,  malah dibiarkan tidur bersamanya di ranjang.*_

_*Namun, suatu hari ular piton itu tiba-tiba mogok makan selama berhari-hari. Khawatir peliharaannya sakit, saudagar ini mendatangkan seorang "Urlugaledinna", istilah untuk dokter hewan jaman kuno. Setelah memeriksa kondisi piaraan dan seksama mendengar cerita siempunya ular. Katanya ularnya sering tidur bersamanya sambil meregangkan tubuh lurus di samping badannya. Dokter  hewan itu memberikan jawaban serius yang mengejutkan.*_

_*Sang dokter menyarankan sesegera mungkin melepaskan ularnya ke hutan atau kebun binatang. Katanya "Ular Anda tidak sedang sakit. Ia berhenti makan karena sedang mengosongkan perutnya, dan meregangkan tubuh di samping Anda untuk mengukur ukuran tubuh Anda agar tahu apakah sudah cukup besar untuk menelan Anda bulat-bulat."  Seketika, saudagar itu merasa dingin menjalar dari ujung kaki hingga ke tengkuknya. Ia mencoba menenangkan diri, namun jantungnya sudah empot-empotan.*_

_*Pesan moral cerita ini bermakna, "Musuh dalam Selimut". Bila ada  seseorang tampak mendadak dekat, pura-pura bersikap baik dan  menyayangi, atau selalu berada di sisi kita. Belum tentu mereka memiliki niat tulus. Terkadang berniat menjatuhkan atau mencelakai kita, dan sedang "mengukur" kelemahan kita secara perlahan sebelum akhirnya mengambil kesempatan untuk menyerang.*_

_*Berhati-hatilah*_

_*Rudy Chandra*_
_*Episode 2325*_

Hanya Pendapat Allah yang Penting

20 Oktober 2026

Bacaan Hari ini:
Matius 5:14 "Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi."
--------------------
Jika Anda tidak yakin siapa diri Anda sebenarnya, Anda dapat dimanipulasi dan dibentuk oleh tekanan, masalah dan orang-orang di sekitar Anda—dan hal itu menyebabkan stres!

Budaya kita terus-menerus berusaha membentuk Anda agar sesuai dengan polanya. Ketika identitas Anda membingungkan dan tidak jelas, ketika Anda benar-benar tidak mengenal diri sendiri, Anda menjadi lebih rentan terhadap pengaruh budaya. Sampai Anda benar-benar meyakini dalam pikiran Anda bahwa Allah mengasihi Anda tanpa syarat dan bahwa Anda adalah anak-Nya, Anda akan cenderung mudah mengalami stres.

Yesus tidak pernah meragukan jati diri-Nya. Bahkan, sebanyak 18 kali dalam Alkitab, Dia menyatakan secara terbuka siapa diri-Nya. Pernyataan-pernyataan ini disebut pernyataan "Akulah" : "Akulah terang dunia" (Yohanes 8:12). "Akulah Anak Allah" (Yohanes 10:36). "Akulah jalan, kebenaran, dan hidup" (Yohanes 14:6). "Akulah roti hidup" (Yohanes 6:35). Yesus menegaskan dengan jelas bahwa Dia benar-benar mengetahui siapa diri-Nya.

Dalam Yohanes 8:18, Yesus berkata, "Akulah yang bersaksi tentang diri-Ku sendiri". Dia tidak membutuhkan orang lain untuk memberi tahu-Nya siapa diri-Nya. Dia tidak mencari pengakuan dari orang lain untuk meneguhkan jati diri-Nya.

Ketika Anda bergantung pada pendapat orang lain untuk mendapatkan pengakuan, Anda tidak akan mampu menghadapi stres dengan tangguh. Sebab, jika Anda tidak mengetahui siapa diri Anda, orang lain akan menentukannya untuk Anda. Mereka akan memaksa Anda mengikuti pola mereka dan Anda akan mengalami stres karena berusaha menjadi seseorang yang bukan diri Anda. Pada akhirnya, Anda akan berpura-pura dan memakai topeng. Hal itu akan menguras tenaga Anda!

Yesus tahu bahwa Dia adalah terang dunia. Dan Dia juga berkata kepada para pengikut-Nya,"Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi." (Matius 5:14). Ketika Anda mengikuti-Nya, Anda memancarkan terang-Nya kepada orang lain. Apakah Anda menyadari betapa istimewanya diri Anda? Bukan karena apa yang dikatakan orang lain, melainkan karena apa yang dikatakan Allah. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang persis sama dengan Anda.

Anda harus menerima kebenaran tentang diri Anda—baik kelebihan maupun keterbatasan dan kelemahan Anda.
Allah menciptakan Anda dengan semua hal tersebut dan Dia telah memberikan segala sesuatu yang Anda perlukan untuk melakukan kehendak-Nya.

Ketika Anda menerima hal itu, Anda akan merasa yakin dengan jati diri Anda dan mengalami jauh lebih sedikit stres.

Renungkan :

- Apa artinya menjadi anak Allah? Apa saja manfaatnya? Apa saja yang diharapkan dari Anda?

- Mengapa Anda perlu menerima kebenaran tentang kelemahan Anda, bukan hanya tentang kelebihan Anda?

- Ingatlah suatu saat ketika Anda lebih mendasarkan jati diri Anda pada apa yang dikatakan orang lain tentang Anda daripada pada apa yang dikatakan Allah. Apa dampaknya bagi diri Anda?

Bacaan Alkitab Setahun :
Yeremia 21-24; I Tesalonika 3
__________
Apakah Anda menyadari betapa istimewanya diri Anda? Bukan karena apa yang dikatakan orang lain, melainkan karena apa yang dikatakan Allah

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
=========
Only God’s Opinion Matters
By Rick Warren

“You are the light of the world—like a city on a hilltop that cannot be hidden.” Matthew 5:14 (NLT)
----------------------
If you’re not sure who you really are, then you can be manipulated and molded by the pressures, problems, and people around you—and that leads to stress!

Our culture is constantly trying to fit you into its mold. When you have a confused and unclear identity, when you don’t really know who you are, it makes you more vulnerable to the culture’s influence. Until you settle in your mind that God loves you unconditionally and that you’re a child of his, you’re going to be prone to stress.

Jesus never had any doubts about his identity. In fact, 18 times in Scripture he publicly declared who he was. These are called his “I am” statements: “I am the light of the world” (John 8:12 NLT). “I am the Son of God” (John 10:36 NLT). “I am the way, the truth, and the life” (John 14:6 NLT). “I am the bread of life” (John 6:35 NLT). Jesus made it clear that he knew exactly who he was.

In John 8:18, Jesus said, “I testify on my own behalf” (GNT). He didn’t need other people to tell him who he was. He didn’t look to others for validation.

When you depend on other people’s opinions for validation, you can’t be resilient to stress. Because if you don’t know who you are, then other people will decide it for you. They’ll force you into a mold, and you’ll get stressed out trying to be someone you’re not. You’ll end up pretending and wearing a mask. It will wear you out!

Jesus knew he was the light of the world. And he also told his followers: “You are the light of the world—like a city on a hilltop that cannot be hidden” (Matthew 5:14 NLT). As you follow him, you reflect his light to others. Do you realize how special you are? Not because of what other people say but because of what God says. There’s nobody in the world exactly like you.

You must accept the truth about you—your strengths along with your limitations and weaknesses. God made you with all of those things, and he has given you everything you need to do his will.

When you accept that, you’ll be secure in your identity and a lot less stressed.


Minggu, 18 Oktober 2026

Dasar Ketangguhan Anda

19 Oktober 2026

Bacaan Hari ini:
1 Yohanes 3:1 "Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah."
-------------------
Kita hidup di masa yang penuh tekanan. Lebih dari sebelumnya, kita perlu belajar menjadi tangguh agar dapat melakukan apa yang telah Allah panggil untuk kita lakukan. Itulah sebabnya langkah pertama untuk menjadi tangguh adalah mengingat betapa besar kasih Allah kepada Anda. Itulah penawar stres!

Bagian dari memenuhi tujuan hidup Anda adalah menjadi semakin serupa dengan Yesus. Dan Yesus sama sekali tidak meragukan bahwa Allah Bapa mengasihi-Nya. Dia berulang kali membicarakan hal itu dalam ayat-ayat seperti Yohanes 10:17, yang mengatakan, "Bapa mengasihi Aku"

Mengetahui dan mengingat bahwa Allah memiliki kasih yang tanpa syarat, berlimpah, terus-menerus, dan tidak pernah berakhir bagi Anda, sama seperti kasih-Nya kepada Yesus, merupakan dasar kehidupan yang tangguh. Seperti yang dikatakan Paulus, "Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita" (Roma 8:38-39).

Anda mungkin berpikir, "Tentu saja Allah mengasihi Yesus. Dia adalah Anak-Nya." Namun, tahukah Anda bahwa Yesus mengatakan hal yang sama tentang kasih-Nya kepada Anda? Dalam Yohanes 15:9-10, Yesus berkata, "Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu. Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya."

Memahami betapa besar kasih Allah kepada Anda adalah dasar ketangguhan Anda. Jika Anda tidak yakin bahwa Allah mengasihi Anda setiap saat—tanpa syarat dan sepenuhnya—Anda akan mudah menjadi sasaran ketidaksetujuan orang lain. Anda akan menjadi orang yang selalu berusaha menyenangkan orang lain.

Namun, ketika Anda merasa aman dengan jati diri Anda sebagai anak Allah—ketika Anda memahami dan menerima bagaimana Allah memandang Anda—Anda dapat menghadapi masa-masa sulit dengan penuh keyakinan dan lebih sedikit stres.

Ketika Anda perlu diingatkan tentang betapa besar kasih Allah kepada Anda, lihatlah Firman-Nya.
"Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah." (1 Yohanes 3:1).

Renungkan :

- Menurut Anda, mengapa mengingat kasih Allah kepada Anda membuat Anda menjadi lebih tangguh?

- Mengapa penting untuk tidak hanya memahami kasih Allah kepada Anda, tetapi juga menerimanya?

- Dalam situasi apa Anda perlu menunjukkan ketangguhan yang lebih besar? Apa yang akan Anda lakukan untuk tetap terhubung dengan Firman Allah?

Bacaan Alkitab Setahun :
Yeremia 17-20; I Tesalonika 2
_____________
Kita dapat menjadi tangguh karena mengetahui bahwa kita tidak akan pernah terpisah dari kasih Allah.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
========
The Foundation of Your Resilience
By Rick Warren

“See what great love the Father has lavished on us, that we should be called children of God! And that is what we are!” 1 John 3:1 (NIV)
---------------------
We are living in stressful times. More than ever, we need to learn resilience so that we can do what God has called us to do. That’s why the first step to being resilient is to remember how much God loves you. That’s the antidote to stress!

Part of fulfilling your purpose is becoming more like Jesus. And Jesus had no doubt in his mind that God the Father loved him. He talked about it over and over in verses like John 10:17, which says, “The Father loves me” (NLT).

Knowing and remembering that God has unconditional, extravagant, continuous, and never-ending love for you, just like he did for Jesus, is the foundation of a resilient life. As Paul says, “I am convinced that neither death nor life . . . nor anything else in all creation, will be able to separate us from the love of God that is in Christ Jesus our Lord” (Romans 8:38-39 NIV). We can be resilient, knowing that we can never be separated from God’s love.

You may be thinking, “Well, of course God loves Jesus. That’s his Son.” But did you know that Jesus says the same thing about his love for you? In John 15:9-10, Jesus says, “As the Father has loved me, so have I loved you. Now remain in my love. If you keep my commands, you will remain in my love” (NIV).

Understanding how much God loves you is the basis of your resilience. If you are not convinced that God loves you at all times—unconditionally and completely—then you’re going to be easy prey for the disapproval of other people. You’re going to be a people pleaser.

But when you are secure in who you are as God’s child—when you understand and accept how God feels about you—then you can face difficult times with confidence and less stress.

When you need to be reminded of how much God loves you, just look to his Word.

“See what great love the Father has lavished on us, that we should be called children of God! And that is what we are!” (1 John 3:1 NIV).


Sabtu, 17 Oktober 2026

Mengembalikan Segambar dengan Pencipta

Di sebuah rimba yang luas, ada seekor kancil yang menemukan kepingan koin emas berukir gambar sang Raja Hutan, Sang Singa. Dengan bangga, kancil menyimpannya dan menganggap koin itu sebagai miliknya yang paling berharga. Namun, sang kancil tersadar bahwa pada koin itu terukir wajah dan stempel kekuasaan sang raja, sehingga koin itu pada hakikatnya milik istana.

​Namun, ketika kancil memandang bayangan dirinya di jernihnya air sungai, ia teringat akan nasihat tua-tua rimba: "Setiap hewan diciptakan oleh Sang Pencipta Agung dan membawa ciptaan-Nya di dalam napas hidup mereka." Kancil menyadari bahwa benda berukir wajah raja memang harus dikembalikan kepada raja, tetapi seluruh jiwa dan raga ciptaan harus diserahkan seutuhnya kepada Sang Pencipta.

​Melalui kisah fabel ini, kita diajak memahami pengajaran Yesus dalam Matius 22:15-21. Ketika orang-orang Farisi mencoba menjerat-Nya dengan pertanyaan tentang kewajiban membayar pajak kepada Kaisar, Yesus meminta tunjukkan mata uang dinar dan bertanya gambar siapakah yang ada pada uang itu. Yesus menjawab, "Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar, dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah" (Matius 22:21). Uang koin mencantumkan gambar kaisar sehingga itu milik duniawi/pemerintah, namun diri manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Kejadian 1:27), sehingga hidup dan hati kita sepenuhnya adalah milik Allah.  

​Saudaraku, kita sering kali disibukkan dan terikat oleh tuntutan duniawi hingga lupa menyerahkan hati dan hidup kita kepada Pemilik sesungguhnya. Menjalankan kewajiban di dunia adalah hal yang baik dan wajar, tetapi jangan sampai kita menyerahkan seluruh jiwa kita kepada hal-hal fana. Ingatlah bahwa gambar Allah terpateri di dalam jiwa kita, maka serahkanlah seluruh hidup, kesetiaan, dan kasih kita kembali kepada-Nya.
​"Lalu kata Yesus kepada mereka: 'Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar, dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.'" (Matius 22:21)  
​Bacaan: Matius 22:15-21  
​(Have a blessed Sunday! Gbu!)


Uploaded Image

Penawar untuk Kecemasan

18 Oktober 2026

Bacaan Hari ini:
Matius 11:29 "Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati, dan jiwamu akan mendapat ketenangan."
---------------------
Semua orang ingin mengetahui penawar untuk kecemasan karena kita semua mengalaminya. Kita hidup di masa yang penuh tekanan, dan ketenangan bagi tubuh serta jiwa kita terasa sulit diperoleh.

Namun, ini bukanlah rahasia: Yesus ingin Anda mengurangi kekhawatiran dan lebih mempercayai-Nya. Dia berkata dalam Matius 11:29, "Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati, dan jiwamu akan mendapat ketenangan."

Setelah Anda datang kepada Yesus dan membiarkan Dia ikut memikul beban Anda, Dia ingin Anda belajar dari-Nya. Mengapa? Karena Yesus tidak pernah terburu-buru. Dia menetapkan ritme kehidupan yang berasal dari hati yang lemah lembut dan rendah hati, yang bertujuan membawa kehidupan, bukan keletihan. Yesus memberikan teladan kepada kita tentang bagaimana menjalani hidup dengan damai sejahtera dan tujuan yang jelas dan mengikuti teladan-Nya adalah cara kita mengisi kembali tangki rohani dan emosional kita. Perhatikan bagaimana Dia menjalani hidup, lalu lakukanlah seperti yang Dia lakukan.

Belajar menjalani hidup seperti Yesus adalah sebuah proses. Anda tidak akan mempelajarinya dalam semalam karena gaya hidup Anda yang penuh beban juga tidak terbentuk dalam semalam. Namun, tidak peduli berapa lama waktu yang dibutuhkan, Anda dapat belajar untuk mempercayai-Nya.

Anda dapat belajar dari Yesus bagaimana menjadi lemah lembut dan rendah hati. Namun, bagaimana hal itu akan membantu Anda? Kelemahlembutan dan kerendahan hati sepertinya bukan solusi alami untuk mengatasi stres dan kelelahan. Mungkin Anda berharap Dia berkata, "Belajarlah dari-Ku dan Aku akan mengajarkan Anda cara memiliki daya tahan dan stamina."

Yesus ingin Anda belajar menjadi lemah lembut dan rendah hati karena sikap agresif dan kesombongan merupakan dua penyebab terbesar stres dan kekosongan dalam hidup.

Sikap agresif muncul ketika kita tidak mau menunggu apa pun dan mengambil terlalu banyak tanggung jawab. Sikap ini merupakan kebalikan dari kelemahlembutan.
Kesombongan muncul ketika kita berusaha mengendalikan segala sesuatu. Ego kita menjadi penyebab lebih banyak stres dan kesombongan dalam hidup daripada yang kita sadari.

Penawar bagi dua penyebab stres terbesar dalam hidup Anda adalah kelemahlembutan dan kerendahan hati. Anda mempelajarinya dengan mengingatkan diri sendiri setiap hari bahwa Anda bukan Allah dan Anda bukan penyelamat siapa pun.

Renungkan :

- Menurut Anda, apakah Anda pernah dituntut untuk selalu terburu-buru? Mengapa ya atau mengapa tidak?

- Apa yang selama ini berusaha Anda kendalikan hingga membuat Anda kelelahan?

- Dalam hal apa saja Anda pernah bertindak seolah-olah menjadi penyelamat seseorang? Bagaimana hal itu memengaruhi diri Anda?

Bacaan Alkitab Setahun :
Yeremia 13-16; I Tesalonika 1
____________
Luangkan waktu bersama Yesus, dan Anda akan melihat bagaimana kelemahlembutan dan kerendahan hati membawa ketenangan.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
==========
The Antidote to Anxiety
By Rick Warren

“Take my yoke upon you. Let me teach you, because I am humble and gentle at heart, and you will find rest for your souls.” Matthew 11:29 (NLT)
----------------
Everyone wants to know the antidote to anxiety because we all experience it. We live in stressful times and rest for our bodies and souls seems elusive.

But it’s not a secret: Jesus wants you to worry less and trust him more. He says in Matthew 11:29, “Take my yoke upon you. Let me teach you, because I am humble and gentle at heart, and you will find rest for your souls” (NLT).

After you come to Jesus and let him share your load, he wants you to learn from him. Why? Because Jesus is never in a hurry. He sets a pace that comes from a gentle and humble heart that is meant to bring life and not weariness. Jesus modeled for us how to live with peace and purpose, and following his example is how we refill our spiritual and emotional tanks. Watch how he lived, and do it the way he did.

Learning to live like Jesus is a process. You won't learn it overnight because you didn't develop your overloaded lifestyle overnight. But no matter how long it takes, you can learn to trust him.

You can learn from Jesus how to be gentle and humble. But how is that going to help you? Gentleness and humility don’t seem like the natural cure for being stressed out and tired. Maybe you would expect him to say, "Learn from me, and I'll teach you how to have endurance and stamina."

Jesus wants you to learn to be gentle and humble because aggression and arrogance are two of the biggest causes of stress and emptiness in life.

Aggression is when we don't want to wait for anything, and we over-commit ourselves. It's the opposite of gentleness.

Arrogance is when we try to control everything. Our ego is responsible for more stress and arrogance in our lives than we realize.

The antidote to the two biggest causes of stress in your life is gentleness and humility. You learn them by reminding yourself every day that you’re not God and you’re not anybody's savior.

Spend time with Jesus, and you’ll see how gentleness and humility lead to rest.


Jumat, 16 Oktober 2026

Menemukan Kunci Kebijaksanaan Hati

Selama bertahun-tahun, seorang kepala bagian di sebuah perusahaan manufaktur selalu merasa bangga dengan kerapian laporan dan ketaatannya pada aturan kantor. Namun, di balik sikap profesionalnya yang sempurna, ia menyimpan rasa iri dan dendam yang mendalam terhadap rekan kerja yang kerap mendapat promosi lebih cepat darinya. Ia sering kali melontarkan kritikan tajam terselubung untuk menjatuhkan mental bawahannya, sembari tetap tampil sebagai sosok pimpinan yang saleh dan santun di depan publik.

​Titik balik hidupnya terjadi ketika ia mendadak terbaring sakit di rumah sakit akibat serangan jantung. Di tengah kesendirian dan bayang-bayang kematian, ia menyadari betapa hampa seluruh pencapaian dan citra luar yang selama ini ia bangun dengan gigih. Dalam tangis penyesalannya di atas ranjang rumah sakit, ia memohon ampun kepada Tuhan atas kecongkakan serta kebusukan hati yang selama ini tersembunyi di balik jubah kesalehan semacam itu.

​Kesaksian hidup ini membuka mata kita bahwa integritas batin jauh lebih berharga daripada sekadar penampilan lahiriah. Sering kali manusia terjebak pada formalisme—rajin menjalankan ritual, fasih berbicara hal-hal rohani, dan tampak tanpa cela dari luar—namun di dalam batinnya masih dipenuhi kesombongan, kehakiman, dan penolakan terhadap kebenaran. Kristus menegur keras sikap hipokrisi ini karena kebenaran sejati tidak diukur dari apa yang tampak oleh mata manusia, melainkan dari ketulusan dan kerendahan hati yang mengalir dari dalam jiwa (Lukas 11:47-54).

​Saudaraku, mari kita memeriksa relasi kita dengan Tuhan dan sesama hari ini. Jangan sampai kita sibuk membangun "monumen" kesalehan lahiriah untuk dilihat orang lain, namun tanpa sadar menutup pintu hati bagi pertobatan yang sesungguhnya. Kiranya kita dimampukan untuk menyelaraskan tutur kata, tindakan, dan isi hati kita agar senantiasa mencerminkan kasih Kristus yang murni.
​"Sebab Allah tidak memandang apa yang dilihat manusia; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati." (1 Samuel 16:7b)  
​Bacaan: Efesus 1:3-10 / Lukas 11:47-54
​(Gbu!)

Lampiran foto: IMG-20261017-WA0002.jpg
Uploaded Image

Berjalan Selaras dengan Yesus

17 Oktober 2026

Bacaan Hari ini:
Matius 11:29-30 "Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan."
------------------
Apakah Anda merasa terbebani oleh terlalu banyak hal? Mungkin Anda sedang berusaha mengendalikan segala sesuatu secara berlebihan. Kita semua pernah melakukannya, terkadang bahkan tanpa menyadarinya. Tanpa sadar, kita bertindak seolah-olah semuanya bergantung pada diri kita sendiri. Kita berpikir bahwa kita harus menjaga agar semuanya tetap berjalan dengan baik. Kita berpikir bahwa kita harus membuat segala sesuatu terjadi.

Semakin besar kebutuhan Anda untuk mengendalikan segala sesuatu, semakin Anda akan merasa terbebani, stres dan kosong dalam hidup. Anda perlu belajar melepaskan kendali!

Ketika Anda datang kepada Yesus karena merasa kehabisan tenaga, langkah ketaatan Anda berikutnya adalah ini: "Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan." (Matius 11:29-30).

Ketika Anda sudah merasa jenuh dan tidak sanggup lagi, inilah saatnya untuk melepaskan kendali.

Kuk adalah rangka kayu yang dipasang pada dua hewan agar mereka dapat menarik peralatan pertanian bersama-sama. Tujuan kuk adalah meringankan beban, bukan membuatnya semakin berat. Berbagi kuk berarti berbagi beban yang sedang Anda pikul.

Ketika Anda sudah merasa sedang memikul beban yang berat, menerima kuk Yesus mungkin terdengar seperti menambah beban. Namun, sebenarnya justru sebaliknya—karena ketika Anda tidak berada di bawah kuk bersama Yesus, Anda memikul beban itu sendirian dan Anda mungkin bergerak terlalu cepat hingga akhirnya terperosok ke dalam parit.

Namun, jika Anda berada di bawah kuk bersama-Nya, Dia ikut memikul beban Anda, menjaga kecepatan langkah Anda agar tetap sesuai dengan yang seharusnya dan membantu Anda tetap berada di jalan yang benar.

Sederhananya, kuk membuat beban menjadi lebih ringan dan mencegah Anda terjerumus ke dalam masalah. Galatia 5:25 mengatakan, "Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh"

Renungkan :

- Menurut Anda, mengapa Allah tidak langsung mengangkat seluruh beban Anda setiap kali Anda datang kepada-Nya dan meminta pertolongan?

- Seperti apa ritme kehidupan yang Anda inginkan? Ritme seperti apa yang akan membawa kesehatan dan ketenangan?

- Baca kembali Matius 11:29-30. Apa yang Yesus ingin Anda lakukan setelah memikul kuk-Nya? Bagaimana Anda dapat melakukannya?

Bacaan Alkitab Setahun :
Yeremia 8-12; Kolose 4
_______________
Anda berjalan selaras dengan Roh Allah dengan berada di bawah kuk bersama Yesus—bermitra dengan-Nya dan membiarkan Dia menentukan kecepatan langkah Anda. Yesus tidak pernah terburu-buru dan Anda pun tidak akan terburu-buru ketika terhubung dengan-Nya.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
==========
Walk in Step with Jesus
By Rick Warren

“Take my yoke upon you and learn from me, for I am gentle and humble in heart, and you will find rest for your souls. For my yoke is easy and my burden is light.” Matthew 11:29-30 (NIV)
------------------
Are you feeling overloaded? You may be trying to control things too much. We all do it, sometimes without even realizing it. We subconsciously act as if it all depends on us. We think we have to hold everything together. We think we have to make everything happen.

The greater your need to control things, the more overloaded, stressed, and empty you’re going to feel in life. You need to learn to give up control!

When you come to Jesus because you’re running on empty, your next step of obedience is this: “Take my yoke upon you and learn from me, for I am gentle and humble in heart, and you will find rest for your souls. For my yoke is easy and my burden is light” (Matthew 11:29-30 NIV).

When you get fed up, it’s time to give up control.

A yoke is not the middle of an egg (that’s a yolk). It’s the wooden frame you put over two animals so they can pull a piece of farm equipment together. The purpose of a yoke is to lighten the load, not to make it heavier. Sharing a yoke means sharing the load you’re carrying.

When you already feel like you’re carrying a heavy load, taking on Jesus’ yoke may sound like more of a burden. It’s actually the exact opposite—because when you’re not yoked to Jesus, you’re carrying the burden alone, and you might move at a pace that is too fast and throws you into a ditch.

But if you’re yoked to him, he shares the burden of the load with you, keeps your pace exactly where it needs to be, and helps you to say on the right path.

Put simply, a yoke makes the load lighter, and it keeps you from getting in trouble. Galatians 5:25 says, “Since we live by the Spirit, let us keep in step with the Spirit” (NIV).

You keep in step with God’s Spirit by being yoked to Jesus—partnering with him and letting him set the pace. Jesus was never in a hurry, and you won’t be either when you’re connected to him.