Ketika berjalan-jalan di desa, seorang murid berhenti hendak melepas sepatu karena melihat jalan yang becek. “Mengapa dilepas?” tanya gurunya. “Supaya sepatunya tidak kotor,” jawabnya. “Apa kegunaan sepatu?” tanya guru. “Melindungi kaki,” balas murid. “Dan yang kamu lakukan sekarang, melindungi kaki atau melindungi sepatu?” Begitulah, tidak jarang orang lebih mementingkan suatu benda daripada fungsi atau maknanya. Setiap orang mempunyai “harta”. Tempat hati berada, tempat mengumpulkan segala pencapaian, untuk dijadikan andalan. Secara sederhana, ada dua jenis harta: harta duniawi yang bersifat sementara dan harta surgawi yang bernilai kekal. Tentu kita memerlukan harta yang sementara, tetapi itu bukan segalanya. Memautkan hati kepada harta duniawi merintangi kita mendapatkan harta yang kekal. Apalagi jika harta dunia telah membutakan mata sampai kita mengukur segala sesuatu dengan uang, mengganti waktu untuk keluarga dengan kemewahan, mengganti waktu untuk Tuhan dengan uang persembahan. Hati tidak lagi menjadi takhta bagi Tuhan, tetapi bagi uang, jabatan, ketenaran, kehormatan, dan kekuasaan. Saudaraku, sesuatu yang kita lihat dan kita pikirkan akan menggerakkan kita dalam bertindak dan mengambil keputusan. Yesus mengingatkan agar kita menggunakan mata hati dan pikiran untuk melihat dan berpikir dengan tepat. Sadar akan kasih Allah dan menempatkan kesenangan Allah sebagai kebutuhan yang harus dipenuhi akan membebaskan kita dari tekanan untuk mengejar harta duniawi. "'Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.'” (Matius 6:21) Bac: Matius 6:19-24 (Have a nice weekend! Gbu!)
Veni Vidi Vici
Jumat, 17 April 2026
Harta Di Hati
Pendapat Siapa yang Paling Penting?
18 April 2026
Bacaan Hari ini:
Amsal 29:25 "Takut kepada orang mendatangkan jerat, tetapi siapa percaya kepada TUHAN, dilindungi."
------------------
Setiap kali Anda membuat keputusan berdasarkan apa yang mungkin dipikirkan orang lain, tanpa Anda sadari Anda sedang menabur benih kegagalan dalam hidup Anda sendiri.
Anda mungkin tidak menyadarinya, tetapi rasa takut terhadap ketidaksetujuan orang lain menyebabkan lebih banyak masalah dalam hidup Anda daripada hampir apa pun. Ketika Anda khawatir tentang apa yang orang lain pikirkan, Anda cenderung melakukan hal yang paling populer, meskipun Anda tahu itu salah. Anda membuat komitmen yang tidak mungkin Anda penuhi, hanya karena Anda ingin menyenangkan semua orang. Ini adalah resep menuju kegagalan.
Dan ini adalah salah satu alasan mengapa Petrus gagal terhadap Yesus dengan menyangkal-Nya tiga kali. Ia lebih peduli pada apa yang orang lain pikirkan daripada setia kepada Yesus.
Alkitab berkata, "Dan Petrus mengikuti Dia dari jauh sampai ke halaman Imam Besar, dan setelah masuk ke dalam, ia duduk di antara pengawal-pengawal untuk melihat kesudahan perkara itu....Sementara itu Petrus duduk di luar di halaman. Maka datanglah seorang hamba perempuan kepadanya, katanya: "Engkau juga selalu bersama-sama dengan Yesus, orang Galilea itu." Tetapi ia menyangkalnya di depan semua orang, katanya: "Aku tidak tahu, apa yang engkau maksud." (Matius 26:58, 69-70).
Petrus baru saja menghabiskan tiga tahun bersama Yesus, Anak Allah. Namun ketika ia memiliki kesempatan untuk mengakui kehormatan tersebut, ia justru menyangkal Yesus. Petrus lebih peduli pada pendapat orang lain daripada mengidentifikasikan dirinya dengan Kristus.
Pikirkan berapa kali Anda memiliki kesempatan untuk membagikan tentang Kristus tetapi tidak mengatakan apa pun karena Anda khawatir tentang apa yang orang lain pikirkan.
Pendapat siapa yang lebih penting bagi Anda daripada pendapat Allah? Ketika Anda membiarkan seseorang menjadi lebih penting daripada Allah, orang tersebut menjadi allah Anda. Itulah yang disebut berhala—dan itu adalah awal dari kegagalan.
Rasa takut terhadap ketidaksetujuan selalu berasal dari luka tersembunyi. Mungkin itu adalah penolakan di masa lalu. Bisa jadi kebutuhan yang tidak terpenuhi atau trauma yang Anda alami saat bertumbuh. Itu adalah rasa sakit yang dalam, sehingga tersembunyi jauh di dalam diri Anda. Saya menyebutnya luka jiwa.
Luka jiwa tersebut selalu berkaitan dengan identitas Anda. Jika Anda tidak mengetahui siapa diri Anda, Anda akan terus dimanipulasi oleh ketidaksetujuan orang lain sepanjang hidup Anda. Anda tidak akan berdiri teguh pada apa yang Anda yakini atau melakukan apa yang benar.
Alkitab berkata dalam Amsal 29:25, "Takut kepada orang mendatangkan jerat, tetapi siapa percaya kepada TUHAN, dilindungi."
Renungkan
- Identitas Anda didasarkan pada siapa Anda menurut Allah di dalam Kristus—berdasarkan apa yang Firman Allah katakan tentang Anda. Apa yang dapat Anda mulai lakukan hari ini untuk mendalami Firman Allah dan menjadi lebih teguh dalam identitas Anda?
- Kapan Anda merasa yakin dalam mengambil keputusan karena Anda percaya kepada Tuhan?
- Luka tersembunyi apa yang membuat Anda takut terhadap ketidaksetujuan orang lain? Jika Anda tidak yakin, mintalah Allah menolong Anda untuk memahaminya—dan mulai memulihkannya hari ini.
Bacaan Alkitab Setahun :
2 Samuel 1-2; Lukas 14:1-24
___________
Ketika Anda mengenali luka tersembunyi dalam hidup Anda, Allah dapat mulai menyembuhkannya. Dan Anda dapat hidup dalam kebebasan dengan mengetahui bahwa pendapat Allah adalah yang paling penting.
(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
==========
Whose Opinion Matters Most? - Daily Hope with Rick Warren - April 18, 2026
“It is dangerous to be concerned with what others think of you, but if you trust the LORD, you are safe.” Proverbs 29:25 (GNT)
-----------------
Every time you make a decision based on what other people might think, you unknowingly sow seeds of failure in your own life.
You may not realize it, but fearing the disapproval of others causes more problems in your life than almost anything else. When you worry about what other people think, you tend to do the most popular thing, even if you know it’s wrong. You make commitments that you can’t possibly keep, simply because you’re trying to make everybody happy. This is a recipe for failure.
And it’s one of the reasons Peter failed Jesus by denying him three times. He was more concerned with what other people thought than with being faithful to Jesus.
The Bible says, “But Peter followed along at a distance and came to the courtyard of the high priest’s palace. He went in and sat down with the guards to see what was going to happen . . . While Peter was sitting out in the courtyard, a servant girl came up to him and said, ‘You were with Jesus from Galilee.’ But in front of everyone Peter said, ‘That isn’t so! I don’t know what you are talking about!’” (Matthew 26:58, 69-70 CEV).
Peter had just spent three years with Jesus, the Son of God. Yet when he had a chance to acknowledge this privilege, he denied Jesus. Peter was more concerned about what other people thought than he was about identifying with Christ.
Think about how many times you’ve had the opportunity to share Christ and said nothing because you were worried about what other people would think.
Whose opinion matters more to you than God's? When you allow another person to be more important than God, they become your god. That’s called an idol—and it’s a setup for failure.
The fear of disapproval always comes from a hidden wound. Maybe it was a rejection in the past. It might be an unmet need or a trauma you experienced growing up. It’s a deep pain, so it’s hidden deep in you. I call it soul pain.
That soul pain is always related to your identity. If you don’t know who you are, you will be manipulated by the disapproval of other people the rest of your life. You won’t stand up for what you believe or do what’s right.
The Bible says in Proverbs 29:25, “It is dangerous to be concerned with what others think of you, but if you trust the LORD, you are safe” (GNT).
When you recognize the hidden wounds in your life, God can begin to heal them. And you can live in the freedom of knowing that God’s opinion matters most.
Kreativitas Keke
He..he..he..Keke sering liat opa kerjain pohon jadi nular kreativitasnya. Karya projeknya Keke ini indah sekali.
Hari ini Tgl.17 April 2026 Opa: 1. masuk ruang operasi jam.11.30 2. ekskusi operasi jam.13 3. selesai operasi jam.14. 4. Keluar dr ruang operasi ke kamar rawat inap jam.16.30 5. Belum boleh makan dan minum krn usus belum aktip 6. jam.19.30 dokter periksa usus sdh mulai aktip mk makan dan minum sdh boleh tp sambil tiduran krn duduk bekas operasi sakit. Terimakasih Keke doanya. Tuhan Yesus memberkati kamu juga dgn kesehatan, cepat besar, piter, nurut sama mami dan disayang Tuhan.
Kamis, 16 April 2026
Jangan Biarkan Kekuatan Anda Menyebabkan Anda Gagal
17 April 2026
Bacaan Hari ini:
1 Korintus 10:12 "Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh!"
-----------------
Kegagalan adalah bagian dari kehidupan. Siapa pun Anda dan apa pun latar belakang Anda, pada suatu saat Anda akan mengalami kegagalan. Hal ini merupakan bagian dari hidup sebagai manusia yang tidak sempurna di dunia yang tidak sempurna.
Sebelum Yesus pergi ke kayu salib, pada malam ketika Ia ditangkap, sahabat-Nya, Petrus, gagal dalam cara yang sangat berarti. Petrus menyangkal Yesus—bukan hanya sekali, tetapi tiga kali.
Dalam Perjamuan Terakhir, Yesus memberitahu murid-murid-Nya bahwa Ia akan ditangkap, mati, dan tiga hari kemudian bangkit kembali. Ia berkata kepada para murid, "Malam ini kamu semua akan tergoncang imanmu karena Aku" (Matius 26:31). Namun Petrus terus bersikeras bahwa ia tidak akan pernah menyangkal Yesus. Bahkan, Petrus berkata, "Aku sekali - kali tidak!"
Petrus melebih-lebihkan kekuatannya—dan hal itu pada akhirnya membawa pada kegagalannya.
Melebih-lebihkan kekuatan diri sendiri masih menjadi penyebab umum kegagalan hingga saat ini, yaitu ketika Anda berpikir bahwa Anda lebih kuat daripada kenyataannya—ketika Anda percaya bahwa Anda dapat mengatasi pencobaan.
Ketika orang melebih-lebihkan kekuatan mereka, akibatnya bisa sangat serius: bisnis gagal, pertempuran kalah, dan pasangan suami istri tergoda untuk berselingkuh.
Anda mungkin berpikir, "Itu tidak mungkin terjadi pada saya." Namun 1 Korintus 10:12 berkata, "Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh!"
Tidak seorang pun kebal. Dalam situasi tertentu, Anda mampu melakukan dosa apa pun, demikian juga saya.
Ketika Anda tidak memperhatikan kekuatan Anda, kekuatan tersebut dapat berubah menjadi kelemahan. Dengan kata lain, kekuatan yang tidak dijaga akan menjadi kelemahan ganda karena disertai dengan rasa kesombongan.
Kegagalan terbesar Petrus, yaitu menyangkal Kristus, terjadi tepat setelah Perjamuan Terakhir, sebuah pengalaman yang sangat dekat dan penuh makna. Area di mana Anda pernah mengalami kemenangan besar justru bisa menjadi tempat Anda tersandung berikutnya.
Renungkan :
- Kapan Anda pernah melebih-lebihkan salah satu kekuatan Anda hingga berujung pada kegagalan?
- Kekuatan apa yang Anda sadari perlu lebih Anda perhatikan agar tidak berubah menjadi kelemahan?
- Bagaimana firman Allah menolong Anda untuk menjaga perspektif yang benar terhadap kekuatan Anda?
Bacaan Alkitab Setahun :
1 Samuel 30-31; Lukas 13:23-25
____________
Tahanlah godaan untuk melebih-lebihkan kekuatan Anda. Sebaliknya, ingatlah bahwa Anda adalah manusia berdosa yang membutuhkan kasih karunia dan belas kasihan Allah. Jagalah perspektif yang benar terhadap kekuatan Anda agar tidak menjadi titik kegagalan Anda.
(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
==========
Don’t Let Your Strengths Cause You to Fail - Daily Hope with Rick Warren - April 17, 2026
“If you think you are standing strong, be careful not to fall.” 1 Corinthians 10:12 (NLT)
--------------------
Failure is part of life. No matter who you are or what your story is, you’re going to experience failure at some point. It’s part of living as an imperfect person in an imperfect world.
Before Jesus went to the cross, on the night that he was arrested, his friend Peter failed him in a significant way. Peter denied Jesus—not just once but three times.
During the Last Supper, Jesus told his disciples he was going to be arrested, die, and three days later come back to life. He said to the disciples, “Tonight all of you will desert me” (Matthew 26:31 NLT). Yet Peter kept insisting he would never deny Jesus. In fact, Peter said three times, “I will never”!
Peter overestimated his strength—and it eventually led to his failure.
Overestimating your strength is still a common cause of failure today when you think you’re stronger than you really are—when you believe you can handle temptation.
When people overestimate their strengths, there are dire consequences: Businesses fail, battles are lost, and spouses are tempted into affairs.
You might think, “That could never happen to me.” But 1 Corinthians 10:12 says, “If you think you are standing strong, be careful not to fall” (NLT).
No one is exempt. Given the right situation, you are capable of any sin, and so am I.
When you don’t pay attention to your strengths, they become weaknesses. In other words, an unguarded strength becomes a double weakness because you have a sense of pride about it.
Peter’s biggest failure, denying Christ, happened right after the Last Supper, a very intimate and powerful experience. The very area where you’ve had a major victory may be exactly where you stumble next.
Resist the temptation to overestimate your strengths. Instead, remember you are a sinful human who needs God’s grace and mercy. Keep your strengths in perspective so they don’t become your point of failure.