Jumat, 03 Juli 2026

Hanya Persetujuan Allah yang Penting

04 Juli 2026

Bacaan Hari ini:
1 Petrus 4:16 "Tetapi, jika ia menderita sebagai orang Kristen, maka janganlah ia malu, melainkan hendaklah ia memuliakan Allah dalam nama Kristus itu."
--------------------
Ketika Anda berdiri untuk kebenaran dan melakukan apa yang benar, tidak ada alasan untuk merasa malu atau dipermalukan. Alkitab berkata dalam 1 Petrus 4:16, "Tetapi, jika ia menderita sebagai orang Kristen, maka janganlah ia malu, melainkan hendaklah ia memuliakan Allah dalam nama Kristus itu."

Izinkan saya bertanya kepada Anda: Apakah sebuah hinaan atau ejekan akan menentukan siapa diri Anda? Tidak. Apakah ketika seseorang memanggil Anda dengan sebutan tertentu atau memberi Anda label karena Anda berdiri bagi Kristus benar-benar akan mencelakakan Anda? Tidak. Apakah seseorang di media sosial yang sengaja memancing Anda untuk berdebat akan menjatuhkan Anda? Tidak.

Tidak satu pun dari hal-hal itu harus mengendalikan hidup Anda. Bahkan, tidak satu pun dari hal-hal itu harus memberikan dampak yang nyata dalam hidup Anda.

Inilah sebuah kebenaran yang sangat penting: Anda tidak memerlukan persetujuan orang lain untuk menjadi bahagia. Memahami kebenaran ini akan membebaskan hidup Anda.

Mungkin selama bertahun-tahun Anda telah berusaha diterima oleh kelompok tertentu atau mencari persetujuan dari seseorang. Saya tidak suka mengatakannya, tetapi jika sampai sekarang Anda belum mendapatkannya, mungkin Anda memang tidak akan pernah mendapatkannya. Kabar baiknya adalah Anda tidak membutuhkannya! Anda tidak memerlukan persetujuan siapa pun untuk menjadi bahagia.

Apa pun yang Anda lakukan dalam hidup, selalu akan ada seseorang yang tidak menyukainya. Anda tidak dapat menghindari ketidaksetujuan orang lain. Jadi, jika Anda tetap akan menghadapi penolakan, lebih baik ditolak karena melakukan yang benar daripada karena melakukan yang salah.

Ketika Anda menghadapi penentangan, ingatlah hal ini: Jika pendapat orang lain lebih penting bagi Anda daripada pendapat Allah, Anda akan hancur ketika diserang karena iman Anda kepada Yesus. Tetapi jika Anda berfokus kepada Allah dan kepada apa yang Anda tahu benar, maka Anda akan mampu berdiri teguh.
Seperti yang diteguhkan dalam Firman di ayat ini: "Lawanlah dia dengan iman yang teguh, sebab kamu tahu, bahwa semua saudaramu di seluruh dunia menanggung penderitaan yang sama" (1 Petrus 5:9).

Renungkan :

- Ketika Anda memiliki kesempatan untuk berdiri bagi kebenaran, apakah keinginan Anda untuk mendapatkan persetujuan orang lain memengaruhi cara Anda menanggapi situasi tersebut?

- Di manakah Anda dapat menemukan dorongan yang Anda perlukan untuk tetap berdiri teguh ketika orang-orang menentang iman Anda?

- Ketika orang lain tidak menyetujui Anda karena iman Anda, bagaimana hal itu memberi Anda kekuatan ketika mengetahui bahwa orang-orang percaya di seluruh dunia juga menderita karena iman mereka?

Bacaan Alkitab Setahun :
Ayub 25-27; Kisah Para Rasul 12
_____________
Anda tidak memerlukan persetujuan orang lain untuk menjadi bahagia. Hanya Persetujuan Allah yang Penting

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
===========
Only God’s Approval Matters - Daily Hope with Rick Warren - July 04, 2026

“It is no shame to suffer for being a Christian. Praise God for the privilege of being called by his name!” 1 Peter 4:16 (NLT)
------------------
When you stand for the truth and do what’s right, there’s no need to be ashamed or embarrassed. The Bible says in 1 Peter 4:16, “It is no shame to suffer for being a Christian. Praise God for the privilege of being called by his name!” (NLT).

Let me ask you: Is an insult or a putdown going to define you? No. Is somebody calling you a name or labeling you because you’ve made a stand for Christ going to truly harm you? No. Is some troll online who’s trying to bait you and start arguments going to take you down? No.

None of these things have to control your life. In fact, none of these things have to make any real impact on you at all.

Here’s a vital truth: You don’t need other people’s approval to be happy. Understanding this truth will liberate your life.

Maybe you’ve been trying to fit in with a certain group or get the approval of a certain person for many years. I hate to tell you, but if you haven’t gotten it by now, you may never get it. The good news is you don’t need it! You don’t need anybody’s approval in order to be happy.

No matter what you do in life, somebody’s not going to like it. You can’t avoid disapproval. So if you’re going to have people’s disapproval either way, you may as well have their disapproval for doing the right thing rather than the wrong thing.

As you face opposition, remember this: If other people’s opinions matter more to you than God’s opinion, you’re going to crumble when you’re attacked because of your faith in Jesus. But if you focus on God and on what you know is right, then you can take a firm stand.

Be encouraged by these words: “Stand firm against [the devil], and be strong in your faith. Remember that your family of believers all over the world is going through the same kind of suffering you are” (1 Peter 5:9 NLT).


Kamis, 02 Juli 2026

Berfokuslah pada Rekonsiliasi, Bukan Penyelesaian

03 Juli 2026

Bacaan Hari ini:
2 Korintus 5:18-19 "Dan semuanya ini dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diri-Nya dan yang telah mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepada kami. Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka. Ia telah mempercayakan berita pendamaian itu kepada kami."
--------------------
Ketika Anda ingin memulihkan hubungan yang rusak karena konflik, Anda harus berfokus pada rekonsiliasi, bukan penyelesaian.

Dan ada perbedaan besar antara keduanya.

Rekonsiliasi berarti memulihkan kembali hubungan. Ini bukan berarti Anda akan menikah lagi dengan mantan pasangan Anda; ini hanya berarti Anda hidup dalam damai satu sama lain.

Penyelesaian berarti Anda menyelesaikan setiap perbedaan pendapat—dan hal itu tidak akan pernah sepenuhnya terjadi. Kenyataannya, ada beberapa hal dalam pernikahan, persahabatan dan hubungan kerja Anda yang tidak akan pernah Anda sepakati karena kita semua berbeda. Tetapi Anda dapat berbeda pendapat tanpa menjadi orang yang suka bertengkar. Itulah yang disebut kedewasaan. Itulah yang disebut hikmat. Itulah yang disebut menjadi serupa dengan Kristus.

Kita dapat memiliki kesatuan tanpa keseragaman. Kita dapat berjalan bergandengan tangan tanpa harus selalu sependapat. Saya dan istri saya, Kay, telah menikah selama puluhan tahun dan kami tidak selalu sependapat dalam banyak hal. Tetapi kami tetap berjalan bergandengan tangan dan saling mendukung. Kami hidup dalam damai.

Inilah yang saya pelajari dari membimbing pasangan-pasangan yang menikah: Jika Anda berfokus pada memulihkan hubungan, sering kali persoalan-persoalan itu menjadi tidak begitu penting. Berapa banyak pertengkaran terbesar Anda sebenarnya terjadi karena hal-hal yang sangat kecil? Kita bertengkar mengenai begitu banyak hal kecil, tetapi kenyataannya pertengkaran itu bukanlah tentang hal-hal tersebut—melainkan tentang persoalan yang lebih besar. Daripada berusaha menyepakati setiap persoalan kecil, Anda perlu kembali berfokus pada hubungan itu sendiri.

Ada begitu banyak konflik di sekitar kita. Dunia kita dipenuhi perpecahan, pertengkaran, prasangka, rasisme dan perpecahan karena perbedaan pandangan politik. Akibatnya, kita memiliki hubungan yang rusak. Kita memiliki perekonomian yang rusak, pemerintahan yang rusak, pernikahan yang rusak, kehidupan yang rusak dan hati yang hancur.

Saya menantang Anda sebagai orang percaya untuk berkomitmen menjadi pembawa rekonsiliasi di dunia yang penuh konflik. Carilah cara untuk mempersatukan orang daripada memecah-belah mereka.

Alkitab berkata dalam 2 Korintus 5:18-19, "Dan semuanya ini dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diri-Nya dan yang telah mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepada kami. Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka. Ia telah mempercayakan berita pendamaian itu kepada kami."

Jika Anda adalah pengikut Yesus, Anda memiliki pelayanan rekonsiliasi. Tugas Anda adalah pergi ke tengah masyarakat dan berkata, "Allah telah melakukan segala sesuatu agar Anda dapat dipulihkan kembali dalam persekutuan dengan-Nya. Dia telah membayar semua dosa Anda. Anda tidak perlu menjadi musuh-Nya. Dia tidak marah kepada Anda. Dia sangat mengasihi Anda."

Renungkan :

- Apa satu bidang ketidaksepakatan dalam salah satu hubungan Anda yang belum dapat diselesaikan?

- Langkah-langkah apa yang dapat Anda ambil agar lebih berfokus pada memulihkan hubungan tersebut daripada berusaha menyelesaikan persoalannya?

- Bagaimana Anda dapat menjadi pembawa rekonsiliasi di tengah keluarga, tempat kerja dan komunitas Anda?

Bacaan Alkitab Setahun :
Ayub 22-24; Kisah Para Rasul 11
______________
Berdamailah dengan Allah. Hiduplah dalam damai dengan Allah. Lalu sebarkanlah damai itu kepada semua orang.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
========°°
Focus on Reconciliation, Not Resolution - Daily Hope with Rick Warren - July 03, 2026

“[God] has restored our relationship with him through Christ, and has given us this ministry of restoring relationships. In other words, God was using Christ to restore his relationship with humanity. He didn’t hold people’s faults against them, and he has given us this message of restored relationships to tell others.” 2 Corinthians 5:18-19 (GW)
----------------------
When you want to repair a relationship that’s been damaged by conflict, you have to focus on reconciliation, not resolution.

And there’s a big difference between the two.

Reconciliation means reestablishing the relationship. It doesn’t mean you’ll remarry your ex; it just means you’re at peace with each other.

Resolution means you resolve every disagreement—and that just isn’t going to happen. The truth is, there are some things in your marriage, your friendships, and your work relationships that you’re just never going to agree on—because we’re all different. But you can disagree without being disagreeable. That’s called maturity. That’s called wisdom. That’s called being like Christ.

We can have unity without uniformity. We can walk hand in hand together without seeing eye to eye. My wife, Kay, and I have been married for decades, and we don’t see eye to eye on a lot of things. But we walk hand in hand and support each other. We are at peace.

Here’s what I’ve learned from counseling married couples: If you focus on restoring your relationship, oftentimes the issues become insignificant. How many of your biggest arguments were over the smallest things? We fight about so many little things, but, in reality, the fights aren’t even about those things—they’re about bigger issues. Instead of trying to agree on every little issue, you need to get back to focusing on the relationship.

There’s a lot of conflict around us. Our world is filled with division, arguments, prejudice, racism, and partisanism. And as a result, we have broken relationships. We have broken economies, broken governments, broken marriages, broken lives, and broken hearts.

I challenge you as a believer to commit to becoming an agent of reconciliation in a world filled with conflict. Look for ways to bring people together rather than tear them apart.

The Bible says in 2 Corinthians 5:18-19, “[God] has restored our relationship with him through Christ, and has given us this ministry of restoring relationships. In other words, God was using Christ to restore his relationship with humanity. He didn’t hold people’s faults against them, and he has given us this message of restored relationships to tell others” (GW).

If you are a follower of Jesus, you have a ministry of reconciliation. It’s your job to go out in society and say, “God’s done everything to put you back in fellowship with him. He’s already paid for all your sins. You don’t have to be his enemy. He’s not mad at you. He’s mad about you.”

Be reconciled to God. Be at peace with God. Then spread that peace to everybody else.


Rabu, 01 Juli 2026

Apa yang Harus Diingat Saat Iman Anda Diuji

02 Juli 2026

Bacaan Hari ini:
Matius 5:10-12 "Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu."
-----------------
Ketika Anda merasa tertekan oleh dunia karena Anda mengasihi Yesus sementara orang lain tidak, Anda perlu mengingat tiga hal:

1. Penentangan dapat membuat Anda semakin serupa dengan Yesus.

Yesus berkata dalam Yohanes 15:18-20, "Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku dari pada kamu. Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya. Tetapi karena kamu bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu. ngatlah apa yang telah Kukatakan kepadamu: Seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya. Jikalau mereka telah menganiaya Aku, mereka juga akan menganiaya kamu; jikalau mereka telah menuruti firman-Ku, mereka juga akan menuruti perkataanmu."

Jika Anda ingin bertumbuh dewasa dan menjadi seperti Yesus, Anda harus mengalami hal-hal yang dialami Yesus, termasuk kesepian, keputusasaan, tekanan, dan pencobaan. Mengapa Allah harus membebaskan Anda dari semua itu jika Dia sendiri tidak membebaskan Anak-Nya dari hal-hal tersebut?

2. Penentangan akan memperdalam iman Anda.

Iman Anda seperti otot. Otot tidak bertumbuh ketika Anda duduk di kursi sambil makan popcorn. Otot bertumbuh ketika diregangkan, diberi tekanan dan diuji. Anda tidak akan pernah memiliki otot yang kuat jika tidak pernah ada beban yang menarik ke arah yang berlawanan.

Jika tidak ada penentangan dalam hidup Anda, iman Anda tidak sedang bertumbuh. Orang-orang percaya yang paling kuat di dunia saat ini adalah mereka yang imannya paling banyak diuji. Alkitab berkata dalam 1 Petrus 1:7, "Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya."

3. Penentangan akan membawa kepada upah kekal.

Matius 5:10-12 berkata, "Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu."

Allah akan memberkati setiap orang yang dianiaya karena hidup bagi-Nya. Tetapi perhatikan bahwa Anda tidak mendapat upah karena bersikap kasar atau menjengkelkan. Jika Anda hidup dengan sikap merasa diri benar ketika dianiaya, Anda bukan seorang martir; Anda adalah orang bodoh.

Renungkan :

- Bagaimana Anda telah menanggapi penentangan terhadap iman Anda? Bagaimana tanggapan itu memengaruhi perjalanan Anda bersama Allah?

- Seperti apa bentuk penganiayaan di dalam budaya Anda?

- Bagaimana Allah mungkin ingin Anda berdoa bagi orang-orang Kristen yang sedang dianiaya di seluruh dunia?

Bacaan Alkitab Setahun :
Ayub 20-21; Kisah Para Rasul 10:24-48
__________
Setiap kali Anda mengalami tekanan karena iman Anda, ingatlah tiga hal ini: Penentangan dapat membuat Anda semakin serupa dengan Yesus, memperdalam iman Anda dan membawa kepada upah kekal di surga.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
=========
What to Remember When Your Faith Is Challenged - Daily Hope with Rick Warren - July 02, 2026

“God blesses those who are persecuted for doing right, for the Kingdom of Heaven is theirs. God blesses you when people mock you and persecute you and lie about you and say all sorts of evil things against you because you are my followers. Be happy about it! Be very glad! For a great reward awaits you in heaven.” Matthew 5:10-12 (NLT)
-----------------
When you feel pressured by the world because you love Jesus and other people don’t, you need to remember three things:

1. Opposition can make you more like Jesus.

Jesus says in John 15:18-20, “If the world hates you, remember that it hated me first. The world would love you as one of its own if you belonged to it, but you are no longer part of the world. I chose you to come out of the world, so it hates you. Do you remember what I told you? ‘A slave is not greater than the master.’ Since they persecuted me, naturally they will persecute you. And if they had listened to me, they would listen to you” (NLT).

If you’re going to mature and be like Jesus, you’re going to have to go through the things Jesus went through, including loneliness, discouragement, stress, and temptation. Why would God spare you when he didn’t spare his own Son from those things?

2. Opposition will deepen your faith.

Your faith is like a muscle. A muscle doesn’t grow when you sit in a chair and eat popcorn. A muscle grows by being stretched, strained, and tested. You’re never going to grow a muscle if no weight is ever pulling in the opposite direction.

If you don’t have opposition in your life, your faith is not growing. The strongest believers in the world right now are those who are having their faith tested the most. The Bible says in 1 Peter 1:7, “These trials will show that your faith is genuine. It is being tested as fire tests and purifies gold—though your faith is far more precious than mere gold. So when your faith remains strong through many trials, it will bring you much praise and glory and honor on the day when Jesus Christ is revealed to the whole world” (NLT).

3. Opposition will lead to eternal rewards.

Matthew 5:10-12 says, “God blesses those who are persecuted for doing right, for the Kingdom of Heaven is theirs. God blesses you when people mock you and persecute you and lie about you and say all sorts of evil things against you because you are my followers. Be happy about it! Be very glad! For a great reward awaits you in heaven” (NLT).

God will bless everyone who’s persecuted for living for him. But notice that you don’t get rewarded for being rude or obnoxious. If you live a self-righteous life when you get persecuted, you’re not a martyr; you’re a fool.

Whenever you’re harassed for your faith, remember these three things: Opposition can make you more like Jesus, deepen your faith, and lead to eternal rewards in heaven.


Selasa, 30 Juni 2026

Menyelesaikan Konflik: Langkah Pertama

01 Juli 2026

Bacaan Hari ini:
Matius 7:3, 5 "Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? ...Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu."
---------------------
Salah satu keterampilan hidup yang paling penting yang perlu Anda pelajari adalah menyelesaikan konflik. Jika Anda tidak mempelajarinya, Anda akan menghabiskan sebagian besar hidup Anda dalam kesengsaraan. Mengapa? Karena kita adalah manusia yang tidak sempurna dan kita menghadapi konflik hampir setiap hari dalam hidup kita.

Dibutuhkan keberanian untuk mendatangi seseorang yang sedang berkonflik dengan Anda dan mengatakan bahwa Anda ingin duduk bersama untuk menyelesaikannya. Setelah Anda mengambil langkah itu, jangan memulai dengan apa yang telah dilakukan orang lain yang salah; jangan membuat tuduhan atau menyebutkan semua cara Anda telah disakiti. Mulailah dengan apa yang telah Anda lakukan yang salah.

Anda selalu dapat menemukan sesuatu untuk diakui. Sekalipun konflik itu 99,99 persen merupakan kesalahan orang lain, Anda tetap dapat mengakui bagian kesalahan Anda. Mungkin itu adalah respons Anda yang buruk atau sikap Anda. Mungkin itu adalah cara Anda pergi meninggalkan situasi tersebut.

Anda memiliki kelemahan dalam hidup yang dilihat dengan jelas oleh orang lain tetapi tidak pernah Anda sadari. Itulah titik buta Anda. Itulah sebabnya Anda perlu datang untuk menyelesaikan konflik dengan hati yang rendah hati dan memulai dengan kesalahan Anda sendiri.
Yesus berkata,"Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? ...Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu." (Matius 7:3, 5).

Apakah balok di mata Anda yang menghalangi Anda untuk melihat situasi dengan jelas? Jangan mulai dengan semua cara orang lain telah menyakiti Anda sampai Anda terlebih dahulu mengakui bagian Anda dalam konflik itu.
Apakah Anda menyebabkan konflik karena kurang peka? Atau apakah Anda terlalu peka? Apakah Anda gagal menunjukkan belas kasihan kepada orang yang sedang terluka? Apakah Anda terlalu banyak menuntut? Apa saja titik buta Anda?
Setelah Anda menyadarinya dan mengakuinya, Anda akan siap untuk langkah berikutnya dalam menyelesaikan konflik.

Renungkan :

- Apa yang membuat kita sulit melihat dosa kita sendiri dengan jelas?

- Menurut Anda, bagaimana pengaruhnya terhadap orang lain jika Anda memulai penyelesaian konflik dengan pengakuan daripada tuduhan?

- Pikirkan satu konflik yang belum terselesaikan dalam hidup Anda. Bagaimana Anda akan melangkah maju untuk menyelesaikannya? Bagaimana Anda akan mengambil langkah pertama?

Bacaan Alkitab Setahun :
Ayub 17-19; Kisah Para Rasul 10:1-23
____________
Untuk menyelesaikan konflik, terkadang Anda harus mengambil langkah pertama. Dan untuk melakukannya, Anda harus meminta pertolongan Allah.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
==========
Resolving Conflict: Step One - Daily Hope with Rick Warren - July 01, 2026

“Why do you notice the little piece of dust in your friend’s eye, but you don’t notice the big piece of wood in your own eye? . . . You hypocrite! First, take the wood out of your own eye. Then you will see clearly to take the dust out of your friend’s eye.” Matthew 7:3, 5 (NCV)
---------------------
One of the most important life skills you need to learn is conflict resolution. If you don’t learn it, you’ll spend much of your life miserable. Why? Because we’re imperfect people and we have conflict almost every day of our lives.

To resolve conflict, you sometimes have to make the first move. And to do that, you’re going to have to ask for God’s help.

It takes courage to approach someone you are in conflict with and tell them you want to sit down and work it out. Once you’ve taken that step, you don’t start with what the other person has done wrong; you don’t make accusations or list ways you’ve been hurt. You start with what you’ve done wrong.

You can always find something to confess. Even if the conflict is 99.99 percent the other person’s fault, you can admit your part. Maybe it was your poor response or your attitude. Maybe it was the way you walked away.

You have weaknesses in your life that others see clearly but you’ve never seen. Those are your blind spots. That’s why you need to come to conflict resolution with a humble heart and begin with your own faults.

Jesus said, “Why do you notice the little piece of dust in your friend’s eye, but you don’t notice the big piece of wood in your own eye? . . . You hypocrite! First, take the wood out of your own eye. Then you will see clearly to take the dust out of your friend’s eye” (Matthew 7:3, 5 NCV).

What’s the piece of wood in your eye that is keeping you from seeing the situation clearly? Don’t start with all the ways the other person has hurt you until you’ve confessed your part of the conflict first.

Did you cause conflict by being insensitive? Or were you overly sensitive? Did you not show compassion for the person who was hurting? Were you being overly demanding? What are your blind spots?

Once you figure them out and confess them, you’ll be ready for the next step in conflict resolution.


Senin, 29 Juni 2026

Manfaat Hidup dengan Integritas

30 Juni 2026

Bacaan Hari ini:
Amsal 20:7 "Orang benar yang bersih kelakuannya berbahagialah keturunannya. "
-----------------
Alkitab mengatakan bahwa Allah memberkati orang-orang yang memiliki integritas—mereka yang memiliki hati yang murni. Seperti yang dikatakan Yesus, "Berbahagialah orang yang suci hatinya" (Matius 5:8).
Jadi, berkat apa yang dapat Anda harapkan ketika Anda menjalani hidup dengan ketulusan dan hati yang murni?

Anda akan memiliki berkat berupa kepercayaan diri pribadi.
Ketika Anda memiliki integritas, Anda menjadi pribadi yang disukai orang lain untuk berada di dekatnya karena Anda tahu siapa diri Anda dan ke mana arah hidup Anda.
Amsal 10:9 berkata, "Siapa bersih kelakuannya, aman jalannya, tetapi siapa berliku-liku jalannya, akan diketahui."
Ketika Anda tidak memiliki integritas, itu seperti berjalan di jalan yang licin setelah badai salju. Anda menghabiskan seluruh tenaga hanya untuk berusaha agar tidak jatuh. Tetapi ketika Anda memiliki integritas, Anda berdiri di atas dasar yang kokoh.

Anda akan memiliki berkat berupa warisan yang bertahan lama.
Warisan terbesar Anda adalah integritas karena itu akan bertahan dari generasi ke generasi. Segala sesuatu yang lain yang Anda lakukan akan hilang. Ketika Anda meninggal, uang Anda akan dibagi dan dihabiskan oleh keluarga Anda. Pekerjaan Anda akan diberikan kepada orang lain. Semua piala yang pernah Anda menangkan akan dibuang ke tempat sampah.
Tetapi karakter Anda akan memengaruhi kehidupan orang-orang di sekitar Anda bahkan kehidupan generasi berikutnya. Itulah warisan yang bertahan lama.
Alkitab berkata dalam Amsal 20:7, "Orang benar yang bersih kelakuannya berbahagialah keturunannya. "

Anda akan memiliki berkat berupa upah di dalam kekekalan.
Matius 25:21 berkata, "Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu."
Kita cenderung berpikir bahwa penghargaan datang dari momen-momen besar dalam hidup, ketika semua orang sedang memperhatikan. Tetapi justru momen-momen kecillah yang menunjukkan integritas yang sesungguhnya. Setiap kata kecil yang memberi semangat yang Anda ucapkan minggu ini, setiap tindakan kecil kebaikan dan setiap kali Anda menolak godaan akan mendapatkan upah dalam kekekalan.

Renungkan :

- Pikirkan saat ketika Anda seharusnya memiliki integritas tetapi tidak melakukannya. Bagaimana hal itu memengaruhi Anda secara emosional, rohani, dan fisik?

- Bagaimana integritas Anda membuat perbedaan bagi generasi berikutnya?

- Tindakan-tindakan kecil apa yang dapat Anda lakukan minggu ini yang tidak akan diperhatikan orang lain tetapi akan menunjukkan integritas Anda kepada Allah?

Bacaan Alkitab Setahun :
Ayub 14-16; Kisah Para Rasul 9:22-43
______________
Integritas sangatlah kuat. Integritas membuat perbedaan yang luar biasa dalam hidup Anda, bukan hanya sekarang, tetapi juga untuk kehidupan Anda dalam kekekalan!

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
==========
The Benefits of Living with Integrity - Daily Hope with Rick Warren - June 30, 2026

“A righteous person lives on the basis of his integrity. Blessed are his children after he is gone.” Proverbs 20:7 (GW)
----------------------
The Bible says that God blesses those who have integrity—those who have pure hearts. As Jesus said, “Blessed are the pure in heart” (Matthew 5:8 NIV).

So what blessings can you expect when you live your life with authenticity and a pure heart?

You'll have the blessing of personal confidence.

When you have integrity, you become the kind of person that other people like to be around because you know who you are and where you’re going.

Proverbs 10:9 says, “People with integrity walk safely, but those who follow crooked paths will be exposed” (NLT).

When you don’t have integrity, it’s like walking on an icy path after a snowstorm. You’re putting every bit of your energy into trying not to fall. But when you have integrity, you stand on solid ground.

You’ll have the blessing of leaving a lasting legacy.

Your greatest legacy is your integrity because it will last from generation to generation. Everything else you do gets lost. When you’re gone, your money will be divided and spent among your family. Your work will be given to somebody else. All the trophies you’ve earned will be thrown in the trash and taken to the dump.

But your character is going to influence the lives of the people around you and even the lives of the next generation. It is a lasting legacy.

The Bible says in Proverbs 20:7, “A righteous person lives on the basis of his integrity. Blessed are his children after he is gone” (GW).

You’ll have the blessing of rewards in eternity.

Matthew 25:21 says, “You are a good and loyal servant. Because you were loyal with small things, I will let you care for much greater things” (NCV).

We tend to think that rewards come from the big moments of life, when everybody is watching. But it’s the small moments that reveal real integrity. Every small word of encouragement you give this week, every small act of kindness, and every time you reject a temptation will be rewarded in eternity.

Integrity is powerful. It makes an incredible difference in your life, not just now, but for your life in eternity!


Minggu, 28 Juni 2026

Apakah Anda Orang yang Sama di Mana Pun Anda Berada?

29 Juni 2026

Bacaan Hari ini:
Matius 5:8 "Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah."
---------------------
Apakah Anda sedang berusaha membangun hidup di atas nilai-nilai yang bertahan selamanya? Jika ya, Anda perlu belajar hidup dengan integritas.
Alkitab berkata dalam Matius 5:8, "Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah"
"Melihat Allah" berarti mengalami hadirat Allah. Orang-orang percaya yang memiliki hati yang murni dapat merasakan kuasa Allah. Mereka mengalami pengampunan Allah. Mereka mengenal tujuan yang Allah miliki bagi hidup mereka. Mereka hidup dalam damai sejahtera Allah.

Apakah Anda ingin menjadi salah satu dari orang-orang itu? Saat ini kita tidak banyak berbicara tentang kemurnian hati, tetapi kita menggunakan kata lain yang memiliki makna serupa: integritas.
Memiliki integritas bukan berarti Anda sempurna, karena jika demikian, tidak seorang pun dari kita memilikinya! Jadi, apa arti memiliki integritas?

Integritas adalah keutuhan.
Banyak orang memandang hidup mereka seperti sebuah pai dan bagian-bagian berbeda dari hidup mereka adalah potongan-potongan pai tersebut. Seseorang mungkin menggambarkan hidupnya seperti ini: "Potongan pai ini adalah karier saya. Ini adalah kehidupan pekerjaan saya. Ini adalah kehidupan rohani saya. Lalu ini adalah kehidupan keluarga saya. Yang itu adalah kehidupan sosial saya. Kemudian di sini adalah kehidupan rahasia saya—dorongan, kecanduan dan dosa-dosa rahasia saya—hal-hal yang tidak diketahui orang lain."
Ketika Anda membagi-bagi hidup seperti itu, Anda kehilangan integritas karena hidup Anda tidak utuh. Integritas berarti Anda adalah orang yang sama di mana pun dan dengan siapa pun—dalam perkataan, tindakan, dan motivasi Anda—apa pun bagian kehidupan yang sedang Anda jalani.

Integritas adalah motivasi yang tidak tercemar.
Ketika Anda memiliki integritas, Anda melakukan hal yang benar dengan alasan yang benar. Anda memiliki motivasi yang murni dan tidak bercampur. Anda tulus dan jujur dalam setiap bidang kehidupan serta dengan semua orang. Anda berdoa agar dapat berbicara dengan Allah, bukan supaya dapat mengesankan orang lain.
Alkitab berkata, "Orang yang serong hatinya adalah kekejian bagi TUHAN, tetapi orang yang tak bercela, jalannya dikenan-Nya." (Amsal 11:20).

Kita tertarik pada citra diri, tetapi Allah tertarik pada integritas. Kita tertarik pada reputasi, tetapi Allah tertarik pada karakter. Reputasi berhubungan dengan apa yang orang pikirkan tentang diri Anda; integritas adalah siapa diri Anda sebenarnya. Reputasi berkaitan dengan bagaimana Anda tampak di depan umum; integritas berkaitan dengan siapa Anda ketika Anda sendirian bersama Allah.

Renungkan

- Apakah orang-orang di setiap area kehidupan Anda—rekan kerja, teman sekolah, tetangga, anggota keluarga, dan teman-teman—akan menggunakan kata-kata yang sama untuk menggambarkan Anda? Mengapa atau mengapa tidak?

- Pikirkan seseorang dalam hidup Anda yang menjadi teladan integritas dengan baik. Kebiasaan spesifik apa yang dapat Anda pelajari dari orang tersebut?

- Kapan Anda paling tergoda untuk lebih menghargai dan melindungi reputasi daripada karakter? Mengapa?

Bacaan Alkitab Setahun :
Ayub 11-13; Kisah Para Rasul 9:1-21
____________
Apakah Anda lebih peduli pada citra dan reputasi daripada karakter dan integritas? Berkomitmenlah untuk menjadi pribadi yang berintegritas hari ini.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
==========
Are You the Same Person Wherever You Go? - Daily Hope with Rick Warren - June 29, 2026

“God blesses those whose hearts are pure, for they will see God.” Matthew 5:8 (NLT)
-----------------
Are you working to build your life on values that last? If you are, you need to learn to live with integrity.

The Bible says in Matthew 5:8, “God blesses those whose hearts are pure, for they will see God” (NLT).

To “see God” means to experience the presence of God. Believers who have pure hearts get to feel the power of God. They experience the pardon of God. They get to know the purpose God has for their lives. They get to live in the peace of God.

Do you want to be one of those people? We don’t talk a lot these days about being pure in heart, but instead we use a word with a similar meaning: integrity.

To have integrity does not mean you are perfect, because if it did, none of us would have it! So what does it mean to have integrity?

Integrity is wholeness.

A lot of people think of their lives like a pie, and the different parts of their lives are the pieces of the pie. Someone might describe their life like this:

“This slice of the pie is my career. This is my work life. This is my spiritual life. Then this is my family life. That one is my social life. Then over here is my secret life—my compulsions, addictions, and secret sins—the things nobody else knows about.”

When you segment your life like that, you lack integrity because your life is not a whole. Integrity means you’re the same person everywhere and with everybody—in your speech, actions, and motives—no matter which part of life you’re walking through.

Integrity is uncorrupted motivation.

When you have integrity, you do the right thing for the right reason. You have unmixed, pure motives. You’re sincere and straightforward in every area of your life and with all people. You pray so you can talk with God, not so you can impress other people.

The Bible says, “The Lord detests people with crooked hearts, but he delights in those with integrity” (Proverbs 11:20 NLT).

We’re interested in image, but God is interested in integrity. We’re interested in reputation, but God is interested in character. Reputation has to do with what everybody thinks you are; integrity is what you really are. Your reputation is connected to who you appear to be in public; integrity is connected to who you are when you’re all alone with God.

Have you been more concerned about your image and reputation than your character and integrity? Commit to being a person of integrity today.


Sabtu, 27 Juni 2026

Tujuh Cara Menunjukkan Belas Kasihan

28 Juni 2026

Bacaan Hari ini:
Matius 5:7 "Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan."
-----------------------
Tuhan telah menunjukkan belas kasihan kepada kita, meskipun kita tidak layak menerimanya dan tidak dapat memperolehnya dengan usaha kita sendiri. Yang perlu kita lakukan hanyalah datang kepada-Nya dan memintanya. "Sebab Engkau, ya Tuhan, baik dan suka mengampuni dan berlimpah kasih setia bagi semua orang yang berseru kepada-Mu." Mazmur 86:5

Karena Tuhan telah mengasihani kita, kita juga dipanggil untuk menunjukkan belas kasihan kepada orang lain. Berikut tujuh cara praktis untuk melakukannya:

1. Bersabarlah terhadap Kebiasaan Orang Lain yang Menjengkelkan

Setiap orang memiliki kelemahan dan kebiasaan yang mungkin membuat kita kesal.
Belas kasihan memilih untuk:

- Bersabar daripada marah

- Memahami daripada menghakimi

- Mengasihi daripada mengeluh

Renungkan: Siapa orang yang paling sering menguji kesabaran Anda? Bagaimana Anda dapat menunjukkan kesabaran kepada mereka minggu ini?

2. Tolonglah Orang yang Sedang Terluka

Di sekitar kita selalu ada orang yang sedang mengalami kesulitan:

- Kesepian

- Kehilangan pekerjaan

- Masalah keluarga

- Sakit

- Beban emosional

Belas kasihan membuka mata untuk melihat kebutuhan mereka.
Renungkan: Siapa yang saat ini membutuhkan dukungan Anda? Apa satu tindakan nyata yang dapat Anda lakukan hari ini?

3. Berikan Kesempatan Kedua

Tuhan berkali-kali memberi kita kesempatan baru.
Karena itu kita juga dipanggil untuk memberi kesempatan kepada orang lain untuk bertumbuh dan berubah.
Memberi kesempatan kedua bukan berarti mengabaikan kesalahan, tetapi memilih untuk tidak membiarkan masa lalu menentukan masa depan seseorang.
Renungkan: Adakah seseorang yang perlu Anda ampuni atau beri kesempatan lagi?

4. Berbuat Baik kepada Orang yang Menyakiti Anda

Ini adalah salah satu bentuk belas kasihan yang paling sulit.
Yesus mengajarkan kita untuk membalas kejahatan dengan kebaikan.
Ketika kita memilih berbuat baik kepada orang yang menyakiti kita, kita memutus rantai kebencian dan membiarkan kasih Tuhan bekerja.
Renungkan: Apakah ada luka lama yang masih Anda simpan?

5. Bersikap Baik kepada Orang yang Menyinggung Anda

Tidak semua orang akan berpikir atau berbicara seperti kita.
Belas kasihan mengajarkan kita untuk tetap menunjukkan rasa hormat dan kebaikan bahkan kepada mereka yang berbeda pendapat.
Kebaikan sering kali membuka hati lebih efektif daripada perdebatan.
Renungkan: Siapa orang yang paling mudah membuat Anda tersinggung?

6. Bangun Jembatan Kasih kepada Orang yang Terpinggirkan

Yesus selalu memperhatikan orang-orang yang diabaikan oleh masyarakat.
Belas kasihan mengajak kita untuk:

- Menyapa yang kesepian

- Menolong yang tersisih

- Merangkul yang tidak populer

Terkadang tindakan kecil seperti menyapa atau mendengarkan dapat mengubah hidup seseorang.
Renungkan: Siapa di sekitar Anda yang tampak sendirian atau terabaikan?

7. Utamakan Hubungan daripada Aturan

Aturan memang penting, tetapi hubungan lebih penting.
Belas kasihan melihat manusia lebih dulu sebelum prosedur.
Kasih sering kali menuntut kita untuk:

- Mendengar lebih banyak

- Menghakimi lebih sedikit

- Memahami sebelum menuntut

Ketika hubungan menjadi prioritas, kasih Tuhan dapat bekerja lebih efektif melalui kita.

Renungan Pribadi
Tanyakan kepada diri Anda hari ini:

- Dari tujuh cara ini, mana yang paling mudah bagi saya?

- Mana yang paling sulit?

- Mengapa bagian itu sulit?

- Siapa yang Tuhan tempatkan dalam hidup saya untuk menerima belas kasihan minggu ini?

Bacaan Alkitab Setahun :
Ayub 8-10; Kisah Para Rasul 8:26-40
______________
Tuhan telah menunjukkan belas kasihan kepada kita, meskipun kita tidak layak menerimanya dan tidak dapat memperolehnya dengan usaha kita sendiri.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
==========
Seven Ways to Demonstrate Mercy - Daily Hope with Rick Warren - June 28, 2026

“God blesses those who are merciful, for they will be shown mercy.” Matthew 5:7 (NLT)
----------------------
God extends his mercy to us, even though we don’t deserve it and can’t earn it. All we have to do is ask for it: “O Lord, you are so good and kind, so ready to forgive, so full of mercy for all who ask your aid” (Psalm 86:5 TLB).

How can you be merciful to others as God is merciful to you? Here are seven practical ways to demonstrate mercy in your life:

Be patient with people’s quirks. What person in your life has irritating quirks? How can you practice patience with them this week?
Help anyone around you who is hurting. Who around you is obviously hurting? What’s one specific way you can help that person? If you can’t think of anybody, then you’re not paying attention. Look closer!
Give people a second chance. Who do you need to give a second chance to? How can you put aside your own pain and give someone who’s hurt you a clean slate?
Do good to those who hurt you. Maybe you’re suffering from an old wound that you have not been able to let go of. You need to forgive and then turn it around for good. Who is that person in your life? How can you reach out to them some way this week?
Be kind to those who offend you. Who offends you? Maybe it’s someone in the public eye. Maybe it’s a friend who has different views and says some pretty offensive things on social media. How can you be intentional about showing kindness to people who offend you?
Build bridges of love to the unpopular. When you think of an outcast, who is the first person that comes to mind? Who spends their lunch breaks eating alone or doesn’t seem to have any friends at soccer games? What specific thing can you do to bridge the gap between you and that person?
Value relationships over rules. Who is an unbeliever you could spend intentional time with over the next few weeks? Then consider inviting that person to church. This is your ministry of mercy.

Take some time to reflect on your answers today—that’s where you can begin showing mercy. God has already shown you mercy, and as you extend it to others, you’ll experience it in new ways.