Selasa, 01 September 2026

《Hidup untuk Bahagia, Bukan untuk Mengalahkan Orang Lain》

# 《Hidup untuk Bahagia, Bukan untuk Mengalahkan Orang Lain》

Ini adalah sebuah pengingat yang mendalam dan menyejukkan hati:

Kita hidup untuk mengalami dan merasakan kebahagiaan, bukan untuk terus-menerus membandingkan diri dan berlomba menang atau kalah dengan orang lain.

Ketika kita terbiasa membandingkan kehidupan kita dengan pencapaian, keberuntungan, atau kehidupan orang lain yang tampak sempurna dari luar, kita justru mudah terjebak dalam kecemasan dan kehilangan arah.

### Mengapa kita tidak perlu bersaing untuk menang atau kalah dengan orang lain?

**• Kebahagiaan tidak memiliki satu standar yang sama.**
Setiap orang memiliki titik awal, tantangan hidup, dan tujuan yang berbeda. Mengukur kehidupan kita dengan ukuran milik orang lain tidaklah berarti.

**• Perbandingan hanya menguras energi.**
Terlalu memperhatikan orang lain yang sukses dalam pekerjaan atau tampak memiliki kehidupan sempurna hanya akan memperbesar kecemasan kita dan menjauhkan kita dari ketenangan hati.

**• Kehidupan bukanlah arena pertandingan.**
Kita tidak perlu membuktikan kepada siapa pun bahwa kita lebih hebat daripada orang lain. Kita hidup untuk diri kita sendiri dan untuk orang-orang yang menyayangi kita.

### Bagaimana menemukan kembali irama hidup kita sendiri?

**• Fokus pada perasaan dan kehidupan kita sendiri.**
Arahkan perhatian kepada pertanyaan: *“Apakah hari ini saya menjalani hidup dengan baik?”* atau *“Apakah hari ini saya sudah membuat diri sendiri tersenyum?”* — bukan *“Apakah saya sudah mengalahkan orang lain?”*

**• Rangkul ketidaksempurnaan.**
Terimalah langkah hidup kita sendiri, hargai apa yang kita miliki saat ini, dan tanamkan dalam hati: **“Saya adalah saya.”**

**• Tentukan sendiri arti kesuksesan.**
Kebahagiaan, ketenangan, dan kehidupan yang tenteram jauh lebih berharga daripada sebuah kata **“menang”** yang pada akhirnya bisa terasa sepi.

❤️🌲🌲❤️❤️🌲🌲❤️❤️🌲🌲❤️
❤️🌲 **GLX. 2026.08.08.** 🌲❤️
❤️🌲🌲❤️❤️🌲🌲❤️🌲🌲❤️


Jika Anda Memiliki Kebutuhan, Tanamlah Benih

02 September 2026

Bacaan Hari ini:
Yohanes 12:24 "jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah."
-----------------
Apa yang dilakukan seorang petani ketika memiliki ladang yang tandus dan tidak menghasilkan pendapatan? Ia tidak mengeluh tentang ladang itu. Ia bahkan tidak perlu berdoa tentang hal itu! Ia cukup pergi dan mulai menanam benih, karena tidak akan terjadi apa-apa sampai ia menanam benih. Ia boleh berdoa sebanyak yang ia mau, tetapi doa tidak menggantikan tindakan untuk menanam.

Mungkin Anda merasa sedang menunggu Allah. Anda merasa sedang menunggu Allah memberikan pekerjaan. Anda merasa sedang menunggu Allah memberikan pasangan hidup. Anda merasa sedang menunggu datangnya rezeki besar.

Namun, mungkin Allah sedang berkata kepada Anda, "Anda pikir Anda sedang menunggu Aku? Aku justru sedang menunggu Anda! Aku sedang menunggu Anda menanam sebuah benih."

Segala sesuatu dalam hidup dimulai dari sebuah benih: sebuah hubungan, pernikahan, bisnis, bahkan gereja. Dan tidak ada sesuatu yang akan terjadi sampai benih itu ditanam.

Mengapa Allah meminta Anda menanam sebuah benih? Karena menanam adalah tindakan iman. Anda mengambil apa yang Anda miliki, lalu memberikannya. Hal itu membutuhkan iman dan membawa kemuliaan bagi Allah.
Yesus menjelaskan prinsip menabur dan menuai ketika Dia sedang menjelaskan alasan Dia datang ke dunia untuk mati di kayu salib. Dalam Yohanes 12:24, Yesus berkata: "jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah."

Yesus sedang berkata, "Orang-orang akan diselamatkan dan pergi ke surga karena kematian dan kebangkitan-Ku. Aku akan menanam sebuah benih, dan benih itu adalah hidup-Ku."

Inilah prinsip menabur dan menuai: Setiap kali Anda memiliki kebutuhan, tanamlah sebuah benih.

Apa pun yang Anda butuhkan—lebih banyak waktu, lebih banyak tenaga, lebih banyak uang, lebih banyak dukungan, lebih banyak hubungan atau lebih banyak hikmat—tanamlah sebuah benih.
Jika Anda membutuhkan lebih banyak waktu, berikan lebih banyak waktu kepada anak-anak Anda.
Jika Anda membutuhkan lebih banyak uang, berikan sebagian kepada seseorang yang membutuhkannya.
Jika Anda membutuhkan lebih banyak hikmat, bagikan hikmat yang Anda miliki kepada orang lain.
Berikan diri Anda untuk orang lain!

Renungkan :

- Kebutuhan apa yang selama ini Anda nantikan agar Allah sediakan?


- Menurut Anda, apa yang mungkin sedang Allah tunggu untuk Anda lakukan terkait kebutuhan tersebut? Benih apa yang dapat Anda tanam hari ini?


- Hasil seperti apa yang Anda lihat dalam diri Anda dan orang lain ketika Anda menanam sebuah benih dan memberikan diri Anda untuk orang lain? Bagaimana Allah sedang membentuk karakter Anda melalui hal tersebut?

Bacaan Alkitab Setahun :
Mazmur 135-136; I Korintus 12
___________
*Mungkin bagi Anda tidak masuk akal untuk memberikan sesuatu yang justru sedang Anda butuhkan lebih banyak. Namun, justru sikap seperti inilah yang ingin Allah berkati dan yang akan menghasilkan buah dalam hidup Anda.*

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
========
*If You Have a Need, Plant a Seed*
By Rick Warren

*“Unless a kernel of wheat falls to the ground and dies, it remains only a single seed. But if it dies, it produces many seeds.”* John 12:24 (NIV)
-----------
What does a farmer do when he has a barren field that’s producing no income? He doesn’t complain about it. He doesn’t even have to pray about it! He just goes out and starts planting some seed, because nothing is going to happen until he plants the seed. He can pray all he wants, but prayer doesn’t replace planting.

Maybe you think you’re waiting on God. You think you’re waiting on God for that job. You think you’re waiting on God for a spouse. You think you’re waiting on God for the windfall. But God might be saying to you, “You think you’re waiting on me? I’m waiting on you! I’m waiting for you to plant a seed.”

Everything in life starts as a seed: a relationship, a marriage, a business, a church. And nothing happens until the seed is planted.

Why does God require you to plant a seed? Because planting is an act of faith. You take what you’ve got, and you give it away. That takes faith, and it brings glory to God.

Jesus described this principle of sowing and reaping when he was trying to explain why he came to earth to die on the cross. In John 12:24 Jesus said, “Unless a kernel of wheat falls to the ground and dies, it remains only a single seed. But if it dies, it produces many seeds” (NIV). Jesus was saying, “People will be saved and go to heaven because of my death and resurrection. I’m going to plant a seed, and the seed is going to be my life.”

Here’s the principle of sowing and reaping: Whenever you have a need, plant a seed. Whatever you need—more time, more energy, more money, more support, more relationships, more wisdom—just plant a seed. If you need more time, give more time to your kids. If you need more money, give it away to someone who needs it. If you need more wisdom, share what wisdom you have with others. Give yourself away!

It may not make sense to you to give away something that you need more of, but that is exactly the kind of attitude that God wants to bless and that will produce fruit in your life.


Senin, 31 Agustus 2026

《Hidup untuk Bahagia, Bukan untuk Mengalahkan Orang Lain》



Yahoo pengingat yang mendalam dan menyejukkan hati:

Kita hidup untuk mengalami dan merasakan kebahagiaan, bukan untuk terus-menerus membandingkan diri dan berlomba menang atau kalah dengan orang lain.

Ketika kita terbiasa membandingkan kehidupan kita dengan pencapaian, keberuntungan, atau kehidupan orang lain yang tampak sempurna dari luar, kita justru mudah terjebak dalam kecemasan dan kehilangan arah.

### Mengapa kita tidak perlu bersaing untuk menang atau kalah dengan orang lain?

• Kebahagiaan tidak memiliki satu standar yang sama.
Setiap orang memiliki titik awal, tantangan hidup, dan tujuan yang berbeda. Mengukur kehidupan kita dengan ukuran milik orang lain tidaklah berarti.

• Perbandingan hanya menguras energi.
Terlalu memperhatikan orang lain yang sukses dalam pekerjaan atau tampak memiliki kehidupan sempurna hanya akan memperbesar kecemasan kita dan menjauhkan kita dari ketenangan hati.

• Kehidupan bukanlah arena pertandingan.
Kita tidak perlu membuktikan kepada siapa pun bahwa kita lebih hebat daripada orang lain. Kita hidup untuk diri kita sendiri dan untuk orang-orang yang menyayangi kita.

### Bagaimana menemukan kembali irama hidup kita sendiri?

• Fokus pada perasaan dan kehidupan kita sendiri.
Arahkan perhatian kepada pertanyaan: “Apakah hari ini saya menjalani hidup dengan baik?” atau “Apakah hari ini saya sudah membuat diri sendiri tersenyum?” — bukan “Apakah saya sudah mengalahkan orang lain?”

• Rangkul ketidaksempurnaan.
Terimalah langkah hidup kita sendiri, hargai apa yang kita miliki saat ini, dan tanamkan dalam hati: ==> “Saya adalah saya.”

• Tentukan sendiri arti kesuksesan.
Kebahagiaan, ketenangan, dan kehidupan yang tenteram jauh lebih berharga daripada sebuah kata ==> “menang” yang pada akhirnya bisa terasa sepi.

❤️🌲🌲❤️❤️🌲🌲❤️❤️🌲🌲❤️
❤️🌲 **GLX. 2026.08.08.** 🌲❤️

❤️🌲🌲❤️❤️🌲🌲❤️🌲🌲❤️ail: Cari, Atur, Taklukkan
Uploaded Image

Apakah Harta yang Anda Miliki Justru Menguasai Anda?

01 September 2026

Bacaan Hari ini:
Mazmur 17:15 "Tetapi aku, dalam kebenaran akan kupandang wajah-Mu, dan pada waktu bangun aku akan menjadi puas dengan rupa-Mu"
-----------------
Hidup bukanlah tentang benda-benda yang Anda miliki. Anda harus memiliki cara pandang yang benar terhadap apa yang Anda miliki, atau pada akhirnya harta yang Anda miliki justru akan menguasai Anda. Anda perlu menyadari bahwa tidak satu pun dari semua itu akan bertahan selamanya.

Yesus berkata dalam Lukas 12:15 "Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu"

Jangan pernah mengukur nilai diri Anda berdasarkan jumlah kekayaan yang Anda miliki. Jangan pernah berpikir bahwa nilai diri Anda berkaitan dengan barang-barang berharga yang Anda miliki.
Sadari bahwa hal-hal terbaik dalam hidup bukanlah benda. Anda tidak membawa apa pun ketika datang ke dunia, dan Anda juga tidak akan membawa apa pun ketika meninggalkan dunia ini.

Hidup bukan tentang memperoleh sebanyak-banyaknya atau mencapai sebanyak-banyaknya. Hidup adalah tentang hubungan dan belajar mengasihi Allah serta orang lain.

Cara terbaik untuk mengingat bahwa hidup Anda bukanlah tentang harta benda adalah dengan membangun kehidupan berdasarkan prioritas yang kekal. Fokuslah pada hal-hal yang akan bertahan selamanya.
Setiap harta benda hanya bersifat sementara, jadi jangan membangun hidup Anda dengan tujuan mengumpulkan sebanyak mungkin harta. Hanya dua hal yang akan bertahan selamanya: Firman Allah dan manusia.

Anda harus membuat sebuah pilihan. Dunia mengatakan bahwa Anda perlu mendapatkan lebih banyak agar menjadi lebih bahagia, lebih sukses, lebih penting, lebih berharga dan lebih aman.
Jadi, Anda harus menentukan pilihan: Apakah Anda akan mendengarkan Madison Avenue atau Sang Guru? Apakah Anda akan mendengarkan budaya atau Kristus? Apakah Anda akan mendengarkan dunia atau Firman Allah?
Salah satunya akan membuat Anda tidak pernah merasa puas sepanjang hidup; yang lainnya akan membuat Anda benar-benar bahagia.

Sebelum Anda dapat bergerak menuju kebebasan finansial, Anda perlu bertanya kepada diri sendiri:
"Apa tujuan utama hidup saya? Apakah hidup saya hanya untuk mendapatkan lebih banyak? Apa yang saya pikirkan, bicarakan, dan beri perhatian? Untuk apa saya menjalani hidup ini?"

Lihatlah di sekitar Anda dan Anda akan menemukan banyak orang yang memiliki banyak hal untuk menunjang hidup mereka. Anda dapat melihat para selebritas di televisi dan para pebisnis sukses di lingkungan Anda. Rekening bank mereka mungkin penuh dan mereka memiliki banyak hal untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Namun, sebagian dari mereka mungkin hanya memiliki sedikit hal yang menjadi alasan untuk menjalani hidup.

Bagaimana dengan Anda?
Anda mungkin memiliki banyak hal untuk menunjang kehidupan Anda, tetapi apakah Anda memiliki sesuatu yang menjadi alasan untuk hidup?

Apakah Anda memiliki hubungan dengan Allah?
Dunia menawarkan sebuah anggapan bahwa Anda bisa memiliki semuanya. Tetapi kenyataannya, Anda tidak bisa memiliki semuanya. Dan yang lebih penting, Anda tidak membutuhkan semuanya untuk menjadi bahagia.

Rahasia merasa cukup adalah menemukan rasa aman dan kepuasan bukan dari apa yang Anda miliki, tetapi dari siapa yang memiliki Anda. Anda menemukannya di dalam Kristus.
"Tetapi aku, dalam kebenaran akan kupandang wajah-Mu, dan pada waktu bangun aku akan menjadi puas dengan rupa-Mu" Mazmur 17:15

Renungkan :

- Hal-hal apa yang bersifat nyata maupun tidak nyata yang selama ini Anda berusaha kumpulkan, tetapi justru membuat Anda mengabaikan hubungan Anda dengan Allah?


- Bagaimana Anda pernah mengorbankan hubungan dengan orang lain demi mengejar kesuksesan atau status? Apa yang perlu Anda lakukan hari ini untuk mulai memperbaiki hubungan tersebut?


- Apakah Anda baik-baik saja jika tidak bisa “memiliki semuanya”? Mengapa atau mengapa tidak?

Bacaan Alkitab Setahun :
Mazmur 132-134; I Korintus 11:17-34
__________
Kebahagiaan Anda bergantung pada pilihan Anda.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
=========
*Do Your Possessions Possess You?*
By Rick Warren

*“But as for me, my contentment is not in wealth but in seeing you and knowing all is well between us. And when I awake in heaven, I will be fully satisfied, for I will see you face-to-face.”* Psalm 17:15 (TLB)
------------------
Life is not about things. You have to maintain the right perspective about what you own, or you’ll be possessed by your possessions. You’ve got to realize that none of it is going to last.

Jesus says in Luke 12:15, “Watch out and guard yourselves from every kind of greed; because your true life is not made up of the things you own, no matter how rich you may be” (GNT).

Never judge your self-worth by your net worth. Never think your value is related to your valuables. Realize that the greatest things in life aren’t things. You didn’t bring anything into the world, and you won’t take anything out of it. Life is not about acquisition or achievement; it’s about relationships and learning how to love God and other people.

The best way to remember that your life is not about things is to build it on eternal priorities. Focus on what will last forever. Every possession is temporary, so don’t build your life on acquiring possessions. Only two things are going to last forever: the Word of God and people.

You’ve got a choice to make. The world is telling you that you need to get more to be happier, more successful, more important, more valuable, and more secure. So you’ve got to decide: Are you going to listen to Madison Avenue or the Master? Are you going to listen to culture or Christ? Are you going to listen to the world or the Word? One will leave you dissatisfied the rest of your life; one will make you truly happy.

Before you can move toward financial freedom, you have to ask yourself, “What is the primary purpose of my life? Is it just to get more? What do I think about, talk about, and give my attention to? What am I living my life for?”

Look around, and you’ll see many people who have a lot to live on. You’ll see celebrities on television and successful businesspeople in your own community. These people’s bank accounts are overflowing. They have plenty to live on, but some of them may have very little to live for.

What about you? You may have a lot to live on, but do you have anything to live for? Do you have a relationship with God? The myth of the world is that you can have it all. The truth is that you can’t have it all. And, more importantly, you don’t need it all to be happy. You’re as happy as you choose to be.

The secret to contentment is finding your security and your satisfaction not in what you have but in whose you are. You find it in Christ.

The Living Bible paraphrase says, “But as for me, my contentment is not in wealth but in seeing you and knowing all is well between us. And when I awake in heaven, I will be fully satisfied, for I will see you face-to-face” (Psalm 17:15).

Minggu, 30 Agustus 2026

Cara Memilih Kebahagiaan Hari Ini

31 Agustus 2026

Bacaan Hari ini:
Pengkhotbah 5:19 *"Setiap orang yang dikaruniai Allah kekayaan dan harta benda dan kuasa untuk menikmatinya, untuk menerima bahagiannya, dan untuk bersukacita dalam jerih payahnya--juga itupun karunia Allah."*
--------------------
Alkitab berkata dalam 1 Timotius 6:17 bahwa Allah "yang dalam kekayaan-Nya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati.". Itulah Allah yang kita sembah. Dia memberikan dunia ini kepada kita untuk kita nikmati! Namun, inilah masalahnya: kita terlalu sibuk berusaha mendapatkan lebih banyak sehingga tidak menikmati apa yang sudah kita miliki.

Rahasia untuk merasa cukup adalah belajar menikmati apa yang telah Allah berikan kepada Anda. Pengkhotbah 5:19 berkata: "Setiap orang yang dikaruniai Allah kekayaan dan harta benda dan kuasa untuk menikmatinya, untuk menerima bahagiannya, dan untuk bersukacita dalam jerih payahnya--juga itupun karunia Allah."

Salah satu hal yang paling saya sukai adalah melihat matahari terbit dari lereng di halaman rumah kami. Puluhan tahun yang lalu, saya menaruh kursi santai di sana. Saya rasa saya membelinya di Target, dan harganya tidak mahal. Warnanya sudah pudar, dan beberapa bilah kayunya sudah rusak. Saya senang duduk di kursi tua yang sudah usang itu sambil melihat matahari terbit. Hal itu memberi saya kebahagiaan yang besar!

Apakah saya akan mendapatkan lebih banyak kebahagiaan jika melihat matahari terbit sambil duduk di kursi malas bertabur berlian daripada di kursi tua saya? Tidak, itu tidak akan menambah kebahagiaan saya sedikit pun. Bahkan, ada keuntungan karena saya tidak memiliki kursi malas bertabur berlian dan memilih merasa cukup dengan kursi lama saya: tidak ada orang yang akan mencurinya!

Anda perlu bertanya kepada diri sendiri, “Apa yang belum saya nikmati saat ini?”

Sebagian besar dari kita terjebak dalam pola pikir yang saya sebut “nanti kalau, baru kemudian.” Kita berpikir, “Kalau ini terjadi, barulah saya akan bahagia.”

"Kalau saya punya pacar, barulah saya bahagia."

"Kalau saya menikah, barulah saya bahagia."

"Kalau saya punya anak, barulah saya bahagia."

"Kalau anak-anak saya sudah pergi sekolah, barulah saya bahagia."

"Kalau saya menikah lagi, barulah saya bahagia."

Namun, inilah kebenarannya: kebahagiaan Anda bergantung pada pilihan Anda. Jika Anda tidak bahagia sekarang, Anda tidak akan otomatis bahagia nanti. Kebahagiaan adalah sebuah pilihan!

Saya bisa membawa Anda ke beberapa tempat yang paling miskin di dunia dan menunjukkan dua orang yang tinggal bersebelahan. Yang satu hidup dengan penuh kesengsaraan, sementara yang satu lagi bahagia. Mengapa? Kebahagiaan tidak bergantung pada keadaan Anda, tetapi sangat berkaitan dengan sikap Anda.

Jika Anda tidak bahagia dengan apa yang Anda miliki dan jalani sekarang, saya dapat memastikan bahwa Anda tidak akan otomatis bahagia hanya karena memiliki lebih banyak. Sebab, sebanyak apa pun yang Anda miliki, Anda akan selalu menginginkan sedikit lebih banyak lagi.

Kebahagiaan adalah sebuah pilihan. Pilihlah sekarang untuk menikmati apa yang telah Allah berikan kepada Anda!

Renungkan :

- Apa saja yang telah Allah berikan sebagai berkat dalam hidup Anda, tetapi belum Anda nikmati sepenuhnya?


- Apa yang selama ini Anda tunggu agar Anda bisa merasa bahagia?


- Jika kebahagiaan adalah sebuah pilihan, mengapa orang memilih untuk tidak bahagia?

Bacaan Alkitab Setahun :
Mazmur 129-131; 1 Korintus 11:1-16
____________
Daripada terus berusaha mendapatkan lebih banyak, perhatikan apa yang Anda miliki sekarang. Bukalah mata Anda, hargai apa yang telah Allah berikan kepada Anda dan nikmatilah apa yang Anda miliki.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
=======
*How to Choose Happiness Today*
By Rick Warren

*“If God gives us wealth and property and lets us enjoy them, we should be grateful and enjoy what we have worked for. It is a gift from God.”* Ecclesiastes 5:19 (GNT)
----------------
The Bible says in 1 Timothy 6:17 that God “richly provides us with everything for our enjoyment” (NIV). That’s the kind of God we serve. He gave us the world for our enjoyment! But here’s the problem: We’re so busy getting more that we don’t enjoy what we’ve got.

The secret of contentment is to learn to enjoy what God has given you. Ecclesiastes 5:19 says, “If God gives us wealth and property and lets us enjoy them, we should be grateful and enjoy what we have worked for. It is a gift from God” (GNT).

Instead of grasping for more, pay attention to what you have now. Open your eyes, appreciate what God has already given you, and enjoy what you’ve got.

One of my favorite things to do is to watch the sunrise from the slope in our yard. I put a deck chair out there decades ago. I think I bought it at Target, and it wasn’t expensive. It’s faded, and a couple of slats are broken. I love to sit in that ratty old chair and watch the sun come up. It gives me great pleasure!

Would I have any more joy watching the sunrise if I were sitting in a diamond-encrusted recliner instead of my old, worn chair? No, it would not increase my joy one bit. In fact, there is an advantage to not having a diamond-encrusted recliner and instead being content with my old chair: No one will steal it!

You need to ask yourself, “What am I not enjoying right now?” Most of us get into what I call “when and then” thinking: “When this happens, then I’ll be happy.”

“When I get a boyfriend, then I’ll be happy.” “When I get married, then I’ll be happy.” “When I have kids, then I’ll be happy.” “When my kids go off to school, then I’ll be happy.” “When I get married again, then I’ll be happy.”

But here’s the truth: You are as happy as you choose to be. If you’re not happy now, you’re not going to be happy later. Happiness is a choice!

I could take you to some of the poorest places in the world and show you two people living right next door to each other. One is miserable, and one is happy. Why? Happiness has nothing to do with your circumstances and everything to do with your attitude.

If you’re not happy with what you’re living on right now, I can guarantee that you’re not going to be happy with more. Because no matter what you have, you’re always going to want a little bit more.

Happiness is a choice. Choose right now to enjoy what God has given you!


Sabtu, 29 Agustus 2026

Pilihan Anda: Membandingkan atau Merasa Cukup

30 Agustus 2026

Bacaan Hari ini:
Pengkhotbah 6:9 "Lebih baik melihat saja dari pada menuruti nafsu. Inipun kesia-siaan dan usaha menjaring angin"
------------------
Langkah pertama untuk menjadi orang yang merasa cukup adalah berhenti membandingkan diri Anda dengan orang lain. Namun, masalahnya adalah membandingkan diri dengan orang lain seolah-olah menjadi kegiatan yang paling sering kita lakukan! Kita melakukannya hampir setiap saat.

Anda masuk ke rumah seseorang, dan hal pertama yang Anda lakukan adalah membandingkan: "Saya suka lantainya! Lihat tirainya! Wah, televisinya bagus sekali!" Kemudian Anda berpikir, "Rumah saya sama sekali tidak seperti ini!" Atau Anda berjalan melewati seseorang dan berpikir, "Saya suka gaya rambutnya; rambut saya hari ini terlihat buruk."

Anda terus-menerus membandingkan diri dengan orang lain dan hal itu membuat Anda frustrasi. Anda harus menghentikannya! Jika Anda ingin belajar merasa cukup, Anda harus berhenti membandingkan kehidupan Anda dengan kehidupan orang lain.

Anda juga perlu belajar mengagumi tanpa harus memiliki. Anda perlu belajar ikut bersukacita ketika orang lain mengalami keberhasilan atau memiliki sesuatu yang baik, tanpa merasa iri dan berpikir bahwa Anda juga harus memilikinya.

Ada sebuah prinsip penting yang sering tidak dipahami banyak orang:
Anda tidak harus memilikinya untuk dapat menikmatinya!

Mungkin Anda senang berlibur di pegunungan. Mengapa Anda harus membeli rumah atau kabin di pegunungan jika Anda hanya perlu menyewa atau bahkan meminjam kabin milik seorang teman, pada saat Anda pergi ke pegunungan setahun sekali? Memiliki sesuatu bukanlah satu-satunya cara untuk menikmatinya.

Tidak membandingkan diri dengan orang lain bukan hanya sebuah saran yang baik; ini adalah perintah dari Allah. "Jangan mengingini . . . apa pun yang dipunyai sesamamu." Keluaran 20:17

Mengingini adalah keinginan yang tidak terkendali untuk mendapatkan sesuatu. Ini merupakan dosa yang begitu penting untuk dihindari sehingga termasuk dalam Sepuluh Perintah Allah.

Kata covet dalam bahasa Yunani menggambarkan keinginan untuk menggenggam sesuatu dengan begitu erat sehingga Anda tidak sanggup melepaskannya. Jika suatu hari Allah memberikan sesuatu kepada Anda dan kemudian meminta Anda untuk memberikannya kepada orang lain, tetapi Anda tidak sanggup melepaskannya, berarti Anda bukan lagi yang memiliki benda itu—benda itu yang telah menguasai Anda.

Allah tidak mengatakan bahwa Anda tidak boleh menginginkan apa pun. Keinginan itu sendiri tidak salah. Bahkan, banyak keinginan Anda berasal dari Allah.

Namun, ketika sebuah keinginan menjadi tidak terkendali, keinginan itu berubah menjadi sikap mengingini milik orang lain. Anda mulai membandingkan diri dengan orang lain dan berpikir bahwa Anda harus memiliki lebih banyak. Keinginan yang tidak terkendali terhadap sesuatu yang bukan milik Anda adalah dosa dan dapat membawa kepada berbagai masalah.

Tetapi keinginan tidak selalu negatif. Bahkan, tidak ada sesuatu yang dapat dicapai tanpa adanya keinginan untuk melakukannya.

Anda tidak dapat menjadi semakin serupa dengan Kristus tanpa memiliki keinginan untuk menjadi semakin serupa dengan Kristus. Anda tidak dapat menjadi orang yang lebih mengasihi tanpa memiliki keinginan untuk lebih mengasihi. Anda tidak dapat menjadi orang yang lebih murah hati tanpa memiliki keinginan untuk menjadi lebih murah hati.

Kehidupan yang serupa dengan Kristus dan penuh rasa cukup hanya dapat terjadi ketika Anda belajar untuk tidak membandingkan diri dengan orang lain.
Kitab Pengkhotbah menyampaikannya dengan sederhana: "Lebih baik melihat saja dari pada menuruti nafsu. Inipun kesia-siaan dan usaha menjaring angin" Pengkhotbah 6:9

Renungkan :

- Bagaimana Anda dapat mengubah cara pandang terhadap barang-barang yang Anda miliki sehingga Anda dapat ikut bersukacita bersama orang lain atas apa yang mereka miliki?

- Menurut Anda, apa yang Allah ingin memenuhi kehidupan Anda, selain dengan berbagai kepemilikan?

- Orang Kristen sering berbicara tentang Allah yang memberikan keinginan hati mereka. Menurut Anda, keinginan seperti apa yang Allah ingin berikan kepada Anda?

Bacaan Alkitab Setahun :
Mazmur 126-128; 1 Korintus 10:19-33
____________
Ketika Anda membandingkan diri, hal itu dapat membawa Anda kepada keinginan yang tidak terkendali. Dan ketika Anda terus mengingini apa yang dimiliki orang lain, Anda tidak akan pernah merasa cukup.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
=========
Your Choice: Comparison or Contentment
By Rick Warren

“It is better to be satisfied with what you have than to be always wanting something else.” Ecclesiastes 6:9 (GNT)
-----------------
The first step to becoming a contented person is to stop comparing yourself to others. But the problem is that comparison is our favorite pastime! We do it all the time.

You walk into somebody’s house, and the first thing you do is make comparisons: “I like that floor! Look at that drapery! Wow, what a television!” You think to yourself, “My house doesn’t look anything like this!” Or you walk past somebody and think, “I like thaving to acquire. You need to learn to rejoice in other people’s prosperity without getting envious and feeling like you need it too.

Here’s a great principle that many people don’t understand: You don’t have to own it to enjoy it! Maybe you like to vacation in the mountains. Why do you have to buy a mountain cabin when you can just rent or even borrow a friend’s cabin the one time a year you go to the mountains? Ownership isn’t the only way to enjoy something.

Not making comparisons isn’t just a good idea; it’s a commandment from God. Exodus 20:17 says, “You shall not covet . . . anything that belongs to your neighbor” (NIV).

Coveting is the uncontrolled desire to acquire. It’s such an important sin to avoid that it’s included in the Ten Commandments. The word covet in Greek means that you grasp something so tightly that you can’t let it go. If God ever gives you something and he tells you to give it away and you can’t, then you don’t own it; it owns you.

God is not saying you should never desire anything. Desires are not wrong. In fact, many of your desires come from God. But when a desire is uncontrolled, it becomes coveting; you compare yourself to others and think you must have more. That uncontrolled desire for something that is not yours is sinful and leads to all kinds of problems.

But desire isn’t always negative. In fact, nothing can be accomplished unless you desire to do it. You can’t become more like Christ without desiring to become more like Christ. You can’t be a more loving person without desiring to be a more loving person. You can’t be a more generous person without desiring to be a more generous person.

This kind of Christ-like, contented life only happens when you learn not to compare. When you compare, that leads to coveting, and when you covet, you can’t be content.

The book of Ecclesiastes says it simply: “It is better to be satisfied with what you have than to be always wanting something else” (Ecclesiastes 6:9 GNT)


Jumat, 28 Agustus 2026

Iman Mengalahkan Ketakutan dalam Keuangan

29 Agustus 2026

Bacaan Hari ini:
Matius 25:28-29 "Sebab itu ambillah talenta itu dari padanya dan berikanlah kepada orang yang mempunyai sepuluh talenta itu. Karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya."
------------------
Apa yang membuat Anda takut mengembangkan kehidupan Anda? Apa yang membuat Anda sulit bergerak menuju kebebasan finansial? Jawabannya adalah ketakutan.

Ada berbagai macam ketakutan yang dapat menahan Anda. Salah satunya adalah keraguan terhadap diri sendiri, yang berkata, "Anda pernah gagal sebelumnya, jadi Anda tidak akan pernah mencoba lagi." Tetapi hanya karena Anda pernah gagal, bukan berarti Anda harus menyerah. Semua orang pernah gagal; kegagalan adalah salah satu cara Anda belajar tentang apa yang berhasil dan apa yang tidak. Allah menggunakan orang-orang biasa yang memilih untuk terus melangkah setelah mengalami kegagalan, bukan menyerah.

Dua murid, Yudas dan Petrus, menyangkal Yesus sebelum penyaliban-Nya. Mereka melakukan dosa yang sama, tetapi perbedaannya terletak pada bagaimana masing-masing merespons kegagalan mereka. Yudas berfokus pada dosanya dan bukan pada pengampunan Allah. Penyesalannya begitu berat sampai akhirnya ia mengakhiri hidupnya.

Namun, ketika Petrus menyadari dosanya, ia berdoa, bertobat dan meminta pengampunan Allah. Kemudian Yesus memilih Petrus untuk berkhotbah pada hari Pentakosta dan 3.000 orang diselamatkan pada hari pertama. Yesus memilih untuk membangun gereja melalui salah satu orang yang mengalami kegagalan terbesar di antara mereka.

Sungguh luar biasa Allah kita! Dia tidak memilih orang yang paling hebat. Diatas memilih orang yang pernah melakukan kesalahan paling besar.
Mungkin Anda pernah melakukan kesalahan besar dalam hal keuangan atau dalam bidang kehidupan lainnya. Tetapi itu tidak menentukan segalanya. Yang penting bukan di mana Anda pernah berada, tetapi ke arah mana Anda sedang berjalan sekarang.

Dalam perumpamaan tentang talenta yang kita lihat kemarin dalam Matius 25, seorang kaya mempercayakan uangnya kepada tiga orang hambanya sebelum pergi melakukan perjalanan panjang. Ketika ia kembali, ia meminta pertanggungjawaban dari mereka. Dua orang hamba berhasil melipatgandakan uang tuannya, tetapi hamba yang ketiga merasa takut dan menyembunyikan apa yang telah dipercayakan kepadanya, bukannya mengelola dan mengembangkannya.

Ketakutannya mengecewakan dan membuat tuannya marah. Tuannya berkata: "Sebab itu ambillah talenta itu dari padanya dan berikanlah kepada orang yang mempunyai sepuluh talenta itu." Matius 25:28
Sang tuan mengambil kembali apa yang telah dipercayakan kepada hamba tersebut.

Ketika Anda berusaha menjalani hidup sesuai dengan cara Allah, Anda mungkin merasa takut. Bahkan, Iblis akan berusaha membuat Anda mengabaikan prinsip-prinsip Allah dalam mengelola uang dengan menanamkan ketakutan akan kegagalan atau membuat Anda meragukan kemampuan Anda untuk menjadi pengelola yang baik atas apa yang Allah percayakan kepada Anda.

Namun, jika Anda ingin berhasil dalam hidup, Anda perlu melawan ketakutan Anda. Anda perlu berani melakukan hal yang paling Anda takuti.

Ketika Anda melangkah maju dengan iman dan mengikuti prinsip-prinsip Allah untuk mencapai kedamaian dalam keuangan, Anda akan mengalami berkat-Nya. Seperti hamba yang setia dalam perumpamaan itu, Allah dapat mempercayakan kepada Anda lebih banyak sumber daya atau tanggung jawab.

Seperti yang dikatakan Matius 25:29: "Karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya." Matius 25:29

Renungkan :

- Kegagalan keuangan apa yang pernah membuat Anda sulit untuk melangkah maju dan mengikuti prinsip-prinsip keuangan Allah dalam hidup Anda?

- Apakah Anda berdoa agar Allah memberi Anda lebih banyak tanggung jawab dalam mengelola uang yang Dia percayakan kepada Anda? Mengapa atau mengapa tidak?

- Apa yang membuat Anda takut untuk menaati cara Allah dalam mengelola uang? Bicarakan ketakutan tersebut kepada Allah hari ini.

Bacaan Alkitab Setahun :
Mazmur 123-125; 1 Korintus 10:1-18
_____________
Allah menggunakan orang-orang biasa yang memilih untuk terus melangkah setelah mengalami kegagalan, bukan menyerah.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
=========
Faith over Fear in Your Finances
By Rick Warren

“Take the money from this servant, and give it to the one with the ten bags of silver. To those who use well what they are given, even more will be given, and they will have an abundance. But from those who do nothing, even what little they have will be taken away.” Matthew 25:28-29 (NLT)
-----------------
What keeps you from investing your life? What keeps you from moving toward financial freedom? I’ll tell you what it is: fear.

Many kinds of fear can hold you back. One type of fear is self-doubt, which says: “You’ve failed in the past, so you’re never going to try again.” But just because you fail doesn’t mean you should give up. Everybody fails; it’s the only way you learn what works! God uses ordinary people who choose to keep on going after failure instead of giving up.

Two disciples, Judas and Peter, denied Jesus before his crucifixion. They committed the same sin, but the difference was the way each reacted to his failure. Judas focused on his sin and not the forgiveness of God. His remorse overwhelmed him, and he ultimately took his own life.

But when Peter realized his sin, he prayed, repented, and asked God for forgiveness. Then Jesus chose Peter to preach on Pentecost, and 3,000 people were saved the first day. Jesus chose to build the church on the biggest failure in the bunch.

What a God! He didn’t choose the superstar. He chose the guy who had blown it the worst.

You may have really messed up financially or in other ways. But it doesn’t matter where you’ve been. What matters is the direction you are going right now.

In the parable of the talents we looked at yesterday in Matthew 25, a rich man entrusted his money to three servants before leaving on a long trip. When he returned, he asked for an account from the servants. Two of them had doubled the master’s money, but the third had been afraid and had hidden his portion instead of working and investing it. His fear disappointed and angered his master, who said, “Take the money from this servant, and give it to the one with the ten bags of silver” (Matthew 25:28 NLT). The master took away everything the servant had been given.

When you try to do things God’s way, you may feel afraid. In fact, Satan will try to get you to ignore God’s principles for money management by making you afraid of failure or making you doubt your ability to be a good steward of God’s money.

But if you’re going to be successful in life, you have to move against your fears. You have to do the very thing that you fear the most!

When you move forward in faith and follow God’s guidelines for financial peace, you will experience his blessing; like the servant, God may give you even more resources or more responsibility.

As Matthew 25:29 says, “To those who use well what they are given, even more will be given, and they will have an abundance. But from those who do nothing, even what little they have will be taken away” (NLT).