Senin, 09 Maret 2026

Hanya Ada Satu Persetujuan yang Benar-Benar Anda Perlukan

10 Maret 2026

Bacaan Hari ini:
Pengkhotbah 7:21 "Juga janganlah memperhatikan segala perkataan yang diucapkan orang"
-----------------
Pernahkah Anda mengunggah sesuatu di media sosial lalu meninggalkannya begitu saja tanpa memikirkan bagaimana orang lain akan bereaksi? Bagi kebanyakan orang, hal itu sulit dibayangkan.

Apa yang membuat media sosial begitu membuat ketagihan? Mengapa setelah mengunggah sebuah foto Anda ingin memeriksanya berulang kali? Mengapa Anda terus mengecek ponsel Anda?

Setiap orang pada dasarnya ingin diterima dan disukai. Ketika Anda mendengar bunyi notifikasi, otak melepaskan dopamin yang memberi rasa senang. Setiap notifikasi seolah-olah memuaskan kebutuhan akan pengakuan, sehingga Anda ingin mendapatkannya lagi dan lagi.

Namun Alkitab mengingatkan : "Saudara-saudaraku, sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus, Tuhan kita yang mulia, janganlah iman itu kamu amalkan dengan memandang muka." (Yakobus 2:1)
Artinya, pendapat umum tidak seharusnya menentukan bagaimana Anda hidup dalam iman. Jangan biarkan opini orang lain menentukan apa yang Anda percaya, rasakan, atau lakukan. Berapa pun jumlah "like" atau notifikasi yang Anda terima, hal itu tidak akan membawa Anda semakin dekat kepada Kristus.

Alkitab juga berkata: "Janganlah memperhatikan segala perkataan yang diucapkan orang" (Pengkhotbah 7:21)
Bahkan jika Anda membuat unggahan yang baik dan membangun, selalu ada kemungkinan seseorang memberi komentar yang tidak menyenangkan. Jika Anda mengunggah sesuatu dengan harapan mendapatkan banyak "like" agar merasa lebih baik tentang diri Anda, Anda mungkin akan merasa kecewa.

Namun ketika Anda tidak hidup untuk mencari persetujuan manusia, komentar seseorang di media sosial tidak akan menentukan kebahagiaan Anda. Ketika Anda dapat mengunggah sesuatu tanpa takut pada reaksi orang lain, maka kebahagiaan Anda tidak lagi bergantung pada jumlah "like".

Semua orang memang menginginkan penerimaan dari orang lain. Tetapi ketika fokus Anda benar, seperti Yesus, Anda hanya berusaha menyenangkan Bapa di surga.
Yesus berkata: "Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku." (Yohanes 5:30)

Ketika Anda hidup untuk menyenangkan Satu Pribadi saja—yaitu Tuhan—Anda akan lebih mudah menggunakan media sosial dengan bijaksana.

Renungkan :

- Apa motivasi Anda ketika mengunggah sesuatu di media sosial?

- Bagaimana waktu yang Anda habiskan dengan ponsel menunjukkan siapa yang sebenarnya Anda ingin senangkan?

- Dalam hal apa saja Anda pernah membiarkan pendapat orang lain memengaruhi apa yang Anda percaya atau lakukan?

Bacaan Alkitab Setahun :
Ulangan 8-10; Markus 11:19-33
_______________
Media sosial akan menjadi alat yang berguna, bukan sesuatu yang Anda andalkan untuk mencari pengakuan.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
==========
There's Only One 'Like' You Really Need - Daily Hope with Rick Warren - March 10, 2026

"Don't pay attention to everything people say." Ecclesiastes 7:21 (GNT)
------------------
Have you ever posted something online and then walked away, not caring what anyone thought or how people reacted to it? Most people can't imagine that!

What makes social media so addictive? Why do you have to go back and check a picture 50 times after you post it? Why are you constantly checking your phone?

Everybody wants the approval of others. People desperately need to be liked! When you hear the "ding" of a notification, dopamine is released in your brain, and it's extremely satisfying. Every "ding" feeds your need for approval, and it feels like you can't get enough.

But the Bible says, "Dear friends, don't let public opinion influence how you live out our glorious, Christ-originated faith" (James 2:1 MSG).

The truth is that public opinion doesn't have anything to do with your faith. So don't let public opinion decide what you believe, feel, or do. No matter how many likes or notifications you get, it will never lead you in the direction of Jesus Christ.

The Bible also says in Ecclesiastes 7:21, "Don't pay attention to everything people say" (GNT).

Even when you make the wisest, happiest, most encouraging social media post, some people will still post comments that won't meet your expectations or may be just downright mean. If you create a post because you need a certain number of likes to feel better about yourself, then you're going to be disappointed.

But when you don't live for the approval of others, what one person says on social media is not going to make or break you. When you can say something online without worrying about how people will react to it, then your happiness is not determined by how many like the post.

Everyone wants the approval of others. But when you have the right focus, like Jesus did, you're only concerned about pleasing your heavenly Father. Jesus said, "I try to please the One who sent me" (John 5:30 NCV). When you live for the approval of One, it'll become easier to use social media as a useful tool and not a crutch.


Beginilah Rasanya Kalah Telak... Israel Hapus Semua Minyak Iran

https://youtube.com/watch?v=SEei-tmG4SA&si=gpjE51UgKHqadDcu

Minggu, 08 Maret 2026

CEPAT TAPI TIDAK TEPAT!

Ada sebuah ARTIKEL PENDEK sungguh TAJAM dan DALAM.


"Bukan soal seberapa CEPAT MELANGKAH, tetapi seberapa TEPAT MEMILIH ARAH. Kadang TIDAK PENTING seberapa CEPAT MELANGKAH maju, yang LEBIH PENTING adalah BAGAIMANA MELANGKAH dengan BENAR. "

ARTINYA: CEPAT tapi SALAH ARAH adalah sesuatu yang TIDAK ADA GUNANYA, bahkan justru membuat kita SEMAKIN JAUH dari TUJUAN yang BENAR.

Sayangnya, kita INGINNYA CEPAT saja, bahkan TIDAK MENCERMATI APAKAH kita sudah di JALAN yang BENAR atau BELUM.

Baru, setelah kita TERSESAT dan HILANG ARAH, kita jadi KELABAKAN sendiri.

WAKTU yang DIBUTUHKAN untuk KEMBALI ke JALAN yang BENAR menjadi LEBIH LAMA jika dibandingkan kita DARI AWAL BERTINDAK HATI-HATI dan TIDAK TERGESA-GESA.

Ketika MENGENDARAI MOBIL, kita harus berada di JALUR yang TEPAT.

jika ingin BELOK ke KIRI, kita harus ambil LAJUR KIRI.

Jika ingin LURUS, harus mengambil LAJUR di TENGAH.

Jika hendak BELOK ke KANAN, kita harus mengambil LAJUR KANAN.

Karena TERBURU-BURU dan INGIN CEPAT tiba di tujuan, saya ambil JALUR yang SALAH hanya gara-gara ANTREAN mobilnya SANGAT SEDIKIT dibandingkan JALUR saya yang SEHARUSNYA.

INGIN CEPAT, tapi malah MOLOR SANGAT LAMA karena ternyata polisi MEMBERHENTIKAN saya.

Sudah MOLOR LAMA, masih harus BAYAR DENDA karena tilang!

BENAR DULU, BARU CEPAT.

JANGAN DIBALIK!

"TANPA PENGETAHUAN KERAJINAN pun TIDAK BAIK; orang yang TERGESA-GESA akan SALAH LANGKAH."

TERGESA-GESA hanya menambah MASALAH saja.

INGINNYA CEPAT, tapi malah SEMAKIN LAMBAT.

Hal ini BERLAKU dalam BIDANG APAPUN, termasuk dalam hal KEUANGAN.

Banyak orang INGIN CEPAT KAYA.

TERGESA-GESA untuk KAYA, justru membuatnya semakin BERKEKURANGAN.

JANGAN menjadi TIDAK SABARAN.

JANGAN TERGESA-GESA.

JANGAN menginginkan yang SERBA INSTAN.

Kalau SALAH ARAH, itu BAHAYA!

*TETAP SEMANGAT,PANTANG MENYERAH & HANYA BERHARAP KEPADA TUHAN*.   Selamat Pagi. Selamat Beraktivitas. Sehat dan Sukses selalu. GBUπŸ™πŸΌπŸ™πŸΌπŸ™πŸΌ


Bagikan Kegagalan Anda, Bukan Hanya Keberhasilan Anda

09 Maret 2026

Bacaan Hari ini:
Matius 6:1 "Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga."
--------------------
Suatu kali saya melihat sebuah foto di media sosial: seorang wanita lanjut usia berada di tengah sekelompok anak muda yang semuanya mengangkat ponsel untuk merekam apa yang ada di depan mereka. Wanita itu satu-satunya yang tidak memegang ponsel. Wajahnya tampak tenang dan ia tersenyum, seolah-olah benar-benar menikmati momen tersebut.

Anda tidak dapat sungguh-sungguh menikmati suatu momen jika Anda terlalu sibuk berusaha merekamnya.

Sebagai contoh, Anda tidak akan pernah melihat foto saya saat sedang berdoa secara pribadi. Mengapa? Karena jika saya sibuk mengambil gambar untuk dipublikasikan, maka waktu saya bersama Tuhan tidak lagi murni. Motivasi saya akan berubah. Waktu teduh seharusnya menjadi pertemuan pribadi antara Anda dan Tuhan, bukan untuk dipamerkan.

Yesus berkata dalam Khotbah di Bukit:"Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga." (Matius 6:1)

Artinya, jika Anda melakukan sesuatu yang baik lalu mempublikasikannya hanya untuk mendapatkan pujian, maka pujian itulah satu-satunya "upah" yang akan Anda terima.

Media sosial sangat mudah mendorong orang untuk menonjolkan diri. Namun sikap pamer tidak membangun hubungan yang sejati. Sebaliknya, hal itu menciptakan jarak dan perbandingan.

Jika Anda ingin membangun kedekatan yang nyata, lakukan hal yang berbeda: bagikan juga pergumulan yang sedang Tuhan tolong Anda lewati. Tunjukkan bahwa Anda juga manusia biasa. Jangan hanya menampilkan momen-momen terbaik, tetapi beranilah membagikan proses pertumbuhan Anda. Sikap yang tulus seperti ini dapat mendorong orang lain untuk datang kepada Tuhan dengan⁴ masalah mereka sendiri.

Alkitab berkata: "Rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya." (1 Petrus 5:6)
4
Tidak perlu khawatir jika orang lain berusaha mempromosikan diri mereka sendiri. Ketika Anda berhenti berpura-pura menjadi orang lain, Anda akan mengalami damai sejahtera sebagai pribadi yang Tuhan ciptakan.

Dan pada saat itulah, Anda benar-benar dapat menikmati setiap momen.

Renungkan :

- Apakah sulit bagi Anda untuk merasa cukup dengan perkenanan Tuhan tanpa mencari pujian manusia? Mengapa?

- Mengapa sikap pamer dapat menghalangi terbentuknya hubungan yang mendalam dan tulus?

- Bagaimana unggahan "momen terbaik" orang lain di media sosial memengaruhi perasaan Anda terhadap hidup Anda sendiri?

Bacaan Alkitab Setahun :
Ulangan 5-7; Markus 11:1-18
___________
Jika Anda adalah anak Tuhan, Ia sendiri yang akan meninggikan Anda pada waktu yang tepat.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
=========
Share Your Bloopers, Not Just Your Highlight Reel - Daily Hope with Rick Warren - March 09, 2026

"Watch out! Don't do your good deeds publicly, to be admired by others, for you will lose the reward from your Father in heaven." Matthew 6:1 (NLT)
----------------
I once saw a photo online of an elderly woman in a group of young people who all had their phones up, trying to record whatever was in front of them. The woman was the only one who wasn't trying to capture the moment on her phone. In fact, she had the most serene look on her face and was smiling, as if she were truly relishing the moment.

You can't be in the moment while you're trying to capture the moment.

Here's an example: You'll never see a photo of me during my quiet time. Why? If I'm trying to get a great picture for Instagram, my time with God won't be real. I wouldn't have the right motivations. You need to spend time with God every day, but that time should be between you and him.

Jesus says in the Sermon on the Mount, "Watch out! Don't do your good deeds publicly, to be admired by others, for you will lose the reward from your Father in heaven" (Matthew 6:1 NLT). In other words, if you take the good you've done and brag about it online just so other people will give you recognition, then that's all the reward you're going to get.

Social media makes it really tempting to show off. But when you show off, it builds barriers. It doesn't build fellowship. It doesn't draw you closer to anybody.

If you want to draw closer to people, then do the opposite: Share the problems Jesus is helping you through. Be real! Give people a look at your bloopers and not just your highlight reel. They will be encouraged to ask God to help them with their problems too.

"Humble yourselves, then, under God's mighty hand, so that he will lift you up in his own good time" (1 Peter 5:6 GNT).

Don't worry when others use social media to promote themselves. If you're a child of God, then he will promote you at the right time. When you stop pretending to be somebody you're not, you'll be at peace just being who God made you to be, right where he meant for you to be.

Then you can really enjoy the moment.


Israel Berhasil Menyingkirkan Pemimpin Tertinggi Baru Iran - YouTube

https://www.youtube.com/watch?v=OUoLpY-Jmk4

Sabtu, 07 Maret 2026

TERKU4K FAKTA BARU !! Dunia Harus Tahu, Bongkar Sisi Gelap Iran Ali Kham...

https://youtube.com/watch?v=QLtphwMTfFg&si=k5JhmCBafGF0fyg0

Keluarga Pdt.Mugiyono

Keluarga sangat sederhana Nama-nama: 1. Mugiyono 2. Yanti 3. Frederiko Eldad Mugiyono 4. Giovanna Aletha Mugiyono
=============

Minggu, 8 Maret 2026

Sebuah Tinjauan Eksegetis Yeremia 49:35–39

Pendahuluan
Salah satu bahaya dalam penafsiran Alkitab adalah praktik eisegesis, yaitu memasukkan ide atau peristiwa masa kini ke dalam teks Alkitab*. Seperti yang dilakukan oleh seorang pendeta dalam khotbahnya di youtube yang mencoba mencocokkan nubuat Alkitab dengan peristiwa geopolitik modern. Salah satu contoh yang muncul adalah klaim bahwa "Elam dalam Yeremia 49:35–39 sama dengan negara Iran saat ini."

Sekilas pernyataan ini tampak masuk akal karena wilayah Elam kuno memang berada di kawasan yang sekarang termasuk wilayah Iran barat daya. Namun secara eksegetis dan historis, menyamakan Elam secara langsung dengan Iran modern adalah sebuah penyederhanaan yang berbahaya dan berpotensi menjadi eisegesis.

Tulisan ini akan meninjau Yeremia 49:35–39 berdasarkan konteks sejarah dan bahasa Ibrani untuk menunjukkan apa yang sebenarnya dimaksud oleh penulis kitab Yeremia.

1. Konteks Historis Nubuat Tentang Elam
Yeremia 49:34 membuka nubuat ini dengan kalimat:
"Firman TUHAN yang datang kepada nabi Yeremia mengenai Elam, pada permulaan pemerintahan Zedekia, raja Yehuda." Dalam teks aslinya tertulis "beresit lanjut sidqiyyahu" artinya pada awalnya pemerintahan Zedekia.

Secara historis ini menunjuk pada sekitar 597 SM, suatu periode ketika Babilonia sedang memperluas kekuasaannya di kawasan Timur Dekat. Nubuat ini termasuk dalam bagian nubuat terhadap bangsa-bangsa (Yer. 46-51) yang menguatkan penghukuman Tuhan atas berbagai bangsa di sekitar Yehuda.

Dengan demikian, sejak awal teks sudah menunjukkan bahwa nubuat ini berbicara mengenai bangsa Elam yang hidup pada zaman Yeremia, bukan tentang negara modern ribuan tahun kemudian.

2. Identitas Elam dalam Dunia Kuno
Dalam sejarah Timur Dekat kuno, Elam adalah sebuah kerajaan kuno yang terletak di sebelah timur Babilonia, dengan pusat kota di Susa. Wilayahnya memang berada di daerah yang sekarang *termasuk Iran barat daya*, tetapi Elam bukanlah Iran modern. Elam adalah bangsa kuno dengan budaya, bahasa, dan kerajaan tersendiri yang kemudian diserap ke dalam kekaisaran Persia. 

Karena itu, secara historis, *Elam tidak sama dengan Iran modern*. Alam hanyalah *salah satu wilayah kuno yang kemudian menjadi bagian dari Persia*. *Mengabaikan fakta sejarah* ini akan membawa Penafsir pada kesalahan hermeneutik.

*3. Eksegesis Yeremia 49:35–37*

Frasa "Aku mematahkan busur Elam" dalam Yeremia 49:35 Dalam bahasa aslinya tertulis "hinneni sober 'et-qeset 'elam."* Kata "qeset" artinya busur panah. Dalam dunia kuno, busur adalah simbol kekuatan militer. Elam terkenal sebagai bangsa pemanah yang kuat (bsk. Yes. 22:6).

Artinya nubuat ini menyatakan bahwa kekuatan militer Elam akan dihancurkan oleh Tuhan. Di sini, tidak ada indikasi bahwa kata ini menunjuk pada senjata modern, misil, atau nuklir. Menafsirkan "busur" sebagai teknologi militer modern jelas merupakan contoh eisegesis modern.

Lalu frasa "Aku akan menyerakkan mereka ke segala penjuru" Yeremia 49:36, dalam bahasa aslinya "'arba' ruhot hassamayim" artinya empat angin dari langit. Ungkapan ini adalah idiom Ibrani yang berarti penyebaran ke segala arah. Ini menggambarkan diaspora akibat perang atau penaklukan.

Ini adalah gambaran umum *tentang penghancuran bangsa dalam konteks peperangan kuno*, bukan deskripsi migrasi global abad modern.

Kemudian frasa "Aku akan menaruh takhta-Ku di Elam" Yeremia 49:38 Dalam teks aslinya berbunyi "wesamti kis'i be'elam" secara teologis berarti Allah menyatakan kedaulatan-Nya melalui penghakiman atas bangsa itu. Ini bukan berarti Tuhan secara literal memindahkan takhta ke negara tertentu di masa depan, tetapi merupakan bahasa penghakiman ilahi yang umum dalam kitab para nabi.

Dan frasa "Tetapi di kemudian hari Aku akan memulihkan keadaan Elam" (Yer. 49:39), dalam bahasa aslinya "be'aharit  hayyamim" artinya pada hari-hari kemudian. Ungkapan ini tidak selalu berarti akhir zaman eskatologis. Dalam banyak teks Perjanjian Lama, frasa ini bisa berarti masa depan setelah masa penghukuman.

Menariknya, dalam Kisah Para Rasul 2:9 disebutkan bahwa orang Elam hadir pada peristiwa Pentakosta, menunjukkan bahwa bangsa ini tidak punah. Ini kemungkinan menjadi indikasi awal penggenapan pemulihan tersebut.

Jadi, mengidentikkan Elam dengan Iran modern sering dilakukan dengan langkah berikut:
• Mengambil nama Elam.
• Menariknya langsung ke peta modern.
• Mencocokkannya dengan peristiwa politik masa kini.
Metode ini tidak mengikuti prinsip hermeneutika historis-gramatikal, melainkan eisegesis, yaitu memasukkan ide modern ke dalam teks kuno.

Padahal prinsip dasar eksegese adalah Teks harus dimengerti terlebih dahulu dalam konteks sejarah dan bahasa penulis aslinya.

Kesimpulan
Berdasarkan eksegesis Yeremia 49:35–39, dapat disimpulkan bahwa:
Nubuat ini diberikan sekitar tahun 597 SM pada masa pemerintahan Zedekia.
Elam adalah bangsa kuno di Timur Dekat, bukan negara Iran modern.
"Busur Elam" merujuk pada kekuatan militer pemanah Elam, bukan senjata modern.
• Nubuat ini berbicara tentang penghakiman Allah atas Elam dalam sejarah, disertai janji pemulihan di masa depan.
• Menyamakan Elam secara langsung dengan Iran modern adalah bentuk eisegesis, bukan hasil eksegese yang bertanggung jawab.

Karena itu, orang percaya perlu berhati-hati agar tidak menggunakan Alkitab untuk mencocokkan peristiwa politik masa kini. Tugas penafsir firman Tuhan bukanlah memasukkan berita dunia ke dalam Alkitab, melainkan mendengarkan apa yang benar-benar dikatakan oleh teks Alkitab itu sendiri. All truth is God's truth, Soli Deo Gloria, ❗❗πŸ€”πŸŒ➡️πŸ“–