Sabtu, 24 Oktober 2026

Gereja adalah Keluarga Allah

25 Oktober 2026

Bacaan Hari ini:
1 Korintus 12:12 "Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus"
-------------------
Allah tidak pernah bermaksud agar Anda menjalani hidup seorang diri. Dia ingin Anda menjadi bagian dari keluarga-Nya, yaitu gereja. Bahkan, gereja telah menjadi rencana Allah sejak awal mula.

Sebagian orang menganggap gereja sebagai sebuah gedung, lembaga, atau acara yang Anda hadiri. Gereja bukanlah salah satu dari hal-hal tersebut. Gereja adalah keluarga tempat Anda menjadi anggotanya.

Alkitab mengatakan, "Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya" (Efesus 1:5).

Ketika Anda menjadi bagian dari gereja, ada dua hal yang benar tentang diri Anda: Anda berkomitmen kepada Yesus, dan Anda berkomitmen kepada orang-orang dalam keluarga gereja Anda. Alkitab mengatakan dalam 2 Korintus 8:5, "Mereka memberikan lebih banyak dari pada yang kami harapkan. Mereka memberikan diri mereka, pertama-tama kepada Allah, kemudian oleh karena kehendak Allah juga kepada kami"

Anda menyerahkan diri kepada Tuhan, lalu Anda menyerahkan diri kepada sekelompok orang dalam keluarga Allah. Pilihan pertama menjadikan Anda seorang Kristen. Pilihan kedua menghubungkan Anda dengan orang-orang percaya lainnya. Saya bukanlah gereja. Anda bukanlah gereja. Namun, bersama-sama, kita adalah gereja—tubuh Kristus.

Apa artinya menjadi bagian dari tubuh Kristus? Alkitab mengatakan, "Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus" (1 Korintus 12:12).

Untuk memahami bagaimana gereja bekerja, perhatikan cara Allah merancang tubuh Anda. Tangan, hidung, limpa dan hati Anda semuanya merupakan bagian dari tubuh Anda. Semuanya memiliki fungsi yang berbeda, tetapi bersama-sama membentuk satu tubuh jasmani—sama seperti gereja Allah membentuk satu tubuh rohani.

Itulah sebabnya Anda merupakan bagian yang sangat penting dari keluarga gereja Anda. Anda tidak dapat berkata, "Bagian saya—bakat dan kemampuan saya—tidak diperlukan." Tidak ada anggota yang tidak diperlukan. Kita semua saling bergantung satu sama lain dan masing-masing dari kita memiliki peran yang berbeda untuk dijalankan.

Renungkan :

- Dalam hal apa saja Anda selama ini memandang gereja sebagai tempat yang Anda kunjungi, bukan sebagai keluarga tempat Anda menjadi anggotanya?

- Bagaimana Anda dapat menggunakan bakat dan kemampuan Anda untuk mengasihi dan memperhatikan orang-orang percaya lainnya?

- Bagaimana jika Anda tidak menggunakan bakat dan kemampuan unik yang Anda miliki? Bagaimana hal itu dapat berdampak negatif terhadap orang-orang percaya lainnya?

Bacaan Alkitab Setahun :
Yeremia 44-47; II Tesalonika 2
_____________
Sejak awal mula waktu, maksud Allah adalah agar kita menjalani hidup bersama-sama dalam keluarga-Nya.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
=========
The Church Is God’s Family
By Rick Warren

“The human body has many parts, but the many parts make up one whole body. So it is with the body of Christ.” 1 Corinthians 12:12 (NLT)
---------------------
God never meant for you to go through life on your own. He wants you to be part of his family—the church. In fact, the church has been God’s plan from the very beginning.

Some people think of the church as a building, an institution, or an event you attend. The church isn’t any of those things. It's a family you belong to.

The Living Bible paraphrase says, “His unchanging plan has always been to adopt us into his own family by sending Jesus Christ to die for us. And he did this because he wanted to!” (Ephesians 1:5).

When you’re part of the church, two things are true of you: You’re committed to Jesus, and you’re committed to the people in your church family. The Bible says in 2 Corinthian 8:5, “First they gave themselves to the Lord; and then, by God's will they gave themselves to us as well” (GNT).

You give yourself to the Lord, and then you give yourself to a group of people in God’s family. The first choice makes you a Christian. The second choice connects you with other believers. I’m not the church. You’re not the church. But together, we are the church—the body of Christ.

What does it mean to be part of the body of Christ? The Bible says, “The human body has many parts, but the many parts make up one whole body. So it is with the body of Christ” (1 Corinthians 12:12 NLT).

To understand how the church operates, look at the way God designed your body. Your hand, nose, spleen, and liver are all parts of your body. They all have separate functions, but together they make up one physical body—just like God’s church makes up one spiritual body.

That’s why you are such a necessary part of your church family. You can’t say, “My part—my talents and abilities—isn’t needed.” There are no unnecessary parts. We are all dependent on each other, and each of us has a different role to play.

God’s intention from the very beginning of time is that we live our lives together in his family.


POHON ARA DI DALAM BAYANGAN

Refleksi berdasarkan Efesus 4:7–16 dan Lukas 13:1–9

Aku mengumpulkan karunia seperti mengumpulkan cermin,
lalu berdiri di tengah Gereja
untuk mengagumi wajahku sendiri.
Kusebut itu pelayanan,
padahal diam-diam aku sedang membangun altar
bagi bayangan yang ingin kusembunyikan.

Kristus turun ke tempat yang paling rendah,
menjemput Adam dari rahim kegelapan
(Ef 4:9–10).
Tetapi aku, yang mengaku mengikuti-Nya,
masih takut turun ke ruang bawah tanah jiwaku—
tempat iri hati tidur bersama kesalehan,
tempat luka masa kecil menyamar menjadi panggilan,
tempat topeng orang kudus
menutupi manusia yang lapar akan pujian.

Aku ingin menjadi Kepala,
tetapi lupa bahwa aku hanyalah anggota;
ingin menjadi terang,
tetapi menyangkal bayangan sendiri.
Tubuh Kristus tumbuh menuju kepenuhan-Nya
(Ef 4:13–16),
sementara egoku tumbuh diam-diam
di balik setiap keberhasilan pelayanan.

Lalu sebuah menara runtuh.
Beberapa orang mati sebelum sempat menjelaskan
mengapa hidup mereka harus berakhir.
Aku bertanya, dosa siapa yang sedang dihukum?
Barangkali lebih mudah menuduh langit
daripada mendengar tanah yang retak
di bawah kakiku sendiri
(Luk 13:1–5).

Di kebun anggur itu,
sebatang pohon ara berdiri tanpa buah.
Tiga tahun menjadi saksi kesabarannya,
tetapi juga saksi penundaannya.
Pengurus kebun memohon satu musim lagi:
tanah digemburkan,
akar diberi makan,
harapan belum dicabut
(Luk 13:6–9).

Betapa miripnya pohon itu denganku:
aku ingin diselamatkan dari kapak,
tetapi belum tentu ingin diubah.
Aku memohon kesabaran Allah,
namun sering kehilangan kesabaran
terhadap diriku sendiri dan orang lain.
Aku menyebut ketakutanku sebagai kehati-hatian,
keenggananku sebagai penantian,
dan kemandekanku sebagai misteri kehendak Tuhan.

Barangkali pertobatan dimulai
ketika aku berhenti membunuh bayanganku
dengan doa-doa yang terdengar suci,
lalu berani menatapnya
tanpa menjadikannya raja.
Sebab yang kutolak dalam diriku
dapat tumbuh menjadi penguasa gelap;
yang kuakui dengan jujur
dapat kubawa ke hadapan rahmat.

Tuhan, jangan biarkan aku puas
menjadi pohon yang tampak hidup
karena daunnya rimbun.
Gemburkan tanahku,
meski cangkul-Mu melukai kesombongan.
Berilah aku waktu,
tetapi jangan biarkan waktu
menjadi tempat persembunyian.

Dan jika suatu hari buah itu tumbuh,
jangan biarkan aku memetiknya
untuk membuktikan bahwa aku istimewa.
Biarlah ia menjadi makanan bagi yang lapar,
naungan bagi yang letih,
dan tanda kecil bahwa rahmat-Mu
telah menembus tanah keras
yang selama ini kusebut:
diriku sendiri.

~BDM, 24.10.26


Uploaded Image

Jumat, 23 Oktober 2026

Bowo ini gimana sih?!

Bayangin lo lagi ke dokter, terus dokternya bilang, “Pak, ini ada penyakit serius. Kalau nggak segera ditangani, bisa bahaya.”

Eh, lo malah jawab, “GUE GAK TAKUT!”

LAH, BOCAH, SIAPA YANG NANYA LO TAKUT APA NGGAK?!

Dokternya juga nggak peduli lo takut apa enggak, Bowo! Dia lagi ngasih tahu kalau ada masalah di tubuh lo yang harus segera diberesin!

Nah, sekarang coba lo lihat Indonesia.

MSCI, lembaga yang bikin indeks saham dan jadi salah satu acuan investor global, lagi menyoroti masalah di pasar modal kita. Mulai dari transparansi kepemilikan saham sampai persoalan integritas perdagangan.

Bahkan, ada usulan perubahan status pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.

Ini tuh ibarat dokter udah ngasih hasil pemeriksaan, terus bilang, “Pak, ini masalahnya serius. Tolong segera dibenahi.”

Terus pasiennya malah sibuk teriak, “SAYA TIDAK TAKUT SAMA DOKTER ASING!”

YA ALLAH, BUKAN ITU MASALAHNYA, Wo!

Emang siapa yang nyuruh lo takut sama orang asing?!

YANG HARUS LO PIKIRIN ITU, KENAPA MASALAHNYA BISA MUNCUL, APA YANG HARUS DIBENAHI, DAN GIMANA CARANYA BIAR INVESTOR PERCAYA SAMA SISTEM KITA!

Karena kalau investor mulai kehilangan kepercayaan, yang dipertaruhkan bukan cuma gengsi pemerintah. Ada risiko duit investasi keluar, perusahaan makin susah mencari modal, dan dunia usaha ikut kena dampaknya.

Memang bukan berarti semua itu pasti terjadi. Tapi justru karena risikonya ada, peringatannya harus ditanggapi serius.

Gue tuh heran sama pola pikir kita.

Kalau ada orang asing muji Indonesia, kita bangga setengah mati. Tapi begitu mereka ngasih kritik, mendadak semuanya dianggap mau menjatuhkan bangsa.

LAH, KITA INI MAU BENERIN NEGARA ATAU CUMA MAU MENANG DEBAT?!

Kalau kritiknya salah, buktiin kalau salah. Kalau memang ada masalah, ya beresin!

Jangan sampai kita terlalu sibuk mempertahankan harga diri sampai lupa memperbaiki hal-hal yang memang perlu diperbaiki.

NEGARA KUAT ITU BUKAN NEGARA YANG PALING KERAS BILANG "GUE GAK TAKUT". NEGARA KUAT ITU NEGARA YANG BERANI NGAKUIN MASALAH, BERESIN MASALAHNYA, TERUS MEMBUKTIKAN KALAU MEREKA MEMANG LAYAK DIPERCAYA.

 *Balqis Humaira*


Uploaded Image

Kebiasaan yang Membangun Ketangguhan

24 Oktober 2026

Bacaan Hari ini:
Markus 1:35 *"Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana."*
-----------------------
Kunci untuk melawan stres adalah sesuatu yang justru paling jarang dilakukan banyak orang: meluangkan waktu sendirian bersama Allah. Kebiasaan sederhana tetapi penuh kuasa ini sangat penting untuk membangun jiwa yang tangguh dan mengelola stres kronis.

Doa adalah cara yang sangat baik untuk meredakan stres. Doa seperti ruang untuk melepaskan tekanan, tempat Anda dapat melepaskan stres akibat berusaha memenuhi harapan orang lain. Melalui doa, Anda melepaskan beban dan mengakui bahwa Anda tidak dapat memikulnya sendiri. Di sanalah Anda diingatkan bahwa Allah siap dan bersedia menolong Anda menghadapi setiap hal dalam hidup yang menimbulkan stres. Doa memberikan kelegaan batin.

Bagaimana Anda membangun kebiasaan meluangkan waktu sendirian bersama Allah? Kebiasaan terbentuk melalui latihan dan pengulangan. Sesuatu belum menjadi kebiasaan jika Anda tidak melakukannya berulang kali, sampai hal itu dilakukan secara teratur dan konsisten.

Yesus membangun kebiasaan rohani. Alkitab mengatakan dalam Lukas 22:39 bahwa sudah menjadi kebiasaan Yesus untuk pergi ke Bukit Zaitun dan berdoa. Markus 1:35 mengatakan, "Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana."

Yesus yakin bahwa sesibuk apa pun, Dia tetap membutuhkan waktu untuk menyendiri bersama Allah dan berdoa. Apakah Anda memiliki waktu seperti itu dalam hidup Anda? Apakah Anda pernah memperlambat langkah dan menenangkan diri di hadapan Allah agar dapat merenung dan diperbarui?

Ketika berita tentang Yesus menyebar dan banyak orang berbondong-bondong datang untuk mendengarkan-Nya berbicara dan disembuhkan oleh-Nya, Dia tetap menjadikan waktu menyendiri bersama Allah sebagai kebiasaan. Alkitab mengatakan, "Akan tetapi Ia mengundurkan diri ke tempat-tempat yang sunyi dan berdoa" (Lukas 5:16). Jika Yesus merasa perlu untuk sering meninggalkan kerumunan dan menyendiri bersama Allah, bayangkan betapa lebih besarnya kebutuhan kita akan hal itu.

Oleh karena kebisingan dan kesibukan sering kali menyebabkan stres, Anda perlu memulai pagi bersama Allah, bukan dengan ponsel atau televisi. Tenangkan diri, diamlah dan bukalah hati terhadap pekerjaan yang ingin Allah lakukan di dalam diri Anda saat Anda membiasakan diri merenungkan Firman-Nya dan berada dalam hadirat-Nya.

Renungkan :

- Bagaimana Anda perlu mengubah cara berpikir tentang kebiasaan atau disiplin rohani agar Anda lebih termotivasi untuk melakukannya?

- Apa yang membuat tubuh dan pikiran Anda sulit untuk tenang dan diam dalam hadirat Allah?

- Jika selama ini Anda belum melakukannya, apakah Anda bersedia berkomitmen untuk menjadikan waktu menyendiri bersama Allah sebagai suatu kebiasaan? Langkah besar apa yang mungkin perlu Anda ambil untuk melakukannya?

Bacaan Alkitab Setahun :
Yeremia 38-43; II Tesalonika 1
_____________
Jika Anda ingin menjadi pribadi yang tangguh, Anda harus membangun kebiasaan meluangkan waktu bersama Allah.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
========
The Habit That Builds Resilience
By Rick Warren

“Very early in the morning, while it was still dark, Jesus got up, left the house and went off to a solitary place, where he prayed.”  Mark 1:35 (NIV)
------------------
The key to resisting stress is what many people do the least: spend time alone with God. This simple but powerful habit is essential for building a resilient spirit and managing chronic stress.

Prayer is a great stress reliever. It’s a decompression chamber, where you can release the stress of living up to others’ expectations. It’s how you unload your burdens and admit you can’t carry them on your own. It’s where you are reminded that God is ready and willing to help you with every stressful thing in life. It’s cathartic.

How do you develop the habit of spending time alone with God? Habits are developed through practice and repetition. It’s not a habit unless you do it over and over again, until it happens regularly and consistently.

Jesus developed spiritual habits. The Bible says in Luke 22:39 that it was Jesus’ habit to go to the Mount of Olives to pray. And Mark 1:35 says, “Very early in the morning, while it was still dark, Jesus got up, left the house and went off to a solitary place, where he prayed” (NIV).

Jesus was convinced that, no matter how busy he was, he needed time alone with God to pray. Do you have any time like that in your life? Do you ever slow down and get quiet before God so you can reflect and be renewed? If you want to be a resilient person, then you have to develop the habit of spending time with God.

While word spread about Jesus and huge crowds of people came to hear him speak and be healed by him, he still made his time alone with God a habit. The Bible says, “Jesus often slipped away to be alone so he could pray” (Luke 5:16 NCV). If Jesus felt the need to frequently leave the crowd and get alone with God, then think about how much more we must need that.

Because noise often causes stress, you need to start your morning with God instead of with your phone or TV. Be still, be quiet, and be open to the work God wants to do in you as you make a habit of meditating on his Word and being in his presence.


Kamis, 22 Oktober 2026

Anda Membutuhkan Komunitas

23 Oktober 2026

Bacaan Hari ini:
Markus 3:14 "Ia menetapkan dua belas orang untuk menyertai Dia dan untuk diutus-Nya memberitakan Injil"
-----------------------
Jika saya meminta Anda melengkapi kalimat ini, "Jika Anda ingin suatu pekerjaan dilakukan dengan benar..." Anda mungkin akan melanjutkannya dengan, "....kerjakan sendiri", Namun, itu adalah prinsip seorang perfeksionis yang sedang menuju pada kelelahan akut—karena Anda tidak bisa melakukan setiap pekerjaan seorang diri.

Yesus adalah manusia, sama seperti kita. Dan alih-alih mencoba melakukan semuanya seorang diri, Dia dengan sengaja membagikan kehidupan dan pelayanan-Nya kepada orang lain.

Tahukah Anda hal pertama yang Yesus lakukan ketika memulai pelayanan-Nya? Dia membentuk kelompok kecil. Markus 3:14 mengatakan, "Ia menetapkan dua belas orang untuk menyertai Dia dan untuk diutus-Nya memberitakan Injil". Sebelum memulai pelayanan-Nya di hadapan umum, Yesus mengumpulkan sebuah kelompok kecil karena Dia tahu bahwa Bapa-Nya menghendaki agar Dia melakukan pelayanan dan melewati hari-hari-Nya yang paling berat bersama teman-teman di sisi-Nya.

Jika ada seseorang yang berhak berkata, "Jika Anda ingin suatu pekerjaan dilakukan dengan benar, kerjakan sendiri," orang itu adalah Yesus. Dia memiliki kuasa untuk melakukan apa saja, tetapi bahkan Dia pun mengetahui betapa besar kuasa dukungan dari sebuah kelompok kecil.

Ketika Dia pergi ke Taman Getsemani, tepat sebelum penyaliban-Nya, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya dalam Matius 26:38, "Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku". Bahkan Yesus mengundang orang lain untuk berdoa bersama-Nya. Bahkan Yesus memilih untuk bersandar pada dukungan sebuah kelompok kecil ketika Dia menghadapi krisis.

Sebagian besar stres yang kita alami sebenarnya kita timbulkan sendiri. Kita menjadi gelisah ketika berpikir bahwa semuanya bergantung pada kita—padahal tidak demikian. Allah tidak memanggil Anda untuk menjadi pengelola umum alam semesta, apalagi mengharapkan Anda mampu mengelola hidup Anda sendiri tanpa bantuan orang lain. Anda membutuhkan arahan dan kekuatan dari-Nya, dan Anda membutuhkan orang-orang di sekitar Anda untuk menjalani hidup bersama-sama.

Kita sering kali tidak menerima bantuan dari orang lain karena rasa tidak aman dan kesombongan kita, sehingga kita terus mengalami stres. Namun, ada orang-orang beriman yang bersedia membantu dan mendukung Anda—dan ada pula orang-orang yang membutuhkan bantuan dan dukungan Anda.

Rendahkanlah hati Anda dan akuilah bahwa Anda tidak dapat melakukannya seorang diri. Dan Anda memang tidak harus melakukannya sendiri! Allah membentuk gereja agar berjalan bersama Anda pada masa-masa baik dan menolong Anda pada masa-masa penuh tekanan. Dia akan menuntun Anda kepada orang-orang yang Anda butuhkan jika Anda mau membuka diri dan memercayai-Nya untuk menyediakan apa yang Anda perlukan.

Renungkan :

- Mengapa keterbukaan untuk menunjukkan kelemahan dan kerendahan hati diperlukan dalam komunitas yang berdasarkan Alkitab

- Bagaimana Anda mengetahui bahwa Anda sedang menuju kelelahan? Apa saja tanda-tanda peringatannya?

- Dalam hal apa saja Anda membutuhkan dukungan dari kelompok kecil saat ini? Berdoalah dan mintalah kepada Allah untuk menyediakan dukungan bagi Anda dalam bidang-bidang khusus tersebut.

Bacaan Alkitab Setahun :
Yeremia 34-37; I Tesalonika 5
_____________
Rendahkanlah hati Anda dan akuilah bahwa Anda tidak dapat melakukannya seorang diri. Dan Anda memang tidak harus melakukannya sendiri!

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
=======
You Need a Community
By Rick Warren

“Then he chose twelve of them to be his apostles, so they could be with him.” Mark 3:14 (CEV)
---------------------
If I were to ask you to complete this sentence, “If you want a job done right . . .” you would probably finish it with this: “. . . do it yourself.” But that’s the motto of a perfectionist headed for burnout—because you can’t do every job by yourself.

Jesus was human, just like us. And instead of trying to do everything alone, he intentionally shared his life and ministry with others.

Do you know the first thing Jesus did when he started his ministry? He formed a small group. Mark 3:14 says, “Then he chose twelve of them to be his apostles, so they could be with him” (CEV). Before he began his public ministry, Jesus gathered a small group because he knew his Father intended for him to do ministry and walk through his hardest days with friends by his side.

If anybody had a right to say, “If you want a job done right, do it yourself,” it was Jesus. He had the power to do anything, yet even he knew the power of having a small group for support.

When he went to the Garden of Gethsemane, just before the cross, Jesus said to his disciples in Matthew 26:38, “My soul is overwhelmed with sorrow to the point of death. Stay here and keep watch with me” (NIV). Even Jesus invited others to pray with him. Even Jesus chose to lean on the support of a small group when he was in a crisis.

So much of our stress is self-imposed. We get uptight when we think it all depends on us—but it doesn’t. God hasn’t called you to be the general manager of the universe, let alone expect you to be able to manage your own life by yourself. You need his direction and strength, and you need people around you to walk through life together.

We often don’t accept help from other people because of our insecurity and pride, and so we stay stressed out. But there are people of faith who are willing to help and support you—and people who need your help and support.

Humble yourself and admit that you can’t do it on your own. And you don’t have to! God made the church to walk with you in good times and help you in stressful times. And he will lead you to the people you need if you’ll just let your guard down and trust him to provide.


Rabu, 21 Oktober 2026

Kuasa untuk Memilih dengan Bijaksana

22 Oktober 2026

Bacaan Hari ini:
1 Korintus 10:23 "Segala sesuatu diperbolehkan." Benar, tetapi bukan segala sesuatu berguna. "Segala sesuatu diperbolehkan." Benar, tetapi bukan segala sesuatu membangun."
--------------------
Semakin bertambah usia saya, semakin saya menyadari betapa pentingnya memilih dengan bijaksana. Akan selalu ada banyak pilihan dan kesempatan. Namun, kunci untuk menjadi efektif adalah memilih dengan bijaksana.

Alkitab berkata dalam 1 Korintus 10:23, "Segala sesuatu diperbolehkan." Benar, tetapi bukan segala sesuatu berguna. "Segala sesuatu diperbolehkan." Benar, tetapi bukan segala sesuatu membangun."

Dengan kata lain, beberapa hal belum tentu salah—hal-hal itu hanya tidak diperlukan. Setelah Anda memahami hal ini, Anda akan lebih siap untuk bertahan menghadapi masa-masa sulit dalam hidup. Dan kemampuan bertahan menghadapi masa-masa sulit akan membuat Anda tangguh!

Ketika Anda berfokus pada arah yang Allah panggil untuk Anda tempuh, kemungkinan Anda teralihkan oleh hal-hal yang tidak begitu penting akan semakin kecil. Anda menetapkan prioritas yang berfokus pada kekekalan. Anda menyadari apa yang paling penting dalam hidup, dan Anda memilih bukan hanya hal-hal yang baik, tetapi juga hal-hal yang terbaik.

Yesus adalah pribadi yang sangat mampu memusatkan perhatian, yang berarti Dia menjalani hidup dengan penuh pilihan. Hal ini memungkinkan-Nya untuk hidup bagi Kerajaan Allah dan melakukan apa yang menyenangkan Bapa-Nya.

Alkitab mengatakan, "Ketika hampir genap waktunya Yesus diangkat ke sorga, Ia mengarahkan pandangan-Nya untuk pergi ke Yerusalem" (Lukas 9:51).

Dia memberikan teladan tentang tekad yang kuat dan memenuhi tujuan-Nya—meskipun Dia tahu bahwa hal itu akan membawa-Nya kepada kematian. Fokus-Nya menolong-Nya bertahan menghadapi rasa sakit, tekanan, dan penganiayaan. Paulus juga demikian. Dia berkata, "tetapi ini yang kulakukan" (Filipi 3:13), bukan "40 hal yang saya lakukan sesekali." Dia melakukan satu hal dalam hidupnya—hal yang paling penting.

Anda memiliki potensi luar biasa untuk dipakai oleh Allah, tetapi penghalangnya sering kali adalah Anda belum menetapkan apa yang paling penting. Jika Anda berpikir bahwa Anda tidak punya waktu untuk melayani Allah, berarti Anda tidak berfokus. Jika Anda menghabiskan lebih banyak waktu di media sosial daripada waktu untuk mengenal Allah, berarti Anda tidak berfokus. Jika Anda harus melakukan hal lain sebelum mengikuti Yesus, berarti Anda tidak berfokus.

Alkitab memperjelas hal ini: "Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah" (Lukas 9:62).

Renungkan :

- Apakah Anda menjalani hidup dengan fokus? Contoh apa dari hidup Anda yang mendukung jawaban Anda?

- Apa saja hal yang mengalihkan perhatian Anda (bahkan hal-hal yang baik) sehingga Anda tidak berfokus pada hal-hal yang paling penting?

- Bagaimana Allah menunjukkan kepada Anda apa yang paling penting untuk menjadi fokus Anda dan untuk Anda kejar?

Bacaan Alkitab Setahun :
Yeremia 29-33; I Tesalonika 4 : 13-18
_____________
Suatu hari nanti, Anda akan berdiri di hadapan Allah. Bagaimana Anda akan menjawab ketika Dia bertanya apa yang telah Anda lakukan dengan apa yang telah diberikan kepada Anda?

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
=========
The Power of Being Selective
By Rick Warren

“Someone may say, ‘I’m allowed to do anything,’ but not everything is helpful. I’m allowed to do anything, but not everything encourages growth.” 1 Corinthians 10:23 (GW)
-------------------
The older I get, the more I realize how important it is to be selective. There will always be a lot of options and opportunities. But the key to effectiveness is being selective.

The Bible says in 1 Corinthians 10:23, “Someone may say, ‘I’m allowed to do anything,’ but not everything is helpful. I’m allowed to do anything, but not everything encourages growth” (GW).

In other words, some things aren’t necessarily wrong—they’re just not necessary. Once you figure that out, you’ll be better equipped to withstand the hard times in life. And withstanding hard times will make you resilient!

When you focus on the direction God is calling you to go, you’re less likely to get distracted by things that aren’t as important. You set priorities that have an eternal focus. You realize what matters most in life, and you choose not just good things but the best things.

Jesus was a master of concentration, meaning he lived a selective life. This allowed him to live for God’s kingdom and do what pleased his Father.

The Living Bible paraphrase says, “As the time drew near for his return to heaven, [Jesus] moved steadily onward toward Jerusalem with an iron will” (Luke 9:51).

He modeled an iron will and fulfilled his purpose—even though he knew it would lead to his death. His focus helped him endure the pain and stress and persecution. Paul was the same way. He said, “This one thing I do” (Philippians 3:13 KJV), not “these 40 things I dabble in.” He did one thing with his life—the most important thing.

You have incredible potential to be used by God, but the barrier is often that you haven’t settled what’s most important. If you think you don’t have time to serve God, then you’re not focused. If you spend more time on social media than you do getting to know God, then you’re not focused. If you have to do something else before you follow Jesus, then you are not focused.

The Living Bible paraphrase makes it clear: “Anyone who lets himself be distracted from the work I plan for him is not fit for the Kingdom of God” (Luke 9:62).

One day you’re going to stand before God. How will you answer him when he asks what you did with what you were given?


Selasa, 20 Oktober 2026

Berhentilah Berusaha Menyenangkan Semua Orang

21 Oktober 2026

Bacaan Hari ini:
Yohanes 5:30 "Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri; Aku menghakimi sesuai dengan apa yang Aku dengar, dan penghakiman-Ku adil, sebab Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku"
---------------------
Apa yang memotivasi Anda untuk bangun setiap pagi? Untuk pergi bekerja? Untuk belajar dengan giat? Untuk melayani, memberi, dan mengasihi orang lain? Untuk terus melangkah ketika hidup terasa penuh tekanan?

Jika Anda tidak ingin terus-menerus bergumul dengan stres, Anda perlu mengetahui motivasi terdalam Anda.

Mengapa? Karena motivasi yang bercampur aduk akan membuat Anda merasa tertarik ke berbagai arah. Yesus berkata, "Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan" (Lukas 16:13).

Bahkan Allah pun tidak dapat menyenangkan semua orang. Ketika seseorang berdoa agar hujan turun, orang lain berdoa agar cuaca cerah. Sebagai pendeta selama lebih dari 40 tahun, saya tahu bahwa selalu ada seseorang yang merasa kecewa terhadap saya karena orang-orang sering memiliki harapan yang berbeda-beda. Saya tidak dapat menyenangkan semua orang, begitu juga Anda.

Alkitab mengatakan bahwa takut kepada manusia adalah perangkap. Hal itu akan menguasai hati dan pikiran Anda serta menyebabkan Anda tersandung. Itulah sebabnya Yesus berkata dalam Yohanes 5:30, "Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri; Aku menghakimi sesuai dengan apa yang Aku dengar, dan penghakiman-Ku adil, sebab Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku". Yesus tahu siapa yang ingin Dia senangkan.

Jika Anda tidak berusaha menyenangkan Allah, kemungkinan besar Anda sedang berusaha menyenangkan banyak orang lain. Jauh lebih mudah dan tidak terlalu membuat stres jika Anda memutuskan untuk menyenangkan Allah—karena apa pun yang Anda lakukan untuk menyenangkan-Nya akan selalu menjadi hal yang benar. Inilah sebabnya Yesus begitu tangguh ketika menghadapi tekanan. Dia hanya berusaha menyenangkan satu Pribadi.

Persetujuan siapa yang Anda andalkan untuk memperoleh kebahagiaan? Siapa yang masih berusaha Anda senangkan? Bagi sebagian orang, orang itu adalah orang tua yang tidak pernah menunjukkan penerimaan atau memberikan dorongan. Bagi orang lain, mungkin seorang atasan yang mustahil dipuaskan, sekeras apa pun Anda berusaha.

Namun, Anda bukanlah korban. Anda sebebas yang Anda pilih untuk menjadi bebas. Tidak seorang pun dapat menekan Anda untuk memenuhi harapan mereka tanpa izin dari Anda.

Renungkan :

- Menurut Anda, bagaimana mengutamakan usaha untuk menyenangkan Allah daripada menyenangkan orang lain dapat membantu Anda mengalami kebebasan emosional dan mental yang lebih besar?

- Dalam hal-hal spesifik apa saja stres yang Anda alami disebabkan oleh usaha untuk menyenangkan orang lain?

- Bagaimana Anda dapat mengetahui apa yang menyenangkan hati Allah?

Bacaan Alkitab Setahun :
Yeremia 25-28; I Tesalonika 4 : 1-12
_____________
Ketika Anda hidup hanya untuk menyenangkan satu Pribadi, yaitu Allah, Anda tidak akan dikendalikan oleh rasa takut ditolak. Sebaliknya, Anda akan digerakkan oleh kasih dan bebas menjadi pribadi yang Allah ciptakan.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
========
Stop Trying to Please Everyone Else
By Rick Warren

“I am not trying to do what I want, but only what he who sent me wants.” John 5:30 (GNT)
----------------------
What motivates you to get up in the morning? To go to work? To study hard? To serve and give and love others? To keep going when life gets stressful?

If you don’t want to fight stress all the time, you need to know your deepest motivation.

Why? Because mixed motivations will leave you feeling pulled in different directions. Jesus said, “No one can serve two masters” (Luke 16:13 NLT).

Even God can’t please everybody. When somebody’s praying for it to rain, someone else is praying for it to be sunny. As a pastor for over 40 years, I knew that I was always disappointing somebody, because people often have different expectations. I can’t please everyone, and neither can you.

The Bible says the fear of man is a trap. It will capture your heart and mind and cause you to stumble. That’s why Jesus said in John 5:30, “I am not trying to do what I want, but only what he who sent me wants” (GNT). Jesus knew who he was trying to please.

If you’re not trying to please God, then in all likelihood, you’re trying to please a bunch of other people. It’s a lot easier and less stressful to decide you’re going to please God—because whatever you do that pleases him will always be the right thing. This is why Jesus was so resilient under stress. He only tried to please one person.

Whose approval are you depending on for your happiness? Who are you still trying to please? For some, it’s a parent who never showed approval or encouragement. For others, it may be a boss who’s impossible to please, no matter how hard you try.

But you are not a victim. You are as free as you choose to be. Nobody can pressure you into meeting their expectations without your permission.

When you live for an audience of one, you won’t be controlled by the fear of rejection. Instead, you’ll be motivated by love and free to be the person God made you to be.