Sabtu, 24 Oktober 2026

Gereja adalah Keluarga Allah

25 Oktober 2026

Bacaan Hari ini:
1 Korintus 12:12 "Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus"
-------------------
Allah tidak pernah bermaksud agar Anda menjalani hidup seorang diri. Dia ingin Anda menjadi bagian dari keluarga-Nya, yaitu gereja. Bahkan, gereja telah menjadi rencana Allah sejak awal mula.

Sebagian orang menganggap gereja sebagai sebuah gedung, lembaga, atau acara yang Anda hadiri. Gereja bukanlah salah satu dari hal-hal tersebut. Gereja adalah keluarga tempat Anda menjadi anggotanya.

Alkitab mengatakan, "Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya" (Efesus 1:5).

Ketika Anda menjadi bagian dari gereja, ada dua hal yang benar tentang diri Anda: Anda berkomitmen kepada Yesus, dan Anda berkomitmen kepada orang-orang dalam keluarga gereja Anda. Alkitab mengatakan dalam 2 Korintus 8:5, "Mereka memberikan lebih banyak dari pada yang kami harapkan. Mereka memberikan diri mereka, pertama-tama kepada Allah, kemudian oleh karena kehendak Allah juga kepada kami"

Anda menyerahkan diri kepada Tuhan, lalu Anda menyerahkan diri kepada sekelompok orang dalam keluarga Allah. Pilihan pertama menjadikan Anda seorang Kristen. Pilihan kedua menghubungkan Anda dengan orang-orang percaya lainnya. Saya bukanlah gereja. Anda bukanlah gereja. Namun, bersama-sama, kita adalah gereja—tubuh Kristus.

Apa artinya menjadi bagian dari tubuh Kristus? Alkitab mengatakan, "Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus" (1 Korintus 12:12).

Untuk memahami bagaimana gereja bekerja, perhatikan cara Allah merancang tubuh Anda. Tangan, hidung, limpa dan hati Anda semuanya merupakan bagian dari tubuh Anda. Semuanya memiliki fungsi yang berbeda, tetapi bersama-sama membentuk satu tubuh jasmani—sama seperti gereja Allah membentuk satu tubuh rohani.

Itulah sebabnya Anda merupakan bagian yang sangat penting dari keluarga gereja Anda. Anda tidak dapat berkata, "Bagian saya—bakat dan kemampuan saya—tidak diperlukan." Tidak ada anggota yang tidak diperlukan. Kita semua saling bergantung satu sama lain dan masing-masing dari kita memiliki peran yang berbeda untuk dijalankan.

Renungkan :

- Dalam hal apa saja Anda selama ini memandang gereja sebagai tempat yang Anda kunjungi, bukan sebagai keluarga tempat Anda menjadi anggotanya?

- Bagaimana Anda dapat menggunakan bakat dan kemampuan Anda untuk mengasihi dan memperhatikan orang-orang percaya lainnya?

- Bagaimana jika Anda tidak menggunakan bakat dan kemampuan unik yang Anda miliki? Bagaimana hal itu dapat berdampak negatif terhadap orang-orang percaya lainnya?

Bacaan Alkitab Setahun :
Yeremia 44-47; II Tesalonika 2
_____________
Sejak awal mula waktu, maksud Allah adalah agar kita menjalani hidup bersama-sama dalam keluarga-Nya.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
=========
The Church Is God’s Family
By Rick Warren

“The human body has many parts, but the many parts make up one whole body. So it is with the body of Christ.” 1 Corinthians 12:12 (NLT)
---------------------
God never meant for you to go through life on your own. He wants you to be part of his family—the church. In fact, the church has been God’s plan from the very beginning.

Some people think of the church as a building, an institution, or an event you attend. The church isn’t any of those things. It's a family you belong to.

The Living Bible paraphrase says, “His unchanging plan has always been to adopt us into his own family by sending Jesus Christ to die for us. And he did this because he wanted to!” (Ephesians 1:5).

When you’re part of the church, two things are true of you: You’re committed to Jesus, and you’re committed to the people in your church family. The Bible says in 2 Corinthian 8:5, “First they gave themselves to the Lord; and then, by God's will they gave themselves to us as well” (GNT).

You give yourself to the Lord, and then you give yourself to a group of people in God’s family. The first choice makes you a Christian. The second choice connects you with other believers. I’m not the church. You’re not the church. But together, we are the church—the body of Christ.

What does it mean to be part of the body of Christ? The Bible says, “The human body has many parts, but the many parts make up one whole body. So it is with the body of Christ” (1 Corinthians 12:12 NLT).

To understand how the church operates, look at the way God designed your body. Your hand, nose, spleen, and liver are all parts of your body. They all have separate functions, but together they make up one physical body—just like God’s church makes up one spiritual body.

That’s why you are such a necessary part of your church family. You can’t say, “My part—my talents and abilities—isn’t needed.” There are no unnecessary parts. We are all dependent on each other, and each of us has a different role to play.

God’s intention from the very beginning of time is that we live our lives together in his family.


POHON ARA DI DALAM BAYANGAN

Refleksi berdasarkan Efesus 4:7–16 dan Lukas 13:1–9

Aku mengumpulkan karunia seperti mengumpulkan cermin,
lalu berdiri di tengah Gereja
untuk mengagumi wajahku sendiri.
Kusebut itu pelayanan,
padahal diam-diam aku sedang membangun altar
bagi bayangan yang ingin kusembunyikan.

Kristus turun ke tempat yang paling rendah,
menjemput Adam dari rahim kegelapan
(Ef 4:9–10).
Tetapi aku, yang mengaku mengikuti-Nya,
masih takut turun ke ruang bawah tanah jiwaku—
tempat iri hati tidur bersama kesalehan,
tempat luka masa kecil menyamar menjadi panggilan,
tempat topeng orang kudus
menutupi manusia yang lapar akan pujian.

Aku ingin menjadi Kepala,
tetapi lupa bahwa aku hanyalah anggota;
ingin menjadi terang,
tetapi menyangkal bayangan sendiri.
Tubuh Kristus tumbuh menuju kepenuhan-Nya
(Ef 4:13–16),
sementara egoku tumbuh diam-diam
di balik setiap keberhasilan pelayanan.

Lalu sebuah menara runtuh.
Beberapa orang mati sebelum sempat menjelaskan
mengapa hidup mereka harus berakhir.
Aku bertanya, dosa siapa yang sedang dihukum?
Barangkali lebih mudah menuduh langit
daripada mendengar tanah yang retak
di bawah kakiku sendiri
(Luk 13:1–5).

Di kebun anggur itu,
sebatang pohon ara berdiri tanpa buah.
Tiga tahun menjadi saksi kesabarannya,
tetapi juga saksi penundaannya.
Pengurus kebun memohon satu musim lagi:
tanah digemburkan,
akar diberi makan,
harapan belum dicabut
(Luk 13:6–9).

Betapa miripnya pohon itu denganku:
aku ingin diselamatkan dari kapak,
tetapi belum tentu ingin diubah.
Aku memohon kesabaran Allah,
namun sering kehilangan kesabaran
terhadap diriku sendiri dan orang lain.
Aku menyebut ketakutanku sebagai kehati-hatian,
keenggananku sebagai penantian,
dan kemandekanku sebagai misteri kehendak Tuhan.

Barangkali pertobatan dimulai
ketika aku berhenti membunuh bayanganku
dengan doa-doa yang terdengar suci,
lalu berani menatapnya
tanpa menjadikannya raja.
Sebab yang kutolak dalam diriku
dapat tumbuh menjadi penguasa gelap;
yang kuakui dengan jujur
dapat kubawa ke hadapan rahmat.

Tuhan, jangan biarkan aku puas
menjadi pohon yang tampak hidup
karena daunnya rimbun.
Gemburkan tanahku,
meski cangkul-Mu melukai kesombongan.
Berilah aku waktu,
tetapi jangan biarkan waktu
menjadi tempat persembunyian.

Dan jika suatu hari buah itu tumbuh,
jangan biarkan aku memetiknya
untuk membuktikan bahwa aku istimewa.
Biarlah ia menjadi makanan bagi yang lapar,
naungan bagi yang letih,
dan tanda kecil bahwa rahmat-Mu
telah menembus tanah keras
yang selama ini kusebut:
diriku sendiri.

~BDM, 24.10.26


Uploaded Image

Jumat, 23 Oktober 2026

Bowo ini gimana sih?!

Bayangin lo lagi ke dokter, terus dokternya bilang, “Pak, ini ada penyakit serius. Kalau nggak segera ditangani, bisa bahaya.”

Eh, lo malah jawab, “GUE GAK TAKUT!”

LAH, BOCAH, SIAPA YANG NANYA LO TAKUT APA NGGAK?!

Dokternya juga nggak peduli lo takut apa enggak, Bowo! Dia lagi ngasih tahu kalau ada masalah di tubuh lo yang harus segera diberesin!

Nah, sekarang coba lo lihat Indonesia.

MSCI, lembaga yang bikin indeks saham dan jadi salah satu acuan investor global, lagi menyoroti masalah di pasar modal kita. Mulai dari transparansi kepemilikan saham sampai persoalan integritas perdagangan.

Bahkan, ada usulan perubahan status pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.

Ini tuh ibarat dokter udah ngasih hasil pemeriksaan, terus bilang, “Pak, ini masalahnya serius. Tolong segera dibenahi.”

Terus pasiennya malah sibuk teriak, “SAYA TIDAK TAKUT SAMA DOKTER ASING!”

YA ALLAH, BUKAN ITU MASALAHNYA, Wo!

Emang siapa yang nyuruh lo takut sama orang asing?!

YANG HARUS LO PIKIRIN ITU, KENAPA MASALAHNYA BISA MUNCUL, APA YANG HARUS DIBENAHI, DAN GIMANA CARANYA BIAR INVESTOR PERCAYA SAMA SISTEM KITA!

Karena kalau investor mulai kehilangan kepercayaan, yang dipertaruhkan bukan cuma gengsi pemerintah. Ada risiko duit investasi keluar, perusahaan makin susah mencari modal, dan dunia usaha ikut kena dampaknya.

Memang bukan berarti semua itu pasti terjadi. Tapi justru karena risikonya ada, peringatannya harus ditanggapi serius.

Gue tuh heran sama pola pikir kita.

Kalau ada orang asing muji Indonesia, kita bangga setengah mati. Tapi begitu mereka ngasih kritik, mendadak semuanya dianggap mau menjatuhkan bangsa.

LAH, KITA INI MAU BENERIN NEGARA ATAU CUMA MAU MENANG DEBAT?!

Kalau kritiknya salah, buktiin kalau salah. Kalau memang ada masalah, ya beresin!

Jangan sampai kita terlalu sibuk mempertahankan harga diri sampai lupa memperbaiki hal-hal yang memang perlu diperbaiki.

NEGARA KUAT ITU BUKAN NEGARA YANG PALING KERAS BILANG "GUE GAK TAKUT". NEGARA KUAT ITU NEGARA YANG BERANI NGAKUIN MASALAH, BERESIN MASALAHNYA, TERUS MEMBUKTIKAN KALAU MEREKA MEMANG LAYAK DIPERCAYA.

 *Balqis Humaira*


Uploaded Image

Kebiasaan yang Membangun Ketangguhan

24 Oktober 2026

Bacaan Hari ini:
Markus 1:35 *"Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana."*
-----------------------
Kunci untuk melawan stres adalah sesuatu yang justru paling jarang dilakukan banyak orang: meluangkan waktu sendirian bersama Allah. Kebiasaan sederhana tetapi penuh kuasa ini sangat penting untuk membangun jiwa yang tangguh dan mengelola stres kronis.

Doa adalah cara yang sangat baik untuk meredakan stres. Doa seperti ruang untuk melepaskan tekanan, tempat Anda dapat melepaskan stres akibat berusaha memenuhi harapan orang lain. Melalui doa, Anda melepaskan beban dan mengakui bahwa Anda tidak dapat memikulnya sendiri. Di sanalah Anda diingatkan bahwa Allah siap dan bersedia menolong Anda menghadapi setiap hal dalam hidup yang menimbulkan stres. Doa memberikan kelegaan batin.

Bagaimana Anda membangun kebiasaan meluangkan waktu sendirian bersama Allah? Kebiasaan terbentuk melalui latihan dan pengulangan. Sesuatu belum menjadi kebiasaan jika Anda tidak melakukannya berulang kali, sampai hal itu dilakukan secara teratur dan konsisten.

Yesus membangun kebiasaan rohani. Alkitab mengatakan dalam Lukas 22:39 bahwa sudah menjadi kebiasaan Yesus untuk pergi ke Bukit Zaitun dan berdoa. Markus 1:35 mengatakan, "Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana."

Yesus yakin bahwa sesibuk apa pun, Dia tetap membutuhkan waktu untuk menyendiri bersama Allah dan berdoa. Apakah Anda memiliki waktu seperti itu dalam hidup Anda? Apakah Anda pernah memperlambat langkah dan menenangkan diri di hadapan Allah agar dapat merenung dan diperbarui?

Ketika berita tentang Yesus menyebar dan banyak orang berbondong-bondong datang untuk mendengarkan-Nya berbicara dan disembuhkan oleh-Nya, Dia tetap menjadikan waktu menyendiri bersama Allah sebagai kebiasaan. Alkitab mengatakan, "Akan tetapi Ia mengundurkan diri ke tempat-tempat yang sunyi dan berdoa" (Lukas 5:16). Jika Yesus merasa perlu untuk sering meninggalkan kerumunan dan menyendiri bersama Allah, bayangkan betapa lebih besarnya kebutuhan kita akan hal itu.

Oleh karena kebisingan dan kesibukan sering kali menyebabkan stres, Anda perlu memulai pagi bersama Allah, bukan dengan ponsel atau televisi. Tenangkan diri, diamlah dan bukalah hati terhadap pekerjaan yang ingin Allah lakukan di dalam diri Anda saat Anda membiasakan diri merenungkan Firman-Nya dan berada dalam hadirat-Nya.

Renungkan :

- Bagaimana Anda perlu mengubah cara berpikir tentang kebiasaan atau disiplin rohani agar Anda lebih termotivasi untuk melakukannya?

- Apa yang membuat tubuh dan pikiran Anda sulit untuk tenang dan diam dalam hadirat Allah?

- Jika selama ini Anda belum melakukannya, apakah Anda bersedia berkomitmen untuk menjadikan waktu menyendiri bersama Allah sebagai suatu kebiasaan? Langkah besar apa yang mungkin perlu Anda ambil untuk melakukannya?

Bacaan Alkitab Setahun :
Yeremia 38-43; II Tesalonika 1
_____________
Jika Anda ingin menjadi pribadi yang tangguh, Anda harus membangun kebiasaan meluangkan waktu bersama Allah.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
========
The Habit That Builds Resilience
By Rick Warren

“Very early in the morning, while it was still dark, Jesus got up, left the house and went off to a solitary place, where he prayed.”  Mark 1:35 (NIV)
------------------
The key to resisting stress is what many people do the least: spend time alone with God. This simple but powerful habit is essential for building a resilient spirit and managing chronic stress.

Prayer is a great stress reliever. It’s a decompression chamber, where you can release the stress of living up to others’ expectations. It’s how you unload your burdens and admit you can’t carry them on your own. It’s where you are reminded that God is ready and willing to help you with every stressful thing in life. It’s cathartic.

How do you develop the habit of spending time alone with God? Habits are developed through practice and repetition. It’s not a habit unless you do it over and over again, until it happens regularly and consistently.

Jesus developed spiritual habits. The Bible says in Luke 22:39 that it was Jesus’ habit to go to the Mount of Olives to pray. And Mark 1:35 says, “Very early in the morning, while it was still dark, Jesus got up, left the house and went off to a solitary place, where he prayed” (NIV).

Jesus was convinced that, no matter how busy he was, he needed time alone with God to pray. Do you have any time like that in your life? Do you ever slow down and get quiet before God so you can reflect and be renewed? If you want to be a resilient person, then you have to develop the habit of spending time with God.

While word spread about Jesus and huge crowds of people came to hear him speak and be healed by him, he still made his time alone with God a habit. The Bible says, “Jesus often slipped away to be alone so he could pray” (Luke 5:16 NCV). If Jesus felt the need to frequently leave the crowd and get alone with God, then think about how much more we must need that.

Because noise often causes stress, you need to start your morning with God instead of with your phone or TV. Be still, be quiet, and be open to the work God wants to do in you as you make a habit of meditating on his Word and being in his presence.


Kamis, 22 Oktober 2026

Anda Membutuhkan Komunitas

23 Oktober 2026

Bacaan Hari ini:
Markus 3:14 "Ia menetapkan dua belas orang untuk menyertai Dia dan untuk diutus-Nya memberitakan Injil"
-----------------------
Jika saya meminta Anda melengkapi kalimat ini, "Jika Anda ingin suatu pekerjaan dilakukan dengan benar..." Anda mungkin akan melanjutkannya dengan, "....kerjakan sendiri", Namun, itu adalah prinsip seorang perfeksionis yang sedang menuju pada kelelahan akut—karena Anda tidak bisa melakukan setiap pekerjaan seorang diri.

Yesus adalah manusia, sama seperti kita. Dan alih-alih mencoba melakukan semuanya seorang diri, Dia dengan sengaja membagikan kehidupan dan pelayanan-Nya kepada orang lain.

Tahukah Anda hal pertama yang Yesus lakukan ketika memulai pelayanan-Nya? Dia membentuk kelompok kecil. Markus 3:14 mengatakan, "Ia menetapkan dua belas orang untuk menyertai Dia dan untuk diutus-Nya memberitakan Injil". Sebelum memulai pelayanan-Nya di hadapan umum, Yesus mengumpulkan sebuah kelompok kecil karena Dia tahu bahwa Bapa-Nya menghendaki agar Dia melakukan pelayanan dan melewati hari-hari-Nya yang paling berat bersama teman-teman di sisi-Nya.

Jika ada seseorang yang berhak berkata, "Jika Anda ingin suatu pekerjaan dilakukan dengan benar, kerjakan sendiri," orang itu adalah Yesus. Dia memiliki kuasa untuk melakukan apa saja, tetapi bahkan Dia pun mengetahui betapa besar kuasa dukungan dari sebuah kelompok kecil.

Ketika Dia pergi ke Taman Getsemani, tepat sebelum penyaliban-Nya, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya dalam Matius 26:38, "Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku". Bahkan Yesus mengundang orang lain untuk berdoa bersama-Nya. Bahkan Yesus memilih untuk bersandar pada dukungan sebuah kelompok kecil ketika Dia menghadapi krisis.

Sebagian besar stres yang kita alami sebenarnya kita timbulkan sendiri. Kita menjadi gelisah ketika berpikir bahwa semuanya bergantung pada kita—padahal tidak demikian. Allah tidak memanggil Anda untuk menjadi pengelola umum alam semesta, apalagi mengharapkan Anda mampu mengelola hidup Anda sendiri tanpa bantuan orang lain. Anda membutuhkan arahan dan kekuatan dari-Nya, dan Anda membutuhkan orang-orang di sekitar Anda untuk menjalani hidup bersama-sama.

Kita sering kali tidak menerima bantuan dari orang lain karena rasa tidak aman dan kesombongan kita, sehingga kita terus mengalami stres. Namun, ada orang-orang beriman yang bersedia membantu dan mendukung Anda—dan ada pula orang-orang yang membutuhkan bantuan dan dukungan Anda.

Rendahkanlah hati Anda dan akuilah bahwa Anda tidak dapat melakukannya seorang diri. Dan Anda memang tidak harus melakukannya sendiri! Allah membentuk gereja agar berjalan bersama Anda pada masa-masa baik dan menolong Anda pada masa-masa penuh tekanan. Dia akan menuntun Anda kepada orang-orang yang Anda butuhkan jika Anda mau membuka diri dan memercayai-Nya untuk menyediakan apa yang Anda perlukan.

Renungkan :

- Mengapa keterbukaan untuk menunjukkan kelemahan dan kerendahan hati diperlukan dalam komunitas yang berdasarkan Alkitab

- Bagaimana Anda mengetahui bahwa Anda sedang menuju kelelahan? Apa saja tanda-tanda peringatannya?

- Dalam hal apa saja Anda membutuhkan dukungan dari kelompok kecil saat ini? Berdoalah dan mintalah kepada Allah untuk menyediakan dukungan bagi Anda dalam bidang-bidang khusus tersebut.

Bacaan Alkitab Setahun :
Yeremia 34-37; I Tesalonika 5
_____________
Rendahkanlah hati Anda dan akuilah bahwa Anda tidak dapat melakukannya seorang diri. Dan Anda memang tidak harus melakukannya sendiri!

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
=======
You Need a Community
By Rick Warren

“Then he chose twelve of them to be his apostles, so they could be with him.” Mark 3:14 (CEV)
---------------------
If I were to ask you to complete this sentence, “If you want a job done right . . .” you would probably finish it with this: “. . . do it yourself.” But that’s the motto of a perfectionist headed for burnout—because you can’t do every job by yourself.

Jesus was human, just like us. And instead of trying to do everything alone, he intentionally shared his life and ministry with others.

Do you know the first thing Jesus did when he started his ministry? He formed a small group. Mark 3:14 says, “Then he chose twelve of them to be his apostles, so they could be with him” (CEV). Before he began his public ministry, Jesus gathered a small group because he knew his Father intended for him to do ministry and walk through his hardest days with friends by his side.

If anybody had a right to say, “If you want a job done right, do it yourself,” it was Jesus. He had the power to do anything, yet even he knew the power of having a small group for support.

When he went to the Garden of Gethsemane, just before the cross, Jesus said to his disciples in Matthew 26:38, “My soul is overwhelmed with sorrow to the point of death. Stay here and keep watch with me” (NIV). Even Jesus invited others to pray with him. Even Jesus chose to lean on the support of a small group when he was in a crisis.

So much of our stress is self-imposed. We get uptight when we think it all depends on us—but it doesn’t. God hasn’t called you to be the general manager of the universe, let alone expect you to be able to manage your own life by yourself. You need his direction and strength, and you need people around you to walk through life together.

We often don’t accept help from other people because of our insecurity and pride, and so we stay stressed out. But there are people of faith who are willing to help and support you—and people who need your help and support.

Humble yourself and admit that you can’t do it on your own. And you don’t have to! God made the church to walk with you in good times and help you in stressful times. And he will lead you to the people you need if you’ll just let your guard down and trust him to provide.


Rabu, 21 Oktober 2026

Kuasa untuk Memilih dengan Bijaksana

22 Oktober 2026

Bacaan Hari ini:
1 Korintus 10:23 "Segala sesuatu diperbolehkan." Benar, tetapi bukan segala sesuatu berguna. "Segala sesuatu diperbolehkan." Benar, tetapi bukan segala sesuatu membangun."
--------------------
Semakin bertambah usia saya, semakin saya menyadari betapa pentingnya memilih dengan bijaksana. Akan selalu ada banyak pilihan dan kesempatan. Namun, kunci untuk menjadi efektif adalah memilih dengan bijaksana.

Alkitab berkata dalam 1 Korintus 10:23, "Segala sesuatu diperbolehkan." Benar, tetapi bukan segala sesuatu berguna. "Segala sesuatu diperbolehkan." Benar, tetapi bukan segala sesuatu membangun."

Dengan kata lain, beberapa hal belum tentu salah—hal-hal itu hanya tidak diperlukan. Setelah Anda memahami hal ini, Anda akan lebih siap untuk bertahan menghadapi masa-masa sulit dalam hidup. Dan kemampuan bertahan menghadapi masa-masa sulit akan membuat Anda tangguh!

Ketika Anda berfokus pada arah yang Allah panggil untuk Anda tempuh, kemungkinan Anda teralihkan oleh hal-hal yang tidak begitu penting akan semakin kecil. Anda menetapkan prioritas yang berfokus pada kekekalan. Anda menyadari apa yang paling penting dalam hidup, dan Anda memilih bukan hanya hal-hal yang baik, tetapi juga hal-hal yang terbaik.

Yesus adalah pribadi yang sangat mampu memusatkan perhatian, yang berarti Dia menjalani hidup dengan penuh pilihan. Hal ini memungkinkan-Nya untuk hidup bagi Kerajaan Allah dan melakukan apa yang menyenangkan Bapa-Nya.

Alkitab mengatakan, "Ketika hampir genap waktunya Yesus diangkat ke sorga, Ia mengarahkan pandangan-Nya untuk pergi ke Yerusalem" (Lukas 9:51).

Dia memberikan teladan tentang tekad yang kuat dan memenuhi tujuan-Nya—meskipun Dia tahu bahwa hal itu akan membawa-Nya kepada kematian. Fokus-Nya menolong-Nya bertahan menghadapi rasa sakit, tekanan, dan penganiayaan. Paulus juga demikian. Dia berkata, "tetapi ini yang kulakukan" (Filipi 3:13), bukan "40 hal yang saya lakukan sesekali." Dia melakukan satu hal dalam hidupnya—hal yang paling penting.

Anda memiliki potensi luar biasa untuk dipakai oleh Allah, tetapi penghalangnya sering kali adalah Anda belum menetapkan apa yang paling penting. Jika Anda berpikir bahwa Anda tidak punya waktu untuk melayani Allah, berarti Anda tidak berfokus. Jika Anda menghabiskan lebih banyak waktu di media sosial daripada waktu untuk mengenal Allah, berarti Anda tidak berfokus. Jika Anda harus melakukan hal lain sebelum mengikuti Yesus, berarti Anda tidak berfokus.

Alkitab memperjelas hal ini: "Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah" (Lukas 9:62).

Renungkan :

- Apakah Anda menjalani hidup dengan fokus? Contoh apa dari hidup Anda yang mendukung jawaban Anda?

- Apa saja hal yang mengalihkan perhatian Anda (bahkan hal-hal yang baik) sehingga Anda tidak berfokus pada hal-hal yang paling penting?

- Bagaimana Allah menunjukkan kepada Anda apa yang paling penting untuk menjadi fokus Anda dan untuk Anda kejar?

Bacaan Alkitab Setahun :
Yeremia 29-33; I Tesalonika 4 : 13-18
_____________
Suatu hari nanti, Anda akan berdiri di hadapan Allah. Bagaimana Anda akan menjawab ketika Dia bertanya apa yang telah Anda lakukan dengan apa yang telah diberikan kepada Anda?

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
=========
The Power of Being Selective
By Rick Warren

“Someone may say, ‘I’m allowed to do anything,’ but not everything is helpful. I’m allowed to do anything, but not everything encourages growth.” 1 Corinthians 10:23 (GW)
-------------------
The older I get, the more I realize how important it is to be selective. There will always be a lot of options and opportunities. But the key to effectiveness is being selective.

The Bible says in 1 Corinthians 10:23, “Someone may say, ‘I’m allowed to do anything,’ but not everything is helpful. I’m allowed to do anything, but not everything encourages growth” (GW).

In other words, some things aren’t necessarily wrong—they’re just not necessary. Once you figure that out, you’ll be better equipped to withstand the hard times in life. And withstanding hard times will make you resilient!

When you focus on the direction God is calling you to go, you’re less likely to get distracted by things that aren’t as important. You set priorities that have an eternal focus. You realize what matters most in life, and you choose not just good things but the best things.

Jesus was a master of concentration, meaning he lived a selective life. This allowed him to live for God’s kingdom and do what pleased his Father.

The Living Bible paraphrase says, “As the time drew near for his return to heaven, [Jesus] moved steadily onward toward Jerusalem with an iron will” (Luke 9:51).

He modeled an iron will and fulfilled his purpose—even though he knew it would lead to his death. His focus helped him endure the pain and stress and persecution. Paul was the same way. He said, “This one thing I do” (Philippians 3:13 KJV), not “these 40 things I dabble in.” He did one thing with his life—the most important thing.

You have incredible potential to be used by God, but the barrier is often that you haven’t settled what’s most important. If you think you don’t have time to serve God, then you’re not focused. If you spend more time on social media than you do getting to know God, then you’re not focused. If you have to do something else before you follow Jesus, then you are not focused.

The Living Bible paraphrase makes it clear: “Anyone who lets himself be distracted from the work I plan for him is not fit for the Kingdom of God” (Luke 9:62).

One day you’re going to stand before God. How will you answer him when he asks what you did with what you were given?


Selasa, 20 Oktober 2026

Berhentilah Berusaha Menyenangkan Semua Orang

21 Oktober 2026

Bacaan Hari ini:
Yohanes 5:30 "Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri; Aku menghakimi sesuai dengan apa yang Aku dengar, dan penghakiman-Ku adil, sebab Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku"
---------------------
Apa yang memotivasi Anda untuk bangun setiap pagi? Untuk pergi bekerja? Untuk belajar dengan giat? Untuk melayani, memberi, dan mengasihi orang lain? Untuk terus melangkah ketika hidup terasa penuh tekanan?

Jika Anda tidak ingin terus-menerus bergumul dengan stres, Anda perlu mengetahui motivasi terdalam Anda.

Mengapa? Karena motivasi yang bercampur aduk akan membuat Anda merasa tertarik ke berbagai arah. Yesus berkata, "Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan" (Lukas 16:13).

Bahkan Allah pun tidak dapat menyenangkan semua orang. Ketika seseorang berdoa agar hujan turun, orang lain berdoa agar cuaca cerah. Sebagai pendeta selama lebih dari 40 tahun, saya tahu bahwa selalu ada seseorang yang merasa kecewa terhadap saya karena orang-orang sering memiliki harapan yang berbeda-beda. Saya tidak dapat menyenangkan semua orang, begitu juga Anda.

Alkitab mengatakan bahwa takut kepada manusia adalah perangkap. Hal itu akan menguasai hati dan pikiran Anda serta menyebabkan Anda tersandung. Itulah sebabnya Yesus berkata dalam Yohanes 5:30, "Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri; Aku menghakimi sesuai dengan apa yang Aku dengar, dan penghakiman-Ku adil, sebab Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku". Yesus tahu siapa yang ingin Dia senangkan.

Jika Anda tidak berusaha menyenangkan Allah, kemungkinan besar Anda sedang berusaha menyenangkan banyak orang lain. Jauh lebih mudah dan tidak terlalu membuat stres jika Anda memutuskan untuk menyenangkan Allah—karena apa pun yang Anda lakukan untuk menyenangkan-Nya akan selalu menjadi hal yang benar. Inilah sebabnya Yesus begitu tangguh ketika menghadapi tekanan. Dia hanya berusaha menyenangkan satu Pribadi.

Persetujuan siapa yang Anda andalkan untuk memperoleh kebahagiaan? Siapa yang masih berusaha Anda senangkan? Bagi sebagian orang, orang itu adalah orang tua yang tidak pernah menunjukkan penerimaan atau memberikan dorongan. Bagi orang lain, mungkin seorang atasan yang mustahil dipuaskan, sekeras apa pun Anda berusaha.

Namun, Anda bukanlah korban. Anda sebebas yang Anda pilih untuk menjadi bebas. Tidak seorang pun dapat menekan Anda untuk memenuhi harapan mereka tanpa izin dari Anda.

Renungkan :

- Menurut Anda, bagaimana mengutamakan usaha untuk menyenangkan Allah daripada menyenangkan orang lain dapat membantu Anda mengalami kebebasan emosional dan mental yang lebih besar?

- Dalam hal-hal spesifik apa saja stres yang Anda alami disebabkan oleh usaha untuk menyenangkan orang lain?

- Bagaimana Anda dapat mengetahui apa yang menyenangkan hati Allah?

Bacaan Alkitab Setahun :
Yeremia 25-28; I Tesalonika 4 : 1-12
_____________
Ketika Anda hidup hanya untuk menyenangkan satu Pribadi, yaitu Allah, Anda tidak akan dikendalikan oleh rasa takut ditolak. Sebaliknya, Anda akan digerakkan oleh kasih dan bebas menjadi pribadi yang Allah ciptakan.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
========
Stop Trying to Please Everyone Else
By Rick Warren

“I am not trying to do what I want, but only what he who sent me wants.” John 5:30 (GNT)
----------------------
What motivates you to get up in the morning? To go to work? To study hard? To serve and give and love others? To keep going when life gets stressful?

If you don’t want to fight stress all the time, you need to know your deepest motivation.

Why? Because mixed motivations will leave you feeling pulled in different directions. Jesus said, “No one can serve two masters” (Luke 16:13 NLT).

Even God can’t please everybody. When somebody’s praying for it to rain, someone else is praying for it to be sunny. As a pastor for over 40 years, I knew that I was always disappointing somebody, because people often have different expectations. I can’t please everyone, and neither can you.

The Bible says the fear of man is a trap. It will capture your heart and mind and cause you to stumble. That’s why Jesus said in John 5:30, “I am not trying to do what I want, but only what he who sent me wants” (GNT). Jesus knew who he was trying to please.

If you’re not trying to please God, then in all likelihood, you’re trying to please a bunch of other people. It’s a lot easier and less stressful to decide you’re going to please God—because whatever you do that pleases him will always be the right thing. This is why Jesus was so resilient under stress. He only tried to please one person.

Whose approval are you depending on for your happiness? Who are you still trying to please? For some, it’s a parent who never showed approval or encouragement. For others, it may be a boss who’s impossible to please, no matter how hard you try.

But you are not a victim. You are as free as you choose to be. Nobody can pressure you into meeting their expectations without your permission.

When you live for an audience of one, you won’t be controlled by the fear of rejection. Instead, you’ll be motivated by love and free to be the person God made you to be.


Senin, 19 Oktober 2026

Pedagang Kaya & Ular Phyton

_*Mesir tak hanya terkenal dengan dongeng "1001 Malam" saja, tapi juga mempunyai sejumlah dongeng menarik, penuh makna dan kaya moralnya. Pesan moral dongeng tidak hanya tertuju pada kaum anak-anak, tetapi banyak bersifat universal dan berlaku untuk semua kelompok usia, termasuk orang dewasa.*_

_*Salah satu dongeng Mesir yang terkenal, menceritakan tentang seorang saudagar kaya yang mempunya hobi tidak biasa, yakni memelihara seekor ular piton. Awalnya ular tak berbisa itu hanya berukuran kecil. Seiring perjalanan waktu, mendapat asupan bergizi dan cukup. Ular tersebut cepat bertumbuh besar. Perlahan ular itu menjadi sangat jinak, dan menjadi temannya sepanjang malam. Edannya,  ularnya yang bagi orang lain menjijikkan itu,  malah dibiarkan tidur bersamanya di ranjang.*_

_*Namun, suatu hari ular piton itu tiba-tiba mogok makan selama berhari-hari. Khawatir peliharaannya sakit, saudagar ini mendatangkan seorang "Urlugaledinna", istilah untuk dokter hewan jaman kuno. Setelah memeriksa kondisi piaraan dan seksama mendengar cerita siempunya ular. Katanya ularnya sering tidur bersamanya sambil meregangkan tubuh lurus di samping badannya. Dokter  hewan itu memberikan jawaban serius yang mengejutkan.*_

_*Sang dokter menyarankan sesegera mungkin melepaskan ularnya ke hutan atau kebun binatang. Katanya "Ular Anda tidak sedang sakit. Ia berhenti makan karena sedang mengosongkan perutnya, dan meregangkan tubuh di samping Anda untuk mengukur ukuran tubuh Anda agar tahu apakah sudah cukup besar untuk menelan Anda bulat-bulat."  Seketika, saudagar itu merasa dingin menjalar dari ujung kaki hingga ke tengkuknya. Ia mencoba menenangkan diri, namun jantungnya sudah empot-empotan.*_

_*Pesan moral cerita ini bermakna, "Musuh dalam Selimut". Bila ada  seseorang tampak mendadak dekat, pura-pura bersikap baik dan  menyayangi, atau selalu berada di sisi kita. Belum tentu mereka memiliki niat tulus. Terkadang berniat menjatuhkan atau mencelakai kita, dan sedang "mengukur" kelemahan kita secara perlahan sebelum akhirnya mengambil kesempatan untuk menyerang.*_

_*Berhati-hatilah*_

_*Rudy Chandra*_
_*Episode 2325*_

Pedagang Kaya & Ular Phyton

_*Mesir tak hanya terkenal dengan dongeng "1001 Malam" saja, tapi juga mempunyai sejumlah dongeng menarik, penuh makna dan kaya moralnya. Pesan moral dongeng tidak hanya tertuju pada kaum anak-anak, tetapi banyak bersifat universal dan berlaku untuk semua kelompok usia, termasuk orang dewasa.*_

_*Salah satu dongeng Mesir yang terkenal, menceritakan tentang seorang saudagar kaya yang mempunya hobi tidak biasa, yakni memelihara seekor ular piton. Awalnya ular tak berbisa itu hanya berukuran kecil. Seiring perjalanan waktu, mendapat asupan bergizi dan cukup. Ular tersebut cepat bertumbuh besar. Perlahan ular itu menjadi sangat jinak, dan menjadi temannya sepanjang malam. Edannya,  ularnya yang bagi orang lain menjijikkan itu,  malah dibiarkan tidur bersamanya di ranjang.*_

_*Namun, suatu hari ular piton itu tiba-tiba mogok makan selama berhari-hari. Khawatir peliharaannya sakit, saudagar ini mendatangkan seorang "Urlugaledinna", istilah untuk dokter hewan jaman kuno. Setelah memeriksa kondisi piaraan dan seksama mendengar cerita siempunya ular. Katanya ularnya sering tidur bersamanya sambil meregangkan tubuh lurus di samping badannya. Dokter  hewan itu memberikan jawaban serius yang mengejutkan.*_

_*Sang dokter menyarankan sesegera mungkin melepaskan ularnya ke hutan atau kebun binatang. Katanya "Ular Anda tidak sedang sakit. Ia berhenti makan karena sedang mengosongkan perutnya, dan meregangkan tubuh di samping Anda untuk mengukur ukuran tubuh Anda agar tahu apakah sudah cukup besar untuk menelan Anda bulat-bulat."  Seketika, saudagar itu merasa dingin menjalar dari ujung kaki hingga ke tengkuknya. Ia mencoba menenangkan diri, namun jantungnya sudah empot-empotan.*_

_*Pesan moral cerita ini bermakna, "Musuh dalam Selimut". Bila ada  seseorang tampak mendadak dekat, pura-pura bersikap baik dan  menyayangi, atau selalu berada di sisi kita. Belum tentu mereka memiliki niat tulus. Terkadang berniat menjatuhkan atau mencelakai kita, dan sedang "mengukur" kelemahan kita secara perlahan sebelum akhirnya mengambil kesempatan untuk menyerang.*_

_*Berhati-hatilah*_

_*Rudy Chandra*_
_*Episode 2325*_

Hanya Pendapat Allah yang Penting

20 Oktober 2026

Bacaan Hari ini:
Matius 5:14 "Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi."
--------------------
Jika Anda tidak yakin siapa diri Anda sebenarnya, Anda dapat dimanipulasi dan dibentuk oleh tekanan, masalah dan orang-orang di sekitar Anda—dan hal itu menyebabkan stres!

Budaya kita terus-menerus berusaha membentuk Anda agar sesuai dengan polanya. Ketika identitas Anda membingungkan dan tidak jelas, ketika Anda benar-benar tidak mengenal diri sendiri, Anda menjadi lebih rentan terhadap pengaruh budaya. Sampai Anda benar-benar meyakini dalam pikiran Anda bahwa Allah mengasihi Anda tanpa syarat dan bahwa Anda adalah anak-Nya, Anda akan cenderung mudah mengalami stres.

Yesus tidak pernah meragukan jati diri-Nya. Bahkan, sebanyak 18 kali dalam Alkitab, Dia menyatakan secara terbuka siapa diri-Nya. Pernyataan-pernyataan ini disebut pernyataan "Akulah" : "Akulah terang dunia" (Yohanes 8:12). "Akulah Anak Allah" (Yohanes 10:36). "Akulah jalan, kebenaran, dan hidup" (Yohanes 14:6). "Akulah roti hidup" (Yohanes 6:35). Yesus menegaskan dengan jelas bahwa Dia benar-benar mengetahui siapa diri-Nya.

Dalam Yohanes 8:18, Yesus berkata, "Akulah yang bersaksi tentang diri-Ku sendiri". Dia tidak membutuhkan orang lain untuk memberi tahu-Nya siapa diri-Nya. Dia tidak mencari pengakuan dari orang lain untuk meneguhkan jati diri-Nya.

Ketika Anda bergantung pada pendapat orang lain untuk mendapatkan pengakuan, Anda tidak akan mampu menghadapi stres dengan tangguh. Sebab, jika Anda tidak mengetahui siapa diri Anda, orang lain akan menentukannya untuk Anda. Mereka akan memaksa Anda mengikuti pola mereka dan Anda akan mengalami stres karena berusaha menjadi seseorang yang bukan diri Anda. Pada akhirnya, Anda akan berpura-pura dan memakai topeng. Hal itu akan menguras tenaga Anda!

Yesus tahu bahwa Dia adalah terang dunia. Dan Dia juga berkata kepada para pengikut-Nya,"Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi." (Matius 5:14). Ketika Anda mengikuti-Nya, Anda memancarkan terang-Nya kepada orang lain. Apakah Anda menyadari betapa istimewanya diri Anda? Bukan karena apa yang dikatakan orang lain, melainkan karena apa yang dikatakan Allah. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang persis sama dengan Anda.

Anda harus menerima kebenaran tentang diri Anda—baik kelebihan maupun keterbatasan dan kelemahan Anda.
Allah menciptakan Anda dengan semua hal tersebut dan Dia telah memberikan segala sesuatu yang Anda perlukan untuk melakukan kehendak-Nya.

Ketika Anda menerima hal itu, Anda akan merasa yakin dengan jati diri Anda dan mengalami jauh lebih sedikit stres.

Renungkan :

- Apa artinya menjadi anak Allah? Apa saja manfaatnya? Apa saja yang diharapkan dari Anda?

- Mengapa Anda perlu menerima kebenaran tentang kelemahan Anda, bukan hanya tentang kelebihan Anda?

- Ingatlah suatu saat ketika Anda lebih mendasarkan jati diri Anda pada apa yang dikatakan orang lain tentang Anda daripada pada apa yang dikatakan Allah. Apa dampaknya bagi diri Anda?

Bacaan Alkitab Setahun :
Yeremia 21-24; I Tesalonika 3
__________
Apakah Anda menyadari betapa istimewanya diri Anda? Bukan karena apa yang dikatakan orang lain, melainkan karena apa yang dikatakan Allah

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
=========
Only God’s Opinion Matters
By Rick Warren

“You are the light of the world—like a city on a hilltop that cannot be hidden.” Matthew 5:14 (NLT)
----------------------
If you’re not sure who you really are, then you can be manipulated and molded by the pressures, problems, and people around you—and that leads to stress!

Our culture is constantly trying to fit you into its mold. When you have a confused and unclear identity, when you don’t really know who you are, it makes you more vulnerable to the culture’s influence. Until you settle in your mind that God loves you unconditionally and that you’re a child of his, you’re going to be prone to stress.

Jesus never had any doubts about his identity. In fact, 18 times in Scripture he publicly declared who he was. These are called his “I am” statements: “I am the light of the world” (John 8:12 NLT). “I am the Son of God” (John 10:36 NLT). “I am the way, the truth, and the life” (John 14:6 NLT). “I am the bread of life” (John 6:35 NLT). Jesus made it clear that he knew exactly who he was.

In John 8:18, Jesus said, “I testify on my own behalf” (GNT). He didn’t need other people to tell him who he was. He didn’t look to others for validation.

When you depend on other people’s opinions for validation, you can’t be resilient to stress. Because if you don’t know who you are, then other people will decide it for you. They’ll force you into a mold, and you’ll get stressed out trying to be someone you’re not. You’ll end up pretending and wearing a mask. It will wear you out!

Jesus knew he was the light of the world. And he also told his followers: “You are the light of the world—like a city on a hilltop that cannot be hidden” (Matthew 5:14 NLT). As you follow him, you reflect his light to others. Do you realize how special you are? Not because of what other people say but because of what God says. There’s nobody in the world exactly like you.

You must accept the truth about you—your strengths along with your limitations and weaknesses. God made you with all of those things, and he has given you everything you need to do his will.

When you accept that, you’ll be secure in your identity and a lot less stressed.


Minggu, 18 Oktober 2026

Dasar Ketangguhan Anda

19 Oktober 2026

Bacaan Hari ini:
1 Yohanes 3:1 "Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah."
-------------------
Kita hidup di masa yang penuh tekanan. Lebih dari sebelumnya, kita perlu belajar menjadi tangguh agar dapat melakukan apa yang telah Allah panggil untuk kita lakukan. Itulah sebabnya langkah pertama untuk menjadi tangguh adalah mengingat betapa besar kasih Allah kepada Anda. Itulah penawar stres!

Bagian dari memenuhi tujuan hidup Anda adalah menjadi semakin serupa dengan Yesus. Dan Yesus sama sekali tidak meragukan bahwa Allah Bapa mengasihi-Nya. Dia berulang kali membicarakan hal itu dalam ayat-ayat seperti Yohanes 10:17, yang mengatakan, "Bapa mengasihi Aku"

Mengetahui dan mengingat bahwa Allah memiliki kasih yang tanpa syarat, berlimpah, terus-menerus, dan tidak pernah berakhir bagi Anda, sama seperti kasih-Nya kepada Yesus, merupakan dasar kehidupan yang tangguh. Seperti yang dikatakan Paulus, "Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita" (Roma 8:38-39).

Anda mungkin berpikir, "Tentu saja Allah mengasihi Yesus. Dia adalah Anak-Nya." Namun, tahukah Anda bahwa Yesus mengatakan hal yang sama tentang kasih-Nya kepada Anda? Dalam Yohanes 15:9-10, Yesus berkata, "Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu. Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya."

Memahami betapa besar kasih Allah kepada Anda adalah dasar ketangguhan Anda. Jika Anda tidak yakin bahwa Allah mengasihi Anda setiap saat—tanpa syarat dan sepenuhnya—Anda akan mudah menjadi sasaran ketidaksetujuan orang lain. Anda akan menjadi orang yang selalu berusaha menyenangkan orang lain.

Namun, ketika Anda merasa aman dengan jati diri Anda sebagai anak Allah—ketika Anda memahami dan menerima bagaimana Allah memandang Anda—Anda dapat menghadapi masa-masa sulit dengan penuh keyakinan dan lebih sedikit stres.

Ketika Anda perlu diingatkan tentang betapa besar kasih Allah kepada Anda, lihatlah Firman-Nya.
"Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah." (1 Yohanes 3:1).

Renungkan :

- Menurut Anda, mengapa mengingat kasih Allah kepada Anda membuat Anda menjadi lebih tangguh?

- Mengapa penting untuk tidak hanya memahami kasih Allah kepada Anda, tetapi juga menerimanya?

- Dalam situasi apa Anda perlu menunjukkan ketangguhan yang lebih besar? Apa yang akan Anda lakukan untuk tetap terhubung dengan Firman Allah?

Bacaan Alkitab Setahun :
Yeremia 17-20; I Tesalonika 2
_____________
Kita dapat menjadi tangguh karena mengetahui bahwa kita tidak akan pernah terpisah dari kasih Allah.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
========
The Foundation of Your Resilience
By Rick Warren

“See what great love the Father has lavished on us, that we should be called children of God! And that is what we are!” 1 John 3:1 (NIV)
---------------------
We are living in stressful times. More than ever, we need to learn resilience so that we can do what God has called us to do. That’s why the first step to being resilient is to remember how much God loves you. That’s the antidote to stress!

Part of fulfilling your purpose is becoming more like Jesus. And Jesus had no doubt in his mind that God the Father loved him. He talked about it over and over in verses like John 10:17, which says, “The Father loves me” (NLT).

Knowing and remembering that God has unconditional, extravagant, continuous, and never-ending love for you, just like he did for Jesus, is the foundation of a resilient life. As Paul says, “I am convinced that neither death nor life . . . nor anything else in all creation, will be able to separate us from the love of God that is in Christ Jesus our Lord” (Romans 8:38-39 NIV). We can be resilient, knowing that we can never be separated from God’s love.

You may be thinking, “Well, of course God loves Jesus. That’s his Son.” But did you know that Jesus says the same thing about his love for you? In John 15:9-10, Jesus says, “As the Father has loved me, so have I loved you. Now remain in my love. If you keep my commands, you will remain in my love” (NIV).

Understanding how much God loves you is the basis of your resilience. If you are not convinced that God loves you at all times—unconditionally and completely—then you’re going to be easy prey for the disapproval of other people. You’re going to be a people pleaser.

But when you are secure in who you are as God’s child—when you understand and accept how God feels about you—then you can face difficult times with confidence and less stress.

When you need to be reminded of how much God loves you, just look to his Word.

“See what great love the Father has lavished on us, that we should be called children of God! And that is what we are!” (1 John 3:1 NIV).


Sabtu, 17 Oktober 2026

Mengembalikan Segambar dengan Pencipta

Di sebuah rimba yang luas, ada seekor kancil yang menemukan kepingan koin emas berukir gambar sang Raja Hutan, Sang Singa. Dengan bangga, kancil menyimpannya dan menganggap koin itu sebagai miliknya yang paling berharga. Namun, sang kancil tersadar bahwa pada koin itu terukir wajah dan stempel kekuasaan sang raja, sehingga koin itu pada hakikatnya milik istana.

​Namun, ketika kancil memandang bayangan dirinya di jernihnya air sungai, ia teringat akan nasihat tua-tua rimba: "Setiap hewan diciptakan oleh Sang Pencipta Agung dan membawa ciptaan-Nya di dalam napas hidup mereka." Kancil menyadari bahwa benda berukir wajah raja memang harus dikembalikan kepada raja, tetapi seluruh jiwa dan raga ciptaan harus diserahkan seutuhnya kepada Sang Pencipta.

​Melalui kisah fabel ini, kita diajak memahami pengajaran Yesus dalam Matius 22:15-21. Ketika orang-orang Farisi mencoba menjerat-Nya dengan pertanyaan tentang kewajiban membayar pajak kepada Kaisar, Yesus meminta tunjukkan mata uang dinar dan bertanya gambar siapakah yang ada pada uang itu. Yesus menjawab, "Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar, dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah" (Matius 22:21). Uang koin mencantumkan gambar kaisar sehingga itu milik duniawi/pemerintah, namun diri manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Kejadian 1:27), sehingga hidup dan hati kita sepenuhnya adalah milik Allah.  

​Saudaraku, kita sering kali disibukkan dan terikat oleh tuntutan duniawi hingga lupa menyerahkan hati dan hidup kita kepada Pemilik sesungguhnya. Menjalankan kewajiban di dunia adalah hal yang baik dan wajar, tetapi jangan sampai kita menyerahkan seluruh jiwa kita kepada hal-hal fana. Ingatlah bahwa gambar Allah terpateri di dalam jiwa kita, maka serahkanlah seluruh hidup, kesetiaan, dan kasih kita kembali kepada-Nya.
​"Lalu kata Yesus kepada mereka: 'Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar, dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.'" (Matius 22:21)  
​Bacaan: Matius 22:15-21  
​(Have a blessed Sunday! Gbu!)


Uploaded Image

Penawar untuk Kecemasan

18 Oktober 2026

Bacaan Hari ini:
Matius 11:29 "Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati, dan jiwamu akan mendapat ketenangan."
---------------------
Semua orang ingin mengetahui penawar untuk kecemasan karena kita semua mengalaminya. Kita hidup di masa yang penuh tekanan, dan ketenangan bagi tubuh serta jiwa kita terasa sulit diperoleh.

Namun, ini bukanlah rahasia: Yesus ingin Anda mengurangi kekhawatiran dan lebih mempercayai-Nya. Dia berkata dalam Matius 11:29, "Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati, dan jiwamu akan mendapat ketenangan."

Setelah Anda datang kepada Yesus dan membiarkan Dia ikut memikul beban Anda, Dia ingin Anda belajar dari-Nya. Mengapa? Karena Yesus tidak pernah terburu-buru. Dia menetapkan ritme kehidupan yang berasal dari hati yang lemah lembut dan rendah hati, yang bertujuan membawa kehidupan, bukan keletihan. Yesus memberikan teladan kepada kita tentang bagaimana menjalani hidup dengan damai sejahtera dan tujuan yang jelas dan mengikuti teladan-Nya adalah cara kita mengisi kembali tangki rohani dan emosional kita. Perhatikan bagaimana Dia menjalani hidup, lalu lakukanlah seperti yang Dia lakukan.

Belajar menjalani hidup seperti Yesus adalah sebuah proses. Anda tidak akan mempelajarinya dalam semalam karena gaya hidup Anda yang penuh beban juga tidak terbentuk dalam semalam. Namun, tidak peduli berapa lama waktu yang dibutuhkan, Anda dapat belajar untuk mempercayai-Nya.

Anda dapat belajar dari Yesus bagaimana menjadi lemah lembut dan rendah hati. Namun, bagaimana hal itu akan membantu Anda? Kelemahlembutan dan kerendahan hati sepertinya bukan solusi alami untuk mengatasi stres dan kelelahan. Mungkin Anda berharap Dia berkata, "Belajarlah dari-Ku dan Aku akan mengajarkan Anda cara memiliki daya tahan dan stamina."

Yesus ingin Anda belajar menjadi lemah lembut dan rendah hati karena sikap agresif dan kesombongan merupakan dua penyebab terbesar stres dan kekosongan dalam hidup.

Sikap agresif muncul ketika kita tidak mau menunggu apa pun dan mengambil terlalu banyak tanggung jawab. Sikap ini merupakan kebalikan dari kelemahlembutan.
Kesombongan muncul ketika kita berusaha mengendalikan segala sesuatu. Ego kita menjadi penyebab lebih banyak stres dan kesombongan dalam hidup daripada yang kita sadari.

Penawar bagi dua penyebab stres terbesar dalam hidup Anda adalah kelemahlembutan dan kerendahan hati. Anda mempelajarinya dengan mengingatkan diri sendiri setiap hari bahwa Anda bukan Allah dan Anda bukan penyelamat siapa pun.

Renungkan :

- Menurut Anda, apakah Anda pernah dituntut untuk selalu terburu-buru? Mengapa ya atau mengapa tidak?

- Apa yang selama ini berusaha Anda kendalikan hingga membuat Anda kelelahan?

- Dalam hal apa saja Anda pernah bertindak seolah-olah menjadi penyelamat seseorang? Bagaimana hal itu memengaruhi diri Anda?

Bacaan Alkitab Setahun :
Yeremia 13-16; I Tesalonika 1
____________
Luangkan waktu bersama Yesus, dan Anda akan melihat bagaimana kelemahlembutan dan kerendahan hati membawa ketenangan.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
==========
The Antidote to Anxiety
By Rick Warren

“Take my yoke upon you. Let me teach you, because I am humble and gentle at heart, and you will find rest for your souls.” Matthew 11:29 (NLT)
----------------
Everyone wants to know the antidote to anxiety because we all experience it. We live in stressful times and rest for our bodies and souls seems elusive.

But it’s not a secret: Jesus wants you to worry less and trust him more. He says in Matthew 11:29, “Take my yoke upon you. Let me teach you, because I am humble and gentle at heart, and you will find rest for your souls” (NLT).

After you come to Jesus and let him share your load, he wants you to learn from him. Why? Because Jesus is never in a hurry. He sets a pace that comes from a gentle and humble heart that is meant to bring life and not weariness. Jesus modeled for us how to live with peace and purpose, and following his example is how we refill our spiritual and emotional tanks. Watch how he lived, and do it the way he did.

Learning to live like Jesus is a process. You won't learn it overnight because you didn't develop your overloaded lifestyle overnight. But no matter how long it takes, you can learn to trust him.

You can learn from Jesus how to be gentle and humble. But how is that going to help you? Gentleness and humility don’t seem like the natural cure for being stressed out and tired. Maybe you would expect him to say, "Learn from me, and I'll teach you how to have endurance and stamina."

Jesus wants you to learn to be gentle and humble because aggression and arrogance are two of the biggest causes of stress and emptiness in life.

Aggression is when we don't want to wait for anything, and we over-commit ourselves. It's the opposite of gentleness.

Arrogance is when we try to control everything. Our ego is responsible for more stress and arrogance in our lives than we realize.

The antidote to the two biggest causes of stress in your life is gentleness and humility. You learn them by reminding yourself every day that you’re not God and you’re not anybody's savior.

Spend time with Jesus, and you’ll see how gentleness and humility lead to rest.


Jumat, 16 Oktober 2026

Menemukan Kunci Kebijaksanaan Hati

Selama bertahun-tahun, seorang kepala bagian di sebuah perusahaan manufaktur selalu merasa bangga dengan kerapian laporan dan ketaatannya pada aturan kantor. Namun, di balik sikap profesionalnya yang sempurna, ia menyimpan rasa iri dan dendam yang mendalam terhadap rekan kerja yang kerap mendapat promosi lebih cepat darinya. Ia sering kali melontarkan kritikan tajam terselubung untuk menjatuhkan mental bawahannya, sembari tetap tampil sebagai sosok pimpinan yang saleh dan santun di depan publik.

​Titik balik hidupnya terjadi ketika ia mendadak terbaring sakit di rumah sakit akibat serangan jantung. Di tengah kesendirian dan bayang-bayang kematian, ia menyadari betapa hampa seluruh pencapaian dan citra luar yang selama ini ia bangun dengan gigih. Dalam tangis penyesalannya di atas ranjang rumah sakit, ia memohon ampun kepada Tuhan atas kecongkakan serta kebusukan hati yang selama ini tersembunyi di balik jubah kesalehan semacam itu.

​Kesaksian hidup ini membuka mata kita bahwa integritas batin jauh lebih berharga daripada sekadar penampilan lahiriah. Sering kali manusia terjebak pada formalisme—rajin menjalankan ritual, fasih berbicara hal-hal rohani, dan tampak tanpa cela dari luar—namun di dalam batinnya masih dipenuhi kesombongan, kehakiman, dan penolakan terhadap kebenaran. Kristus menegur keras sikap hipokrisi ini karena kebenaran sejati tidak diukur dari apa yang tampak oleh mata manusia, melainkan dari ketulusan dan kerendahan hati yang mengalir dari dalam jiwa (Lukas 11:47-54).

​Saudaraku, mari kita memeriksa relasi kita dengan Tuhan dan sesama hari ini. Jangan sampai kita sibuk membangun "monumen" kesalehan lahiriah untuk dilihat orang lain, namun tanpa sadar menutup pintu hati bagi pertobatan yang sesungguhnya. Kiranya kita dimampukan untuk menyelaraskan tutur kata, tindakan, dan isi hati kita agar senantiasa mencerminkan kasih Kristus yang murni.
​"Sebab Allah tidak memandang apa yang dilihat manusia; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati." (1 Samuel 16:7b)  
​Bacaan: Efesus 1:3-10 / Lukas 11:47-54
​(Gbu!)


Uploaded Image

Berjalan Selaras dengan Yesus

17 Oktober 2026

Bacaan Hari ini:
Matius 11:29-30 "Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan."
------------------
Apakah Anda merasa terbebani oleh terlalu banyak hal? Mungkin Anda sedang berusaha mengendalikan segala sesuatu secara berlebihan. Kita semua pernah melakukannya, terkadang bahkan tanpa menyadarinya. Tanpa sadar, kita bertindak seolah-olah semuanya bergantung pada diri kita sendiri. Kita berpikir bahwa kita harus menjaga agar semuanya tetap berjalan dengan baik. Kita berpikir bahwa kita harus membuat segala sesuatu terjadi.

Semakin besar kebutuhan Anda untuk mengendalikan segala sesuatu, semakin Anda akan merasa terbebani, stres dan kosong dalam hidup. Anda perlu belajar melepaskan kendali!

Ketika Anda datang kepada Yesus karena merasa kehabisan tenaga, langkah ketaatan Anda berikutnya adalah ini: "Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan." (Matius 11:29-30).

Ketika Anda sudah merasa jenuh dan tidak sanggup lagi, inilah saatnya untuk melepaskan kendali.

Kuk adalah rangka kayu yang dipasang pada dua hewan agar mereka dapat menarik peralatan pertanian bersama-sama. Tujuan kuk adalah meringankan beban, bukan membuatnya semakin berat. Berbagi kuk berarti berbagi beban yang sedang Anda pikul.

Ketika Anda sudah merasa sedang memikul beban yang berat, menerima kuk Yesus mungkin terdengar seperti menambah beban. Namun, sebenarnya justru sebaliknya—karena ketika Anda tidak berada di bawah kuk bersama Yesus, Anda memikul beban itu sendirian dan Anda mungkin bergerak terlalu cepat hingga akhirnya terperosok ke dalam parit.

Namun, jika Anda berada di bawah kuk bersama-Nya, Dia ikut memikul beban Anda, menjaga kecepatan langkah Anda agar tetap sesuai dengan yang seharusnya dan membantu Anda tetap berada di jalan yang benar.

Sederhananya, kuk membuat beban menjadi lebih ringan dan mencegah Anda terjerumus ke dalam masalah. Galatia 5:25 mengatakan, "Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh"

Renungkan :

- Menurut Anda, mengapa Allah tidak langsung mengangkat seluruh beban Anda setiap kali Anda datang kepada-Nya dan meminta pertolongan?

- Seperti apa ritme kehidupan yang Anda inginkan? Ritme seperti apa yang akan membawa kesehatan dan ketenangan?

- Baca kembali Matius 11:29-30. Apa yang Yesus ingin Anda lakukan setelah memikul kuk-Nya? Bagaimana Anda dapat melakukannya?

Bacaan Alkitab Setahun :
Yeremia 8-12; Kolose 4
_______________
Anda berjalan selaras dengan Roh Allah dengan berada di bawah kuk bersama Yesus—bermitra dengan-Nya dan membiarkan Dia menentukan kecepatan langkah Anda. Yesus tidak pernah terburu-buru dan Anda pun tidak akan terburu-buru ketika terhubung dengan-Nya.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
==========
Walk in Step with Jesus
By Rick Warren

“Take my yoke upon you and learn from me, for I am gentle and humble in heart, and you will find rest for your souls. For my yoke is easy and my burden is light.” Matthew 11:29-30 (NIV)
------------------
Are you feeling overloaded? You may be trying to control things too much. We all do it, sometimes without even realizing it. We subconsciously act as if it all depends on us. We think we have to hold everything together. We think we have to make everything happen.

The greater your need to control things, the more overloaded, stressed, and empty you’re going to feel in life. You need to learn to give up control!

When you come to Jesus because you’re running on empty, your next step of obedience is this: “Take my yoke upon you and learn from me, for I am gentle and humble in heart, and you will find rest for your souls. For my yoke is easy and my burden is light” (Matthew 11:29-30 NIV).

When you get fed up, it’s time to give up control.

A yoke is not the middle of an egg (that’s a yolk). It’s the wooden frame you put over two animals so they can pull a piece of farm equipment together. The purpose of a yoke is to lighten the load, not to make it heavier. Sharing a yoke means sharing the load you’re carrying.

When you already feel like you’re carrying a heavy load, taking on Jesus’ yoke may sound like more of a burden. It’s actually the exact opposite—because when you’re not yoked to Jesus, you’re carrying the burden alone, and you might move at a pace that is too fast and throws you into a ditch.

But if you’re yoked to him, he shares the burden of the load with you, keeps your pace exactly where it needs to be, and helps you to say on the right path.

Put simply, a yoke makes the load lighter, and it keeps you from getting in trouble. Galatians 5:25 says, “Since we live by the Spirit, let us keep in step with the Spirit” (NIV).

You keep in step with God’s Spirit by being yoked to Jesus—partnering with him and letting him set the pace. Jesus was never in a hurry, and you won’t be either when you’re connected to him.


Kamis, 15 Oktober 2026

Allah Tidak Akan Membiarkan Anda Menghadapi Hidup Sendirian

16 Oktober 2026

Bacaan Hari ini:
Filipi 2:13 "karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya"
--------------------
Apa pun yang akan Anda hadapi dalam minggu, bulan, atau tahun berikutnya, Anda tidak akan menghadapinya sendirian. Allah menyertai Anda, Dia ada di dalam diri Anda, dan Dia berpihak kepada Anda.

Filipi 2:13 mengatakan, "karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya"

Allah sedang bekerja di dalam diri Anda. Kata "bekerja" dalam bahasa Yunani adalah energeo, yang menjadi asal kata "energi". Allah adalah sumber energi yang menggerakkan hidup Anda. Anda tidak dapat bertahan hanya dengan kekuatan kemauan. Allah dapat memberikan kuasa yang Anda butuhkan melalui Roh-Nya yang bekerja dalam hidup Anda, apa pun yang sedang Anda hadapi.

Allah bekerja bersama Anda. Dia bukan hanya ada di dalam diri Anda, tetapi Dia juga menyertai Anda. Alkitab berkata, "Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. Aku datang kembali kepadamu. ... Pada waktu itulah kamu akan tahu, bahwa Aku di dalam Bapa-Ku dan kamu di dalam Aku dan Aku di dalam kamu." (Yohanes 14:18, 20). Itu adalah janji yang luar biasa! Alkitab mengatakan bahwa Kristus ada di dalam diri Anda, Anda tersembunyi bersama Kristus di dalam Allah dan Anda dimeteraikan dengan Roh Kudus. Itu berarti agar iblis dapat mencapai Anda, ia harus melewati Tritunggal! Itu adalah perlindungan yang sangat baik. Itu juga sangat membantu menghilangkan rasa takut.

Allah berpihak kepada Anda. Allah bukan hanya menyertai Anda dan ada di dalam diri Anda, tetapi Dia juga berpihak kepada Anda. Roma 8:31 mengatakan, "Sebab itu apakah yang akan kita katakan tentang semuanya itu? Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?"

Ketika seorang gembala memimpin domba-dombanya, selalu ada anjing penjaga di belakang yang menggigit-gigit domba untuk membuat mereka terus bergerak ke arah yang benar.

Anda dapat menganggap kebaikan dan belas kasih Allah seperti anjing penjaga dalam hidup Anda. Alkitab berkata, "Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa." (Mazmur 23:7). Allah memberikan kepada Anda hal-hal yang tidak layak Anda terima—itulah kebaikan-Nya. Dan Dia tidak memberikan kepada Anda hal-hal yang sebenarnya layak Anda terima—itulah belas kasih-Nya.

Apakah Anda pernah merasakan senyum Allah dalam hidup Anda? Jika tidak, mungkin Anda belum benar-benar mengenal Allah. Sebagian orang berpikir bahwa Allah seperti orang tua yang marah dan selalu marah kepada mereka. Tidak. Allah berpihak kepada Anda!

Renungkan :

- Kuasa Allah tersedia bagi Anda. Bagaimana Anda dapat mulai mengalaminya?

- Kapan Anda paling sering meragukan kehadiran Allah? Mintalah kepada-Nya untuk memberikan iman kepada Anda agar dapat menyadari bahwa Dia sedang bekerja dalam hidup Anda.

- Bagaimana pandangan Anda terhadap situasi yang sulit dapat berubah ketika Anda mengetahui bahwa Allah berada di pihak Anda?

Bacaan Alkitab Setahun :
Yeremia 4-7; Kolose 3 : 18-25
_____________
Jika Anda ingin bahagia, setiap pagi Anda perlu bangun dan berkata, "Allah, terima kasih karena Engkau menyertai saya hari ini, berada di dalam diri saya hari ini dan berpihak kepada saya hari ini"

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
=========
God Will Not Let You Face Life Alone

October 16, 2026

Today's Reading:
Philippians 2:13 "For it is God who works in you both to will and to do for His good pleasure"
--------------------
Whatever you will face in the next week, month, or year, you will not face it alone. God is with you, He is within you, and He is on your side.

Philippians 2:13 says, "For it is God who works in you both to will and to do for His good pleasure"

God is working within you. The word for “work” in Greek is energeo, which is where the word “energy” comes from. God is the source of energy that drives your life. You cannot survive by sheer force of will. God can give you the power you need through His Spirit working in your life, whatever you are facing.

God works with you. He is not only within you, but He is also with you. The Bible says, "I will not leave you as orphans. I am coming to you again. ... At that time you will know that I am in My Father and you in Me and I in you." (John 14:18, 20). That is a great promise! The Bible says that Christ is within you, you are hidden with Christ in God and you are sealed with the Holy Spirit. That means in order for the devil to reach you, he must pass through the Trinity! That is excellent protection. It also really helps eliminate fear.

Allah is on your side. God is not only with you and within you, but He is also on your side. Romans 8:31 says, "Therefore what shall we say to all these things? If God is for us, who can be against us?"

When a shepherd leads his sheep, there is always a guard dog behind who bites-Bite the sheep to keep them moving in the right direction.

You can think of God's goodness and mercy as a guard dog in your life. The Bible says, "Just goodness and mercy will follow me all the days of my life; and I will dwell in the house of the LORD forever." (Psalm 23:7). God gives you things you don't deserve—that's His goodness. And He doesn't give you the things you deserve—that's His mercy.

Have you ever felt God's smile in your life? If not, maybe you don't really know God. Some people think that God is like an angry parent who is always angry with them. No. Allah is on your side!

Think about it:

- God's power is available to you. How can you start experiencing it?

- When do you most often doubt God's presence? Ask Him to give you the faith to realize that He is working in your life.

- How might your outlook on difficult situations change when you know that God is on your side?

Bible Reading a Year:
Jeremiah 4-7; Colossians 3 : 18-25
_____________
If you want to be happy, every morning you need to wake up and say, "God, thank you for being with me today, being in me today and on my side today.(Translated from Daily Devotional by Rick Warren)


Rabu, 14 Oktober 2026

Yesus Dapat Memulihkan Jiwa Anda yang Letih

15 Oktober 2026

Bacaan Hari ini:
Matius 11:28 "Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu"
--------------------
Ketika Yesus berkata, "Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu" (Matius 11:28), kelegaan seperti apa yang Dia maksudkan?

Yesus menawarkan kelegaan bagi jiwa Anda yang jauh lebih mendalam daripada istirahat fisik—karena Dia tahu bahwa masalah yang saat ini membutuhkan pertolongan kemungkinan besar bukanlah otot yang terlalu lelah akibat bekerja.

Ketika Anda datang kepada Yesus dalam keadaan kosong, kemungkinan besar pikiran, jiwa dan roh Anda sedang terbebani. Anda membutuhkan kelegaan bukan hanya dari pekerjaan fisik, tetapi juga dari ketegangan, stres, kecemasan, kesibukan yang terburu-buru dan kekhawatiran. Anda membutuhkan jenis kelegaan yang tidak bisa diperoleh hanya dengan tidur siang yang nyenyak atau pergi berlibur.

Kebanyakan orang memiliki cara untuk melepas penat ketika tubuh mereka lelah dan cara itu berbeda dari cara mereka memulihkan diri ketika mengalami kelelahan emosional dan rohani. Mungkin ketika Anda lelah, Anda menonton film atau menghabiskan waktu menggunakan ponsel. Mungkin Anda berbaring atau berjalan-jalan di luar. Mungkin Anda memilih menghabiskan waktu bersama teman-teman, atau mungkin Anda justru merasa lebih baik ketika sendirian.

Semua itu bisa menjadi hal yang baik—tetapi tidak satu pun dapat memulihkan jiwa Anda.

Hanya Allah yang dapat memulihkan jiwa Anda. Itulah sebabnya, ketika jiwa Anda terasa kosong, tertekan atau terbebani, Yesus ingin Anda datang kepada-Nya.

Alkitab mengatakan, "Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya" (Yesaya 40:29).

Ketika batin Anda terasa kosong, budaya di sekitar Anda mengatakan bahwa Anda perlu melakukan lebih banyak hal. Anda perlu menghasilkan lebih banyak uang, mendapatkan lebih banyak barang, melakukan lebih banyak kegiatan, dan bepergian ke lebih banyak tempat. Pergi, pergi, pergi. Lebih banyak, lebih banyak, lebih banyak. Namun, justru itulah alasan Anda merasa kosong!

Yesus ingin Anda melakukan yang sebaliknya: Jangan pergi ke mana-mana. Datanglah. Datanglah kepada-Nya—dan datanglah apa adanya.

Jiwa Anda tidak akan pernah menemukan kelegaan dalam apa pun yang ditawarkan dunia. Itu karena jiwa Anda tidak diciptakan untuk dipenuhi oleh apa pun yang ada di dunia ini.

Renungkan :

- Apakah Anda pernah merasa bersalah ketika memperlambat langkah dan beristirahat? Apa yang akan Anda ingatkan kepada diri sendiri ketika mulai merasa seperti itu?

- Bagaimana Anda mengetahui bahwa keletihan yang Anda rasakan berasal dari jiwa Anda, bukan sekadar dari tubuh Anda?

- Ketika Yesus memulihkan jiwa Anda, untuk melakukan apa Anda merasa dikuatkan dan diperlengkapi?

Bacaan Alkitab Setahun :
Yeremia 1-3; Kolose 3 : 1-17
________________
Anda diciptakan untuk Allah dan Anda hanya akan menemukan kelegaan sejati ketika membawa jiwa Anda yang letih kepada-Nya.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
=========
Jesus Can Restore Your Weary Soul
By Rick Warren

“Come to me and I will give you rest.” Matthew 11:28 (CEV)
--------------------
When Jesus says, “Come to me and I will give you rest” (Matthew 11:28 CEV), what kind of rest is he talking about?

Jesus offers a rest for your soul that’s much deeper than physical rest—because he knows that the problem you need help with right now is probably not overworked muscles.

When you come to Jesus in your emptiness, what you probably have is an overloaded mind, soul, and spirit. You need rest not just from physical work but from tension, stress, anxiety, hurry, and worry. You need the kind of rest that can’t come from taking a good nap or going on vacation

Most people have a way to unwind when they’re physically tired that’s different from how they unwind when they’re emotionally and spiritually exhausted. Maybe when you’re tired, you watch a movie or spend time on your phone. Maybe you lie down or walk outside. Maybe you choose to spend time with friends, or maybe it’s better for you to be alone.

Those can all be good things—but none of them can restore your soul.

Only God can restore your soul. That’s why, when you have soul emptiness, soul depression, or soul overload, Jesus wants you to come to him.

The Living Bible paraphrase says, “He gives power to the tired and worn out, and strength to the weak” (Isaiah 40:29).

When you’re empty inside, culture says you need to do more. You need to make more money, get more stuff, do more things, travel more places. Go, go, go. More, more, more. But that’s the very reason you’re empty!

Jesus wants you to do the opposite: Don’t go. Come. Come to him—and come just as you are.

Your soul will never find rest in anything the world has to offer. That’s because your soul was not created to be filled by anything in this world.

You were made for God, and you only find real rest when you bring your weary soul to him.


Selasa, 13 Oktober 2026

Allah Dapat Menggunakan Segala Sesuatu untuk Mendatangkan Kebaikan

14 Oktober 2026

Bacaan Hari ini:
Kejadian 50:20 "Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar."
------------------
Ingatkah Anda kisah Yusuf?

Saudara-saudaranya iri hati karena Yusuf adalah anak kesayangan ayah mereka, sehingga mereka menjualnya sebagai budak. Yusuf dibawa ke Mesir, dan selama 40 tahun pertama hidupnya, segala sesuatunya berjalan buruk. Ia bekerja sebagai budak, dituduh melakukan pemerkosaan padahal tidak bersalah dan dijebloskan ke penjara atas kejahatan yang tidak dilakukannya, hanya untuk menyebutkan beberapa hal.

Selama puluhan tahun, sepertinya tidak ada satu pun yang berjalan baik bagi Yusuf - tetapi Allah menempatkannya tepat di tempat yang Dia kehendaki. Allah tahu bahwa Yusuf akan diangkat menjadi pemimpin paling berkuasa kedua di Mesir, bangsa paling berkuasa di dunia pada waktu itu. Karena itulah, Yusuf dapat menyelamatkan Mesir dan Israel dari bencana kelaparan.

Ia bukan hanya menyelamatkan dua bangsa dari kelaparan, tetapi juga menyelamatkan keluarganya sendiri - orang-orang yang telah menjualnya sebagai budak. Ketika saudara-saudaranya datang menghadapnya, Yusuf sebenarnya dapat menghadapi mereka dan menghukum mereka atas apa yang telah mereka lakukan kepadanya.

Namun, bagaimana sikap Yusuf terhadap saudara-saudaranya? Ia memperlakukan mereka dengan kasih karunia, bukan dengan kepahitan. Ia mampu melakukan hal itu karena ia melihat segala sesuatu dari sudut pandang dan tujuan Allah yang lebih besar. Ia tahu bahwa Allah dapat menggunakan bahkan luka terbesar dalam hidupnya untuk mendatangkan kebaikan.

Yusuf berkata kepada saudara-saudaranya, "Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar." (Kejadian 50:20). Allah mengambil kejahatan mengerikan yang dilakukan saudara-saudara Yusuf dan menggunakannya untuk menyelamatkan banyak orang pada akhirnya.

Akan selalu ada orang dalam hidup Anda yang memiliki niat buruk, yang akan merasa iri terhadap Anda, mengkritik Anda dan menyakiti Anda. Akan ada saat-saat ketika Anda menjadi korban yang tidak bersalah atas dosa orang lain. Tidak ada cara untuk menghindarinya.

Anda mungkin tidak memahaminya-tetapi Anda tidak harus memahaminya! Seperti Yusuf, mungkin Anda tidak dapat mengubah keadaan Anda. Atau mungkin Anda bertanya-tanya bagaimana Anda akan melewati semua ini atau apa yang sedang Allah lakukan. Anda dapat percaya bahwa Allah melihat semuanya, Dia peduli kepada Anda, dan Dia akan menegakkan keadilan.

Allah dapat menggunakan segala sesuatu, baik maupun buruk, untuk mencapai tujuan-Nya. Rencana-Nya yang baik untuk membentuk karakter Anda dan membuat Anda semakin serupa dengan Yesus tidak akan berubah karena orang lain.

Renungkan :

- Terkadang kita baru melihat bagaimana Allah menggunakan penderitaan kita untuk mendatangkan kebaikan bertahun-tahun kemudian. Apakah Anda memiliki contoh pengalaman seperti itu dalam hidup Anda? Apa yang akhirnya Anda pelajari tentang Allah melalui situasi menyakitkan tersebut?

- Mengapa keadaan yang menyakitkan terkadang menjadi cara terbaik bagi kita untuk bertumbuh semakin serupa dengan Yesus?

- Dari mana Anda mendapatkan kekuatan untuk memperlakukan orang yang menyakiti Anda dengan kasih karunia dan bukan dengan kepahitan? Dapatkah Anda melakukannya dengan kekuatan sendiri?

Bacaan Alkitab Setahun :
Yesaya 63-66; Kolose 2 : 16-23
______________
Apa yang diniatkan orang lain untuk mendatangkan keburukan akan digunakan Allah untuk mendatangkan kebaikan.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
========
God Can Use Everything for Good
By Rick Warren

“You intended to harm me, but God intended it all for good. He brought me to this position so I could save the lives of many people.” Genesis 50:20 (NLT)
-------------------
Remember the story of Joseph?

His brothers were jealous because he was the favorite son, so they sold him into slavery. He was taken to Egypt, and for the first 40 years of his life, everything went wrong. He worked as a slave, was falsely accused of rape, and was thrown in jail for a crime he didn’t commit, just to name a few.

For decades, nothing seemed to go right for Joseph—but God put him exactly where he wanted him to be. He knew that Joseph would be raised up to become the second most powerful leader in Egypt, the most powerful nation in the world at that time. And because of that, Joseph was able to save Egypt and Israel from famine.

Not only did he save two nations from starvation, but he also saved his family—the ones who sold him into slavery. When his brothers appeared before him, Joseph could have confronted them and punished them for what they did to him.

But what was Joseph’s attitude toward his brothers? He treated them with grace, not bitterness. He was able to do that because he saw God’s greater perspective and purpose. He knew God could use even the biggest hurt in his life for good.

Joseph said to his brothers, “You intended to harm me, but God intended it all for good. He brought me to this position so I could save the lives of many people” (Genesis 50:20 NLT). God took the terrible sin of Joseph’s brothers and used it to eventually save many people.

There will always be people in your life who have bad intentions, who will resent you, criticize you, and hurt you. There will be times when you are the innocent victim of someone else’s sin. There is no way around it.

You may not understand it—but you don’t have to! Like Joseph, maybe you can’t change your circumstances. Or maybe you’re wondering how you’re going to make it through or what God is doing. You can trust that God sees, he cares, and he will bring justice.

God can use everything, good or bad, to accomplish his purposes. His good plan to grow your character and make you more like Jesus will not be changed by other people. What others intend for bad, he will use for good