Senin, 31 Agustus 2026

《Hidup untuk Bahagia, Bukan untuk Mengalahkan Orang Lain》



Yahoo pengingat yang mendalam dan menyejukkan hati:

Kita hidup untuk mengalami dan merasakan kebahagiaan, bukan untuk terus-menerus membandingkan diri dan berlomba menang atau kalah dengan orang lain.

Ketika kita terbiasa membandingkan kehidupan kita dengan pencapaian, keberuntungan, atau kehidupan orang lain yang tampak sempurna dari luar, kita justru mudah terjebak dalam kecemasan dan kehilangan arah.

### Mengapa kita tidak perlu bersaing untuk menang atau kalah dengan orang lain?

• Kebahagiaan tidak memiliki satu standar yang sama.
Setiap orang memiliki titik awal, tantangan hidup, dan tujuan yang berbeda. Mengukur kehidupan kita dengan ukuran milik orang lain tidaklah berarti.

• Perbandingan hanya menguras energi.
Terlalu memperhatikan orang lain yang sukses dalam pekerjaan atau tampak memiliki kehidupan sempurna hanya akan memperbesar kecemasan kita dan menjauhkan kita dari ketenangan hati.

• Kehidupan bukanlah arena pertandingan.
Kita tidak perlu membuktikan kepada siapa pun bahwa kita lebih hebat daripada orang lain. Kita hidup untuk diri kita sendiri dan untuk orang-orang yang menyayangi kita.

### Bagaimana menemukan kembali irama hidup kita sendiri?

• Fokus pada perasaan dan kehidupan kita sendiri.
Arahkan perhatian kepada pertanyaan: “Apakah hari ini saya menjalani hidup dengan baik?” atau “Apakah hari ini saya sudah membuat diri sendiri tersenyum?” — bukan “Apakah saya sudah mengalahkan orang lain?”

• Rangkul ketidaksempurnaan.
Terimalah langkah hidup kita sendiri, hargai apa yang kita miliki saat ini, dan tanamkan dalam hati: ==> “Saya adalah saya.”

• Tentukan sendiri arti kesuksesan.
Kebahagiaan, ketenangan, dan kehidupan yang tenteram jauh lebih berharga daripada sebuah kata ==> “menang” yang pada akhirnya bisa terasa sepi.

❤️🌲🌲❤️❤️🌲🌲❤️❤️🌲🌲❤️
❤️🌲 **GLX. 2026.08.08.** 🌲❤️

❤️🌲🌲❤️❤️🌲🌲❤️🌲🌲❤️ail: Cari, Atur, Taklukkan
Uploaded Image

Apakah Harta yang Anda Miliki Justru Menguasai Anda?

01 September 2026

Bacaan Hari ini:
Mazmur 17:15 "Tetapi aku, dalam kebenaran akan kupandang wajah-Mu, dan pada waktu bangun aku akan menjadi puas dengan rupa-Mu"
-----------------
Hidup bukanlah tentang benda-benda yang Anda miliki. Anda harus memiliki cara pandang yang benar terhadap apa yang Anda miliki, atau pada akhirnya harta yang Anda miliki justru akan menguasai Anda. Anda perlu menyadari bahwa tidak satu pun dari semua itu akan bertahan selamanya.

Yesus berkata dalam Lukas 12:15 "Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu"

Jangan pernah mengukur nilai diri Anda berdasarkan jumlah kekayaan yang Anda miliki. Jangan pernah berpikir bahwa nilai diri Anda berkaitan dengan barang-barang berharga yang Anda miliki.
Sadari bahwa hal-hal terbaik dalam hidup bukanlah benda. Anda tidak membawa apa pun ketika datang ke dunia, dan Anda juga tidak akan membawa apa pun ketika meninggalkan dunia ini.

Hidup bukan tentang memperoleh sebanyak-banyaknya atau mencapai sebanyak-banyaknya. Hidup adalah tentang hubungan dan belajar mengasihi Allah serta orang lain.

Cara terbaik untuk mengingat bahwa hidup Anda bukanlah tentang harta benda adalah dengan membangun kehidupan berdasarkan prioritas yang kekal. Fokuslah pada hal-hal yang akan bertahan selamanya.
Setiap harta benda hanya bersifat sementara, jadi jangan membangun hidup Anda dengan tujuan mengumpulkan sebanyak mungkin harta. Hanya dua hal yang akan bertahan selamanya: Firman Allah dan manusia.

Anda harus membuat sebuah pilihan. Dunia mengatakan bahwa Anda perlu mendapatkan lebih banyak agar menjadi lebih bahagia, lebih sukses, lebih penting, lebih berharga dan lebih aman.
Jadi, Anda harus menentukan pilihan: Apakah Anda akan mendengarkan Madison Avenue atau Sang Guru? Apakah Anda akan mendengarkan budaya atau Kristus? Apakah Anda akan mendengarkan dunia atau Firman Allah?
Salah satunya akan membuat Anda tidak pernah merasa puas sepanjang hidup; yang lainnya akan membuat Anda benar-benar bahagia.

Sebelum Anda dapat bergerak menuju kebebasan finansial, Anda perlu bertanya kepada diri sendiri:
"Apa tujuan utama hidup saya? Apakah hidup saya hanya untuk mendapatkan lebih banyak? Apa yang saya pikirkan, bicarakan, dan beri perhatian? Untuk apa saya menjalani hidup ini?"

Lihatlah di sekitar Anda dan Anda akan menemukan banyak orang yang memiliki banyak hal untuk menunjang hidup mereka. Anda dapat melihat para selebritas di televisi dan para pebisnis sukses di lingkungan Anda. Rekening bank mereka mungkin penuh dan mereka memiliki banyak hal untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Namun, sebagian dari mereka mungkin hanya memiliki sedikit hal yang menjadi alasan untuk menjalani hidup.

Bagaimana dengan Anda?
Anda mungkin memiliki banyak hal untuk menunjang kehidupan Anda, tetapi apakah Anda memiliki sesuatu yang menjadi alasan untuk hidup?

Apakah Anda memiliki hubungan dengan Allah?
Dunia menawarkan sebuah anggapan bahwa Anda bisa memiliki semuanya. Tetapi kenyataannya, Anda tidak bisa memiliki semuanya. Dan yang lebih penting, Anda tidak membutuhkan semuanya untuk menjadi bahagia.

Rahasia merasa cukup adalah menemukan rasa aman dan kepuasan bukan dari apa yang Anda miliki, tetapi dari siapa yang memiliki Anda. Anda menemukannya di dalam Kristus.
"Tetapi aku, dalam kebenaran akan kupandang wajah-Mu, dan pada waktu bangun aku akan menjadi puas dengan rupa-Mu" Mazmur 17:15

Renungkan :

- Hal-hal apa yang bersifat nyata maupun tidak nyata yang selama ini Anda berusaha kumpulkan, tetapi justru membuat Anda mengabaikan hubungan Anda dengan Allah?


- Bagaimana Anda pernah mengorbankan hubungan dengan orang lain demi mengejar kesuksesan atau status? Apa yang perlu Anda lakukan hari ini untuk mulai memperbaiki hubungan tersebut?


- Apakah Anda baik-baik saja jika tidak bisa “memiliki semuanya”? Mengapa atau mengapa tidak?

Bacaan Alkitab Setahun :
Mazmur 132-134; I Korintus 11:17-34
__________
Kebahagiaan Anda bergantung pada pilihan Anda.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
=========
*Do Your Possessions Possess You?*
By Rick Warren

*“But as for me, my contentment is not in wealth but in seeing you and knowing all is well between us. And when I awake in heaven, I will be fully satisfied, for I will see you face-to-face.”* Psalm 17:15 (TLB)
------------------
Life is not about things. You have to maintain the right perspective about what you own, or you’ll be possessed by your possessions. You’ve got to realize that none of it is going to last.

Jesus says in Luke 12:15, “Watch out and guard yourselves from every kind of greed; because your true life is not made up of the things you own, no matter how rich you may be” (GNT).

Never judge your self-worth by your net worth. Never think your value is related to your valuables. Realize that the greatest things in life aren’t things. You didn’t bring anything into the world, and you won’t take anything out of it. Life is not about acquisition or achievement; it’s about relationships and learning how to love God and other people.

The best way to remember that your life is not about things is to build it on eternal priorities. Focus on what will last forever. Every possession is temporary, so don’t build your life on acquiring possessions. Only two things are going to last forever: the Word of God and people.

You’ve got a choice to make. The world is telling you that you need to get more to be happier, more successful, more important, more valuable, and more secure. So you’ve got to decide: Are you going to listen to Madison Avenue or the Master? Are you going to listen to culture or Christ? Are you going to listen to the world or the Word? One will leave you dissatisfied the rest of your life; one will make you truly happy.

Before you can move toward financial freedom, you have to ask yourself, “What is the primary purpose of my life? Is it just to get more? What do I think about, talk about, and give my attention to? What am I living my life for?”

Look around, and you’ll see many people who have a lot to live on. You’ll see celebrities on television and successful businesspeople in your own community. These people’s bank accounts are overflowing. They have plenty to live on, but some of them may have very little to live for.

What about you? You may have a lot to live on, but do you have anything to live for? Do you have a relationship with God? The myth of the world is that you can have it all. The truth is that you can’t have it all. And, more importantly, you don’t need it all to be happy. You’re as happy as you choose to be.

The secret to contentment is finding your security and your satisfaction not in what you have but in whose you are. You find it in Christ.

The Living Bible paraphrase says, “But as for me, my contentment is not in wealth but in seeing you and knowing all is well between us. And when I awake in heaven, I will be fully satisfied, for I will see you face-to-face” (Psalm 17:15).

Minggu, 30 Agustus 2026

Cara Memilih Kebahagiaan Hari Ini

31 Agustus 2026

Bacaan Hari ini:
Pengkhotbah 5:19 *"Setiap orang yang dikaruniai Allah kekayaan dan harta benda dan kuasa untuk menikmatinya, untuk menerima bahagiannya, dan untuk bersukacita dalam jerih payahnya--juga itupun karunia Allah."*
--------------------
Alkitab berkata dalam 1 Timotius 6:17 bahwa Allah "yang dalam kekayaan-Nya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati.". Itulah Allah yang kita sembah. Dia memberikan dunia ini kepada kita untuk kita nikmati! Namun, inilah masalahnya: kita terlalu sibuk berusaha mendapatkan lebih banyak sehingga tidak menikmati apa yang sudah kita miliki.

Rahasia untuk merasa cukup adalah belajar menikmati apa yang telah Allah berikan kepada Anda. Pengkhotbah 5:19 berkata: "Setiap orang yang dikaruniai Allah kekayaan dan harta benda dan kuasa untuk menikmatinya, untuk menerima bahagiannya, dan untuk bersukacita dalam jerih payahnya--juga itupun karunia Allah."

Salah satu hal yang paling saya sukai adalah melihat matahari terbit dari lereng di halaman rumah kami. Puluhan tahun yang lalu, saya menaruh kursi santai di sana. Saya rasa saya membelinya di Target, dan harganya tidak mahal. Warnanya sudah pudar, dan beberapa bilah kayunya sudah rusak. Saya senang duduk di kursi tua yang sudah usang itu sambil melihat matahari terbit. Hal itu memberi saya kebahagiaan yang besar!

Apakah saya akan mendapatkan lebih banyak kebahagiaan jika melihat matahari terbit sambil duduk di kursi malas bertabur berlian daripada di kursi tua saya? Tidak, itu tidak akan menambah kebahagiaan saya sedikit pun. Bahkan, ada keuntungan karena saya tidak memiliki kursi malas bertabur berlian dan memilih merasa cukup dengan kursi lama saya: tidak ada orang yang akan mencurinya!

Anda perlu bertanya kepada diri sendiri, “Apa yang belum saya nikmati saat ini?”

Sebagian besar dari kita terjebak dalam pola pikir yang saya sebut “nanti kalau, baru kemudian.” Kita berpikir, “Kalau ini terjadi, barulah saya akan bahagia.”

"Kalau saya punya pacar, barulah saya bahagia."

"Kalau saya menikah, barulah saya bahagia."

"Kalau saya punya anak, barulah saya bahagia."

"Kalau anak-anak saya sudah pergi sekolah, barulah saya bahagia."

"Kalau saya menikah lagi, barulah saya bahagia."

Namun, inilah kebenarannya: kebahagiaan Anda bergantung pada pilihan Anda. Jika Anda tidak bahagia sekarang, Anda tidak akan otomatis bahagia nanti. Kebahagiaan adalah sebuah pilihan!

Saya bisa membawa Anda ke beberapa tempat yang paling miskin di dunia dan menunjukkan dua orang yang tinggal bersebelahan. Yang satu hidup dengan penuh kesengsaraan, sementara yang satu lagi bahagia. Mengapa? Kebahagiaan tidak bergantung pada keadaan Anda, tetapi sangat berkaitan dengan sikap Anda.

Jika Anda tidak bahagia dengan apa yang Anda miliki dan jalani sekarang, saya dapat memastikan bahwa Anda tidak akan otomatis bahagia hanya karena memiliki lebih banyak. Sebab, sebanyak apa pun yang Anda miliki, Anda akan selalu menginginkan sedikit lebih banyak lagi.

Kebahagiaan adalah sebuah pilihan. Pilihlah sekarang untuk menikmati apa yang telah Allah berikan kepada Anda!

Renungkan :

- Apa saja yang telah Allah berikan sebagai berkat dalam hidup Anda, tetapi belum Anda nikmati sepenuhnya?


- Apa yang selama ini Anda tunggu agar Anda bisa merasa bahagia?


- Jika kebahagiaan adalah sebuah pilihan, mengapa orang memilih untuk tidak bahagia?

Bacaan Alkitab Setahun :
Mazmur 129-131; 1 Korintus 11:1-16
____________
Daripada terus berusaha mendapatkan lebih banyak, perhatikan apa yang Anda miliki sekarang. Bukalah mata Anda, hargai apa yang telah Allah berikan kepada Anda dan nikmatilah apa yang Anda miliki.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
=======
*How to Choose Happiness Today*
By Rick Warren

*“If God gives us wealth and property and lets us enjoy them, we should be grateful and enjoy what we have worked for. It is a gift from God.”* Ecclesiastes 5:19 (GNT)
----------------
The Bible says in 1 Timothy 6:17 that God “richly provides us with everything for our enjoyment” (NIV). That’s the kind of God we serve. He gave us the world for our enjoyment! But here’s the problem: We’re so busy getting more that we don’t enjoy what we’ve got.

The secret of contentment is to learn to enjoy what God has given you. Ecclesiastes 5:19 says, “If God gives us wealth and property and lets us enjoy them, we should be grateful and enjoy what we have worked for. It is a gift from God” (GNT).

Instead of grasping for more, pay attention to what you have now. Open your eyes, appreciate what God has already given you, and enjoy what you’ve got.

One of my favorite things to do is to watch the sunrise from the slope in our yard. I put a deck chair out there decades ago. I think I bought it at Target, and it wasn’t expensive. It’s faded, and a couple of slats are broken. I love to sit in that ratty old chair and watch the sun come up. It gives me great pleasure!

Would I have any more joy watching the sunrise if I were sitting in a diamond-encrusted recliner instead of my old, worn chair? No, it would not increase my joy one bit. In fact, there is an advantage to not having a diamond-encrusted recliner and instead being content with my old chair: No one will steal it!

You need to ask yourself, “What am I not enjoying right now?” Most of us get into what I call “when and then” thinking: “When this happens, then I’ll be happy.”

“When I get a boyfriend, then I’ll be happy.” “When I get married, then I’ll be happy.” “When I have kids, then I’ll be happy.” “When my kids go off to school, then I’ll be happy.” “When I get married again, then I’ll be happy.”

But here’s the truth: You are as happy as you choose to be. If you’re not happy now, you’re not going to be happy later. Happiness is a choice!

I could take you to some of the poorest places in the world and show you two people living right next door to each other. One is miserable, and one is happy. Why? Happiness has nothing to do with your circumstances and everything to do with your attitude.

If you’re not happy with what you’re living on right now, I can guarantee that you’re not going to be happy with more. Because no matter what you have, you’re always going to want a little bit more.

Happiness is a choice. Choose right now to enjoy what God has given you!


Sabtu, 29 Agustus 2026

Pilihan Anda: Membandingkan atau Merasa Cukup

30 Agustus 2026

Bacaan Hari ini:
Pengkhotbah 6:9 "Lebih baik melihat saja dari pada menuruti nafsu. Inipun kesia-siaan dan usaha menjaring angin"
------------------
Langkah pertama untuk menjadi orang yang merasa cukup adalah berhenti membandingkan diri Anda dengan orang lain. Namun, masalahnya adalah membandingkan diri dengan orang lain seolah-olah menjadi kegiatan yang paling sering kita lakukan! Kita melakukannya hampir setiap saat.

Anda masuk ke rumah seseorang, dan hal pertama yang Anda lakukan adalah membandingkan: "Saya suka lantainya! Lihat tirainya! Wah, televisinya bagus sekali!" Kemudian Anda berpikir, "Rumah saya sama sekali tidak seperti ini!" Atau Anda berjalan melewati seseorang dan berpikir, "Saya suka gaya rambutnya; rambut saya hari ini terlihat buruk."

Anda terus-menerus membandingkan diri dengan orang lain dan hal itu membuat Anda frustrasi. Anda harus menghentikannya! Jika Anda ingin belajar merasa cukup, Anda harus berhenti membandingkan kehidupan Anda dengan kehidupan orang lain.

Anda juga perlu belajar mengagumi tanpa harus memiliki. Anda perlu belajar ikut bersukacita ketika orang lain mengalami keberhasilan atau memiliki sesuatu yang baik, tanpa merasa iri dan berpikir bahwa Anda juga harus memilikinya.

Ada sebuah prinsip penting yang sering tidak dipahami banyak orang:
Anda tidak harus memilikinya untuk dapat menikmatinya!

Mungkin Anda senang berlibur di pegunungan. Mengapa Anda harus membeli rumah atau kabin di pegunungan jika Anda hanya perlu menyewa atau bahkan meminjam kabin milik seorang teman, pada saat Anda pergi ke pegunungan setahun sekali? Memiliki sesuatu bukanlah satu-satunya cara untuk menikmatinya.

Tidak membandingkan diri dengan orang lain bukan hanya sebuah saran yang baik; ini adalah perintah dari Allah. "Jangan mengingini . . . apa pun yang dipunyai sesamamu." Keluaran 20:17

Mengingini adalah keinginan yang tidak terkendali untuk mendapatkan sesuatu. Ini merupakan dosa yang begitu penting untuk dihindari sehingga termasuk dalam Sepuluh Perintah Allah.

Kata covet dalam bahasa Yunani menggambarkan keinginan untuk menggenggam sesuatu dengan begitu erat sehingga Anda tidak sanggup melepaskannya. Jika suatu hari Allah memberikan sesuatu kepada Anda dan kemudian meminta Anda untuk memberikannya kepada orang lain, tetapi Anda tidak sanggup melepaskannya, berarti Anda bukan lagi yang memiliki benda itu—benda itu yang telah menguasai Anda.

Allah tidak mengatakan bahwa Anda tidak boleh menginginkan apa pun. Keinginan itu sendiri tidak salah. Bahkan, banyak keinginan Anda berasal dari Allah.

Namun, ketika sebuah keinginan menjadi tidak terkendali, keinginan itu berubah menjadi sikap mengingini milik orang lain. Anda mulai membandingkan diri dengan orang lain dan berpikir bahwa Anda harus memiliki lebih banyak. Keinginan yang tidak terkendali terhadap sesuatu yang bukan milik Anda adalah dosa dan dapat membawa kepada berbagai masalah.

Tetapi keinginan tidak selalu negatif. Bahkan, tidak ada sesuatu yang dapat dicapai tanpa adanya keinginan untuk melakukannya.

Anda tidak dapat menjadi semakin serupa dengan Kristus tanpa memiliki keinginan untuk menjadi semakin serupa dengan Kristus. Anda tidak dapat menjadi orang yang lebih mengasihi tanpa memiliki keinginan untuk lebih mengasihi. Anda tidak dapat menjadi orang yang lebih murah hati tanpa memiliki keinginan untuk menjadi lebih murah hati.

Kehidupan yang serupa dengan Kristus dan penuh rasa cukup hanya dapat terjadi ketika Anda belajar untuk tidak membandingkan diri dengan orang lain.
Kitab Pengkhotbah menyampaikannya dengan sederhana: "Lebih baik melihat saja dari pada menuruti nafsu. Inipun kesia-siaan dan usaha menjaring angin" Pengkhotbah 6:9

Renungkan :

- Bagaimana Anda dapat mengubah cara pandang terhadap barang-barang yang Anda miliki sehingga Anda dapat ikut bersukacita bersama orang lain atas apa yang mereka miliki?

- Menurut Anda, apa yang Allah ingin memenuhi kehidupan Anda, selain dengan berbagai kepemilikan?

- Orang Kristen sering berbicara tentang Allah yang memberikan keinginan hati mereka. Menurut Anda, keinginan seperti apa yang Allah ingin berikan kepada Anda?

Bacaan Alkitab Setahun :
Mazmur 126-128; 1 Korintus 10:19-33
____________
Ketika Anda membandingkan diri, hal itu dapat membawa Anda kepada keinginan yang tidak terkendali. Dan ketika Anda terus mengingini apa yang dimiliki orang lain, Anda tidak akan pernah merasa cukup.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
=========
Your Choice: Comparison or Contentment
By Rick Warren

“It is better to be satisfied with what you have than to be always wanting something else.” Ecclesiastes 6:9 (GNT)
-----------------
The first step to becoming a contented person is to stop comparing yourself to others. But the problem is that comparison is our favorite pastime! We do it all the time.

You walk into somebody’s house, and the first thing you do is make comparisons: “I like that floor! Look at that drapery! Wow, what a television!” You think to yourself, “My house doesn’t look anything like this!” Or you walk past somebody and think, “I like thaving to acquire. You need to learn to rejoice in other people’s prosperity without getting envious and feeling like you need it too.

Here’s a great principle that many people don’t understand: You don’t have to own it to enjoy it! Maybe you like to vacation in the mountains. Why do you have to buy a mountain cabin when you can just rent or even borrow a friend’s cabin the one time a year you go to the mountains? Ownership isn’t the only way to enjoy something.

Not making comparisons isn’t just a good idea; it’s a commandment from God. Exodus 20:17 says, “You shall not covet . . . anything that belongs to your neighbor” (NIV).

Coveting is the uncontrolled desire to acquire. It’s such an important sin to avoid that it’s included in the Ten Commandments. The word covet in Greek means that you grasp something so tightly that you can’t let it go. If God ever gives you something and he tells you to give it away and you can’t, then you don’t own it; it owns you.

God is not saying you should never desire anything. Desires are not wrong. In fact, many of your desires come from God. But when a desire is uncontrolled, it becomes coveting; you compare yourself to others and think you must have more. That uncontrolled desire for something that is not yours is sinful and leads to all kinds of problems.

But desire isn’t always negative. In fact, nothing can be accomplished unless you desire to do it. You can’t become more like Christ without desiring to become more like Christ. You can’t be a more loving person without desiring to be a more loving person. You can’t be a more generous person without desiring to be a more generous person.

This kind of Christ-like, contented life only happens when you learn not to compare. When you compare, that leads to coveting, and when you covet, you can’t be content.

The book of Ecclesiastes says it simply: “It is better to be satisfied with what you have than to be always wanting something else” (Ecclesiastes 6:9 GNT)


Jumat, 28 Agustus 2026

Iman Mengalahkan Ketakutan dalam Keuangan

29 Agustus 2026

Bacaan Hari ini:
Matius 25:28-29 "Sebab itu ambillah talenta itu dari padanya dan berikanlah kepada orang yang mempunyai sepuluh talenta itu. Karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya."
------------------
Apa yang membuat Anda takut mengembangkan kehidupan Anda? Apa yang membuat Anda sulit bergerak menuju kebebasan finansial? Jawabannya adalah ketakutan.

Ada berbagai macam ketakutan yang dapat menahan Anda. Salah satunya adalah keraguan terhadap diri sendiri, yang berkata, "Anda pernah gagal sebelumnya, jadi Anda tidak akan pernah mencoba lagi." Tetapi hanya karena Anda pernah gagal, bukan berarti Anda harus menyerah. Semua orang pernah gagal; kegagalan adalah salah satu cara Anda belajar tentang apa yang berhasil dan apa yang tidak. Allah menggunakan orang-orang biasa yang memilih untuk terus melangkah setelah mengalami kegagalan, bukan menyerah.

Dua murid, Yudas dan Petrus, menyangkal Yesus sebelum penyaliban-Nya. Mereka melakukan dosa yang sama, tetapi perbedaannya terletak pada bagaimana masing-masing merespons kegagalan mereka. Yudas berfokus pada dosanya dan bukan pada pengampunan Allah. Penyesalannya begitu berat sampai akhirnya ia mengakhiri hidupnya.

Namun, ketika Petrus menyadari dosanya, ia berdoa, bertobat dan meminta pengampunan Allah. Kemudian Yesus memilih Petrus untuk berkhotbah pada hari Pentakosta dan 3.000 orang diselamatkan pada hari pertama. Yesus memilih untuk membangun gereja melalui salah satu orang yang mengalami kegagalan terbesar di antara mereka.

Sungguh luar biasa Allah kita! Dia tidak memilih orang yang paling hebat. Diatas memilih orang yang pernah melakukan kesalahan paling besar.
Mungkin Anda pernah melakukan kesalahan besar dalam hal keuangan atau dalam bidang kehidupan lainnya. Tetapi itu tidak menentukan segalanya. Yang penting bukan di mana Anda pernah berada, tetapi ke arah mana Anda sedang berjalan sekarang.

Dalam perumpamaan tentang talenta yang kita lihat kemarin dalam Matius 25, seorang kaya mempercayakan uangnya kepada tiga orang hambanya sebelum pergi melakukan perjalanan panjang. Ketika ia kembali, ia meminta pertanggungjawaban dari mereka. Dua orang hamba berhasil melipatgandakan uang tuannya, tetapi hamba yang ketiga merasa takut dan menyembunyikan apa yang telah dipercayakan kepadanya, bukannya mengelola dan mengembangkannya.

Ketakutannya mengecewakan dan membuat tuannya marah. Tuannya berkata: "Sebab itu ambillah talenta itu dari padanya dan berikanlah kepada orang yang mempunyai sepuluh talenta itu." Matius 25:28
Sang tuan mengambil kembali apa yang telah dipercayakan kepada hamba tersebut.

Ketika Anda berusaha menjalani hidup sesuai dengan cara Allah, Anda mungkin merasa takut. Bahkan, Iblis akan berusaha membuat Anda mengabaikan prinsip-prinsip Allah dalam mengelola uang dengan menanamkan ketakutan akan kegagalan atau membuat Anda meragukan kemampuan Anda untuk menjadi pengelola yang baik atas apa yang Allah percayakan kepada Anda.

Namun, jika Anda ingin berhasil dalam hidup, Anda perlu melawan ketakutan Anda. Anda perlu berani melakukan hal yang paling Anda takuti.

Ketika Anda melangkah maju dengan iman dan mengikuti prinsip-prinsip Allah untuk mencapai kedamaian dalam keuangan, Anda akan mengalami berkat-Nya. Seperti hamba yang setia dalam perumpamaan itu, Allah dapat mempercayakan kepada Anda lebih banyak sumber daya atau tanggung jawab.

Seperti yang dikatakan Matius 25:29: "Karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya." Matius 25:29

Renungkan :

- Kegagalan keuangan apa yang pernah membuat Anda sulit untuk melangkah maju dan mengikuti prinsip-prinsip keuangan Allah dalam hidup Anda?

- Apakah Anda berdoa agar Allah memberi Anda lebih banyak tanggung jawab dalam mengelola uang yang Dia percayakan kepada Anda? Mengapa atau mengapa tidak?

- Apa yang membuat Anda takut untuk menaati cara Allah dalam mengelola uang? Bicarakan ketakutan tersebut kepada Allah hari ini.

Bacaan Alkitab Setahun :
Mazmur 123-125; 1 Korintus 10:1-18
_____________
Allah menggunakan orang-orang biasa yang memilih untuk terus melangkah setelah mengalami kegagalan, bukan menyerah.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
=========
Faith over Fear in Your Finances
By Rick Warren

“Take the money from this servant, and give it to the one with the ten bags of silver. To those who use well what they are given, even more will be given, and they will have an abundance. But from those who do nothing, even what little they have will be taken away.” Matthew 25:28-29 (NLT)
-----------------
What keeps you from investing your life? What keeps you from moving toward financial freedom? I’ll tell you what it is: fear.

Many kinds of fear can hold you back. One type of fear is self-doubt, which says: “You’ve failed in the past, so you’re never going to try again.” But just because you fail doesn’t mean you should give up. Everybody fails; it’s the only way you learn what works! God uses ordinary people who choose to keep on going after failure instead of giving up.

Two disciples, Judas and Peter, denied Jesus before his crucifixion. They committed the same sin, but the difference was the way each reacted to his failure. Judas focused on his sin and not the forgiveness of God. His remorse overwhelmed him, and he ultimately took his own life.

But when Peter realized his sin, he prayed, repented, and asked God for forgiveness. Then Jesus chose Peter to preach on Pentecost, and 3,000 people were saved the first day. Jesus chose to build the church on the biggest failure in the bunch.

What a God! He didn’t choose the superstar. He chose the guy who had blown it the worst.

You may have really messed up financially or in other ways. But it doesn’t matter where you’ve been. What matters is the direction you are going right now.

In the parable of the talents we looked at yesterday in Matthew 25, a rich man entrusted his money to three servants before leaving on a long trip. When he returned, he asked for an account from the servants. Two of them had doubled the master’s money, but the third had been afraid and had hidden his portion instead of working and investing it. His fear disappointed and angered his master, who said, “Take the money from this servant, and give it to the one with the ten bags of silver” (Matthew 25:28 NLT). The master took away everything the servant had been given.

When you try to do things God’s way, you may feel afraid. In fact, Satan will try to get you to ignore God’s principles for money management by making you afraid of failure or making you doubt your ability to be a good steward of God’s money.

But if you’re going to be successful in life, you have to move against your fears. You have to do the very thing that you fear the most!

When you move forward in faith and follow God’s guidelines for financial peace, you will experience his blessing; like the servant, God may give you even more resources or more responsibility.

As Matthew 25:29 says, “To those who use well what they are given, even more will be given, and they will have an abundance. But from those who do nothing, even what little they have will be taken away” (NLT).

Rabu, 26 Agustus 2026

Anda Bukan Pemilik Uang; Anda Hanya Mengelolanya

28 Agustus 2026

Bacaan Hari ini:
Matius 25:14-15 "Sebab hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang yang mau bepergian ke luar negeri, yang memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka. Yang seorang diberikannya lima talenta, yang seorang lagi dua dan yang seorang lain lagi satu, masing-masing menurut kesanggupannya, lalu ia berangkat."
--------------------
Yesus menceritakan tentang seorang kaya yang mempercayakan hartanya kepada hamba-hambanya ketika ia pergi melakukan perjalanan yang cukup lama. Ketika ia kembali, ia meminta setiap hamba memberikan pertanggungjawaban tentang bagaimana mereka mengelola uang yang telah dipercayakan kepada mereka.

Kisahnya seperti ini: "Sebab hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang yang mau bepergian ke luar negeri, yang memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka. Yang seorang diberikannya lima talenta, yang seorang lagi dua dan yang seorang lain lagi satu, masing-masing menurut kesanggupannya, lalu ia berangkat." Matius 25:14-15

Orang kaya tersebut mengharapkan pengelolaan yang baik. Istilah "stewardship" berkaitan dengan kata dalam bahasa Inggris Kuno yang berarti "pengelola." Cara Anda mengelola apa yang dipercayakan kepada Anda sangat penting bagi kebebasan finansial Anda.

Prinsip pertama kebebasan finansial adalah prinsip kepemilikan: segala sesuatu yang Anda miliki adalah milik Allah; Anda hanya bertugas mengelolanya!
Anda dipanggil untuk menjadi pengelola waktu Anda. Anda dipanggil untuk mengelola pengaruh Anda. Anda dipanggil untuk mengelola kesehatan, hubungan dan kesempatan yang Anda miliki. Allah memanggil Anda untuk menjadi pengelola segala sesuatu yang telah diberikan kepada Anda.

Anda mungkin berkata, "Tunggu dulu! Saya bekerja untuk mendapatkan uang saya, dan sekarang Anda mengatakan bahwa uang itu bukan milik saya?"

Dari mana Anda mendapatkan tubuh yang dapat bekerja untuk menghasilkan uang? Dari mana Anda mendapatkan pikiran untuk bekerja? Dari mana Anda mendapatkan tenaga untuk bekerja? Dari mana Anda mendapatkan kemampuan dan kecerdasan untuk bekerja?

Segala sesuatu yang Anda miliki berasal dari Allah.
Sebenarnya, Anda tidak benar-benar memiliki apa pun dalam kehidupan ini; semuanya hanya dipercayakan kepada Anda untuk sementara. Anda hanya menggunakan apa yang Allah berikan selama Anda hidup di dunia. Allah mempercayakannya kepada Anda selama beberapa puluh tahun. Sebelumnya, hal itu mungkin telah dipercayakan kepada orang lain, dan setelah Anda meninggal, hal itu akan dipercayakan kepada orang lain lagi.

Anda bukan pemiliknya; Sang Tuanlah yang memiliki semuanya. Anda hanya bertugas mengelolanya.

Tahukah Anda tanda bahwa seseorang telah melupakan prinsip kepemilikan ini?
Ketika Anda mulai berpikir bahwa uang adalah milik Anda sepenuhnya, Anda akan mulai mengkhawatirkannya. Anda akan merasakan tekanan dan stres yang sebenarnya tidak perlu Anda tanggung.

Mengelola uang adalah disiplin rohani. Allah memperhatikan bagaimana Anda mengelola apa yang Dia percayakan kepada Anda, untuk melihat seberapa besar kekayaan rohani yang dapat Dia percayakan kepada Anda di surga.
Hal ini mungkin terdengar seperti sebuah tekanan, tetapi sebenarnya ada kebebasan ketika Anda memahami prinsip kepemilikan.

Renungkan :

- Jika Anda menjadi pengelola sebuah bisnis, apakah tekanan untuk berhasil akan sebesar tekanan yang dirasakan pemiliknya? Apakah Anda tetap ingin bisnis tersebut berhasil sebesar keinginan pemiliknya? Mengapa?

- Bagaimana Anda belajar menjalankan disiplin rohani seperti mengelola keuangan?

- Apa peran doa dalam mengambil keputusan keuangan Anda? Mengapa doa penting dalam mengelola keuangan?

Bacaan Alkitab Setahun :
Mazmur 120-122; 1 Korintus 9
______________
Ketika Anda mengingat bahwa Allah adalah pemilik dan Anda adalah pengelola, Anda akan jauh lebih sedikit merasa khawatir dan dapat lebih berfokus pada bagaimana mengelola apa yang Allah percayakan kepada Anda dengan baik.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
========
You Don’t Own Money; You Manage It
By Rick Warren

“Once there was a man who was about to leave home on a trip; he called his servants and put them in charge of his property. He gave to each one according to his ability: to one he gave five thousand gold coins, to another he gave two thousand, and to another he gave one thousand. Then he left on his trip.” Matthew 25:14-15 (GNT)
----------------
Jesus told a story about a rich man who entrusted his property to his servants while he was away on a long trip. When he returned, he asked each one for an account of how they’d handled his money.

It goes like this: “Once there was a man who was about to leave home on a trip; he called his servants and put them in charge of his property. He gave to each one according to his ability: to one he gave five thousand gold coins, to another he gave two thousand, and to another he gave one thousand. Then he left on his trip” (Matthew 25:14-15 GNT).

The rich man was looking for good stewardship. The word stewardship is related to the Old English word for “manager.” Your stewardship, your management, is key to your financial freedom. The first law of financial freedom is the law of possession: Everything you have belongs to God; you are only a manager!

You are called to be a steward of your time. You are called to be a steward of your influence. You are called to be a steward of your health, your relationships, and your opportunities. God calls you to be a steward or manager of everything you have.

You may say, “But wait a minute! I worked for my money, and now you want to tell me it isn’t mine?” Where do you think you got your body to work for your money? Where do you think you got your mind to work for it? Where do you think you got the energy to work for it? Where do you think you got the intelligence to work for it? Everything you have comes from God.

You don’t really own anything in life; it’s all on loan. You only get to use God’s money while you’re here on earth. He’s loaned it to you for a few decades. He loaned it to somebody before you, and he’s going to loan it to somebody else after you die. You don’t own it; the Master owns it all. You just get to manage it.

Do you know what the sign is that you’ve forgotten the law of possession? When you think your money is yours, you worry about it. You feel pressure and stress that you weren’t meant to.

Money management is a spiritual discipline. God is watching how you handle his money to see what spiritual riches he can trust you with in heaven. This might make you feel pressure, but there is actually freedom in the law of possession.

When you remember that God is the owner and you are the manager, you’ll worry a whole lot less and focus more on managing God’s money well.


Allah Menghargai Kesetiaan dalam Mengelola Keuangan

27 Agustus 2026

Bacaan Hari ini:
Matius 25:21 "Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu."
-------------------
Allah menggunakan uang lebih daripada banyak hal lain dalam hidup Anda untuk menguji iman Anda. Mengapa? Karena uang adalah salah satu hal yang paling sulit untuk kita kelola dengan benar.

Perhatikan penghargaan yang Allah berikan untuk pengelolaan uang yang bijaksana: "Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu." Matius 25:21

Prinsipnya adalah: Allah akan menghargai Anda ketika Anda mengelola uang dengan baik. Matius 25 menunjukkan tiga tahap penghargaan tersebut: pengakuan, tanggung jawab yang lebih besar dan sukacita.

Seolah-olah Allah memberikan pengakuan kepada Anda dengan berkata, "Bagus! Aku sedang menguji apakah Aku dapat mempercayakan apa yang telah Kuberikan kepadamu dan Anda telah melewati ujian itu. Baik sekali, hai hamba yang baik dan setia."

Tahap kedua adalah tanggung jawab yang lebih besar. Ketika Anda menunjukkan kesetiaan dalam mengelola perkara-perkara kecil, Allah dapat memberikan kepada Anda tanggung jawab yang lebih besar.
Kemudian, ketika Anda menunjukkan bahwa Anda dapat menjalankan tanggung jawab tersebut dengan baik, Allah akan berbagi sukacita bersama Anda. Anda akan turut menikmati kebahagiaan yang berasal dari Allah.

Yesus berkata: "Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon" Matius 6:24

Perhatikan bahwa Yesus tidak mengatakan bahwa Anda sebaiknya tidak mengabdi kepada Allah dan uang. Dia mengatakan bahwa Anda tidak dapat melakukannya. Itu tidak mungkin. Tidak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan.
Jadi, Anda harus menentukan apa yang menjadi nomor satu dalam hidup Anda: Allah atau uang.

Uang adalah pelayan yang sangat baik, tetapi tuan yang sangat buruk. Ketika uang menguasai Anda, Anda akan terus berada dalam tekanan. Anda akan terus merasa khawatir dan gelisah tentang uang.

Namun, ketika Anda dapat mengendalikan uang Anda dan menjadikannya sebagai pelayan, uang dapat membantu Anda. Ketika uang bekerja untuk Anda, bukan Anda yang terus-menerus bekerja hanya demi uang, Anda akan memiliki lebih banyak ketenangan.

Renungkan :

- Jika Allah memeriksa keuangan Anda, menurut Anda nilai apa yang akan Dia berikan kepada Anda, dan mengapa?

- Kapan uang pernah menguasai Anda? Kapan Anda berhasil mengendalikan uang Anda? Apa perbedaan hubungan Anda dengan Allah pada masa-masa tersebut?

- Bagaimana Anda dapat mengelola uang dengan lebih bijaksana sehingga uang dapat bekerja untuk Anda, bukan mengendalikan Anda?

Bacaan Alkitab Setahun :
Mazmur 119:89-176; 1 Korintus 8
____________
Uang adalah salah satu ujian terbesar terhadap kesetiaan Anda.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
========
God Rewards Financial Faithfulness
By Rick Warren

“[The] master replied, ‘Well done, good and faithful servant! You have been faithful with a few things; I will put you in charge of many things. Come and share your master’s happiness!’” Matthew 25:21 (NIV)
--------------------
Money is the acid test of your faithfulness. God uses it more than any other thing in your life to test your faith. Why? Because it’s the thing people have the hardest time with.

Look at the rewards God gives for wise money management: “[The] master replied, ‘Well done, good and faithful servant! You have been faithful with a few things; I will put you in charge of many things. Come and share your master’s happiness!’” (Matthew 25:21 NIV).

The law of compensation is this: God will reward you for good money management. Matthew 25 suggests three steps of this reward: affirmation, promotion, and celebration.

It’s as if God affirms you by saying, “Good job! I was testing you to see if you could be trusted with what I gave you, and you passed the test. Well done, good and faithful servant.”

The second step is promotion. As you show faithfulness with a few things, God will give you greater responsibility.

Then, as you show your responsibility, God will celebrate with you. You will share in God’s happiness!

Jesus said, “No one can serve two masters. Either you will hate the one and love the other, or you will be devoted to the one and despise the other. You cannot serve both God and money” (Matthew 6:24 NIV).

Notice he doesn’t say you shouldn’t serve God and money. He says you can’t. It’s impossible. Nobody can serve two masters. So you’re going to have to decide what will be number one in your life: God or money.

Money is a terrific servant but a terrible master. When it masters you, you’re always under stress. You’re always worried. You’re always uptight about it.

But when you master your money, when you make it your servant, it serves you. When money works for you, instead of you working for your money, you will have peace.


Selasa, 25 Agustus 2026

4 Alasan Mengapa Menunjukkan Belas Kasihan Itu Penting

26 Agustus 2026

Bacaan Hari ini:
Matius 5:7 "Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan"
--------------------
Pernahkah Anda memperhatikan bahwa ketika Anda kritis terhadap orang lain, mereka juga cenderung kritis terhadap Anda? Ketika Anda bersikap baik kepada orang lain, mereka juga cenderung bersikap baik kepada Anda? Atau ketika Anda murah hati kepada orang lain, mereka juga cenderung murah hati kepada Anda? Apa pun yang Anda berikan dalam hidup, biasanya akan kembali kepada Anda.

Hal yang sama juga berlaku dalam hal belas kasihan Allah.
Yesus berkata dalam Matius 5:7: "Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan"

Tetapi mengapa Allah ingin Anda menunjukkan belas kasihan kepada orang lain? Mengapa menjadi orang yang penuh belas kasihan begitu penting?

1. Karena Allah telah menunjukkan belas kasihan kepada Anda.

Efesus 2:4-5 berkata: "Tetapi Allah yang kaya dengan rahmat, oleh karena kasih-Nya yang besar, yang dilimpahkan-Nya kepada kita, telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita--oleh kasih karunia kamu diselamatkan"
Allah ingin Anda meneruskan belas kasihan yang telah Anda terima dari-Nya kepada orang lain.

2. Karena Allah memerintahkan Anda untuk berbelas kasihan.

Apakah Anda ingin mengetahui ringkasan tentang apa yang seharusnya menjadi tujuan hidup? Inilah jawabannya:
"Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu : selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?" Mikha 6:8
Allah ingin Anda melakukan apa yang benar, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan-Nya.

3. Karena Anda akan membutuhkan lebih banyak belas kasihan di masa depan.

Anda akan melakukan banyak kesalahan antara sekarang sampai Anda tiba di surga, dan Anda akan membutuhkan belas kasihan Allah. Namun, Anda tidak dapat menerima sesuatu yang tidak bersedia Anda berikan kepada orang lain.
Yakobus 2:13 berkata: "Sebab penghakiman yang tak berbelas kasihan akan berlaku atas orang yang tidak berbelas kasihan. Tetapi belas kasihan akan menang atas penghakiman."

4. Karena menunjukkan belas kasihan membawa kebahagiaan.

Matius 5:7 berkata: "Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan"
Kata "berbahagialah" juga memiliki arti "bahagia." Jadi, semakin Anda belajar dan mempraktikkan belas kasihan, semakin Anda akan mengalami kebahagiaan dan berkat.
Karena begitu banyak orang di dunia hidup hanya untuk kepentingan diri sendiri, menunjukkan belas kasihan dan kasih karunia kepada orang lain akan selalu terlihat berbeda.

Renungkan :

- Menurut Anda, apa artinya "mencintai kesetiaan"? (Mikha 6:8)

- Bagaimana Anda pernah melihat Allah memberkati Anda ketika Anda menunjukkan belas kasihan kepada seseorang, bahkan ketika hal itu sulit dilakukan?

- Pikirkan satu kesempatan dalam minggu terakhir ketika Anda sebenarnya bisa menunjukkan belas kasihan kepada seseorang, tetapi tidak melakukannya. Menurut Anda, bagaimana hasil dari situasi tersebut mungkin akan berbeda jika Anda menunjukkan belas kasihan?

Bacaan Alkitab Setahun :
Mazmur 119:1-88; 1 Korintus 7:20-40
___________
Jadilah seseorang yang dikenal karena belas kasihannya. Tunjukkan kepada orang lain betapa baiknya Allah kepada Anda melalui cara Anda memperlakukan mereka. Dengan demikian, Anda dapat membawa perubahan yang berdampak sampai kepada kekekalan.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
=========
4 Reasons Why Showing Mercy Is Important
By Rick Warren

“God blesses those who are merciful, for they will be shown mercy.” Matthew 5:7 (NLT)
------------------
Have you ever noticed that if you’re critical of others, they’re critical of you? If you’re kind to others, they’re kind to you? Or if you’re generous to others, they’re generous to you? Whatever you give in life, you’re going to get in return.

The same is true of God’s mercy.

Jesus says in Matthew 5:7, “God blesses those who are merciful, for they will be shown mercy” (NLT).

But why does God want you to show mercy to others? Why is being merciful so important?

Because God has shown you mercy.

Ephesians 2:4-5 says, “God’s mercy is so abundant, and his love for us is so great, that while we were spiritually dead in our disobedience he brought us to life with Christ. It is by God’s grace that you have been saved” (GNT). God wants you to pass on the mercy that you’ve received from him.

Because God commands you to be merciful.

Do you want a summary of what life’s all about? Here it is: “The Lord has told you what is good. This is what the Lord requires from you: to do what is right, to love mercy, and to live humbly with your God” (Micah 6:8 GW).

Because you’re going to need more mercy in the future.

You’re going to make a lot of mistakes between now and when you get to heaven, and you’re going to need God’s mercy. But you cannot receive what you are unwilling to give. James 2:13 says, “You must show mercy to others, or God will not show mercy to you when he judges you. But the person who shows mercy can stand without fear at the judgment” (NCV).

Because showing mercy brings happiness.

Matthew 5:7 says, “Blessed are the merciful” (NIV). The word “blessed” also means “happy,” so the more you learn and demonstrate mercy, the happier and more blessed you’re going to be.

Because so many people in the world are living for themselves, showing mercy and grace to others will always stand out. Be known for your mercy as you model for others how good God has been to you, and you will make an eternal difference!


Senin, 24 Agustus 2026

Dibalik kabut ada kemenangan

Lampiran foto: IMG-20260825-WA0007.jpg

== Inspirasi pagi ==

*KESULITAN* itu seperti air dikolam  yang sedang keruh, *BERSABARLAH*, jangan mengaduknya, karena sebentar lagi ia akan *JERNIH* dengan sendirinya

*KEMARAHAN* hanyalah membuat kita bertindak terlalu sembrono karena *EMOSI*

*PIKIRAN* yang besar membicarakan ide ide*POSITIF*
*PIKIRAN* yang rata-rata membicarakan *KEJADIAN* masa lalu,
Dan *PIKIRAN* yang kerdil membicarakan orang sekitarnya atau biasa disebut *ngegossip*

Belajarlah dari *KESALAHAN* orang lain, karena Kita tidak dapat hidup cukup lama utk mendapatkan *SEMUA* pelajaran atau pengalaman itu dari diri kita sendiri, Orang pintar *BELAJAR* dari kesalahan diri sendiri, tetapi org yg *LEBIH* pintar belajar dari *KESALAHAN* orang lain

Orang yang paling *BERKUASA* adalah org yang dapat *MENGUASAI* dirinya sendiri

Melihat *TUJUAN* hidup adalah hal *PENTING* bagi kita. Namun Kehidupan melatih kita bukan *HIDUP* karena *MELIHAT*, tapi *HIDUP* karena *KEADAAN* Sehingga saat *KABUT KEHIDUPAN* membuat *TUJUAN* kita terlihat *KABUR* & *SAMAR*, tetaplah *BERJUANG* & terus *MELANGKAH*.

Jika kita sudah *MELANGKAH* serta *BERJUANG*, percayalah bahwa, *KEMENANGAN* sudah ada di depan mata.
Jangan justru *MENYERAH* dalam dalam keadaan *TERTEKAN*, karena semua itu pasti akan *BERAKHIR* Tetaplah *BERSEMANGAT* & Yakin bhw di suatu *TITIK*, dibalik *KABUT* itu αdα *KEMENANGAN* kita.

Seribu *LANGKAH* dimulai dari *LANGKAH* pertama tidak ada kata *TERLAMBAT* untuk *MEMULAI*, setelah memulai
*SELESAIKANLAH* αƿα yg telah kita *MULAI*..!!

Selamat pagi ...........
Good morning .........
早上好 .....................
Selamat Beraktivitas. Sehat dan Sukses selalu. GBU. 🙏🏼🙏🏼🙏🏼


Uploaded Image

Allah Sangat Mengasihi Anda

25 Agustus 2026

Bacaan Hari ini:
1 Yohanes 4:9-10 "Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya. Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita."
------------------
Segala sesuatu dalam hidup berubah—hubungan, pekerjaan, kesehatan, keuangan. Namun, ada satu hal di alam semesta yang tidak akan pernah berubah: kasih Allah.

Allah mengasihi Anda, apa pun yang terjadi. Kegagalan, kelemahan dan dosa Anda tidak pernah dapat mengurangi kasih-Nya. Mengetahui bahwa Anda dapat selalu mengandalkan kasih Allah memberikan dasar yang kokoh bagi kehidupan Anda.

Ayat Alkitab yang paling terkenal, Yohanes 3:16, berkata: "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal."

Perhatikan kata kecil "begitu" yang terdapat sebelum kata "mengasihi" dalam ayat tersebut. Kata "begitu" menunjukkan betapa luar biasanya kasih Allah. Allah mengasihi Anda dengan kasih yang besar dan berlimpah, yang tidak dapat diambil dari Anda. Kasih-Nya melampaui pemahaman kita. Dia mengasihi Anda pada hari-hari ketika keadaan Anda baik maupun pada hari-hari yang buruk. Dia mengasihi Anda ketika Anda berdosa maupun ketika Anda setia kepada-Nya.

Penting bagi Anda untuk tidak hanya memahami kasih yang begitu besar ini secara intelektual. Anda perlu mengalaminya secara emosional, sehingga benar-benar memahaminya jauh di dalam hati dan roh Anda. Kasih adalah sifat Allah. Allah menciptakan alam semesta dan segala sesuatu di dalamnya supaya Dia dapat menyatakan kasih-Nya. Dan Allah menciptakan Anda supaya Dia dapat mengasihi Anda.

Bahkan, melalui Yesus, Allah menunjukkan seperti apa kasih yang sejati—kasih-Nya—itu. Alkitab berkata: "Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya. Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita." 1 Yohanes 4:9-10

Banyak orang mengatakan bahwa mereka mengasihi Anda. Tetapi Allah menunjukkan kepada Anda bahwa Dia mengasihi Anda. Dia sangat mengasihi Anda sampai kasih itu menuntut pengorbanan. Dia mengorbankan Anak-Nya. Ketika Yesus mati bagi Anda, Dia menunjukkan bahwa Dia sangat mengasihi Anda sehingga Dia rela mati daripada hidup tanpa Anda.

Alkitab mengatakan bahwa itulah kasih yang sejati—kasih yang dapat menjadi dasar kehidupan Anda. Kasih yang sejati rela berkorban. Kasih yang sejati memberikan segalanya. Kasih yang sejati bertahan untuk selama-lamanya.
Itulah kasih yang hanya Allah miliki bagi Anda. Dia menantikan Anda dengan tangan terbuka untuk menunjukkan kebaikan, belas kasih dan kasih-Nya kepada Anda.

Renungkan :

- Mengapa Anda perlu membangun hidup Anda di atas sesuatu yang tidak dapat hilang atau diambil dari Anda?

- Kapan Anda paling sering meragukan kasih Allah?

- Apa yang kasih Allah, yang dinyatakan melalui Yesus, ajarkan kepada Anda tentang bagaimana seharusnya Anda mengasihi orang lain?

Bacaan Alkitab Setahun :
Mazmur 116-118; 1 Korintus 7:1-19
_____________
Allah mengasihi Anda, apa pun yang terjadi. Kegagalan, kelemahan dan dosa Anda tidak pernah dapat mengurangi kasih-Nya.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
=======
God So Loves You
By Rick Warren

“God showed how much he loved us by sending his one and only Son into the world so that we might have eternal life through him. This is real love—not that we loved God, but that he loved us and sent his Son as a sacrifice to take away our sins.” 1 John 4:9-10 (NLT)
-----------------
Everything in life changes—relationships, jobs, health, finances. But there’s one thing in the universe that will never change: God’s love.

God loves you, no matter what. Your failures, your brokenness, and your sin can never diminish his love. Knowing you can count on God's love provides a rock-solid foundation for your life.

The Bible’s most famous verse, John 3:16, says, “God so loved the world that he gave his one and only Son” (NIV).

Consider the small word “so” that goes before “loved” in that verse. “So” suggests the extravagance of God’s love. God loves you with a generous, extravagant love that can never be taken away. It’s beyond comprehension. He loves you on your good days and your bad days. He loves you when you sin and when you are faithful to him.

It's important that you don't just recognize this lavish love intellectually. You need to experience it emotionally, to really understand it deep down in your spirit. Love is God’s nature. God created the universe and everything in it just so that he could love it. And God created you so he could love you.

In fact, in Jesus, God shows what real love, his love, looks like. The Bible says, “God showed how much he loved us by sending his one and only Son into the world so that we might have eternal life through him. This is real love—not that we loved God, but that he loved us and sent his Son as a sacrifice to take away our sins” (1 John 4:9-10 NLT). 

Many people say they love you. But God showed you he loves you. He loves you so much that it hurt. He sacrificed his Son. When Jesus died for you, he was saying he loved you so much he’d rather die than live without you.

The Bible says that’s what real love—the kind of love you can build your life on—looks like. Real love makes sacrifices. Real love gives all. Real love endures for all eternity.

That’s the kind of love only God has for you. He’s waiting with open arms to show you his goodness, mercy, and love.


Minggu, 23 Agustus 2026

Pertemuan Keluarga Kembali untuk Selamanya

24 Agustus 2026

Bacaan Hari ini:
1 Tesalonika 4:17-18 "sesudah itu, kita yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa. Demikianlah kita akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan. Karena itu hiburkanlah seorang akan yang lain dengan perkataan-perkataan ini."
---------------
Ketika saya masih muda, saya tidak terlalu memikirkan tentang surga. Pertama, surga terlihat membosankan—setidaknya seperti yang sering digambarkan oleh dunia. Kedua, surga terasa masih sangat jauh. Dan ketiga, belum ada seorang pun yang saya kenal berada di sana. Tetapi sekarang saya mengenal banyak orang yang sudah berada di surga dan saya tidak sabar untuk sampai di sana dan bersama mereka.

Di surga, kita akan dipertemukan kembali dengan orang-orang yang kita kasihi yang mengasihi Tuhan. Semua orang yang menjadi bagian dari keluarga Allah akan berada di sana.

Siapa yang ingin Anda ajak berbicara terlebih dahulu di surga? Tentu saja, Anda akan bertemu dan menyembah Tuhan terlebih dahulu. Tetapi siapa yang paling ingin Anda temui setelah itu? Setiap orang percaya sepanjang sejarah akan berada di sana.

Apakah Anda ingin berbicara dengan Musa? Anda bisa! Bagaimana dengan Abraham, Maria atau Paulus? Entah bagaimana dengan Anda, tetapi saya pasti memiliki beberapa pertanyaan untuk Yunus. Anda akan melihat orang-orang terkenal sepanjang sejarah Kekristenan, para ilmuwan, para pemimpin dunia, serta orang-orang dari setiap suku dan bangsa. Anda akan memiliki seluruh kekekalan untuk berbicara dengan mereka!

Alkitab menggambarkannya sebagai suatu pertemuan besar bersama Tuhan: "sesudah itu, kita yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa. Demikianlah kita akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan" 1 Tesalonika 4:17

Dapatkah Anda membayangkan betapa mengharukan dan betapa penuh sukacitanya peristiwa itu? Kemudian ayat 18 berkata: "Karena itu hiburkanlah seorang akan yang lain dengan perkataan-perkataan ini." 1 Tesalonika 4:18

Ibu saya berada di surga, ayah saya berada di surga, kakak laki-laki saya, Jim, berada di surga dan anak saya yang paling kecil, Matthew, berada di surga. Saya juga memiliki banyak orang terkasih yang pernah melayani bersama saya dalam pelayanan dan sekarang berada di surga. Semakin banyak keluarga dan teman saya yang berada di seberang kematian, semakin berharga surga bagi saya.

Apakah Anda dikuatkan oleh pemikiran bahwa Anda akan berada di hadirat Yesus dan dipertemukan kembali dengan teman-teman serta keluarga Anda? Ketika kita sedang berduka bersama seseorang, kita seharusnya membagikan penghiburan itu kepada mereka. Jika mereka dan orang yang mereka kasihi mengenal Yesus sebagai Juruselamat, maka kematian bukanlah akhir. Mereka akan bertemu kembali!

Renungkan

- Bagaimana mengetahui bahwa Anda akan bertemu dengan anggota keluarga Allah lainnya di surga mendorong Anda untuk membagikan Injil?

- Siapa dalam kehidupan Anda yang perlu mendengar tentang tawaran Allah berupa rumah kekal di surga? Apa yang akan Anda lakukan untuk menyampaikannya kepada mereka?

- Menurut Anda, hal-hal apa yang ingin Anda bicarakan di surga setelah Anda meninggalkan dunia ini?

Bacaan Alkitab Setahun :
Mazmur 112-115; 1 Korintus 6
__________
Inilah kebaikan Allah bagi kita: tidak ada pengharapan yang lebih besar dalam hidup selain pertemuan keluarga kembali untuk selama-lamanya!

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
=========
A Family Reunion For Eternity
By Rick Warren

"There will be one huge family reunion with the Master. So reassure one another with these words." 1 Thessalonians 4:17-18 (MSG)
------------------
When I was young, I didn't really think about heaven that much. First, it seemed so boring—at least the way the world describes it. Second, it seemed like a long way off. And third, no one I knew was there yet. But I know a lot of people who are in heaven now, and I can't wait to get there and be with them.

In heaven, we're going to be reunited with our loved ones who love the Lord. Those who are in the family of God are all going to be there.

Who would you like to talk to first in heaven? Of course, you’re going to meet and worship the Lord first. But who are you excited to see next? Every believer throughout history will be there. Would you like to talk to Moses? You can! How about Abraham or Mary or Paul? I don’t know about you, but I definitely have some questions for Jonah. You’ll see famous people from throughout Christian history and scientists and world leaders and people from every tribe and nation. You're going to have all of eternity to talk with them!

The Message paraphrase says, "There will be one huge family reunion with the Master" (1 Thessalonians 4:17). Can you imagine how emotional, how joyful that's going to be? Then verse 18 says, “So reassure one another with these words.”

My mother is in heaven, my father is in heaven, my older brother, Jim, is in heaven, and my youngest child, Matthew, is in heaven. I have many dear people who served with me in ministry in heaven. The more of my family and friends who are on that side of death, the dearer heaven becomes to me.

Are you encouraged by the thought of being in the presence of Jesus and reunited with your friends and family? When we are grieving with someone, we should share that encouragement with them. If they and their loved one know Jesus as their Savior, then death is not the end. They will see them again!

This is God’s goodness to us, that there is no greater hope in life than a big family reunion for eternity!


Sabtu, 22 Agustus 2026

*"NENEK LINDA" vs "NENEK DEWI"*

Nenek *Linda* bolak-balik nelpon Nenek *Dewi*.

Karena gak diangkat-angkat,
Nenek Linda sms ke Nenek Dewi,

*"Wi.., di mana elu ?"*

Gak dibales, terus di sms lagi : 

*"Lagi sibuk ya, Wi.. ?"*

Gak dibales juga...
Akhirnya sms yang ketiga kali ,

*"Wi... elu sehat, nggak sakit kan ?"*

Masih juga gak dibales...

*"Dewiiiiiii..., elu lagi marahan sama gue ?"*

Masih gak dibales..                                   
Nenek Linda mulai naik darah tingginya, 
terus sms lagi : 

*"Kenapa elu Dewi... bolak balik ditelepon nggak di-angkat², di sms juga nggak lu bales... dah kaya pejabat aja...,* 
*Gue nelepon sama sms nggak ada maksud apa²..., Gue cuman mau kasih tau, HP elu ketinggalan di rumah gue."*
*"Pusing gue, itu HP dari tadi bunyi melulu".*

😉😅😆😄🤪😂😂🤣

Kristus Membawa Kejelasan dalam Kehidupan Orang

23 Agustus 2026

Bacaan Hari ini:
1 Korintus 14:33 "Sebab Allah tidak menghendaki kekacauan, tetapi damai sejahtera."
-----------------
Allah memanggil Anda untuk mewakili-Nya di mana pun Anda berada. Sama seperti negara mengirimkan duta besar untuk mewakili negaranya, Allah mengutus Anda untuk memberitakan kasih dan pengampunan-Nya kepada orang lain.

Namun, mungkin Anda merasa kurang percaya diri untuk membagikan iman Anda. Mungkin Anda berpikir bahwa Anda harus memiliki kemampuan seperti seorang tenaga penjual. Tetapi sebenarnya tidak demikian! Anda tidak harus pandai dalam "meyakinkan orang" untuk mengundang mereka menjadi bagian dari keluarga Allah.

Setiap manusia memiliki kerinduan batin yang sama. Jadi, ketika Anda berbicara kepada orang lain tentang Yesus, Anda sedang menawarkan sesuatu yang sebenarnya sudah mereka cari. Hal ini dapat membuat Anda lebih percaya diri!

Hal lain yang dapat membuat Anda lebih percaya diri dalam membagikan iman adalah ini: kebanyakan orang sebenarnya tidak benar-benar tahu apa yang mereka percayai. Mereka mungkin menyebut diri mereka sebagai penganut suatu pandangan tertentu, tetapi ketika ditelusuri lebih dalam, terkadang mereka sendiri tidak memahami apa yang sebenarnya dipercayai oleh pandangan tersebut.

Ada orang yang mengaku memiliki cara berpikir tertentu, tetapi pada akhirnya justru bertentangan dengan pemikirannya sendiri. Misalnya, mereka berkata, "Tidak ada kebenaran yang mutlak dalam hidup" Tetapi pernyataan itu sendiri bertentangan dengan apa yang mereka katakan. Mereka sebenarnya dapat mengatakan, "Tidak ada satu pun hal yang mutlak dalam hidup." Padahal, orang yang membuat pernyataan seperti itu sering kali tetap menjalani hidup berdasarkan aturan dan keyakinan yang mereka anggap mutlak.

Membagikan pengharapan Anda di dalam Kristus dapat membantu membawa kejelasan dalam kehidupan orang lain. Hal itu memberikan pemahaman yang mereka butuhkan. Alkitab berkata:
"Sebab Allah tidak menghendaki kekacauan, tetapi damai sejahtera." 1 Korintus 14:33

Kebenaran Firman Allah membebaskan orang dari pertentangan, kebingungan dan segala sesuatu yang membelenggu kehidupan mereka.
"Dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu." Yohanes 8:32

Renungkan

- Apakah Anda menjalani hidup dengan kesadaran bahwa Anda adalah duta Kristus di mana pun Anda berada? Jika belum, bagaimana kebiasaan tersebut dapat mengubah hidup Anda dan kehidupan orang-orang di sekitar Anda?

- Keyakinan yang membingungkan atau saling bertentangan apa yang dahulu pernah Anda miliki? Bagaimana Firman Allah membawa kejelasan terhadap keyakinan tersebut?

- Siapa yang dapat membantu mengingatkan dan mendorong Anda untuk membagikan iman Anda, sementara Anda juga melakukan hal yang sama untuknya?

Bacaan Alkitab Setahun :
Mazmur 109-111; 1 Korintus 5
_____________
Ketika Anda merasa kurang percaya diri untuk membagikan iman Anda, Anda dapat merasa tenang karena mengetahui bahwa pesan tentang Yesus dapat membawa kejelasan yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan orang lain.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
=========
Christ Brings Clarity to People’s Lives
By Rick Warren

“God is not a God of confusion but of peace.” 1 Corinthians 14:33 (ESV)
------------------
God has called you to represent him everywhere you go. Similar to how countries send out ambassadors, God is sending you out to tell others about his love and forgiveness.

But maybe you lack the confidence needed to share your faith. Maybe you think it requires having a salesperson mentality. But that simply isn’t true! You don’t have to be good at “closing the deal” to invite people into God’s family.

You see, all humans have the same inner longings. So, when you tell others about Jesus, you’re offering them something they’re already looking for. What a confidence booster!

Another confidence booster in sharing your faith is this: Most people don’t really know what they believe. They may label themselves a certain way, but when you scratch beneath the surface, they sometimes don’t even know what that system believes.

Some people claim to think a certain way but end up contradicting themselves. For example, they’ll say, "There are no absolutes in life." But that’s nonsense because that statement contradicts itself. They may as well say, “There are absolutely no absolutes in life.” In fact, people who make that claim live by rules and beliefs based on absolutes all the time.

Sharing your hope in Christ can help bring clarity to people’s lives. It gives them the understanding they need. The Bible says in 1 Corinthians 14:33, “God is not a God of confusion but of peace” (ESV). The truth of God’s Word sets people free from contradiction, confusion, and everything else that binds up their lives.

“You will know the truth, and the truth will set you free” (John 8:32 NIV).

Next time you lack the confidence to share your faith, you can relax, knowing that the message of Jesus will bring much-needed clarity to people’s lives.


Jumat, 21 Agustus 2026

Apa yang Benar-Benar Berarti dalam Hidup

22 Agustus 2026

Bacaan Hari ini:
Filipi 3:8 "Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya."
----------------
Setiap hari ketika Anda bangun, Anda perlu mengingatkan diri sendiri tentang apa yang benar-benar berarti dan apa yang tidak berarti. Jangan sampai Anda terdistraksi oleh hal-hal yang tidak penting dan sepele.

Mengapa penting untuk mengingatkan diri sendiri tentang apa yang benar-benar penting? Karena sangat mudah kehilangan sukacita hanya karena sesuatu yang kecil. Bahkan, biasanya hal-hal kecil yang menjengkelkan—bukan masalah besar—yang membuat Anda kehilangan kebahagiaan.

Seseorang memotong jalan Anda ketika Anda sedang berbelok, lalu Anda kehilangan kebahagiaan. Pakaian yang Anda kenakan sudah tidak lagi pas, lalu Anda kehilangan kebahagiaan. Hal-hal kecil terkadang justru paling memengaruhi seseorang, padahal sebenarnya hal-hal tersebut tidak terlalu berarti.

Paulus berkata: "Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus." Filipi 3:7

Apa hal yang paling penting dalam hidup Anda sebelum Anda mengenal Yesus Kristus? Apakah karier Anda? Menghasilkan uang? Mungkin mendapatkan pasangan atau menjadi populer. Bagi sebagian orang percaya, hal yang paling penting adalah mengumpulkan harta, mencapai kesuksesan, atau membuktikan kemampuan diri.

Paulus berkata bahwa semua hal tersebut adalah: "..rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya." Filipi 3:8

Berikut pertanyaan yang baik untuk Anda tanyakan ketika Anda mulai terganggu oleh hal-hal yang sebenarnya tidak berarti: "Seberapa pentingkah hal ini dalam 100 tahun lagi?"

Banyak hal bahkan tidak akan penting lagi besok, apalagi untuk kekekalan. Ketika Anda mengajukan pertanyaan ini, perspektif Anda akan berubah. Anda akan memahami bahwa semua hal yang dahulu begitu Anda pedulikan tidak dapat dibandingkan dengan sukacita yang berasal dari hubungan Anda dengan Yesus.

Ketika Anda menjadi orang Kristen, Yesus tidak hanya mengubah cara pandang Anda. Dia juga mengubah nilai-nilai yang Anda pegang. Anda tidak lagi ingin melakukan hal-hal yang dahulu Anda lakukan. Dia mengubah apa yang Anda inginkan.

Renungkan :

- Hal-hal kecil apa yang selama ini Anda khawatirkan dan justru merampas kebahagiaan Anda?

- Apa yang paling penting bagi Anda sebelum Anda percaya kepada Yesus Kristus? Bagaimana perasaan Anda terhadap hal tersebut sekarang?

- Apa saja cara praktis yang dapat Anda lakukan untuk mengarahkan kembali fokus Anda kepada Allah dan mempertahankan perspektif kekekalan?

Bacaan Alkitab Setahun :
Mazmur 106-108; 1 Korintus 4
____________
Ketika Allah hadir dalam hidup Anda, Anda belajar menikmati sukacita karena mengenal Yesus. Dan itulah yang benar-benar berarti dalam hidup.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
========
What Really Counts in Life
By Rick Warren

“Everything else is worthless when compared with the infinite value of knowing Christ Jesus my Lord.” Philippians 3:8 (NLT)
-------------------
Every day when you wake up, you need to remind yourself of what counts and what doesn’t count. Don’t be distracted by things that are insignificant and petty.

Why is it important to remind yourself of what matters? It’s easy to lose your joy over some small thing. In fact, it’s usually the small irritations—not the big issues—that cause you to lose your happiness. Somebody cuts you off when you’re trying to make a turn, and you lose your happiness. The clothes you put on don’t fit anymore, and you lose your happiness. It’s the little things that sometimes affect people the most, and yet they don’t really matter.

Paul said in Philippians 3:7, “I once thought these things were valuable, but now I consider them worthless because of what Christ has done” (NLT).

What was the most important thing in your life before you met Jesus Christ? Was it your career? Making money? Maybe it was getting a date or being popular. For some believers, the most important thing was collecting possessions or getting ahead or proving themselves.

Paul said all those things are “worthless when compared with the infinite value of knowing Christ Jesus my Lord” (Philippians 3:8 NLT).

Here’s a good question to ask when you’re distracted by worthless things: How much will this matter in 100 years? Many things won’t even matter tomorrow, much less for eternity. When you ask this question, it changes your perspective. You understand that all the things you used to care about don’t even compare to the joy that comes from having a relationship with Jesus.

When you become a Christian, Jesus doesn’t just change your perspective. He changes your values. You no longer want to do the things you used to do. He changes your “wants.”

When God comes into your life, you learn the joy of knowing Jesus. And that’s what really counts.


Kamis, 20 Agustus 2026

Murah Hati Tanpa Membandingkan

Lampiran foto: IMG-20260820-WA0012.jpg
Seorang ibu rumah tangga bercerita tentang pengalamannya ketika mendaftarkan anak-anaknya ke sebuah kegiatan ekstrakurikuler di lingkungan sekitarnya. Ibu tersebut rela membayar biaya penuh agar anak-anak keluarga kurang mampu juga bisa ikut serta secara gratis. Suatu hari, salah seorang peserta yang mendapat fasilitas gratis justru mengeluh karena tidak mendapatkan perlengkapan tambahan yang sama dengan peserta berbayar. Ibu tersebut sempat merasa kecewa dan tersinggung oleh keluhan tersebut.

​Namun, saat ia merenungkan kembali niat awalnya, ia menyadari bahwa kebaikannya tidak boleh ternodai oleh rasa ingin dihargai. Ia belajar bahwa kemurahan hati yang sejati adalah memberi tanpa menuntut kepuasan ego atau penghormatan balik dari orang yang dibantu.

​Pengalaman ini mencerminkan pesan Injil Matius 20:1-16a, di mana seorang tuan rumah memberi upah yang sama yaitu satu dinar kepada semua pekerja, baik yang bekerja seharian penuh maupun yang baru bekerja satu jam. Para pekerja yang masuk lebih awal merasa iri dan menuntut lebih, namun sang tuan mengingatkan bahwa ia berhak murah hati sesuai kehendaknya. Tuhan mengajar kita bahwa kasih dan rahmat-Nya adalah anugerah cuma-cuma, bukan transaksi perhitungan manusia.  

​Saudaraku, sering kali kita terjebak dalam perhitungan duniawi saat mengikut Tuhan maupun saat berbuat baik kepada sesama. Kita merasa lebih berhak mendapatkan lebih karena telah berjuang lebih lama atau berkorban lebih banyak. Mari kita bersihkan hati dari rasa iri dan kesombongan, serta belajar bersyukur atas kemurahan hati Allah yang tak terbatas bagi setiap orang.  
​"Iri hatikah engkau, karena aku murah hati?" (Matius 20:15b)  
​Bacaan: Matius 20:1-16a  
​(Gbu!)

Uploaded Image

Kasih Setia Allah Selalu Mengejar Anda

21 Agustus 2026

Bacaan Hari ini:
Mazmur 23:6 "Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku"
---------------
Bahkan di tengah luka, kebiasaan buruk dan berbagai pergumulan dalam hidup, Allah tetap memperhatikan Anda. Kebaikan-Nya mengikuti Anda dalam kehidupan dan kasih setia-Nya selalu mengejar Anda.

Begini cara lain untuk memahaminya: Bayangkan seorang ayah atau ibu yang mengikuti anak kecilnya ke mana pun ia pergi, sambil membereskan apa yang dibuat berantakan oleh anak tersebut. Apa pun yang sedang Anda lalui, Allah datang mendampingi Anda, membantu membereskan kekacauan dalam hidup Anda dan mengingatkan bahwa kasih setia-Nya selalu ada.

Ini berarti, daripada memasuki masa depan dengan tanda tanya, Anda dapat menjalaninya dengan tanda seru! Allah akan menyertai Anda, apa pun yang terjadi. Dia akan menolong Anda: "Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa." Mazmur 23:6

Apa yang dimaksud dengan kebaikan Allah dan kasih setia-Nya? Kebaikan Allah berarti Dia memberikan kepada kita hal-hal baik dalam hidup yang sebenarnya tidak layak kita terima. Kasih setia-Nya—belas kasihan-Nya—berarti Allah menahan hukuman yang sebenarnya layak kita terima.

Ingatlah hal-hal berikut:

- Kebaikan Allah akan menyediakan dan melindungi.

- Kasih setia-Nya akan mengampuni dan memberikan pengampunan.

- Kebaikan Allah akan mencukupi setiap kebutuhan Anda.

- Kasih setia-Nya akan menenangkan.

- Kebaikan Allah akan menolong.

- Kasih setia-Nya akan menyembuhkan.

Anda dapat mengandalkan janji-janji Allah, termasuk janji bahwa Anda akan: "...diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa." Mazmur 23:6

Jadi, setelah Allah menyediakan segala sesuatu yang Anda perlukan untuk mengikuti-Nya dalam kehidupan ini, Dia masih menyediakan kehidupan kekal bagi Anda di tempat sempurna yang telah dipersiapkan-Nya.
Allah akan terus mengejar Anda dengan kasih-Nya sepanjang hidup Anda dan kemudian Anda akan menikmati hadirat-Nya untuk selama-lamanya.
Itulah kabar terbaik!

Renungkan :

- Apa impian besar yang Anda miliki? Bagaimana keyakinan bahwa kebaikan dan kasih Allah sedang mengejar Anda membantu Anda mengerjakan tujuan-tujuan tersebut setiap hari?

- Apa arti bagi Anda memasuki masa depan dengan tanda seru, bukan dengan tanda tanya?

- Bagaimana Anda dapat membagikan kepada orang lain tentang kebaikan Allah yang Anda alami dan bahwa Dia juga menawarkan kebaikan yang sama kepada mereka?

Bacaan Alkitab Setahun :
Mazmur 104-105; 1 Korintus 3
____________
Kebaikan Allah berarti Dia memberikan kepada kita hal-hal baik dalam hidup yang sebenarnya tidak layak kita terima. Kasih setia-Nya—belas kasihan-Nya—berarti Allah menahan hukuman yang sebenarnya layak kita terima.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
========
God’s Unfailing Love Pursues You
By Rick Warren

“Surely your goodness and unfailing love will pursue me all the days of my life.” Psalm 23:6 (NLT)
---------------------
Even in the middle of hurts, habits, and hang-ups, God is watching over you. His goodness follows you in life, and his unfailing love pursues you.

Here’s another way to look at it: Picture a parent following a little kid around, picking up after the child. No matter what you’re going through, God comes right alongside you, helping to pick up your messes and telling you that his unfailing love is always there.

This means that, rather than entering the future with a question mark, you can do it with an exclamation point! God will be with you, no matter what happens. He will help you out: “Surely your goodness and unfailing love will pursue me all the days of my life, and I will live in the house of the Lord forever” (Psalm 23:6 NLT).

What is God’s goodness, and what is his unfailing love? God’s goodness is the fact that he gives us good things in life that we don’t deserve. His unfailing love—his mercy—means that God holds back the condemnation we do deserve.

Remember this:

God’s goodness will provide and protect.
His unfailing love will pardon and forgive.
God’s goodness will supply your every need.
His unfailing love will soothe.
God’s goodness will help.
His unfailing love will heal. 
You can count on God’s promises, including his promise that you “will live in the house of the LORD forever.” So, even after God supplies everything you need to follow him in this life, he still has eternity waiting for you in the perfect place he’s prepared in advance.

God is going to pursue you with his love throughout your life, and then you’re going to enjoy being in his presence forever and ever.

That’s the best news!