Seorang ibu rumah tangga bercerita tentang pengalamannya ketika mendaftarkan anak-anaknya ke sebuah kegiatan ekstrakurikuler di lingkungan sekitarnya. Ibu tersebut rela membayar biaya penuh agar anak-anak keluarga kurang mampu juga bisa ikut serta secara gratis. Suatu hari, salah seorang peserta yang mendapat fasilitas gratis justru mengeluh karena tidak mendapatkan perlengkapan tambahan yang sama dengan peserta berbayar. Ibu tersebut sempat merasa kecewa dan tersinggung oleh keluhan tersebut.
Namun, saat ia merenungkan kembali niat awalnya, ia menyadari bahwa kebaikannya tidak boleh ternodai oleh rasa ingin dihargai. Ia belajar bahwa kemurahan hati yang sejati adalah memberi tanpa menuntut kepuasan ego atau penghormatan balik dari orang yang dibantu.
Pengalaman ini mencerminkan pesan Injil Matius 20:1-16a, di mana seorang tuan rumah memberi upah yang sama yaitu satu dinar kepada semua pekerja, baik yang bekerja seharian penuh maupun yang baru bekerja satu jam. Para pekerja yang masuk lebih awal merasa iri dan menuntut lebih, namun sang tuan mengingatkan bahwa ia berhak murah hati sesuai kehendaknya. Tuhan mengajar kita bahwa kasih dan rahmat-Nya adalah anugerah cuma-cuma, bukan transaksi perhitungan manusia.
Saudaraku, sering kali kita terjebak dalam perhitungan duniawi saat mengikut Tuhan maupun saat berbuat baik kepada sesama. Kita merasa lebih berhak mendapatkan lebih karena telah berjuang lebih lama atau berkorban lebih banyak. Mari kita bersihkan hati dari rasa iri dan kesombongan, serta belajar bersyukur atas kemurahan hati Allah yang tak terbatas bagi setiap orang.
"Iri hatikah engkau, karena aku murah hati?" (Matius 20:15b)
Bacaan: Matius 20:1-16a
(Gbu!)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar