Rabu, 28 Oktober 2026

Menangkap Tanda-Tanda Zaman

Di sebuah padang rumput yang luas, seekor belalang bernama Tito bangga akan kemampuannya meramal cuaca. Ketika awan hitam bergulung dari sebelah barat, Tito dengan lantang berseru kepada kawannya, “Hujan deras akan tiba, mari bersiap!” Begitu angin selatan berembus hangat, ia menari seraya berteriak, “Musim panas telah datang!” Semua hewan memuji kejelian Tito dalam membaca tanda-tanda alam.

​Namun, ketika hubungan antarhewan di padang rumput mulai meregang akibat perselisihan kecil, Tito berpaling dan acuh tak acuh. Sang Tupai yang bijak kemudian mendatangi Tito dan berkata, “Tito, engkau begitu cerdik membaca angin dan awan di langit, tetapi mengapa engkau buta melihat perselisihan yang sedang merusak kedamaian di antara kita sendiri? Awan angin akan berlalu, namun perpecahan di dalam rumah kita sendiri bisa menghancurkan kita sebelum hujan turun.”

​Kisah fabel ini mencerminkan teguran tegas Yesus dalam Injil Lukas 12:54-59. Yesus menegur orang banyak karena mereka begitu pandai membaca fenomena alam—seperti awan di barat atau angin dari selatan—tetapi gagal memahami dan menilai apa yang penting pada masa kini. Dalam kehidupan spiritual, kita sering kali sangat peka terhadap urusan duniawi, tren, atau hal-hal fisik di sekitar kita, namun kita mengabaikan tanda-tanda keretakan hubungan dan kebutuhan akan persaudaraan. Sejalan dengan nasihat Rasul Paulus dalam Efesus 4:1-6, sebagai orang-orang yang telah dipanggil, kita diajak untuk hidup dengan penuh kerendahan hati, kelembutan, kesabaran, serta tekun memelihara kesatuan Roh dalam ikatan damai sejahtera.  

​Saudaraku, mari kita belajar menjadi pribadi yang peka—bukan hanya terhadap situasi duniawi di sekitar kita, melainkan juga terhadap kondisi hati, perdamaian, dan kesatuan dengan sesama. Jika ada perselisihan atau ketidakcocokan, segeralah berdamai dan selesaikanlah dengan kasih sebelum semuanya menjadi terlambat. Hendaklah kita senantiasa menjaga keheningan hati, kerendahan hati, dan kelembutan agar kita mampu membaca kehendak Tuhan serta menjadi pembawa damai di mana pun kita berada.  
​Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu. Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera. (Efesus 4:2-3)  
​Bacaan: Efesus 4:1-6  
​(Gbu!)

Lampiran foto: IMG-20261028-WA0014.jpg
Uploaded Image

Tidak ada komentar:

Posting Komentar