Deng Xiaoping lahir di Sichuan tahun 1904, saat Dinasti Qing runtuh dan Tiongkok tenggelam dalam kehinaan global. Di usia 16 tahun, ia berlayar ke Prancis, bekerja keras di pabrik baja Schneider, lalu ke Moskow untuk belajar. Bukan dogma kaku yang ia cari, melainkan rahasia kemajuan teknologi Barat. Ia menyadari satu hal: ideologi tidak bisa mengisi perut yang lapar.
Kembali ke tanah air, Deng menjadi bintang di lingkaran Mao Zedong. Namun, saat melihat jutaan rakyat tewas akibat eksperimen kolektifitas yang gagal, ia melontarkan kalimat legendaris: "Tidak peduli kucing hitam atau putih, selama bisa menangkap tikus, itu kucing yang baik." Keberanian ini membawanya ke neraka. Pada 1966, ia dicap pengkhianat dan dibuang ke Jiangxi sebagai buruh pabrik traktor. Putranya disiksa hingga lumpuh, namun Deng tetap tegar, berjalan sunyi di "Jalur Deng" sambil merancang masa depan Tiongkok.
Pasca kematian Mao 1976, Deng bangkit. Melalui Pleno 1978, ia membongkar sistem kaku "Mangkuk Nasi Besi". Ia menatap dunia dengan pragmatisme dingin. Ia naik kereta Shinkansen di Jepang, meminta ilmu teknologi, dan mengenakan topi koboi di Texas untuk melunakkan hati Amerika. Ia membuka pintu lebar bagi Boeing dan Coca-Cola. Ia mendirikan Shenzhen, laboratorium kapitalisme di jantung komunis. Ia memberikan hak tanah kepada petani di desa petani, memicu lonjakan pangan masif. Namun, stabilitas adalah harga mati. Pada 1989 di Tiananmen, ia memilih tindakan keras militer demi mencegah kekacauan nasional. Baginya, tanpa ketertiban, reformasi ekonomi akan hancur seketika.
Di usia 88 tahun, saat faksi konservatif ingin memutar arah, Deng lakukan "Tur Selatan" 1992 yang legendaris untuk mengunci pasar bebas. Hasilnya? Hasilnya adalah keajaiban terbesar sejarah. Ekonomi China melonjak rata-rata 10 persen per tahun. Lebih dari 800 juta orang keluar dari kemiskinan. Ia menetapkan rumus PKT Mao "70% benar dan 30% salah", menjaga marwah partai sambil merombak total isinya. Deng bukanlah sekadar pemimpin, ia adalah arsitek sunyi yang mengubah debu menjadi kekuatan super global. Tanpa pidato kosong, ia membuktikan satu ide bisa lebih kuat dari sejuta tentara.
#Sejarah #China #Indonesia #Fyp
Tidak ada komentar:
Posting Komentar