Pak Joko merasa jadi Umat Beriman Paling Sopan se-kecamatan saat misa sore kemarin. Pasalnya, waktu romo membawa sakramen dan berjalan melewatinya, Pak Joko langsung membungkuk dalam-dalam sambil menangkupkan kedua tangan di dada dengan penuh khidmat. Masalahnya, Pak Joko lupa kalau dia sedang memegang mangkuk kolekte kayu yang baru saja dioper dari barisan depan—sehingga seluruh isi uang koin dan kertas di dalamnya meluncur bebas dan sukses tersebar rapi di sepanjang lorong gereja.
Bukannya dapat penghargaan, Pak Joko malah panik setengah mati sambil berlutut memunguti koin satu per satu di depan seluruh umat. Niat hati ingin menunjukkan rasa hormat yang luar biasa, tetapi cara dan kesiapannya yang salah justru membuat niat baik tersebut berujung kekacauan yang menggelikan.
Kejadian kocak ini mengingatkan kita bahwa niat baik atau iman saja tidak cukup jika tidak disertai dengan kesiapan hati dan kerendahan hati yang tulus untuk menerima karunia Tuhan. Dalam Injil Matius 7:21, Yesus menegaskan bahwa bukan setiap orang yang berseru "Tuhan, Tuhan!" yang akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan mereka yang melakukan kehendak Bapa. Seperti Pak Joko yang fokus pada gaya luar hingga lupa membawa ketaatan yang nyata, kita sering kali terjebak pada formalitas iman tanpa benar-benar menyiapkan hati untuk menyambut dan membagikan rahmat-Nya.
Saudaraku, mari kita belajar untuk tidak sekadar tampil saleh di luar, tetapi sungguh-sungguh menyiapkan wadah hati kita dengan benar. Ketika kita menerima kebaikan dan firman Tuhan, sambutlah dengan kesiapan hidup yang nyata melalui perbuatan kasih sehari-hari, sehingga rahmat yang kita terima tidak tercecer sia-sia, melainkan menjadi berkat bagi orang-orang di sekitar kita.
"Sebab sama seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati." (Yakobus 2:26)
Bacaan: Yakobus 2:14-26
(Gbu!)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar