Kamis, 04 Juni 2026

Rupiah Lemah karena Faktor Domestik

 
Lampiran foto: IMG-20260604-WA0026.jpg

Fakta membuktikan bahwa pelemahan rupiah bukan hanya karena faktor global tapi pengelolaan ekonomi yang brengsek*** “Kurs melemah ya, Ale,” kata Akhiat saat ketemu di cafe. “Bukan sekadar melemah,” jawab saya pelan. “Itu repricing.” “Repricing?” “Ya. Penyesuaian menuju realitas baru. Dalam sistem ekonomi moneter modern, nilai mata uang memang bergerak mengikuti persepsi pasar terhadap risiko, likuiditas, inflasi, bunga, dan fundamental ekonomi.” Akhiat mengernyitkan dahi. “Jadi menurutmu ini normal?” “Sangat normal. Kalau kita konsisten memakai sistem moneteris dan rezim devisa bebas, kurs itu mekanisme pasar. Kadang menguat, kadang melemah. Itu cara pasar mencari titik keseimbangan baru.” “Terus bagaimana dengan biaya impor yang naik? Harga pangan naik? Upah pekerja yang nilai riilnya jatuh? Itu kan akibat rupiah melemah.” “Itu benar,” jawab saya. “Pelemahan kurs menciptakan imported inflation. Energi naik, bahan baku naik, logistik naik. Akhirnya daya beli masyarakat turun. Karena itu dalam teori moneter modern, pemerintah biasanya harus memberi stimulus agar ekonomi punya trade-off terhadap pelemahan kurs.” “Stimulus seperti apa?” “Bisa lewat subsidi, bantuan sosial, proyek fiskal, stimulus konsumsi, insentif industri, atau program peningkatan demand domestik.” Akhiat tersenyum tipis. “Tapi pemerintah engga lakukan itu.” “Sudah dilakukan,” jawab saya. “MBG dan KDMP pada dasarnya stimulus juga. Tujuannya menjaga konsumsi domestik dan menciptakan demand agar ekonomi tetap bergerak ketika sektor lain melemah.” Akhiat menghela napas panjang. “Masalahnya rakyat engga terlalu merasakan. Dunia usaha juga banyak yang mulai sesak.” Saya mengangguk. “Nah, di situlah persoalannya. Stimulus konsumsi bisa menjaga permintaan jangka pendek, tetapi tidak otomatis menyelesaikan masalah produktivitas dan struktur ekonomi.” “Maksudnya?” “Kalau kurs melemah sementara industri masih bergantung impor bahan baku, energi, mesin, dan teknologi luar negeri, maka biaya produksi tetap naik. Jadi stimulus hanya membantu menahan sakit, bukan menyembuhkan sumber penyakitnya.” Akhiat diam sejenak. “Jadi sebenarnya rupiah ini bukan sekadar soal dolar?” “Bukan,” jawab saya sambil tersenyum kecil. “Kurs itu cermin kepercayaan terhadap struktur ekonomi sebuah negara.” “Kalau pasar percaya produktivitas naik, fiskal disiplin, industri kuat, dan kebijakan konsisten, mata uang bisa stabil walaupun dunia sedang kacau.” “Tapi kalau pasar melihat ekonomi rapuh, utang naik, impor besar, dan industri lemah, maka repricing akan terjadi. Dan pasar akan memaksa negara menerima realitas baru, suka atau tidak.” https://www.facebook.com/share/1EjyoPGRNx/

Uploaded Image

Tidak ada komentar:

Posting Komentar