Sabtu, 06 Juni 2026

Bersyukur atas Penyertaan Tuhan*

*Minggu, 7 Juni 2026*

*"TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan" (Mzm. 23:1; Yes. 41:10)*

Rasa syukur sering kali muncul ketika keadaan berjalan baik. Namun Alkitab mengajarkan bahwa syukur sejati tidak terutama berakar pada situasi yang menyenangkan, melainkan pada keyakinan bahwa Tuhan senantiasa menyertai umat-Nya.

Mazmur 23:1 dan Yesaya 41:10 memberikan dasar teologis yang kuat bagi sikap syukur tersebut. Melalui pemahaman terhadap bahasa asli kedua teks ini, kita melihat bahwa penyertaan Tuhan *bukan sekadar konsep abstrak*, melainkan *realitas perjanjian* yang aktif dan penuh kuasa.

Dalam teks aslinya, Mazmur 23:1 berbunyi, *"YHWH roi'i, lo'ehsar"* artinya *TUHAN adakah gembalaku, aku tidak akan berkekurangan*. Kata *"ro'i"* berasal dari akar kata *"ra'ah"* yang berarti *menggembalakan, memberi makan, memelihara*, dan *memimpin*. Daud tidak sekadar mengatakan bahwa Tuhan memberi berkat kepadanya, tetapi *Tuhan secara pribadi bertindak sebagai Gembala yang terus-menerus memelihara hidupnya*.

Menariknya, kata *"ro'i"* memakai bentuk *kepemilikan orang pertama tunggal*, yaitu *"gembalaku."* Hubungan ini bersifat *pribadi* dan *intim*. Sehingga Daud tidak berkata, *"Tuhan adakah seorang gembaka,"* melainkan ia berkata, *"Tuhan adalah gembalaku."*

Frasa *"lo' ehsar"* secara harfiah berarti *aku tidak akan kekurangan*. Kata *"ehsar"* kata kerjanya *"hasar"* tidak hanya menunjuk pada kekurangan materi, tetapi juga *ketiadaan sesuatu* yang benar-benar diperlukan untuk menjalani kehidupan sesuai kehendak Allah.

Dengan demikian, rasa syukur Daud lahir *bukan karena* semua keinginannya terpenuhi, melainkan karena *ia percaya* bahwa Sang Gembala menyediakan segala yang sungguh-sungguh dibutuhkannya.

Hal ini mengingatkan kita bahwa, sering kali kita bersyukur atas penyertaan Tuhan dari banyaknya berkat yang kita terima. Namun Nazmur 23 mengajarkan bahwa alasan utana untuk bersyukur adalah karena *Tuhan sendiri hadir* sebagai Gembala yang memimpin dan memelihara kita setiap hari.

Sementara dalam Yesaya 41:10, dikatakan, *"Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau."* Frasa *"Sebab Aku menyertai engkau"* dalam teks aslinya tertulis *"ki 'immekha ani"* secara harfiah artinya *sebab bersama engkau Aku*. Ungkapan ini tidak memakai kata kerja eksplisit. Dalam tata bahasa Ibrani, penghilangan kata kerja justru memberi penekanan yang kuat pada kehadiran Allah itu sendiri.

Kata *"'im"* berarti *bersama*. Ini bukan sekadar keberadaan di dekat seseorang, tetapi *kebersamaan yang melibatkan hubungan, dukungan*, dan *solidaritas*. Bagi bangsa Israel yang sedang nenghadapi ancaman dan pembuangan, janji ini berarti bahwa Allah tidak meniggalkan mereka dalam penderitaan. Ia hadir di tengah kesulitan mereja. Karena itu, dasar larangan untuk takut bukanlah perubahan keadaan, melainkan *kehadiran Allah*

Frasa selanjutnya dalam Yesaya 41:10 mengatakan, *"Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau."* Kata *"meneguhkan"* bahasa aslinya *"'amats"* yang berarti *membuat kuat, memperkokoh*, atau *memberikan keberanian*. Sedangkan kata *"menolong"* bahasa aslinya *"'azar"* yang berarti *memberikan bantuan yang efektif pada saat diperlukan*.

Dengan kata lain, *penyertaan Tuhan* bukanlah *kehadiran yang pasif*. Tetapi *Dia hadir sambil bekerja*. Tuhan memberijan kekuatan ketika umat-Nya lemah dan pertolongan ketika mereka tidak mampu menolong diri sendiri. Oleh sebab itu, ucapan syukur tidak hanya mengingat apa yang Tuhan telah lakukan di masa lalu, tetapi juga percaya bahwa Dia sedang bekerja pada masa kini.

Jadi, Mazmur 23:1 menunjukkan bahwa Tuhan adalah *Gembala yang memelihara umat-Nya secara pribadi*. Sedangkan Yesaya 41:10 menegaskan bahwa *Allah tidak hanya hadir bersama umat-nya*, tetapi juga *menguatkan, menolong*, dan *menopang mereka dengan kuasa-nya*

Karena itu, syukur sejati *tidak bergantung* pada ada atau tidaknya masalah. Syukur lahir dari keyakinan bahwa:
• *Tuhan adalah Gembala kita*.
• *Tuhan menyertai kita*.
• *Tuhan menguatkan kita*.
• *Tuhan menolong kita*.
• *Tuhan menopang kita dengan tangan kanan-Nya*.

*Selama Tuhan menyertai*, kita memiliki alasan untuk bersyukur, bahkan di tengah lembah yang paling gelap sekalipun. *All truth is God's truth, Soli Deo Gloria*, 🤲🏻📖✝️🤲🏻📖✝️🛐


Tidak ada komentar:

Posting Komentar