Perserikatan Bangsa-Bangsa Resmi Mengumumkan: Tahun Baru Imlek Menjadi Hari Libur Global!
"Ekspor budaya" Tiongkok yang paling luar biasa
Dari Tahun Baru versi Tiongkok, kini menjadi perayaan Tahun Baru bersama dunia.
Disahkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa, disetujui secara bulat oleh 193 negara—inilah wujud sejati kepercayaan diri budaya.
Pada hari pertama Tahun Baru Imlek, sebuah kabar yang benar-benar membanggakan bangsa Tiongkok menyebar ke seluruh dunia:
Tahun Baru Imlek resmi ditetapkan sebagai hari libur terapung PBB.
Bukan sekadar perayaan yang ditiru oleh segelintir negara,
bukan pula sekadar hiburan komunitas Tionghoa di luar negeri.
Ini adalah keputusan yang disetujui oleh 193 negara anggota tanpa satu pun penolakan.
Ini berarti kantor pusat PBB tidak menjadwalkan rapat, dan staf berhak mengambil cuti.
Bahkan Sekretaris Jenderal António Guterres secara langsung menyampaikan ucapan selamat Tahun Baru Imlek Tahun Kuda.
Dalam semalam,
Tahun Baru Tiongkok berubah menjadi Tahun Baru Dunia.
Banyak orang belum sepenuhnya menyadari bobot peristiwa ini.
Ini bukan sekadar soal "libur",
melainkan pengakuan tertinggi dunia terhadap budaya Tiongkok.
Dulu, Imlek hanyalah kerinduan kampung halaman bagi masyarakat Tionghoa;
kini, Imlek adalah hari raya internasional yang diakui PBB.
Dulu, kita mengagumi bagaimana perayaan negara lain mendunia;
kini, tradisi kita sendiri diterima dunia dengan penuh penghormatan.
Di balik semua ini, terdapat tiga kenyataan yang menusuk sekaligus membangkitkan semangat:
1. Bukan ikut-ikutan, dunia memang membutuhkan "Tahun Baru Tiongkok"
Imlek berbicara tentang kebersamaan, keharmonisan, harapan, dan awal yang baru.
Ini bukan sekadar sentimen satu bangsa, melainkan resonansi seluruh umat manusia.
Dalam resolusi PBB dinyatakan secara tegas:
Imlek mencerminkan nilai-nilai universal umat manusia.
Di saat dunia dilanda kelelahan, konflik berkepanjangan, dan kegelisahan batin,
kehangatan, inklusivitas, dan doa-doa baik dalam Imlek
justru menjadi hal yang paling langka dan paling dibutuhkan di zaman ini.
Bukan karena kita memaksakan pengaruh,
melainkan karena dunia dengan sendirinya memilih untuk merangkulnya.
2. Hampir 20 negara menetapkan libur resmi—Imlek telah benar-benar "mengglobal"
Hingga tahun 2026,
hampir 20 negara di dunia telah menetapkan Imlek sebagai hari libur nasional.
New York, London, Sydney, Tokyo…
lebih dari 50 kota di dunia bersinar dengan warna merah Tiongkok.
Tarian naga dan barongsai, lampion, amplop merah—
bahkan orang asing pun merayakannya dengan penuh antusias.
Dulu, kita "berlibur ke luar negeri saat Imlek";
kini, di dalam negeri kita merayakan Imlek bersama seluruh dunia.
3. Kekuatan tertinggi adalah ketika budaya dihormati
Kepercayaan diri sebuah negara besar
bukan terletak pada seberapa keras suaranya,
melainkan pada apakah tradisi, hari raya, dan estetikanya
dihormati, diteladani, dan diakui secara sukarela oleh dunia.
Masuknya Imlek ke dalam daftar hari libur PBB
jauh lebih meyakinkan daripada tren apa pun di media sosial:
budaya Tiongkok sedang menaklukkan dunia dengan cara yang lembut.
Tahun ini, kita dapat dengan bangga mengatakan:
yang kita rayakan bukan sekadar Tahun Baru Tiongkok,
melainkan hari raya global yang diakui PBB dan dirayakan serentak oleh dunia.
Dari kebersamaan satu keluarga,
menjadi cahaya ribuan rumah,
hingga perayaan bersama seluruh dunia—
inilah kisah Tiongkok yang paling romantis sekaligus paling kuat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar