Jumat, 25 September 2026

Kesetiaan yang Menembus Zaman



Lampiran foto: IMG-20260925-WA0027.jpg

Pada abad ke-3 Masehi, ketika Kekaisaran Romawi melancarkan penganiayaan hebat terhadap umat Kristen, banyak orang percaya yang terpaksa beribadah secara tersembunyi di dalam katakombe—jaringan lorong bawah tanah yang gelap dan sempit. Di tempat yang sunyi dan jauh dari kemewahan dunia tersebut, mereka tidak hanya berlindung, tetapi juga saling menguatkan iman, memecahkan roti, dan memelihara pengharapan akan janji keselamatan dari Tuhan.

​Meski menghadapi ancaman hukuman mati dan penindasan yang berat, umat beriman saat itu memilih untuk tidak menyangkal iman mereka. Keteguhan dan kesetiaan mereka dalam menjaga api iman di tengah kegelapan katakombe menjadi saksi sejarah yang menginspirasi generasi-generasi selanjutnya, membuktikan bahwa iman yang sejati tidak akan pernah padam oleh tekanan zaman.

​Peristiwa sejarah tersebut menjadi cermin nyata dari panggilan hidup beriman kita. Yesus mengingatkan bahwa siapa pun yang mau mengikut Dia harus berani memikul salibnya setiap hari dan setia hingga akhir (Lukas 9:23). Sebagaimana ditegaskan dalam Surat Ibrani 10:23, kita dipanggil untuk berpegang teguh pada pengakuan pengharapan kita tanpa beranjak, sebab Ia yang menjanjikannya adalah setia.

​Saudaraku, mungkin tantangan yang kita hadapi saat ini tidak lagi berupa penganiayaan fisik seperti pada masa katakombe, melainkan godaan kompromi, kejenuhan, atau perlawanan terhadap nilai-nilai kebenaran. Mari kita belajar dari kesetiaan para pendahulu kita untuk tetap berdiri teguh dalam iman, memancarkan kasih Kristus, dan menjaga kebenaran firman Tuhan di mana pun kita berada.
​"Sebab itu jadilah kuat, hai anakku, oleh kasih karunia dalam Kristus Yesus." (2 Timotius 2:1)
​Bacaan: Amsal 3:1-8
​(Gbu!)

Yahoo Mail: Cari, Atur, Taklukkan
Uploaded Image

Kamis, 24 September 2026

Apa yang Membuat Pernikahan Tetap Bertahan?

25 September 2026

Bacaan Hari ini:
Yesaya 33:6 "Masa keamanan akan tiba bagimu; kekayaan yang menyelamatkan ialah hikmat dan pengetahuan; takut akan TUHAN, itulah harta benda Sion"
-------------------
Dibutuhkan tiga orang untuk membuat pernikahan tetap bertahan. Bukan dua, tetapi tiga. Anda, pasangan Anda dan Kristus.

Allah tidak pernah bermaksud agar Anda menjalani pernikahan hanya dengan kalian berdua yang berusaha memperbaikinya. Pernikahan adalah seperti bangku berkaki tiga. Pikirkanlah. Anda tidak pernah melihat bangku berkaki dua. Bangku berkaki dua akan jatuh. Bangku tidak memiliki kestabilan. Sebuah bangku harus memiliki kaki yang ketiga.

Dengan cara yang sama, jika yang Anda miliki dalam pernikahan hanyalah satu sama lain, itu tidak cukup. Anda membutuhkan diri Anda, pasangan Anda dan Allah agar pernikahan Anda tetap berdiri.

Alkitab berkata, "supaya hati mereka terhibur dan mereka bersatu dalam kasih, sehingga mereka memperoleh segala kekayaan dan keyakinan pengertian, dan mengenal rahasia Allah, yaitu Kristus" (Kolose 2:2).

Saya tinggal di daerah yang sering mengalami gempa bumi. Kita semua tahu bahwa jika Anda tidak memiliki fondasi yang kuat, rumah Anda akan runtuh ketika gempa datang.

Dalam hidup Anda, Anda akan menghadapi banyak "gempa bumi." Anda akan mengalami "gempa bumi" kesehatan. Anda akan mengalami "gempa bumi" keuangan. Anda akan mengalami "gempa bumi" emosional. Anda akan menghadapi berbagai macam masalah dan tekanan. Jika Anda tidak memiliki fondasi yang kokoh untuk pernikahan Anda, pernikahan itu tidak akan stabil.

Jadi, apakah fondasi yang kokoh itu? Yesus Kristus. Alkitab berjanji, "Masa keamanan akan tiba bagimu; kekayaan yang menyelamatkan ialah hikmat dan pengetahuan; takut akan TUHAN, itulah harta benda Sion" (Yesaya 33:6).

Hal terbaik yang dapat Anda lakukan untuk pernikahan Anda adalah menyerahkannya kepada Yesus Kristus. Pertama, Anda dan pasangan membuka kehidupan Anda kepada-Nya. Kemudian, ketika Anda menjadikan Dia yang terutama dalam kehidupan pribadi Anda masing-masing, Anda meminta Dia menjadi yang terutama dalam hubungan Anda.

Membangun pernikahan saya telah menjadi hal paling menantang yang pernah saya lakukan dalam hidup saya. Tetapi itu juga telah menjadi hal yang paling memberikan kepuasan. Serahkan hidup Anda kepada Kristus, lalu serahkan pernikahan Anda kepada-Nya. Saya berjanji kepada Anda bahwa itu akan sepadan.

Renungkan :

- Kapan Anda dan pasangan pernah mencoba membuat pernikahan Anda berhasil dengan usaha sendiri, tanpa pertolongan Yesus? Apa hasilnya?

-"Guncangan" apa dalam hidup yang telah Yesus bantu Anda lalui?

- Apakah Yesus menjadi bagian dari pernikahan Anda hari ini? Jika ya, perbedaan apa yang Dia buat? Jika belum, apakah Anda siap mengundangNya masuk?

Bacaan Alkitab Setahun :
Kidung Agung 1-3; Galatia 5
______
Libatkanlah Tuhan selalu dalam hidup pernikahan Anda.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
========
What Makes a Marriage Stand?
By Rick Warren

“He will be the sure foundation for your times, a rich store of salvation and wisdom and knowledge; the fear of the LORD is the key to this treasure.” Isaiah 33:6 (NIV)
------------------
It takes three to make a marriage stand. Not two, but three. You, your spouse, and Christ.

God never meant for you to go through your marriage with just the two of you working on it. Marriage is a three-legged stool. Think about it. You’ve never seen a two-legged stool. A two-legged stool will fall over. It has no stability. A stool must have a third leg.

In the same way, if all you’ve got in your marriage is each other, it isn’t enough. You need you, your spouse, and God for your marriage to stand.

The Bible says, “They will know God's secret, which is Christ himself. He is the key that opens all the hidden treasures of God's wisdom and knowledge” (Colossians 2:2 GNT).

I live in an area where earthquakes are common. We all know that if you don’t have a strong foundation, your home is going to fall when the earthquake comes.

In your life, you’re going to face a lot of earthquakes. You’re going to have some health earthquakes. You’re going to have some financial earthquakes. You’re going to have some emotional earthquakes. You’re going to have all kinds of problems and stresses. If you don’t have a solid foundation for your marriage, it’s not going to be stable.

So what is that solid foundation? Jesus Christ. The Bible promises, “He will be the sure foundation for your times, a rich store of salvation and wisdom and knowledge; the fear of the LORD is the key to this treasure” (Isaiah 33:6 NIV).

The best thing you can do for your marriage is to commit it to Jesus Christ. First, you and your spouse open your lives to him. Then, as you make him number one in your individual lives, you ask him to be number one in your relationship.

Building my marriage has been the most challenging thing I’ve ever done in my life. But it also has been the most rewarding thing. Commit your life to Christ, and then commit your marriage to him. I promise you it will be worth it.


Rabu, 23 September 2026

Pernikahan adalah tentang Komitmen

24 September 2026

Bacaan Hari ini:
Maleakhi 2:16 "Sebab Aku membenci perceraian .. Maka jagalah dirimu dan janganlah berkhianat!"
---------------
Satu kata apa yang akan Anda gunakan untuk merangkum seluruh hubungan pernikahan? "Kasih" mungkin merupakan kata pertama yang muncul dalam pikiran. Tetapi saya pikir kata yang lebih tepat adalah "komitmen." Dengan keadaan yang tepat, hampir setiap dua orang dapat mengembangkan perasaan kasih satu sama lain. Tetapi komitmen adalah inti dari pernikahan.

Komitmen pernikahan adalah sesuatu yang Allah harapkan untuk kita pertahankan. Dia memiliki perkataan yang tegas tentang perceraian: "Sebab Aku membenci perceraian .. Maka jagalah dirimu dan janganlah berkhianat!" (Maleakhi 2:16). Perceraian adalah kenyataan di dunia kita dan saya bersyukur atas kasih karunia dan pengampunan Allah. Tetapi perceraian bukanlah kehendak ideal Allah. Kehendak ideal-Nya adalah setiap pria dan wanita yang berjanji untuk tetap bersama seumur hidup menepati komitmen tersebut.

Jadi izinkan saya mendorong Anda: Jika Anda sudah menikah, buanglah kuncinya. Jangan menyediakan jalan keluar bagi diri Anda sendiri. Ketika Anda berkata, "Sampai maut memisahkan kita," itu adalah komitmen seumur hidup. Jangan menjadikan perceraian sebagai pilihan.

Komitmen mungkin berarti merasa tidak bahagia atau tidak puas selama beberapa masa tertentu, tetapi dalam kebanyakan kasus, komitmen akan membawa pada hubungan yang lebih memuaskan dan bermakna dalam jangka panjang.

Satu hal yang dapat membantu menjaga komitmen Anda satu sama lain tetap kuat adalah kontak atau kasih sayang secara fisik. Setiap orang, baik sudah menikah maupun belum, membutuhkan kontak fisik. Bayi yang menerima lebih banyak sentuhan fisik cenderung berkembang dengan baik dan sentuhan fisik telah terbukti dapat memperpanjang usia hidup orang dewasa.

Pada masa-masa awal suatu hubungan, pasangan terkadang kesulitan untuk tidak saling menyentuh. Tetapi seiring berjalannya tahun, terkadang kasih sayang itu memudar. Anda menjadi lelah. Anda menjadi sibuk. Anda membiarkan rasa kesal kecil menumpuk.

Saya ingin mendorong Anda untuk melakukan ini: Tunjukkan kasih sayang kepada pasangan Anda, bahkan jika Anda tidak merasa penuh kasih sayang. Tindakan kasih sering kali membawa pada perasaan kasih.

Tentu saja, dalam pernikahan, kasih sayang secara fisik mencakup hubungan seksual. Bahkan, Allah memberikan hubungan seksual kepada Anda untuk membantu mempererat pernikahan Anda. Alkitab berkata, "Atau tidak tahukah kamu, bahwa siapa yang mengikatkan dirinya pada perempuan cabul, menjadi satu tubuh dengan dia? Sebab, demikianlah kata nas: "Keduanya akan menjadi satu daging." (1 Korintus 6:16)

Jika Anda mendapati diri Anda berada dalam masa yang sulit dalam pernikahan, lihatlah komitmen Anda satu sama lain dan seberapa sengaja Anda menunjukkan kasih sayang secara fisik. Dan jika Anda mengalami kesulitan dalam hal-hal tersebut, mintalah bantuan! Konselor yang baik dapat membantu Anda mengatasi masalah apa pun yang Anda alami dalam keintiman fisik dan memberikan cara-cara praktis untuk mempertahankan komitmen Anda satu sama lain.

Renungkan :

- Kapan Anda menemukan bahwa komitmen Anda terhadap sesuatu atau seseorang lebih penting daripada perasaan Anda?

- Kapan kasih sayang secara fisik memberikan perbedaan yang positif dalam hidup Anda?

- Apa satu cara yang dapat Anda lakukan untuk menunjukkan kasih sayang secara fisik kepada seseorang dalam hidup Anda minggu ini?

Bacaan Alkitab Setahun :
Pengkotbah 11-12; Galatia 4
____________
Tunjukkan kasih sayang kepada pasangan Anda, bahkan jika Anda tidak merasa penuh kasih sayang. Tindakan kasih sering kali membawa pada perasaan kasih.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
========
Marriage Is about Commitment
By Rick Warren

“Make sure that you do not break your promise to be faithful to your wife.” Malachi 2:16 (GNT)
-------------------
What one word would you use to summarize the whole marriage relationship? “Love” might be the first word to come to mind. But I think a better word is “commitment.” Given the right circumstances, just about any two people can develop loving feelings toward each other. But commitment is at the heart of marriage.

The marriage commitment is one that God expects us to keep. He has strong words about divorce: “‘I hate divorce,’ says the LORD God of Israel. ‘. . . Make sure that you do not break your promise to be faithful to your wife’” (Malachi 2:16 GNT). Divorce is a reality in our world, and I’m thankful for God’s grace and forgiveness. But divorce isn’t God’s ideal. His ideal is that each man and woman who vow to stay together for life keep that commitment.

So let me encourage you: If you’re married, throw away the key. Don’t offer yourself an escape hatch. When you said, “Till death do us part,” that was a lifelong commitment. Don’t leave divorce as an option.

Commitment may mean being unhappy or unsatisfied during some seasons, but in most cases, commitment will lead to a more rewarding, fulfilling relationship in the long-term.

One thing that can help keep your commitment to each other strong is contact, or physical affection. Everyone, whether you’re married or not, needs physical contact. Babies who receive more physical touch tend to thrive, and physical touch has been proven to extend the lifespan of adults.

In the early days of a relationship, couples sometimes have a hard time keeping their hands off each other. But as the years go on, sometimes that affection fades. You get tired. You get busy. You let little resentments build up.

I want to encourage you to do this: Act with affection toward your spouse, even if you don’t feel affectionate. Loving actions often lead to loving feelings.

Of course, in marriage, physical affection includes sex. In fact, God gave you sex to help cement your marriage together. The Message paraphrase says, “There’s more to sex than mere skin on skin. Sex is as much spiritual mystery as physical fact. As written in Scripture, ‘The two become one’” (1 Corinthians 6:16).

If you find yourself in a hard season of marriage, take a look at your commitment to each other and how intentional you’ve been about physical affection. And if you’re having trouble in those areas, get help! A good counselor can help you work through any trouble you’re having with physical intimacy and give you practical ways to keep your commitments to each other.


Selasa, 22 September 2026

Kebangkitan Kekuatan Besar



Kebangkitan Kekuatan Besar Kali ini, Amerika Serikat benar-benar telah menemui tandingannya. Ini bukan Uni Soviet di masa lalu, atau Jepang, tetapi kekuatan yang belum pernah ditemui sebelumnya dan tidak dapat didefinisikan.

Baru-baru ini, bahkan lembaga think tank Amerika secara tidak biasa mengakui bahwa tekanan ini belum pernah terjadi sebelumnya. Pakar militer Rusia juga menulis dalam laporan mereka.

Kebangkitan Tiongkok tidak seperti kebangkitan negara-negara besar lainnya dalam beberapa abad terakhir.

Ini bukan sekedar tentang menjadi lebih kuat; ini adalah negara adidaya yang benar-benar baru.

Kebangkitan peradaban yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah manusia, dan rahasia keunikan ini terletak pada dua kondisi yang tidak dapat ditiru oleh siapa pun:

Peradaban 5.000 tahun dan populasi 1,4 miliar.

Pertama, mari kita bicara tentang peradaban. Tiongkok adalah satu-satunya negara di dunia yang peradabannya tidak pernah terputus, yang sejarahnya lengkap, mulai dari naskah tulang ramalan hingga kecerdasan buatan; dari Kitab Nyanyian hingga stasiun luar angkasa—silsilah ini tidak pernah terputus.

Negara-negara berkembang di masa lalu seperti Inggris, Jerman, dan Amerika Serikat tidak mempunyai landasan peradaban yang kuat untuk mendukung mereka.

Ketika mereka kuat, mereka mengandalkan teknologi, modal, dan kekuatan militer, namun di balik kebangkitan Tiongkok terdapat narasi lengkap tentang siapa saya, dari mana saya berasal, dan ke mana saya pergi.

Para sarjana Barat semakin memahami satu hal:

Kembalinya Tiongkok bukan sekadar masalah peningkatan kekuatan nasional; ini adalah peradaban kuno yang melangkah kembali ke pusat panggung dunia.

Ketahanan, rasa identitas, dan kesabaran strategis yang dihasilkan oleh budaya tersebut adalah sesuatu yang tidak dapat dipelajari oleh negara lain, meskipun mereka menginginkannya.

Dalam hal jumlah penduduk, pada puncak kejayaannya, Uni Soviet mempunyai jumlah penduduk kurang dari 300 juta jiwa, dan Amerika Serikat pada puncak kejayaannya hanya mempunyai jumlah penduduk lebih dari 300 juta jiwa—lebih banyak dibandingkan Inggris, Perancis, dan Jerman. Tapi Tiongkok? 1,4 miliar orang bangkit bersama. Ini belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah manusia modern.beberapa ahli strategi Barat bahkan memperkirakan bahwa Tiongkok mungkin akan menjadi negara adidaya terakhir dalam sejarah umat manusia, karena tidak ada negara lain yang mampu mencapai industrialisasi penuh, swasembada teknologi, dan modernisasi militer secara bersamaan pada skala ini. 1,4 miliar orang bukan sekedar angka, namun sebuah sistem—sebuah sistem yang luas dan sangat terkoordinasi. Setelah efek skala ini diaktifkan, torrent menjadi tidak dapat dihentikan.

Namun yang benar-benar membuat Tiongkok tak tergoyahkan bukan hanya peradaban dan skalanya; ia memiliki tiga kekuatan fundamental yang tak tergoyahkan.

*Yang pertama adalah kekuatan kohesif dari "wilayahnya".* Peta Tiongkok tidak disatukan melalui penjajahan atau dibentuk melalui perjanjian; ini adalah entitas yang lengkap, perlahan-lahan dibentuk dan disempurnakan selama ribuan tahun oleh dinasti-dinasti berturut-turut, setiap inci tanah terhubung dengan sejarah dan garis keturunan.

Integrasi geografis dan sejarah tingkat tinggi ini menempati urutan pertama di antara semua negara besar modern. Inilah sebabnya, bahkan ketika banyak kekuatan Barat menyerang bersama-sama pada akhir Dinasti Qing, mereka tidak dapat menghancurkan Tiongkok. Bukan karena mereka tidak cukup kejam, namun karena tanah ini sendiri pada dasarnya sulit untuk dibagi.

*Yang kedua adalah kekuatan kohesif dari "bangsanya".* Inggris tidak dapat melakukannya, Amerika Serikat tidak dapat melakukannya, dan Uni Soviet tidak dapat melakukannya.

Tidak ada negara lain yang bisa menyatukan begitu banyak orang dalam satu tali.

Persatuan ini sama kuatnya dengan Tiongkok. Rasa identitas ini tidak diciptakan oleh kebijakan atau diteriakkan dalam slogan-slogan; ia tumbuh dari gen budaya, yang terpatri dalam tulang.

Konsensus mendalam kami tentang siapa kami—Anda tidak perlu menekankannya setiap hari, hal itu sudah ada.

*Area ketiga Chengcheng adalah "tiga keunggulan nyata": industri, teknologi, dan militer:*

Chengcheng memulai dengan "industri": Tiongkok telah membangun sistem industri terlengkap dan terbesar dalam sejarah manusia.

Dari satu sekrup hingga kapal induk, ia dapat memproduksi semuanya sendiri..

Kemampuan manufaktur ini bukan sekadar pelengkap, tapi juga merupakan jangkar stabilitas.

Dengan landasan ekonomi yang kuat, seseorang tidak takut terhadap badai eksternal.

Mengenai "teknologi": Tiongkok kuno adalah negara yang berteknologi maju, namun kemundurannya disebabkan oleh kebijakan tertutupnya.

Namun kini, pintunya terbuka dan kemajuan telah dicapai. Seluruh bangsa tanpa henti melakukan penelitian dan inovasi, terus berinvestasi selama beberapa dekade di berbagai bidang termasuk 5G, kecerdasan buatan, dirgantara, dan energi baru.

Tiongkok telah memimpin; ini bukanlah keberuntungan, tapi hasil akumulasi jangka panjang yang tak terelakkan.

Terakhir, mengenai “militer”: Rakyat Tiongkok tidak pernah kekurangan keinginan untuk berperang. Di masa lalu, mereka mengandalkan keberanian dan taktik; sekarang, mereka telah menambahkan kekuatan keras. Dengan kapal induk, pesawat tempur siluman, dan rudal hipersonik, Angkatan Laut, Angkatan Udara, dan Angkatan Roket semuanya telah mengalami peningkatan menyeluruh, dan banyak peralatan mutakhir telah diluncurkan. Namun kekuatan ini bukan untuk perluasan atau ancaman; itu untuk pertahanan.

Melindungi pencapaian pembangunan yang telah dicapai dengan susah payah, melindungi masyarakat di negeri ini agar mereka dapat hidup damai dan aman.

Oleh karena itu, kebangkitan Tiongkok tidak pernah terjadi secara kebetulan; Hal ini merupakan keniscayaan sejarah yang didorong oleh kedalaman peradaban, identitas yang melekat pada populasi besar, dan kekuatan gabungan dari industri, teknologi, dan militer.

Ini merupakan kombinasi kekuatan yang belum pernah dihadapi Barat sebelumnya.

Negara ini tidak bergantung pada penjarahan, kolonisasi, atau krisis ekspor; itu bergantung pada kohesi internal dan pengembangan mandiri.

Jalan ini sulit ditiru oleh orang lain; momentum ini sulit dihentikan oleh orang lain. Bukan karena ia sangat tajam, namun karena ia sangat besar, sedemikian besarnya sehingga tidak ada badai yang dapat menghancurkannya.♥️Lengkap🦾♥️Lepaskan🦾♥️Lepaskan🦾♥️Lepaskan🦾

=============

The Rise of Great Powers This time, the United States has truly met its match. It's not the Soviet Union of the past, nor Japan, but a power it has never encountered before and cannot define.

Recently, even American think tanks have unusually acknowledged that the pressure is unprecedented. Russian military experts have also written in their reports.

China's rise is unlike that of any other great power in the past few centuries.

It's not simply about becoming stronger; it's a completely new superpower.

A civilizational rise never before seen in human history, and the secret to this uniqueness lies in two conditions that no one can replicate:

5,000 years of civilization and a population of 1.4 billion.

First, let's talk about civilization. China is the only country in the world whose civilization has never been interrupted, whose history is complete, from oracle bone script to artificial intelligence; from the Book of Songs to the space station—this lineage has never been broken.

Past rising powers like Britain, Germany, and the United States did not have such a profound civilizational foundation to support them.

When they were strong, they relied on technology, capital, and military might, but behind China's resurgence lies a complete narrative about who I am, where I come from, and where I am going.

Western scholars are increasingly understanding one thing:

China's return is not simply a matter of rising national power; it is an ancient civilization stepping back to the center of the world stage.

The resilience, sense of identity, and strategic patience brought about by that culture are something other countries cannot learn, even if they want to.

Regarding population, at its peak, the Soviet Union had less than 300 million people, and the United States at its zenith had just over 300 million—already more than Britain, France, and Germany. But China? 1.4 billion people rose together. This is unprecedented in modern human history. Some Western strategists even predict that China may be the last superpower in human history, because no other country will ever be able to simultaneously achieve full industrialization, technological self-sufficiency, and military modernization at this scale. 1.4 billion people is not just a number, but a system—a vast, highly coordinated system. Once this scale effect is activated, it becomes an unstoppable torrent.

But what truly makes China unshakeable is not merely its civilization and scale; it possesses three fundamentally unshakeable forces.

*The first is the cohesive force of its "territory."* China's map wasn't pieced together by colonization or carved out by treaties; it's a complete entity, slowly shaped and refined over thousands of years by successive dynasties, each inch of land connected to history and bloodline.

This high degree of geographical and historical integration ranks first among all modern great powers. This is precisely why, even with numerous Western powers attacking together during the late Qing Dynasty, they couldn't tear China apart. It wasn't that they weren't ruthless enough, but rather that this land itself is inherently difficult to divide.

*The second is the cohesive force of its "nation."* Britain couldn't do it, the United States couldn't do it, and the Soviet Union couldn't do it.

No other country can unite so many people into a single rope.

The unity is as strong as China's. This sense of identity isn't created by policy or shouted out in slogans; it grows from the cultural genes, it's etched into the bones.

Our deep-seated consensus about who we are—you don't need to emphasize it every day, it's there.

*Chengcheng's third area is the "real triple advantage": industry, technology, and military:*

Chengcheng starts with "industry": China has built the most complete and largest industrial system in human history.

From a single screw to an aircraft carrier, it can manufacture everything itself.

This manufacturing capability isn't just icing on the cake, it's the anchor of stability.

With a deep economic foundation, one is not afraid of external storms.

Regarding "technology": Ancient China was a technologically advanced nation, but its decline was due to its closed-door policy.

Now, however, the doors are open, and progress has been made. The entire nation is relentlessly pursuing research and innovation, investing continuously for decades in multiple areas including 5G, artificial intelligence, aerospace, and new energy.

China has taken the lead; this is not luck, but the inevitable result of long-term accumulation.

Finally, regarding "military": The Chinese people have never lacked the will to fight. In the past, they relied on courage and tactics; now, they have added hard power. With aircraft carriers, stealth fighters, and hypersonic missiles, the Navy, Air Force, and Rocket Force have all undergone comprehensive upgrades, and many cutting-edge equipment have been unveiled. But this force is not for expansion or threat; it is for defense.

Protecting the hard-won achievements of development, protecting the people of this land so they can live in peace and security.

Therefore, China's rise has never been accidental; it is a historical inevitability driven by the depth of its civilization, the inherent identity of its large population, and the combined forces of industry, technology, and military.

This is a power combination the West has never faced before.

It doesn't rely on plunder, colonization, or export crises; it relies on internal cohesion and independent development.

This path is difficult for others to replicate; this momentum is difficult for others to stop. Not because it is particularly sharp, but because it is profoundly substantial, so substantial that no storm can shatter it.

♥️🇨🇳🦾♥️🇨🇳🦾♥️🇨🇳🦾♥️🇨🇳🦾

Yahoo Mail: Cari, Atur, Taklukkan
Uploaded Image

Dalam Pernikahan, Pikirkan "Kita", Bukan "Saya"

23 September 2026

Bacaan Hari ini:
1 Korintus 1:10 "Tetapi aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, demi nama Tuhan kita Yesus Kristus, supaya kamu seia sekata dan jangan ada perpecahan di antara kamu, tetapi sebaliknya supaya kamu erat bersatu dan sehati sepikir."
---------------
Ketika Anda menikah, inilah waktunya untuk mulai berpikir tentang "kita" dan bukan "saya". Alkitab mengatakannya seperti ini: "supaya kamu seia sekata dan jangan ada perpecahan di antara kamu, tetapi sebaliknya supaya kamu erat bersatu dan sehati sepikir." (1 Korintus 1:10). Ketika Anda mempertimbangkan orang lain, Anda memperhatikan mereka, sopan kepada mereka dan memperlakukan mereka dengan hormat dan perhatian.

Perhatikan bahwa 1 Korintus mengatakan Anda perlu "seia sekata .. erat bersatu dan sehati sepikir". Hal itu tidak muncul secara alami! Secara alami, kita egois. Kita memikirkan kebutuhan, luka hati dan keinginan kita sendiri sebelum memikirkan orang lain. Tetapi salah satu tujuan Allah bagi pernikahan adalah mengajar kita untuk menjadi lebih perhatian terhadap orang lain, karena begitulah Yesus memperlakukan semua orang.

Apakah Anda siap untuk belajar menjadi lebih perhatian dalam pernikahan Anda dan bahkan dalam hubungan Anda yang lain? Berikut tiga cara praktis untuk menunjukkan perhatian kepada orang-orang di sekitar Anda:

Tawarkan bantuan praktis.
Perhatian berarti menyadari apa yang dibutuhkan orang lain dan mengambil inisiatif untuk bertanya, "Bisakah saya membantu Anda?" Alkitab mengajarkan, "Layanilah seorang akan yang lain oleh kasih" (Galatia 5:13).

Terkadang kita saling membantu dalam hal-hal besar, tetapi biasanya dalam hal-hal kecil. Perhatian terlihat seperti menghentikan apa yang sedang Anda lakukan untuk membantu istri Anda membawa belanjaan ke dalam rumah. Perhatian terlihat seperti menidurkan anak-anak ketika suami Anda sedang lelah. Perhatian terlihat seperti bekerja sama mengerjakan pekerjaan rumah di akhir pekan sehingga Anda berdua dapat memiliki waktu luang nantinya.

Berempatilah terhadap keraguan dan ketakutan mereka.
Alkitab berkata, "Kita, yang kuat, wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat dan jangan kita mencari kesenangan kita sendiri." (Roma 15:1). Kita sering berpikir bahwa ketakutan orang lain tidak masuk akal, sementara kita menganggap ketakutan kita sendiri sangat serius. Tetapi dalam pernikahan yang kuat, Anda juga menganggap serius ketakutan pasangan Anda.

Saya dibesarkan di daerah pedesaan, tempat kami tidak pernah mengunci pintu. Sebaliknya, keluarga istri saya sangat memperhatikan keamanan. Selama bertahun-tahun, saya berusaha untuk memperhatikan istri saya dalam hal ini, meskipun saya tidak memiliki kekhawatiran yang sama.

Ampuni kesalahan mereka.
Anda tidak sempurna dan Anda menikah dengan orang yang tidak sempurna, dan itu membuat dua orang yang tidak sempurna tidak mungkin memiliki pernikahan yang sempurna. Orang berdosa menikah dengan orang berdosa, jadi semua pernikahan membutuhkan banyak sekali pengampunan. Alkitab berkata, "Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian." (Kolose 3:13). Pengampunan adalah salah satu dasar utama dalam membangun pernikahan. Dan itu adalah salah satu cara untuk menunjukkan perhatian.

Yakobus 3 mengajarkan, "Hikmat yang datang dari surga adalah...murni, pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik." (Yakobus 3:17). Jika Anda ingin menjadi bijaksana dalam pernikahan Anda, Anda perlu belajar untuk memperhatikan pasangan Anda!

Renungkan :

- Apa satu cara yang dapat Anda lakukan untuk membantu pasangan Anda (atau orang lain dalam hidup Anda) hari ini?

- Apa satu ketakutan pasangan Anda yang belum Anda anggap serius? Bagaimana Anda dapat lebih memperhatikan ketakutan tersebut?

- Luka hati apa yang selama ini Anda simpan dan perlu Anda ampuni?

Bacaan Alkitab Setahun :
Pengkotbah 8-10; Galatia 3
____________
Ketika Anda mempertimbangkan orang lain, Anda memperhatikan mereka, sopan kepada mereka dan memperlakukan mereka dengan hormat dan perhatian.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
========
In a Marriage, Think ‘We,’ Not ‘Me’
By Rick Warren

“You must learn to be considerate of one another, cultivating a life in common.” 1 Corinthians 1:10 (MSG)
-------------------
When you get married, it’s time to start thinking of “we” instead of “me.” The Message paraphrase says it like this: “You must learn to be considerate of one another, cultivating a life in common” (1 Corinthians 1:10). When you’re considerate of someone else, you pay attention to them, show them courtesy, and treat them with respect and care.

Notice that 1 Corinthians says you need to “learn to be considerate.” It doesn’t come naturally! By nature, we’re selfish. We think about our own needs, hurts, and wants before we think about anyone else. But one of God’s purposes for marriage is to teach us to become more considerate, because that’s how Jesus treats people.

Are you ready to learn to be more considerate in your marriage and even in your other relationships? Here are three practical ways to show consideration to the people around you:

Offer practical help. Consideration means noticing what the other person needs and taking the initiative to ask, “Can I help you?” The Bible teaches, “Serve one another humbly in love” (Galatians 5:13 NIV).

Sometimes we’re helpful to each other in big ways, but usually it’s in small ways. Consideration looks like stopping what you’re doing to help your wife bring the groceries in. It looks like putting the kids to bed when your husband is tired. It looks like working together to do weekend chores so you both can have free time later.

Sympathize with their doubts and fears. The Living Bible paraphrase says, “We must bear the ‘burden’ of being considerate of the doubts and fears of others” (Romans 15:1). We often think other people’s fears are irrational, while we take our own fears very seriously. But in a strong marriage, you take your spouse’s fears seriously too.

I grew up out in the country, where we never locked any door. My wife’s family, on the other hand, was diligent about security. Over the years, I’ve worked to be considerate of my wife in this area, even though I don’t have the same concerns.

Forgive their mistakes. You’re imperfect and you married an imperfect person, and that makes it impossible for two imperfect people to have a perfect marriage. Sinners marry sinners, so all marriages need massive doses of forgiveness. The Bible says, “Make allowance for each other’s faults, and forgive anyone who offends you. Remember, the Lord forgave you, so you must forgive others” (Colossians 3:13 NLT). Forgiveness is one of the primary building blocks of marriage. And it’s a way of showing consideration.

James 3 teaches, “The wisdom that comes from heaven is . . . considerate” (James 3:17 NIV). If you want to be wise in your marriage, you need to learn to be considerate of your spouse!


Senin, 21 September 2026

Komunikasi adalah Kunci dalam Pernikahan Anda

22 September 2026

Bacaan Hari ini:
Amsal 13:17 "Utusan orang fasik menjerumuskan orang ke dalam celaka, tetapi duta yang setia mendatangkan kesembuhan"
------------------
Bentuk ideal yang Allah inginkan bagi pernikahan Anda adalah keharmonisan, kesatuan dan keintiman. Alkitab berkata, "Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat." (Efesus 5:31-32).

Kenyataannya, sebagian besar pernikahan tidak mencapai wujud ideal tersebut. Tetapi ada beberapa kunci yang dapat membantu membuka potensi pernikahan Anda dan membantunya menjadi seperti yang Allah kehendaki.

Salah satu kunci untuk pernikahan yang hebat adalah komunikasi. Alkitab berkata, "Utusan orang fasik menjerumuskan orang ke dalam celaka, tetapi duta yang setia mendatangkan kesembuhan" (Amsal 13:17).

Jika Anda ingin membuat kemajuan dalam hubungan apa pun, Anda harus belajar bagaimana berbicara satu sama lain.

Kita semua memiliki gaya dan kebutuhan yang berbeda dalam hal komunikasi. Salah satu pasangan mungkin berkomunikasi dengan fakta, sementara yang lain lebih banyak berkomunikasi dengan emosi. Yang satu mungkin berkomunikasi dalam potongan-potongan singkat, sementara yang lain berkomunikasi dalam penjelasan yang panjang. Komunikasi yang baik dalam pernikahan mempertimbangkan gaya orang lain.

Komunikasi yang baik juga jujur dan terus terang. Alkitab berkata, "Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat" (Matius 5:37).

Dan terkadang, komunikasi yang baik berarti Anda perlu berkompromi. Jika Anda sudah menikah lebih dari sehari, Anda tahu ada beberapa hal yang tidak akan pernah Anda sepakati. Bahkan, salah satu alasan Allah memberikan pasangan kepada Anda adalah agar Anda dapat melihat kehidupan melalui sudut pandang yang berbeda. Latar belakang, kepribadian dan cara Anda dibentuk semuanya dapat membuat Anda melihat kehidupan secara berbeda dari pasangan Anda. Dan jika Anda tidak mau berkompromi, hal itu akan membawa kehancuran. "jika suatu rumah tangga terpecah-pecah, rumah tangga itu tidak dapat bertahan" (Markus 3:25).

Pasangan harus belajar berkompromi tentang bagaimana mereka membesarkan anak-anak, di mana mereka menghabiskan liburan, berapa banyak waktu yang mereka habiskan bersama keluarga dari pihak pasangan, bagaimana rumah mereka didekorasi, dan bahkan seperti apa keintiman fisik dalam hubungan mereka.

Pada akhirnya, kompromi adalah tentang kedewasaan dan belajar untuk tidak mementingkan diri sendiri. Alkitab berkata, "Semoga Allah, yang adalah sumber ketekunan dan penghiburan, mengaruniakan kerukunan kepada kamu, sesuai dengan kehendak Kristus Yesus" (Roma 15:5).

Dan sebenarnya, semuanya tentang belajar mengasihi satu sama lain dengan baik. Inti dari kompromi dan semua komunikasi yang baik, adalah kasih. Paulus menulis, "Kasih itu...tidak mencari keuntungan diri sendiri" (1 Korintus 13:4-5).

Renungkan :

- Pikirkan tentang pernikahan Anda atau hubungan dekat lainnya dalam hidup Anda. Kapan Anda memiliki komunikasi yang baik? Dalam hal apa Anda perlu belajar berkomunikasi dengan lebih baik?

- Kapan Anda pernah melihat sebuah hubungan menjadi lebih kuat melalui kompromi?

- Paulus berkata bahwa kasih "tidak mencari keuntungan diri sendiri" Di mana Anda akhir-akhir ini menuntut agar keinginan Anda sendiri dipenuhi? Berdoalah dan mintalah Allah menolong Anda belajar menjadi dewasa dan tidak mementingkan diri sendiri dalam hal tersebut.

Bacaan Alkitab Setahun :
Pengkotbah 5-7; Galatia 2
____________
Komunikasi yang baik berarti Anda perlu berkompromi.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
=======
Communication Is Key in Your Marriage
By Rick Warren

“Reliable communication permits progress.” Proverbs 13:17 (TLB)
---------------------
God’s ideal for your marriage is harmony, unity, and intimacy. The Bible says, “A man leaves his father and mother and is joined to his wife, and the two are united into one. This is a great mystery, but it is an illustration of the way Christ and the church are one” (Ephesians 5:31-32 NLT).

The reality is, most marriages fall short of that ideal. But there are some keys that can help unlock the potential of your marriage and help it become all God wants it to be.

One key to a great marriage is communication. The Living Bible paraphrase says, “Reliable communication permits progress” (Proverbs 13:17). If you want to make progress in any relationship, you have to learn how to talk with each other.

  We all have different styles and needs when it comes to communication. One spouse may communicate in facts while the other mostly communicates in emotions. One may communicate in sound bites while the other communicates in mega bites. Good communication in a marriage considers the style of the other person.

Good communication is also honest and straightforward. The Message paraphrase says, “Just say ‘yes’ and ‘no.’ When you manipulate words to get your own way, you go wrong” (Matthew 5:37). 

And sometimes, good communication means that you need to compromise. If you’ve been married longer than a day, you know there are some things you’re just never going to see eye to eye on. In fact, one reason God has given you a spouse is so you can look at life through a different set of lenses. Your background, your personality, and your wiring can all make you see life differently from how your spouse does. And if you don’t compromise, it will lead to destruction. “If a household is divided against itself, that household will not last” (Mark 3:25 GW).

Couples have to learn to compromise about how they raise their kids, where they spend their holidays, how much time they spend with the in-laws, how their house is decorated, and even what physical intimacy is like in their relationship.

At the end of the day, compromise is about maturity and learning to be unselfish.  The Message paraphrase says, “May . . . God develop maturity in you so that you get along with each other as well as Jesus gets along with us all” (Romans 15:5).

And really, it’s all about learning to love each other well. At the heart of compromise, and all good communication, is love. Paul writes, “Love . . . does not demand its own way” (1 Corinthians 13:4-5 NLT).

Minggu, 20 September 2026

Apakah Anda Sehat Secara Emosional?

21 September 2026

Bacaan Hari ini:
Amsal 20:7 "Orang benar yang bersih kelakuannya berbahagialah keturunannya"
-----------------
Jika Anda tidak menikah sampai Anda menemukan istri yang sempurna atau suami yang sempurna, Anda tidak akan pernah menikah, karena tidak ada seorang pun yang sempurna. Tetapi Anda perlu menikah dengan seseorang yang sehat secara emosional dan terus bertumbuh. Dan Anda juga perlu memastikan bahwa Anda bertumbuh dalam hal-hal tersebut.

Alkitab banyak berbicara tentang kesehatan emosional. Berikut adalah daftar faktor-faktor kesehatan emosional dari Firman Allah:

Orang yang sehat secara emosional tidak memiliki kemarahan yang tidak terkendali. "Jangan berteman dengan orang yang lekas gusar, jangan bergaul dengan seorang pemarah" (Amsal 22:24). Pasangan yang pemarah pada akhirnya akan mengarahkan kemarahannya kepada Anda.

Orang yang sehat secara emosional tidak memiliki kecanduan. "Janganlah engkau ada di antara peminum anggur dan pelahap daging" (Amsal 23:20). Makanan dan alkohol disebutkan di sini, tetapi ada banyak cara untuk menjadi kecanduan, termasuk kecanduan teknologi, pornografi, dan bahkan menghabiskan uang.

Orang yang sehat secara emosional tidak menyimpan kepahitan. "Jagalah supaya jangan ada seorangpun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang." (Ibrani 12:15). Kepahitan seperti racun; kepahitan menggerogoti Anda dari dalam.

Orang yang sehat secara emosional tidak egois. "Orang yang loba, menimbulkan pertengkaran" (Amsal 28:25). Jika diringkas, penyebab utama konflik dalam pernikahan sebenarnya sederhana: keegoisan.

Orang yang sehat secara emosional tidak serakah. "Siapa loba akan keuntungan gelap, mengacaukan rumah tangganya" (Amsal 15:27). Dan Amsal 23:6 membuatnya bahkan lebih jelas: "Jangan makan roti orang yang kikir"

Orang yang sehat secara emosional murah hati dan baik hati. "Siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan, siapa memberi minum, ia sendiri akan diberi minum" (Amsal 11:25). Dan Amsal 11:17 berkata, "Orang yang murah hati berbuat baik kepada diri sendiri, tetapi orang yang kejam menyiksa badannya sendiri."

Orang yang sehat secara emosional mengatakan kebenaran. "Orang benar yang bersih kelakuannya berbahagialah keturunannya" (Amsal 20:7). Kasih didasarkan pada kepercayaan dan kepercayaan didasarkan pada kebenaran.

Mungkin Anda telah membaca daftar ini dan menyadari bahwa banyak dari sifat-sifat ini tidak ada dalam diri orang yang sedang dekat dengan Anda. Jika demikian, inilah waktunya untuk mempertimbangkan kembali hubungan tersebut. Dan jika Anda melihat bahwa beberapa sifat ini tidak ada dalam kehidupan Anda sendiri, mintalah Allah untuk membantu Anda bertumbuh sebelum Anda berkomitmen untuk menikah.

Tentu saja, jika Anda sudah menikah, tidak pernah ada kata terlambat bagi Anda dan pasangan untuk menyadari di mana Anda masih belum matang secara emosional, berkomitmen untuk berubah dan meminta pertolongan Allah saat Anda bertumbuh menuju kesehatan emosional.

Renungkan :

- Lihat kembali sifat-sifat orang yang sehat secara emosional ini. Dalam hal-hal apa Anda sudah melakukannya dengan sangat baik?

- Dalam hal kesehatan emosional apa Anda perlu bertumbuh? Pertolongan apa yang Anda perlukan untuk bertumbuh dalam hal tersebut?

- Apakah Anda sedang menjajaki hubungan yang lebih serius, atau mempertimbangkan untuk memulai hubungan, dengan seseorang yang menunjukkan tanda-tanda ketidakdewasaan emosional? Jika ya, perubahan apa yang perlu Anda lakukan?

Bacaan Alkitab Setahun :
Pengkotbah 3-4; Galatia 1
____________
Jadilah versi terbaru diri Anda secara emosional dengan selalu berkaca pada Firman Tuhan

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
========
Are You Emotionally Healthy?
By Rick Warren

“A righteous person lives on the basis of his integrity. Blessed are his children after he is gone.” Proverbs 20:7 (GW)
------------------
If you don’t get married until you find the perfect wife or perfect husband, you’ll never marry, because no one is perfect. But you do need to marry someone who’s emotionally healthy and growing. And you need to make sure you’re growing in those areas too.

The Bible has a lot to say about emotional health. Here’s a list of emotional health factors from God’s Word:

An emotionally healthy person doesn’t have uncontrolled anger. “Do not make friends with a hot-tempered person. Do not associate with one easily angered” (Proverbs 22:24 NIV). An angry spouse will eventually direct their anger toward you.

An emotionally healthy person doesn’t have addictions. “Don’t associate with people who drink too much or stuff themselves with food” (Proverbs 23:20 GNT). Food and alcohol are mentioned here, but there are countless ways to be addicted, including to technology, pornography, and even spending money.

An emotionally healthy person is not bitter. “Make sure that everyone has kindness  from God so that bitterness doesn’t take root and grow up to cause trouble that corrupts many of you” (Hebrews 12:15 GW). Bitterness is a like a poison; it eats you alive.

An emotionally healthy person is not selfish. “Selfish people cause trouble” (Proverbs 28:25 CEV). The number one cause of conflict in marriage, when you boil it all down, is simple: selfishness. 

An emotionally healthy person is not greedy. “Whoever is greedy... brings trouble to his family” (Proverbs 15:27 GW). And Proverbs 23:6 makes it even more blatant: “Don’t eat with people who are stingy” (NLT).

An emotionally healthy person is generous and kind. “A generous person will prosper; whoever refreshes others will be refreshed” (Proverbs 11:25 NIV). And Proverbs 11:17 says, “Kindness is rewarded— but if you are cruel, you hurt yourself” (CEV).

An emotionally healthy person tells the truth. “A righteous person lives on the basis of his integrity. Blessed are his children after he is gone” (Proverbs 20:7 GW). Love is based on trust, and trust is based on truth.

Maybe you’ve read through this list and realized that many of these qualities are missing in the person you’re dating. If so, it’s time to reconsider the relationship. And if you see some of these qualities missing in your own life, ask God to help you grow before you commit to marriage.

Of course, if you’re married already, it’s never too late for you and your spouse to realize where you’re emotionally immature, commit to change, and ask for God’s help as you grow toward emotional health.