Jumat, 14 Oktober 2016

Apa Yang Dimaksud Dengan Mengingini?

Apa Yang Dimaksud Dengan Mengingini?    15 Oktober 2016    Bacaan Hari ini:  Keluaran 20:17   ~ "Jangan mengingini rumah sesamamu;   ~ jangan mengingini isterinya, atau hambanya laki-laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya atau keledainya, atau apapun yang dipunyai sesamamu."  ----------------------------------------------------  "Jangan mengingini" mungkin ini salah satu frase yang paling salah dimengerti dari ke Sepuluh Perintah Allah.     Mengingini artinya   ~ bukan sesimpel mengiginkan sesuatu.   ~ Bukan juga mengagumi sesuatu yang tidak kita punyai.     Mengingini artinya  ~ termakan oleh nafsu untuk mempunyai sesuatu.     Dan sering kali, itu adalah sesuatu yang   ~ bukan Anda miliki atau yang pantas Anda miliki.    Kata "mengingini" di sini juga bisa diterjemahkan sebagai   ~ "mendambakan."     Ini ibarat serigala yang   ~ sudah mencium bau darah dan   ~ yang kemudian berkeliaran di luar sana memburu mangsanya.     Pikirkan betapa ia mendambakan menangkap seekor mangsa.   ~ Serigala itu tidak akan berhenti berburu hingga ia berhasil menangkap mangsanya, menewaskannya, dan kemudian menyantapnya.    Itulah yang dimaksud dengan mengingini.     Tapi bagaimana ceritanya?     Pertama-tama,   ~ Anda terobsesi akan sesuatu.   ~ Kemudian, mata Anda mellihat sebuah objek dan   ~ pikiran Anda mulai mengaguminya.   ~ Lalu keinginan Anda akan objek tersebut akan semakin menggebu-gebu.   ~ Dan pada akhirnya, tubuh Anda bergerak untuk meraih dan memilkinya.     Lihat bagaimana satu tindakan menyebabkan tindakan-tindakan yang lainnya.    Yudas Iskariot menyia-nyiakan hidupnya demi 30 keping uang perak ketika ia mengkhianati Tuhan.     Dikatakan dalam 1 Timotius 6:10,   ~ "Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang.   ~ Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka."     Ayat tersebut sering dikutip orang   ~ "Uang adalah akar dari segala kejahatan, "    namun sesungguhnya Alkitab tak pernah mengatakan hal semacam itu.     Melainkan,   ~ akar dari segala kejahatan adalah kecintaan akan uang.     Bukan berarti salah jika kita ingin punya banyak uang.   ~ Tapi itu menjadi masalah ketika kita mulai mendambakannya, memburunya.    Beberapa orang menjalani sepanjang hidupnya dengan memburu uang.     Mereka menjadi terobsesi dengan hal-hal tertentu dan rela berkorban untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.   ~ Bisa berupa seseorang.   ~ Bisa berupa barang.   ~ Bisa juga posisi.     Apa pun bentuknya, mereka bertekad kuat sampai bisa mendapatkannya.     Pemikiran inilah yang bisa menghancurkan mereka.  ____________________________________  ~ Mengingini artinya termakan oleh nafsu untuk mempunyai sesuatu.   ~ Dan sering kali, itu adalah sesuatu yang bukan Anda miliki atau yang pantas Anda miliki.     (Diterjemahkan dari Daily Devotional by Greg Laurie)

Ahok Lawan Takdirnya, Bakar Dirinya Menjadi Arang atau Emas

Ahok Lawan Takdirnya, 
Bakar Dirinya Menjadi Arang atau Emas 
13 Oktober 2016 20:41:31 
Diperbarui : 13 Oktober 2016 21:22:23 
Dibaca: 4,844 
Komentar: 36 
Nilai: 38 Ahok 
(Tribunnews.com) 

Publik sesak napas ketika Ahok menyerempet Surat Al Maidah ayat 51. 

Sesal pilu berkumandang di seantero negeri. 

Seharusnya Ahok tidak menyerempet ayat-ayat sensitif di bumi Pancasila ini.
~ Di jaman digital ini, terkait soal agama, Indonesia masih hidup di era kegelapan, zaman Galileo, 500 tahun yang lalu. 
~ Di bumi pertiwi ini, agama adalah senjata paling canggih, paling jitu untuk menjegal Ahok yang disebut kafir di Pilgub DKI 2017. 

Ketika Ahok menyerempet agama, 
~ musuhnya pun bersorak. 

Dengan tafsiran berbeda, 
~ Ahokpun dipaksa salah dan dicap telah menista agama. 
~ Ahokpun sukses dihancur-leburkan. 

Tinggal satu patokan ular, 
~ diadili di pengadilan dengan tuduhan penistaan agama, Ahok akan tenggelam selama-lamanya. 

Jika publik menyayangkan sikap Ahok, 
~ tidaklah demikian bagi Ahok sendiri.

 Ahok paham benar bahwa
~ ia kerap diserang dengan Surat Al Maidah ayat 51. 
~ Begitu banyak ia menghadapi pembungkaman dengan memakai ayat itu. 

Maka Ahok kembali menunjukkan karakternya. 
~ Ia melawan takdirnya yang bukan agama mayoritas.
~ Ia membakar dirinya, 
~ memurnikan dirinya dengan berani terjun di episentrum dan hiposentrum serangan. 
~ Ia menyerempet ayat sakral. 

Ahok paham bahwa saatnya telah tiba 
~ untuk bertarung. 
~ Ia siap menjadi arang atau emas. 

Jika ia seorang 
~ pendusta, 
~ penista, 
~ penipu, 
~ munafik,
~ penjahat
~ dan koruptor di negeri ini, 
~ maka saat ia membakar dirinya, ia akan keluar sebagai arang. 

Namun jika 
~ ia benar sebagai pejuang bangsanya, 
~ pembakar api revolusi bangsanya,
~ maka saat ia membakar dirinya,
~ ia akan keluar menjadi emas. 

Ya emas. 
~ Ia akan menjadi mutiara langka mengikuti segelintir putera terbaik bangsa sebelumnya. 

Ahokpun membakar dirinya dengan menyinggung Surat Al Maidah ayat 51 itu. 
~ Lalu seantero negeri terbakar.
~ Netizen berdebat. 

Terjadi kegaduhan luar biasa.
~ Para ulama, 
~ agamawan terkemuka dan cendekiawan terbaik keluar dari sarang memberi tafsiran. 

Tafsiran ayat 51 yang sebelumnya 
~ tak banyak diketahui publik,
~ kini terkuak lebar-lebar.

☆ Publik dipaksa membaca aneka tafsiran di berbagai sumber. 
☆ Publik mencari kebenaran. 

Lalu di saat yang tepat,
~  Ahok meminta maaf. 

Nusron Wahid menjadi 
~ bintang pencerah nalar-nalar gelap publik. 

Setiap orangpun diuji level nalarnya apakah 
~ mengutuki Ahok 
~ atau memahami nalarnya. 

Sementara Ahok berhasil masuk dalam jantung serangan, 
~ netizen terbelah.

☆ Ahok sukses memancing publik untuk kembali membuka kebenaran hakiki Surat Al Maidah ayat 51 itu.

Strategi menyerang frontal, 
~ sekali lagi ditunjukkan Ahok. 

Jika calon kepala daerah lain tidak berani menyinggung ayat itu, 
~ Ahok justru berani menyinggungnya. 

Hasilnya, 
~ ada di nalar publik. 
~ Di satu sisi memang Ahok dipandang telah melakukan blunder besar. 
~ Namun di sisi lain Ahok dipandang telah membuka cakrawala publik. 

Ahok melakukan kejutan. 
~ Ia mendahului lawannya yang akan menyerangnya dengan ayat itu di akhir masa kampanye. 
~ Namun Ahok telah lebih dulu membakar dirinya dengan ayat itu. 

Di akhir masa kampanye, 
~ serangan atas nama agama tidak lagi berbisa. 

Menjelang Pilkada Februari 2017 mendatang, 
~ jika ada serangan dengan ayat itu,
~ maka publik tidak lagi terkejut.
~ Publik sudah paham tafsirannya. 
~ Inilah yang membuat Ahok satu langkah lebih unggul dari lawan-lawannya. 

Senjata terakhir atas nama agama untuk 
~ membungkam Ahok sudah diketahui publik. 

Apakah Ahok sukses dengan strategi ini? 
~ Ya, sukses. 
~ Ia telah memporak-poranda kadar nalar publik. 

Ahok yang berkarakter ingin selalu bebas dari cengkeraman sandera, 
~ membuat darahnya tak takut melakukan serangan frontal. 
~ Dan itulah yang membuatnya hingga saat ini keluar sebagai pemenang. 

Ditilik dari belakang misalnya, 
~ karakter serangan frontal Ahok yang membakar dirinya dengan serangan frontal bisa ditelusuri. 

Ahok kerap menghadapi langsung segala bentuk serangan yang berpotensi menyenderanya.

Ketika ia merasa bahwa 
~ DPRD DKI Jakarta akan menyandera dirinya, 
~ maka Ahok langsung menyerang frontal DPRD DKI. 

Ahok berani membeberkan anggaran siluman yang nilainya triliunan itu. 
☆Hasilnya, 
~ kini DPRD DKI Jakarta tidak lagi bisa mendikte Ahok. 

Ketika Ahok merasa bahwa FPI akan menyandera dirinya di DKI Jakarta, 
~ Ahok langsung menyerang frontal dan berani menyuarakan pembubaran FPI. 
☆Hasilnya, 
~ dua tahun terakhir ini, tidak ada lagi sweeping liar yang berani dilakukan oleh FPI di ibu kota. 

Ketika Ahok merasa bahwa BPK akan selalu menyadera dirinya lewat Sumber Waras dan penilaian WDP atau WTP, 
~ Ahok langsung menyerang frontal BPK dengan menyebutnya "ngaco". 
~ Pun DPR Senayan, Ahok berani menyebut mereka sebagai "kampungan" saat mencoba-coba memanggil dirinya ke Senayan. 

Kini ketika lawan-lawannya menggunakan Surat Al Maidah ayat 51 untuk membungkam dirinya, 
~ Ahok pun kerap menyinggung ayat itu di berbagai kesempatan. 
~ Ahok malah terus-menerus mempopulerkan Surat Al Maidah ayat 51 itu. 

Terakhir saat ia berkunjung di Kepulauan Seribu, 
~ Ahok lagi-lagi menyinggungnya. 

Publik tak paham. 
~ Mengapa Ahok terus menyinggung dan mempopulerkan ayat itu. 

Bukankah sebenarnya Ahok bisa menghindarinya? 

Namun Ahok toh tetap berani menyinggung ayat itu.
~ Ini berarti sama saja Ahok membakar dirinya lebih dulu. 

Lalu apa tujuannya? 

Bagi Ahok tujuannya ada dua. 
☆ Pertama, ia ingin membuka cakrawala nalar publik soal agama dan 
☆ kedua, ia ingin memurnikan dirinya apakah arang atau tetap emas bagi bangsa ini. 

Lalu apa hasil pembakaran diri yang dilakukan Ahok di Kepulauan Seribu itu terkait penyinggungan ayat 51 itu? 

Apakah ia akan keluar sebagai arang pengecut atau emas murni? 

Nalar publiklah yang menjawabnya ke depan. 

Level kedalaman pemahaman akan Sang Khaliklah yang ikut menentukan. 

Jika Ahok kalah di Pilkada 2017 mendatang karena membakar dirinya dengan menyinggung soal agama, 
~ maka ia akan menjadi arang. 

Namun jika ia menang, strategi membakar diri itu berarti 
~ strategi jitu yang memurnikan dirinya sebagai emas. 

Ya, emas murni yang selalu dilempar dengan kotoran namun tetap emas berkilau. 

Sekali lagi apakah Ahok arang atau emas pasca membakar dirinya dengan menyinggung Surat Al Maidah ayat 51 itu? 

Mari kita tunggu si waktu menjawabnya.

Yang jelas, 
~ sejarah Ahok adalah sejarah bangsa ini ke depan. 

Salam Kompasiana, Asaaro Lahagu

Selengkapnya : http://m.kompasiana.com/lahagu/ahok-lawan-takdirnya-bakar-dirinya-menjadi-arang-atau-emas_57ff8f0783afbd081e76da6f

Kamis, 13 Oktober 2016

Rintangan Yang Berbuah

Rintangan Yang Berbuah
  14 Oktober 2016    Bacaan Hari ini:  2 Samuel 9:11b "Dan Mefiboset makan sehidangan dengan Daud sebagai salah seorang anak raja."  --------------------------------------------------  Mungkin Anda pernah mengalami rintangan-rintangan dalam hidup.     Sebagai seorang anak, Anda mungkin pernah   ~ teraniaya,   ~ terabaikan,   ~ diperlakukan tidak adil,   ~ atau bahkan dilupakan.    Anda, seperti kebanyakan anak-anak zaman sekarang,   ~ tak punya tempat mengadu.   ~ Mungkin orang-orang hanya memberi Anda secuil harapan;   ~ mungkin Anda sudah dicap jelek oleh orang tua dan guru Anda.    Alkitab menceritakan kisah tentang seorang pemuda bernama Mefiboset, yang secara harfiah   ~ "dijatuhkan" (2 Samuel 9).     Kakeknya adalah Raja Saul dan ayahnya adalah Pangeran Yonatan.   ~ Setelah mereka tewas dalam pertempuran,   ~ inang pengasuh Mefiboset, hamba bernama Ziba, mengangkat dia lalu lari,   ~ tetapi karena terburu-buru ia menjatuhkan Mefiboset, yang di kala itu baru berumur lima tahun,   ~ dan menjadi cacat kakinya.    Ziba takut bahwa sang raja terpilih,   ~ Daud, akan mencari dia dan membunuhnya, seperti kebiasaan raja-raja di zaman itu.     Tapi kemudian Raja Daud, sang pemegang tahta,   ~ mencari Mefiboset dan   ~ menyambut dia sebagai anggota keluarganya sendiri dan   ~ memintanya tinggal di istana.    Ini mengingatkan kita bagaimana Yesus   ~ mengulurkan tangan-Nya pada kita   ~ dan memanggil kita untuk menjadi bagian dari keluarga-Nya.     Saya punya kabar baik untuk Anda hari ini!     Allah amat peduli dengan orang-orang yang,  ~ telah "jatuh dalam hidup" untuk kemudian mengangkat kehidupan mereka kembali!    Saya pernah membaca tentang seorang pemuda bernama Walt Disney   ~ yang dipecat dari sebuah surat kabar.     Ketika Disney menanyakan alasannya, mereka menjawab,   ~ "Walt, kau kurang kreatif.   ~ Kau tidak pernah punya ide-ide baru.   ~ Maaf, tapi kami harus memecatmu."     Disney merasa gagal dalam hidupnya.  ~ Maka ia pindah ke California,   ~ meminjam $ 500 dan   ~ memulai sebuah perusahaan seni grafik.     Tak lama setelah itu, ia muncul dengan satu karakter yang ia namakan  ~ Mortimer Mouse,   ~ yang kemudian berubah menjadi Mickey Mouse,   ~ dan sejak saat itulah ia menjadi legenda dalam dunia animasi.    Anda tak dapat mengontrol   ~ apa yang terjadi pada Anda dalam hidup ini.     Namun Anda dapat memilih   ~ untuk meresponnya dengan hikmat.  ___________________________  Dengan hikmat Tuhan,  ~ maka rintangan-rintangan yang terjadi dalam hidup,  ~ dapat membantu Anda bergerak maju.    (Diterjemahkan dari Daily Devotional by Greg Laurie)

Rabu, 12 Oktober 2016

Polemik Almaidah 51 yang diucapkan Ahok

Juga belajar dari peristiwa yang Ahok alami . MUI Dibayar Berapa Sama Agus Yudhoyono Agar Salahkan Ahok?
BY ALIFURRAHMAN ON OCTOBER 12, 2016 POLITIK

Sebenarnya soal polemik Almaidah 51 yang diucapkan Ahok saya pikir akan berlangsung damai. Maksudnya, ya sudah diselesaikan secara hukum jika memang itu yang diinginkan.

Namun malam ini ILC membuat pra-peradilannya sendiri. Sehingga ketemulah beberapa tokoh, kyai, politisi, hingga Ahmad Dhani dengan kapasitasnya sebagai musisi. Entah apa hubungannya musik dengan agama Islam, sebab di banyak kajian, musik diharamkan. Tapi ya sudah, itulah ILC. Di sini saya ingin menyimpulkan dari semua yang saya perhatikan dari awal (mungkin beberapa bagian saya terlewat).

Persoalan Almaidah 51 ini tentang 4 hal. Ummat muslim dilarang memilih Ahok, pemelintiran, tuduhan pelecehan Islam dan persoalan hukum.

Cerita ini bermula dari HTI dan FPI yang melakukan demo bersama menolak Ahok karena nonmuslim. Mereka menyerukan agar ummat muslim tidak memilih Ahok atau calon non muslim. Salah satu alasan yang digunakan adalah Almaidah 51, haram memilih pemimpin nonmuslim.

Kemudian di suatu kesempatan, saat Ahok lakukan sosialisasi budidaya dan koperasi di kepulauan seribu, Ahok menyinggung soal Almaidah 51. Tujuannya agar masyarakat tidak berpikir tidak enak jika menerima program koperasi, namun nanti tidak memilih Ahok karena dibohongi pakai Almaidah 51. Ahok ingin programnya tetap jalan dan tidak ada hubungannya dengan Pilkada.

Semula tidak ada masalah. Masyarakat kepulauan seribu yang hadir bersama Ahok saat itu tidak mempermasalahkan sedikitpun. Mereka tertawa bersama dan sangat akrab.

Namun kemudian muncul Buni Yani. Mengupload video 31 detik pernyataan Ahok soal Almaidah (padahal video aslinya 1 jam 48 menit. Menuliskan transcript yang berbeda dengan pernyataan Ahok, kemudian ditambahi dengan kalimat sangat provokatif. Dari sinilah kemudian muncul petisi dan kesimpulan bahwa Ahok melecehkan agama Islam. Lalu Ahok dilaporkan ke Polisi. Itulah alur cerita kasus Almaidah 51.

Melihat provokasi relawan berani mati, pengadilan rakyat, sampai mencoret lambang salip dengan cat putih di beberapa titik, Ahok mengalah. Dengan politik santun dan kecintaannya pada negara ini, Ahok meminta maaf dan menyatakan dirinya tidak bermaksud melecehkan Islam. Padahal sebelumnya Ahok ngotot menjelaskan.

Mengapa Ahok mengambil sikap seperti itu? Mungkin karena nasehat Megawati atau Presiden Jokowi. Di Indonesia, rasanya dua sosok itulah yang bisa menasehati Ahok.

Padahal secara bahasa dan sejarah Islam, apa yang disampaikan Ahok ini benar. "Dibohongi pakai surat Almaidah" berarti ada orang menggunakan surat Almaidah untuk membohongi dan membodoh-bodohi rakyat agar pada Pilgub DKI 2017 nanti tidak memilih Ahok.

Jika ada yang beranggapan Alquran tidak bisa dijadikan alat untuk membohongi, karena dinulai negatif, itu tidak benar. Pada kenyataannya, Alquran sering digunakan untuk membohongi masyarakat awam. Dimas Kanjeng dan Gatot Brajamusti adalah contoh yang salah satu pondasi mereka mempengaruhi pengikutinya adalah berdasarkan Alqur'an.

Anda tidak mau menggunakan contoh tersebut dan menganggapnya tidak relevan? Oke, mari kita lihat fakta sejarah.

Pada masa khalifah Mu'awiyah, John pendeta Kristen dari Damaskus diangkat sebagai bendahara. Di bawah kekuasaan sultan Buwayhiyah, menteri luar negeri, menteri pertahanan, serta menteri keuangannya sering kali adalah orang Kristen. Di bawah kekuasaan khalifah 'Abbasiyah ke-16 al-Mu'tadhid, seorang Kristen taat bernama 'Umar bin Yusuf, diangkat sebagai gubernur Provinsi al-Anbar, Irak. Nashr bin Harun, juga seorang Kristen, bahkan dipercaya menjadi perdana menteri di masa 'Adud ad-Daulah (949-982M), penguasa terbesar Dinasti Buyid di Iran.

Di bidang militer, tentara Muslim lebih dari sekali dipimpin oleh seorang jenderal Kristen; contohnya seperti pada masa khalifah 'Abbasiyah ke-15 al-Mu'tamid dan Khalifah ke-18 al-Muqtadir komando dipercayakan kepada perwira militer Kristen.

Saya sependapat dengan Nusron Wahid yang semalam bertanya, apakah pada zaman khalifah surat Almaidah 51 ini tidak ada? Ada. Lalu mengapa ulama jaman khalifah tidak melarang atau mengharamkan karena terancam neraka? Apakah ulama Indonesia saat ini merasa lebih alim dan paham Islam dibanding ulama ja,an khalifah?

Saya pikir jawabannya tidak. Jadi saat Ahok mengatakan "dibohongi pakai surat Almaidah 51," saya menyimpulkan memang benar ada kelompok orang yang membohongi agar tidak memilih Ahok pada Pilgub DKI. Membodohi dengan ancaman neraka.

Sebab dulu sudah ada pemimpin nonmuslim di jaman khalifah. Di Indonesia sekarang pun juga ada beberapa pemimpin nonmuslim. Jadi kalau ada yang menakut-nakuti dengan neraka atau haram, bagi otak waras saya itu fix merupakan pembodohan massal. Saya setuju dan ingin mengatakan sama persis seperti yang diucapkan Ahok "Almaidah dipakai membohongi masyarakat."

Namun dengan posisi benar seperti itu, Ahok akhirnya memilih meminta maaf karena kondisinya sudah tidak sehat. Padahal HTI dan FPI yang mengkampanyekan haram memilih Ahok, sementara Buni Yani yang mengubah transcript dan menambahkan kalimat provokatif. Maka terjadilah perdebatan seperti sekarang.

Seharusnya, Buni Yani lah yang harus meminta maaf. Karena jika tidak karena dirinya, kita semua tidak akan terlibat perdebatan seperti ini. Saat video 1 jam 48 menit diupload, tak ada yang protes. Seharusnya, HTI dan FPI lah yang meminta maaf pada masyarakat, sebab mereka selalu membuat kegaduhan dan mengingkari UUD 45 serta Pancasila.

Namun semuanya tak merasa bersalah. Mereka konsisten satu suara ingin menjerat Ahok, yang pada akhirnya ingin Ahok didiskualifikasi dari Pilgub DKI. Kalaupun tidak, mereka akan gunakan isu ini sebagai materi kampanye.

MUI dibayar berapa sama Agus untuk salahkan Ahok?

Satu hal yang menarik dalam program ILC adalah pernyataan-pernyataan keras dan sangat tidak mencerminkan nilai-nilai Islam.

Tengku Zulkarnain, Wasekjen MUI mengatakan "Ahok ini kalau di dalam Islam harus dibunuh, dipotong kaki tangannya atau minimal diusir dari negara ini."

Saya terlahir beragama Islam, 6 tahun madrasah, 6 tahun di pesantren, 1 tahun mengajar di pesantren dan sampai sekarang masih mendengar ceramah-ceramah kyai, baik via youtube dengan Quraish Sihab atau datang ke pesantren, tapi baru kali ini saya merasa betapa agama yang saya anut jadi sangat menakutkan. Sangat menjijikkan melihat Tengku Zulkarnain berpakaian serba putih dan jubah kebesaran ulama. Jijik. Astaghfirullah.
 
MUI menyatakan proses hukum harus berlanjut. Mereka sudah keluarkan "Pendapat dan Sikap Keagamaan." Yang nantinya jika benar-benar diproses hukum, surat ini akan digunakan sebagai bukti pendukung, dan MUI akan jadi saksi ahli.

Bahkan orang-orang yang sebangku dengan MUI, semua berpakaian seperti ulama dengan jubah putih dan surban, memberi ancaman sangat serius kepada Polisi dan penegak hukum. Bahwa jika kasus ini tidak ditanggapi, mereka khawatir akan terjadi pengadilan rakyat dan kerusuhan.

Ancaman rusuh dalam bingkai kekhawatiran berlebihan ini kemudian diamini oleh beberapa orang yang hadir di ILC semalam. Mereka mengatakan khawatir, padahal kenyataannya mengancam, jika tidak ditindak dan diproses secara hukum maka akan timbul kerusuhan.

MUI yang saya pikir sebagai ulama, pengayom ummat, menjaga keutuhan negara, kini tak lebih buruk dari pelacur yang merusak rumah tangga orang. Sangat menjijikkan.

Bayangkan, Ahok sudah merendah dan mengalah dengan meminta maaf, namun MUI malah memprovokasi dengan contoh hukum Islam yang ingin membunuh dan memotong kaki tangan Ahok. Mengancam kerusuhan atas nama ummat dengan bingkai kekhawatiran. Luar biasa.

Dari sini kemudian saya coba merenung. Jujur sedih melihat dua orang kyai yang sampai meneteskan air mata memberi penjelasan. Maaf saya lupa namanya. Kemudian Buya Syafi Maarif juga sudah memberi pernyataan bahwa memang Alquran jangan digunakan untuk kepentingan politik, kalau sudah minta maaf ya sudah. Namun MUI malah menjawab dengan jawaban yang membuat saya muak mereka yang mengaku ulama MUI.

Di tengah perenungan tersebut saya pikir pasti ada yang salah, atau katakanlah pasti ada alasannya. Kita makan karena lapar, minum karena haus, begitu logika sederhananya. Pertanyaan saya kemudian, MUI kenapa sekeras itu? Mencontohkan hukuman dibunuh, dipotong kaki dan tangan, serta mengancam Polisi. Ini ada apa?

Di tengah perenungan itulah, seorang teman, dulu satu pesantren, satu almamater, cuma beda 10 tahun angkatan, mengirimkan gambar (awal artikel) yang saya pikir menjadi alasan logis mengapa MUI bersikap seperti itu. Saya mendadak seperti menemukan kepingan puzzle yang begitu menarik untuk segera dirapikan.

Video Ahok soal Almaidah mulai ramai pada 6 Oktober 2016. Sementara esok harinya atau 7 Oktober jam 10 siang, Agus Sylviana mendatangi Ma'ruf Amin. Masih di hari yang sama, jam 6 sore, Setiyardi yang merupakan Pimred Obor Rakyat mengadakan rapat di Cikeas bersama SBY, Ani dan anaknya. Apakah ini sebuah kebetulan? Untuk merespon video Almaidah 51 atau malah mereka yang merancang sejak awal? Katakanlah ini sebuah kebetulan, tetap saja kebetulan yang luar biasa.

Namun di sini saya tidak ingin berbicara tetang kebetulan, melainkan kesamaan berdasarkan data kongkrit.

Agus Sylviana mendatangi Ma'ruf Amin pada 7 Oktober 2106, sehari setelah video Ahok ramai. Pernyataan Ma'ruf Amin adalah sebagai berikut:

"Secara kelembagaan kita tidak bisa dukung karena ada tata krama. Tapi saya yakin warga NU akan dukung calon yang paling banyak samanya, misal agamanya sama, warna agamanya, marhabnya sama. Penampilannya santun tidak keras, tidak galak. Saya lihat saya yakin yang paling banyak samanya Pak Agus dan Bu Sylvi. Jadi saya yakin orang NU akan dukung calon yang paling banyak samanya," ujarnya.

Sampai di sini, siapa yang bisa membantah bahwa Ma'ruf Amin mendukung Agus Sylviana? Saya malah memprediksi bahwa pertemuan 7 Oktober adalah meminta agar MUI bersikap, supaya Ahok diproses hukum. Namun agar tak ketara dan sekali dayung dua pulau terlampaui, Ma'ruf Amin diminta memberi komentar dukungan. Komentar Ma'ruf Amin jelas bernada himbauan secara tidak langsung pada warga.

Kemudian, Ma'ruf Amin adalah ketua MUI. Dia yang menandatangani surat pendapat dan sikap keagamaan MUI pada 11 oktober 2016.

Dengan kenyataan seperti ini, sangat sulit sekali bagi saya untuk berpikir positif bahwa sikap MUI netral dan untuk kepentingan ummat. Sangat sulit. Bahkan saya cenderung ingin bertanya, MUI dibayar berapa oleh Agus Yudhoyono untuk keluarkan pernyataan bahwa Ahok menghina Alquran? Ma'ruf Amin dibayar berapa agar menyatakan bahwa dirinya yakin warga akan mendukung Agus Sylviana?

Apakah kondisi terencana seperti inilah yang membuat Agus berkomentar senada sesuai rencana:

"Oleh karena itu, aduan yang diajukan oleh sejumlah kalangan terhadap penegak hukum, menurut saya harus segera direspons secara serius, transparan dan bertanggung jawab. Saya tetap berasumsi negara hadir, dan akan menyelesaikan setiap persoalan dengan bijak, adil dan bertanggung jawab," ujar Agus.

Saya pikir ini strategi adu domba yang luar biasa. Tim Agus tak masuk dalam konflik Ahok vs Anies, tapi ikut mengkondisikan. Jika Ahok didiskualifikasi misalnya, maka hanya tersisa Anies Agus. Dengan begini tim Agus akan lebih mudah memenangkan Pilkada, bilang saja Anies melakukan segala cara, selesai. Luar biasa.

Mengingat SBY pernah berkuasa 10 tahun, Obor Rakyat juga kita tau sangat licik dengan segala fitnahnya, mungkin ke depan Ahok perlu sangat berhati-hati.

Terakhir, semalam saat menonton ILC ada 2 kyai yang tanpa sadar menangis saat menyatakan pendapatnya. Bagi saya itu satu hal luar biasa. Seorang kyai membela hak nonmuslim. Ini di luar jangkauan kemampuan para orang bersuban yang mengaku ulama. Bagi yang menonton semalam, memang jelas bedanya antara orang yang berbicara dengan otak dengan orang yang berbicara dengan hati.

Sementara buat Polisi, tak perlu gentar dengan ancaman ulama kawe bahwa nanti rakyat akan melalukan pengadilan sendiri. Percayalah rakyat kita sudah cerdas dan yang gesrek itu hanya segelintir. Tapi memang yang segelintir ini cukup berisik, jadi seolah-olah banyak[truncated by WhatsApp]

Selasa, 11 Oktober 2016

*TABAYYUN TAMENG PARA MUNAFIK*

*TABAYYUN TAMENG PARA MUNAFIK*
Dennysiregar.com
_Rabu, Oktober 12, 2016_

Melihat Nusron Wahid di acara ILC tadi malam saya sungguh bangga.
 
Dibalik orang-orang yang mempolitisasi surat Al Maidah 51, Nusron Wahid menghajar pemikiran mereka dengan keras, mengembalikan apa yang selama ini mereka selalu gaungkan yaitu tabayyun, atau berprasangka baik.

Memang lucu orang-orang itu..
Jika ada yang menyerang mereka, mereka selalu berteriak "Tabayyun woi, tidak boleh berprasangka jelek.." Tapi kenapa ini tidak berlaku kepada mereka sendiri yang asyik menafsirkan apa yang Ahok ucapkan pada saat ia berpidato di kepulauan seribu?.

Mereka, mulai dari MUI, Ahmad Dhani sampai Din Syamsudin -duh pak Din kenapa jadi begini?- dengan mudahnya menafsirkan apa yang diucapkan Ahok dengan penafsirannya sendiri tanpa mau bersusah payah bertanya kepada Ahok apa maksud dia mengatakan tentang surat Al Maidah 51 itu?

Bahkan orang yang dituduh memplintir video Ahok si Buni Yani pun mengalami kegagalan berfikir. Dia meminta orang-orang tidak berprasangka buruk dengannya terhadap kasus video itu, tapi ketika dia mengedit dan menyebarkan video itu dia sudah berprasangka buruk kepada Ahok.

Ketika akhirnya ia yang diserang, senjata "Tabayyun" itu pun dipakai sebagai tameng, perlindungan utama daripada masuk penjara?

Hajaran Nusron Wahid dengan suaranya yang terbiasa menggelegar, seharusnya membuka ruang-ruang sempit dari sudut gelap otak-otak mereka yang sudah tertutup kebencian berkarat.
 
Entah bagaimana cahaya bisa masuk jika tidak ada sedikitpun lubang yang mereka buka sekedar untuk menerima kebenaran yang disampaikan, karena selama ini mereka mengisinya dengan pembenaran versi mereka.
 
Orang bilang "memang lidah tak bertulang" menunjukkan bahwa siapapun bisa berbicara sesuai dengan apa yang ia ingin sampaikan. Tapi lidah digerakkan oleh hati. Ketika hati busuk, maka lidahpun mengeluarkan suara busuk pula.
 
Apakah mereka yang disentil oleh Nusron Wahid itu mau sedikit membuka hati bahwa apa yang diucapkan Nusron benar adanya?

Ah, bahkan Imam Ali as pun memperingatkan akan bahayanya kemunafikan."Dan aku ingatkan kalian tentang orang-orang munafik".

Hati mereka berpenyakit, walau wajah mereka tampak bersih. Mereka bicara obat, padahal perbuatan mereka tak ubahnya penyakit yang tak mungkin disembuhkan.
 
Mereka lantunkan pujian terhadap sesama mereka. Mereka berharap balasan dari sesama mereka. Bila meminta sesuatu mereka ngotot. Jika memarahi orang, mereka mempermalukannya. Jika memutuskan, mereka berlebihan.
 
Untuk setiap kebenaran, mereka siapkan jalan sesatnya. Untuk setiap yang lurus disiapkan pembengkoknya. Kalau bicara, mereka ciptakan keraguan. Bila menggambarkan sesuatu, mereka berlebihan. Mula-mula mereka sodorkan jalan lapang, namun setelah itu, mereka sempitkan jalan itu".
Semoga saya tidak dimasukkan dalam golongan orang munafik.

Kopi tiga rebuan ya saya bilang tiga rebuan. Tidak perlu saya selfie kemudian di upload dengan tagline "Ketika sedang di Starbucks." tapi tidak sengaja di latar belakang tertangkap nama warkopnya, "Warung Kopi Matalupicek, besok gratis sekarang bayar".

Besoknya kapannn? Wong tiap saya ngopi pemilik warkop bilangnya sekarang.

http://www.dennysiregar.com/2016/10/tabayyun-tameng-para-munafik.html?m=1

Yang Mendukakan Allah

Yang Mendukakan Allah    12 Oktober 2016    Bacaan Hari ini:  Kejadian 6:6   ~ "Maka menyesallah TUHAN,   ~ bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi,   ~ dan hal itu memilukan hati-Nya."  --------------------------------------------------  Suatu hari murid-murid Tuhan datang kepada-Nya dengan satu pertanyaan ini:     "Katakanlah kepada kami,   ~ bilamanakah itu akan terjadi dan   ~ apakah tanda kedatangan-Mu dan   ~ tanda kesudahan dunia?"   (Matius 24:3b).    Yesus menjawab,   "Sebab sebagaimana halnya pada zaman Nuh,   ~ demikian pula halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia.     Sebab sebagaimana mereka pada zaman sebelum air bah itu   ~ makan dan minum,   ~ kawin dan mengawinkan,   ~ sampai kepada hari Nuh masuk ke dalam bahtera,   ~ dan mereka tidak tahu akan sesuatu, sebelum air bah itu datang dan   ☆melenyapkan mereka semua,     ☆demikian pulalah halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia"   (ayat 37-39).    Dalam pernyataan-Nya yang amat penting ini,   ~ Yesus bukan hanya membenarkan adanya Air Bah dalam kitab Kejadian,   ~ tapi Dia juga mendorong kita untuk melihat dengan seksama hal-hal yang terjadi sebelum kedatangan Air Bah,   ~ karena inilah ciri-ciri kejadian yang akan terjadi sebelum Dia datang kembali nanti.    Ada persamaan yang mencolok antara zaman Nuh dan zaman kita.   ~ Nuh tinggal di hari-hari terakhir.   ~ Dia tinggal di masa tepat sebelum penghakiman datang dalam bentuk Air Bah.   ~ Kita hidup di hari-hari terakhir sebelum penghakiman tiba yang akan datang selama masa Kesengsaraan Besar.    Sebagaimana dalam pembukaan Kejadian 6, perkara demi perkara akan berlangsung kian buruk di muka Bumi ini.     Alkitab mengatakan,   "Ketika dilihat TUHAN,   ~ bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan   ~ bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata,   ~ maka menyesallah TUHAN,   ~ bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi,   ~ dan hal itu memilukan hati-Nya"   (ayat 5-6).    Pada saat itu Allah tengah berduka karena   ~ ciptaan-Nya menjalani hidup yang seperti itu.     Ini memperlihatkan betapa pilu hati-Nya melihat   ~ pemberontakan dan kejahatan manusia.  ____________________________  Hati Allah sangat pilu ketika manusia yang diciptakan  ~ memberontak dan tidak mengikuti hukum-hukum-Nya.    (Diterjemahkan dari Daily Devotional by Greg Laurie)

Senin, 10 Oktober 2016

Jalan Kain

Jalan Kain    11 Oktober 2016    Bacaan Hari ini:  Yudas 1:11 "Celakalah mereka,   ~ karena mereka mengikuti jalan yang ditempuh Kain   ~ dan karena mereka, oleh sebab upah, menceburkan diri ke dalam kesesatan Bileam,   ~ dan mereka binasa karena kedurhakaan seperti Korah."  ---------------------------------------------------  Alkitab memperingatkan kita tentang "jalan yang ditempuh Kain"   (lihat Yudas 1:11).     Seperti apakah itu?     Satu hal yang pasti,   ~ ia menyembah Allah dengan motif yang tidak murni.   ~ Kain membawa persembahannya kepada-Nya, tetapi ia tidak membawanya dalam iman.  ~ Seberapa pun besarnya persembahan Anda, jika hati Anda salah, maka itu sia-sia.    Jalan yang ditempuh Kain juga menggambarkan hati dan kehidupan yang penuh   ~ iri,   ~ kedengkian,  ~ dan kebencian.     Akan selalu ada orang-orang yang lebih dari Anda.     Akan selalu ada seseorang yang  ~ lebih tampan,  ~ lebih sukses,   ~ atau lebih cerdas dari Anda.     Jadi apakah Anda akan menjalani hidup yang diwarnai dengan   ~ frustasi,   ~ iri,   ~ dan dengki?     Atau, akankah Anda berseru,   ~ "Tuhan, semua yang kumiliki adalah berkat dan karunia dari-Mu,   ~ dan aku mengucap syukur untuk itu.   ~ Aku tidak mau menghancurkan hidupku karena kecemburuan dan iri hati"?    Terakhir, jalan yang ditempuh Kain adalah dengan  ~ berdusta kepada Allah tentang apa yang telah ia perbuat.     Hanya ada satu cara untuk mengatasi dosa, yaitu dengan   ~ mengakuinya, sebab bagaimana pun Allah tahu apa yang Anda buat.     Allah tahu persis apa yang Kain hendak lakukan, maka Ia memperingatkannya.     Namun Kain melakukan apa yang menurut dia harus lakukan, dan dosa pun   ~ menerkamnya,   ~ memusnahkannya,   ~ menguasai dirinya, sama seperti apa yang Tuhan peringatkan padanya sebelumnya.    Ini berlaku juga buat kita saat ini.     Jangan berjalan di jalan yang ditempuh Kain.     Sebaliknya,   berjalanlah di jalan Habel.     Ibrani 11:4 memberitahu kita bahwa  ~ "Karena iman Habel telah mempersembahkan kepada Allah korban yang lebih baik dari pada korban Kain.     Dengan jalan itu ia memperoleh kesaksian kepadanya, bahwa ia benar,   ~ karena Allah berkenan akan persembahannya itu   ~ dan karena iman ia masih berbicara, sesudah ia mati."     Jalan Habel mendatangkan berkat.  __________________________________  ~ Jangan berjalan di jalan yang ditempuh Kain.   ~ Sebaliknya, berjalanlah di jalan Habel.    (Diterjemahkan dari Daily Devotional by Greg Laurie)