Jumat, 06 September 2024

Pilih Kekudusan Ketimbang Kebahagiaan

07 September 2024

Bacaan Hari ini:
Yakobus 1: 14-15 "Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut."
-----------------
Saat ini kita hidup di zaman yang tidak bertanggung jawab di mana hanya sedikit orang yang mau mengakui bahwa masalah mereka adalah akibat kesalahan mereka sendiri. Kita semua bertingkah seolah-olah kita adalah korban. Saya berbicara secara umum, tetapi sepertinya orang-orang tidak pernah menganggap suatu masalah ialah kesalahan mereka; selalu orang lain yang disalahkan.

Kita menyalahkan orang lain. Kita menyalahkan pemerintah, media, orang tua kita, sekolah, DNA kita, dan lingkungan kita--semuanya kecuali diri kita sendiri.

Tapi sebenarnya, kitalah yang mendatangkan sebagian besar masalah kepada diri kita sendiri. Kita hanya perlu memikul tanggung jawab dan berhenti menyalahkan orang lain. Karena setiap kali kita menyalahkan orang lain, kita tidak mengakui apa masalah yang sebenarnya.

Jika saat ini Anda tengah menghadapi godaan, Anda tak akan pernah terbebas darinya sebelum Anda berhenti memperbaiki kesalahan, dan mulai memperbaiki masalah. Berhenti menyalahkan orang lain! Bahkan jika orang lain menyakiti Anda sekalipun, reaksi Anda dapat menimbulkan masalah.

Buat saya, sangat mengejutkan melihat beberapa orang bahkan mencoba menyalahkan Tuhan atas kekacauan dalam hidup mereka.

Salah satu alasan paling lazim yang pernah saya dengar dari orang lain untuk membenarkan dosa mereka ialah, "Tuhan ingin saya bahagia, dan itu akan membuat saya bahagia." Namun, Tuhan tidak akan pernah membantah Firman-Nya sendiri. Jika Tuhan berfirman, "Jangan lakukan itu," maka Dia tidak akan pernah mengatakan "ya" lewat suatu perasaan. Saya tak peduli seberapa baik perasaan itu—ketika Anda mendengarkan perasaan Anda, alih-alih Firman Tuhan, Anda sedang berjalan masuk ke dalam perangkap.

Tuhan ingin Anda menjadi kudus lebih dari Dia menginginkan Anda menjadi bahagia. Dia ingin Anda taat pada-Nya. Sejujurnya, Anda tidak akan pernah menjadi bahagia seutuhnya ketika Anda mengabaikan kehendak Tuhan. Bahkan jika Anda demikian, Anda sedang menuju kepada kehancuran. Aturan dan prinsip dalam Alkitab bukan dibuat untuk membuat hidup kita sengsara. Itu diciptakan untuk kebaikan kita sendiri.

Renungkan hal ini:

- Masalah-masalah apa yang mungkin terjadi ketika kita mencoba menyalahkan orang lain?

- Mengapa kehendak Tuhan di mana Dia ingin kita menjadi kudus lebih dari Dia menginginkan kita bahagia, sangatlah penting?

- Kapan perasaan-perasaan Anda mengaburkan penilaian Anda tentang mengambil keputusan penting? Apa konsekuensi yang pernah Anda hadapi karena pilihan Anda tersebut?

Bacaan Alkitab Setahun :
Mazmur 149-150; I Korintus 16
_____________
Orang-orang paling bahagia di dunia ini ialah mereka yang berpegang teguh pada Firman Tuhan dan menaatinya, terlepas dari apa pun yang dikatakan oleh perasaan mereka.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
==========
Choose Holiness over Happiness
By Rick Warren

"We are tempted when we are drawn away and trapped by our own evil desires. Then our evil desires conceive and give birth to sin; and sin, when it is full-grown, gives birth to death." James 1:14-15 (GNT)
--------------------
Today we live in an age of irresponsibility, where few people want to admit that their problems are their own fault. We've become a victim culture. I'm speaking generally, but it seems like people never think a problem is their fault; somebody else is always to blame.

We blame others. We blame the government and the media. We blame our parents and our DNA. We blame our schools and the environment—everything but ourselves.

The truth is, we bring most of our problems on ourselves. We just need to accept responsibility and quit blaming others. Every time we blame somebody else, we're not admitting what the real problem is.

If you're facing temptation right now, you're never going to find freedom until you stop fixing the blame and start fixing the problem. Stop blaming other people! Even when other people have hurt you, it's your reaction that's causing the problem.

It's amazing to me that some people even try to blame God for the messes in their lives.

One of the most common excuses I've heard to justify a multitude of sins is, "God wants me to be happy, and this will make me happy."

But God's will never contradicts God's Word. If God says, "Don't do that" in the Bible, he will never tell you "yes" through a feeling. I don't care how good the feeling is—when you listen to your feelings instead of God's Word, you're walking straight into a trap.

God wants you to be holy more than he wants you to be happy. He wants you to obey him. And the truth is, you will never be totally happy when you ignore God's will. In fact, you're heading for destruction when you do that. The rules and principles in the Bible are not there to make life miserable. They're there for our own good.

The happiest people in the world are those who hang on to what God says and follow it, regardless of what their feelings are telling them to do.


Hamba-Mu Mendengar

Seandainya radio nirkabelnya menyala, mereka pasti tahu bahwa kapal Titanic sedang tenggelam. Cyril Evans, operator radio di kapal lain, sudah mencoba mengirimkan pesan kepada Jack Phillips, operator radio di atas kapal Titanic untuk memberi tahu mereka akan adanya gunung es di perairan tersebut. Namun, saat itu Phillips sedang sibuk mengirimkan pesan-pesan dari para penumpang dan dengan kasar menyuruh Evans untuk diam. Dengan berat hati, Evans pun mematikan radionya dan tidur. Sepuluh menit kemudian, kapal Titanic menghantam gunung es. Sinyal minta tolong yang mereka pancarkan tidak dijawab karena tidak ada lagi yang mendengar.

Dalam 1 Samuel kita membaca bagaimana para imam Israel penuh dengan kejahatan dan telah kehilangan penglihatan serta pendengaran rohani mereka sementara bangsa mereka terus melangkah menuju bahaya. "Pada masa itu firman Tuhan jarang; penglihatan-penglihatanpun tidak sering" (1 Sam. 3:1). Namun, Allah tidak pernah meninggalkan umat-Nya. Dia mulai berbicara kepada seorang anak muda bernama Samuel yang dibesarkan dalam rumah seorang imam. Nama Samuel berarti "Tuhan mendengar"—nama yang diberikan untuk mengenang bagaimana Allah menjawab doa ibunya. Namun, Samuel masih perlu belajar untuk mendengar perkataan Allah.

"Berbicaralah, sebab hamba-Mu ini mendengar" (1 Sam. 3:10). Saudaraku, hanya hamba yang mendengar. Kiranya kita juga memilih untuk mendengar dan menaati apa yang telah Allah nyatakan dalam Kitab Suci. Serahkanlah hidup kita kepada-Nya dan bersikaplah sebagai hamba yang rendah hati—yang membiarkan "radio"-nya terus menyala.
"Lalu datanglah Tuhan, berdiri di sana dan memanggil seperti yang sudah-sudah: 'Samuel! Samuel!' Dan Samuel menjawab: 'Berbicaralah, sebab hamba-Mu ini mendengar.'" (1 Sam. 3:10)
Bac: 1 Sam. 3:1-10
(Gbu!)

Kamis, 05 September 2024

Menabur Kemurahan Hati, Menuai Kemurahan Hati

06 September 2024

Bacaan Hari ini:
2 Korintus 9: 6-7 "Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga. Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita".
------------------------
Prinsip tabur tuai itu berlaku untuk setiap bidang kehidupan, bukan hanya dalam hal finansial. Apa pun yang Anda tabur dalam hidup, itulah yang akan Anda tuai. Apa pun yang Anda dermakan, itulah yang akan kembali kepada Anda. Jika Anda menabur kritik dalam hidup, maka Anda akan menuai kritik. Jika Anda menabur kebaikan, maka Anda akan menuai kebaikan. Itulah hukum tabur tuai. Jika Anda menanam biji apel, Anda tidak akan menghasilkan buah pir; Anda menghasilkan buah apel. Jika Anda menabur kemurahan hati, maka Anda akan menuai kemurahan hati.

Inilah prinsipnya: Setiap kali Anda membutuhkan, menaburlah. Ketika seorang petani melihat ladangnya yang tandus, dia tidak mengeluh. Dia akan mulai menanam. Jika dia hanya memiliki sedikit benih, dia punya pilihan. Dia bisa menimbunnya, atau sebaliknya berbagi dengan petani lain. Jika dia menggunakan semuanya, maka hanya itu yang akan ia tabur. Tapi jika dia berbagi, maka Tuhan akan melipatgandakannya. Inilah yang paling menakjubkan: Anda bukan hanya menuai apa yang Anda tabur, Anda akan selalu menuai lebih banyak dari yang Anda tabur!

Tuhan mengaturnya seperti itu sebab Dia ingin Anda menjadi seperti Dia. Allah senang memberi. Satu-satunya cara agar Anda semakin serupa dengan Dia ialah dengan belajar bermurah hati. Ketika Anda pelit, Anda serupa seperti Iblis. Ketika Anda bermurah hati, Anda serupa seperti Tuhan.

Mungkin ini terdengar tidak masuk akal–-bermurah hatilah ketika Anda membutuhkan supaya Anda diberkati lebih. Itulah mengapa Anda membutuhkan iman! Allah berfirman bahwa cara Anda mendapat berkat ialah dengan memberi, bukan malah menimbunnya.

Renungkan hal ini:

- Kapan Anda pernah menerima berkat dari Tuhan dan dari orang lain lebih banyak dari yang Anda beri?

- Bagaimana selama ini Anda memutuskan apa yang harus Anda beri?

- Saat ini, apa yang Anda butuhkan dalam kehidupan? Bagaimana Anda dapat membagikannya dengan orang lain?

Bacaan Alkitab Setahun :
Mazmur 146-148; I Korintus 15:12-58
____________
Bila Anda memberi, Tuhan akan melipatgandakannya.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
=========
If You Sow Generosity, You Will Reap Generosity
By Rick Warren

"Remember this: Whoever sows sparingly will also reap sparingly, and whoever sows generously will also reap generously. Each of you should give what you have decided in your heart to give, not reluctantly or under compulsion, for God loves a cheerful giver." 2 Corinthians 9:6-7 (NIV)
-------------------
The principle of sowing and reaping applies to every area of life, not just your finances. Whatever you sow in life, you're going to reap. Whatever you deposit is going to be returned to you.

If you sow criticism in life, you are going to reap criticism from other people. If you sow kindness, you're going to reap kindness. It's the law of the harvest. If you plant apple seeds, you don't get pears; you get apples. If you sow with generosity, you will reap generosity.

The Bible teaches about sowing and reaping in 2 Corinthians 9:6-7, "Remember this: Whoever sows sparingly will also reap sparingly, and whoever sows generously will also reap generously. Each of you should give what you have decided in your heart to give, not reluctantly or under compulsion, for God loves a cheerful giver" (NIV).

This is the principle of the harvest: Whenever you have a need, plant a seed. When a farmer looks at his barren fields, he doesn't gripe about it. He goes out and starts planting seed.

If he only has a little bit of seed, he has a choice. He can either hoard it or give it away. If he holds on to it, that's all he's got. If he gives it away, God will multiply it. The amazing thing is this: You don't just reap what you sow. You always reap more than you sow!

God set it up this way because he wants you to become like him. God is a giver. The only way you're ever going to become like him is to learn to be generous. When you're stingy, you're like the devil. When you're generous, you're like God. When you give it away, God multiplies it.

This sounds illogical—to give away when you have a need. But that's why it requires faith! God says the way you get is by giving, not by holding on.


Rabu, 04 September 2024

Memegang Berkat Tuhan dengan Tangan Terbuka

05 September 2024

Bacaan Hari ini:
1 Timotius 6: 6-7 "Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar. Sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kitapun tidak dapat membawa apa-apa ke luar."
-----------------
Tuhan lebih tertarik dengan karakter Anda daripada kenyamanan Anda. Dia tidak akan memberkati Anda dengan banyak hal apabila Anda belum belajar tentang prinsip kepuasan terlebih dahulu.

Kepuasan bukanlah tentang kekurangan ambisi. Itu juga bukan tentang kekurangan cita-cita. Kepuasan berarti kebahagiaan Anda tidak bergantung pada keadaan Anda.

Bagaimana caranya melenyapkan ketidakpuasan? Singkirkanlah penyebabnya: membandingkan. Kita membandingkan segala macam hal yang ada di Bumi ini — rumah kita, mobil kita, pasangan kita, pakaian kita, pendidikan anak-anak kita (bahkan ada yang memasang stiker "Anak Saya Murid Teladan Bulan ini" di kaca belakang mobil).

Setiap kali Anda membandingkan diri Anda dengan orang lain, semakin tidak puas Anda. Oleh sebab itulah, Anda harus belajar untuk berhenti membandingkan diri Anda dengan orang lain.

Paulus berkata dalam Filipi 4:12, "Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan." Menjadi puas tidak muncul begitu saja; itu adalah sesuatu yang harus kita pelajari. Jika kita mampu berpuas diri, maka Tuhan berjanji akan memenuhi semua kebutuhan keuangan kita.

Alkitab berkata, "Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar. Sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kitapun tidak dapat membawa apa-apa ke luar" (1 Timotius 6: 6-7). Salah satu rahasia terbesar dalam belajar untuk menjadi puas yaitu dengan memahami sepenuhnya bahwa Anda tidak memiliki apa pun di Bumi ini. Selama ini semuanya itu dipinjamkan kepada Anda! Anda tidak membawa satu hal pun ke dunia ini, dan Anda juga tidak akan membawa serta apa pun dari dunia ini. Jadi, pergunakanlah ketika Anda berada di muka bumi ini.

Alkitab menyebutnya sebagai pelayanan. Anda adalah manajer atau pelayan dari apa yang Tuhan izinkan untuk Anda miliki ketika Anda di dunia, tetapi itu bukan milik Anda. Ketika Anda mengerti bahwa Anda hanyalah manajer dari berkat yang Tuhan izinkan ada dalam hidup Anda dan Anda memegangnya dengan tangan terbuka, maka Anda tidak perlu gelisah jika kehilangan itu semua.

Lalu, bagaimana jika Anda kehilangan banyak hal? Tuhan dapat menutup satu keran dan menyalakan keran lainnya dengan mudah.

Renungkan hal ini:

- Singkat kata, apa artinya memegang berkat Tuhan dengan tangan terbuka?

- Tetapkanlah tujuan Anda hari ini untuk tidak membandingkan diri Anda sendiri dengan orang lain. Di lain waktu, apa yang bisa Anda lakukan secara berbeda ketika Anda tergoda untuk membanding-bandingkan diri Anda dengan orang lain?

- Apa artinya menjadi pelayan atas sesuatu? Apa yang selama ini setia Anda layani di muka Bumi ini?

Bacaan Alkitab Setahun :
Mazmur 143-145; I Korintus 15:1-11
___________
Belajarlah untuk menjadi puas sebab hal-hal yang ada di dunia ini tidak akan bertahan selamanya. Tuhan lebih peduli dengan karakter Anda dibanding dengan kenyamanan Anda.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
==========
Hold Your Blessings with an Open Hand
By Rick Warren

"There is great gain in godliness combined with contentment, for we brought nothing into the world, so that we can take nothing out of it." 1 Timothy 6:6-7 (NRSV)
------------------
God is more interested in your character than your comfort. He's not going to give you things if you haven't learned the principle of contentment first.

Contentment is not a lack of ambition. It's not a lack of goals. Contentment means your happiness doesn't depend on your circumstances.

How do you eliminate discontentment? For one thing, stop comparing. We compare everything—clothes, houses, cars, intelligence, even husbands and wives.

Whenever you compare, you're going to feel discontentment. And so you've got to learn to stop comparing yourself to others.

Paul says in Philippians 4:12, "I know what it is to be in need, and I know what it is to have plenty. I have learned the secret of being content in any and every situation" (NIV). Contentment does not come naturally; it is something we have to learn. If we do this, God promises to meet all our financial needs.

The Bible also says, "There is great gain in godliness combined with contentment, for we brought nothing into the world, so that we can take nothing out of it" (1 Timothy 6:6-7 NRSV).

One of the greatest secrets in learning to be content is to realize that you don't really own anything. It's all on loan to you for a few decades! You didn't bring a single thing into this world, and you're not going to carry anything out of it, either. You just get to use it while you're here on earth.

The Bible calls that stewardship. You are the manager or steward of what God allows you to have while you're here, but it's not actually yours. When you understand that you're just a manager of the blessings God allows in your life and you hold them with an open hand, you won't be uptight about losing them.

So what if you lose things? God can turn off one faucet and turn on another just as easily. Learn to be content because things don't last. God is more interested in your character than your comfort.


Selasa, 03 September 2024

Lebih Baik Menjadi Miskin, tetapi Jujur

04 September 2024

Bacaan Hari ini:
Amsal 19: 1 "Lebih baik seorang miskin yang bersih kelakuannya dari pada seorang yang serong bibirnya lagi bebal."
-----------------
Amsal 16:11 mengatakan, "Timbangan dan neraca yang betul adalah kepunyaan TUHAN, segala batu timbangan di dalam pundi-pundi adalah buatan-Nya." Itu termasuk upah, gaji, dan pajak. Jika Anda ingin berkat Tuhan atas keuangan Anda, maka Anda harus jujur akan ketiga hal tersebut. Alkitab juga mengatakan, "Lebih baik seorang miskin yang bersih kelakuannya dari pada seorang yang serong bibirnya lagi bebal" (Amsal 19: 1).

Mengapa ini suatu prinsip yang penting? Karena ketika Anda menghadapi musim yang penuh tekanan finansial, godaan untuk membuang kejujuran Anda dan berbuat curang untuk memenuhi kebutuhan hidup menjadi teramat besar. Mungkin Anda menjadi curang dalam hal pembelian suatu barang. Atau mungkin juga menaikkan atau menurunkan nilai suatu barang atau properti supaya Anda membayar pajak yang lebih sedikit.

Percayalah, Anda akan selalu kalah apabila membuat pilihan-pilihan demikian. Anda akan selalu kalah dalam jangka panjang ketika Anda telah kehilangan integritas, kejujuran Anda. Sebab inilah yang akan Anda bawa ke surga: karakter Anda, bukan uang Anda.

Bunga atau keuntungan yang dihasilkan dengan cara yang tidak jujur akan mendatangkan masalah. Mengapa? Sebab jika Anda membuat rugi orang lain, maka orang lain akan membuat Anda rugi pula. Jika Anda menipu orang lain, maka Anda pun akan ditipu. Apa yang Anda tabur, itu yang akan Anda tuai.

Keputusan untuk jujur tentang keuangan Anda bukanlah keputusan satu kali untuk selamanya. Itu adalah keputusan yang harus Anda buat setiap hari. Anda akan tergoda untuk berbohong, sebab terkadang kejujuran membuat Anda rugi. Pernahkah Anda mengalaminya? Kadang menjunjung kebenaran membuat Anda buntung.

Namun, Allah berkata bahwa apabila Anda setia kepada-Nya dalam hal ini, maka Anda tidak perlu khawatir tentang kebutuhan finansial Anda.

Renungkan hal ini:

- Dalam kehidupan finansial Anda, bagaimana Anda dapat memutuskan untuk memuliakan Tuhan dengan uang Anda hari ini?

- Bagaimana selama ini Anda melihat Tuhan memberkati keputusan-keputusan sulit yang Anda ambil dalam hal keuangan?

- Mengapa dengan melakukan hal yang jujur dengan keuangan Anda seringkali merupakan pilihan yang lebih sulit?

Bacaan Alkitab Setahun :
Mazmur 140-142; I Korintus 14
____________
Tuhan tidak memberkati ketidakjujuran.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
==========
Better to Be Poor and Honest
By Rick Warren

"It is better to be poor and honest than to be foolish and tell lies." Proverbs 19:1 (NCV)
---------------
God does not bless dishonesty. Proverbs 16:11 says, "The Lord demands fairness in every business deal" (TLB). That includes wages, salaries, and taxes. If you want God's blessing on your finances, you must be honest about them.

The Bible also says, "It is better to be poor and honest than to be foolish and tell lies" (Proverbs 19:1 NCV).

Why is this an important principle? When you're going through a season of financial stress, the temptation is enormous to toss out your integrity and to cheat in order to make ends meet. It may mean you shade the truth on a sale or exaggerate or deflate the value of something. It may mean you claim a false deduction on your taxes. It may mean you agree to receive your paycheck under the table.

You always lose when you make those kinds of choices. You always lose in the long run when you lose your integrity. And that's what you are taking to heaven: your character, not your money.

Profit that is made dishonestly brings trouble with it. Why? If you rip off people, other people are going to rip you off. If you cheat others, you're going to get cheated in life. The Bible says, "Do not be deceived: God cannot be mocked. A man reaps what he sows" (Galatians 6:7 NIV).

This decision to be honest about your finances is not something you make once and for all. It's a daily decision. You're going to be tempted to lie. Sometimes honesty costs you. Have you learned that? Sometimes it costs to tell the truth on a form. If nobody's going to see the box you mark, does it really matter?

But God says that if you're faithful to him in the way you handle money, you'll never have to worry about your financial needs.


Senin, 02 September 2024

Doakan Sebelum Anda Membeli

03 September 2024

Bacaan Hari ini:
Yohanes 16:24 "Sampai sekarang kamu belum meminta sesuatupun dalam nama-Ku. Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu."
-----------------
Apakah saat ini Anda sedang mengalami masalah finansial dan sedang menantikan Tuhan untuk menolong Anda?

Allah berjanji akan memenuhi segala kebutuhan keuangan Anda. Hanya saja Dia sedang menunggu Anda untuk meminta bantuan-Nya! Allah tidak akan pernah menutup gudang berkat-Nya jika Anda mendoakan dan meminta kepada-Nya.

Salah satu alasan mengapa kita mengalami sangat sedikit mujizat dalam hidup kita yaitu karena kita tidak meminta kepada-Nya. Alih-alih menjalani hidup dengan mengandalkan Kristus, kita hidup mengandalkan kartu kredit. Ketika kita mempunyai suatu kebutuhan, alih-alih berdoa dan memintanya kepada Tuhan, bahkan sebelum kita berpikir untuk memintanya kepada Tuhan, kita langsung menggunakan kartu kredit kita. Kita lebih percaya pada kekuatan kita sendiri.

Bila Anda ingin melihat tangan Tuhan bekerja dalam hidup Anda, doakanlah itu sebelum Anda membelinya. Apakah Anda mendoakan suatu pembelanjaan yang jumlahnya besar sebelum Anda memutuskan untuk membelinya? Atau, apakah Anda langsung membelinya dengan kartu kredit Anda? Setiap kali Anda menggunakan kartu kredit tanpa mendoakannya terlebih dahulu, Anda sedang menghentikan peluang mujizat terjadi dalam hidup Anda. Sebelum Anda melakukan membeli, mengapa Anda tidak bertanya kepada Tuhan akan hal itu terlebih dahulu?

Tuhan tidak akan mengabulkan semua yang Anda minta, tetapi ada beberapa hal yang ingin Dia anugerahkan kepada Anda supaya Ia dapat melakukan mujizat dalam hidup Anda. Banyak orang tidak pernah mendapatkan jawaban finansial karena mereka tidak pernah mendoakannya secara khusus kepada Kristus.

"Sampai sekarang kamu belum meminta sesuatupun dalam nama-Ku. Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu" (Yohanes 16:24). Tahukah Anda mengapa Tuhan ingin Anda belajar meminta di dalam doa? Supaya Dia bisa memberikannya, dan supaya Anda penuh dengan sukacita. Allah adalah Bapa yang pengasih. Dia bukan raksasa yang duduk di atas langit, menunggu waktu yang tepat untuk membuat hidup Anda menderita.

Renungkan hal ini:

- Bagaimana kebiasaan berbelanja Anda dengan kehidupan doa Anda saling berjalan?

- Apa kebijakan keluarga Anda dalam hal melakukan pembelian dalam jumlah besar?

- Dalam hal apa hidup Anda mencerminkan seberapa dalam Anda memercayakan keuangan Anda kepada Tuhan?

Bacaan Alkitab Setahun :
Mazmur 137-139; I Korintus 13
___________
Tuhan ingin memberkati hidup Anda! Anda hanya perlu memintanya!

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
==========
Pray for It Before You Pay for It
By Rick Warren

"Until now you have not asked for anything in my name. Ask and you will receive, so that your joy will be the fullest possible joy." John 16:24 (NCV)
------------------
Are you in financial need and waiting for God to help?

God has promised to meet your financial needs. He's just waiting for you to ask for his help!

One of the reasons we see so few miracles in our lives is because we just don't ask for them. Instead of living a life based on Christ, we live a life based on credit. When we find ourselves in need of something, instead of stopping and asking God for it, before we even think about asking God for it, we just use that credit card. We trust credit instead of Christ.

If you want to see God work in your life, pray for it before you pay for it.

Do you pray about major purchases before you make them? Or do you just take care of it with your credit card? Every time you use that credit card before praying about it, you're short-circuiting a possible miracle in your life. Before you charge a purchase, why don't you ask God about it first?

God is not going to give you everything you pray for, but there are some things he does want to give you just to do a miracle in your life. Many people have never had a financial answer to prayer because they've never prayed specifically.

"Until now you have not asked for anything in my name. Ask and you will receive, so that your joy will be the fullest possible joy" (John 16:24 NCV). Do you know why God wants you to learn to ask for things in prayer? So he can give them, and so you'll be full of joy. God is a loving Father. He's not some miser sitting in the sky, waiting to make your life miserable.

God wants to bless your life! You just have to ask.


Minggu, 01 September 2024

Anak-Anak Anda Membutuhkan Anda untuk Menjadi Pemandu Sorak mereka

02 September 2024

Bacaan Hari ini:
1 Korintus 13: 7 "Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu."
------------------
Dunia ini begitu negatif, bahkan yang anak-anak Anda dapatkan setibanya di rumah malah hal-hal yang lebih negatif. Kolose 3:21 mengatakan, "Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya."

Apakah Anda adalah orang tua yang sulit puas? ketika anak-anak Anda mendapatkan nilai C, apakah Anda mengharapkan nilai B? Kemudian, apakah Anda mengharapkan nilai A saat mereka mendapatkan nilai B? Apakah Anda benar-benar ingin mereka menjadi seperti yang dikatakan Alkitab? Menjadi anak-anak yang tawar hati? Sesungguhnya, orang tua yang sulit puas membentuk anak-anak yang tidak percaya diri.

Jadi, bagaimana caranya membesarkan anak-anak agar mereka percaya diri? Alkitab mengatakan dalam 1 Korintus 13: 7, "Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu."

Banyak orang tua berpikir, "Jika saya memberikan yang positif sama porsinya dengan yang negatif, maka mereka akan baik-baik saja." Tidak! Anda perlu memberikan sekitar 10 pujian lebih banyak dibanding 1 perkataan Anda yang menjatuhkan mental mereka. Mengapa? Sebab yang negatiflah yang akan anak-anak Anda ingat. Jika Anda mendapatkan 10 pujian dan satu kritikan, mana yang akan Anda ingat setibanya di rumah? Jika saya mendapatkan 10 kartu yang bertuliskan, "Khotbah Anda benar-benar banyak membantu saya" dan satu kartu bertuliskan, "Anda aneh!" Menurut Anda mana yang paling terngiang-ngiang di kepala saya?

Anda harus sangat menekankan hal-hal yang positif. Mengapa? Sebab bagaimana pun juga sebagai manusia, Anda pasti akan melakukan yang negatif.

Semua anak membutuhkan seseorang yang mendukung mereka, seseorang yang menjadi pemandu sorak mereka, yang percaya pada mereka dan berkata, "Ayah yakin kamu bisa melakukannya. Ayah percaya padamu. Buat ayah, kamu anak yang hebat. Kamu yang terbaik. Ayo, terus maju! Ayah ada di belakangmu. Ayah yakin kamu akan berhasil." Anak-anak butuh kepercayaan diri yang hanya bisa diberikan oleh orang tua mereka.

Renungkan hal ini:

- Bagaimana selama ini Anda secara konsisten membangun anak-anak Anda? Dengan kata-kata? Dengan tindakan?

- Apa saja ungkapan yang paling lazim Anda gunakan kepada anak Anda? Berapa banyak yang positif? Berapa banyak yang negatif?

- Menurut Anda siapa yang anak-anak Anda jadikan sebagai pemandu sorak nomor satu mereka, dan mengapa?

Bacaan Alkitab Setahun :
Mazmur 135-136; I Korintus 12
____________
Bila Anda ingin membesarkan anak-anak yang percaya diri, Anda harus membangun mereka, bukan merobohkan mereka. Anda harus memberikan mereka lebih banyak sorak, ketimbang cemoohan.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
========
Your Kids Need You to Be Their Cheerleader
By Rick Warren

"Love patiently accepts all things. It always trusts, always hopes, and always endures." 1 Corinthians 13:7 (NCV)
-----------------
The world is already so negative—the last thing kids need when they come home is more negativity. Colossians 3:21 says, "Do not nag your children. If you are too hard to please, they may want to stop trying" (NCV).

Are you an unpleasable parent? If your kids get C's, do you want B's—only to want straight A's when they get B's? Do you really want them to give up like the Bible says they might? Unpleasable parents produce insecure children.

So how do you raise confident kids? The Bible says in 1 Corinthians 13:7, "Love patiently accepts all things. It always trusts, always hopes, and always endures" (NCV). If you want to raise confident kids, you've got to build them up more than you tear them down. You've got to give more cheers than jeers.

Many parents think, "If I balance it out and give an equal amount of positive to the negative, it will be okay." No, it doesn't work that way. You need to give about 10 praises for every negative. Why? Because the negative is what you remember. If you were to get 10 compliments and one criticism, which one would you go home and remember? If I get 10 cards that say, "Your sermon really helped me" and one that says, "You're off the wall!" which one do you think I dwell on the most?

You've got to overemphasize the positive in order to overcome the negative.

All children need somebody in their corner, somebody who's their cheerleader and believes in them and says, "I know you can do it. I believe in you. I think you're terrific. You're the best. Go for it! I'm behind you. I know you can make it." Kids need the confidence that only a parent or caregiver can give.