Jumat, 09 September 2016

Hidup Tak Berakhir Dengan Kematian

Hidup Tak Berakhir Dengan Kematian

10 September 2016

Bacaan Hari ini:
Roma 8:11 "Dan jika Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, diam di dalam kamu, maka Ia, 
~ yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, 
~ akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya, yang diam di dalam kamu."
--------------------------------------------------------
Sebagai orang percaya,
~ kita punya pengharapan
~ sebab kita akan hidup selamanya.

Kematian bukanlah akhir.

Ada rancangan yang lebih besar! 

Suatu hari, 
~ jantung Anda akan berhenti berdetak, dan itu akan menjadi akhir dari sistem tubuh Anda.

Tapi itu tidak akan menjadi akhir buat Anda.
~ Anda diciptakan menurut gambar dan rupa Allah.
~ Anda diciptakan untuk hidup selamanya, sementara yang ada di dunia ini hanya sementara.

Mengapa kita memiliki pengharapan?

Sebab betapa pun jahatnya keadaan di muka bumi ini, 
~ itu hanya untuk sementara waktu.

Kita akan menghabiskan triliunan tahun di sisi lain, di Surga, 
~ tak ada lagi kesedihan, 
~ tak ada lagi ratap tangis, 
~ tidak ada lagi sakit,
~ tidak ada lagi penderitaan.

Alkitab berkata dalam Roma 8:11, 'Dan jika Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, diam di dalam kamu, maka Ia, 
~ yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, 
~ akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya, yang diam di dalam kamu."

Sebagai seorang pendeta, saya sudah datang ke ratusan upacara pemakaman, tepatnya keluarga.

Dan saya tahu perbedaan antara orang-orang yang 
~ berpegang pada pengharapan
~ dan mereka yang tidak.

Anda bisa melihatnya di mata mereka.

Saya pernah melihat kengerian di mata orang yang tak punya pengharapan.

Mereka berpikir, 
~ "Hanya dia yang aku punya.
~ Ini sudah berakhir. 
~ Aku tidak akan pernah bisa melihatnya lagi. 
~ Sudah selesai.
~ Ini akhir dari hidupku."

Saya membandingkannya dengan ribuan orang yang menghadiri pemakaman seorang percaya.
~ Mereka tahu kematian hanya sebuah langkah transisi.
~ Mereka akan memasuki kehidupan nyata!
~ Mereka akan bersama-sama Allah di Surga.

Ini yang disebut pengharapan, 
~ karena mereka tahu mereka akan bersatu kembali suatu hari nanti.

Bagi orang beriman, kematian artinya 
~ bukan meninggalkan rumah 
~ melainkan pulang ke rumah!

Di dalam Yesus Kristus, Anda menjalani hidup yang bebas dari penghukuman.
~ Anda diampuni, terlepas dari apa pun yang telah Anda perbuat. 
~ Ini adalah hidup yang bebas dari jerat kuasa jahat.
~ Anda dibebaskan.
~ Anda bisa berubah.

Allah sedang mengubah Anda demi kebaikan sehingga Anda menjalani kehidupan yang tak berkesudahan.

Anda dapat hidup selamanya!

Renungkan hal ini:

Keselamatan di dalam Yesus Kristus memberi dampak besar bagi kekekalan hidup Anda.
Bagaimana itu seharusnya dapat mempengaruhi cara kita menjalani hidup?

Telah dibebaskan dari apakah Anda dalam hidup ini oleh keselamatan dari-Nya?

Hari ini, siapa yang dapat Anda bagi tentang pengharapan yang Anda miliki melalui Kristus?
______________________________________

Allah dapat mengubah Anda untuk kebaikan, dan Anda mengalami kehidupan yang berkemenangan

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)



Dikirim dari perangkat Samsung saya



Dikirim dari perangkat Samsung saya

Kamis, 08 September 2016

Renungan September 2016 Minggu ke-II

Renungan September 2016 Minggu ke-II

*Penantian yang Bernilai*

Kapan terakhir kali kamu merasa menyerah di tengah sebuah kesulitan?

Minggu yang lalu saya berbagi kepada anda betapa kita sering merasa diliputi kesukaran sebelum memulai melakukan sesuatu yang menantang.

Ketika kita merasakan panggilan Allah, kita berusaha mengukur tugas yang ada dan mencoba melihat rekam jejak kita.

Seringkali, kita lupa untuk menghitung bahwa Allah akan menemani kita kemanapun Dia mengirim kita, sehingga kita mengukur potensi kita dengan tidak tepat.

Tetapi apa yang terjadi bila kita sudah mengambil langkah pertama?

Mengapa kita mudah sekali kehilangan keyakinan di depan halangan?

Motivasi kita untuk melanjutkan perjuangan adalah sekuat apa kita berharap.

Mungkin saja, kita telah membangun alasan-alasan kita di atas dasar pasir dan kita tidak menyadari hal itu.

Dengan kata lain, kita tidak pede karena kita menjangkarkan harapan kita di dalam hal-hal yang keliru.

Benar demikian?

Saya telah melakukannya!
~ Tidak ada satu pun manusia yang bisa membawa harapanmu; semua kita adalah lemah dan tidak sempurna.
~ Tidak ada lingkungan yang bisa membawa harapanmu; setiap situasi di mana kita terlibat di dalamnya adalah situasi yang penuh dengan orang berdosa dan tidak di bawah control kita.
~ Kesenangan fisik yang banyak dan berbagai kepemilikkan tidak akan memuaskan kita untuk seterusnya;
~ mereka hanya untuk sementara saja,
~ mereka memberikan rasa senang tetapi tidak memuaskan hati.

Ketika anda melihat secara horizontal alasan anda untuk berjuang, kita akan melihat bahwa segala sesuatu tidak ada harapan.

Penglihatan semacam ini pasti tak terelakkan.

Perhatikan Mazmur 27:14
Nantikanlah TUHAN! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Ya, nantikanlah TUHAN!

~ Hanya ada satu tempat di mana harapan bisa ditemukan.
~ Hanya ada satu tempat bagi hati anda dan kepastian bagi jiwa anda.
~ Hanya ada satu alasan mengapa kita bangun pagi setiap hari.

Hanya ada satu sumber motivasi yang cukup kuat di tengah berbagai badai hidup di dunia yang berdosa ini.
~ Ketika harapanmu ada di dalam Tuhan,
~ ketika kita menaruh rasa aman kita di dalam-Nya,
~ dan ketika Allah menjadi alasan untuk kita berjuang sekalipun masalah itu terlihat sukar, maka anda sedang membangun hidup anda di atas sebuah dasar yang pasti dan terpercaya.

Ketika anda menunggu Tuhan, maka
~ anda menaruh harapanmu di dalam diri Dia yang menjadi sumber kekuatan untuk segala sesuatu. Hal ini adalah hal yang bijak, baik, dan benar.

Ketika kita menunggu Tuhan, maka
~ kita sedang menempatkan keamanan kita di tangan Dia yang kuasa-Nya tidak terukur.

Ketika kita menunggu Tuhan,
~ kita mendapatkan rasa nyaman di dalam Dia yang kasih-Nya tidak berbatas.

Ketika kita menunggu Tuhan,
~ kita bisa aman di dalam kenyataan bahwa Dia memerintah atas segala sesuatu.

Ketika kita menunggu Tuhan,
~ kita akan hidup dalam keyakinan karena anda tahu setiap janji-Nya benar dan amin!

Ketika kita menunggu Tuhan, maka
~ meskipun kita lemah, kita akan tetap diberkati sebab anugerah-Nya cukup.

Nantikanlah Tuhan!

Maka semuanya itu sungguh akan terjadi!
-----------------------------------------------------
REFLECTION QUESTIONS:
1. Kapan terakhir kali anda menyerah di tengah masalah?
2. Apakah anda merasakan kekecewaan karena menaruh harapan di materi, relasi, dan orang tertentu?
3. Apakah ada perubahan di dalam kehidupan pribadi anda ketika anda sungguh menantikan Tuhan?

Pikirkan 2 hal secara khusus sebagai contoh!



Dikirim dari perangkat Samsung saya



Dikirim dari perangkat Samsung saya

Biarkan Allah Memberitahu Anda Apa Yang Harus Diberikan

Biarkan Allah Memberitahu Anda Apa Yang Harus Diberikan

09 September 2016

Bacaan Hari ini:
Amsal 3:9 "Muliakanlah TUHAN dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu"
------------------------------------------------------
Anda bisa memberi
~ karena Anda punya alasan untuk melakukannya,
~ atau karena wahyu dari Tuhan.

Jika Anda ingin menjadi orang yang beriman,
~ Anda harus belajar untuk memberi atas dasar petunjuk dari Allah. 

Ketika Anda memberi karena Anda punya alasan untuk melakukannya, maka Anda cenderung berkata, 
~ "Hanya ini yang mampu saya berikan." 

Memberi atas dasar tujuan dan maksud 
~ tidak memerlukan iman secuil pun.

Memberi kerena wahyu Tuhan ialah ketika Anda berkata, 
~ "Tuhan, apa yang hendak Engkau berikan melalui hidupku? 
~ Seberapa besar Engkau ingin aku mempercayakan-Mu dalam situasi ini?"

"Muliakanlah TUHAN dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu" (Amsal 3:9)

Saya dan istri saya, Kay, telah diuji berkali-kali untuk memberi sesuatu di saat kami tidak mampu memberikannya. 
~ Salah satu kejadian yang paling dramatis yaitu ketika kami mengumpulkan uang untuk membangun kembali gedung Gereja Saddleback di tahun 1993. 
~ Kami mengadakan rapat di satu tenda, dan memutuskan untuk mengumpulkan persembahan untuk dana pembangunan. 
~ Para jemaat pun membuat komitmen untuk memberi persembahan selama selang tiga tahun.

Maka, Kay dan saya berdoa, bertanya pada Tuhan berapa yang harus kami beri.
~ Kami pun memutuskan untuk memberi persembahan dengan jumlah yang benar-benar tidak masuk akal. 
~ Malah, jumlahnya jauh melebihi apa yang kami mampu. 
~ Namun kami mempercayakan pergumulan itu pada Tuhan.

Lalu suatu hari, saya membaca 1 Tawarikh 29 tentang bagaimana 
~ orang-orang memberi sekitar $ 400 juta untuk pembangunan Bait Allah di Yerusalem. 
~ Allah berfirman pada Raja Daud untuk mengumumkan setiap persembahan yang ia beri agar semua orang tahu bahwa ia juga berkorban, sama seperti yang lain.

Tuhan berkata pada saya, 
~ "Rick, Aku ingin engkau mengumumkan jumlah persembahanmu, supaya orang lain tertantang untuk ikut memberi."

Saya benar-benar tidak ingin melakukannya karena saya pikir 
~ orang-orang akan salah paham. 

Tapi Tuhan mengatakan kepada saya untuk melakukannya, dan saya ingin 
~ Dia memberkati gereja kami, 
~ jadilah saya melaksanakannya. 

Saya berdiri di depan para jemaat saya dan berkata, 
~ "Saya tidak tahu dari mana uang itu berasal, tapi kami berdua telah berkomitmen untuk memberi $ 100.000 selama tiga tahun ke depan. 
~ Tolong saudara-saudara mendoakan saya."

Sebulan kemudian, di kala kian mendekati weekend, dimana kami harus memberi persembahan khusus itu, 
~ saya masih gigit jari. 
~ Tapi entah bagaimana, saya percaya bahwa Tuhan akan memberi kami uang itu. 

Pada hari Jumatnya, tiba-tiba saya mendapat telepon dari Zondervan Publishing Company. Mereka mengatakan, 
~ "Rick, kami ingin engkau menulis sebuah buku, judulnya The Purpose Driven Church. 
~ Kami percaya buku ini akan menjadi best seller, 
~ jadi kami akan mengirimkan kepadamu uang muka sebesar $ 150.000."

Beberapa hari kemudian, ketika saya berdiri di hadapan jemaat gereja saya, menceritakan kisah itu, 
~ seisi ruangan bersorak sukacita. 
~ Mereka melompat dan berteriak dan menari dan bernyanyi. 
~ Orang-orang menangis. 
~ Saya menangis;
~ Kay menangis. 

Itu salah satu pengalaman terbesar dalam hidup saya. 

~ Saya hampir kehilangan kesempatan itu karena saya keras kepala. 

Mungkin saya tidak akan merasakan pengalaman bagaimana Allah bisa diandalkan apabila 
~ saya tidak patuh pada wahyu yang Ia beri 
dan merahasiakan jumlah persembahan yang akan saya beri dari jemaat saya. 

Itu satu pelajaran yang tidak akan pernah saya lupakan.

"Muliakanlah TUHAN dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu." (Amsal 3:9).

Renungkan hal ini:

Apa yang memotivasi pemberian atau persembahan Anda. 
~ Apakah Anda memberi karena alasan atau karena wahyu dari Tuhan?
~ Bagaimana Tuhan memperlihatkan kepada Anda apa yang Ia ingin Anda berikan? 
~ Kekuatiran apa yang menghalangi Anda untuk memberi, ketika Anda sendiri juga sedang membutuhkan? 
_______________________________________

"Muliakanlah TUHAN dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu" (Amsal 3:9)

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)


Dikirim dari perangkat Samsung saya



Dikirim dari perangkat Samsung saya

Rabu, 07 September 2016

Iman Adalah Berterima Kasih Pada Tuhan Terlebih Dahulu

Iman Adalah Berterima Kasih Pada Tuhan Terlebih Dahulu

08 September 2016

Bacaan Hari ini:
Markus 11:24 "Karena itu Aku berkata kepadamu:
~ apa saja yang kamu minta dan doakan,
~ percayalah bahwa kamu telah menerimanya,
~ maka hal itu akan diberikan kepadamu."
----------------------------------------------------
Iman artinya bukan percaya bahwa Tuhan bisa berbuat sesuatu.

Iman artinya bukan berharap bahwa Ia akan berbuat sesuatu untuk Anda.

Tetapi, iman artinya berterima kasih pada-Nya terlebih dahulu sebelum doa Anda dijawab-Nya.

Yesus berkata, "Karena itu Aku berkata kepadamu:
~ apa saja yang kamu minta dan doakan,
~ percayalah bahwa kamu telah menerimanya,
~ maka hal itu akan diberikan kepadamu" (Markus 11:24).

Anda mungkin bertanya-tanya,
~ "Tunggu dulu!
~ Jadi artinya saya harus berterima kasih pada-Nya terlebih dahulu atas apa yang belum saya dapatkan, supaya saya bisa mendapatkannya?"
~ Ya.

Jika Anda berterima kasih pada Tuhan setelah Anda mendapatkannya,
~ itu namanya ungkapan rasa syukur.

Ketika Anda mengucapkan terima kasih sebelum doa Anda dibalas-Nya,
~ maka itu yang disebut iman.

Anggaplah, sekarang saya memberi Anda selembar cek senilai $1.000,
~ apakah Anda akan menunggu sampai Anda mencairkannya untuk berterima kasih pada saya?
~ Tidak!
~ Anda kiranya berterima kasih pada saya saat ini juga.

Tapi cek itu tidak akan menjadi milik Anda sampai Anda menguangkannya,
~ karena cek itu semacam janji dari orang lain kepada Anda.

Ketika saya memberi Anda cek itu dan Anda berucap,
~ "Terima kasih, Rick,"

artinya Anda yakin bahwa
~ saya adalah orang yang bisa dipercaya ~ saya benar-benar punya cukup uang di tabungan saya untuk Anda bisa mencairkan cek senilai seribu dolar itu.

Iman artinya berterima kasih pada Tuhan terlebih dahulu.

Pengandaian sederhananya seperti ini:
Jika Allah menyuruh Anda untuk memburu Moby Dick-paus putih berbahaya yang terkenal dalam novel Moby Dick,
~ bawalah saus tartar.
~ Percayalah, itu artinya Anda akan makan ikan goreng!

Yesus berkata, "Jadilah kepadamu menurut imanmu" (Matius 9:29)

Renungkan hal ini:

Pikirkan beberapa ungkapan yang biasa kita pakai dalam doa.

Apakah kata-kata itu mencerminkan iman kita di dalam Allah?

Apakah cara pandang dan sikap Anda akan berubah apabila Anda benar-benar percaya bahwa Allah akan memberikan segala sesuatu yang Anda minta?

Bagaimana caranya?

Hari ini, apa yang harus Anda ucapkan kepada Tuhan untuk menunjukkan ketaatan Anda pada-Nya?
______________________________
Iman artinya
~ berterima kasih pada-Nya terlebih dahulu sebelum doa Anda dijawab-Nya

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)




Dikirim dari perangkat Samsung saya

Selasa, 06 September 2016

Renungan September 2016 Minggu ke-I

Renungan September 2016 Minggu ke-I

*Saya Tidak Dapat Melakukannya*

Kapan terakhir kali anda merasa gugup atau diliputi oleh sesuatu yang membuat anda tidak dapat melakukan apa-apa?

Kapan terakhir kali kita membuka tangan kita dalam keputusasaan dan berkata, "Saya tidak dapat melakukannya!"

~ Mungkin hal itu terjadi sebelum wawancara pekerjaan atau sebuah presentasi kerja.
~Mungkin hari itu adalah pagi-pagi sebelum hari pernikahanmu.
~ Mungkin saat itu adalah saat di mana anda sedang menunggu hasil dari tes medis anda atau orang yang anda cintai.

Atau mungkin hal itu terjadi dalam keseharian hidup anda:
~ percakapan yang alot dengan pasangan anda,
~ saat yang sulit untuk mengoreksi anak-anak,
~ sebuah panggilan telepon dari rumah untuk melakukan sesuatu entah bagi istri atau anak,
~ sebuah kesempatan untuk berbagi kabar baik (injil) dengan sesamamu,
~ atau sebuah penderitaan fisik di dalam tubuh yang telah menua.

Setiap orang pasti mengalami kekuatiran didalam kehidupannya, entah besar atau kecil.

Mengapa hal ini terjadi pada kita?
~ Karena kita selalu mengukur potensi kita.

Kita sering mengukur potensi kita berdasarkan dua factor:
~ rekam jejak kita di masa lampau,
~ dan seberapa berat tugas kita di depan.

Contoh Alkitab yang paling baik adalah Daud dan Goliat.
~ Pasukan Israel mengukur dengan cermat ukuran Goliat (1Sam. 17:4-7)
~ dan Daud menghitung berdasarkan apa yang telah dilakukannya (ay. 34-36).

Lukas 14:28 mencatat kalimat Yesus,
~ Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu?

Hal ini memang sangat logis dan bijak agar kita mengukur dulu seberapa potensi kita.

Tetapi Daud memutuskan untuk melawan Goliat bukan berdasarkan pengalaman masa lalunya.

Perhatikan ayat 37 Pula kata Daud:
~ "TUHAN yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang,
~ Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu."

Kata Saul kepada Daud:
~ "Pergilah! TUHAN menyertai engkau."

Dia mengingat identitasnya sebagai anak Allah.
~ Daud tidak mengambil kredit atas kemenangan-kemenangannya atas singa dan beruang,
~ demikian juga dengan tugas mengalahkan Goliat.
~ Daud tidak membebankan dirinya sendiri.

Daud mengingat kebenaran ini:
~ ini bukanlah tugas anak untuk diselesaikan,
~ tugas anak adalah untuk mematuhi panggilan Bapa dan membiarkan Bapa menyelesaikannya.

Anda dan saya sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk menang.
~ Kita tidak memiliki kuasa untuk merubah situasi.
~ Kita tidak bisa membuat orang berespon.
~ Kita tidak bisa membuat pasangan mencintai kita.
~ Kita tidak bisa membuat anak-anak mematuhi kita.
~ Kita tidak bisa merekonsiliasi dua orang yang berkonflik.
~ Kita tidak bisa membuat sesama kita percaya kepada Allah.

Panggilan kita bukanlah untuk sukses:
~ panggilan kita adalah untuk berespon pada panggilan Allah di dalam setiap situasi, lokasi, relasi di mana Dia menempatkan kita.

Janji-Nya adalah ke mana pun kita pergi maka Dia beserta kita.
~ Dia tidak pernah memanggil kita tanpa memberikan apa yang perlu untuk sukses.
~ Allah sungguh-sungguh berkomitmen untuk memenuhi kebutuhan umat-Nya.
~ Dia sungguh-sungguh berkomitmen untuk mensukseskan kerajaan-Nya.
~ Dan karena kamu adalah anak-Nya, ke mana pun anda pergi, kehadiran-Nya dan kuasa-Nya akan menyertai.
~ Dia sungguh beserta kita senantiasa dan Dia sungguh adalah penolong yang anda perlukan.

Anda sekarang terhubung secara pribadi dengan sumber kemenangan yang sejati.

REFLECTION QUESTIONS:
1. Kapan terakhir kali anda merasa gugup?
Bagaimana anda mengukur potensi anda saat itu?
2. Apakah ada tempat tertentu di mana anda hidup dalam ketakutan lebih daripada keberanian dan harapan?
3. Daftarkan contoh-contoh nyata di mana Allah telah menjadi penolong anda dan tuliskan itu di tempat yang mudah anda lihat!



Dikirim dari perangkat Samsung saya



Dikirim dari perangkat Samsung saya

Tomy Winata Ditantang Budi Waseso!

Masuk Heboh, Tomy Winata Ditantang Budi Waseso! 

01 September 2016 21:26:35
Diperbarui: 04 September 2016 02:13:52 Dibaca : 10,909 Komentar : 80 Nilai : 46  

Kali ini Jenderal yang sedang naik daun dan bersinar karirnya, the rising star Budi Waseso yang akrab disebut Buwas, tersandung masalah dengan the Godfather from Indonesia, Tomy Winata.  

Buwas berang lantaran Tomy Winata menyuruh Propam dan Irwasum memeriksa anak buahnya gara-gara ketika Buwas masih menjabat sebagai Kabareskrim dulu memerintahkan menggeledah perusahaan milik Tomy Winata,  PT Maritim Timur Jaya di Gedung Artha Graha, Kawasan Bisnis Sudirman, Jakarta.  

Bagi Anda yang belum tahu, PT Maritim Timur Jaya ini juga pernah dihukum Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiatuti dengan mencabut surat izin kapal penangkap ikan (SIPI) dan surat izin kapal pengangkut ikan (SIKPI) lantaran melakukan penangkapan ikan secara ilegal.

PT Maritim Timur Jaya ini melakukan pelanggaran serius, yakni pencurian ikan (illegal fishing) serta tindak pidana lain.    Salah satu direkturnya PT Maritim Timur Jaya adalah David Tjioe alias A Miauw, eksekutor lapangannya Tomy Winata yang dulu menghajar Pamred Tempo Bambang Harymurti sampai babak belur gegara memuat tulisan "Ada Tomy di Tenabang" di majalah Tempo edisi Senin, 3 Maret 2003.   Kala itu Tomy Winata murka dituding TEMPO sebagai pemulung besar di Tanah Abang dan sengaja membakar pasar Tanah Abang karena telah mengajukan proposal untuk renovasi pasar Tanah Abang senilai Rp 53 miliar.  

Saat ini 27  mantan anak buahnya Buwas diperiksa Irwasum dan Propam Mabes Polri. Mereka diadukan oleh Tomy Winata. Ada yang dipecat, ada yang dibatalkan sekolah mereka untuk jenjang karir mereka di Institusi Bahayangkara.  

Buwas yang pernah bertugas selama delapan setengah tahun di Propam itu marah dan menantang Propam dan Irwasum yang diperalat Tomy Winata itu, kalau berani periksa dirinya, jangan hanya berani periksa anak buahnya saja.  

Jenderal yang paling ditakuti oleh para taipan narkoba baik kelas dalam negeri maupun kelas Internasional itu juga menantang kalau berani copot saja jabatannya, jangan hanya berani sama anak buahnya saja yang dihukum, dipecat, bahkan sampai ada yang dibatalkan sekolah mereka lantaran aduannya si Tomy Winata itu.  

"Saya bukan banci, saya yang tanggung jawab, bukan mereka. Negara kita ini negara hukum. Saya siap dicopot kalau saya salah!", tantang Buwas.   Pada bulan kedelapan ditahun yang ke 2015 yang lalu,
Buwas memimpin langsung penyergapan narkotika disebuah rumah mewah di Bandung Barat. Dalam penggerebekan itu ternyata bukan hanya kasus narkoba saja yang Buwas temukan, akan tetapi juga kasus lain yakni Cyber Crime dan penyalahgunaan paspor yang berkaitan dengan PT Maritim Timur Jaya di Tual, Maluku, milik Tomy Winata.  

Sekali tepuk, tiga nyamuk lengket di tangan Buwas, Narkoba, Cyber Crime, dan Penyalahgunaan Paspor. Dan yang bikin Buwas emosi, ketiga kasus itu sudah selesai, sudah inkrar di pengadilan, tapi kini dibikin ribut lagi sama Tomy Winata. Mungkin Tomy Winata dendam kali ya.   "Ada media yang menulis Tomy Winata dikerjai Polisi.

Saya bilang, dikerjai seperti apa? Polisi itu lembaga. Siapa yang mengerjai? Kenapa tidak bilang dikerjai Buwas sekalian. Biar jelas!", ujar Buwas tanpa basa-basi.   Yang lebih konyol lagi malah ada anak buahnya Buwas yang djpanggil menghadap Menko Polhukam.

Ini yang bikin Buwas naik darah. Apa urusannya Menko Polhukam dengan penegakan hukum?   Disinilah letak kehebatannya Tomy Winata, sampai-sampai seorang pejabat negara sekelas Menko Polhukam pun turun tangan.

Mana ada pengusaha swasta yang bisa menyuruh seorang Menko Polhukam menangani kasusnya selain Tomy Winata? Taipan sekaliber James Riady pun masih jauh dibawah Tomy Winata.  

Ya siapa sih yang tak kenal si Tomy Winata itu, the untouchable yang punya gurita bisnis di negeri zamrud khatulistiwa ini. Kenalannya pun dari RI 1 sampai RI 1000. Namun kali ini Tomy Winata kena batunya berhadapan dengan Jenderal kepala batu yang nekat dan bernyali tinggi.  

Buwas ini orangnya tak perduli siapapun yang dia hadapi, ia libas tanpa ampun demi penegakkan hukum di negeri ini. Sama Jenderal lain boleh saja Tomy Winata bikin lintang pukang tak tentu arah, tapi sama Buwas jangan coba-coba.  

Atasannya saja, Susno Duadji, ia bekuk tanpa banyak cingcong di Bandara Soetta ketika hendak ngacir ke Singapura, apalagi ini hanya sekelas pengusaha swasta yang secara kebetulan kenal baik dan dekat dengan para petinggi Polri dan militer di negeri ini. 

"Sudahlah, kita masih punya harga diri dan wibawa. Dunia ini terus berputar. Saya jadi Kabareskrim, saya diganti, saya bangga. Kenapa? Karena saya tidak mencederai institusi!", tandas Buwas tanpa basa-basi.   Buwas kok dilawan. Kita tunggu saja kedepannya kasus ini bagaimana dan sejauh mana kehebatan Tomy Winata itu berhadapan dengan Jenderal kepala batu bernyali tinggi sekaliber Buwas.  

Hasil akhirnya hanya dua, kalau bukan Buwas yang tumbang, maka Tomy Winata yang terkapar KO.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/mawalu2/heboh-tomy-winata-ditantang-budi-waseso_57c839f1d89373a0751ed06d

Dikirim dari perangkat Samsung saya

Ucapkan Dengan Iman

Ucapkan Dengan Iman

07 September 2016

Bacaan Hari ini:
Roma 4:17 "Seperti ada tertulis: 'Engkau telah Kutetapkan menjadi bapa banyak bangsa' -- di hadapan Allah yang kepada-Nya ia percaya, yaitu Allah yang menghidupkan orang mati dan yang menjadikan dengan firman-Nya apa yang tidak ada menjadi ada."
-----------------------------------------------
Ada kuasa besar dalam kata-kata yang Anda ucapkan.

Jika Anda ingin menjadi orang yang hidup dengan iman,
~ Anda harus mengubah cara Anda berbicara.
~ Anda harus memperkatakannya agar itu terwujud nyata.

Terkadang, berbicara dengan iman terlihat benar-benar
~ konyol,
~ arogan,
~ dan benar-benar berbeda dengan realita yang mana kerap tidak dimengerti oleh orang yang tak paham tentang iman.

Abraham tahu tentang hal ini.

Suatu hari Allah mendatangi Abram, dan berkata,
~ "Karena itu namamu bukan lagi Abram, melainkan Abraham,
~ karena engkau telah Kutetapkan menjadi bapa sejumlah besar bangsa" (Kej 17:5).

Abraham artinya "bapa dari banyak bangsa."

Tapi ada satu masalah:
~ Pada saat itu, Abraham sudah berusia 99 tahun, dan ia tidak punya anak.
~ Nama barunya itu seolah-olah satu ejekan baginya.

Tapi Allah berkata bahwa
~ kita tidak boleh hidup di dunia manusia.
~ Kita harus hidup di dunia spiritual/rohani,

dan kita melihat realita dunia seperti yang kelihatan tapi
~ seperti apa yang dapat terjadi,
~ seperti apa yang seharusnya terjadi,
~ dan seperti apa yang Allah kehendaki.

Roma 4:17 mengatakan bahwa
~ Allah "menghidupkan orang mati
~ dan yang menjadikan dengan firman-Nya apa yang tidak ada menjadi ada."

Itu yang disebut berbicara dengan iman - ~ Anda memperkatakannya supaya Anda bisa mengalaminya.

Karunia rohani utama saya adalah karunia iman.

Saya tidak berbicara seperti realita berbicara.

Saya berbicara sesuatu yang saya imani
~ dapat terjadi,
~ yang harus terjadi, sama seturut dengan kehendak Allah.

Ada banyak pendeta di luar sana,
~ beberapa dari mereka terkenal,
~ yang pelayanannya sebenarnya hanya mewartakan tentang realita dunia,
~ dan ada banyak hal di dunia ini yang sangat buruk.
~ Jadi mereka hanya mengkritik ini itu dan malah cenderung berpikiran negatif, karena memang ada banyak alasan untuk menjadi negatif.
~ Mereka membela diri, "Saya hanya mengatakan apa adanya."

Itu salah.

Ada cara yang lebih baik dalam berkata-kata,
~ yaitu dengan iman.
~ Jangan mengatakan hal yang negatif.
~ Katakan bahwa sesuatu bisa terwujud!
~ Ucapkan sesuatu tanpa harus melemahkan satu sama lain.
~ Jangan membuat orang menjadi defensif dengan Firman-Nya.

Misalnya, ketika Anda berkata pada seseorang,
~ "Kau ayah yang buruk.
~ Kau tidak menghabiskan waktumu dengan anak-anakmu, karena karirmu lebih penting,"

artinya Anda sudah melabel seseorang,
~ Anda memperkuat cap jelek atas diri mereka.

Sebaliknya, katakan,
~ "Saya melihat kau punya banyak potensi untuk menjadi sukses.
~ Jika engkau mau membiarkan Yesus Kristus mengendalikan hidupmu, kau tidak akan jadi sempurna, tapi kau bisa menjadi orang yang kudus, yang punya sifat yang dikagumi oleh anak-anakmu."

Nah, itu baru namanya jenis pembicaraan
~ yang memotivasi,
~ yang membawa perubahan!

Anda tidak perlu mengatakan apa yang semua orang bisa tahu.

Perkatakan bahwa
~ sesuatu bisa terjadi,
~ harus terjadi, sebagaimana kehendak Allah.

Perkatakanlah itu terlebih dahulu dan di dalam iman.
__________________________________
Perkatakan bahwa
~ sesuatu bisa terjadi,
~ harus terjadi, sebagaimana kehendak Allah

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)




Dikirim dari perangkat Samsung saya