Rabu, 02 Maret 2016

MENGASIHI TUHAN

MENGASIHI TUHAN:
Hidup Serupa Kristus

03 Maret 2016

Bacaan Hari ini:
1 Yohanes 3:1-10

"Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepada-Nya, menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah suci."  (1 Yohanes 3:3)
---------------------------------------------
Bukti nyata bahwa orang mengasihi Tuhan adalah memiliki kehidupan yang serupa dengan Kristus. 

Keserupaan dengan Kristus terbentuk melalui proses ketika seseorang mau membayar harga yaitu taat melakukan kehendak Tuhan. 

Inilah kunci untuk menjadi serupa dengan Kristus! 

Ada tertulis, 
"Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku."  (Yohanes 14:21a). 

Yang terpenting dalam menjalani kehidupan kekristenan itu bukan hanya sekedar
* kita rajin ke gereja setiap Minggu,
* berapa banyak ayat Alkitab yang kita hafal luar kepala,
* atau kita mampu berkhotbah dan mengajar firman Tuhan kepada orang lain,

melainkan ketaatan kepada Kristus yang menjadikan kita memiliki karakter yang sesuai dengan kehendak-Nya.

Hidup dalam ketaatan berarti mau membuang dosa. 

"Sebab itu buanglah segala sesuatu yang kotor dan kejahatan yang begitu banyak itu dan terimalah dengan lemah lembut firman yang tertanam di dalam hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamu."  (Yakobus 1:21). 

Apalah artinya tampak rajin beribadah jika kita tidak mau membuang hal-hal yang kotor dan jahat dalam diri kita? 

Itu sama artinya kita telah menipu diri sendiri. 

Jadi harga yang harus dibayar sebagai bukti kasih kita kepada Tuhan adalah hidup dalam kekudusan dan kesalehan.

"Keluarlah kamu dari antara mereka, dan pisahkanlah dirimu dari mereka, firman Tuhan, dan janganlah menjamah apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu."  (2 Korintus 6:17). 

Dunia saat ini begitu berusaha mencemarkan kita, karena itu kita harus berhati-hati supaya tidak terbawa arus yang ada.

Hidup serupa Kristus akan menghasilkan karakter-karakter seperti ini: 
"...sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah
* belas kasihan,
* kemurahan,
* kerendahan hati,
* kelemahlembutan
* dan kesabaran.

Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu,
kamu perbuat jugalah demikian.

Dan di atas semuanya itu:
kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan."  (Kolose 3:12-14).
______________________________
Tanpa ketaatan, mustahil seseorang dapat dikatakan mengasihi Tuhan!

(Disadur dari Renungan Harian Air Hidup)




Dikirim dari perangkat Samsung saya

Selasa, 01 Maret 2016

IBLIS BERDUKA ATAS NASIB KALIJODO

IBLIS BERDUKA ATAS NASIB KALIJODO

Penghuni kerajaan kegelapan berduka. Suasana berkabung benar benar terasa sepanjang minggu.

* Bukan karena ada penguasa atau anggota yang mati,
* tetapi karena salah satu markasnya sudah rata dengan tanah.

Koordinator lapangan bolak balik dipangil oleh Lucifer untuk memberikan laporan perkembangan penutupan markas yang berada di Kalijodo.

Kemarin ada rapat mendadak yang dihadiri oleh
* menteri muda urusan judi,
* menko prostitusi dan penjualan anak,
* serta dirjen keserakahan.

Rapat berfokus membahas penutupan Kalijodo.

Pemimpin tertinggi begitu marah, beberapa kali nggebrak meja.
☆ "Kalian semua pada nggak becus bekerja.
☆ Bagaimana mungkin markas yang umurnya sudah puluhan tahun bisa ditutup dan sekarang sudah rata dengan tanah.
☆ Coba kalian simak baik baik, selama ini menurut data statistik,
* sudah ada ribuan pernikahan yang berhasil kita hancurkan.
* Tidak sedikit remaja dan pemuda yang tertular HIV Aids,
* bahkan jumlah penjudi dan pemabok serta pemakai narkoba naik secara signifikan.
☆ Tetapi kenapa kalian semua tidak bisa mempertahankan keberadaan markas kita ini?"

Salah satu inteljen memberikan laporan fakta lapangan,

"Tuan Lucifer,
☆ kami semua sudah berusaha memapertahankan dengan segala macam cara.
☆ Bahkan kami sudah bekerja sama dengan manusia, namun kami tidak berdaya.
☆ Semua ini gara gara satu orang yang tidak mau kompromi.
☆ Orang ini memang sulit ditaklukan.
* Dia tidak mau disuap,
* tidak takut turun pangkat
* bahkan dia bilang tidak takut mati dalam tugas,
* kami pernah dengar sendiri dia berkata 'saya siap mati demi tugas'.
☆ Nah orang inilah yang telah meratakan markas kita."

Wajah penguasa kegelapan ini menjadi merah, mukanya tegang dan nafasnya sedikit ngos ngosan.
☆ "siapakah orang itu?".
☆ Berikan track recordnya.
☆ Sudah ribuan tahun kami melatih kalian untuk menjatuhkan
* para menteri,
* gubernur,
* bupati,
* walikota
* dan kalian sudah berhasil membuat mereka menjadi koruptor dan memasukan mereka ke penjara.
* Kenapa yang satu ini tidak bisa?"

Kali ini kepala inteljen maju kedepan menunjukan dokumen biografi Ahok yang tersimpan di ipadnya.

Suasana tambah tegang saat Lucifer bertanya,

"Siapa itu Ahok, tolong jelaskan"

Semua peserta rapatpun penasaran ingin mendengarkan penjelasan tentang siapa itu Ahok.

"Namanya Ahok,
☆ singkatan dari Anak Hoki,
☆ artinya pembawa keberuntungan.
☆ Makanya dia tidak bisa menjadi agen kita.
☆ Tujuan hidupnya jelas,
☆ landasan imannya kuat.
☆ Backingannya juga tidak tanggung tanggung.
☆ Konon tiap hari dia selalu menelpon penguasa dunia yang pernah mengalahkan kita.
☆ Dan satu ini yang tidak bisa kita kalahkan, dia bilang ke semua manusia hidupnya hanya untuk mengabdi kepada Yesus Kristus.
☆ Semboyannya,
"Hidup ini adalah Kristus dan mati adalah keuntungan"

"Gubrak...!
Lucifer membalikkan meja sambil membanting HP.

Ia meninggalkan rapat begitu saja dengan muka marah dan putus asa.

Nampaknya Lucifer masih trauma dengan nama Yesus.

Rapatpun bubar, semua kembali ke tempatnya masing masing.

Tinggal kepala inteljen yang berdiri sambil memegang ipadnya.

Dalam hati ia berkata  
* "jika semua penguasa di Indonesia seperti Ahok,
* habislah riwayat kita semua...."




Dikirim dari perangkat Samsung saya

Jakarta & Ahok

Negara Kini Hadir di Ibukota

Sekarang, warga Jakarta merasa bahwa negara baru benar-benar hadir di ibukota. Ketika warga Jakarta melewati trotoar  yang telah dibangun, jalan yang telah dicor, sungai-sungai dibersihkan dan lahan parkir dikuasai oleh Pemrov DKI, maka kehadiran negara benar-benar terasa.

Slogan "Negara tidak boleh kalah" baru benar-benar bermakna di era Ahok. Sebelumnya slogan itu tinggal slogan. Publik masih ingat bagaimana Tanah Abang, Waduk Pluit, Waduk Rio-Rio, Kampung Pulo dan tempat-tempat bantaran sungai dikuasai oleh preman dulunya. Pemerintah terlihat tak berani mengusiknya. Tetapi sekarang, satu-persatu tempat-tempat itu telah dikuasai oleh Ahok. Kekuasaan preman di ibu kota pun semakin meredup diganti dengan kekuasan Pemrov DKI yang semakin kuat unjuk gigi.

Terkait penertiban Kalijodo, publik melihat bahwa Ahok sudah benar dalam menggunakan kekuasaannya. Ia menegakkan kekuasaan negara dengan manusiawi namun dengan tegas dan keras. Mereka yang ber-KTK DKI dipindahkan ke rumah susun, yang mau pulang ke kampong dikasih ongkos. Itulah sisi manusiawinya. Sisi ketegasannya, Ahok menggunakan taktik blitzkrieg, sebuah serangan kilat yang menderu. Jika Jerman saat perang dunia ke II memakai taktik blitzkrieg untuk menguasai Eropa, maka Ahok memakai taktik itu secara terbatas di Kalijodo. Ahok dengan cepat meratakan Kalijodo dalam waktu tiga minggu. Ia menggunakan kombinasi kekuatan: media, aparat TNI-Polri, pemerintah dan masyarakat. Ahok tidak butuh waktu dua tahun seperti yang Risma butuhkan saat menggusur lokalisasi Dolly di Surabaya.

Banyak pihak yang terkejut ketika Ahok dengan secepat kilat menertibkan Kalijodo. Pihak-pihak yang membenci Ahok selalu mengaitkannya dengan politik. Namun Ahok menjawabnya dengan lugas bahwa itu bukan pencitraan. Dipicu oleh kecelakaan Fortuner di Daan Mogot yang penyebabnya berawal dari Kalijodo, Ahok pun bergerak secepat kilat membereskan sumber masalahnya. Ahok tidak menunggu korban lain berjatuhan. Taktik blitzkrieg untuk menakhlukkan Kalijodo ditempuh Ahok. Hasilnya gilang-gemilang.

Taktik menjepit Kalijodo lewat aparat telah membuat preman sekelas Daeng Aziz tak berkutik. Daeng Aziz yang disebut-sebut sebagai preman paling sangar, karena pernah menodongkan pistol kepada Kombes Krisna Murti, kini tak berkutik di tahanan. Ia menjadi tersangka pencurian listrik selama bertahun-tahun. Pun pengacara vokal Razman Nasution, tidak ubahnya seperti pengacara kemarin sore yang bingung dan tidak tahu harus berbuat apa-apa untuk membela warga Kalijodo.

Kebenaran di tangan pemimpin yang benar, lurus dan tegas seperti Ahok memang harus diakui akan selalu menang pada akhirnya. Jika seseorang pemimpin benar berusaha sekuat tenaga menegakkan kebenaran, memperjuangkan keadilan social dan kesejahteraan rakyat, maka pihak-pihak yang menyebut dirinya preman hebat, mafia tak tersentuh dan pejabat kebal hukum, tidak berkutik alias kalah. Preman Tanah Abang dan Kalijodo adalah contohnya.

Hari ini penertiban Kalijodo berlangsung dengan aman. Kalijodo pun telah rata dengan tanah. Tidak ada perlawanan dan tidak ada kericuhan seperti yang diperkirakan sebelumnya. Penertiban Kalijodo yang begitu cepat dan aman tidak lepas dari buah koordinasi dan sinergi pemerintahan Ahok yang strategis selama ini. Ahok berhasil mengendalikan wali kota, para pejabat di bawahnya termasuk Satpol PP 100 %. Tak ada lagi pejabat yang berani melakukan kongkang-lingkong dengan pengusa Kalijodo. Ahok juga menarik simpati para petinggi TNI-Polri untuk mendukung segala kebijakannya. Taktik Ahok sebelumnya yang merapat terus kepada TNI-Polri, berbuah manis. Saat menertibkan Kalijdo, tidak kurang 5.600 personil gabungan TNI, Polri dan Satpol PP terjun langsung ke Kalijdo untuk melakukan pengamanan. Itu adalah kekuatan dahsyat negara yang dihadirkan Ahok.

Kini Kalijodo telah rata dengan tanah. Kekuasaan mafia dan preman di Kalijdodo yang telah berlangsung selama puluhan tahun, kini telah diakhiri Ahok. Kalijodo tinggal kenangan terutama bagi para preman, PSK dan para pelanggannya namun tidak bagi warga Jakarta yang lain. Dalam hitungan bulan ke depan, warga Jakarta akan melihat Kalijodo yang baru seluas 4 hektar. Di sana dibangun taman yang indah yang ditata  dengan seni berkelas dunia. Kalijodo ke depan akan merupakan bagian dari brand Jakarta sebagai The world class city. Sambutlah Kalijodo yang baru dan lupakan Kalijodo yang lama.


Dikirim dari perangkat Samsung saya

Penikmat Kotbah

Penikmat Khotbah

02 Maret 2016

Bacaan Hari ini:
Filipi 4:9
Dan apa yang telah kamu pelajari dan apa yang telah kamu terima, dan apa yang telah kamu dengar dan apa yang telah kamu lihat padaku, lakukanlah itu. Maka Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kamu.
---------------------------------------------
Saya takut dengan munculnya banyak penikmat khotbah di sekitar kita.

Mungkin Anda kadang mendengar mereka berpendapat.

Mereka suka membanding-bandingkan pendeta:

"Kalau saya suka pendeta ini.
Dia bagus dalam hal ini,
tapi kurang dalam hal lain.
Nah, kalau pendeta yang ini..."

Tapi ini bukan kompetisi band musik;
ini Firman Tuhan.

Kita harus menerima apa yang Allah katakan dan kemudian menerapkannya dalam hidup kita.

Apabila kita melakukannya,
kita akan mampu menahan godaan dan ujian kehidupan.

Namun apabila sebaliknya,
kita akan roboh seperti rumah kartu.

Yesus berfirman,
Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya,
ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu (Matius 7:24-25).

Kita bisa ikut studi Alkitab sepanjang minggu,

tapi itu tidak akan memberi kita manfaat apabila kita tidak menerapkan apa yang telah kita pelajari.

Alkitab mengajarkan agar kita tidak hanya menjadi pendengar Firman,

tetapi sebagai pelaku Firman.

Dan jika kita hanya menjadi seorang pendengar,
maka kita sama saja seperti orang-orang yang melihat diri mereka sendiri di cermin,
lalu lupa dengan tampang mereka sendiri
(lihat Yakobus 1:22-24).

Apa yang ingin Anda lakukan dengan Firman Tuhan adalah terserah Anda.
* Entah Anda akan mengaplikasikannya atau tidak, pilihan ada di tangan Anda.
* Entah Anda akan memutuskan untuk mengisi pikiran Anda dengan sampah, atau memutuskan untuk menjaga pikiran Anda dan mengisinya dengan Firman Tuhan dan membuat keputusan yang tepat untuk hidup benar,
itu semua terserah Anda.
_________________________________
Berdoalah agar Allah memberi Anda kekuatan untuk menjalani kehidupan ini sebagaimana Dia telah memanggil Anda untuk hidup.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Greg Laurie)




Dikirim dari perangkat Samsung saya

MASALAH KESEHATAN (3)

MASALAH KESEHATAN (3)
Dr. Paulus Adrian
Kadipiro, Yogyakarta

"Kejadian itu juga yang menjadikan saya yakin ketika operasi jantung dulu."

"Lhoh, njenengan pernah Pak?"

"Iya.
Dulu saya operasi bedah jantung di Jakarta. Pembuluhnya sudah rusak. Saya ditawari pasang ring.

Saya nggak mau. Akhirnya diambillah pembuluh dari kaki untuk dipasang di jantung.

Saat itu saya yakin betul sembuh cepat. Maka dalam waktu empat hari pasca operasi, saya sudah balik ke Jogja, bahkan dari bandara ke sini saya nyetir sendiri.
Padahal umumnya minimal dua minggu baru bisa pulang.
Orang yang masuk operasi yang sama bareng saya baru bisa pulang setelah dua bulan."

Pak Paulus mengisahkan pengalamannya ini dengan mata berbinar. Semangatnya meluap-luap hingga menular ke pasiennya ini.

Jujur saja, penjelasan yang ia paparkan meningkatkan harapan sembuhku dengan begitu drastis.

Persis ketika dua tahun lalu pada saat ngobrol dengan Bu Anung tentang pola makan dan kesehatan.

Semangat menjadi kembali segar!

"Tapi ya nggak cuma pasrah terus nggak mau usaha.
Saya juga punya kenalan dokter," lanjutnya,
"Dulu tugas di Bethesda, aslinya Jakarta, lalu pindah mukim di Tennessee, Amerika.

Di sana dia kena kanker stadium empat. Setelah divonis mati dua bulan lagi, dia akhirnya pasrah dan pasang mental siap mati kapanpun.

Hingga suatu hari dia jalan-jalan ke perpustakaan, dia baca-baca buku tentang Afrika.
Lalu muncul rasa penasaran, kira-kira gimana kasus kanker di Afrika.
Dia cari-cari referensi tentang itu, nggak ketemu. Akhirnya dia hubungi kawannya, seorang dokter di Afrika Tengah.

Kawannya itu nggak bisa jawab.
Lalu dihubungkan langsung ke kementerian kesehatan sana. Dari kementerian, dia dapat jawaban mengherankan, bahwa di sana nggak ada kasus kanker.
Nah dia pun kaget, tambah penasaran."

Pak Paulus jeda sejenak. Aku masih menatapnya penuh penasaran juga, "Lanjut, Pak," benakku.

"Beberapa hari kemudian dia berangkat ke Afrika Tengah.
Di sana dia meneliti kebiasaan hidup orang-orang pribumi.

Apa yang dia temukan?
Orang-orang di sana makannya sangat sehat.
Yaitu sayur-sayuran mentah, dilalap, nggak dimasak kayak kita.

Sepiring porsi makan itu tiga perempatnya sayuran, sisanya yang seperempat untuk menu karbohidrat. Selain itu, sayur yang dimakan ditanam dengan media yang organik. Pupuknya organik pake kotoran hewan dan sisa-sisa tumbuhan.

Jadi ya betul-betul sehat.
Nggak kayak kita, sudah pupuknya pakai yang berbahaya, eh pakai dimasak pula. Serba salah kita.

Bahkan beras merah dan hitam yang sehat-sehat itu, kita nggak mau makan.
Malah kita jadikan pakan burung, ya jadinya burung itu yang sehat, kitanya sakit-sakitan."

Keterangan ini mengingatkanku pada obrolan dengan Bu Anung tentang sayur mayur, menu makanan serasi, hingga beras sehat. Pas sekali.

"Nah dia yang awalnya hanya ingin tahu, akhirnya ikut-ikutan.

Dia tinggal di sana selama tiga mingguan dan menalani pola makan seperti orang-orang Afrika itu."

"Hasilnya, Pak?"

"Setelah tiga minggu, dia kembali ke Tennessee.

Dia mulai menanam sayur mayur di lahan sempit dengan cara alami.
Lalu beberapa bulan kemudian dia check-up medis lagi untuk periksa kankernya,"

"Sembuh, Pak?"

"Ya! Pemeriksaan menunjukkan kankernya hilang.
Kondisi fisiknya berangsur-angsur membaik. Ini buki bahwa keyakinan yang kuat, kepasrahan kepada Tuhan, itu energi yang luar biasa.

Apalagi ditambah dengan usaha yang logis dan sesuai dengan fitrah tubuh.

Makanya situ nggak usah cemas, nggak usah takut.."

Takjub, tentu saja.

Pada momen ini Pak Paulus menghujaniku dengan pengalaman-pengalamannya di dunia kedokteran, tentang kisah-kisah para pasien yang punya optimisme dan pasien yang pesimis.

Aku jadi teringat kisah serupa yang menimpa alumni Madrasah Huffadh Al-Munawwir, pesantren tempatku belajar saat ini.

Singkatnya, santri ini mengidap tumor ganas yang bisa berpindah-pindah benjolannya.

Ia divonis dokter hanya mampu bertahan hidup dua bulan.

Terkejut atas vonis ini, ia misuh-misuh di depan dokter saat itu.
Namun pada akhirnya ia mampu menerima kenyataan itu.

Ia pun bertekad menyongsong maut dengan percaya diri dan ibadah. Ia sowan ke Romo Kiai, menyampaikan maksudnya itu.

Kemudian oleh Romo Kiai, santri ini diijazahi (diberi rekomendasi amalan)
Riyadhoh Qur'an, yakni amalan membaca Al-Quran tanpa henti selama empat puluh hari penuh, kecuali untuk memenuhi hajat dan kewajiban primer.

Riyadhoh pun dimulai.
Ia lalui hari-hari dengan membaca Al-Quran tanpa henti.

Persis di pojokan aula Madrasah Huffadh yang sekarang.

Karena merasa begitu dingin, ia jadikan karpet sebagai selimut.

Hari ke tiga puluh, ia sering muntah-muntah, keringatnya pun sudah begitu bau.

Bacin, mirip bangkai tikus, kenang narasumber yang menceritakan kisah ini padaku. Hari ke tiga puluh lima, tubuhnya sudah nampak lebih segar, dan ajaibnya; benjolan tumornya sudah hilang.

Selepas rampung riyadhoh empat puluh hari itu, dia kembali periksa ke rumah sakit di mana ia divonis mati.

Pihak rumah sakit pun heran.
Penyakit pemuda itu sudah hilang, bersih, dan menunjukkan kondisi vital yang sangat sehat!

Aku pribadi sangat percaya bahwa gelombang yang diciptakan oleh ritual ibadah bisa mewujudkan energi positif bagi fisik.

Khususnya energi penyembuhan bagi mereka yang sakit.

Memang tidak mudah untuk sampai ke frekuensi itu, namun harus sering dilatih. Hal ini diiyakan oleh Pak Paulus.

"Untuk melatih pikiran biar bisa tenang itu cukup dengan pernapasan.

Situ tarik napas lewat hidung dalam-dalam selama lima detik, kemudian tahan selama tiga detik. Lalu hembuskan lewat mulut sampai tuntas. Lakukan tujuh kali setiap sebelum Shubuh dan sebelum Maghrib.

Itu sangat efektif. Kalau orang pencak, ditahannya bisa sampai tuuh detik.
Tapi kalau untuk kesehatan ya cukup tiga detik saja."

Nah, anjuran yang ini sudah kupraktekkan sejak lama.

Meskipun dengan tata laksana yang sedikit berbeda.

Terutama untuk mengatasi insomnia. Memang ampuh. Yakni metode empat-tujuh-delapan.

Ketika merasa susah tidur alias insomnia, itu pengaruh pikiran yang masih terganggu berbagai hal.

Maka pikiran perlu ditenangkan, yakni dengan pernapasan.
Tak perlu obat, bius, atau sejenisnya, murah meriah.

Pertama, tarik napas lewat hidung sampai detik ke empat, lalu tahan sampai detik ke tujuh, lalu hembuskan lewat mulut pada detik ke delapan. Ulangi sebanyak empat sampai lima kali.

Memang iya mata kita tidak langsung terpejam ngantuk, tapi pikiran menjadi rileks dan beberapa menit kemudian tanpa terasa kita sudah terlelap.
Awalnya aku juga agak ragu, tapi begitu kucoba, ternyata memang ampuh. Bahkan bagi yang mengalami insomnia sebab rindu akut sekalipun.

"Gelombang yang dikeluarkan oleh otak itu punya energi sendiri, dan itu bergantung dari seberapa yakin tekad kita dan seberapa kuat konsentrasi kita," terangnya,


"Jadi kalau situ sholat dua menit saja dengan khusyuk, itu sinyalnya lebih bagus ketimbang situ sholat sejam tapi pikiran situ kemana-mana, hehehe."

Duh, terang saja aku tersindir di kalimat ini.

"Termasuk dalam hal ini adalah keampuhan sholat malam.

Sholat tahajud. Itu ketika kamu baru bangun di akhir malam, gelombang otak itu pada frekuensi Alpha. Jauh lebih kuat daripada gelombang Beta yang terjadi pada waktu Isya atau Shubuh.
Jadi ya logis saja kalau doa di saat tahajud itu begitu cepat 'naik' dan terkabul. Apa yang diminta, itulah yang diundang.
Ketika tekad situ begitu kuat, ditambah lagi gelombang otak yang lagi kuat-kuatnya, maka sangat besar potensi terwujud doa-doa situ."

Tak kusangka Pak Paulus bakal menyinggung perihal sholat segala.
Aku pun ternganga. Ia menunjukkan sampul buku tentang 'enzim panjang umur'.

"Tubuh kita ini, Mas, diberi kemampuan oleh Allah unuk meregenerasi sel-sel yang rusak dengan bantuan enzim tertentu, populer disebut dengan enzim panjang umur.
Secara berkala sel-sel baru terbentuk, dan yang lama dibuang.
Ketika pikiran kita positif untuk sembuh, maka yang dibuang pun sel-sel yang terkena penyakit.
Menurut penelitian, enzim ini bisa bekerja dengan baik bagi mereka yang sering merasakan lapar dalam tiga sampai empat hari sekali."

Pak Paulus menatapku, seakan mengharapkan agar aku menyimpulkan sendiri.

"Puasa?"

"Ya!"

"Senin-Kamis?"

"Tepat sekali! Ketika puasa itu regenerasi sel berlangsung dengan optimal.

Makanya orang puasa sebulan itu juga harusnya bisa jadi detoksifikasi yang ampuh terhadap berbagai penyakit."

Lagi-lagi, aku manggut-manggut.

Tak asing dengan teori ini.

"Pokoknya situ harus merangsang tubuh agar bisa menyembuhkan diri sendiri.

Jangan ketergantungan dengan obat. Suplemen yang nggak perlu-perlu amat, nggak usahlah.
Minum yang banyak, sehari dua liter, bisa lebih kalau situ banyak berkeringat, ya tergantung kebutuhan.

Tertawalah yang lepas, bergembira, nonton film lucu tiap hari juga bisa merangsang produksi endorphin, hormon kebahagiaan. Itu akan sangat mempercepat kesembuhan.

Penyakit apapun itu!
Situ punya radang usus kalau cemas dan khawatir terus ya susah sembuhnya.

Termasuk asam lambung yang sering kerasa panas di dada itu."

Terus kusimak baik-baik anjurannya sambil mengelus perut yang tak lagi terasa begah. Aneh.

"Tentu saja seperti yang saya sarankan, situ harus teratur makan, biar asam lambung bisa teratur juga.

Bangun tidur minum air hangat dua gelas sebelum diasupi yang lain.

Ini saya kasih vitamin saja buat situ, sehari minum satu saja. Tapi ingat, yang paling utama adalah kemantapan hati, yakin, bahwa situ nggak apa-apa. Sembuh!"

Begitulah. Perkiraanku yang tadinya bakal disanguni berbagai macam jenis obat pun keliru.

Hanya dua puluh rangkai kaplet vitamin biasa, Obivit, suplemen makanan yang tak ada kaitannya dengan asam lambung apalagi GERD.

Hampir satu jam kami ngobrol di ruang praktek itu, tentu saja ini pengalaman yang tak biasa. Seperti konsultasi dokter pribadi saja rasanya.

Padahal saat keluar, kulihat masih ada dua pasien lagi yang kelihatannya sudah begitu jengah menunggu.

"Yang penting pikiran situ dikendalikan, tenang dan berbahagia saja ya," ucap Pak Paulus sambil menyalamiku ketika hendak pamit.

Dan jujur saja, aku pulang dalam keadaan bugar, sama sekali tak merasa mual, mules, dan saudara-saudaranya.
Terima kasih Pak Paulus.

Kadipiro Yogyakarta, 17 Februari


Dikirim dari perangkat Samsung saya

MASALAH KESEHATAN (2)

MASALAH KESEHATAN (2)
Dr. Paulus Adrian
Kadipiro, Yogyakarta

Kemudian ia mengambil sejilid buku di rak sebelah kanan meja kerjanya. Ya, ruang praktek dokter dengan rak buku. Keren sekali. Aku lupa judul dan penulisnya. Ia langsung membuka satu halaman dan menunjukiku beberapa baris kalimat yang sudah distabilo hijau.

"Coba baca, Mas: 'mengatakan adalah mengundang, memikirkan adalah mengundang, meyakini adalah mengundang'. Jadi kalau situ memikirkan; 'ah, kalau telat makan nanti asam lambung saya naik', apalagi berulang-ulang mengatakan dan meyakininya, ya situ berarti mengundang penyakit itu. Maka benar kata orang-orang itu bahwa perkataan bisa jadi doa. Nabi Musa itu, kalau kerasa sakit, langsung mensugesti diri; ah sembuh. Ya sembuh. Orang-orang debus itu nggak merasa sakit saat diiris-iris kan karena sudah bisa mengendalikan pikirannya. Einstein yang nemuin bom atom itu konon cuma lima persen pendayagunaan otaknya. Jadi potensi otak itu luar biasa," papar Pak Paulus.

"Jadi kalau jadwal makan sembarangan berarti sebenarnya nggak apa-apa ya, Pak?"

"Nah, itu lain lagi. Makan harus tetap teratur, ajeg, konsisten. Itu agar menjaga aktivitas asam lambung juga. Misalnya situ makan tiga kali sehari, maka jarak antara sarapan dan makan siang buatlah sama dengan jarak antara makan siang dan makan malam. Misalnya, sarapan jam enam pagi, makan siang jam dua belas siang, makan malam jam enam petang. Kalau siang, misalnya jam sebelas situ rasanya nggak sempat makan siang jam dua belas, ya niatkan saja puasa sampai sore. Jangan mengundur makan siang ke jam dua misalnya, ganti aja dengan minum air putih yang banyak. Dengan pola yang teratur, maka organ di dalam tubuh pun kerjanya teratur. Nah, pola teratur itu sudah bisa dilakukan oleh orang-orang yang puasa dengan waktu buka dan sahurnya."

"Ooo, gitu ya Pak," sahutku baru menyadari.

"Tapi ya itu tadi. Yang lebih penting adalah pikiran situ, yakin nggak apa-apa, yakin sembuh. Allah sudah menciptakan tubuh kita untuk menyembuhkan diri sendiri, ada mekanismenya, ada enzim yang bekerja di dalam tubuh untuk penyembuhan diri. Dan itu bisa diaktifkan secara optimal kalau pikiran kita optimis. Kalau situ cemas, takut, kuatir, justru imunitas situ turun dan rentan sakit juga."

Pak Paulus mengambil beberapa jilid buku lagi, tentang 'enzim kebahagiaan' endorphin, tentang enzim peremajaan, dan beberapa tema psiko-medis lain tulisan dokter-dokter Jepang dan Mesir.

"Situ juga berkali-kali divonis tipes ya?"

"Iya, Pak."

"Itu salah kaprah."

"Maksudnya?"

"Sekali orang kena bakteri thypoid penyebab tipes, maka antibodi terhadap bakteri itu bisa bertahan dua tahun. Sehingga selama dua tahun itu mestinya orang tersebut nggak kena tipes lagi. Bagi orang yang fisiknya kuat, bisa sampai lima tahun. Walaupun memang dalam tes widal hasilnya positif, tapi itu bukan tipes. Jadi selama ini banyak yang salah kaprah, setahun sampai tipes dua kali, apalagi sampai opnam. Itu biar rumah sakitnya penuh saja. Kemungkinan hanya demam biasa."

"Haah?"

"Iya Mas. Kalaupun tipes, nggak perlu dirawat di rumah sakit sebenarnya. Asalkan dia masih bisa minum, cukup istirahat di rumah dan minum obat tipes. Sembuh sudah. Dulu, pernah di RS Sardjito, saya anjurkan agar belasan pasien tipes yang nggak mampu, nggak punya asuransi, rawat jalan saja. Yang penting tetep konsumsi obat dari saya, minum yang banyak, dan tiap hari harus cek ke rumah sakit, biayanya gratis. Mereka nurut. Itu dalam waktu maksimal empat hari sudah pada sembuh. Sedangkan pasien yang dirawat inap, minimal baru bisa pulang setelah satu minggu, itupun masih lemas."

"Tapi 'kan pasien harus bedrest, Pak?"

"Ya 'kan bisa di rumah."

"Tapi kalau nggak pakai infus 'kan lemes terus Pak?"

"Nah situ nggak yakin sih.

Saya yakinkan pasien bahwa mereka bisa sembuh. Asalkan mau nurut dan berusaha seperti yang saya sarankan itu. Lagi-lagi saya bilang, kekuatan keyakinan itu luar biasa lho, Mas."

Dahiku berkernyit. Menunggu lanjutan cerita.

"Dulu," lanjut Pak Paulus,

"Ada seorang wanita kena kanker payudara. Sebelah kanannya diangkat, dioperasi di Sardjito.
Nggak lama, ternyata payudara kirinya kena juga. Karena nggak segera lapor dan dapat penanganan, kankernya merembet ke paru-paru dan jantung. Medis di Sardjito angkat tangan.

Dia divonis punya harapan hidup maksimal hanya empat bulan."

"Lalu, Pak?" tanyaku antusias.

"Lalu dia kesini ketemu saya. Bukan minta obat atau apa.
Dia cuma nanya; 'Pak Paulus, saya sudah divonis maksimal empat bulan.

Kira-kira bisa nggak kalau diundur jadi enam bulan?'

Saya heran saat itu, saya tanya kenapa.

Dia bilang bahwa enam bulan lagi anak bungsunya mau nikah, jadi pengen 'menangi' momen itu."

"Waah.. Lalu, Pak?"

"Ya saya jelaskan apa adanya. Bahwa vonis medis itu nggak seratus persen, walaupun prosentasenya sampai sembilan puluh sembilan persen,
tetap masih ada satu persen berupa kepasrahan kepada Tuhan yang bisa mengalahkan vonis medis sekalipun.
Maka saya bilang; sudah Bu, situ nggak usah mikir bakal mati empat bulan lagi.
Justru situ harus siap mental, bahwa hari ini atau besok situ siap mati.
Kapanpun mati, siap!
Begitu, situ pasrah kepada Tuhan, siap menghadap Tuhan kapanpun. Tapi harus tetap berusaha bertahan hidup."

Aku tambah melongo. Tak menyangka ada nasehat macam itu.
Kukira ia akan memotivasi si ibu agar semangat untuk sembuh, malah disuruh siap mati kapanpun.
O iya, mules mual dan berbagai sensasi ketidaknyamanan sudah tak kurasakan lagi.

"Dia mau nurut. Untuk menyiapkan mental siap mati kapanpun itu dia butuh waktu satu bulan.
Dia bilang sudah mantap, pasrah kepada Tuhan bahwa dia siap.
Dia nggak lagi mengkhawatirkan penyakit itu, sudah sangat enjoy.
Nah, saat itu saya cuma kasih satu macam obat. Itupun hanya obat anti mual biar dia tetap bisa makan dan punya energi untuk melawan kankernya.

Setelah hampir empat bulan, dia check-up lagi ke Sardjito dan di sana dokter yang meriksa geleng-geleng. Kankernya sudah berangsur-angsur hilang!"

"Orangnya masih hidup, Pak?"

"Masih. Dan itu kejadian empat belas tahun lalu."

"Wah, wah, wah.."


Dikirim dari perangkat Samsung saya

MASALAH KESEHATAN (1)


MASALAH KESEHATAN (1)

Dr. Paulus Adrian

Kadipiro, Yogyakarta

Daerah perumahan Bayeman Permai Jalan Wates KM 3 siang itu cukup lengang. Maklum jam kerja, mungkin para penghuninya sedang beraktivitas di luar. Di teras yang menjadi ruang tunggu itu hanya ada aku, kawanku Mahmud –orang yang mengantarku, dan seorang bapak pengidap vertigo dari Kulonprogo.

Kami sedang antri periksa kesehatan. Dokter yang kami kunjungi ini termasuk dokter sepuh –berusia sekitar tujuh puluhan- spesialis penyakit dalam yang sudah sangat berpengalaman. Jam sembilan pagi aku dan Mahmud berangkat dari Krapyak, dengan kondisi perut yang masih tak karuan. Sesampainya di depan rumah Dokter Paulus Adrian itu, aku muntah walau memang tak banyak. Hanya muntah basa-basi karena perut mual disiksa belasan polisi tidur di perjalanan tadi.

Sambil duduk menunggu, kuatur napas untuk mengontrol sensasi mules dan cemas yang muncul tiba-tiba. Rasa ingin buang air, sedikit mual, cemas, dan semacamnya adalah hal yang biasa kualami saat asam lambung naik. Persis seperti orang yang lagi stress atau grogi parah.

Pintu terbuka, bapak pengidap vertigo keluar sambil membawa bingkisan obatnya. Aku pun masuk. "Silakan duduk," sambut Pak Paulus. Aku duduk di depan meja kerjanya, mengamati pria sepuh berkacamata ini yang sedang sibuk menulis identitasku di kartu pasien.

"Apa yang dirasakan, Mas?"

Aku pun bercerita tentang apa yang kualami sejak 2013 hingga saat ini. Mulai dari awal merasakan sakit maag, peristiwa-peristiwa kram perut, ambruk berkali-kali, gejala dan vonis tipes, pengalaman opnam dan endoskopi, derita GERD, hingga tentang radang duodenum dan praktek tata pola makan Food Combining yang kulakoni.

"Kalau kram perutnya sudah enggak pernah lagi, Pak," ungkapku, "Tapi sensasi panas di dada ini masih kerasa, panik juga cemas, mules, mual. Kalau telat makan, maag saya kambuh. Apalagi setelah beberapa bulan tata pola makan saya amburadul lagi."

"Tapi buat puasa kuat ya?"

"Kuat, Pak."


"Orang kalau kuat puasa, harusnya nggak bisa kena maag!"

Aku terbengong, menunggu penjelasan.

"Asam lambung itu," terang Pak Paulus, "Diaktifkan oleh instruksi otak kita. Kalau otak kita bisa mengendalikan persepsi, maka asam lambung itu akan nurut sendiri. Dan itu sudah bisa dilakukan oleh orang-orang puasa."

"Maksudnya, Pak?"

"Orang puasa 'kan malamnya wajib niat to?"

"Njih, Pak."

"Nah, niat itulah yang kemudian menjadi kontrol otak atas asam lambung. Ketika situ sudah bertekad kuat besok mau puasa, besok nggak makan sejak subuh sampai maghrib, itu membuat otak menginstruksikan kepada fisik biar kuat, asam lambung pun terkendali. Ya kalau sensasi lapar memang ada, namanya juga puasa. Tapi asam lambung tidak akan naik, apalagi sampai parah. Itu syaratnya kalau situ memang malamnya sudah niat mantap. Kalau cuma di mulut bilang mau puasa tapi hatinya nggak mantap, ya tetap nggak kuat. Makanya niat itu jadi kewajiban, 'kan?"

"Iya, ya, Pak," aku manggut-manggut nyengir.

"Manusia itu, Mas, secara ilmiah memang punya tenaga cadangan hingga enam puluh hari. Maksudnya, kalau orang sehat itu bisa tetap bertahan hidup tanpa makan dalam keadaan sadar selama dua bulan. Misalnya puasa dan buka-sahurnya cuma minum sedikit. Itu kuat. Asalkan tekadnya juga kuat."

Aku melongo lagi.

"Makanya, dahulu raja-raja Jawa itu sebelum jadi raja, mereka tirakat dulu. Misalnya puasa empat puluh hari. Bukanya cuma minum air kali. Itu jaman dulu ya, waktu kalinya masih bersih. Hahaha," ia tertawa ringan, menambah rona wajahnya yang memang kelihatan masih segar meski keriput penanda usia.

Dikirim dari perangkat Samsung saya