Sabtu, 27 Februari 2016

SURAT PENGGEMBALAAN MAJELIS JEMAAT GKI - WAHID HASYM

SURAT PENGGEMBALAAN MAJELIS JEMAAT GKI
JL. KH WAHID HASYIM 180 JAKARTA

Jemaat Tuhan GKI Wahid Hasyim yang kami kasihi dalam Kristus,

LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual, and Transgender) telah menjadi perdebatan dan persoalan ditengah kehidupan masyarakat Indonesia khususnya, dan dunia pada umumnya. Kegiatan dan keberadaannya banyak diperlihatkan pada masyarakat, baik melalui pelbagai media sosial maupun media lain, serta perkumpulan-perkumpulan baik yang secara transparan menganut gaya hidup LGBT maupun yang masih sembunyi-sembunyi. Intinya, kelompok-kelompok LGBT mengharapkan masyarakat dapat menerima hak hidup, berkarya serta aktivitas mereka. Mereka membutuhkan pengakuan masyarakat bahwa mereka adalah bagian dari masyarakat yang sama secara hukum dan sosial masyarakat. 

Keberadaan LGBT telah menggelitik perdebatan pro dan kontra ditengah masyarakat Indonesia dan gereja, baik dari tafsir kitab suci, medis, psikologi, sampai ke ranah Undang-Undang Dasar Republik Indonesia. Belum lagi dengan perdebatan pro dan kontra mengenai dampak aktivitas mereka bagi generasi muda dan anak-anak. Persoalan LGBT telah membawa masyarakat Indonesia dan gereja resah. Umat sangat mengharapkan arahan serta sikap iman gereja

Menyikapi persoalan LGBT ditengah kehidupan masyarakat dan gereja, maka Majelis Jemaat GKI Wahid Hasyim dalam Persidangannya, tertanggal 21 Februari 2016, menyatakan arahan serta sikap iman GKI Wahid Hasyim:

1. Gereja adalah persekutuan umat Allah yang dipanggil keluar dari kegelapan pada terang Tuhan yang ajaib  (1 Pet.2:9 Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib). Artinya, gereja adalah orang-orang [bukan gedungnya] yang sehati, sepikiran untuk hidup dalam kebenaran Tuhan. Kebenaran Tuhan menjadi kebenarannya. Firman Tuhan menjadi kebenarannya.

2. GKI Wahid Hasyim adalah adalah gereja lokal yang terhisab pada sinode GKI. GKI adalah persekutuan umat Allah yang mengaku satu Allah, satuTuhan, dan satu baptisan [Ef.45-6]. Dan persekutuan itu dikuduskan dalam kebenaran [Yoh.17:17,19]. Dengan demikian gereja itu kudus. Persekutuan yang dikuduskan itu diutus-Nya ke dalam dunia. Maka gereja ada di dunia tetapi bukan dari dunia [pegangan ajaran mengenai gereja point 2 dan 3]. Artinya, GKI Wahid Hasyim dipanggil dan diutus ke dalam dunia untuk menyatakan kebenaran Allah, yang tertuang dalam Firman Allah.

3. Oleh karena itu GKI Wahid Hasyim menolak aktivitas dan perilaku seksual LGBT, sekarang dan seterusnya, karena bertolak-belakang dengan kebenaran Firman Allah. Alkitab hanya menyatakan bahwa manusia diciptakan Tuhan berdasar pada gambarNya, yaitu laki-laki dan perempuan [Kitab Kejadian 1: 26-27]. Artinya, Gambar Allah hanyalah laki-laki dan perempuan.

4. GKI Wahid Hasyim menolak pernikahan sejenis, sekarang dan seterusnya, karena bertolak belakang dengan kebenaran Firman Allah [Kitab Kejadian 2: 24-25, Imamat 18 ayat 22, Roma 1 : 26 - 27]. Pernikahan hanya terjadi untuk pasangan yang berbeda jenis kelamin. Dan sebagai bagian dari masyarakat Indonesia, GKI Wahid Hasyim mendukung dan taat pada Undang-Undang Dasar 1945 [Pembukaan UUD 1945 tentang ke-Tuhan-an Yang Maha Esa, artinya bangsa Indonesia adalah bangsa yang beragama dan hidup dalam nilai-nilai agama] serta hukum pernikahan di Indonesia [Bab 1, pasal 1, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 1974 TENTANG PERKAWINAN] yang menolak pernikahan sejenis.

5. Namun demikian, sebagai gereja yang hidup dalam kebenaran Tuhan, GKI Wahid Hasyim membuka diri dalam kasih Kristus, menyambut saudara yang mempunyai kecenderungan orientasi seksual yang berbeda [LGBT] untuk bersekutu bersama dengan saudara seiman  dan membimbing  untuk pertumbuhan iman, pertobatan, dan hidup baru bagi saudara yang memiliki kecenderungan orientasi seksual yang berbeda [LGBT] selama mereka merindukan untuk pemulihan diri. Menerima keberadaan mereka sebagai manusia bukan berarti melegalkan p




Dikirim dari perangkat Samsung saya

Jumat, 26 Februari 2016

TUHAN ADALAH KEKUATAN KITA

TUHAN ADALAH KEKUATAN KITA

27 Februari 2016

Bacaan Hari ini
Yesaya 40:31
"...orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru:
mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya;" 
--------------------------------------------
Saat berbagai persoalan hidup mendera, semua orang berharap mendapatkan jalan keluar atau solusi sesegera mungkin. 

Kita berharap Tuhan tidak menunda-nunda waktu untuk menolong dan menjawab doa kita.

Semua orang menginginkan segala sesuatu yang serba instan, padahal jalan Tuhan tidak ada yang instan,
semua melalui proses. 

Ketidaksabaran menantikan Tuhan bertindak adalah faktor yang menyebabkan kita gagal melihat dan mengalami perkara-perkara besar dari Tuhan. 

Nabi Habakuk menasihati, 
"Sebab penglihatan itu masih menanti saatnya, tetapi ia bersegera menuju kesudahannya dengan tidak menipu; apabila berlambat-lambat, nantikanlah itu, sebab itu sungguh-sungguh akan datang dan tidak akan bertangguh." 
(Habakuk 2:3). 

Mengapa kita harus menanti-nantikan Tuhan? 
* Karena waktu Tuhan bukanlah waktu kita. 
* Melalui kesabaran dan ketekunanlah seseorang akan menerima apa yang dijanjikan-Nya,
* sebab segala sesuatu yang dijanjikan Tuhan tidak ada yang terlambat, dan juga tidak terlalu cepat.

Jangan merasa lelah dan putus asa saat menantikan pertolongan Tuhan,
sebab orang yang menanti-nantikan Dia mendapat kekuatan baru.

"Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya."  (Yesaya 40:29),

sehingga kita sanggup melewati badai persoalan sebesar apa pun. 

Itulah sebabnya nabi Yesaya mendorong kita untuk tetap menantikan Tuhan, karena kekuatan orang percaya bukan berasal dari apa yang ada di dunia ini,
tapi berasal dari Tuhan.

Burung rajawali tatkala ada badai menyerang tidak terbang menghindar sejauh mungkin dari badai itu,
tetapi ia membiarkan dirinya berada di dalam badai dengan membentangkan kedua sayapnya untuk mengikuti ke mana arah putaran badai itu.

Dengan menyerap kekuatan badai tersebut si rajawali dapat terbang semakin tinggi di angkasa.

Terbang bersama badai adalah cara untuk melatih sayapnya sehingga ia semakin kuat dan kokoh. 

Kedahsyatan badai justru berdampak positip bagi burung rajawali itu sendiri.
______________________________
"Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban."  (2 Timotius 1:7)

(Disadur dari Renungan Harian Air Hidup)




Dikirim dari perangkat Samsung saya

Kamis, 25 Februari 2016

Mencari Tuhan Di Segala Keadaan

MENCARI TUHAN DI SEGALA KEADAAN

26 Februari 2016

Bacaan Hari ini
Amsal 1:20-33

"Pada waktu itu mereka akan berseru kepadaku, tetapi tidak akan kujawab, mereka akan bertekun mencari aku, tetapi tidak akan menemukan aku."  (Amsal 1:28)
--------------------------------------------
Adalah rahasia umum bahwa orang mencari Tuhan dengan sungguh-sungguh ketika sedang dalam keadaan terdesak atau berada dalam situasi sulit. 

Begitu tertimpa masalah berat dan jalan buntu kita menghampiri Tuhan dengan ratapan dan linangan air mata. 

Kita rela berdoa semalam-malaman dan hampir di setiap jadwal peribadatan,
kita rela datang, berharap sesegera mungkin mendapatkan jalan keluar dan pertolongan dari Tuhan. 

Namun begitu masalah teratasi,
* sakit-penyakit disembuhkan,
* ekonomi keluarga dipulihkan,
* segala sesuatunya kembali berjalan baik dan normal,

mereka tidak lagi gigih mencari Tuhan. 

Semangat kita mencari Tuhan perlahan redup dan roh pun tidak lagi menyala-nyala bagi Tuhan. 

Ibadah kembali dilakukan dengan asal-asalan dan sebatas rutinitas belaka.

"Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu:

Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku.
Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia." 
(Matius 15:7-9). 

Ketika didorong untuk terlibat pelayanan kita tidak segan-segan menolak dan menghindar dengan 1001 alasan. 

"Oleh karena
* ketika Aku memanggil, kamu tidak menjawab,
* ketika Aku berbicara, kamu tidak mendengar,
* tetapi kamu ...lebih menyukai apa yang tidak berkenan kepada-Ku." 
(Yesaya 65:12b). 

Kita lupa dengan semua yang Tuhan telah perbuat dalam hidup kita. 

Kita lupa berterima kasih kepada Tuhan,

seperti sembilan dari sepuluh orang yang disembuhkan Tuhan dari penyakit kusta, yang pergi begitu saja dan meninggalkan Tuhan tanpa mengucap syukur dan berterima kasih kepada-Nya. 

* "Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir?
* Di manakah yang sembilan orang itu?
* Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?" 
(Lukas 17:17-18).

Jangan mencari Tuhan hanya di kala perlu saja,

tapi carilah Dia di segala keadaan: 
* kelimpahan atau kekurangan,
* sehat atau sakit,
* berkat atau krisis.
_______________________________
Jangan menganggap Tuhan yang membutuhkan kita, melainkan kitalah yang sangat membutuhkan Dia!

(Disadur dari Renungan Harian Air Hidup)




Dikirim dari perangkat Samsung saya

Rabu, 24 Februari 2016

Hidup Yang Diberkati

OBED EDOM:
Hidup Yang Diberkati

25 Februari 2016

Bacaan Hari ini:
1 Tawarikh 26:4-8

"Mereka sekalian adalah dari keturunan Obed-Edom, yakni
*mereka sendiri,
*anak-anak mereka
*dan saudara-saudara mereka,
masing-masing orang yang gagah perkasa, cakap untuk pekerjaan itu,
enam puluh dua orang jumlahnya dari Obed-Edom."  (1Tawarikh 26:8)
---------------------------------------------
Di zaman sekarang ini ada banyak orang yang tidak lagi menempatkan Tuhan dan perkara-perkara rohani sebagai prioritas dalam hidupnya. 

Hati dan pikiran mereka semata-mata tertuju kepada hal-hal duniawi.

* Ibadah,
* doa
* dan pelayanan,
dianggap hal yang tidak penting dan pemborosan waktu saja.

Pikirnya, 
"Banyak orang di luar sana yang tidak beribadah kepada Tuhan
* hidupnya baik-baik saja,
* malah sepertinya lebih sukses dan lebih mujur." 

Namun Tuhan sangat memperhatikan hidup orang benar dan Ia akan membuat perbedaan antara,
* orang yang beribadah kepada-Nya
* dan yang tidak beribadah.

Kita tidak perlu iri terhadap orang fasik sebab
* kebahagiaan mereka semu,
* kemujurannya hanya bersifat sementara. 
* "Karena sedikit waktu lagi,
maka lenyaplah orang fasik;
* jika engkau memperhatikan tempatnya, maka ia sudah tidak ada lagi." 
(Mazmur 37:10). 

Karena itu jangan pernah berpikir bahwa, * ibadah,
* pelayanan
* dan jerih lelah kita untuk Tuhan tidak berarti apa-apa. 

Sesungguhnya semua diperhitungkan-Nya. 

Obed Edom,
adalah contoh orang yang menikmati berkat Tuhan secara luar biasa karena ia sangat menghormati hadirat Tuhan, padahal hanya tiga bulan tabut Allah berada di rumahnya 
( 2 Samuel 6:11-12). 

Keluarga ini pun menjadi buah bibir dan kesaksian yang baik bagi banyak orang, bahkan beritanya sampai ke telinga raja Daud. 

Alkitab mencatat bahwa Obed Edom yang sebelumnya tinggal di Kirad Yearim rela pergi ke Yerusalem untuk melayani sebagai penunggu kemah Tuhan,
di mana Tabut Allah berada. 

Ini menunjukkan besar kerinduannya melayani Tuhan dan tinggal dalam hadirat Tuhan. 

"...dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia." 
(1 Korintus 15:58).

Karena kesungguhannya melayani Tuhan bukan hanya Obed Edom yang diberkati, tetapi sampai
* ke anak cucunya,
* bahkan anak-anak Obed Edom disebut pahlawan-pahlawan yang gagah perkasa dan cakap dalam pekerjaan.
_______________________________
Pemazmur menulis: 
"...tidak pernah kulihat orang benar ditinggalkan, atau anak cucunya meminta-minta roti;" 
(Mazmur 37:25)

(Disadur dari Renungan Harian Air Hidup)




Dikirim dari perangkat Samsung saya

Selasa, 23 Februari 2016

TUHAN MEMERHATIKAN ORANG BENAR

TUHAN MEMERHATIKAN ORANG BENAR

24 Februari 2016

Bacaan Hari ini:
Maleakhi 3:13-18

"Kamu berkata:
'Adalah sia-sia beribadah kepada Allah.
Apakah untungnya kita memelihara apa yang harus dilakukan terhadap-Nya dan berjalan dengan pakaian berkabung di hadapan TUHAN semesta alam?'"  (Maleakhi 3:14)
---------------------------------------------
Dalam menjalani kehidupan di dunia banyak orang cenderung mengandalkan,
* kekuatan,
* kepintaran,
* uang,
* kekayaan,
* koneksi,
*jabatan dan sebagainya,

daripada berharap dan mengandalkan Tuhan. 

Bahkan ketika dihadapkan pada pergumulan hidup yang berat ada orang yang berani berkata:

"Ah...percuma saja ibadah atau berdoa...tidak ada pengaruhnya!" 

Benarkah demikian?

Ketidaksabaran menantikan Tuhan bertindak seringkali menjadi permasalahan utama kebanyakan orang Kristen sehingga mereka,
*  kecewa,
* mengeluh,
* bersungut-sungut,
* putus asa
* dan menyerah. 

Lalu mereka memilih berkompromi dengan dosa. 

Karena termakan tipu muslihat Iblis, mereka pun menerima tawaran-tawarannya yang menjanjikan,
* kenikmatan,
* kesenangan
* dan pertolongan instan,

padahal di balik itu ada jebakan yang sangat mematikan,

sebab Iblis datang  "...hanya untuk
* mencuri dan
* membunuh dan
* membinasakan;"  (Yohanes 10:10a).

Di zaman sulit seperti sekarang ini seharusnya kita,
* back to the bible,
* semakin melekat kepada Tuhan,
* semakin meningkatkan kualitas ibadah kita dan juga jam-jam doa kita; 

dengan kata lain kita harus berusaha hidup benar di hadapan Tuhan.

Mengapa? 

karena,
* "Mata TUHAN tertuju kepada orang-orang benar, dan
* telinga-Nya kepada teriak mereka minta tolong;
* wajah TUHAN menentang orang-orang yang berbuat jahat..."
(Mazmur 34:16-17). 

Selama kita hidup dalam kebenaran kita akan menjadi umat kesayangan-Nya, sehingga kita akan dijaga-Nya seperti biji mata-Nya,

dan Alkitab menyatakan bahwa,

"...siapa yang menjamah kamu
(orang benar), berarti menjamah biji mata-Nya."  (Zakharia 2:8). 

Yakobus juga menulis, 
"Doa orang yang benar,
bila dengan yakin didoakan,
sangat besar kuasanya." 
(Yakobus 5:16b).

* Mujizat,
* kemenangan dan
* pemulihan akan dinyatakan,
saat orang benar berdoa kepada Tuhan.

Inilah janji Tuhan! 

Kalau kita ingin mengalami mujizat dari Tuhan beribadahlah sungguh-sungguh kepada Tuhan dan janganlah pernah berhenti berdoa.
______________________________
"Apabila orang-orang benar itu berseru-seru, maka TUHAN mendengar, dan melepaskan mereka dari segala kesesakannya." 
(Mazmur 34:18)

(Disadur dari Renungan Harian Air Hidup)




Dikirim dari perangkat Samsung saya

Senin, 22 Februari 2016

Menabur Dan Menuai

Menabur dan Menuai

23 Februari 2016

Bacaan Hari Ini
2 Korintus 9 : 6
"Orang yang menabur sedikit,
akan menuai sedikit juga,
dan orang yang menabur banyak,
akan menuai banyak juga."
---------------------------------------------------
Di era tahun 80-an ada lagu yang cukup populer berjudul 
'Siapa menabur siapa menuai'  karya Rinto Harahap, yang dilantunkan oleh Hetty Koes Endang. 

Tak bisa dipungkiri bahwa dalam kehidupan ini berlaku hukum tabur-tuai:  siapa yang menabur, dia yang akan menuai;  apa yang ditabur itu juga yang akan dituai.

Rasul Paulus memperingatkan, 

☆Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan.
* Karena apa yang ditabur orang,
itu juga yang akan dituainya.
* Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya,
* tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu."  (Galatia 6:7-8). 

Bila kita menabur kebaikan kita pasti akan menuai kebaikan. 

Kalau kita menabur keburukan, maka hal-hal yang buruk pula yang akan kita tuai. 

Contoh konkret menabur adalah tindakan memberi:  memberi persembahan untuk Tuhan maupun memberi sesuatu kepada orang lain. 

Dalam hal memberi sikap hati harus diperhatikan. 
Jangan sampai kita memberi semata-mata karena mengharapkan balasan atau imbalan.

Bagaimanapun juga tindakan memberi itu bagaikan menabur benih yang suatu saat nanti akan menghasilkan buah. 

Jadi tindakan memberi bukanlah tindakan sia-sia atau percuma,
justru merupakan tindakan yang baik dan tepat. 

"Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah.

Karena itu,
selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman."  (Galatia 6:9-10). 

Jangan pernah menunda-nunda waktu untuk berbuat baik. 

Biarlah kebaikan itu terus mengalir dari hari ke sehari, sehingga "...kebaikan hatimu diketahui semua orang.
Tuhan sudah dekat!"  (Filipi 4:5).

Memberi harus dengan kerelaan hati:  bukan berarti memberi dengan sesuka hati, tapi memberi sepantasnya sesuai dengan berkat Tuhan yang telah kita terima. 

Namun bukanlah hal yang mudah bagi orang yang hatinya melekat pada uang dan harta.
____________________________________
Buanglah sifat kikir, egois dan materialistis dalam diri kita, dan jadilah berkat bagi orang lain,
karena apa yang kita tabur tidak akan pernah sia-sia!

(Disadur dari Renungan Harian Air Hidup)




Dikirim dari perangkat Samsung saya

Minggu, 21 Februari 2016

Baru Setiap Pagi

Baru Setiap Pagi

22 Februari 2016

Bacaan Hari ini:
Ratapan 3:22-23
Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya,
selalu baru tiap pagi;
besar kesetiaan-Mu!
---------------------------------------------------
Oleh kasih setia Allah, kita tidak binasa.

Kita ada karena kasih setia-Nya yang tak berkesudahan, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Nya! (Ratapan 3:22-23).

Sesekali, saya kebetulan bertemu dengan orang-orang yang saya kenal beberapa tahun yang lalu.

Biasanya waktu kami mengobrol, mereka akan berkata,

"Ingat waktu kita muda dulu?

Sungguh hari-hari yang menyenangkan, ya.

"Ya, sungguh hari-hari yang menyenangkan.

Ngomong-ngomong, sekarang kau ke gereja mana? tanya saya.

Kadang mereka menjawab tidak pergi ke gereja mana pun.

Sebenarnya mereka dulu menjalankan hidup Kristen, tapi kemudian tergerus mengikuti arus dunia.

Lain dulu, lain sekarang.

Bagi sebagian orang,
Kekristenan adalah apa yang Allah buat atas diri mereka tiga puluh tahun yang lalu atau dua puluh tahun yang lalu.

Tapi saya lebih tertarik dengan apa yang Allah lakukan hari ini.

Dan saya ingin melihat apa yang akan Ia lakukan besok.

Buat saya,
masa lalu itu menarik hanya sebatas karena saya bisa belajar dari situ.

Saya tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama yang saya buat di masa lalu.

Saya juga bisa ingat beberapa hal hebat yang telah Allah buat atas hidup saya, dan saya berdoa agar Dia akan melakukannya lagi.

Ada gunanya mengingat masa lalu,

tapi marilah kita tidak menjadi lemah oleh pencapaian masa lalu yang dapat menghalangi kita dari melakukan apa yang Tuhan ingin kita lakukan hari ini.

Alkitab mengatakan,
bahwa kasih setia Allah "baru tiap pagi" (Ratapan 3:23).

Itulah sebabnya Paulus bisa berkata,
"Aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang ada didepanku (Filipi 3:13).

Seseorang yang bisa saja puas pada kemenangan atau pencapaiannya sebagai orang Kristen, itulah Paulus.

Dia memiliki prestasi rohani yang luar biasa.

Tapi di lain sisi,
ia juga seseorang yang bisa saja dilumpuhkan oleh masa lalunya.

Sebelum Paulus menjadi rasul besar,
ia dikenal sebagai Saulus dari Tarsus, pembantai orang Kristen.

Tetapi ia tidak membiarkan dirinya terganggu oleh pencapaian masa lalu atau dilumpuhkan oleh dosa-dosa masa lalu.

Begitupun kita seharusnya.
___________________________________
* Allah ingin melakukan karya baru dalam kehidupan kita hari ini.
* Dan Ia pun ingin melakukan karya yang baru untuk hari esok.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Greg Laurie)




Dikirim dari perangkat Samsung saya