Sabtu, 31 Oktober 2026

Teruslah Memimpikan Hal-Hal Besar

01 November 2026

Bacaan Hari ini:
Efesus 3:20 "Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita"
-------------------
Allah memberikan impian yang berbeda kepada setiap orang agar semua tujuan-Nya dapat digenapi di dunia. Itulah sebabnya Anda memiliki semangat terhadap hal-hal tertentu, tetapi tidak terlalu peduli terhadap hal-hal lainnya. Allah menciptakan Anda untuk menjadi diri Anda sendiri. Dan Anda bertanggung jawab untuk mewujudkan impian yang diberikan-Nya kepada Anda.

Namun, bagaimana Anda mengetahui apakah impian Anda berasal dari Allah? Ada dua cara untuk mengetahuinya. Pertama, impian yang diberikan Allah dengan cara tertentu akan menolong orang lain; impian itu tidak akan berpusat pada diri sendiri. Kedua, impian yang diberikan Allah akan begitu besar sehingga Anda tidak akan mampu mewujudkannya dengan kekuatan Anda sendiri. Seolah-olah Allah berkata, "Impian yang Kumiliki untuk Anda begitu besar sehingga Anda pasti akan gagal jika tidak bergantung kepada-Ku."

Banyak orang menahan diri untuk tidak memimpikan hal-hal besar dan Anda sering mendengar mereka mengatakan salah satu dari tiga hal berikut:

1. "Saya tidak memiliki impian karena impian itu menakutkan."

Tentu saja impian itu menakutkan. Itulah sebabnya impian membutuhkan iman. Setiap keputusan besar yang saya ambil selama lebih dari 40 tahun sebagai pendeta di Saddleback Church membuat saya sangat ketakutan. Jadi, sejak dahulu saya memutuskan untuk tidak mendasarkan hidup saya pada rasa takut; sebaliknya, saya melakukan hal yang saya takuti.

Itulah keberanian. Jika Anda tidak merasa takut, Anda tidak membutuhkan keberanian. Keberanian bukan berarti tidak adanya rasa takut. Keberanian adalah ketika Anda melakukan apa yang Anda tahu telah Allah perintahkan untuk Anda lakukan, meskipun hal itu membuat Anda takut.

2. "Saya tidak akan mengejar impian saya karena saya belum merasa tenang mengenainya."

Sebenarnya, Anda tidak akan merasa tenang mengenai suatu impian sampai Anda mengambil langkah pertama untuk mewujudkannya. Allah tidak memberikan ketenangan yang Anda butuhkan sebelum Anda mulai melangkah. Tentu saja Anda merasa takut, tetapi ketika Anda melangkah ke dalam air dan menyaksikan ombak terbelah, ketenangan pun datang.

3. "Dahulu saya memiliki impian, tetapi impian itu tidak pernah terwujud."

Jika Allah telah memberikan suatu impian kepada Anda dan impian itu belum menjadi kenyataan, jangan putus asa. Selalu ada penundaan antara munculnya impian dan terwujudnya impian tersebut.

Sebenarnya, penundaan merupakan bagian dari perjalanan karena Allah menggunakannya untuk membangun iman Anda. Waktu Allah selalu sempurna.

Alkitab mengatakan, "Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita" (Efesus 3:20).

Renungkan :

- Manakah dari ketiga pernyataan tentang impian tersebut yang pernah Anda ucapkan sebelumnya?

- Apa yang membangkitkan semangat Anda? Bagaimana impian yang diberikan Allah kepada Anda mencerminkan hal-hal yang membangkitkan semangat Anda?

- Pernahkah Anda memiliki impian yang berpusat pada diri sendiri? Apa yang terjadi dengan impian-impian tersebut?

Bacaan Alkitab Setahun :
Yehezkiel 12-15; I Timotius 6
_____________
Allah menggunakan impian Anda—impian yang menakutkan, impian yang belum membuat Anda merasa tenang dan impian yang belum terwujud—untuk menumbuhkan iman Anda dan melakukan hal-hal besar!

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
=========
Keep Dreaming Great Dreams
By Rick Warren

“God can do anything, you know—far more than you could ever imagine or guess or request in your wildest dreams!” Ephesians 3:20 (MSG)
-------------------
God gives everyone different dreams so that all his purposes are fulfilled in the world. That’s why you’re passionate about some things and couldn't care less about others. God made you to be you. And you’re responsible for fulfilling the dream he gave you.

But how do you know if your dream is from God? There are two ways you can tell. One, a God-given dream will somehow help others; it won’t be self-centered. And, two, a dream God gives will be so big that you won’t be able to achieve it in your own power. It’s as if God says, “The dream I have for you is so big that you’re bound to fail if you don’t depend on me.”

Many people hold back from dreaming great dreams, and you’ll often hear them say one of three things:

1. “I don't have a dream because they’re scary.” Well, of course they’re scary. That's why dreams require faith. Every major decision I made during my 40-plus years as senior pastor of Saddleback Church scared me to death. So I just decided a long time ago not to base my life on fear; instead, I just do the thing I’m afraid of.

That's what courage is. If you're not afraid, you don't need courage. Courage is not the absence of fear. Courage is when you do what you know God has told you to do even though it scares you.

2. “I’m not going after my dream because I don’t have peace about it.” The truth is that you’re not going to have peace about a dream until you take the first step towards it. God doesn't give you the peace you need before you make the move. Of course you have fears, but when you step into the water and watch the waves part, peace comes.

3. “I used to have a dream, but it never happened.” If God has given you a dream and it hasn't come true yet, don't despair. There's always a delay between the dream and the fulfillment.

In fact, delays are part of the journey because God uses them to build your faith. God's timing is always perfect.

The Message paraphrase says, “God can do anything, you know—far more than you could ever imagine or guess or request in your wildest dreams!” (Ephesians 3:20).

God uses your dreams—the scary dreams, the dreams you don’t have peace about, and the dreams that haven’t happened yet—to grow your faith and do great things!


Jumat, 30 Oktober 2026

Bagaimana Allah Menumbuhkan Iman yang Kuat

31 Oktober 2026

Bacaan Hari ini:
Kolose 2:7 "Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur."
------------------
Allah tidak ingin Anda memiliki iman yang biasa-biasa saja. Dia ingin Anda memiliki iman yang kuat dan teguh—bukan iman yang lemah dan mudah runtuh ketika keadaan menjadi sulit.

Alkitab berkata dalam Kolose 2:7, "Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur."

Bagaimana Allah menumbuhkan iman yang kuat seperti itu?

Cara pertama Allah menumbuhkan iman Anda adalah melalui Firman-Nya. Dia ingin Anda mengenal Alkitab—membaca Alkitab, mendengarkan Alkitab, mempelajari Alkitab, menghafal Alkitab, dan membicarakan Alkitab. Mengapa? Karena Firman Allah berkata, "Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus"

Jika iman Anda lemah, kemungkinan besar Anda jarang membaca Alkitab. Namun, semakin sering Anda membaca firman Allah, semakin banyak firman itu memberi makanan bagi jiwa Anda. Firman Allah adalah makanan bagi jiwa dan meluangkan waktu untuk membaca serta merenungkannya adalah cara termudah untuk menumbuhkan iman Anda.

Cara kedua Allah menumbuhkan iman Anda adalah melalui cara yang sulit, yaitu melalui keadaan yang menguji Anda. Meskipun Anda mungkin hanya membaca Alkitab sebentar setiap hari, berbagai hal terjadi di sekitar Anda selama 24 jam sehari. Keadaan yang Anda alami adalah hal yang paling sering digunakan Allah untuk menumbuhkan iman dan membangun karakter Anda.

Iman seperti otot. Anda tidak dapat membangun otot tanpa adanya suatu bentuk tahanan. Satu-satunya cara untuk membangun otot adalah dengan meregangkannya, mengujinya dan memberinya beban. Hal yang sama berlaku bagi iman. Anda tidak menumbuhkan iman hanya dengan duduk-duduk dan berkata, "Oh, saya ingin memiliki lebih banyak iman." Iman perlu diuji. Karena itu, Allah mengizinkan berbagai keadaan terjadi dalam hidup Anda untuk membangun kekuatan iman Anda.

Karena Allah sangat peduli terhadap iman Anda, Anda dapat yakin bahwa Dia akan selalu menjawab doa ini: "Tambahkanlah iman kami!" (Lukas 17:5). Jadikanlah doa itu sebagai doa Anda ketika Allah menumbuhkan iman Anda melalui Firman-Nya dan melalui keadaan-keadaan yang menguji Anda.

Renungkan :

- Apa satu contoh ketika Allah menggunakan Firman-Nya untuk menguatkan iman Anda?

- Bagaimana perasaan Anda ketika mengetahui bahwa Allah menggunakan berbagai keadaan untuk menguji iman Anda?

- Yeremia 29:11 mengatakan,"Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan." Bagaimana ayat tersebut memberikan penghiburan kepada Anda?

- Perubahan fisik apa yang telah Anda lihat ketika Anda berkomitmen untuk berolahraga secara teratur? Perubahan rohani apa yang Anda harapkan akan Anda alami jika Anda berkomitmen untuk meluangkan lebih banyak waktu dalam Firman Allah?

Bacaan Alkitab Setahun :
Yehezkiel 6-11; I Timotius 5
_____________
Allah tidak ingin Anda memiliki iman yang biasa-biasa saja. Dia ingin Anda memiliki iman yang kuat dan teguh—bukan iman yang lemah dan mudah runtuh ketika keadaan menjadi sulit.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
========
How God Grows a Strong Faith
By Rick Warren

“Let your roots grow down into him, and let your lives be built on him. Then your faith will grow strong in the truth you were taught, and you will overflow with thankfulness.” Colossians 2:7 (NLT)
--------------------
God doesn’t want you to have just any faith. He wants you to have a strong and vigorous faith—not a wimpy faith that collapses when things get tough.

The Bible says in Colossians 2:7, “Let your roots grow down into him, and let your lives be built on him. Then your faith will grow strong in the truth you were taught, and you will overflow with thankfulness” (NLT).

How does God grow a strong faith like that?

The first way God grows your faith is through his Word. He wants you to know the Bible—to read the Bible, listen to the Bible, study the Bible, memorize the Bible, and talk about the Bible. Why? Because God’s Word says, “Faith comes by hearing, and hearing by the word of God”

(Romans 10:17 NKJV).

If your faith is weak, you’re likely not in the Bible very often. But the more you’re in God’s book, the more it will feed your soul. God’s Word is soul food, and spending time in it is the easiest way to grow your faith.

The second way God grows your faith is the hard way—and that’s through circumstances that test you. While you may read the Bible only a little bit each day, you have things happening all around you 24 hours a day. Your circumstances are what God most often uses to grow your faith and build your character.

Faith is like a muscle. You don't grow muscle without some sort of resistance. The only way you grow a muscle is by stretching it, testing it, and putting weight on it. The same is true with faith. You don't grow faith just by sitting around and saying, “Oh, I want more faith.” Faith needs to be tested. So God allows circumstances in your life to build your faith muscle.

Because God cares so much about your faith, you can know that he will always answer this prayer: “Increase our faith” (Luke 17:5 NIV). Make that your prayer as God grows your faith through his Word and through circumstances that test you.


Kamis, 29 Oktober 2026

Kematian Puluhan Pasien Lewat Cairan Infus

Di Rumah Sakit Oguchi, Yokohama, lantai empat bukanlah sekadar ruang perawatan biasa. Ini adalah bangsal terminal dan geriatri, tempat di mana mayoritas pasiennya adalah lansia dengan penyakit kronis stadium akhir. Di tempat ini, angka harapan hidup sangat tipis dan kematian adalah rutinitas yang dianggap wajar. Kondisi alamiah inilah yang kelak menjadi tirai kamuflase sempurna bagi salah satu kejahatan medis paling sunyi di Jepang.

Di bangsal tersebut bertugas Ayumi Kuboki, seorang perawat terdaftar berusia 29 tahun. Dari luar, Kuboki tidak memiliki catatan disipliner yang buruk. Mantan dan rekan kerjanya saat itu mengenalnya sebagai perawat yang kompeten, meski cenderung tertutup dan sulit ditebak jalan pikirannya. Tidak ada tanda-tanda psikopati atau sikap agresif. Namun, di balik seragam dan rutinitas medisnya, kondisi mental Kuboki perlahan hancur.

Merawat pasien terminal membawa tekanan emosional yang masif. Akar dari kejatuhan mental Kuboki dipicu oleh sebuah insiden traumatis: ia pernah dibentak dan disalahkan dengan keras oleh anggota keluarga pasien yang meninggal secara mendadak pada saat giliran jaganya. Insiden itu melahirkan kepanikan luar biasa yang kemudian bermutasi menjadi mekanisme koping yang sangat menyimpang.

Kuboki mulai memandang tugas menjelaskan kematian kepada keluarga yang berduka sebagai beban atau teror psikologis yang tidak sanggup ia tanggung. Alih-alih mencari bantuan profesional untuk mengatasi burnout tersebut, ia mengambil jalan pintas yang gelap. Logikanya berubah menjadi sangat egois dan matematis: ia memutuskan untuk "menjadwalkan" kematian para pasiennya agar mereka menghembuskan napas terakhir pada saat shift perawat lain. Dengan begitu, rekan kerjanyalah yang harus menghadapi tangisan keluarga korban, sementara ia terbebas dari tanggung jawab komunikasi tersebut.

BOM WAKTU MEDIS DI BALIK CAIRAN INFUS

Untuk mengeksekusi niatnya, Kuboki merancang metode pembunuhan yang mengeksploitasi celah prosedur rumah sakit, menjadikannya nyaris tanpa jejak visual. Ia memilih menggunakan Diamitol sebuah cairan disinfektan rumah sakit bermaterial aktif benzalkonium klorida. Pemilihan ini sangat taktis karena disinfektan tersedia bebas di bangsal untuk mensterilkan alat dan mencuci tangan, tidak seperti obat keras yang penyimpanannya diawasi ketat.

Sasaran eksekusinya adalah kantong cairan infus (IV drip). Menggunakan jarum suntik biasa, Kuboki menarik cairan disinfektan tersebut dan menyuntikkannya menembus segel karet pelindung (port injeksi) kantong infus pasien. Lubang mikroskopis bekas tusukan jarum itu otomatis menutup, dan cairan racun bercampur tanpa mengubah warna nutrisi di dalamnya.

Kejahatan ini bekerja layaknya bom waktu. Kuboki menghitung ritme tetesan infus dan menyuntikkan racun di akhir jam kerjanya, atau pada kantong infus cadangan yang baru akan dipasang oleh perawat berikutnya. Ketika benzalkonium klorida menetes perlahan memasuki aliran darah, senyawa kimia ini memicu hemolisis (hancurnya sel darah merah) dan kegagalan organ vital secara akut. Karena korban adalah lansia berusia rentan, penurunan detak jantung yang tiba-tiba ini terlihat persis seperti pemburukan kondisi medis alami.

Akibatnya, antara Juli hingga Agustus 2016, terjadi lonjakan anomali di bangsal tersebut dengan 48 kematian beruntun. Ironisnya, karena tebalnya kamuflase fisiologis tersebut, sebanyak 44 dari kematian itu pada awalnya dicatat secara resmi sebagai kematian wajar.

GELEMBUNG BUSA DAN TERBONGKARNYA TABIR

Kejahatan manipulatif ini akhirnya runtuh karena satu kesalahan kecil dari senyawanya sendiri. Pada pertengahan September 2016, dua pasien pria berusia 88 tahun meninggal beruntun: Nobuo Yamaki (18 September) dan Sozo Nishikawa (20 September).

Momen krusial terjadi sesaat setelah Nishikawa dinyatakan meninggal pada dini hari. Seorang perawat shift malam yang sedang membereskan peralatan medis menyadari kejanggalan fisik: ada gelembung busa yang tidak wajar mengambang di dalam cairan infus korban, sebuah reaksi dari senyawa surfaktan yang tidak seharusnya ada dalam cairan nutrisi. Pemeriksaan lanjutan menemukan lubang kecil bekas tusukan jarum di segel karetnya.

Kejanggalan ini segera dilaporkan ke Kepolisian Prefektur Kanagawa. Polisi mengambil alih tempat kejadian dan memerintahkan otopsi medis. Hasil toksikologi mengonfirmasi adanya konsentrasi tinggi disinfektan di dalam darah dan sisa infus Nishikawa, disusul temuan racun yang identik di dalam tubuh Yamaki. Fakta yang lebih mengerikan terungkap ketika polisi menggeledah ruang penyimpanan logistik perawat dan menemukan sekitar 10 kantong infus baru yang belum terpakai juga sudah memiliki bekas tusukan jarum dan positif mengandung disinfektan.

Meski status kasus langsung berubah menjadi pembunuhan massal berantai, polisi menghadapi tantangan forensik yang besar. Mayoritas dari puluhan jenazah sebelumnya telah dikremasi sesuai tradisi Jepang, sehingga bukti utamanya ikut lenyap. Investigasi kepolisian pun mandek berbulan-bulan, hanya berpusat pada penelusuran jadwal staf internal dan kesaksian rekan kerja.

Titik terang akhirnya muncul pada awal tahun 2018 dari pengujian benda mati. Ahli forensik menemukan konsentrasi residu benzalkonium klorida yang sangat spesifik dan tak terbantahkan tersembunyi di bagian dalam saku seragam kerja Kuboki. Berbekal bukti fisik ini, polisi kembali menginterogasi Kuboki pada akhir Juni 2018. Dihadapkan pada fakta yang ada, pertahanan psikologisnya runtuh. Ia menangis dan mengakui telah meracuni sekitar 20 pasien secara sukarela. Kuboki kemudian ditangkap pada 7 Juli 2018.

PALU HAKIM DAN REFLEKSI KEMANUSIAAN

Babak akhir dari tragedi ini bermuara di Pengadilan Distrik Yokohama pada Oktober 2021. Secara hukum, negara mendakwa Kuboki atas persiapan pembunuhan dan tiga pembunuhan tingkat pertama terhadap Sozo Nishikawa, Nobuo Yamaki, dan Asae Okitsu (78).

Persidangan tersebut menjadi perdebatan hukum dan moral yang sangat intens. Jaksa penuntut umum menuntut hukuman mati, menyoroti bahwa tindakan Kuboki adalah kejahatan berencana yang dilakukan berulang kali demi motif yang murni egois, serta merupakan pengkhianatan fatal terhadap profesi medis. Di sisi lain, pengacara pembela memperjuangkan hukuman penjara seumur hidup dengan dalih bahwa Kuboki mengalami depresi, kelelahan mental ekstrem, dan berada di bawah penurunan kapasitas pertanggungjawaban hukum akibat lingkungan kerja yang tidak manusiawi.

Evaluasi psikiatrik pengadilan menjadi kunci: Kuboki dinyatakan sepenuhnya sadar dan waras secara hukum saat membunuh, namun kapasitas penilaian moralnya diakui memang telah terdegradasi parah akibat stres.

Pada 9 November 2021, Hakim Ketua Kazunori Karei menjatuhkan vonis penjara seumur hidup. Hakim menyelamatkannya dari tiang gantungan dengan pertimbangan adanya penyesalan yang mendalam dari terdakwa, pengakuan sukarelanya kepada polisi, serta fakta bahwa ia bertindak di bawah tekanan toxic karena terus-menerus harus menghadapi keluarga yang berduka. Keputusan ini memicu kemarahan mendalam dari keluarga korban, yang merasa hukum tidak memberikan keadilan bagi nyawa orang tua mereka yang dirampas hanya demi kenyamanan pelaku.

Melihat seluruh rangkaian peristiwa ini, kasus Ayumi Kuboki adalah cermin gelap yang merefleksikan rapuhnya batas antara kemanusiaan dan mekanisasi empati. Hal yang paling menyesakkan adalah proses dehumanisasi di dalam benaknya: para pasien lansia itu kehilangan esensinya sebagai manusia bernyawa, menyusut sekadar menjadi "beban administratif" yang harus disingkirkan dari jam kerjanya. Pembunuhan berantai ini tidak lahir dari kebencian murni atau psikopati bawaan, melainkan dari kepengecutan yang mendarah daging untuk lari dari tanggung jawab emosional.

Kasus ini berdiri sebagai dakwaan bisu terhadap sistem kehidupan modern dan institusi kesehatan yang kerap menuntut perawat beroperasi layaknya mesin penyembuh yang sempurna, namun abai bahwa di balik seragam itu ada jiwa yang bisa retak. Walaupun tekanan seberat apa pun tidak akan pernah bisa menebus pengkhianatan penghilangan nyawa, tragedi di Rumah Sakit Oguchi memberikan peringatan mahal: empati manusia bukanlah sumber daya yang tak terbatas. Saat ia dibiarkan terkuras habis tanpa adanya jaring pengaman psikologis, garis batas antara merawat dan membunuh bisa lenyap seketika.

Lampiran foto: IMG-20261030-WA0002.jpg
Uploaded Image

Misi Anda adalah Menceritakan tentang Allah kepada Orang Lain

30 Oktober 2026

Bacaan Hari ini:
Kisah Para Rasul 20:24 "Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikitpun ,asal saja aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah."
--------------------
Allah menempatkan Anda di dunia untuk melakukan lima hal penting. Dia ingin Anda mengenal dan mengasihi-Nya, mengasihi orang lain, bertumbuh menuju kedewasaan rohani dan melayani-Nya dengan melayani orang lain. Tujuan hidup yang kelima—yang akan kita bahas hari ini—adalah menceritakan tentang Allah kepada orang lain.

Rasul Paulus berkata, "Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikitpun ,asal saja aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah." (Kisah Para Rasul 20:24).

Apa pekerjaan yang diberikan Yesus kepada Paulus? Memberitakan "Kabar Baik tentang kasih karunia Allah" kepada semua orang. Itulah misi Paulus di dunia, dan itu juga misi Anda. Alkitab menyebutnya "penginjilan" atau "memberi kesaksian."

Seorang saksi adalah orang yang berkata, "Inilah yang saya lihat. Inilah yang terjadi pada saya." Dan mereka memiliki kewenangan untuk memberikan kesaksian tentang satu hal: diri mereka sendiri. Tidak ada orang lain selain Anda yang dapat menjadi saksi atas apa yang telah Allah lakukan dalam hidup Anda. Hanya Anda yang dapat berkata, "Inilah yang telah Kristus lakukan dalam hidup saya, dalam keluarga saya, dalam pekerjaan saya, dalam kesehatan saya, dan dalam keuangan saya."

Siapa yang pertama kali memberitakan Kabar Baik kepada Anda—bahwa melalui Yesus, Allah telah "mendamaikan kita dengan diri-Nya" (2 Korintus 5:18)? Apakah Anda hanya akan menerima Kabar Baik ini tanpa membagikannya kepada orang lain? Seseorang telah menyampaikannya kepada Anda. Sekarang, menjadi tanggung jawab Anda—misi Anda—untuk menyampaikannya kepada orang lain.

Apa yang dikatakan Alkitab tentang orang-orang yang memberikan kesaksian kepada orang lain? Amsal 11:30 mengatakan, "Hasil orang benar adalah pohon kehidupan, dan siapa bijak, mengambil hati orang". Menceritakan tentang Yesus kepada orang lain merupakan tanda kedewasaan rohani. Hal itu menunjukkan bahwa Anda bijaksana.

Saya ingin mengajukan sebuah pertanyaan yang sangat penting kepada Anda: Apakah ada orang yang akan berada di surga karena Anda? Baik Anda telah menjadi orang Kristen selama 30 tahun maupun 30 hari, Yesus ingin Anda menceritakan tentang Dia kepada orang lain, dengan memberitahukan kepada setiap orang yang Anda temui "tentang kasih karunia Allah" dan kehidupan kekal yang ditawarkan-Nya.

Renungkan :

- Siapa yang pertama kali menceritakan tentang Yesus kepada Anda? Bagaimana tanggapan Anda?

- Ketakutan atau hambatan apa yang membuat Anda tidak konsisten dalam memberikan kesaksian kepada orang lain tentang Yesus?

- Kepada siapa Anda dapat menceritakan Kabar Baik tentang Yesus minggu ini? Luangkan waktu sekarang untuk merencanakan kapan, di mana, dan bagaimana Anda akan menceritakannya kepada mereka.

Bacaan Alkitab Setahun :
Yehezkiel 1-5; I Timotius 4
____________
Menceritakan tentang Yesus kepada orang lain merupakan tanda kedewasaan rohani.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
=========
Your Mission Is to Tell Others About God
By Rick Warren

“I only want to complete my mission and finish the work that the Lord Jesus gave me to do, which is to declare the Good News about the grace of God.” Acts 20:24 (GNT)
------------------
God put you on earth to do five important things. He wants you to know and love him, to love others, to grow to spiritual maturity, and to serve him by serving others. The fifth purpose of life—which we’ll look at today—is to tell others about God.

The apostle Paul said, “I only want to complete my mission and finish the work that the Lord Jesus gave me to do, which is to declare the Good News about the grace of God” (Acts 20:24 GNT).

What was the work that Jesus gave Paul to do? To tell everyone the “Good News about the grace of God.” That was Paul’s mission in the world, and it’s your mission too. The Bible calls this “evangelism” or “witnessing.”

A witness is a person who says, “This is what I saw. This is what happened to me.” And they are an authority on one thing: themselves. No one but you can be a witness for what God has done in your life. Only you can say, “This is what Christ has done in my life, in my family, in my job, in my health, and in my finances.”

Who first told you the Good News—that through Jesus, God has “made peace between us and himself” (2 Corinthians 5:18 NCV)? Are you just going to accept this Good News and not share it with anyone else? Someone passed it on to you. Now it’s your responsibility—your mission—to pass it on to others.

What does the Bible say about people who witness to others? Proverbs 11:30 says, “The fruit of a righteous person is a tree of life, and a winner of souls is wise” (GW). Telling people about Jesus is a mark of spiritual maturity. It shows that you are wise.

I want to ask you a very important question: Is anyone going to be in heaven because of you? Whether you’ve been a Christian 30 years or 30 days, Jesus wants you to tell others about him, telling everyone you meet “about the grace of God” and the eternal life he has to offer.


Rabu, 28 Oktober 2026

Menangkap Tanda-Tanda Zaman

Di sebuah padang rumput yang luas, seekor belalang bernama Tito bangga akan kemampuannya meramal cuaca. Ketika awan hitam bergulung dari sebelah barat, Tito dengan lantang berseru kepada kawannya, “Hujan deras akan tiba, mari bersiap!” Begitu angin selatan berembus hangat, ia menari seraya berteriak, “Musim panas telah datang!” Semua hewan memuji kejelian Tito dalam membaca tanda-tanda alam.

​Namun, ketika hubungan antarhewan di padang rumput mulai meregang akibat perselisihan kecil, Tito berpaling dan acuh tak acuh. Sang Tupai yang bijak kemudian mendatangi Tito dan berkata, “Tito, engkau begitu cerdik membaca angin dan awan di langit, tetapi mengapa engkau buta melihat perselisihan yang sedang merusak kedamaian di antara kita sendiri? Awan angin akan berlalu, namun perpecahan di dalam rumah kita sendiri bisa menghancurkan kita sebelum hujan turun.”

​Kisah fabel ini mencerminkan teguran tegas Yesus dalam Injil Lukas 12:54-59. Yesus menegur orang banyak karena mereka begitu pandai membaca fenomena alam—seperti awan di barat atau angin dari selatan—tetapi gagal memahami dan menilai apa yang penting pada masa kini. Dalam kehidupan spiritual, kita sering kali sangat peka terhadap urusan duniawi, tren, atau hal-hal fisik di sekitar kita, namun kita mengabaikan tanda-tanda keretakan hubungan dan kebutuhan akan persaudaraan. Sejalan dengan nasihat Rasul Paulus dalam Efesus 4:1-6, sebagai orang-orang yang telah dipanggil, kita diajak untuk hidup dengan penuh kerendahan hati, kelembutan, kesabaran, serta tekun memelihara kesatuan Roh dalam ikatan damai sejahtera.  

​Saudaraku, mari kita belajar menjadi pribadi yang peka—bukan hanya terhadap situasi duniawi di sekitar kita, melainkan juga terhadap kondisi hati, perdamaian, dan kesatuan dengan sesama. Jika ada perselisihan atau ketidakcocokan, segeralah berdamai dan selesaikanlah dengan kasih sebelum semuanya menjadi terlambat. Hendaklah kita senantiasa menjaga keheningan hati, kerendahan hati, dan kelembutan agar kita mampu membaca kehendak Tuhan serta menjadi pembawa damai di mana pun kita berada.  
​Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu. Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera. (Efesus 4:2-3)  
​Bacaan: Efesus 4:1-6  
​(Gbu!)


Uploaded Image

Anda Diciptakan untuk Mengenal dan Mengasihi Allah

29 Oktober 2026

Bacaan Hari ini:
"Sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu; dan oleh karena kehendak-Mu semuanya itu ada dan diciptakan." (Wahyu 4:11).
------------------
Tujuan pertama hidup Anda adalah mengenal dan mengasihi Allah. Semakin Anda memahami betapa besar kasih Allah kepada Anda, semakin besar pula kasih Anda kepada-Nya. Dia menciptakan Anda untuk menyenangkan hati-Nya. Jika Dia tidak ingin mengasihi Anda, Anda tidak akan ada.

Alkitab berkata, "Sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu; dan oleh karena kehendak-Mu semuanya itu ada dan diciptakan." (Wahyu 4:11).

Faktanya, Allah senang hanya dengan melihat Anda menjadi diri Anda sendiri. Saya tidak sedang berbicara tentang saat Anda berbuat dosa, melainkan ketika Anda melakukan hal yang memang diciptakan-Nya untuk Anda lakukan. Jadi, jika Dia membentuk Anda dengan kemampuan untuk mengatur, Dia senang melihat Anda merapikan lemari atau merencanakan taman. Jika Dia menciptakan Anda untuk menjadi seorang tenaga penjualan dan Anda berhasil melakukan penjualan yang baik, Dia berkata, "Itulah anak perempuan-Ku" atau "Itulah anak laki-laki-Ku." Atau jika Anda bermain musik atau mengerjakan mobil, Allah senang melihat Anda menjadi diri Anda sendiri, karena Dia menciptakan dan mengasihi Anda.

Yesus berkata, "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama." (Matius 22:37-38). Ayat ini menggambarkan penyembahan. Penyembahan berarti membiarkan Allah mengasihi Anda, lalu membalas kasih-Nya.

Penyembahan lebih dari sekadar musik. Anda dapat menyembah dalam keheningan, melalui pemberian, dengan mendengarkan dan dengan melayani orang lain. Anda dapat menyembah Allah dengan ratusan cara yang berbeda saat Anda mengungkapkan kasih kepada-Nya.

Kebalikan dari penyembahan adalah kekhawatiran dan kekhawatiran merupakan tanda peringatan bahwa Anda telah berhenti menyembah. Setiap hari, Anda memiliki pilihan: "Apakah saya akan khawatir, atau saya akan menyembah?"

Matius 6:32 mengatakan,"Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu." Mengapa? Karena mereka tidak berfokus pada kebesaran dan kasih Allah, melainkan pada masalah dan rasa tidak aman mereka sendiri.

Jika Anda ingin menjalani hidup sesuai dengan tujuan Anda untuk mengenal dan mengasihi Allah, berikut cara memulainya. Setiap pagi, berdoalah, "Tuhan, saya tahu Engkau menciptakan saya karena Engkau mengasihi saya. Terima kasih. Saya juga mengasihi-Mu. Dan hari ini, jika tidak ada hal lain yang berhasil saya lakukan, saya ingin mengenal-Mu sedikit lebih baik dan mengasihi-Mu sedikit lebih dalam, karena itulah tujuan pertama hidup saya."

Renungkan :

- Apa yang Anda sukai untuk dilakukan? Apakah Anda terkejut mengetahui bahwa Allah senang melihat Anda melakukan hal tersebut?

- Apakah sulit bagi Anda untuk menerima kasih Allah kepada Anda? Mengapa atau mengapa tidak?

- Mungkin hari ini Anda sedang mengkhawatirkan sesuatu. Seperti apakah mengganti kekhawatiran dengan penyembahan dalam kehidupan Anda?

Bacaan Alkitab Setahun :
Ratapan 4-5; I Timotius 3
______________
Semakin Anda memahami betapa besar kasih Allah kepada Anda, semakin besar pula kasih Anda kepada-Nya

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
=========
You Were Made to Know and Love God
By Rick Warren

“For thou hast created all things, and for thy pleasure they are and were created.” Revelation 4:11 (KJV)
--------------------
The first purpose of your life is to know and love God. The more you understand how much God loves you, the more you're going to love him back. He made you for his pleasure. If he hadn't wanted to love you, you would not exist.

The Bible says, “For thou hast created all things, and for thy pleasure they are and were created” (Revelation 4:11 KJV).

The fact is God takes pleasure in just watching you be you. I'm not talking about when you sin, but when you do what he made you to do. So, if he wired you to organize, he enjoys watching you organize a closet or plan a garden. If he made you to be a salesperson and you make a good sale, he says, "That's my girl” or “That's my boy." Or if you play music or work on a car, God just enjoys watching you be you, because he made you and loves you.

Jesus said, “’Love the Lord your God with all your heart and with all your soul and with all your mind.’ This is the first and greatest commandment” (Matthew 22:37-38 NIV). This verse describes worship. Worship is simply letting God love you and then loving him back.

Worship is more than just music. You can worship in silence, in giving, in listening, and in serving others. You can worship God in a hundred different ways as you express your love to him.

The opposite of worship is worry, and it’s the warning sign that you’ve stopped worshiping. Every day, you have a choice: “Am I going to worry, or am I going to worship?”

Matthew 6:32 says, “Only people who don’t know God are always worrying about such things” (CEV). Why? Because they're not focused on God’s greatness and his love; they're focused on their problems and insecurities.

If you want to live out your purpose of knowing and loving God, here’s how to start. Every morning, pray, “Lord, I know you made me to love me. Thank you. I love you too. And today, if I don't get anything else done, I want to know you a little bit better and I want to love you a little bit more, because that's the first purpose of my life.”


Mengapa Anda Ada di Dunia Ini?

28 Oktober 2026

Bacaan Hari ini:
Efesus 1:11-12 *"Aku katakan "di dalam Kristus", karena di dalam Dialah kami mendapat bagian yang dijanjikan--kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya supaya kami, yang sebelumnya telah menaruh harapan pada Kristus, boleh menjadi puji-pujian bagi kemuliaan-Nya."*
-------------------
Untuk mengetahui tujuan hidup Anda, Anda harus memulainya dari Allah. Dialah satu-satunya yang dapat memberi tahu Anda apa tujuan hidup Anda.

Jika saya menunjukkan sebuah benda hasil penemuan yang belum pernah Anda lihat sebelumnya dan meminta Anda menjelaskan fungsinya, Anda hanya dapat menebak. Anda tidak akan mengetahui fungsinya kecuali Anda berbicara dengan penciptanya atau membaca buku petunjuk pengguna.

Hal yang sama juga berlaku secara rohani. Anda tidak akan pernah mengetahui tujuan hidup Anda sampai Anda berbicara dengan Allah, Sang Pencipta yang menjadikan Anda, atau membaca buku petunjuk pengguna, yaitu Alkitab.

Anda dapat mencoba menebak apa tujuan hidup Anda. Itulah yang dilakukan filsafat: "Saya pikir tujuan hidup saya adalah ini; saya pikir tujuan hidup saya adalah itu."

Atau, Anda dapat mengikuti budaya yang menyuruh Anda melihat ke dalam diri sendiri untuk menemukan tujuan hidup Anda. Saya pernah melakukannya, dan yang saya temukan hanyalah banyak kebingungan. Bukan hanya itu, berpikir bahwa Anda dapat menemukan tujuan hidup Anda sendiri juga tidak masuk akal, karena Anda bukanlah pencipta diri Anda sendiri! Hanya Allah yang dapat memberi tahu Anda alasan Dia menciptakan Anda.

Alkitab mengatakan, "Aku katakan "di dalam Kristus", karena di dalam Dialah kami mendapat bagian yang dijanjikan--kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya supaya kami, yang sebelumnya telah menaruh harapan pada Kristus, boleh menjadi puji-pujian bagi kemuliaan-Nya." (Efesus 1:11-12).

Jadi, apa sebenarnya makna hidup ini? Alkitab mengajarkan bahwa kehidupan ini hanyalah pertunjukan pembuka—gladi resik sebelum pertunjukan yang sesungguhnya dimulai. Ini bukanlah surga. Itulah sebabnya ada begitu banyak dukacita, penderitaan dan kesedihan di sini. Bumi bukanlah tempat yang sempurna.

Namun, Allah memiliki rencana jangka panjang bagi hidup Anda dan keputusan yang Anda ambil tentang Yesus selama Anda masih hidup di dunia ini akan menentukan di mana Anda akan menghabiskan kekekalan: bersama Allah atau tanpa Dia. Apakah Anda ingin Dia hadir dalam hidup Anda, atau tidak? Pilihan ada di tangan Anda.

Allah sebenarnya menciptakan Anda untuk lima tujuan: mengenal dan mengasihi-Nya, mengasihi orang lain, bertumbuh menuju kedewasaan rohani, melayani-Nya dengan melayani orang lain dan menceritakan tentang Dia kepada orang lain.

Selama dua hari ke depan, kita akan berfokus pada tujuan pertama dan terakhir—mengenal Allah dan menolong orang lain mengenal-Nya. Hidup Anda dimulai dengan mengenal Allah yang menciptakan Anda dan misi Anda mencakup membagikan kasih-Nya kepada orang lain. Memahami dan menjalani tujuan-tujuan ini akan membantu mempersiapkan Anda untuk kehidupan kekal.

Renungkan :

- Mengapa sangat penting untuk menemukan tujuan hidup Anda hanya di dalam Allah?


- Orang sering berpaling kepada filsafat yang hampa atau melihat ke dalam diri sendiri untuk menemukan tujuan hidup mereka. Di mana lagi Anda pernah melihat orang mencoba menemukan tujuan hidup mereka? Di tempat atau hal apa saja, selain Allah, Anda pernah tergoda untuk mencari tujuan hidup Anda?


- Kapan buku petunjuk dari Allah—Alkitab—telah membantu Anda memahami tujuan hidup Anda?

Bacaan Alkitab Setahun :
Ratapan 1-3; I Timotius 2
____________
Untuk mengetahui tujuan hidup Anda, Anda harus memulainya dari Allah. Dialah satu-satunya yang dapat memberi tahu Anda apa tujuan hidup Anda.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
===========
*Why on Earth Are You Here?*
By Rick Warren

*“It’s in Christ that we find out who we are and what we are living for. . . . part of the overall purpose he is working out in everything and everyone.”* Ephesians 1:11-12 (MSG)
----------------
To know the purpose for your life, you've got to begin with God. He’s the only one who can tell you what it is.

If I were to hold up an invention you’d never seen before and ask you to tell me its purpose, you would only be able to guess. You wouldn’t know its purpose unless you either talked to the creator or read the owner's manual.

The same is true spiritually. You will never know the purpose of your life until you either talk to God, the Creator who made you, or read the owner's manual, the Bible.

You can try to guess what your purpose is. That’s what philosophy does: “I think my purpose is this; I think my purpose is that.”

Or you could follow culture, which tells you to look within yourself to discover your purpose. I did that once, and I only found a bunch of confusion. Not only that, but it’s irrational to think you can discover your own purpose, because you didn’t make you! Only God can tell you the reason he made you.

The Message paraphrase says, “It’s in Christ that we find out who we are and what we are living for . . . part of the overall purpose he is working out in everything and everyone” (Ephesians 1:11-12).

So, what’s this life all about? The Bible teaches that this is the warm-up act—the dress rehearsal before the real play begins. This is not heaven. That's why there's a lot of sorrow, suffering, and sadness here. Earth is not a perfect place.

But God has long-range plans for your life, and what you decide about Jesus on this side of eternity will determine where you spend the other side of eternity: with God or without him. Do you want him in your life, or do you not want him in your life? It's your choice.

God actually created you for five purposes: to know and love him, to love others, to grow to spiritual maturity, to serve him by serving others, and to tell others about him.

Over the next two days, we’ll focus on the first and last purposes—knowing God and helping others know him. Your life begins with knowing the God who created you, and your mission includes sharing his love with others. Understanding and living out these purposes will help prepare you for eternity.