Sabtu, 22 April 2017

Apa Arti Sebenarnya dari Pengampunan

Apa Arti Sebenarnya dari Pengampunan

23 April 2017

Bacaan Hari ini:
Lukas 23: 34a 
"Yesus berkata, 
~ "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab 
~ mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat."
------------------------
Pengampunan mungkin menjadi hal yang paling sering 
~ disalahgunakan, 
~ disalahmengerti, dan 
~ disalah pahami dalam budaya kita. 

Kita pikir kita tahu apa yang disebut dengan pengampunan, tapi sebenarnya kita tidak. 

Maka dari itu, sebelum membaca lebih lanjut, jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut ini dan tentukan apakah ini benar atau salah.

1. Seseorang tidak boleh diampuni jika ia tidak memintanya. 

2. Mengampuni berarti meremehkan pelanggaran dan rasa sakit yang ditimbulkannya. 

3. Pengampunan berarti mengembalikan kepercayaan dan menyatukan kembali hubungan-hubungan yang telah retak.

4. Anda belum benar-benar mengampuni sampai Anda melupakan kesalahan orang yang bersalah kepada Anda. 

5. Jika Anda melihat pelanggaran yang dibuat orang kepada Anda, maka adalah tugas Anda untuk mengampuni orang tersebut. 

Ketika Anda membaca Alkitab dan melihat apa yang Allah katakan mengenai pengampunan, Anda akan menemukan bahwa
~ kelima pernyataan itu salah. 

Kita akan memakai beberapa hari ke depan untuk melihat apa yang sebenarnya dimaksud dengan pengampunan, sebab 
~ kebanyakan orang sebenarnya tidak mengerti tentang pengampunan.

Pertama, pengampunan sejati itu tulus. 
Tidak ada embel-embel apa pun. 

Anda tidak mendapatkannya karena 
~ usaha Anda sendiri. 
~ Anda tidak layak mendapatkannya. 
~ Anda tidak bisa melakukan tawar-menawar. 

Pengampunan tidak diberikan karena 
~ kita telah berjanji untuk tidak pernah melakukannya lagi. 

Berikan pengampunan Anda, terlepas apakah 
~ mereka memintanya atau tidak.

Ketika Yesus merentangkan tangan-Nya di kayu salib dan berseru,
~ "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab 
~ mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat," 
(Lukas 23: 34a)

tak ada yang meminta pengampunan dari-Nya. 

Tidak ada yang berkata, 
~ "Ampuni aku Yesus atas apa yang telah kulakukan terhadap-Mu."

Meski Dia tahu tak ada yang akan meminta pengampunan, 
~ Dia tetap menawarkannya.
~ Dia mengambil inisiatif.

Kedua, pengampunan berarti tidak meremehkan parahnya pelanggaran tersebut. Ketika seseorang meminta maaf Anda dan Anda menjawab,
~ "Ini bukan masalah besar.
~ Ini tidak begitu menyakitkan, kok," 

ini justru seperti mengobral pengampunan. 

Apabila itu bukan masalah besar, 
~ Anda tidak membutuhkan permintaan maaf dan 
~ menawarkan pengampunan Anda terhadap orang tersebut. 

Pengampunan hanyalah untuk pelanggaran-pelanggaran besar. 

Anda tidak menggunakannya untuk 
~ kelalaian, 
~ perkara-perkara yang sepele. 

Jika sebuah pelanggaran besar benar-benar membutuhkan pengampunan dari Anda, maka 
~ Anda seharusnya tidak meremehkannya ketika seseorang meminta maaf kepada Anda. 
~ Anda seharusnya tidak mengatakan itu bukan masalah besar.

Sebab itu masalah besar! 

Tapi bila itu bukan masalah besar, katakan saja, 
~ "Kau tidak perlu meminta maaf." 

Tetapi jika itu memang benar adalah masalah besar, maka
~ Anda harus mengakuinya dan memberi pengampunan.

Ada banyak pelanggaran terjadi dalam hidup ini. 

Apakah Anda perhatikan itu? 

Namun, ada perbedaan antara terluka, dengan diperlakukan secara tidak adil. 
~ Terluka membutuhkan kesabaran dan kebesaran hati menerima permintaan maaf, sebab orang tersebut melakukannya dengan tidak sengaja. 

Tapi jika kita diperlakukan tidak adil, 
~ kita perlu menawarkan pengampunan kita. 

Ingatlah bahwa Allah akan 
~ memberi Anda kasih-Nya untuk
~ mengampuni ketika Anda berjalan bersama-Nya di dalam iman. 

Renungkan hal ini: 

~ Luka apa yang sedang Anda nantikan agar seseorang meminta maaf kepada Anda, dan yang mana harus Anda terima? 

~ Mengapa begitu sulit untuk memberikan pengampunan kepada seseorang yang belum memintanya kepada Anda?

~ Bagaimana Anda bisa melewati ini?

~ Dapatkah sikap Anda terhadap pengampunan berubah ketika Anda merenungkan bagaimana Kristus telah mengampuni Anda?

Bagaimana bisa? 
________________
Hanyalah kasih Kristus yang memampukan kita untuk dapat menerima dan memberi pengampunan sejati.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)

Jumat, 21 April 2017

Makar Melalui Kasus Al-Maidah BY ARGO

Kivlan Zein mengatakan kepada Allan Nairn bahwa Ahok adalah berkah bagi gerakan makar melalui kasus keseleo lidahnya tentang Al-Maidah ayat 51. Lantas apa peran Hary Tanoe, Tommy Soeharto, dan Fadly Zon dibalik otak upaya makar melalui Kasus Al-Maidah? Mari kita simak paparan berikut ini.

Allan Nairn Ungkap Peran Harry Tanoe, Tommy Soeharto, Fadly Zon, Dibalik Gerakan Makar Melalui Kasus Al-Maidah
BY ARGO
APRIL 21, 2017 15:35 POLITIK

Siapa Allan Nairn?

Allan Nairn adalah sosok yang menakutkan bagi para Jenderal di Indonesia. Pria kelahiran Morristown, New Jersey, Amerika Serikat, yang lahir pada tahun 1956 yang silam adalah seorang jurnalis kawakan spesialis investigasi yang khusus menulis artikel tentang hasil investigasinya terkait kebijakan luar negeri Amerika Serikat di negara-negara seperti Haiti, Guatemala, Indonesia, dan East Timor.

Pria yang diklaim pernah tujuh kali masuk ke Indonesia secara ilegal itu bagaikan momok yang mengerikan di kalangan militer Indonesia,. Di jaman rezim Soeharto dulu, melalui andil Amerika Serikat, Allan Nairn pernah merasakan dinginnya jeruji besi karena dipenjara oleh pasukan militer Indonesia.

Allan Nairn adalah saksi kunci dalam insiden Santa Cruz di Dili, East Timor, pada tanggal 12 November 1991 yang silam. Militer Indonesia kala itu melakukan pembantaian terhadap 271 warga sipil di Santa Cruz, Dili. Allan mengalami luka retak di kepala akibat dihajar popor senapan M16 tentara Indonesia.

Pada tahun 2010, Allan Nairn kembali menjadi incaran Militer Indonesia karena dianggap telah melakukan fitnah yang keji terhadap militer Indonesia. Allan Nairn menantang dan mengancam balik akan membuka semua borok militer Indonesia jika ia ditangkap.

Pada masa pilpres 2014 yang lalu, Allan Nairn kembali bikin heboh yang membuat mantan Komandan Jenderal Kopassus Prabowo Subianto berang dan murka karena boroknya Prabowo dibuka Allan Neirn ke publik. Allan Nairn dituding telah melanggar janji untuk tidak mengungkap isi wawancara yang dilakukan pada tahun 2001 yang silam itu ke publik sehingga banyak orang akhirnya jadi tahu sisi gelap pemikiran sang mantan Jenderal.

Akibat nyanyian merdu Allan Nairn, elektabilitas Prabowo Subianto yang saat itu sedang berjuang keras untuk memenangkan pertarungannya melawan Jokowi untuk merebut kursi Presiden RI akhirnya tumbang dan ambruk tanpa ampun.

Lantas apa peran Hary Tanoe, Tommy Soeharto, dan Fadly Zon dibalik otak upaya makar melalui Kasus Al-Maidah? Mari kita simak paparan berikut.

Permufakatan Jahat Untuk Menjungkalkan Presiden Jokowi Lewat Kasus Al-Maidah

Dalam tulisan investigasi Allan Nairn yang berjudul, "Trump's Indonesian Allies in Bed with ISIS-Backed Militia Seeking to Oust Elected President", disebutkan bahwa pendukung utama gerakan permufakatan jahat dalam aksi makar untuk menggulingkan Presiden Jokowi yaitu didukung penuh dari belakang layar oleh Fadli Zon, Wakil Ketua DPR-RI saat ini, dan rekan bisnis Donald Trump di Indonesia, Hary Tanoe.

Sumber-sumber hasil investigasi Allan Neirn tentang gerakan makar untuk menumbangkan Presiden Jokowi diperoleh Allan dari sejumlah wawancaranya dan dokumen-dokumen yang diperoleh Allan Nairn dari internal TNI, Kepolisian, Intelijen Indonesia, serta Badan Keamanan Nasional Amerika Serikat (NSA) yang dibocorkan oleh Edward Snowden.

Dalam investigasi Allan Nairn dengan tokoh-tokoh kunci yang menggerakan perlawanan terhadap Presiden Jokowi melalui kasus Ahok, kasus penistaan agama yang menimpa Ahok hanyalah jembatan untuk menuju tujuan yang lebih besar, yaitu menumbangkan Presiden Jokowi dari jabatannya sebagai Presiden Republik Indonesia.

Awal gerakan makar dimulai dari gelombang aksi besar-besaran dengan tema aksi bela Islam yang bermunculan bak jamur di musim penghujan dalam masa Pilpres DKI Jakarta 2017. Aksi-aksi itu sengaja diciptakan sebagai pintu masuk gerakan makar dengan dalih menuntut Ahok segera ditangkap dan dijebloskan ke dalam penjara atas tuduhan penistaan agama dalam kasus Al-Maidah.

Kivlan Zein mengatakan kepada Allan Nairn bahwa Ahok adalah berkah bagi gerakan makar melalui kasus keseleo lidahnya tentang Al-Maidah ayat 51 itu.

Aktor dalam rantai jejaring komando yang berperan sebagai pembuka jalan adalah Front Pembela Islam (FPI) yang dipimpin oleh Rizieq Shihab. Selain Rizieq, juga ada peran Juru Bicara dan Ketua Bidang Keorganisasian FPI, Munarman, serta Fadli Zon, Wakil Ketua DPR RI saat ini.

Arsip Snowden banyak menyimpan dokumen tentang ormas besutannya Rizieq Shihab yang merupakan cabang dari Jemaah Islamiyah, yaitu jaringan jihad yang terlibat dalam kasus Bom Bali pada tahun 2002 yang silam. Selain itu, Munarman juga pernah terekam hadir dalam pembaiatan massal kepada ISIS dan Abu Bakar al Baghdadi.

Dengan kekuatan pendanaan yang baik dan terorganisir rapih, mereka berhasil mengumpulkan masa umat Islam dari berbagai wilayah di Jakarta dan dari luar Jakarta untuk mengepung Jakarta.

Allan Nairn mendapat informasi yang detil terkait aksi-aksi tersebut dari lima laporan internal Intelijen Indonesia. Salah satu laporan menjelaskan bahwa penyandang dana gerakan aksi bela Islam sebagian didanai oleh Tommy Soeharto.

Peran Tommy dalam aksi upaya makar terhadap Presiden Jokowi juga diakui oleh Jenderal (Purn) Kivlan Zein yang punya peran besar membantu FPI dalam memimpin aksi besar-besaran bela Islam di Jakarta pada bulan November 2016 yang lalu.

Selain Tommy Soeharto, laporan lainnya menyatakan bahwa sebagian dana berasal dari Hary Tanoe, rekanan bisnis Donald Trump di Indonesia. Hary Tanoe adalah salah satu sosok yang dianggap penting untuk menjembatani akses Prabowo Subianto ke Donald Trump.

Laporan lainnya yang dipaparkan Allan Nairn dalam tulisan hasil Investigasinya bahwa sebagian dana gerakan FPI berasal dari mantan Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono.

Tujuh staf intelijen/militer aktif dan pensiunan militer mengatakan kepada Allan Nairn bahwa SBY memang menyumbang untuk aksi-aksi FPI, tetapi ia menyalurkannya secara tidak langsung.

Salah satu informan Allan Nairn adalah Laksamana (Purn) Soleman Ponto, mantan Kepala Badan Intelijen Strategis (BAIS) dan penasehat aktif Badan Intelijen Negara (BIN). Soleman Ponto mengatakan bahwa SBY menyalurkan bantuannya melalui masjid dan sekolah.

Soleman Ponto mengetahui hal ini karena selain keterlibatannya di dunia intelijen, ia juga tergabung dalam grup WhatsApp "The Old Soldier" yang terdiri dari Jenderal-Jenderal tua.

Menurut Soleman Ponto, para pendukung gerakan makar menunggangi kasus Ahok sebagai pintu masuk untuk menggulingkan Presiden Jokowi.

Caranya bukan dengan melakukan serangan langsung militer ke Istana Negara dengan senjata, melainkan melalui gerakan soft kudeta hukum, seperti yang dilakukan mahasiswa ketika menggulingkan Presiden Soeharto pada tahun 1998 yang silam.

"Makar ini seperti People Power. Tetapi karena semuanya sudah ada yang mengongkosi, militer tinggal tidur. Dan Presiden sudah terjengkang saat mereka bangun", ujar Soleman Ponto dalam tulisan investigasinya Allan Nairn.

Skenario lainnya, aksi-aksi yang dipimpin FPI diskenariokan untuk membikin Jakarta dan kota-kota lain di Indonesia kacau balau. Tentara akan ikut campur jika ada kekacauan. Dalam keadaan damai, mereka tidak dapat berbuat apa-apa.

Rencana besar ini diuraikan secara rinci oleh dua pentolan FPI, Muhammad Khattath dan Usamah Hisyam, saat Allan Nairn bertemu mereka pada bulan Februari yang lalu.

Setelah Khattath ditangkap polisi, Usamah mengirim pesan kepada Allan Nairn bahwa kini ia yang ambil alih kendali perjuangan di lapangan, seperti halnya peran Khattath yang mengambil alih kendali di lapangan setelah Rizieq digembosi dengan kasus skandal seks.

Kivlan Zein memberitahu Allan Nairn bahwa beberapa hari sebelum demonstrasi besar-besaran di Jakarta pada tanggal 4 November 2016, Kivlan menerima pesan teks dari Mayjen (Purn) l Budi Sugiana yang memintanya untuk ikut serta dan mengambil alih gerakan 411.

Misinya yaitu bergabung bersama Rizieq di atas mokom (mobil komando) selama demonstrasi berlangsung, karena mereka butuh orang untuk mengambil alih massa di luar Istana Negara seandainya Rizieq tertembak dan mati.

Di depan massa, para pemimpin gerakan diharuskan mengklaim bahwa mereka sangat terluka oleh ucapan Ahok. Tetapi secara strategis pernyataan Ahok itu mereka terima dengan senang hati, karena membuka jalan bagi mereka ke arah makar. Pada bulan Desember 2016, Kivlan Zein akhirnya ditangkap Polisi dan digelandang ke Mako Brimob Kelapa Dua, Depok.

Saat Allan Nairn duduk dengan Usamah dan para pimpinan gerakan lain, mereka berdiskusi tentang Hary Tanoe, yang mereka puji sebagai pendukung utama gerakan mereka melalui bantuan dana langsung dan melalui pencitraan di stasiun-stasiun televisi milik Hary Tanoe.

Mereka yang berada di ruangan itu satu suara menginginkan duet pemerintahan Prabowo-Hary Tanoe, Hary sebagai Presiden dan Prabowo sebagai Wakil Presiden, atau sebaliknya, tergantung polling nantinya bagaimana.

***

Artikel ini saya tulis berdasarkan referensi tulisan dari versi asli tulisan Allan Nairn yang berjudul, "Trump's Indonesian Allies in Bed with ISIS-Backed Militia Seeking to Oust Elected President".

Gaya bahasa dalam tulisan ini saya olah dengan gaya bahasa yang mudah dimengerti oleh semua kalangan. Apa yang dipaparkan oleh Allan Nairn diatas hampir mendekati kebenaran, karena memang Ahok hanyalah tumbal. Saya ingat ucapan Presiden Jokowi di Televisi ketika diwawancarai oleh wartawan, masalah pilkada kok larinya ke saya.

Untungnya Presiden Jokowi bukan Presiden yang mudah digulingkan. Beliau mampu mengkosolidasikan situasi genting saat itu dengan mengunjungi kekuatan militer dan melakukan pendekatan kepada Ulama-Ulama para pemimpin agama, sehingga situasi akhirnya dapat dikendalikan dan menjadi kondusif.

Sekalipun latar belakangnya bukan militer, Presiden Jokowi adalah sosok seorang pemimpin yang mampu menaklukan para pensiunan Jenderal bengis yang siap menerkamnya setiap saat disaat lengah.

Seperti statement Jokowi dalam acara debat pilpres 2014 yang lalu, "Kalau soal kedaulatan bangsa, jangan dikira saya tidak bisa tegas, kita akan bikin rame".

Kura-kura begitu.

Kamis, 20 April 2017

Tujuan-Tujuan Kudus Ada pada Janji-Janji Allah

Tujuan-Tujuan Kudus Ada pada Janji-Janji Allah

21 April 2017

Bacaan Hari ini:

Kejadian 24:7 "TUHAN, Allah yang empunya langit, yang telah memanggil aku dari rumah ayahku serta dari negeri sanak saudaraku, dan yang telah berfirman kepadaku, serta yang bersumpah kepadaku, demikian: kepada keturunanmulah akan Kuberikan negeri ini--Dialah juga akan mengutus malaikat-Nya berjalan di depanmu, sehingga engkau dapat mengambil seorang isteri dari sana untuk anakku."
-------------------------------
Banyak orang memulai tahun baru mereka dengan sebuah tujuan. Ada yang membuat resolusi untuk 
~ menurunkan berat badan, 
~ ingin menghabiskan lebih banyak waktu dengan anak-anak mereka,
~ ingin lebih banyak membaca, 
~ ingin mencapai sesuatu yang spesifik di tempat kerja mereka, atau bahkan
~ ingin mewujudkan cita-cita yang mulia (atau sebaliknya, yang tidak begitu mulia). 

Tetapi tidak semua tujuan adalah tujuan yang kudus. Tujuan-tujuan yang kudus ada pada janji-janji Allah di dalam Firman-Nya. Janji-janji-Nya memberi kita keberanian dan iman untuk bergerak maju ketika adalah manusiawi apabila kita takut atau khawatir. 

Dalam Kejadian 24, Abraham memberi hambanya, Eliezer, sebuah misi yang teramat sulit: mencari seorang istri bagi anaknya, Ishak. Pada awalnya, Eliezer mengakui ketakutannya. Ia bertanya pada Abraham, "Apa yang harus aku lakukan jika ketika aku sudah menemukan seorang istri bagi Ishak, tapi ia tak mau ikut denganku?"

Abraham kemudian mengingatkan hambanya itu dengan janji Allah: "TUHAN, Allah yang empunya langit, yang telah memanggil aku dari rumah ayahku serta dari negeri sanak saudaraku, dan yang telah berfirman kepadaku, serta yang bersumpah kepadaku, demikian: kepada keturunanmulah akan Kuberikan negeri ini--Dialah juga akan mengutus malaikat-Nya berjalan di depanmu, sehingga engkau dapat mengambil seorang isteri dari sana untuk anakku"(Kejadian 24: 7).

Setelah Abraham mengingatkan kembali Eliezer dengan janji Allah itu, maka lenyaplah rasa takutnya. Ini juga terjadi pada kita. Memang menakutkan mempertaruhkan segalanya demi mencapai satu tujuan besar. Tak ada seorang pun yang ingin gagal.

Namun, Alkitab mendesak kita untuk tidak mengandalkan kekuatan kita sendiri untuk meraih cita-cita kita. Malah, apabila kita bisa dengan sukses mewujudkannya dengan kekuatan kita sendiri, itu menandakan kita tidak menempatkan tujuan-tujuan kudus sebagai prioritas utama kita. 

Apa yang dikatakan Firman Tuhan tentang tujuan-tujuan Anda di tahun ini? Anda tidak akan pernah tahu kecuali Anda ingin mengetahui apa yang Alkitab ajarkan. Ini ibaratnya punya polis asuransi tapi Anda tak tahu apa manfaat yang Anda dapat dari asuransi Anda itu. Dan akibatnya Anda hanya akan terus-menerus mengkhawatirkan banyak hal dengan sia-sia. 

Dalam Alkitab, Allah berjanji untuk membantu kita untuk menjadi sehat, menjadi orangtua yang lebih baik, keluar dari hutang piutang, dan masih banyak lagi. Tapi apabila kita tidak tahu tentang janji-janji Allah tersebut dan mengklaimnya, kita hanya akan terus-menerus khawatir ketika berusaha mewujudkan tujuan-tujuan kita itu. 

Sejujurnya, Anda tidak harus memiliki iman yang besar untuk mencapai tujuan besar. Anda hanya perlu percaya pada Allah yang besar! Allah kita adalah Allah dari seluruh alam semesta. Tak ada yang mustahil bagi-Nya. 

Apakah Anda siap memercayakan Allah untuk mencapai tujuan-tujuan yang Anda anggap mustahil?

Renungkan hal ini: 

Apakah janji-janji yang tidak ditepati oleh orang-orang di masa lalu Anda memberi dampak pada kesanggupan Anda untuk percaya pada Allah? Bagaimana bisa?

Apa janji di dalam Firman Allah yang Anda butuhkan untuk menguatkan Anda dalam mewujudkan tujuan-tujuan Anda?

Mengapa dengan bersandar pada janji-janji Allah akan memberikan kepercayaan diri yang Anda perukan untuk mencapai tujuan Anda?
__________________
Percaya pada Allah adalah kunci mujizat dalam hidup kita.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)


Dikirim dari Yahoo Mail di Android


Rabu, 19 April 2017

Ahok Hanyalah Dalih untuk Makar

Investigasi Allan Nairn: Ahok Hanyalah Dalih untuk Makar

Reporter: Allan Nairn
19 April 2017dibaca normal 10 menit
Allan Nairn. tirto.id/Sabit



Investigasi tentang persekutuan para jenderal mendongkel Jokowi lewat kasus Almaidah.

tirto.id - Rekan-rekan Donald Trump di Indonesia telah bergabung bersama para tentara dan preman jalanan yang terindikasi berhubungan dengan ISIS dalam sebuah kampanye yang tujuan akhirnya menjatuhkan Jokowi. Menurut beberapa tokoh senior dan perwira militer dan intelijen yang terlibat dalam aksi yang mereka sebut sebagai "makar", gerakan melawan Presiden Jokowi diorkestrasi dari belakang layar oleh beberapa jenderal aktif dan pensiunan.

Pendukung utama gerakan makar ini termasuk Fadli Zon, Wakil Ketua DPR-RI dan salah satu penyokong politik Donald Trump; dan Hary Tanoe, rekan bisnis Trump yang membangun dua Trump Resort, satu di Bali dan satu di dekat Jakarta.

Laporan tentang gerakan menjatuhkan Presiden Jokowi ini disusun berdasarkan sejumlah wawancara dan dilengkapi dokumen dari internal tentara, kepolisian, dan intelijen yang saya baca dan peroleh di Indonesia, juga dokumen Badan Keamanan Nasional AS (NSA) yang dibocorkan Edward Snowden. Banyak sumber dari dua belah pihak yang berbicara tanpa mau disebutkan namanya. Dua dari mereka mengungkapkan kekhawatiran atas keselamatan mereka.   

Siapakah Allan Nairn? Baca kiprah dan sepak terjang Allan Nairn: Mimpi Buruk Para Jenderal.


Usaha Makar

Protes besar-besaran muncul menjelang Pilgub DKI Jakarta 2017. Mereka menuntut petahana Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama, Ahok, dipenjara atas tuduhan penistaan agama. Dengan pendanaan yang baik dan terorganisir, demonstrasi berhasil mengumpulkan puluhan ribu–beberapa sumber menyebut hingga jutaan–di jalanan Jakarta.

Dalam perbincangan dengan tokoh-tokoh kunci gerakan perlawanan terhadap Ahok, diketahui kasus penistaan agama ini hanya dalih untuk tujuan yang lebih besar: menyingkirkan Joko Widodo dan mencegah tentara diadili atas peristiwa pembantaian sipil 1965–pembantaian yang dilakukan militer Indonesia dan didukung pemerintah AS. Aktor utama dalam 'serangan pembuka' yang berperan sebagai penyuara dan pendesak adalah Front Pembela Islam (FPI), yang diketuai Rizieq Shihab. Bersama Rizieq, dalam rantai komando juga ada juru bicara dan Ketua Bidang Keorganisasian FPI, Munarman, serta Fadli Zon.

Munarman, yang sempat terekam hadir dalam pembaiatan massal kepada ISIS dan Abu Bakar al Baghdadi, adalah pengacara yang bekerja untuk Freeport McMoran, yang saat ini dikendalikan oleh Carl Icahn, sahabat Donald Trump. Meski koneksi Trump tampak penting dalam plot makar ini, belum diketahui apakah Trump atau Icahn punya hubungan langsung. Sementara Munarman tidak menanggapi permintaan komentar untuk artikel ini.

Arsip Snowden menyimpan banyak dokumen terkait FPI. Termasuk di dalamnya dokumen yang menuliskan bahwa kepolisian Republik Indonesia tak berani menangkap FPI karena takut serangan balik, dan dokumen lain yang memaparkan FPI adalah cabang dari Jemaah Islamiyah, jaringan jihad yang terlibat dalam Bom Bali tahun 2002, dan dokumen pengiriman senjata api dari Kepolisian Republik Indonesia untuk latihan anggota FPI Aceh. NSA dan Gedung Putih tak merespons tulisan ini.

Sementara gerakan protes besar-besaran yang digelar FPI berlangsung selama enam bulan terakhir, saya mendapatkan informasi yang rinci dari lima laporan internal intelijen Indonesia. Laporan-laporan itu disusun oleh tiga agen pemerintah Indonesia. Seluruhnya dikonfirmasi oleh sedikitnya dua tokoh militer, intelijen, atau staf istana.

Salah satu laporan menyatakan bahwa gerakan ini sebagian didanai Tommy Soeharto--anak diktator Soeharto--yang pernah masuk bui gara-gara menembak mati hakim yang memvonisnya bersalah. Sumbangan finansial Tommy juga diakui oleh Jenderal (Purn) Kivlan Zein. Kivlan sendiri, yang membantu FPI memimpin protes besar-besaran di Jakarta pada November lalu, sedang menghadapi ancaman penjara dengan tuduhan makar. Ia juga bekas pemimpin tim kampanye Prabowo dalam pemilu 2014.

Laporan lain menyatakan bahwa sebagian dana berasal dari Hary Tanoe, miliuner rekanan bisnis Donald Trump. Para tokoh penting gerakan protes itu--beberapa di antaranya saya temui pada Jumat silam--berkali-kali menekankan kepada saya bahwa Hary adalah salah satu pendukung mereka yang terpenting. Mereka berharap Hary dapat jadi penghubung antara Prabowo dan Trump.

Manimbang Kahariady, salah seorang pejabat Partai Gerindra, mengaku ia berjumpa Hary tiga hari sebelum pertemuan kami. Ia dan tokoh-tokoh gerakan yang lain yakin bahwa Hary memberitahu Trump mengenai pentingnya mendukung mereka dan menyingkirkan lawan-lawan mereka, dan itu dimulai dari Ahok.

Tommy Soeharto tak dapat dihubungi untuk dimintai keterangan. Harry Tanoe menolak berkomentar.

Laporan ketiga menyatakan bahwa sebagian dana gerakan FPI berasal dari mantan presiden dan Jenderal (Purn) Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)--informasi yang membikin jengkel Presiden Jokowi ini terbongkar kepada khalayak dan kemudian ditanggapi SBY dalam mode marah. SBY langsung menyatakan bahwa itu dusta belaka dan pemerintah telah menjahatinya dengan cara menyadap teleponnya.

Tujuh staf intelijen/militer aktif dan pensiunan menyatakan kepada saya bahwa SBY memang menyumbang untuk aksi protes FPI, tetapi menyalurkannya secara tidak langsung. Salah satu informan tersebut adalah Laksamana (Purn) Soleman Ponto--bukan pendukung gerakan makar--mantan Kepala Badan Intelijen Strategis (BAIS) dan penasehat aktif Badan Intelijen Negara (BIN). "SBY menyalurkan bantuannya lewat masjid dan sekolah," kata Soleman.

Hampir semua pensiunan tentara dan sebagian tokoh militer, menurut Soleman, mendukung tindakan SBY tersebut. Ia mengetahui hal ini karena -- selain keterlibatannya di dunia intelijen -- jenderal-jenderal pro makar adalah rekan dan kawan-kawannya, banyak di antara mereka berhimpun dalam grup WhatsApp "The Old Soldier".

Menurut Soleman, para pendukung gerakan makar di kalangan militer menganggap Ahok cuma pintu masuk, gula-gula rasa agama buat menarik massa. "Sasaran mereka yang sebenarnya adalah Jokowi," katanya.

Caranya tentu bukan serangan langsung militer ke Istana Negara, melainkan "kudeta lewat hukum", mirip-mirip kebangkitan rakyat yang menggulingkan Soeharto pada 1998. Hanya, kali ini publik tidak berada di pihak pemberontak--dan tentara nasional Indonesia, alih-alih melindungi Presiden, lebih senang ikut menggerogotinya.

"Makar ini bakal kelihatan seperti pertunjukan People Power," ujar Soleman. "Tetapi karena semuanya sudah ada yang mengongkosi, militer tinggal tidur", dan presiden sudah terjengkang saat mereka bangun.

Skenario lainnya: aksi-aksi protes yang dipimpin FPI bakal menggelembung kelewat besar, membikin Jakarta dan kota-kota lain kacau-balau, lalu militer datang dan menguasai segalanya atas nama menyelamatkan negara. Kemungkinan penuh kekerasan ini dibicarakan secara rinci oleh dua pemimpin FPI, Muhammad Khattath dan Usamah Hisyam, saat saya bertemu mereka Februari lalu (Usamah adalah penulis biografi SBY yang berjudul SBY: Sang Demokrat).

Lebih dari urusan keagamaan, menurut mereka masalah terbesar Indonesia saat ini adalah komunisme gaya baru, dan militer harus siap turut campur dan menggembalakan keadaan karena Indonesia belum cukup dewasa untuk demokrasi. Jokowi, kata mereka, menyediakan lahan bagi komunisme dan satu-satunya organisasi yang cukup kuat buat menghadapi komunisme ialah tentara nasional.

Mereka mengaku sudah punya daftar orang-orang komunis di Dewan Perwakilan Rakyat dan pemerintah yang mereka incar. Di lapangan, mereka mengikuti panduan taktik dan strategi dari seorang jenderal antikomunis yang bekerja bersama mereka. Tentara hanya mungkin ikut campur bila ada kekacauan. Dalam keadaan damai, mereka tak dapat berbuat apa-apa.

Khattath dan Usamah berkata kepada saya bahwa mereka tidak menginginkan pertumpahan darah. Mereka ingin kudeta damai, tetapi juga menekankan bahwa dalam beberapa pekan ke depan bakal ada revolusi oleh umat. Istana ketakutan, kata mereka.

Setelah Khattath ditangkap polisi dengan tuduhan makar, Usamah mengirimkan pesan kepada saya bahwa kini ia mengambil kendali perjuangan di lapangan--sebagaimana  peran Khattath setelah imam besar FPI Rizieq Shihab digembosi skandal seks dan masalah-masalah lain.

1965, Lagi

Segera setelah wawancara kami selesai, saya menerima dokumen dari seorang perwira militer, yang bisa dianggap sebagai template untuk komentar-komentar Khattath dan Usamah tentang aksi-aksi jalan. Berjudul "Analisis Ancaman Komunis Gaya Baru di Indonesia", dokumen tersebut merupakan rangkaian salindia powerpoint yang digunakan sebagai materi pelatihan ideologis di tangsi-tangsi militer seantero Indonesia.

Komunisme Gaya Baru, disingkat "KGB", adalah sebuah konsep yang mengisahkan ancaman komunis melalui cerita-cerita tentang sosok Stalin, Pol Pot, dan Hitler—dan  tampaknya ancaman ini cukup luas sampai-sampai mencakup siapapun yang mengkritik TNI.

Mengacu pada kebijakan yang dituding berwatak komunis seperti "program kesehatan dan pendidikan gratis," dokumen itu mencela "pluralisme dan keragaman dalam sistem sosial" sebagai ancaman khas "KGB" yang sedang pasang di Indonesia. Dengan menggunakan teknik penilaian ancaman (threat assessment techniques) yang diambil dari nukilan-nukilan doktrin dan teks intelijen Barat—kadang ditulis dalam bahasa Inggris—dokumen tersebut memperingatkan bahwa kaum komunis "sedang memisahkan tentara dari rakyat" dan "memanfaatkan isu-isu hak asasi manusia dan demokrasi, seraya memosisikan diri sebagai korban demi meraih simpati."

Pernyataan tentang korban-korban pelanggaran HAM jelas merujuk pada tokoh-tokoh seperti Munir Said Thalib, teman saya, seorang pembela keadilan sosial yang brilian, yang dibunuh pada tahun 2004 dengan dosis besar arsenik yang menyebabkan dia muntah sampai mati dalam sebuah penerbangan ke Amsterdam; atau korban pembantaian 1965 yang berjumlah sekitar satu juta warga sipil, yang dibunuh oleh tentara dengan dukungan AS dalam rangka mengonsolidasikan kekuasaan setelah percobaan kudeta.

Ihwal pembantaian 1965 muncul ketika saya berbincang dengan Jenderal (Purn) Kivlan Zein, yang mengatakan bahwa jika Jokowi menolak tunduk pada keinginan tentara, taktik serupa bisa dikerahkan lagi.

Sebagaimana banyak pejabat yang sempat berbincang dengan saya, Kivlan menyatakan gerakan jalanan yang didukung tentara dan krisis saat ini buntut dari Simposium 1965, yang memungkinkan penyintas dan keturunan korban '65 untuk membicarakan secara terbuka apa yang telah menimpa mereka dan menceritakan bagaimana orang-orang yang mereka cintai meninggal. Bagi sebagian besar tentara, simposium tersebut adalah kekurangajaran yang tak bisa diterima dan dengan sendirinya menjustifikasi gerakan kudeta. Seorang jenderal mengatakan kepada saya bahwa yang paling membuat marah rekan-rekannya adalah karena simposium itu "menyenangkan korban." Simposium itu, tentu saja, tidak ada hubungannya dengan Gubernur Ahok atau persoalan agama mana pun, melainkan soal tentara dan kejahatannya.

"Kalau bukan karena Simposium itu, gerakan seperti sekarang ini tidak akan ada," kata Kivlan. "Sekarang komunis sedang bangkit lagi," keluh Kivlan. "Mereka ingin mendirikan partai komunis baru. Para korban '65, mereka semua menyalahkan kami.... Mungkin kita akan lawan mereka lagi, seperti tahun '65."

Saya terkejut dengan pernyataan itu. Saya ingin memastikan saya tidak keliru mendengarnya.

"Bisa saja terjadi, '65 bisa terulang lagi," ulang Kivlan.

Alasannya?

"Mereka mencari keadilan yang setimpal."

Dengan kata lain, Kivlan sedang membangkitkan momok baru pembantaian massal jika korban tidak berusaha melupakan. Kivlan menjelaskan secara rinci mengapa kudeta '65 dibenarkan. Dia mengatakan bahwa presiden yang digulingkan, Soekarno, yang saat itu 'ditawan' oleh tentara, telah memberikan perintah kepada angkatan bersenjata untuk mengambil alih kekuasaan. Dan parlemen telah "menyerahkan kekuasaan" kepada Angkatan Bersenjata.

Saya bertanya, mungkinkah itu terjadi lagi sekarang?

"Bisa saja," jawabnya. "Tentara bisa bergerak lagi sekarang, seperti Soeharto di era itu."

Kivlan mengatakan kepada saya bahwa Juli lalu, setelah simposium, Jokowi mengunjungi markas TNI dan menyatakan kepada para jenderal yang berkumpul saat itu bahwa "ia tidak akan meminta maaf kepada PKI."

"Jika Jokowi tetap berada di jalur itu"—sikap tidak meminta maaf--"Dia tidak akan digulingkan. Dia akan selamat. Tapi jika dia meminta maaf: [dia] Selesai, tamat," kata Kivlan.

Saya ingin memastikan kembali apakah dia benar-benar mengatakan bahwa  tentara akan bertindak seperti di tahun '65 lagi.

"Ya, untuk mengamankan situasi, termasuk seperti tindakan di tahun '65."

"No say surrender," pungkasnya, dalam bahasa Inggris.

Meskipun Kivlan dipandang sebagai golongan yang cenderung ideologis di antara para jenderal, perlu dicatat bahwa banyak rekannya mulai kasak-kusuk menggulingkan Jokowi sekalipun Jokowi tidak meminta maaf. Dalam hal ini, Kivlan termasuk dalam sayap moderat. Yang luar biasa, usulan minta maaf kepada korban ternyata cukup membuat para jenderal kebakaran jenggot untuk menggulingkan presiden.

Kivlan sering disebut-sebut sebagai salah satu orang yang berjasa menciptakan FPI setelah Soeharto jatuh. Dalam percakapan kami, Kivlan membantah ikut bertanggung jawab merancang FPI, namun dia terus membahas secara rinci bagaimana kelompok tersebut hanyalah salah satu contoh yang lebih luas dari strategi tentara dan polisi untuk menciptakan kelompok-kelompok sipil binaan—yang kadang bercirikan Islam, kadang tidak—yang dapat digunakan untuk menyerang para pembangkang seraya mencuci tangan aparat.

Kivlan menyatakan bahwa beberapa hari sebelum demonstrasi besar-besaran di Jakarta pada tanggal 4 November 2016, ia menerima pesan teks dari Mayjen (Purn)l Budi Sugiana yang memintanya "untuk ikut serta dan mengambil alih gerakan 411."

Misinya, kata Kivlan, adalah "untuk menyelamatkan Indonesia," dengan bergabung bersama pemimpin FPI Habib Rizieq di atas mobil komando selama demonstrasi, karena "mereka butuh orang untuk mengambil alih massa [di luar istana], seandainya [Rizieq] ditembak dan mati."

Pada bulan Desember, Kivlan ditangkap polisi atas tuduhan menggulingkan Jokowi. Namun ketika kami berbincang pada akhir Februari, dia tetap saja bebas dan bahkan melancong ke luar negeri. Dia malah menyatakan sedang melaksanakan suatu misi untuk Jenderal Gatot Nurmantyo, Panglima TNI saat ini, yakni berupaya membebaskan para sandera Indonesia di Filipina.

Soal pertanyaan siapa yang diam-diam membekingi gerakan tersebut dan siapa yang betulan "komunis", Kivlan berbicara secara on the record dan off the record, secara persis dan umum. Karakterisasinya atas sikap kawan-kawannya sesama jenderal sangat berkaitan erat dengan sikap aparat lainnya yang banyak diceritakan orang. Namun, tidak seperti kebanyakan dari mereka, Kivlan mengatakannya secara on the record.

"Begitu banyak pensiunan militer—dan yang masih aktif dalam militer—yang bersama FPI.... Karena FPI pun bertujuan melawan komunis."

Setelah apa yang dia bicarakan tentang penggulingan Jokowi dan mengambil tindakan seperti pada tahun '65, saya bertanya: apakah Jenderal Gatot—Panglima angkatan bersenjata saat ini—setuju?

"Dia setuju!"

Tapi dia pun menambahkan, sebagai perwira yang masih aktif, Gatot harus "sangat berhati-hati" mengambil sikap di depan publik.

Pernyataan on-the-record Jenderal Kivlan tentang peran Gatot konsisten dengan jenderal-jenderal lainnya dan para penggerak kudeta, serta dengan pernyataan yang diduga bersumber dari Presiden Jokowi sendiri. Saya pun bertanya kepada seorang pejabat yang memiliki akses rutin ke presiden tentang klaim yang dilontarkan Jokowi, "apakah Gatot merupakan faktor utama dalam kudeta tersebut?" Pejabat itu menjawab, ya, presiden mengatakan itu, dalam pertemuan tertutup. Gatot tidak merespons permintaan tanggapan untuk artikel ini.

Mengenai bos lamanya, Prabowo, Kivlan berkata: "Dia tak mau dekat-dekat, tetapi dia terlibat melalui Fadli Zon." Prabowo akan kesulitan jika terlihat mesra dengan gerakan itu. Sedangkan mengenai menteri pertahanan Ryamizard, Kivlan bilang "hatinya setuju dengan tujuan kami, tetapi tidak dapat bicara."

Kivlan memuji cara Wiranto menempatkan diri. "Wiranto bagus," katanya, "karena dia mau bikin harmoni dengan gerakan" dan memperjuangkan kepentingan mereka dalam kapasitasnya selaku Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan.

Kivlan menambahkan bahwa Wiranto, yang terancam dakwaan kejahatan perang di Timor Leste, punya rencana bagus untuk perkara genting yang dihadapi tentara. Ia mendesak Jokowi supaya "tak ada pengadilan HAM."

Elegannya strategi mendorong kudeta itu adalah militer akan menang sekalipun kudeta gagal. Meski Jokowi tetap menjabat presiden, para jenderal akan aman--menurut mereka--dari pengadilan HAM. Sebab, untuk menyingkirkan segerombolan pembunuh, presiden harus merangkul kumpulan jenderal yang tak kalah bengisnya.

Yang terdepan di antara mereka adalah A.M Hendropriyono, mantan Kepala BIN dan aset CIA, yang terlibat dalam pembunuhan Munir serta serangkaian kejahatan besar lain. Sepanjang krisis ini, orang-orang Hendrolah (tentara, intelijen, polisi, sipil) yang mengepalai benteng pelindung Jokowi. Orang-orang Hendrolah yang mengatur penangkapan-penangkapan atas nama kudeta dan memincangkan Rizieq Shihab dengan skandal bokep, juga menghajar sumber-sumber dana gerakan dengan tuduhan pencucian uang ISIS.

Gantinya, Hendro dan konco-konconya memperoleh jaminan kekebalan dari peradilan. Dan dalam aturan aparat, jika mereka aman, semua orang aman. Ada persetujuan diam-diam untuk menolak prosekusi terhadap rekan, sekalipun jika kedua pihak bermusuhan.

Pada Februari, di bawah tekanan istana, pengadilan administrasi Jakarta menyatakan bahwa pemerintahan Jokowi bisa menghindari kewajiban hukum merilis laporan tim pencari fakta yang secara terbuka membahas tanggung jawab Hendropriyono dalam perkara pembunuhan Munir. Janda Munir, Suciwati, dan Haris Azhar dari Kontras, mengecam vonis itu dan menyebutnya sebagai usaha "melegalkan kriminalitas".

Dengan gaya yang mirip, gerakan kudeta juga telah membantu Freeport. Sejak tahun lalu, pemerintah Jokowi, berupaya menulis ulang kontrak negara dengan Freeport dan mengembalikan hak ekspor mereka. Pada saat yang sama, pemerintah diguncang oleh gerakan yang dipimpin pengacara yang bekerja untuk Freeport.

Pada awal April, setelah gerakan permulaan yang polisi klaim sebagai empat upaya merebut Kongres dan Istana, pemerintahan Jokowi mengejutkan dunia politik Indonesia dengan tiba-tiba menyerah kepada Freeport dan memberi lampu hijau ekspor tembaga baru. Mundur tiba-tiba tidak membuat sengketa selesai--lebih dalam lagi, isu mengenai kontrak masih tersisa--tetapi, seperti yang dikatakan pejabat Jokowi kepada saya, pemerintah saat ini merasa posisinya melemah.

Dalam sebuah cerita yang berjudul lucu, "Freeport mendapat karpet merah, sekali lagi," Jakarta Post menulis: "Pemerintah berusaha membela keputusannya, meskipun tidak ada dasar hukum yang membelakanginya... Freeport dinilai telah menghindari peluru lagi."

Wakil Presiden Amerika Serikat Mike Pence akan mengunjungi Indonesia pada 20 April. Staf-staf pemerintahan Jokowi menduga, berbisik-bisik, bahwa tuntutan-tuntutan Freeport akan jadi prioritas utamanya. Salah seorang tokoh gerakan, dalam pertemuan kami Jumat lalu, menatap saya dan berseru: "Pence bakal mengancam Jokowi soal Freeport!"

Freeport Indonesia tidak menanggapi permintaan konfirmasi.

Dalih Penistaan Agama

Kivlan mengejutkan saya ketika menyatakan bahwa Gubernur Ahok telah memberi "sebuah berkah" kepada gerakan tersebut dengan "keseleo lidahnya" terkait Al-Maidah ayat 51.

Dalam penampilan mereka di muka publik, para pemimpin gerakan diharuskan mengklaim bahwa mereka selamanya terluka oleh ucapan Ahok. Tapi salah satu dari mereka, dengan senyum simpul, mengakui bahwa secara strategis pernyataan Ahok itu mereka terima dengan senang hati, karena ia memungkinkan FPI dan para sponsornya menggeser perimbangan kekuasaan di Indonesia, melesatkan reputasi mereka dari preman jalanan menjadi pakar agama.

Lebih dari itu, saat saya duduk dengan Usamah dan para pimpinan gerakan lain, yang dengan setengah bercanda ia sebut sebagai "politbiro", mereka secara santai berdebat tentang boleh tidaknya nonmuslim memimpin umat Islam. Mereka melakukan itu ketika mendiskusikan Hary Tanoe, yang secara berlebihan mereka puji sebagai pendukung utama gerakan mereka--melalui bantuan dana langsung dan stasiun televisinya, yang kena tegur KPI karena bias politik yang terlalu pro-gerakan secara tak wajar dan ketidakakuratan dalam pemberitaan--dan garis hidup yang mereka bayangkan terhubung dengan Presiden Donald Trump.

Mereka yang berada di ruangan itu satu suara menginginkan pemerintahan Prabowo-Hary Tanoe, Hary sebagai presiden dan Prabowo sebagai wakil, atau sebaliknya, tergantung poling.

Persoalannya, dan sepertinya tidak terlalu mengusik mereka, Hary adalah seorang China-Kristen seperti Ahok. Apabila standar yang mereka tetapkan kepada Ahok mereka pegang teguh, seharusnya Hary tidak masuk kualifikasi untuk memimpin Jakarta, apalagi Indonesia.  

==========

Laporan ini rilis pertama kali di situs The Intercept. Laporan aslinya berjudul: "Trump's Indonesian Allies in Bed with ISIS-Backed Militia Seeking to Oust Elected President". Tirto mendapatkan izin dari Allan Nairn untuk mempublikasikan edisi Indonesia khusus untuk pembaca Indonesia. Penerjemahan dikerjakan dengan menanggalkan beberapa bagian yang kami anggap minor. Tentang sosok Allan Nairn, baca kisah lengkap sepak terjangnya DI SINI

Baca juga artikel terkait ALLAN NAIRNatau tulisan menarik lainnya Allan Nairn 

(tirto.id - aln/zen)


STIGMA

Goenawan Mohamad 

STIGMA

Ahok kalah; pilkada DKI 2017 sudah menentukan itu.  Segera, apa yang terjadi dengan hiruk pikuk selama ini, akan jadi sejarah.  

Banyak yang lega --  karena Anies menang ataupun karena kita akhirnya melampaui kebencian yang meracuni udara  kampanye, suasana yang meretakkan banyak pertemanan.  

Tapi saya harap satu hal tak dilupakan.

Ahok maju ke dalam arena dengan belenggu di tubuhnya:  belenggu sebagai "penista agama".  Ia bisa bergerak dan bisa bicara, tapi ia tak sepenuhnya bebas.  Prestasinya sebagai kepala daerah, yang diakui sebagian besar warga -- yang membuat ia sebenarnya tak tertandingi --  nyaris tak tampak dan terdengar lagi. 

Dalam sejarah politik Indonesia, mungkin apa yang dicapkan pada Ahok merupakan teknik membuat stigma yang paling berhasil.  

Stigma itu bermula dari fitnah. Ia tak menghina agama Islam, tapi tuduhan itu tiap hari diulang-ulang; seperti kata ahli propaganda Nazi Jerman, dusta yang terus menerus diulang akan jadi "kebenaran". Kita mendengarnya di masjid-masjid, di media sosial, di percakapan sehari-hari,  sangkaan itu menjadi bukan sangkaan, tapi sudah kepastian.

Ahok pun harus diusut oleh pengadilan, dengan undang-undang "penistaan agama" yang diproduksi rezim Orde Baru -- sebuah undang-undang  yang batas pelanggarannya  tak jelas, dan tak jelas pula siapa yang sah mewakili agama yang dinista itu.

Walhasil, Ahok diperlakukan tidak adil dalam tiga hal: (1) difitnah,  (2) dinyatakan bersalah sebelum pengadilan, (3) diadili dengan hukum yang meragukan.

Mengakui adanya ketidak-adilan di dalam kasus ini tapi bertepuk tangan untuk kekalahan politik Ahok -- yang tak bisa diubah -- adalah sebuah ketidak-jujuran. 

Ahok kalah, ia bahkan masih bisa di jatuhi hukuman dalam proses pengadilan yang di bawah tekanan aksi massa itu.  Jangan-jangan  kebenaran juga kalah -- di masa yang merayakan "pasca-kebenaran" kini. // Gunawan Mohamad

Sejarah Ditulis Oleh Orang Yang Digantung

Sidang Ahok Ke 19 : Sejarah Ditulis Oleh Orang Yang Digantung

Oleh : Birgaldo Sinaga

Ces't La Vie kata orang Prancis. Thats a life. Begitulah kehidupan. Kata-kata ini menjadi kata penutup dari seorang sahabat yang kemarin menelponku. Ia yang selama ini terus memberikan dorongan semangat dalam berjuang memenangkan Basuki Tjahaya Purnama. Ia tahu kecewaku, Ia mencoba menghiburku. Begitulah kehidupan. Kau harus bangkit katanya.

Pagi hari ini kehidupan kembali bergulir. Mentari masih tetap sama memancarkan sinarnya dengan angkuh. Angin masih tetap sama berhembus menghampiri dedaunan. Sebagian daun kekuningan jatuh karena hembusan angin itu.  Burung-burung masih tetap sama terbang lalu  hinggap di dahan pohon. Mereka bercengkerama  dengan sesekali berkicau nyaring. Mereka menyambut fajar dengan kicau tanda mencari butiran padi dan ulat akan dimulai.  Tidak ada yang berubah. Ces't la vie.

Pagi ini juga ada jutaan  kendaraan bergerak di jalanan Jakarta. Jutaan orang yang bergerak itu punya tujuan. Mereka pergi bekerja mencari uang. Uang untuk membuat keluarganya tetap hidup. Jika tidak bekerja, kemelaratan yang akan terjadi. Miskin menderita. Kehidupan kembali pada porosnya. Ces't la vie.

Kehidupan  sejatinya selalu begitu. Sejak manusia ada kehidupan selalu begitu. Tak peduli siapa Presiden atau Rajamu, kita masing-masing akan bersaing untuk hidup. Seorang suami akan mencari nafkah, sementara sang istri mengelola rumah tangga atau sebaliknya bisa terjadi. Anak-anak kembali ke sekolah. Para jomblo ada yang masih tertidur bermimpi sedang memadu kasih,  sebagian jomblo lain ada yang bersemangat mencari target baru. Thats a life. Ces't la vie. Begitulah kehidupan.

Kepingan-kepingan kehidupan kecil itu tentu dipengaruhi oleh kepingan kehidupan besar lainnya. Tanpa kita sadari setiap zaman selalu punya cerita epic yang mempengaruhi hidup kita. 

Sebut saja kisah perjuangan Bung Karno pada zaman kolonial Belanda.Saat membela dirinya di depan Sidang Pengadilan Belanda pada 1929, Soekarno menulis pledoi epic dengan judul "Indonesia Menggugat". Pledoi Indonesia Menggugat itu mengguncang zamannya. Bahkan  menembus Eropa, negeri penjajah Belanda. Bung Karno akhirnya menjadi penggerak utama Indonesia menjadi merdeka dari penjajahan. Soekarno membuat sejarah.

Di benua Eropa sana pada abad ke 13, ada seorang ksatria Skotlandia bernama William Wallace.  Ia  dihukum mati dengan keji oleh Raja Inggris Edward I. William memimpin perjuangan membebaskan negerinya dari jajahan Inggris dengan gagah berani. Ia tertangkap oleh karena pengkhianatan kawan seperjuangannya sendiri. Kawan seperjuangannya menerima tawaran Raja Edward I asal mau menyerahkan William.

Saat William  dihukum akan ditarik anggota tubuhnya sampai putus, William diminta memohon ampun agar menyembah Raja Edward I. Ia menolak. Baginya kematian lebih mulia daripada hidup tapi tunduk terhina. Akhirnya kematian William menjadi awal perjuangan besar kebebasan. Skotlandia merdeka dari penaklukan Inggris. William membuat sejarah.

Kisah  kepahlawanan besar dari William Wallace dengan epic difilmkan oleh Mel Gibson dalam film box office Brave Heart. 

Hari ini, kita juga sedang menyaksikan kisah bersejarah. Kisah tentang seorang anak bangsa bernama Basuki Tjahaya Purnama. Basuki atau Ahok  punya patriotisme besar membela martabat rakyatnya. Sayangnya Ia harus terduduk sebagai pesakitan. Ia menjadi terdakwa  karena tuduhan kebencian dan syahwat berkuasa dari mereka yang selama ini berusaha menjegalnya. 

Sejarah selalu ditulis oleh orang yang digantung. Begitu kata orang bijak. Ahok telah digantung oleh bangsanya sendiri. Ahok telah dikuliti oleh bangsanya sendiri. Ahok telah dihina dan  dinista cemooh oleh bangsanya sendiri. Ahok telah diperkosa oleh bangsanya sendiri. Itulah sejarah yang akan tertulis dalam kepingan ingatan kita sebentar lagi.

Kepingan-kepingan sejarah itu akan membekas abadi. Kepingan bahwa  ada seorang anak bangsa pembela orang miskin  yang bertarung bak  gladiator dalam menyelamatkan uang rakyatnya dari buasnya srigala politik akhirnya dipaksa menjadi terpidana. 

Ia yang berjuang dengan pembegal APBD yang bertaring tajam harus menerima hukuman dari  tindakan yang tidak pernah ada diniatkannya. Ia terlihat seperti kehabisan darah dalam gelanggang sidang pengadilan paling keji dalam sejarah republik berdiri. Ia terluka. Terhina. Terpojok. Terendahkan martabatnya. Tapi Ia menerimanya dengan lapang dada. Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil. Begitu imannya.

Hari ini, sidang tuntutan tuduhan keji itu akan dibacakan. Dengan langkah tegap gagah berani Ia berjalan. Ia dengan kepala tegak berjalan masuk ruang pengadilan sekalipun kemarin Ia kalah dalam bertarung habis-habisan merebut kursi Gubernur. Ahok hari ini dipaksa untuk mendengarkan narasi kesimpulan persidangan panjang atas tuduhan menista agama Islam.

Hari ini, saya dan ratusan teman- teman relawan  yang selalu setia hadir sejak sidang perdana mengawal sidang Ahok, akan kembali ke sana. Kesetiaan kami pada Ahok bukan karena Ia sedang merebut jabatan gubernur. Kesetiaan kami hadir membelanya karena getaran hati dan jiwa kami  yang tidak rela membiarkan diri kami sama seperti para penghujat, penista, pengecut, pecundang dan pengkhianat pencemooh yang rakus akan kekuasaan. 

Kami ada disana untuk menyampaikan kepada dunia dan sejarah pada anak cucu kami bahwa tidak semua anak bangsa bermental culas, licik,  pengecut dan pecundang pengkhianat.

Saya akan hadir disana dengan suara yang sama nyaringnya. Saya akan hadir di sana pagi ini dengan suara yang tidak kalah menggelegarnya.

 "Ahok you'll never walk alone!!!!"
"Ahok kamu tidak akan berjalan sendirian!!". 

Ces't la vie. Thats a life. Begitulah kehidupan. Kehidupan orang yang tahu akan arti kehidupan.

Salam perjuangan
Birgaldo Sinaga

Kebencian pada Non Muslim

*Shinta Wahid : Survei Ungkap Adanya Kebencian pada Non Muslim*

TEMPO.CO, Jakarta - Shinta Nuriyah Abdurahman Wahid, istri Presiden ke-4, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur menyatakan gerakan radikal dan kaum intoleran sudah menguasai pemikiran segelintir masyarakat Indonesia, bahkan sudah masuk ke dalam sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara.

"Gerakan radikal dan intoleransi sudah masuk ke dalam kehidupan bernegara. Hanya berapa belas persen saja yang tidak setuju Indonesia menjadi negara Islam," kata Shinta Nuriyah Abdurahman Wahid, dalam talkshow "Perempuan dan Kebinnekaan", di Jakarta, Senin 10 April 2017.

Shinta mengatakan hal tersebut merupakan hasil survei yang dilakukan Wahid Foundation. Dari total 1.255 responden, kata dia, sebanyak *59 persen memiliki rasa benci terhadap non muslim, etnis Tionghoa, dan lain-lain*

_" Dampak rasa benci itu membuat mereka tidak setuju anggota kelompok itu (nonmuslim) menjadi pejabat di Indonesia,"_  tuturnya.

Selain menolak menjadi pejabat, Shinta melanjutkan, sebanyak *82 persen responden tidak setuju kelompok-kelompok tersebut menjadi tetangga mereka*. _"Kondisi ini sudah sampai di kehidupan bertetangga. Hanya sebagian kecil yang bersifat netral dan mau menghargai perbedaan,"_  tuturnya.

Shinta menilai semua kondisi ini merupakan potensi yang cukup mengkhawatirkan. Dari survei yang dilakukan pun, sedikitnya ada *11,5 juta orang yang berpotensi melakukan tindakan-tindakan radikal.*

Dia berpendapat, angka-angka hasil tersebut *merupakan peringatan atau "warning" bagi bangsa Indonesia untuk menghadapi radikalisme agama.*

_"Semakin tinggi menerapkan syariah, semakin tinggi keinginan untuk melakukan gerakan radikal,"_  ucapnya.

Jika dibiarkan, menurut Shinta, *gerakan radikal dan intoleran merupakan ancaman yang nyata bagi keberagaman yang ada di Negara Kesatuan Republik Indonesia*,  Kelompok-kelompok radikal saat ini juga secara intens masuk ke dalam lembaga-lembaga pendidikan lantaran berbalut kegiatan agama. Kebanyakan pengelola kampus tidak curiga.

"Sehingga mereka bebas melakukan doktrin kepada mahasiswa sehingga hanyut ke dalam sisi gerakan radikal. Ini juga patut diwaspadai," ujar dia.

Seharusnya, Shinta melanjutkan, saat ini sudah ada kontrol yang ketat terkait isi-isi ceramah di kalangan mahasiswa. Selain para pembimbing dan penceramah, ucap dia, yang harus dikontrol adalah pengurus-pengurus lembaga dakwah di lembaga pendidikan.

"Pendampingan kalangan mahasiswa dan pelajar tentunya sangat penting dilakukan untuk menghadapi ajaran-ajaran radikal dan fundamentalis," ujar Shinta.

Menurut dia, seluruh warga Indonesia merupakan saudara sebangsa dan se-Tanah Air, sehingga sudah sepatutnya untuk tetap mengedepankan sikap saling menghormati, menghargai dan tolong- menolong. 

"Kaum muslimin yang mayoritas harus bisa hidup berdampingan dengan minoritas. Semua harus saling menghormati, menghargai dan tolong- menolong," tutur Shinta Wahid.

Shinta berujar, kebhinekaan terobek-robek oleh bangsanya sendiri karena ada kelompok radikal, fundamentalis, dan intoleransi yang mencoba mencuci pemikiran-pemikiran rakyat Indonesia, terutama kaum pemuda dan mahasiswa. "Kaum radikal ini menginginkan mengubah NKRI ini menjadi negara Islam. Ini yang saya tidak suka," katanya seraya menambahkan dirinya prihatin dengan kondisi bangsa ini.

Kaum orang tua, dia menambahkan, harus _membentengi dan mengecek anak-anaknya setiap bergaul dengan temannya. Orang tua juga harus meneliti materi apa yang diberikan oleh lembaga pendidikannya saat anaknya mengikuti lembaga dakwah._

Di tempat yang sama, istri almarhum Nurcholis Madjid atau Cak Nur, Omi Komariah Madjid, menuturkan, perbedaan tidak boleh dijadikan ajang untuk mengejek, mengolok maupun merendahkan kelompok lain yang berbeda. Baik itu berbeda secara agama, etnis, latar belakang dan lain sebagainya.

*"Kebhinekaan harus menjadi penyatu bagi kita semua. Perbedaan tidak boleh dijadikan ajang mengejek atau mengolok satu sama lain. Tanamkan nilai-nilai kebhinekaan dan toleransi sejak kecil," tutur istri Cak Nur tersebut.*

_ANTARA_
https://m.tempo.co/read/news/2017/04/11/078864647/shinta-wahid-survei-ungkap-adanya-kebencian-pada-nonmuslim