Minggu, 25 Desember 2016

Tak Ada Natal Tanpa Salib

Tak Ada Natal Tanpa Salib

26 Desember 2016

Bacaan Hari ini:
1 Timotius 2:5-6 "Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang 
~ menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu 
~ manusia Kristus Yesus, yang 
~ telah menyerahkan diri-Nya sebagai 
~ tebusan bagi semua manusia: 
~ itu kesaksian pada waktu yang ditentukan."
------------------------------------
Natal tanpa salib Kristus itu tidak sah. 

Seandainya Yesus tetap menjadi Bayi di palungan, Anda bisa berhenti membaca renungan ini sekarang - 
~ itu sia-sia. 

Tanpa salib, 

tak ada alasan untuk 
~ menghabiskan sepanjang bulan bersiap-siap untuk 
~ merayakan kelahiran-Nya. 

Tak ada alasan untuk 
~ memasang lampu Natal, 
~ memutar musik Natal, 
~ mengirim kartu, atau 
~ membeli hadiah.

Seluruh dunia berhenti melakukan aktivitasnya satu hari dalam setahun untuk 
~ merayakan hari yang membagi sejarah dari SM, Sebelum Masehi menjadi 
~ M, Masehi. 

Allah datang ke Bumi dan 
~ menginvasi sejarah manusia. 
~ Oleh berkat itulah, dunia ini tidak akan pernah sama lagi.

Namun ini bukan sebuah misi yang ala kadarnya. 
~ Allah mengutus Anak-Nya sebagai 
~ Juruselamat bagi seluruh dunia, agar 
~ semua orang dapat mengenal-Nya.

Alkitab mengatakan, 
~ "Karena Allah itu esa dan
~ esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu 
~ manusia Kristus Yesus, yang 
~ telah menyerahkan diri-Nya sebagai 
~ tebusan bagi semua manusia: 
~ itu kesaksian pada waktu yang ditentukan" (1 Timotius 2:5-6).

Dalam Alkitab, simbol dari pengorbanan Yesus disebut sebagai 
~ "Pengorbanan Anak Domba." 

Alkitab menggunakan metafora ini sebab 
~ anak domba tidak berbahaya. 
~ Mereka bukan predator. 
~ Mereka polos. 

Yesus tidak menyakiti siapa pun, dan
~ Dia tidak pantas untuk mati. 
~ Dia adalah Anak Allah, namun 
~ Allah mengizinkan Dia untuk 
~ dikorbankan demi kita-kita semua.

Allah tahu rasa sakit dari kehilangan seorang anak, karena Ia mengutus Anak-Nya sendiri untuk mati menggantikan Anda. 

Ia melakukannya demi 
~ setiap orang yang pernah tinggal di planet Bumi ini. 

Tidak ada orang yang berada di luar kasih dan jangkauan Allah.
~ Bahkan Anda.


Renungkan hal ini:

Mengapa salib Kristus begitu penting untuk Natal?

Apa yang bisa Anda lakukan di Natal ini untuk mengingat dan menghargai harga yang telah Yesus bayar untuk menghubungkan Anda dengan Bapa Surgawi?

Mengapa beberapa orang menganggap jika mereka berada di luar jangkauan kasih dan pengampunan Allah? 

Apa yang bisa Anda lakukan untuk membantu seseorang untuk memahami di Natal kali ini tentang apa yang telah Yesus lakukan baginya di kayu salib?
__________________________
Tidak ada orang yang berada di luar kasih dan jangkauan Allah.
~ Bahkan Anda.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)

Sabtu, 24 Desember 2016

Tiga Cara Tuhan Ikut Menanggung Rasa Sakit Anda

Tiga Cara Tuhan Ikut Menanggung Rasa Sakit Anda

25 Desember 2016

Bacaan Hari ini:
Mazmur 34:18 "TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang
~ patah hati, dan
~  Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya."
-----------------------
Saya tidak tahu apa kepedihan yang Anda rasakan di Natal ini. 

Saya pun tak tahu apa yang menyebabkan kepedihan Anda. 

Tapi saya percaya Tuhan tahu itu. 

Tuhan bukan kuasa yang
~ nun jauh di sana. 

Ia juga bukan Tuhan yang 
~ tak punya perasaan. 

Alkitab mengajarkan bahwa 
~ Tuhan tahu tentang rasa sakit kita. Dan 
~ Ia bukan hanya peduli dengan rasa sakit kita, tapi
~ Ia juga ikut merasakannya, bahkan 
~ sama-sama menanggungnya. 

Alkitab mengatakan, "TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang 
~ patah hati, dan
~ Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya." (Mazmur 34:18).

Saya percaya ini meski 
~ saya tidak tahu apa-apa tentang rasa sakit Anda. 

Mengapa? 

Sebab saya kenal Tuhan. 

Dan saya kenal Trinitas 
~ Allah Bapa,
~ Anak, dan 
~ Roh Kudus. 

Setiap bagian dari Trinitas aktif bekerja dalam hidup Anda 
~ saat Anda menghadapi masa-masa sulit. 

Pertama, 
~ Bapa surgawi turut berbagi kepedihan Anda.

Allah mengerti dan ikut berbagi rasa sakit Anda karena
~ Ialah Sang Pencipta Anda. 
~ Dialah yang memberi Anda kemampuan untuk mengatasi rasa sakit dan juga kegembiraa Anda. 

Alkitab mengatakan: 
~ "Dia yang membentuk hati mereka sekalian, yang
~ memperhatikan segala pekerjaan mereka" (Mazmur 33:15). 

Allah mengerti perasaan kita karena 
~ Ia adalah Tuhan yang 
~ punya perasaan. 

Satu-satunya alasan mengapa Anda memiliki berbagai macam perasaan yaitu 
~ karena Anda diciptakan seturut dengan gambar Allah. 

Apabila Allah tak memiliki perasaan atau emosi, maka 
~ Anda pun tak memilikinya.

Kedua, 
~ Yesus memahami rasa sakit Anda.

Yesus memahami rasa sakit Anda karena 
~ Ia penah merasakannya. 
~ Dia juga pernah menderita. 
~ Dia pernah dikhianati, ditinggalkan, juga merasakan lelah - seperti Anda.
~ Dia datang ke Bumi dan hidup sebagai manusia sepenuhnya. 
~ Dia mengalami segala sesuatu yang kita alami dalam rupa manusia. 

Alkitab mengatakan ini tentang Yesus,
~ "Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang 
~ tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita," 
(Ibrani 4:15a).

Ketiga, 
~ Roh Kudus berdoa untuk Anda ketika 
~ Anda mengalami rasa sakit.

Alkitab mengatakan, 
~ "Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab 
~ kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi 
~ Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan" (Roma 8:26).

Alkitab mengatakan bahwa ketika Anda terluka, Roh Kudus berdoa untuk Anda, 
~ mulai dari keluh tanpa kata-kata hingga 
~ rintihan kesakitan Anda.
~ Dia mengerti luka Anda. 
~ Dia tahu apa yang Anda rasakan. 
~ Dan Dia sanggup mengubah perasaan-perasaan Anda itu menjadi doa.

Ketika Anda terluka, Anda tidak perlu melaluinya sendirian. 
~ Tuhan mengerti rasa sakit Anda karena 
~ Ia yang menciptakan seluruh perasan Anda. 

Yesus mengenal rasa sakit Anda dari 
~ pengalaman-Nya sendiri. 

Dan Roh Kudus turut berdoa untuk Anda.

Renungkan hal ini:

Tuhan tidak pernah meninggalkan Anda sendiri saat menghadapi rasa sakit Anda. Lalu, bagaimana Anda menanggapi kebenaran ini?

Apa rasa sakit yang telah Anda alami dimana Anda sulit untuk percaya bahwa Tuhan senantiasa menyertai Anda? 

Mengapa?

Siapa seseorang dalam kehidupan Anda yang perlu mendengar pesan ini? 

Bagaimana Anda bisa berbagi kabar sukacita ini kepada orang tersebut?
________________________
Tuhan mengerti rasa sakit Anda karena
~ Ia yang menciptakan seluruh perasan Anda.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)

Jumat, 23 Desember 2016

Natal Ialah Tentang Kekekalan Anda

Natal Ialah Tentang Kekekalan Anda 

24 Desember 2016

Bacaan Hari ini:
Yohanes 1:12 "Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu 
~ mereka yang percaya dalam nama-Nya."
-------------------------
Coba nyalakan televisi atau surfing di Internet di musim Natal ini, Anda tentu akan menemukan segala macam pesan Natal. 

Tapi untuk Dia yang telah menciptakan Natal - Allah - hanya ada satu pesan yang benar-benar penting.

Allah ingin berbagi dengan Anda.

Itulah inti dari Natal. 

Anda tak diciptakan hanya untuk hidup 80 atau 90 tahun di Bumi dan 
~ kemudian mati. 

Anda jauh lebih berharga dari itu bagi Allah. 
~ Dia punya beberapa rencana jangka panjang untuk Anda. 
~ Dia merancang Anda untuk hidup kekal selamanya. 

Suatu hari jantung Anda akan berhenti. 
~ Dan itu akan menjadi akhir dari detak jantung Anda, namun 
~ itu tak akan menjadi akhir dari hidup Anda. 
~ Anda akan bertahan selamanya - triliunan tahun! 
~ Dan Allah ingin Anda menjadi bagian dari keluarga-Nya. 

Ia mengutus Yesus ke Bumi sebagai seorang bayi 
~ agar suatu hari Ia mati demi dosa-dosa Anda dan 
~ agar kemudian Anda bisa menghabiskan waktu selamanya bersama Dia.

Itulah berita besar Natal. 

Tawaran ini diberikan buat semua orang. 

Alkitab mengatakan tentang Yesus, 
~ "Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu 
~ mereka yang percaya dalam nama-Nya;" (Yohanes 1:12).

Allah ingin menghabiskan kekekalan Surga bersama Anda, maka 
~ Ia membuat jalan menuju diri-Nya dengan mudah: 
~ Percaya dan terimalah Ia.
~ Percayalah bahwa Yesus Kristus telah mati untuk dosa-dosa Anda, dan 
~ terimalah Ia untuk masuk ke dalam hidup Anda. 

Allah telah mengutus Anak-Nya ke bumi 2016 tahun yang lalu untuk 
~ mati bagi Anda. 

Itulah hadiah Natal pertama Allah yang 
~ dikirim untuk Anda ribuan tahun lalu, bahkan 
~ sebelum Anda dilahirkan. 

Jujur saja, merayakan Natal tapi tidak menerima hadiah nomor satu yang sudah Allah persiapkan untuk Anda adalah hal yang bodoh. 
~ Jika Anda melakukan hal tersebut, sesungguhnya 
~ Anda benar-benar telah melewatkan inti Natal. 

Kisah Para Rasul 10:34b-35 mengatakan, 
~ "Sesungguhnya aku telah mengerti, bahwa 
~ Allah tidak membedakan orang. 
~ Setiap orang dari bangsa manapun yang takut akan Dia dan 
~ yang mengamalkan kebenaran berkenan kepada-Nya."

Apa pun yang telah Anda lakukan atau ke mana pun Anda telah pergi, Anda punya sebuah tempat dalam keluarga Allah 
~ yang kekal, 
~ yang siap dan 
~ yang sedang menantikan Anda. 

Apakah Anda siap? 

Apa lagi yang Anda tunggu?


Renungkan hal ini: 

Apakah Anda sedang menyambut hadiah nomor satu dari Allah di Natal ini? 

Apakah Anda siap menerimanya? 

Apa lagi yang Anda tunggu?

Allah telah mengutus Yesus ke Bumi untuk mati buat Anda, lalu 
~ bagaimana Anda memuliakan Dia?

Pikirkan tentang rencana-rencana Natal Anda. 

Apa yang bisa Anda lakukan untuk menggarisbawahi kepada keluarga dan sahabat-sahabat Anda bahwa
~ hadiah utama dari Allah ialah
~  Ia telah mengutus Anak-Nya untuk mati bagi mereka? 
____________________
Undangan-Nya terbuka lebar, maka 
~ percaya dan sambutlah Dia 

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Greg Laurie)

Kamis, 22 Desember 2016

Berikan Dengan Sukacita

Berikan Dengan Sukacita 

23 Desember 2016

Bacaan Hari ini:
Ulangan 15:10 "Engkau harus memberi kepadanya dengan limpahnya dan 
~ janganlah hatimu berdukacita, apabila 
~ engkau memberi kepadanya, sebab 
~ oleh karena hal itulah TUHAN, Allahmu, 
~ akan memberkati engkau dalam 
~ segala pekerjaanmu dan 
~ dalam segala usahamu." 
-------------------------
Tuhan ingin memberkati hidup Anda. 

Ia menciptakan alam semesta ini agar 
~ Anda diberkati ketika Anda mengikuti Firman-Nya dan 
~ hidup seturut kehendak-Nya. 

Alkitab menulis tentang hal ini berulang kali: 
~ Tuhan memberkati mereka yang murah hatinya.

Alkitab mengatakan, 
~ "Engkau harus memberi kepadanya dengan limpahnya dan 
~ janganlah hatimu berdukacita, apabila 
~ engkau memberi kepadanya, sebab 
~ oleh karena hal itulah TUHAN, Allahmu, 
~ akan memberkati engkau dalam segala pekerjaanmu dan 
~ dalam segala usahamu" 
(Ulangan 15:10). 

Apakah Anda ingin Tuhan memberkati pekerjaan Anda di tahun 2017? 

Apakah Anda ingin Ia memberkati semua yang Anda kerjakan? 

Tentunya Anda mau, bukan? 

Maka 
~ jangan jadi Scrooge, tokoh pelit dalam novel Christmas Carol. 
~ Jangan jadi orang yang hanya meminta. 

Bermurah hatilah - 
~ dengan waktu Anda, 
~ dengan pujian Anda, 
~ dengan uang Anda, dan 
~ dengan tenaga Anda. 

Bermurah hatilah dalam setiap hal dalam hidup Anda. 

Pikirkan hal ini: Anda bisa memilih untuk 
~ percaya pada janji-janji Tuhan atau 
~ berpikir Ia hanya berbohong. 

Sungguh, 
~ tidak ada opsi lain lagi.

Dalam Alkitab, Anda akan menemukan lebih banyak
~ janji tentang kemurahan hati dibanding 
~ janji-janji yang lainnya. 

Mengapa? 

Sebab itulah prinsip dasar yang Tuhan mau kita pelajari. 

Saya sudah mengalami ini berulang kali dalam hidup saya. 

Semenjak kami menikah, 
~ saya dan istri saya, Kay, 
~ setiap tahunnya menaikkan jumlah persembahan kami. 

Saya tidak memberitahu siapa pun selama hampir 30 tahun. 

Awalnya begitu berat. 
~ Kadang kala kami hanya bisa menaikkan persembahan kami seperempat persen. 
~ Bahkan di kala keuangan kami yang sulit, kami ingin memberikan lebih dari tahun sebelumnya. 

Kami ingin mematahkan cengkeraman materialisme dalam hidup kami dan 
~ menjadi semakin serupa dengan Kristus dalam prosesnya. 

Dan buktinya, 
~ Tuhan memberkati kami lagi 

Memberilah dengan sukacita dan 
~ Dia akan terus memberkati Anda lagi dan lagi. 

Sungguh sukacita yang luar biasa melihat 
~ Tuhan memberkati Anda lebih dari yang Anda kira setiap saat. 

Saya ingin sekali Anda 
~ mendapatkan sukacita yang sama!
_____________________
Berkati orang lain, dan 
~ Tuhan akan memberkati Anda 
~ lebih dari yang bisa Anda bayangkan

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Greg Laurie)

Berikan Dengan Sukacita

Berikan Dengan Sukacita 

23 Desember 2016

Bacaan Hari ini:
Ulangan 15:10 "Engkau harus memberi kepadanya dengan limpahnya dan 
~ janganlah hatimu berdukacita, apabila 
~ engkau memberi kepadanya, sebab 
~ oleh karena hal itulah TUHAN, Allahmu, 
~ akan memberkati engkau dalam 
~ segala pekerjaanmu dan 
~ dalam segala usahamu." 
-------------------------
Tuhan ingin memberkati hidup Anda. 

Ia menciptakan alam semesta ini agar 
~ Anda diberkati ketika Anda mengikuti Firman-Nya dan 
~ hidup seturut kehendak-Nya. 

Alkitab menulis tentang hal ini berulang kali: 
~ Tuhan memberkati mereka yang murah hatinya.

Alkitab mengatakan, 
~ "Engkau harus memberi kepadanya dengan limpahnya dan 
~ janganlah hatimu berdukacita, apabila 
~ engkau memberi kepadanya, sebab 
~ oleh karena hal itulah TUHAN, Allahmu, 
~ akan memberkati engkau dalam segala pekerjaanmu dan 
~ dalam segala usahamu" 
(Ulangan 15:10). 

Apakah Anda ingin Tuhan memberkati pekerjaan Anda di tahun 2017? 

Apakah Anda ingin Ia memberkati semua yang Anda kerjakan? 

Tentunya Anda mau, bukan? 

Maka 
~ jangan jadi Scrooge, tokoh pelit dalam novel Christmas Carol. 
~ Jangan jadi orang yang hanya meminta. 

Bermurah hatilah - 
~ dengan waktu Anda, 
~ dengan pujian Anda, 
~ dengan uang Anda, dan 
~ dengan tenaga Anda. 

Bermurah hatilah dalam setiap hal dalam hidup Anda. 

Pikirkan hal ini: Anda bisa memilih untuk 
~ percaya pada janji-janji Tuhan atau 
~ berpikir Ia hanya berbohong. 

Sungguh, 
~ tidak ada opsi lain lagi.

Dalam Alkitab, Anda akan menemukan lebih banyak
~ janji tentang kemurahan hati dibanding 
~ janji-janji yang lainnya. 

Mengapa? 

Sebab itulah prinsip dasar yang Tuhan mau kita pelajari. 

Saya sudah mengalami ini berulang kali dalam hidup saya. 

Semenjak kami menikah, 
~ saya dan istri saya, Kay, 
~ setiap tahunnya menaikkan jumlah persembahan kami. 

Saya tidak memberitahu siapa pun selama hampir 30 tahun. 

Awalnya begitu berat. 
~ Kadang kala kami hanya bisa menaikkan persembahan kami seperempat persen. 
~ Bahkan di kala keuangan kami yang sulit, kami ingin memberikan lebih dari tahun sebelumnya. 

Kami ingin mematahkan cengkeraman materialisme dalam hidup kami dan 
~ menjadi semakin serupa dengan Kristus dalam prosesnya. 

Dan buktinya, 
~ Tuhan memberkati kami lagi 

Memberilah dengan sukacita dan 
~ Dia akan terus memberkati Anda lagi dan lagi. 

Sungguh sukacita yang luar biasa melihat 
~ Tuhan memberkati Anda lebih dari yang Anda kira setiap saat. 

Saya ingin sekali Anda 
~ mendapatkan sukacita yang sama!
_____________________
Berkati orang lain, dan 
~ Tuhan akan memberkati Anda 
~ lebih dari yang bisa Anda bayangkan

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Greg Laurie)

Pakar Jurnalistik berbicara.

http://www.amsik.id/ahok-korban-perbuatan-actual-malice/

Pakar Jurnalistik berbicara.

Assalamu alaikumwa rahmatullahi wa barakatuh. Salam sejahtera buat kita semua.

Indonesia sekarang  memasuki tahap yang sangat mengkhawatirkan dalam perkembangan hukumnya sejak Negara seolah-olah tidak tampil di saat ia seharusnya hadir, terutama bila kasusnya menyangkut organisasi massa. Peristiwa seperti ini mencolok sekali bila kasusnya menyangkut agama atau agama dibawa-bawa. Kasus yang sangat mencolok adalah ketika Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dituduh menista agama Islam.

Pertanyaan tentunya benarkah Ahok menista agama Islam karena mengatakan kepada pendengarnya di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, supaya mereka para nelayan tidak usah merasa tidak enak kalau tidak memilih Ahok karena ditakut-takuti orang pakai Surah Almaidah ayat 51? Ataukah Ahok justru menjadi korban dari perbuatan tidak bertanggung jawab orang bernama Buni Yani?
 
Saya tidak ingin masuk ke soal hukum di sini karena itu bukan bidang saya, tapi saya akan melihatnya deri segi pers/jurnalistik.

Harus kita ingat bahwa selama sembilan hari sejak Ahok menyampaikan pidatonya di Pulau Pramuka pada 27 September 2016, tidak ada reaksi dari siapa pun, termasuk anggota DPR, lurah dan pejabat DKI lainnya yang hadir di sana dan mendengar sendiri ucapan Ahok.

Kegaduhan baru muncul setelah Buni Yani (mantan?) wartawan, dosen ilmu komunikasi sebuah lembaga pendidikan jurnalistik dan public relations di Jakarta, membuat dan mengedit transkrip pidato Ahok dengan cara membuang kata "pake" dari kalimatnya dan menambah kalimat "apakah ini penistaan agama?"

Mari kita lihat apa yang terjadi di sini. Ada satu orang yang menggunakan kepandaian jurnaslistiknya untuk melakukan editing/menyunting, dengan sengaja mengedit kalimat itu, membuang kata "pake" dan menambahkan kalimat tanya yang provokatif dan menimbulkan kemarahan masyarakat pembacanya. Dia lalu meng-upload hasil editingnya dalam transkrip di accountnya tanpa menyebut sumber video yang dia transkrip itu.

Dengan kata lain, dalam jurnalisme itu merupakan perbuatan plagiarisme. Di atas segala-galanya, dia melakukan editing itu dengan niat jahat, ada ill intent, dalam istilah hokum, ada mens rea (rencana jahat). Ketika dia menerbitkan editingnya dia sudah melakukan actual malice, yang dalam istilah hukum disebut actus reus perbuatan jahat. Jadi ada niat jahat, ada perbuatan jahat, maka lengkaplah tindakan melakukan kejahatan itu atau perbuatan kriminal dengan segala akibatnya yang memecah belah bangsa.

Pertanyaan Anda barangkali adalah dari mana saya bisa mengatakan bahwa Buni Yani ada niat jahat ketika membuat transkrip dan mengedit pidato Ahok.

Pengalaman saya selama tiga tahun sebagai Ketua Komisi Pengaduan Masyarakat di Dewan Pers, kalau kita ingin menilai apakah dalam suatu berita ada kesalahan, maka kita harus melihat berita itu secara keseluruhan, dari A sampai Z. Dan dasar penilaian kita adalah Kode Etik Jurnalistik dan Undang-Undang No. 40 thn 1999 tentang Pers  atau UU Pers. Dari situ akan segera kelihatan apakah tulisan itu melanggar Pasal 1, 2, 3, 4 dan 5 (pasal-pasal yang paling sering dilanggar) natau pasal lainnya dari Kode Etik Jurnalistik (KEJ).

Mari kita lihat video pidato Ahok di Pulau Pramuka pada 27 September 2016 yang jadi sumber kontroversi itu. Video itu durasinya satu jam 40 menit.

Sebagai jurnalis klita melihat beberapa elemen penting untuk dijadikan berita, yaitu:

Program perbaikan ekonomi nelayan dengan pembagian keuntungan 80:20 persen; → 10 persen akan dikembalikan ke koperasi untuk pembangunan prasarana; →program sudah berjalan sejak 2015.
Jawaban Ahok kepada seorang ibu tentang kelanjutan program itu bila kelak Ahok tidak terpilih sebagai gubernur → Tetap jabat gubernur sampai Oktober 2017 →Al-Maidah 51;
Dialog Ahok dengan nelayan soal kerja keras dan naik haji/umroh → "kebijakan hablun minallah wa hablun minannas."
Kalau Anda atau saya menulis berita kunjungan Ahok ke Kepulauan Seribu, mungkin sekali yang kita angkat sebagai lead adalah, misalnya:

"Ahok menawarkan program bagi hasil 80:20 kepada nelayan Kepulauan Seribu untuk mengangkat mereka keluar dari kemiskinan."  Atau:

"Ahok jamin program bagi hasil dengan nelayan Kepulauan Seribu jalan terus walau tidak terpilih lagi karena masa kerjanya masih sampai Oktober 2017. " Atau

"Ahok yakinkan nelayan Kepulauan Seribu tak usah takut tidak memilih dia jika khawatir berdosa melanggar Al-Maidah 51." Atau, kalau Anda ingin mengangkat kebijakan Ahok yang islami, Anda menulis:

"Ahok: Kebijakan saya mengikuti 'Hablun minallah wa hablun minannas'."

Tetapi, karena di dalam kepalanya sudah ada rencana jahat, ada ill intent, maka Buni Yani, dengan pengetahuannya sebagai wartawan, dia mengedit kalimat Ahok sedemikian rupa sehingga kalimat yang telah diedit itu menghasilkan makna berbeda atau bertentangan dengan kalimat aslinya.

Dengan kata lain, dia mengedit kalimat/ucapan Ahok dengan niat jahat (actual malice).

Kita semua, sebagai wartawan, tahu tentang fungsi editing. Apa lagi dia sebagai dosen ilmu komunikasi pula, dia tentu tahu, bagaiamana dampak negatif suatu berita yang dioleh dengan niat jahat. Kita semua tahu bahwa fungsi editing adalah untuk:

Menjamin akurasi (kecermatan) berita
Membuang kata-kata yang tidak penting (hemat kata/economic of words)
Memperbaiki/menghaluskan bahasa
Memperbaiki inkonsistensi
Membuang "libelous statetments" (penyataan/kata-kata yang bersifat menghina)
Membuang kalimat/paragraf yang mengadung kata-kata buruk (poor state)
Menjamin bahwa berita itu dipahami (readable) dan lengkap.
Membuat berita itu mengikuti gaya penulisan media bersangkutan
Tapi, Buni Yani, dengan sengaja menlanggar prinsip/fungsi editing (editing function) itu supaya tujuannya untuk mendiskreditkan Ahok tercapai, yaitu dengan secara sadar dan sengaja membuang kata "pakai" dari kalimat asli Ahok, yang berbunyi: "Jangan percaya sama orang … dibohongin pakai surat al-Maidah 51."

Dengan mengedit (membuang) kata "pakai" dari kalimat itu, maka kalimat Ahok menjadi "…dibohongin surat al-Maidah."

Kalimat yang telah diedit itu lantas bermakna  Surat Al Maidah 51 itu bohong. Inilah bukti bahwa Buni Yani dengan sengaja mengedit kalimat yang diucapkan Ahok itu demikian rupa karena dia ada niat jahat, ada actual malice. 

Contoh:

Seorang ulama mengatakan, "Budak pun tidak boleh diperkosa."  Kalau seseorang mengedit kalimat itu dengan niat jahat, maka dia akan membuang kata "tidak" dari kalimat itu. Sehingga, kalimat yang sudah diedit itu akan berbunyi, "Budak pun boleh diperkosa."

Makna dari kalimat yang sudah diedit itu jelas sangat berbeda bahkan bertentangan dengan kalimat aslinya.

Kita lihat sekarang beberapa akibat dari perbuatannya itu:

– Berapa banyak energi bangsa ini yang habis terkuras akibat perbuatan actual malice-nya Buni Yani?

– Berapa milyar pemerintah harus keluarkan untuk polisi dan militer menjaga keamanan selama dua hari demonstrasi besar pada 2/11 dan 4/12?

– Berapa juta jam kerja produktif yang hilang?

– Friends jadi undfriends?

– Bangsa ini terpecah karena perbuatannya. Keluarga terpecah karena selisih faham; Bahkan ulama terpecah. Malah ada ulama yang begitu benci pada Ahok sehingga dia mengatakan, "kita tunggu saja dua minggu ini. Kalau Ahok tidak ditangkap, ya, Presidennya kita turunkan."

– Dan Ahok, yang sama sekali tidak berbuat satu kesalahan pun, tidak pernah menyebut kata "ulama" selama pidatonya di Kepulauan Seribu, terpaksa menghadapi meja hijau.

– Ini semua terjadi karena perbuatan satu  orang yang dengan niat jahatnya, menggunakan keahlian jurnalistiknya telah melakukan actual malice.

Perpecahan itu semakin terasa sekarang karena adanya sekelompok masyarakat yang  berusaha memaksakan kemauannya, meletakkan hukum di dalam tangannya, mengambil alih fungsi penegak hukum.

Saya khawatir, mereka ini salah menafsirkan kebijakan akomodatif yang ditempuh Kapolri Tito Karnavian dan Panglima TNI Gatot sebagai kelemahan Pemerintah.

Saya pikir, sekarang sudah waktunya aparat pemerintah–Polisi dan TNI—mengatakan: Stop! Enough is enough. Cukup sampai di sini, sebelum terjadi bentrokan horizontal.

Dan ini semua terjadi karena seorang Buni Yani menggunakan kepandaian jurnalistiknya untuk melakukan perbuatan jahat, actual malice. Sehingga berita itu menjadi:

– Tidak akurat, tidak berimbang dan beniat buruk (melanggar Pasal 1 KEJ);

– Dia menemapuh cara-cara yang tidak professional (mengedit dan menambahkan opini –melanggar Pasal 2 KEJ)

– Mencampurkan fakta dan opiini (kalimat "Apa ini merupakan penistaan agama?" –Melanggar Pasal 3 KEJ)

– Menampilkan berita yang bersifat fitnah (Melanggar Pasal 4 KEJ).

Seandainya Buni Yani ada niat baik, dia mengangkat lead yang menampilkan pendekatan islami Ahok dalam kebijakannya yang "hablun minallah wa hablun minannas" mungki sekali semua kiyai, semua ulama, semua habib dan habaib akan mengangkat tangan mereka dan berdoa, "Ya, Allah, Ahok sudah melakukan perintahmu, maka turunkanlah hidayahMu kepadanya supaya dia segera masuk Islam. Amiiin."

Dari paparan ini, saya ingin sekali mengatakan bahwa kita telah melihat bahwa dengan menyeret Ahok ke meja hijau sebenarnya Negara, dalam hal ini polisi, sudah salah mempidana orang error in persona tapi saya tidak mau masuk ke bidang hukum karena itu bukan bidang saya. Saya hanya bisa mengatakan Ahok is a victim  of an actual malice story. Ahok adalah korban dari berita yang dibuat dengan niat jahat.

Terima kasih.

Wa billahittaufiq wal huidayah. Wassalamu alaikum warahmatullahi wa barakatuh.

Abdullah Alamudi

Dosen Jurnalistik di Lembaga Pers Dr. Soetomo (LPDS), Akademisi Televisi Indonesia dan Mantan Ketua Komisi Pengaduan Masyarakat di Dewan Pers

Bahan ini disampaikan di Konferensi Pers Aliansi Masyarakat Sipil untuk Konsitusi (AMSIK), Kamis, 22 Desember 2016.

🙏🙏🙏

Menolak Pengadilan Massa karena Ahok Korban Kriminalisasi

Pernyataan Sikap
 
Aliansi Masyarakat Sipil untuk Konstitusi (AMSIK)
 
Menolak Pengadilan Massa karena Ahok Korban Kriminalisasi
 
Setelah mencermati dua Persidangan terhadap Basuki Tjahaja Purnama (Ahok); menyimak materi dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) dan Nota Keberatan (Eksepsi) yang dibacakan oleh Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan Penasehat Hukumnya, Selasa 13 Desember 2016 dan Tanggapan Jaksa terhadap Nota Keberatan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan Penasehat Hukumnya, Selasa 20 Desember 2016, kami ingin menegaskan kembali bahwa Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) adalah korban kriminalisasi karena telah terjadi pelanggaran terhadap "due process of law" dan hak asasi manusia (HAM), dan Pengadilan ini tidak lebih dari akibat tekanan massa, dengan alasan-alasan berikut:
 
(1) Tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) berdasarkan pada Pendapat dan Sikap Keagamaan MUI tanggal 11 Oktober 2016. Padahal dalam sistem hukum dan perundangan-undangan di Indonesia tidak mengenal fatwa keagamaan MUI sebagai sumber hukum positif. Sebab landasan umum penyusunan perundang-undangan adalah (1) landasan Filosofis, Pancasila sebagai Filsafah Bangsa (filosofische grondslaag) (2) landasan Yuridis; UUD 1945, Ketetapan MPR, dan Undang-undang (3) landasan Politis, setiap Kebijaksanaan yang dianut Pemerintah di bidang Perundang-undangan.
 
(2) Dalam konstitusi dan UUD di Indonesia, fatwa sebagai produk hukum yurisprudensi adalah kewenangan lembaga yudikatif, yaitu Mahkamah Agung dan lembaga-lembaga peradilan di bawahnya—bukan MUI—sebagaimana disebutkan dalam undang-undang no 4 tahun 2004 atau yang lebih tua lagi dalam Staatsblad 1847 no 23, pasal 22 AB (Algemene Bepalingen van wetgeving voor Indonesie—disingkat AB) dan dari sisi hukum pidana, khususnya pendekatan Doktrin maupun Yurisprudensi Pidana, disebutkan suatu pendapat keagamaan/fatwa keagamaan di luar lembaga yudikatif bersifat tidak mengikat sebagai kekuatan hukum (Peradilan Pidana).
 
(3) Pendapat dan Sikap Keagamaan MUI bukan hukum positif, karena itu bersifat tidak mengikat dan tidak wajib diikuti. Hal ini berdasarkan pernyataan Otoritas Pemerintahan, Menteri Agama H. Lukman Hakim Saifudin "Fatwa MUI bersifat tidak mengikat bagi seluruh umat" (Kompas, 20 Desember 2016), Penegak Hukum, Kapolri Jend Tito Karnavian "Fatwa MUI Bukan Produk Hukum Seperti Undang-Undang" (CNN Indonesia, 21 Desember 2016), Tokoh Nadlatul Ulama, KH Mustofa Bisri "Fatwa dan Fatwa" (Jawa Pos, 19 Desember 2016) dan keterangan dari salah seorang Ketua MUI KH Yusnar Yusuf mengatakan siapapun boleh mengikuti atau tidak mengikuti fatwa yang dikeluarkan MUI, tanpa ada sanksi atau ancaman hukuman (kbr.id, 20 Desember 2016).
 
(4) Karena fatwa MUI bukan sumber hukum positif dan tidak memiliki kekuatan hukum mengikat bahkan bagi umat Islam sendiri, sehingga tidak tepat dijadikan dasar dan acuan bagi Jaksa Penuntut Umum (JPU) dalam merumuskan dakwaannya.
 
(5) Pendapat dan Sikap Keagamaan MUI tersebut lahir tanpa proses tabayyun (klarifikasi) dari Basuki Tjahaja Purnama yang semestinya dilakukan terlebih dahulu sebelum memberikan penilaian dan pendapat, karena proses tabayyun terhadap Basuki Tjahaja Purnama belum pernah dilakukan hingga saat ini, telah terjadi penghakiman in absentia dan pengadilan oleh opini publik dan tekanan massa (trial by mob)
 
(6) Karena Pendapat dan Sikap Keagamaan MUI lahir tanpa proses klarifikasi dari Basuki Tjahaja Purnama maka tidak dapat bahkan gagal mengungkapkan secara jelas mengenai adanya niat atau maksud dari pidato Basuki Tjahaja Purnama yang dituduh menistakan agama Islam dan menghina para Ulama, upaya mengungkap adanya niat dan maksud ini yang harusnya dirumuskan secara cermat oleh Jaksa terkait hukum pidana.
 
(7) Ketika menggunakan Pasal 156a terhadap Basuki Tjahaja Purnama, Jaksa Penuntut Umum telah mengabaikan Undang-Undang No.1/PNPS/1965, sebagai ketentuan hukum positif yang masih berlaku dan belum pernah dicabut atau dibatalkan keberlakuannya di Indonesia. Dalam hal ini Jaksa Penuntut Umum mengesampingkan mekanisme yang diatur dalam Undang-Undang No. 1/PNPS/1965 Pasal 2 ayat (1) terhadap seseorang yang diduga melakukan penafsiran yang menyimpang tentang sesuatu agama yang dianut di Indonesia, yaitu prosedur peringatan keras untuk menghentikan perbuatan itu yang dikeluarkan oleh Jaksa Agung, Menteri Dalam Negeri dan Menteri Agama. Apabila Basuki Tjahaja Purnama masih juga melanggar peringatan tersebut, barulah kemudian dapat diterapkan ketentuan pidana. Dakwaan Jaksa Penuntut Umum tanpa memperhatikan dan menjalankan mekanisme peringatan terhadap Basuki Tjahaja Purnama adalah praktik penerapan hukum pidana yang menyesatkan dan wujud nyata dari upaya kriminalisasi.
 
(8) Dalam Tanggapan Jaksa Penuntut Umum (JPU) terhadap Nota Keberatan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan Tim Penasehat Hukumnya, Selasa 20 Desember 2016, Jaksa malah menyalahkan tuntutan Basuki Tjahaja Purnama yang menolak oknum politisi dan Timses kandidat lain yang berkampanye dengan memakai isu SARA dan politisasi ayat, bukan beradu visi misi dan program. Jaksa juga mengatakan bahwa Basuki Tjahaja Purnama merasa benar sendiri karena menuntut kandidat lain agar adu program, bukan mengggunakan Surat Al-Ma'idah 51. Bagi kami, tanggapan Jaksa itu menyesatkan karena dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) harusnya perdebatan dan alasan pemilihan terkait visi, misi dan program para kandidat, bukan permainan isu SARA dan adu ayat.
 
(9) Jika hakim membenarkan dan mengabulkan dakwaan Jaksa atas alasan dan logika di atas, maka akan menjadi jurisprudensi yang membenarkan kampanye dengan mempolitisasi ayat dan SARA, bukan menawarkan visi, misi dan program.
 
Kami sangat menyesalkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) telah kehilangan logika dalam menyampaikan argumen hukumnya, hal ini bukan hanya menunjukkan jaksa tidak profesional, tapi membahayakan "due process of law" dan merupakan preseden buruk pada penegakan hukum yang berkeadilan untuk kasus-kasus yang berdimensi politik pada masa-masa yang akan datang.
 
Jakarta, Hari Ibu 22 Desember 2016
 
1. Todung Mulya Lubis, Ahli Hukum dan Aktivis Hak Asasi Manusia (HAM)
2. Hendardi, Ketua Umum Setara Institute
3. Prof. Dr. Sulistyowati Irianto, Akademisi
4. Prof. Mayling Oey, Ph.D, Akademisi
5. Abdullah Alamudi, Akademisi
6. Dr. Neng Dara Affiah, Tokoh Agama, Pengasuh Pesantren di Banten
7. Jim B. Aditya, Akademisi dan Aktifis
8. Henny Supolo, Pegiat Pendidikan untuk Keragaman
9. Andi Syafrani, Praktisi Hukum
10. Mohammad Monib, Aktifis Dialog antar Agama
11. Ruby Khalifah, AMAN Indonesia
12. Nia Syarifuddin, Aliansi Bhinneka Tunggal Ika
13. Pdt. Penrad Siagiaan, Aktifis Kebebasan Beragama
14. Ilma Sovriyanti, Aktifis Perlindungan Anak
15. Thomas Nugraha, Forum Komunikasi Indonesia
16. Tantowi Anwari, Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK)
17. Woro Wahyuningtyas, JKLPK Indonesia
18. Bonar Tigor Naipospos, Setara Institute
19. Uli Parulian Sihombing, Warga Negara Indonesia
20. Muannas Alaidid, Praktisi Hukum
21. Cyril Roul Hakim, Aktivis Sosial
 
Narahubung
 
Umi Azalea
+6282111531304
www.amsik.id
email: amsiknkri@gmail.com
twitter: @amsikID