BANTENG LAGI ====>> Ono Surono "Nincak Ti Ono" Oleh Pepih Nugraha II Karena saya lebih sering menetap di Jawa Barat, persisnya di Priangan Timur Tasikmalaya, maka mata dan pikiran kerap menyerempet persoalan kampung sendiri. Kali ini tentang sebuah nama: Ono Surono. Nama Ono Surono belakangan ini menghiasi tajuk berita bukan karena prestasi gemilang dalam menata Jawa Barat, melainkan karena namanya terseret dalam pusaran kasus korupsi yang melibatkan mantan Bupati Bekasi. Sebuah ironi yang ngeri-ngeri sedap, namun cukup untuk membuat dahi says berkerut. Saya mengenal sosok Ono Surono lewat baliho raksasa bergambar dirinya di berbagai pelosok Jabar sebelum tahun 2024 lalu. Rupanya dengan baliho gambar dirinya berambut panjang itu ia "ngarep" jadi calon gubernur Jabar mewakili partainya, PDIP, setidaknya calon wakil gubernur. Kemudian, saya melihat betapa "semangatnya" Ono dalam menata bidak catur Pilkada Jabar. Dengan langkah yang terkesan terburu-buru, ia seolah ingin "menyeret" Anies Baswedan ke tanah Pasundan. Sebuah manuver yang terlihat gagah di permukaan, namun terasa seperti teriakan di ruang hampa ketika Ibu Megawati di Teuku Umar justru memilih diam seribu bahasa. Hasilnya? Namanya terlipat rapi di saku sejarah, digantikan oleh pasangan lain yang dianggap lebih "direstui." Ambisi menjadi orang nomor dua di Jabar menguap bersama harapan-harapan yang dipaksakan. Paradoks Kebencian Ada pepatah tua yang mengatakan bahwa kebencian adalah racun yang kita minum sendiri, namun kita berharap orang lain yang mati. Publik Jawa Barat tentu ingat betapa tajamnya lisan Ono ketika mengomentari Dedi Mulyadi (KDM), Gubernur Jabar. Ada semacam energi berlebih yang ia curahkan untuk membendung langkah Kang Dedi, seolah-olah seluruh eksistensi politiknya hanya berporos pada antitesis seorang KDM. Namun, semesta nampaknya punya selera humor yang gelap. Saat ia sibuk membangun benteng kebencian terhadap orang lain, ia justru lupa menutup pintu rumahnya sendiri dari "tamu tak diundang" bernama KPK. Saya melihat Ini bukan sekadar karma yang datang terlambat, melainkan cermin retak yang dipaksakan untuk melihat wajah sendiri. Seseorang bisa begitu fasih bicara tentang moralitas kepemimpinan sambil tangannya gemetar memegang berkas perkara. Ono Surono mungkin merasa dirinya adalah korban dari dinamika internal partai atau konspirasi politik yang rumit. Namun, ada satu kebenaran yang tak bisa ia bantah di hadapan hukum dan nurani. Bahwa, lawan politik yang paling berbahaya bukanlah Dedi Mulyadi, bukan pula sikap acuh Megawati, melainkan jejak langkahnya sendiri yang tertinggal di laci meja kerja Bupati Bekasi. Di Jabar beredar lirik kagu "Ono Surono nincak ti ono" (Ono Surono menginjak tahi ayam), sebagai sindiran atas sepak terjangnya panggung politik Jabar. Harusnya dia belajar satu hal. Di panggung politik, Anda boleh gagal mencalonkan diri, tapi jangan pernah gagal menjadi manusia. Sebab, saat kekuasaan menjauh dan partai membuang muka, hanya integritas yang bisa menemani Anda di ruang interogasi. Ah, jangan-jangan integritas pun Ono pun bokek. *** Pepih Nugraha II *rpst HariMerdeka Drecpecs nGondes ✊️🇮🇩
Jumat, 03 April 2026
Ono Surono "Nincak Ti Ono"
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar