Rabu, 18 Februari 2026

Keterampilan yang Membangun Relasi

19 Februari 2026

Bacaan Hari ini:
Roma 15:2 "Setiap orang di antara kita harus mencari kesenangan sesama kita demi kebaikannya untuk membangunnya"
-------------------
Mendengarkan adalah salah satu keterampilan terpenting dalam membangun persahabatan dan relasi yang sehat. Anda tidak dapat sungguh-sungguh mengasihi seseorang tanpa bersedia mendengarkannya.

Namun, banyak orang mengalami masalah dalam relasi karena mengira bahwa mendengar dan mendengarkan adalah hal yang sama. Padahal keduanya berbeda. Anda bisa saja mendengar kata-kata seseorang, tetapi tidak benar-benar mendengarkan isi hatinya.

Sering kali pertengkaran terjadi bukan karena kata-kata yang diucapkan, melainkan karena perasaan yang tidak dipahami. Seseorang mungkin berkata, "Saya baik-baik saja," tetapi nada suaranya menunjukkan sebaliknya. Mendengarkan yang sejati berarti menangkap bukan hanya kata-kata, tetapi juga emosi yang tersembunyi di baliknya.

Mendengarkan seperti ini disebut empati. Empati berarti berusaha menempatkan diri pada posisi orang lain dan melihat keadaan dari sudut pandangnya. Anda bertanya dalam hati, "Bagaimana perasaan saya jika berada dalam situasi itu?"

Mendengarkan  dengan empati berarti:

- Tidak memotong pembicaraan.

- Tidak langsung memberi nasihat.

- Tidak buru-buru memperbaiki keadaan.

- Memberi perhatian penuh tanpa gangguan.

Roma 15:2 mengajarkan bahwa kita perlu menanggung beban orang lain—termasuk keraguan dan ketakutan mereka. Artinya, ketika seseorang sedang begitu terluka hingga bingung dengan apa yang ia rasakan atau percayai, ia membutuhkan seorang sahabat yang setia. Ia membutuhkan seseorang yang mau hadir dan mendengarkan dengan penuh perhatian.
Maukah Anda menjadi sahabat seperti itu hari ini?

Renungkan :

- Bagaimana bahasa tubuh Anda menunjukkan bahwa Anda sungguh-sungguh mendengarkan?

- Apa manfaatnya bertanya, "Bagaimana jika saya berada dalam situasi itu?"

- Langkah apa yang dapat Anda lakukan untuk mengurangi gangguan saat seseorang berbicara kepada Anda?

Bacaan Alkitab Setahun :
Imamat 23-24; Markus 1:1-22
_____________
Sering kali, penyembuhan terjadi bukan karena solusi yang diberikan, melainkan karena seseorang merasa didengarkan.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
=========
The Skill That Builds Relationships - Daily Hope with Rick Warren - February 19, 2026

"We must bear the 'burden' of being considerate of the doubts and fears of others." Romans 15:2 (TLB)
-----------------------
Listening is probably the most important skill in building friendships and relationships. You can't love people without listening to them.

But sometimes people run into trouble in their relationships when they think hearing and listening are the same thing. The truth is that there's a big difference between hearing someone and listening to them.

You can hear something and not really be listening. I can't tell you how many arguments I've had with my kids or my wife because I was hearing the words but not really listening to the emotions. Sometimes the words don't even matter. Someone can say to you, "I'm fine," but the way they say it tells you that they're not fine. Listening means you also hear what the person isn't saying.

When you listen that way, you're showing empathy. Empathy means to put yourself in the other person's shoes and learn their point of view. You ask yourself, "How would I feel if I were in that situation?"

Listening with empathy means you listen without interruption and you listen for what's not being said—the feelings and fears behind the words. And you don't need to try to fix the situation. In fact, sometimes healing comes just from someone listening!

Romans 15:2 says, "We must bear the 'burden' of being considerate of the doubts and fears of others" (TLB).

What does it mean to be considerate or to bear the burden of someone else's doubts? It means that, when people are in so much pain that they don't even know what they believe, they need the devotion of a loyal friend. They need someone who will be present and listen with empathy.

Will you be that friend today?


Selasa, 17 Februari 2026

Di Mana Anda Menemukan Keberanian untuk Membangun Relasi

18 Februari 2026

Bacaan Hari ini:
2 Timotius 1:7 "Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban."
-----------------
Ketika hati Anda dipenuhi ketakutan dan kecemasan, Anda cenderung menjauh dari orang lain. Anda takut ditolak, disakiti, dimanfaatkan atau tidak diterima apa adanya. Ketakutan-ketakutan ini membuat Anda menarik diri dan membatasi kedekatan dengan orang di sekitar Anda.

Ketakutan seperti ini sudah ada sejak awal manusia. Ketika Adam dan Hawa berbuat dosa, mereka bersembunyi. Adam berkata, "Aku menjadi takut… sebab itu aku bersembunyi" (Kejadian 3:10). Sejak saat itu, manusia terus belajar bersembunyi.

Mungkin Anda tidak bersembunyi secara fisik, tetapi Anda menyembunyikan diri yang sebenarnya. Anda tidak menunjukkan isi hati Anda yang sesungguhnya. Anda takut jika orang lain melihat kelemahan Anda dan tidak menyukainya. Akibatnya, Anda mencoba menjadi pribadi yang berbeda dari diri Anda yang sebenarnya.

Ketakutan ini dapat merusak relasi dalam tiga cara:

Pertama, ketakutan membuat Anda defensif.
Ketika kelemahan Anda terlihat, Anda segera membela diri atau menyerang balik.

Kedua, ketakutan membuat Anda menjaga jarak.
Anda sulit terbuka dan jujur. Anda menarik diri dan menahan perasaan.

Ketiga, ketakutan membuat Anda ingin mengendalikan.
Semakin Anda merasa tidak aman, semakin Anda ingin memegang kendali—misalnya dengan selalu ingin menjadi pihak terakhir yang berbicara atau menentukan segalanya.

Jelaslah bahwa ketakutan hanya merusak hubungan. Lalu, dari mana Anda memperoleh keberanian untuk mengambil langkah pertama dan membangun kedekatan yang sehat?

Jawabannya adalah dari Roh Allah yang bekerja di dalam hidup Anda. Firman Tuhan berkata bahwa Roh Kudus tidak membuat Anda menjadi penakut, melainkan memberi kekuatan untuk mengasihi dan menikmati kebersamaan dengan orang lain.

Bagaimana Anda tahu bahwa Roh Allah bekerja dalam hidup Anda? Salah satu tandanya adalah Anda semakin berani dalam relasi. Anda tidak lagi dikuasai rasa takut, tetapi semakin bebas untuk mengasihi.

Alkitab mengatakan bahwa Allah adalah kasih dan kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan. Langkah pertama untuk membangun relasi yang lebih dalam sangat sederhana: berhenti sejenak, berdoa dan berkata : "Tuhan, berikan saya keberanian untuk mengambil langkah pertama."

Maukah Anda memanjatkan doa itu hari ini untuk salah satu relasi dalam hidup Anda?

Renungkan :

- Dalam hal apa ketakutan memengaruhi hubungan Anda saat ini?

- Kapan Anda pernah merasakan keberanian yang Tuhan berikan dalam sebuah relasi?

- Dalam relasi mana Anda perlu meminta pertolongan Tuhan untuk memulai langkah pertama menuju kedekatan yang lebih sehat?

Bacaan Alkitab Setahun :
Imamat 21-22; Matius 28
______________
Semakin Anda hidup dekat dengan Tuhan, semakin berkurang ketakutan dalam diri Anda.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
==========
Where to Find the Courage to Connect - Daily Hope with Rick Warren - February 19, 2026

"For the Holy Spirit, God's gift, does not want you to be afraid of people, but to be wise and strong, and to love them and enjoy being with them." 2 Timothy 1:7 (TLB)
---------------------
When you're full of fear and anxiety, you don't get close to other people. Instead, you back off. You fear being rejected, manipulated, vulnerable, hurt, or used, and these fears cause you to disconnect from the people around you.

This fear is as old as humanity. When Adam and Eve sinned, God came looking for them. Then Adam said, "I was afraid . . . and I hid myself" (Genesis 3:10 ESV). People have been hiding ever since.

You may not physically hide, but you hide your true self. You don't let people know what you're really like. You don't let them see inside you. Why? Because you believe that if you show people your true self and they don't like it, you'll be up a creek without a paddle. Instead, you pretend to be someone you're not.

Fear leads to three things that will damage your relationships:

Fear makes you defensive. You're afraid to reveal yourself, but people inevitably spot some of your weaknesses. And when they point out those weaknesses, you defend yourself and retaliate.

Fear keeps you distant. You're afraid to be open and honest—to let people get close to you. Instead, you withdraw and pull back, hide your emotions, and become defensive and distant.

Fear makes you demanding. The more insecure you are, the more you try to control and dominate. For you, it might look like always having to get in the last word in a conversation. Being demanding is always a symptom of fear and insecurity.

Clearly, fear only damages your relationships. But where do you get the courage to take the first step to connect with someone and move toward deeper intimacy?

You get it from God's Spirit in your life. Paul says in the Living Bible paraphrase, "For the Holy Spirit, God's gift, does not want you to be afraid of people, but to be wise and strong, and to love them and enjoy being with them" (2 Timothy 1:7).

How do you know you're filled with God's Spirit? You're filled with God's Spirit when you've become more courageous in your relationships. Rather than fearing people, you're free to love them and enjoy being with them.

The Bible says that "God is love" (1 John 4:8 TLB) and that "perfect love drives out all fear" (1 John 4:18 GNT). The more of God you have in your life, the less fear you're going to have in your life.

The starting point in connecting with anyone is to pause, pray, and say, "God, give me the courage to take the first step." Are you ready to pray that for one of your relationships today?

Keluarga yang Sehat adalah Keluarga yang Penuh Sukacita

17 Februari 2026

Bacaan Hari ini:
Pengkhotbah 11:8 "Oleh sebab itu jikalau orang panjang umurnya, biarlah ia bersukacita di dalamnya"
------------------
Berikut satu ciri penting keluarga yang sehat: keluarga yang sehat tahu bagaimana menikmati kebersamaan. Mereka tidak hanya menjalani hidup bersama, tetapi juga menikmati hidup itu bersama. Dengan kata lain, mereka tahu bagaimana bersukacita dan bersenang-senang.

Sayangnya, inilah yang sering hilang dalam banyak keluarga saat ini. Banyak keluarga terlalu sibuk, terlalu lelah, terlalu tertekan, terlalu negatif dan terlalu serius. Padahal, siapa yang ingin pulang ke rumah yang dipenuhi suasana seperti itu? Keluarga seharusnya menjadi tempat yang menyenangkan.

Alkitab bahkan menasihatkan hal ini secara jelas. Pengkhotbah 11:8 mengatakan bahwa manusia seharusnya menikmati hidup yang diberikan Allah kepadanya. Mengapa hal ini penting? Karena tidak seorang pun tahu berapa lama ia akan hidup. Anda tidak tahu apakah masih memiliki minggu depan, bulan depan atau bahkan hari esok. Karena itu, waktu untuk menikmati hidup adalah sekarang.

Kebersamaan yang penuh sukacita tidak hanya terbatas pada keluarga biologis atau keluarga adopsi. Jika Anda tinggal jauh dari keluarga, Anda tetap dapat membangun kebersamaan seperti ini di dalam keluarga gereja. Kelas Sekolah Minggu atau kelompok kecil dapat menjadi tempat yang baik untuk menikmati hidup bersama orang-orang dari berbagai usia.

Ketika anak-anak saya masih kecil, saya menetapkan satu tujuan penting: saya tidak ingin mereka hanya mengenal keluarga kami sebagai keluarga yang baik atau pintar, tetapi sebagai keluarga yang penuh kasih dan penuh sukacita. Karena itu, saya sengaja menciptakan berbagai kegiatan hanya untuk bersenang-senang bersama.

Salah satunya adalah kegiatan yang kami sebut "Petualangan Misterius Ayah." Anak-anak sangat menyukainya. Hingga kini, kegiatan itu menjadi kenangan berharga dan saya bahkan melakukannya bersama cucu-cucu saya. Saat anak-anak masih kecil, saya akan membangunkan mereka dan berkata, "Bangun! Hari ini kita akan berpetualang!" Mereka langsung bersemangat karena tahu hari itu akan diisi dengan hal-hal menyenangkan, entah itu pergi ke tempat berenang atau sekadar menikmati es krim bersama.

Ada satu hal penting yang perlu Anda ingat: orang mungkin lupa apa yang Anda katakan, tetapi mereka akan selalu mengingat bagaimana perasaan yang Anda tinggalkan dalam hati mereka. Nasihat ini berlaku bagi siapa pun—orang tua, pasangan, pemimpin, maupun sahabat.

Anak-anak saya tidak mengingat sebagian besar nasihat yang saya ucapkan ketika mereka masih kecil. Namun, mereka mengingat bagaimana perasaan mereka ketika bersama saya. Mereka mengingat bahwa kami menikmati kebersamaan itu.

Alkitab juga berkata, "Oleh sebab itu aku memuji kesukaan, karena tak ada kebahagiaan lain bagi manusia di bawah matahari, kecuali makan dan minum dan bersukaria. Itu yang menyertainya di dalam jerih payahnya seumur hidupnya yang diberikan Allah kepadanya di bawah matahari." (Pengkhotbah 8:15).

Renungkan :

- Kesibukan atau gangguan apa yang selama ini menghalangi keluarga Anda untuk menikmati kebersamaan?

- Apakah Anda lebih sering fokus pada apa yang Anda katakan kepada anak-anak atau orang terdekat, atau pada perasaan yang Anda ciptakan bagi mereka?

- Apa satu hal sederhana yang dapat Anda lakukan hari ini untuk menciptakan suasana yang lebih ceria dan menyenangkan di dalam keluarga atau kelompok kecil Anda?

Bacaan Alkitab Setahun :
Imamat 19-20; Matius 27:51-66
___________
Keluarga yang sehat tahu bagaimana bersukacita bersama.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
=========
Awesome Families Are Fun Families - Daily Hope with Rick Warren - February 17, 2026

"People ought to enjoy every day of their lives, no matter how long they live." Ecclesiastes 11:8 (NCV)
-------------------
Here's the first common denominator of great families: Awesome families are playful. They know how to have fun. They enjoy life together. In other words, they know how to play.

This is the missing ingredient in so many families today. These days, many families are too busy, too tired, too negative, too worn out, and too serious. Who wants to come home from school to that? Families should be fun.

The Bible talks about this and actually commands it. Ecclesiastes 11:8 says, "People ought to enjoy every day of their lives, no matter how long they live" (NCV).

Why is it important for you to enjoy every day? Because you don't know how long you're going to live. You don't know if you've got the next week or the next month. You don't even know if you've got tomorrow. Whatever living you're going to do, you better do it now.

You can think beyond your biological or adoptive family for this kind of fun too. If you don't live near your family, learn to have this kind of fun in your church family. Being part of a Sunday School class or small group can give you a great opportunity to find people of all ages to enjoy life with.

When my kids were growing up, I determined that the number one thing I wanted them to know about our family was not that we were good or smart—I wanted them to know that they were loved and that we had fun together. And I created all kinds of things to do just to have fun.

One of them was called Daddy's Magical Mystery Tour. The kids loved it. It's a hallowed tradition in our family. Now I do it with our grandkids. When the kids were in preschool and grade school, I'd wake them up and yell, "Get out of bed! It's time for Daddy's Magical Mystery Tour!" And they'd get excited because they knew that meant they didn't have to go to school and we were about to do something really fun, whether it was driving to a hotel with a pool or making an ice cream run.

You need to keep this in mind: People don't remember what you say, but they will remember how you make them feel. That's important advice for a boss, boyfriend or girlfriend, parent, or spouse.

My kids don't remember most of what I said in the early years of their lives. But they do remember how Daddy made them feel. They remember that we had a lot of fun.

Awesome families are playful.

"I recommend having fun. . . . That way [you] will experience some happiness along with all the hard work God gives [you]" (Ecclesiastes 8:15 NLT).


Minggu, 15 Februari 2026

Meninggalkan Warisan Kasih dan Pelayanan

16 Februari 2026

Bacaan Hari ini:
Ibrani 10:24 "Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik"
--------------------
Keluarga yang sehat mengajarkan kepada anak-anaknya bahwa mereka bukan pusat dari segalanya. Keluarga seperti ini menolong setiap anggotanya memahami bahwa Allah menciptakan mereka dengan tujuan dan panggilan. Mereka memberi teladan dalam kesetiaan, pelayanan, kemurahan hati, dan doa.

Keluarga yang biasa-biasa saja jarang melakukan hal-hal tersebut. Namun keluarga yang sungguh-sungguh membangun iman akan melakukannya dengan konsisten.

Saya menjadi pribadi seperti sekarang ini karena didikan orang tua saya. Mereka menanamkan nilai penting untuk peduli kepada orang lain.

Orang tua saya tidak memiliki banyak uang, tetapi mereka memiliki hati yang murah dan terbuka. Mereka senang memberi, meskipun hidup dalam keterbatasan. Kami tinggal di daerah pedesaan dan ayah saya menanam kebun yang sangat luas dengan berbagai jenis sayuran. Hasilnya jauh lebih banyak daripada yang kami butuhkan. Tujuannya bukan untuk disimpan, melainkan untuk dibagikan—karena ia tidak memiliki kelebihan uang, tetapi ingin tetap menolong orang lain.

Rumah kami hampir selalu dipenuhi tamu. Orang-orang yang sedang terluka datang ke rumah kami. Mereka yang sedang dalam perjalanan singgah di rumah kami. Mereka yang sedang mengalami konflik atau pergumulan juga datang ke rumah kami. Bahkan para pemimpin rohani yang lewat di daerah kami sering menginap di rumah kami.

Suatu hari, ayah saya menghitung berapa banyak makanan yang dimasak ibu saya untuk para tamu dalam satu tahun. Jumlahnya lebih dari seribu porsi! Saya dibesarkan dengan sikap hidup yang sederhana: hidup bukan tentang diri sendiri, melainkan tentang melayani orang lain.

Itulah yang dilakukan keluarga yang membangun iman. Mereka saling mengajar untuk mengasihi dan melakukan perbuatan baik—melayani dan menolong sesama.

Alkitab memberikan contoh melalui keluarga Kornelius: "Ia saleh, ia serta seisi rumahnya takut akan Allah dan ia memberi banyak sedekah kepada umat Yahudi dan senantiasa berdoa kepada Allah. " (Kisah Para Rasul 10:2)

Itu adalah warisan yang indah. Bukankah Anda juga ingin suatu hari nanti orang-orang mengingat Anda dan keluarga Anda dengan cara seperti itu?

Renungkan :

- Warisan seperti apa yang ingin Anda tinggalkan melalui hidup Anda? Apa langkah nyata yang dapat Anda lakukan untuk mewujudkannya?

- Jika Anda tidak memiliki anak, siapa generasi muda di sekitar Anda yang dapat Anda bimbing dan dorong untuk hidup sesuai tujuan Allah?

- Bagaimana Anda dapat menggunakan rumah Anda—baik rumah besar maupun tempat tinggal sederhana—sebagai sarana untuk melayani orang lain?

Bacaan Alkitab Setahun :
Imamat 17-18; Matius 27:27-50
____________
Baik Anda memiliki anak atau tidak, Allah tetap memanggil Anda untuk meninggalkan warisan kasih dan pelayanan. Di sekitar Anda selalu ada orang yang lebih muda—baik dalam usia maupun dalam iman. Maukah Anda meluangkan waktu untuk menolong mereka belajar melayani dan mengasihi sesama?

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
============
Leave a Legacy of Love and Service - Daily Hope with Rick Warren - February 16, 2026

"Let us think about each other and help each other to show love and do good deeds." Hebrews 10:24 (NCV)
------------------
Awesome families teach their kids that they're not the center of the universe. They help their kids understand that God made them and shaped them for a mission. They model dedication, service, generosity, and prayer. Average families don't do those things. Awesome families do.

I am the man that I am today because of my parents. They instilled in me the value of caring about other people.

My parents didn't have much money, but they both had the gifts of hospitality and generosity. They loved to give to others even though they didn't have much. We lived out in the country, and my dad would plant an acre garden with all kinds of vegetables. There was no way our family could eat all that food, but he did it just so he could give it away—because he didn't have any extra money to give. So we always planted more than we needed and then gave it away to help people in need.

Our home was constantly filled with visitors. If people were in pain, they were at our house. If they were on the road, they were at our house. If they were going through a conflict, they were at our house. If they were a Christian leader coming through town, they were at our house. One day my dad added up how many meals my mom had cooked for guests in our home in one year. It was over a thousand meals! I grew up learning a "give your life away" attitude. My parents taught me that life's not about me; it's about helping other people.

That's what awesome families do. They teach each other to show love and to do good deeds—to minister and to serve.  

A good example of this is Cornelius' family in the book of Acts: "He and all his family were devout and God-fearing; he gave generously to those in need and prayed to God regularly" (Acts 10:2 NIV).

What a great legacy! Wouldn't you like to have people writing that about you and your family one day?

Whether you have children or not, God wants you to leave a legacy like that. You'll find people younger in age—or younger in the faith—all around you. Will you take the time to help them learn to serve the people around them?


Sabtu, 14 Februari 2026

Mengasihi dengan Kasih yang Tak Berkesudahan

15 Februari 2026

Bacaan Hari ini:
Filipi 1:7 "Memang sudahlah sepatutnya aku berpikir demikian akan kamu semua, sebab kamu ada di dalam hatiku"
--------------
Ada satu kenyataan sederhana dalam hidup: orang yang tidak kita tempatkan di hati, sering kali justru terasa mengganggu. Jika pasangan, anak, sahabat atau rekan kerja tidak kita kasihi dari hati, hubungan dengan mereka mudah berubah menjadi sumber kejengkelan.

Banyak pernikahan mengalami masalah karena suami dan istri saling bereaksi dari pikiran, bukan dari hati. Ketika istri berkata, "Saya merasa sedih atau tertekan," perasaan itu perlu didengarkan dan dihargai. Ketika suami berkata, "aya merasa ini bukan keputusan yang tepat," pendapat itu juga perlu didengarkan.

Mengasihi dari hati berarti berusaha memahami perasaan orang lain, bukan langsung membantah atau menghakimi. Ajukan pertanyaan, lalu dengarkan dengan sungguh-sungguh. Cobalah melihat persoalan dari sudut pandang mereka. Perhatikan luka yang mungkin tersembunyi di balik kata-kata atau sikap mereka.

Namun, mengasihi orang-orang terdekat tidak selalu mudah. Bahkan ketika Anda sudah berusaha memahami, rasa lelah dan kecewa tetap bisa muncul. Di sinilah Anda membutuhkan kasih yang lebih besar daripada kasih manusia biasa.

Rasul Paulus berkata, "Sebab Allah adalah saksiku betapa aku dengan kasih mesra Kristus Yesus merindukan kamu sekalian." (Filipi 1:8). Kasih yang ia maksud bukanlah kasih yang berasal dari kekuatan manusia, melainkan kasih yang berasal dari Yesus sendiri.

Kasih manusia bisa habis. Ia dapat melemah ketika menghadapi masalah, luka batin atau keadaan yang sulit. Tetapi kasih Allah tidak pernah habis. Kasih inilah yang sanggup membuat seseorang tetap mengasihi, bahkan ketika keadaan tidak menyenangkan.

Bagaimana Anda bisa memiliki kasih seperti itu? Alkitab menjelaskan: "Kasih Allah telah dicurahkan ke dalam hati kita oleh Roh Kudus" (Roma 5:5).

Renungkan :

- Kapan terakhir kali Anda tetap memilih mengasihi seseorang meskipun perasaan Anda tidak mendukung?

- Apa yang dapat Anda lakukan agar lebih mau mendengarkan dan memahami perasaan orang-orang terdekat Anda?

- Dalam hal apa Anda perlu meminta Tuhan menolong Anda mengasihi dengan kasih-Nya yang tidak pernah habis?

Bacaan Alkitab Setahun :
Imamat 15-16; Matius 27:1-26
____________
Kasih ini bukan sesuatu yang Anda hasilkan sendiri. Kasih ini adalah pemberian Allah, yang bekerja di dalam hidup Anda ketika Anda menyerahkan diri kepada-Nya setiap hari.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
=========
Love with a Lasting Love - Daily Hope with Rick Warren - February 15, 2026

"It is right for me to feel this way about all of you, since I have you in my heart." Philippians 1:7 (NIV)
--------------------
I've discovered that if people are not on my heart, they're likely on my nerves. If you don't have your spouse, kids, friends, or coworkers on your heart, they can start to get on your nerves too.

The reason so many marriages struggle is that spouses often react to each other from their minds rather than their hearts. When your wife says, "I feel depressed," listen to her; it's legitimate. When your husband says, "I don't feel this is the right thing to do; we ought to do it this other way," listen to him.

Heart love begins with understanding why someone feels the way they do. Ask questions and then listen. Hear the hurt, look at the problems from their point of view, and work to know what makes your them tick. Try to understand the temperaments of the people in your life and why they act the way they do. If you care, you'll be aware.

Sometimes it's a struggle to love the people closest to you, even when you're working hard to understand them. So how does one do it? "God can testify how I long for all of you with the affection of Christ Jesus" (Philippians 1:8 NIV). In Greek, the word affection is the word for intestines. The Greeks thought that the seat of emotion was in your stomach, your liver, your internal organs.

Paul was saying, "My love for you comes from a gut feeling." That is not a natural kind of love. It is supernatural. That's why Paul said it's not from himself, but it's the affection of Christ Jesus.

Human love wears out. It dries up and dies on the vine. The only kind of love that lasts in spite of heartache and difficulty and tough circumstances is God's love—the affection of Jesus.

So how do you get this kind of gut love? "God has poured out his love into our hearts by means of the Holy Spirit, who is God's gift to us" (Romans 5:5 GNT). God's love is not something you work to build up. It is something that is poured into you by the Holy Spirit as you let him live in you day by day.


Jumat, 13 Februari 2026

Relasi Seperti Jas Hujan di Tengah Badai Kehidupan

14 Februari 2026

Bacaan Hari ini:
Pengkhotbah 4:9–10 "Berdua lebih baik dari pada seorang diri,... kalau mereka jatuh, yang seorang mengangkat temannya, tetapi wai orang yang jatuh, yang tidak mempunyai orang lain untuk mengangkatnya!"
---------------
Relasi ibarat jas hujan di tengah badai kehidupan. Ketika sahabat atau anggota keluarga menghadapi badai, Anda saling melindungi. Orang-orang yang berkomitmen satu sama lain akan saling menjaga ketika badai datang.

Pengkhotbah 4:9–10 mengingatkan: "Berdua lebih baik dari pada seorang diri,... kalau mereka jatuh, yang seorang mengangkat temannya, tetapi wai orang yang jatuh, yang tidak mempunyai orang lain untuk mengangkatnya!"

Hidup membawa berbagai macam badai. Terkadang badai itu berupa masa-masa perubahan; di lain waktu, badai hadir sebagai pengaruh yang merugikan. Dalam semua situasi itu, Anda dipanggil untuk melindungi orang-orang yang Anda kasihi.

Namun, badai yang paling menyakitkan adalah penolakan. Ketika seorang sahabat, anak atau pasangan merasa ditolak, Anda—bersama orang-orang terdekat lainnya—perlu berdiri di sekeliling mereka dan menjadi jas hujan yang melindungi di tengah badai tersebut.

Bertahun-tahun yang lalu, anak sulung saya, Amy, masih duduk di bangku SMA. Ia mengikuti seleksi pemandu sorak dan berlatih dengan sungguh-sungguh. Pada akhirnya, teman-temannya diterima, tetapi ia tidak. Penolakan itu sangat melukai hatinya.

Ketika pulang ke rumah, ia berlari ke kamarnya, masuk ke dalam lemari, duduk di lantai dan menangis tersedu-sedu. Semua anggota keluarga mendengar tangisannya. Satu per satu, tanpa direncanakan, kami masuk ke kamarnya, duduk di lantai di dalam lemari itu, dan menangis bersamanya.

Kami tidak memberinya nasihat—ia tidak membutuhkannya. Kami tidak berkata, "Jangan khawatir, itu bukan masalah besar." Bagi Amy, itu adalah masalah besar. Kami juga tidak berkata, "Jangan menangis." Itu bukan respons yang penuh empati bagi seseorang yang sedang berduka. Sebaliknya, selama sekitar tiga puluh menit, kami hanya duduk di sana dan menangis bersamanya.

Keluarga kami tidak pernah melupakan pengalaman itu. Mengapa? Karena pada saat itu, kami menjadi jas hujan bagi Amy. Kami melindunginya di tengah badai. Ketika salah satu dari kami terluka, kami tidak meremehkannya, tidak mencoba mengalihkannya, dan tidak memaksanya untuk segera merasa lebih baik. Kami hanya hadir dan berbagi air mata.

Renungkan :

- Mengapa seseorang seharusnya merasakan dukungan terbesar justru dari keluarganya?

- Ketika seorang anak atau orang terdekat Anda mengalami penolakan, apa reaksi Anda biasanya? Menurut Anda, apa respons yang penuh kasih dan sesuai dengan Alkitab?

- Dalam hal apa Anda terkadang mencoba "membujuk" orang lain agar tidak merasa terluka atau ditolak? Mengapa sikap ini justru dapat melukai mereka?

Bacaan Alkitab Setahun :
Imamat 14; Matius 26:51-75
___________
Keluarga yang sehat—baik keluarga biologis, keluarga adopsi, maupun keluarga rohani—saling melindungi di tengah badai kehidupan.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
=========
Relationships Are like a Raincoat in Life's Storms - Daily Hope with Rick Warren - February 15, 2026

"Two are better off than one. . . . If one of them falls down, the other can help him up. But if someone is alone and falls, it's just too bad, because there is no one to help him." Ecclesiastes 4:9-10 (GNT)
---------------------
Relationships are like a raincoat during the storms of life. When friends or family members go through a storm, you help each other. People committed to one another protect each other in the storm.

Ecclesiastes 4:9-10 says, "Two are better off than one. . . . If one of them falls down, the other can help him up. But if someone is alone and falls, it's just too bad, because there is no one to help him" (GNT).

Life brings all kinds of storms, and you'll need to protect your loved ones through them. Sometimes those storms are seasons of change; other times they come as harmful influences.

But the most painful storm of all is rejection. When your friend, your child, or your spouse feels rejected, you—and others close to them—need to rally around them and act as a raincoat in the storm.

Many years ago, my oldest child, Amy, was in high school. She tried out to be a cheerleader. She went to practice after practice for the tryouts. Eventually, her friends got accepted, but she was rejected—and it broke her heart. When she came home, she ran into her room, went into her closet, sat down on the floor, and burst into tears.

Everyone in our family could hear Amy crying. And one by one, all on our own, we ended up walking into her room, sitting down on the floor in her closet, and crying with her.

We didn't give her any advice; she didn't need advice. We didn't say, "Don't worry. It's not a big deal." It was a big deal! We didn't say, "Don't cry!" That's an insensitive thing to say to somebody who's grieving. Instead, we all sat there for about 30 minutes and just cried with her.

Our family will never forget that experience. Why? Because, at that point, we were being a raincoat for Amy. We were being storm catchers. We were being protectors. Somebody in our family had been hurt, and we weren't demeaning it. We weren't trying to talk her out of it. We weren't trying to cheer her up. We just wept with her.

Awesome families—biological, adoptive, and spiritual—protect each other in the storm.


Kamis, 12 Februari 2026

Bagaimana Keluarga Saling Menolong untuk Bertumbuh

13 Februari 2026

Bacaan Hari ini:
Yohanes 13:14–15 "Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu; sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu."
------------------
Salah satu ciri keluarga yang sehat—baik keluarga biologis, keluarga adopsi, maupun keluarga gereja—adalah kemauan untuk saling menolong agar setiap anggotanya bertumbuh. Namun, bagaimana caranya menolong satu sama lain untuk bertumbuh dengan benar?

Ada dua cara yang efektif untuk menolong orang bertumbuh, dan ada dua cara yang justru tidak membantu. Prinsip-prinsip ini berlaku dalam semua relasi, bukan hanya di dalam keluarga.

Cara yang menolong pertumbuhan

1. Melalui teladan

Yesus mengajar murid-murid-Nya melalui teladan hidup. Alkitab mencatat: "Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu; sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu." (Yohanes 13:14–15).
Anak-anak—dan sesungguhnya siapa pun—tidak terlalu membutuhkan khotbah panjang. Mereka membutuhkan contoh nyata. Mereka ingin melihat bagaimana Yesus dinyatakan melalui sikap, perkataan, dan tindakan Anda setiap hari.

2. Melalui percakapan yang bermakna

Jika Anda tidak memiliki percakapan yang jujur dan bermakna tentang kehidupan, Anda sedang melewatkan banyak kesempatan untuk menolong orang lain bertumbuh. Sayangnya, banyak percakapan dalam keluarga hanya berkisar pada jadwal, makanan atau tugas—bukan tentang hal-hal yang sungguh penting dalam hidup.
Ulangan 6:7 menasihatkan: "haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun."

Cara yang tidak menolong pertumbuhan

1. Melalui kritik dan celaan

Mengomel, menyalahkan, atau mengkritik tidak pernah efektif untuk membawa perubahan sejati. Ketika Anda mengkritik, fokus Anda tertuju pada apa yang tidak Anda inginkan, bukan pada pertumbuhan yang Anda harapkan.
Alkitab mengingatkan: "Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu ,tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan." (Efesus 6:4).

2. Melalui perbandingan

Setiap orang diciptakan unik. Tidak ada seorang pun yang sama persis dengan orang lain. Karena itu, membandingkan satu orang dengan yang lain tidak pernah menghasilkan pertumbuhan—bahkan sering merusak relasi.
Alkitab berkata: "Baiklah tiap-tiap orang menguji pekerjaannya sendiri; maka ia boleh bermegah melihat keadaannya sendiri dan bukan melihat keadaan orang lain." (Galatia 6:4).

Inilah rancangan Allah bagi keluarga dan komunitas. Alkitab menasihatkan: "Karena itu, nasihatilah seorang akan yang lain dan saling membangunlah kamu, seperti yang memang kamu lakukan" (1 Tesalonika 5:11).

Renungkan :

- Perhatikan percakapan Anda dengan keluarga atau sahabat dalam satu atau dua hari terakhir. Apakah percakapan itu menyentuh hal-hal yang sungguh penting dalam hidup? Jika belum, bagaimana Anda dapat mengarahkannya ke sana?

- Jika Anda seorang orang tua, dalam hal apa terakhir kali Anda menegur anak Anda? Bagaimana Anda dapat menjadi teladan terlebih dahulu dalam hal tersebut, bukan hanya memberi perintah?

- Daripada membandingkan atau mengkritik, langkah apa yang dapat Anda ambil hari ini untuk membangun dan menguatkan orang-orang di sekitar Anda?

Bacaan Alkitab Setahun :
Imamat 13; Matius 26:26-50
_____________
Alkitab penuh dengan arahan tentang bagaimana manusia seharusnya saling memperlakukan. Bahkan terdapat puluhan perintah "saling": saling mengasihi, saling peduli, saling mendoakan, saling menguatkan, saling menolong, saling menasihati, dan saling menopang.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
===========
How Families Can Help Each Other Grow - Daily Hope with Rick Warren - February 13, 2026

"Since I . . . have washed your feet, you ought to wash each other's feet. I have given you an example to follow. Do as I have done to you." John 13:14-15 (NLT)
------------------
One of the marks of an awesome family—whether it's your biological family, your adoptive family, or your church family—is that you help each other grow. But how do you do that?

Let me give you two methods that help people grow and two that don't. These apply in every area of life, not just in families.

People do help each other grow:

1. Through example. Jesus did this in teaching his disciples. John 13:14-15 says, "Since I . . . have washed your feet, you ought to wash each other's feet. I have given you an example to follow. Do as I have done to you" (NLT). Your kids don't want to hear a sermon. They want to see Jesus' example in your life.

2. Through conversations. If you're not having critical conversations with your kids about real issues, you're missing opportunities to help them grow. Unfortunately, most conversations parents have with kids are about schedules, eating, or homework—not about the things that really matter in life.

Deuteronomy 6:7 says, "Repeat [God's commandments] again and again to your children. Talk about them when you are at home and when you are on the road, when you are going to bed and when you are getting up" (NLT).

On the other hand, people don't help each other grow:

1. Through criticism. Nagging doesn't work. Condemning doesn't work. Criticizing and complaining are totally ineffective in helping a person change. Why? Because when you criticize, you're focusing on what you don't want rather than what you do want.

The Living Bible paraphrase says, "Don't keep on scolding and nagging your children, making them angry and resentful. Rather, bring them up with the loving discipline the Lord himself approves, with suggestions and godly advice"(Ephesians 6:4).

2. Through comparing. Everybody's unique. There's nobody in the world like you! That's why comparing never, ever works. In fact, it's lethal to any relationship. The Bible says, "Each person should judge his own actions and not compare himself with others. Then he can be proud for what he himself has done" (Galatians 6:4 NCV).

The Bible is full of instructions and examples about how people should treat each other. In fact, the Bible includes 58 "one another" statements—things like love one another, care for one another, pray for one another, encourage one another, help one another, counsel one another, and support one another.

That's the way God meant for it to be. The New Testament tells us to "encourage one another and build each other up, just as in fact you are doing" (1 Thessalonians 5:11 NIV).


Rabu, 11 Februari 2026

Lima Hal yang Perlu Dipelajari dalam Keluarga

12 Februari 2026

Bacaan Hari ini:
Lukas 2:52 "Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia."
----------------
Keluarga yang sehat mendorong pertumbuhan. Keluarga seperti ini menciptakan suasana belajar seumur hidup—saling menolong untuk berkembang, mendorong penemuan karunia dan kemampuan rohani setiap pribadi, serta memberi ruang untuk mempelajari hal-hal baru dan menumbuhkan minat yang baru.

Anda tidak selalu membutuhkan keluarga "ideal" untuk dapat bertumbuh. Keluarga gereja Anda juga dapat—dan seharusnya—menjadi kekuatan yang menumbuhkan hidup Anda. Ada pelajaran-pelajaran tertentu yang tidak bisa dipelajari di sekolah atau di tempat kerja. Pelajaran-pelajaran itu hanya dapat dipelajari melalui relasi dengan orang lain. Karena itu, Anda membutuhkan komunitas.

Faktanya, banyak pergumulan orang dewasa berakar pada hal-hal penting yang tidak dipelajari dengan baik sejak kecil. Berikut lima hal penting yang seharusnya dipelajari dalam keluarga, baik keluarga biologis maupun keluarga rohani:

1. Mengelola perasaan

Dalam keluarga yang sehat, Anda belajar mengenali, mengakui, mengekspresikan, dan mengelola perasaan dengan benar. Keluarga yang baik memberi ruang bagi kejujuran, termasuk membiarkan anak-anak mengekspresikan emosi mereka tanpa rasa takut.

2. Menghadapi konflik dengan sehat

Anak-anak perlu melihat bagaimana orang dewasa menyelesaikan perbedaan dengan cara yang dewasa dan penuh kasih. Konflik tidak harus dihindari, tetapi dikelola dengan bijaksana.

3. Menghadapi kehilangan dan kegagalan

Anak-anak tidak perlu selalu menang. Jika mereka selalu menang, kegagalan di masa dewasa dapat terasa menghancurkan. Mereka perlu belajar bahwa kegagalan tidak mengakhiri hidup dan kehilangan bukanlah akhir dari segalanya.

4. Menentukan nilai-nilai yang paling penting

Penting untuk mengajarkan nilai-nilai yang benar agar seseorang tidak mudah terbawa oleh nilai dunia. Godaan hidup sering berpusat pada apa yang dirasakan, apa yang dilakukan dan apa yang dimiliki—atau yang sering diringkas sebagai seks, penghasilan dan status. Keluarga perlu menolong anggotanya melihat nilai-nilai Allah sebagai yang utama.

5. Membentuk kebiasaan yang baik

Kebiasaan membentuk karakter. Karena itu, keluarga seharusnya saling menolong untuk bertumbuh sehingga karakter setiap anggotanya semakin mencerminkan karakter Yesus Kristus.

Mulailah melakukan perubahan hari ini, agar keluarga Anda—baik keluarga biologis, keluarga adopsi, maupun keluarga rohani—menjadi tempat yang aman bagi setiap orang untuk belajar, bertumbuh dan mengalami kebersamaan yang membangun.

Renungkan

- Bagaimana Anda dapat menciptakan suasana belajar dan pertumbuhan di dalam keluarga Anda?

- Mengapa mengajarkan cara menghadapi kegagalan menjadi semakin sulit dalam budaya saat ini?

- Nilai apa yang paling penting bagi Anda? Nilai-nilai Alkitab apa yang ingin Anda tanamkan kepada anak-anak atau generasi muda dalam hidup Anda?

Bacaan Alkitab Setahun :
Imamat 11-12; Matius 26:1-25
____________
Keluarga yang sehat mendorong pertumbuhan.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
=========
Five Things to Learn in a Family - Daily Hope with Rick Warren - February 12, 2026

"Jesus grew in wisdom and stature, and in favor with God and man." Luke 2:52 (NIV)
--------------------
Awesome families encourage growth.

How? They create an atmosphere of lifelong learning. They help each other develop. They encourage the discovery of each person's spiritual gifts and abilities. They allow people to learn new things and develop new interests.

But you don't necessarily need a typical family to help you grow. Your church family can—and should—be a force for growth in your life.

There are some things you're never going to learn if you don't learn them in relationship with others. You can't learn them at school. You can't learn them at work. You only can learn them with other people.

You need community.

In fact, most of your problems as an adult come from the fact that you didn't learn certain things correctly as a child. Here are five things you must learn in your family—whether biological or otherwise:

1. You learn what to do with feelings. In a healthy family, you learn how to identify, own up to, express, and deal with your feelings. Awesome families should let everyone be honest and let kids express their emotions too.

2. You learn how to handle conflict. Kids need to see their parents working problems out in front of them and dealing with differences in a healthy way.

3. You learn how to handle loss. You don't want your kids to win all the time. If they do, they'll find it devastating when they face inevitable losses as adults in the real world. They need to learn that failure won't destroy them, that a loss isn't the end of life.

4. You learn which values matter most. It's important to teach kids the three basic temptations of life so they are not swayed by what the world values. Those temptations have to do with how you feel, what you do, and what you get in life. In other words, that's sex, salary, and status.

5. You learn good habits. Habits determine your character. Families should help each other grow so that everyone's character is more like Jesus Christ.

Start to make changes today so that your family—whether it's biological, adoptive, or spiritual—is a safe place for everyone to learn and grow.


Selasa, 10 Februari 2026

Pernikahan yang Kuat Memberi Manfaat bagi Semua Orang

11 Februari 2026

Bacaan Hari ini:
Roma 12:9–10 "Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik. Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat."
----------------
Pernikahan yang kuat membawa kebaikan bagi semua orang. Pernikahan seperti ini tidak hanya memberkati mereka yang menjalaninya, tetapi juga membantu menguatkan komunitas dan masyarakat di sekitarnya.

Sepanjang sejarah, pernikahan telah menjadi fondasi utama setiap masyarakat dan kebudayaan. Ketika pernikahan-pernikahan kuat, bangsa-bangsa pun menjadi kuat. Sebaliknya, ketika pernikahan dan keluarga melemah, budaya dan masyarakat ikut merosot.

Pernikahan yang sehat juga memberi dampak bagi orang-orang di sekitarnya. Melalui hubungan ini, Allah membentuk karakter Anda—mengajar Anda untuk hidup tidak mementingkan diri sendiri dan belajar mengasihi dengan sungguh. Jika Anda menikah, tidak ada relasi lain yang memiliki pengaruh sebesar pernikahan terhadap pembentukan hidup Anda.

Namun jika Anda belum menikah, Allah tetap sedang bekerja membentuk karakter Anda melalui relasi-relasi lain. Anda tidak dikecualikan. Pribadi lajang yang hidup benar dan berfokus pada sesama memiliki peran yang sangat penting dalam membangun masyarakat yang sehat. Bahkan, dalam beberapa hal, mereka dapat menjalankan peran yang tidak selalu dapat dilakukan oleh pasangan menikah.

Hidup ini adalah ruang pembelajaran untuk mengasihi. Belajar mengasihi adalah hal terpenting yang dapat Anda lakukan, karena Allah adalah kasih dan Ia rindu Anda menjadi serupa dengan-Nya—menjadi semakin seperti Yesus Kristus. Allah ingin membangun karakter Anda, baik Anda menikah maupun tidak.

Jika Anda menikah, salah satu alat utama yang Allah gunakan untuk membentuk karakter Kristus dalam diri Anda adalah pasangan Anda. Setiap hari, Allah memberi Anda banyak kesempatan untuk memikirkan kebutuhan orang lain lebih dahulu daripada kebutuhan diri sendiri.

Alkitab menasihatkan: "Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik. Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat." (Roma 12:9–10).

Apakah prinsip ini Anda hidupi dalam pernikahan Anda? Sebelum menikah, seseorang mungkin merasa sudah memahami arti kasih. Namun seiring waktu, kasih itu nyata dalam hal-hal sederhana: melakukan tugas rumah, memperhatikan hal kecil, dan menempatkan pasangan lebih dahulu. Kasih sejati diwujudkan dalam tindakan sehari-hari.

Karena itu, "kasihilah dengan tulus dan saling mendahului dalam memberi hormat." Ketika Anda hidup dengan cara ini, Anda akan bertumbuh semakin serupa dengan Kristus. Hasilnya bukan hanya pernikahan yang lebih kuat, tetapi juga masyarakat yang lebih sehat bagi semua orang.

Renungkan :

- Dalam hal apa Anda pernah melihat pernikahan yang kuat membawa dampak positif bagi lingkungan atau masyarakat sekitar?

- Baik Anda menikah maupun tidak, relasi apa yang saat ini Allah pakai untuk membentuk karakter Anda? Apa yang sedang Anda pelajari tentang mengasihi dan menghormati sesama?

- Hari ini, cobalah untuk lebih dahulu menunjukkan kasih dan hormat kepada pasangan Anda. (Jika Anda belum menikah, terapkan prinsip yang sama kepada anggota keluarga, teman serumah, atau rekan kerja.) Apa dampaknya?

Bacaan Alkitab Setahun :
Imamat 8-10; Matius 25:31-46
_______________
Pernikahan yang sehat memberi dampak bagi orang-orang di sekitarnya.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
=========
Strong Marriages Benefit Everyone - Daily Hope with Rick Warren - February 11, 2026

"Love sincerely. . . . Hold on to what is good. Be devoted to each other like a loving family. Excel in showing respect for each other." Romans 12:9-10 (GW)
------------------
Strong marriages are good for everyone. They benefit those who are part of those relationships and even help strengthen whole communities.

Throughout history, marriage has been the fundamental building block of every society and culture. When marriages have been strong, nations have been strong. When marriages and families weaken, cultures decline.

Healthy marriages also benefit the people around them. God uses these relationships to shape your character, helping you learn how to be unselfish and loving. And if you get married, no other relationship will have a greater impact on your life.

If you're not married, God can still use and will use other people to build your character. You're not off the hook! Single people who are godly and others-focused play a critical role in flourishing cultures. In fact, sometimes they play roles that married couples can't.

Life is a laboratory for learning how to love. Learning to love is the most important thing you can do because God is love, and he wants you to become like him. He wants to make you like Jesus Christ. He wants to build your character—and he wants to do that whether or not you're married.

If you're married, one tool God uses in your life to build Christ-like character is your spouse. Every day, he gives you hundreds of opportunities to think about the other person's needs instead of your own.

The Bible says, "Love sincerely. . . . Hold on to what is good. Be devoted to each other like a loving family. Excel in showing respect for each other" (Romans 12:9-10 GW).

Do you do that in your marriage? Before I got married so many years ago, I really thought I knew how to love a woman. But I knew nothing about love! Now, after 50 years of marriage, I know that love washes the dishes. I know that love takes out the garbage. I know that love puts the other person first.

So, "Love sincerely. . . . Excel in showing respect for each other" so that you grow to be more like Christ. It will lead to a stronger relationship for you and a stronger society for everyone.


Senin, 09 Februari 2026

Pernikahan Diciptakan untuk Kebersamaan

10 Februari 2026

Bacaan Hari ini:
1 Korintus 11:11 "Namun demikian, dalam Tuhan tidak ada perempuan tanpa laki-laki dan tidak ada laki-laki tanpa perempuan."
------------------
Pernikahan tidak menyelesaikan masalah Anda. Pernikahan juga tidak menciptakan masalah baru. Pernikahan justru menyingkapkan apa yang sudah ada di dalam diri Anda sejak awal. Apa pun yang menjadi pergumulan ketika Anda hidup sendiri, akan terlihat lebih jelas ketika Anda hidup bersama orang lain.

Lalu, jika demikian, mengapa Allah merancang pernikahan? Salah satu jawabannya sederhana namun penting: Allah menciptakan pernikahan untuk kebersamaan.

Alkitab menyatakan: "Namun demikian, dalam Tuhan tidak ada perempuan tanpa laki-laki dan tidak ada laki-laki tanpa perempuan." (1 Korintus 11:11). Tidak seorang pun diciptakan untuk menjalani hidup sendirian. Allah membentuk manusia dengan kebutuhan untuk berjalan bersama, saling melengkapi dan saling menopang.

Kebenaran ini berlaku bagi semua orang, baik yang menikah maupun yang belum menikah. Tidak ada satu pribadi pun yang mencerminkan gambaran Allah secara utuh sendirian. Karena itu, Allah merancang kita untuk hidup berdampingan, bukan terpisah.

Sejak awal penciptaan, Allah sudah menyatakan hal ini dengan jelas: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja; Aku akan menjadikan seorang penolong baginya" (Kejadian 2:18). Pernyataan ini menunjukkan bahwa kebersamaan bukanlah tambahan, melainkan bagian dari rancangan Allah sejak semula.

Setiap orang membutuhkan kebersamaan dalam berbagai aspek kehidupan. Namun pernikahan memiliki tempat yang sangat khusus. Ia adalah bentuk kebersamaan yang unik, yang mengajak dua pribadi untuk belajar hidup berdampingan dalam komitmen, kesetiaan dan tanggung jawab.

Yesus sendiri menegaskan maksud Allah tentang pernikahan:
"Sebab pada awal dunia, Allah menjadikan mereka laki-laki dan perempuan… keduanya menjadi satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia." (Markus 10:6–9).

Dari perkataan Yesus ini, kita melihat bahwa pernikahan adalah rencana Allah, dijalani dalam kebersamaan antara laki-laki dan perempuan dan dimaksudkan untuk dipelihara sepanjang hidup.

Renungkan :

- Mengapa kebersamaan menjadi bagian penting dari rancangan Allah bagi pernikahan?

- Apa tantangan terbesar dalam menjalani kebersamaan dengan orang lain?

- Bagaimana Anda dapat belajar membangun kebersamaan yang sehat dan saling membangun dalam relasi Anda hari ini?

Bacaan Alkitab Setahun :
Imamat 6-7; Matius 25:1-30
_____________
Walaupun realitas kehidupan tidak selalu mencerminkan rancangan ini, kebenaran Allah tetap tidak berubah. Ketika Anda memilih untuk hidup sesuai dengan batas-batas yang Allah tetapkan, Anda sedang membuka diri untuk mengalami kebersamaan sebagaimana yang sejak semula Ia kehendaki.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
==========
Marriage Was Intended for Connection - Daily Hope with Rick Warren - February 10, 2026

"In God's plan men and women need each other." 1 Corinthians 11:11 (TLB)
--------------------
Marriage doesn't solve your problems. Marriage doesn't create your problems. Marriage reveals your problems. It simply magnifies what was already a problem when you were living as a single adult.

So if marriage doesn't solve your problems, what does marriage do? Why did God design marriage in the first place?

One reason is this: God created marriage for the deep companionship of men and women.

The Living Bible paraphrase says, "In God's plan men and women need each other" (1 Corinthians 11:11).

Whether or not you get married, if you're a woman, you need men in your life; if you're a man, you need women in your life. Why? Because nobody holds the full image of God. Women get part of it and men get part of it, and we need each other. God wired us this way. God thought up gender, sex, and marriage. What a God!

Did you ever wonder why God made man first and then woman a little bit later? Why didn't he make them both at the same time?

I think he did it for Adam's benefit. I think he wanted Adam to realize how much he needed a woman in his life.

The Living Bible paraphrase says, "It isn't good for man to be alone; I will make a companion for him" (Genesis 2:18).

You need companions in all different areas of your life. But marriage is a particularly significant way to provide companionship; it's in a relational class all by itself.

Here's what Jesus had to say about it: "'God made them male and female' from the beginning of creation. 'This explains why a man leaves his father and mother and is joined to his wife, and the two are united into one.' Since they are no longer two but one, let no one split apart what God has joined together" (Mark 10:6-9 NLT).

This passage makes three major points about marriage:

1. Marriage is God's plan. It's not a tradition you can just throw out.

2. Marriage is between a man and a woman. They were created to fit together for a purpose—the creation of everybody else.

3. Marriage is designed to be permanent. That doesn't always happen, but marriage is meant to be for life.

Do you realize how radical those three statements are? Even if many people don't believe them, they're still the truth!

The reality of life today is that many people live outside of this marriage ideal. But the ideal still exists—even if it's not the reality many people are living in or willing to accept.

When you choose to live within the boundaries God designed for marriage, you'll enjoy the deep connection he intended it to bring.


Minggu, 08 Februari 2026

NGOPI DIISTANA



Semua akan setuju klo diajak ngopi di istana bukan diwarkop ================================ Sama seperti MUI dan ormas-ormas Islam besar yg awalnya menolak keras BoP (Board of Peace) bentukan Donald Trump, sekarang giliran si Dino Patti Djalal dan prof Alwi Shihab (pamannya Najwa Shihab sekaligus mantan menlu Indonesia di jaman Gusdur dulu) Akhirnya setuju dan mendukung penuh keputusan Prabowo Subianto untuk bergabung di BoP dan nyumbang 1 Miliar dollar (16 Triliun rupiah). --------------------------------------------------- Padahal beberapa hari lalu Dino Patti Djalal masih ngotot menolak dan mengecam Prabowo beserta kementrian luar negri karena dianggap gak becus diplomasi luar negri karena mau tunduk dengan Donald Trump dan tidak berpihak kepada Palestina. Tapi begitu diajak Prabowo ngopi-ngopi di istana negara, sama seperti MUI kmrn juga yg diajak cangkruk di istana negara, pernyataan di Dino Patti Djalal berubah 180 derajat. Sekarang Dino malah memuji setinggi langit keputusan Prabowo ini, dengan mengatakan : "Saya surprise karena suasana totally open, diskusi ini tidak ada batasannya, tidak ada dibilang kita tidak boleh nanya ini, tidak boleh nanya itu, dan diskusi ini dua arah, jadi bukan satu arah" "Kesan saya adalah Beliau, Presiden Prabowo itu, mempunyai pendekatan yang realistis; sekarang ini memang satu-satunya opsi di atas meja adalah mengenai Board of Peace, tidak ada formula lain, tidak ada solusi lain, tidak ada jalur lain." "Yang saya paling suka, dan ini align juga dengan posisi core policy luar negeri Indonesia, adalah bahwa kita masuk dengan hati-hati dan terus berpegang pada opsi untuk bisa keluar kalau ini bertentangan dengan prinsip kita dan kepentingan kita." --------------------------------------------------- Tapi selain si Dino, pro Alwi Shihab yg juga awalnya menolak keputusan Prabowo ini walaupun tidak sekencang si Dino juga akhirnya setuju dengan keputusan Prabowo dan kementrian luar negri, dengan mengatakan : "Pertemuan tadi ini membuka cakrawala kita sebenarnya dan banyak pertanyaan-pertanyaan yang selama ini kita ingin ketahui tadi oleh Bapak Presiden dijelaskan sejelas-jelasnya." "Yang paling penting dalam hal penjelasan beliau itu bahwa Indonesia tidak pernah meninggalkan komitmen terhadap perjuangan Palestina dan tetap menginginkan adanya two-state solution, itu 'harga mati." --------------------------------------------------- Lihatkan semua akan cincai pada waktunya klo sudah diajakin ngopi di Istana, gak MUI, gak NU, gak Muhamadiyah, gak Dino, semua sama aja. Yg masih ribut gak setuju cuman netizen rakyat jelata yg ngopinya sachetan diwarkop pula bukan di Istana wkwkwkwkw *Agungbaster Perjuangan*

Apa Kunci untuk Menyentuh Hati Mereka?

09 Februari 2026

Bacaan Hari ini:
Amsal 20:5 "Rancangan di dalam hati manusia itu seperti air yang dalam, tetapi orang yang pandai tahu menimbanya"
-------------------
Apakah Anda membutuhkan lebih banyak kepercayaan diri untuk membagikan pengharapan yang Anda miliki di dalam Yesus? Penguat kepercayaan diri hari ini adalah ini: Anda dapat menuntun siapa pun kepada Yesus jika Anda mau mendengarkan dan menemukan kunci hati mereka.

Lalu, apakah yang dimaksud dengan kunci hati seseorang? Kunci itu adalah luka tersembunyi atau kebutuhan yang belum terpenuhi dalam hidup mereka.

Setiap orang memiliki rahasia—hal-hal dalam hidup yang tidak ingin diketahui orang lain. Alkitab menyatakan: "Semua orang telah berbuat dosa dan kehilangan kemuliaan Allah" (Roma 3:23). Namun ketika Anda sungguh-sungguh mendengarkan dan mampu menangkap pergumulan seseorang dari hatinya, pada saat itulah Anda menemukan jalan untuk menuntun mereka kepada Yesus.

Alkitab berkata:"Rancangan di dalam hati manusia itu seperti air yang dalam, tetapi orang yang pandai tahu menimbanya" (Amsal 20:5).

Ingatlah satu hal penting: hanya ada satu jalan kepada Allah Bapa, yaitu melalui Yesus Kristus. Yesus sendiri berkata: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku" (Yohanes 14:6 ). Namun, meskipun jalannya satu, alasan orang datang kepada Yesus sangat beragam.

Ada orang yang datang kepada Yesus karena membutuhkan mukjizat atau jawaban atas pertanyaan hidupnya. Ada yang datang karena kesepian, rasa bersalah, atau ketakutan. Ada pula yang sedang mencari makna dan tujuan hidup, sementara yang lain berada di tengah krisis relasi atau kesulitan keuangan.

Ada begitu banyak alasan yang menarik orang kepada Allah. Stres, rasa sakit dan penderitaan sering kali menjadi cara yang efektif untuk membuka hati seseorang.

Apa pun alasannya, jangan sia-siakan kesempatan apa pun untuk menunjukkan bahwa semua jawaban dan kerinduan terdalam manusia hanya dapat ditemukan dan dipenuhi di dalam Yesus.

Renungkan :

- Apakah mendengarkan orang lain—benar-benar mendengarkan—merupakan hal yang mudah bagi Anda? Langkah apa yang dapat Anda ambil hari ini untuk meningkatkan kemampuan mendengarkan Anda?

- Luka tersembunyi atau kebutuhan apa yang pernah menarik Anda semakin dekat kepada Allah?

- Pikirkan seseorang dalam hidup Anda yang belum mengenal Yesus. Mintalah kepada Allah agar Ia menolong Anda memahami kunci hati orang tersebut.

Bacaan Alkitab Setahun :
Imamat 4-5; Matius 24:29-51
____________
Jika Anda rindu menjangkau seseorang bagi Tuhan, temukanlah kunci hatinya dengan memulai percakapan yang tulus dan penuh kasih—percakapan yang dapat mengubah hidup.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
========
What's the Key to Their Heart? - Daily Hope with Rick Warren - February 9, 2026

"Someone's thoughts may be as deep as the ocean, but if you are smart, you will discover them." Proverbs 20:5 (CEV)
-------------
Do you need more confidence in sharing the hope you have in Jesus? Today's confidence builder is this: You can help lead anyone to Jesus if you'll just listen for the key to their heart.

What is the key to someone's heart? It's their hidden hurt or unmet need.

We all have secrets in our lives, things we don't want other people to know about. The Living Bible paraphrase says, "Yes, all have sinned; all fall short of God's glorious ideal" (Romans 3:23). But when you're able to discern a person's struggles by listening to their heart, you've just discovered how to lead them to Jesus.

The Bible says, "Someone's thoughts may be as deep as the ocean, but if you are smart, you will discover them"(Proverbs 20:5 CEV).

Keep in mind, there's only one way to God the Father, and that is through Jesus Christ. Jesus said, "I am the way and the truth and the life. No one comes to the Father except through me" (John 14:6 NIV). But there are many reasons people come to Jesus.

Some people come to Jesus for a miracle or to get a question answered. Some come out of loneliness, guilt, or fear. Others are looking for purpose in life, while others are in the middle of a relational or financial crisis.

There are a thousand different reasons people are drawn to God. Stress, pain, and suffering always have a way of getting your attention.

Whatever the reason, don't waste any opportunity to show people that all their answers and longings are found and fulfilled in Jesus.

If you want to reach a particular person for the Lord, find the key to their heart by opening up a life-changing conversation with them.


Sabtu, 07 Februari 2026

Allah Akan Memberikan Kata-Kata yang Perlu Anda Ucapkan

08 Februari 2026

Bacaan Hari ini:
2 Timotius 1:7–8 "Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban. Jadi janganlah malu bersaksi tentang Tuhan kita dan janganlah malu karena aku, seorang hukuman karena Dia, melainkan ikutlah menderita bagi Injil-Nya oleh kekuatan Allah."
--------------
Anda dapat membagikan iman dengan penuh keyakinan ketika Anda menyadari bahwa Anda tidak harus mengetahui semua jawabannya. Mengapa? Karena Yesuslah yang mengetahui segalanya.

Ada satu hal penting yang perlu selalu Anda ingat: ketika Anda membagikan pengharapan yang Anda miliki di dalam Kristus kepada orang lain, Anda tidak melakukannya sendirian. Allah menyertai Anda dan pada saat yang sama Roh-Nya sedang bekerja di dalam hati orang yang Anda ajak berbicara.

Alkitab menyatakan: "Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban. Jadi janganlah malu bersaksi tentang Tuhan kita dan @ hukuman karena Dia, melainkan ikutlah menderita bagi Injil-Nya oleh kekuatan Allah." (2 Timotius 1:7–8).

Ketika Anda menyadari bahwa kuasa Roh Kudus dan kebenaran Allah tinggal di dalam diri Anda, tidak ada lagi alasan untuk takut menceritakan Yesus kepada orang lain. Kesadaran ini seharusnya memberi Anda kepercayaan diri yang besar.

Lukas 21:13–15 juga memberikan penguatan bagi Anda dalam membagikan iman: "Hal itu akan menjadi kesempatan bagimu untuk bersaksi. Sebab itu tetapkanlah di dalam hatimu, supaya kamu jangan memikirkan lebih dahulu pembelaanmu. Sebab Aku sendiri akan memberikan kepadamu kata-kata hikmat, sehingga kamu tidak dapat ditentang atau dibantah lawan-lawanmu."

Rasa takut ketika membagikan iman adalah hal yang wajar. Anda mungkin berpikir, "Saya tidak tahu harus mengatakan apa kepada rekan kerja, tetangga atau orang-orang di sekitar saya." Namun pada dasarnya Allah berkata kepada Anda, "Aku akan memberitahukan kepadamu apa yang harus engkau katakan pada saat engkau membutuhkannya."

Renungkan :

- Ceritakan pengalaman ketika Anda merasakan kuasa Allah bekerja di dalam diri Anda saat membagikan kasih Allah kepada seseorang.

- Siapa dalam hidup Anda yang Anda teladani sebagai pribadi yang tidak takut membagikan imannya?

- Bagaimana kehidupan Anda minggu ini akan berbeda jika Anda terus menyadari kehadiran Roh Kudus dalam hidup Anda setiap hari?

Bacaan Alkitab Setahun :
Imamat 1-3; Matius 24:1-28
____________
Betapa luar biasanya janji ini. Mungkin Anda merasa belum siap atau belum cukup mampu untuk memberitakan Injil. Namun kenyataannya, Anda telah memiliki segala yang Anda perlukan—karena kehadiran Allah dan kuasa-Nya tinggal di dalam diri Anda.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
==========
God Will Give You the Words to Say - Daily Hope with Rick Warren - February 8, 2026

"The Holy Spirit, God's gift, does not want you to be afraid of people, but to be wise and strong, and to love them and enjoy being with them. If you will stir up this inner power, you will never be afraid to tell others about our Lord." 2 Timothy 1:7-8 (TLB)
------------------
You can be confident in sharing your faith when you remember you don't have to know all the answers. Why? Because Jesus does!

Here's something else you need to remember: When you share the hope you have in Christ with others, you're not doing it alone. God is with you! And his Spirit is working in the other person's heart as you're sharing with them.

The Bible says, "The Holy Spirit, God's gift, does not want you to be afraid of people, but to be wise and strong, and to love them and enjoy being with them. If you will stir up this inner power, you will never be afraid to tell others about our Lord" (2 Timothy 1:7-8 TLB).

When you realize the Holy Spirit's power and God's truth are in you, you never have to be afraid to tell others about Jesus. That should give you a lot of confidence!

Luke 21:13-15 also gives encouragement for sharing your faith: "This will be your chance to tell about your faith. Don't worry about what you will say to defend yourselves. I will give you the wisdom to know what to say" (CEV).

It's common to be fearful about sharing your faith with someone. You might think, "I don't know what to say to that person at the office, on the soccer field, or in my neighborhood." But God essentially says to you, "I will tell you what to say when you need it."

What an amazing promise! You may not feel ready or equipped to share the gospel, but the truth is, you have everything you need because of God's presence and power in you.


Allah Akan Memberikan Kata-Kata yang Perlu Anda Ucapkan

08 Februari 2026

Bacaan Hari ini:
2 Timotius 1:7–8 "Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban. Jadi janganlah malu bersaksi tentang Tuhan kita dan janganlah malu karena aku, seorang hukuman karena Dia, melainkan ikutlah menderita bagi Injil-Nya oleh kekuatan Allah."
--------------
Anda dapat membagikan iman dengan penuh keyakinan ketika Anda menyadari bahwa Anda tidak harus mengetahui semua jawabannya. Mengapa? Karena Yesuslah yang mengetahui segalanya.

Ada satu hal penting yang perlu selalu Anda ingat: ketika Anda membagikan pengharapan yang Anda miliki di dalam Kristus kepada orang lain, Anda tidak melakukannya sendirian. Allah menyertai Anda dan pada saat yang sama Roh-Nya sedang bekerja di dalam hati orang yang Anda ajak berbicara.

Alkitab menyatakan: "Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban. Jadi janganlah malu bersaksi tentang Tuhan kita dan @ hukuman karena Dia, melainkan ikutlah menderita bagi Injil-Nya oleh kekuatan Allah." (2 Timotius 1:7–8).

Ketika Anda menyadari bahwa kuasa Roh Kudus dan kebenaran Allah tinggal di dalam diri Anda, tidak ada lagi alasan untuk takut menceritakan Yesus kepada orang lain. Kesadaran ini seharusnya memberi Anda kepercayaan diri yang besar.

Lukas 21:13–15 juga memberikan penguatan bagi Anda dalam membagikan iman: "Hal itu akan menjadi kesempatan bagimu untuk bersaksi. Sebab itu tetapkanlah di dalam hatimu, supaya kamu jangan memikirkan lebih dahulu pembelaanmu. Sebab Aku sendiri akan memberikan kepadamu kata-kata hikmat, sehingga kamu tidak dapat ditentang atau dibantah lawan-lawanmu."

Rasa takut ketika membagikan iman adalah hal yang wajar. Anda mungkin berpikir, "Saya tidak tahu harus mengatakan apa kepada rekan kerja, tetangga atau orang-orang di sekitar saya." Namun pada dasarnya Allah berkata kepada Anda, "Aku akan memberitahukan kepadamu apa yang harus engkau katakan pada saat engkau membutuhkannya."

Renungkan :

- Ceritakan pengalaman ketika Anda merasakan kuasa Allah bekerja di dalam diri Anda saat membagikan kasih Allah kepada seseorang.

- Siapa dalam hidup Anda yang Anda teladani sebagai pribadi yang tidak takut membagikan imannya?

- Bagaimana kehidupan Anda minggu ini akan berbeda jika Anda terus menyadari kehadiran Roh Kudus dalam hidup Anda setiap hari?

Bacaan Alkitab Setahun :
Imamat 1-3; Matius 24:1-28
____________
Betapa luar biasanya janji ini. Mungkin Anda merasa belum siap atau belum cukup mampu untuk memberitakan Injil. Namun kenyataannya, Anda telah memiliki segala yang Anda perlukan—karena kehadiran Allah dan kuasa-Nya tinggal di dalam diri Anda.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
============
God Will Give You the Words to Say - Daily Hope with Rick Warren - February 8, 2026

"The Holy Spirit, God's gift, does not want you to be afraid of people, but to be wise and strong, and to love them and enjoy being with them. If you will stir up this inner power, you will never be afraid to tell others about our Lord." 2 Timothy 1:7-8 (TLB)
---------------------
You can be confident in sharing your faith when you remember you don't have to know all the answers. Why? Because Jesus does!

Here's something else you need to remember: When you share the hope you have in Christ with others, you're not doing it alone. God is with you! And his Spirit is working in the other person's heart as you're sharing with them.

The Bible says, "The Holy Spirit, God's gift, does not want you to be afraid of people, but to be wise and strong, and to love them and enjoy being with them. If you will stir up this inner power, you will never be afraid to tell others about our Lord" (2 Timothy 1:7-8 TLB).

When you realize the Holy Spirit's power and God's truth are in you, you never have to be afraid to tell others about Jesus. That should give you a lot of confidence!

Luke 21:13-15 also gives encouragement for sharing your faith: "This will be your chance to tell about your faith. Don't worry about what you will say to defend yourselves. I will give you the wisdom to know what to say" (CEV).

It's common to be fearful about sharing your faith with someone. You might think, "I don't know what to say to that person at the office, on the soccer field, or in my neighborhood." But God essentially says to you, "I will tell you what to say when you need it."

What an amazing promise! You may not feel ready or equipped to share the gospel, but the truth is, you have everything you need because of God's presence and power in you.


Jumat, 06 Februari 2026

Perkataan Pertama dan Terakhir Yesus

07 Februari 2026

Bacaan Hari ini:
Matius 28:18–19 "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus"
------------------
Satu hal dinyatakan dengan sangat jelas dalam Alkitab : Allah menghendaki Anda menyampaikan Kabar Baik tentang keselamatan melalui Yesus Kristus kepada orang lain. Bahkan, sebagian dari perkataan pertama dan terakhir Yesus yang dicatat dalam Alkitab secara langsung berkaitan dengan panggilan untuk membagikan pengharapan di dalam Dia.

Pada awal pelayanan-Nya, Yesus mengumpulkan sekelompok kecil nelayan—orang-orang biasa—dan berkata kepada mereka: "Mari, ikutlah Aku, dan Aku akan menjadikan kamu penjala manusia" (Matius 4:19). Ini adalah beberapa dari perkataan pertama yang Yesus ucapkan kepada para pengikut-Nya.

Perhatikan logika Yesus dalam perkataan ini. Ketika Anda mengikuti Dia, Ia mengajar Anda untuk peduli terhadap orang lain—khususnya agar mereka juga dapat mengenal-Nya. Mengikut Yesus bukan hanya tentang hubungan pribadi dengan Allah, tetapi juga tentang membawa orang lain masuk ke dalam keluarga Allah. Itulah bagian dari makna sejati menjadi anggota keluarga-Nya.

Kemudian, menjelang akhir pelayanan-Nya di dunia, Yesus kembali menegaskan hal yang sama. Dalam bagian Alkitab yang dikenal sebagai Amanat Agung, Yesus berkata:"Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus" (Matius 28:18–19). Ini adalah beberapa dari perkataan terakhir Yesus sebelum Ia kembali ke surga.

Mengapa Yesus memiliki segala kuasa di surga dan di bumi? Karena Dialah Pencipta alam semesta. Oleh sebab itu, Ia memiliki otoritas penuh atas segala sesuatu. Dan dengan otoritas itu, Yesus mengutus Anda untuk pergi dan menjadikan orang lain murid-Nya. Dengan kata lain, Anda diutus sebagai wakil Allah—sebagai agen-Nya—untuk melanjutkan misi-Nya di dunia ini.

Sekarang, renungkanlah pertanyaan ini dengan sungguh-sungguh:
Apakah akan ada seseorang di surga kelak karena kesaksian Anda? Pernahkah Anda menuntun seseorang untuk percaya kepada Kristus?

Renungkan :

- Siapa orang pertama yang memberitakan Yesus kepada Anda?

- Fakta bahwa perkataan pertama dan terakhir Yesus berfokus pada membawa orang kepada-Nya menunjukkan apa tentang kerinduan Allah untuk menumbuhkan keluarga-Nya?

- Kepada siapa Anda dapat membagikan pengharapan yang Anda miliki di dalam Yesus minggu ini?

Bacaan Alkitab Setahun :
Keluaran 39-40; Matius 23:23-39
____________
Jika Anda mengikuti perkataan pertama dan terakhir Yesus, suatu hari nanti akan ada orang yang berkata kepada Anda di surga: "Terima kasih. Hari ini saya ada di surga karena Anda."

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
==========
Jesus' First and Last Words - Daily Hope with Rick Warren - February 07, 2026

"All authority in heaven and on earth has been given to me. Therefore go and make disciples of all nations." Matthew 28:18-19 (NIV)
--------------------
One thing is made very clear in Scripture: God wants you to tell people the Good News of salvation through Jesus Christ. In fact, some of the first and last recorded words of Jesus were about sharing the hope you have in him.

In Matthew 4:19, at the beginning of his ministry, Jesus gathered a small group of fishermen—just ordinary people—and said, "Follow me, and I will show you how to fish for people!" (NLT) These were some of the very first words Jesus spoke to his followers.

Do you see Jesus' logic in that verse? When we follow him, he teaches us to care about helping others come to know him too. That's part of what it looks like to belong to God's family, bringing other people into his family with you.

Later in the book of Matthew, Jesus talked again about reaching others with the Good News. This passage is called the Great Commission. Jesus said, "All authority in heaven and on earth has been given to me. Therefore go and make disciples of all nations" (Matthew 28:18-19 NIV). These were some of the very last words of Jesus before he went back to heaven.

Why does Jesus have "all authority in heaven and on earth"? Because he created the universe, so he's been given all authority over it. Jesus authorizes you to go make disciples. This means you are God's agent!

Is anyone going to be in heaven because of you? Have you ever led anybody to faith in Christ? Follow the first and last words of Jesus, and people will one day say to you in heaven, "Thank you! I'm in heaven today because of you."


Kamis, 05 Februari 2026

Mengapa Anda Perlu Memberitakan Yesus kepada Orang Lain

06 Februari 2026

Bacaan Hari ini:
Matius 4:19 "Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia"
--------------
Allah telah memanggil Anda untuk menjadi saksi-Nya di dunia ini. Sebagai anak Allah, Anda dipanggil bukan hanya untuk percaya kepada Yesus, tetapi juga untuk membagikan pengharapan yang Anda miliki di dalam Dia kepada orang lain.

Namun dalam kenyataannya, banyak orang Kristen memilih untuk diam. Saya sering menyebut mereka sebagai "orang Kristen sungai Artik"—airnya mengalir, tetapi mulutnya membeku. Mereka menahan diri dan tidak pernah berbicara tentang Yesus. Padahal Yesus dengan jelas menyatakan bahwa mengikut Dia berarti terlibat dalam misi-Nya.

Alkitab berkata: "Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia" (Matius 4:19).

Lalu, mengapa Allah begitu menekankan agar Anda membagikan pengharapan Anda kepada orang lain? Berikut beberapa alasannya.

1. Setiap orang membutuhkan Yesus

Kabar Baik tentang Yesus jauh lebih berharga daripada apa pun yang dapat ditawarkan dunia ini. Bahkan, nilainya melampaui kesembuhan dari penyakit apa pun, termasuk kanker atau Alzheimer. Ketika Anda mengarahkan seseorang kepada Yesus, Anda menawarkan hidup yang kekal—pengampunan atas masa lalu, tujuan hidup yang sejati, dan rumah kekal di surga. Tidak ada satu pun manusia yang tidak membutuhkan hal ini.

2. Yesus sendiri memerintahkannya

Yesus dengan tegas memberikan Amanat Agung: "Pergilah dan jadikanlah semua bangsa murid-Ku" (Matius 28:19). Namun sering kali, Anda mungkin lebih memikirkan apa kata orang lain daripada apa yang Allah kehendaki. Kekhawatiran akan penilaian orang bisa membuat Anda diam. Meski demikian, perintah Yesus tetap berlaku—Ia memanggil Anda untuk berbagi pengharapan, bukan untuk menjaga kenyamanan pribadi.

3. Kasih kepada Allah dan sesama mendorong Anda

Alkitab menyatakan: "Kasih Kristus yang menguasai kami" (2 Korintus 5:14). Motivasi sejati untuk memberitakan Injil bukanlah kewajiban semata, melainkan kasih. Ketika Anda sungguh mengasihi Yesus dan mengasihi sesama, Anda tidak akan bisa tinggal diam. Kasih Kristus mendorong Anda untuk membagikan pengharapan yang telah mengubah hidup Anda.

4. Ada upah kekal yang Allah sediakan

Amsal 11:30 berkata: "Hasil orang benar adalah pohon kehidupan, dan siapa bijak, mengambil hati orang". Jika Anda rindu hidup yang berbuah dan bermakna, bawalah orang kepada Yesus. Jika Anda ingin meninggalkan warisan yang kekal, pastikan orang-orang yang Anda kenal memilikimu kesempatan untuk berada bersama Anda di surga kelak.

Sekarang, luangkan waktu sejenak. Pikirkan satu orang dalam hidup Anda yang belum mengenal Yesus. Lalu berdoalah dengan tulus:
"Allah, saya rindu mendapat kehormatan untuk membawa orang ini masuk ke dalam keluarga-Mu. Saya ingin mereka bersama saya dalam kekekalan. Tolonglah saya agar tidak lagi menahan diri."

Setelah itu, ambillah langkah iman. Pergilah dan ceritakan kepada mereka tentang Yesus.

Renungkan :

- Dalam situasi apa Anda pernah memilih diam dan tidak membagikan Yesus kepada seseorang yang belum mengenal-Nya?

- Apa ketakutan atau hambatan utama yang selama ini menahan Anda untuk memberitakan Kabar Baik?

- Bagaimana kasih Anda kepada Kristus dan sesama dapat mendorong Anda untuk lebih berani membagikan pengharapan di dalam Yesus?

Bacaan Alkitab Setahun :
Keluaran 36-38; Matius 23:1-22
_____________
Jika seseorang tidak menjala, maka sesungguhnya ia tidak sedang mengikuti Yesus.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
=========
Why Tell People About Jesus - Daily Hope with Rick Warren - February 06, 2026

"Come, follow me, and I will show you how to fish for people!" Matthew 4:19 (NLT)
-------------------
God has called you to be a witness for him in the world. He expects you to tell others about the hope you have in Jesus.

But many people are what I call "arctic river Christians." They're frozen at the mouth. They hold back or don't say anything about Jesus. But Jesus says, "If you're not fishing, then you're not following me."

The Bible says, "Come, follow me, and I will show you how to fish for people!" (Matthew 4:19 NLT)

Why does God want you to share your hope? Here are a few reasons.

Everybody needs Jesus. The Good News of Jesus is better than anything this world could offer. It's better than the cure for cancer, Alzheimer's, or any other sickness. When you point people to Jesus, you offer them eternal life. You show them how to have their past forgiven, a purpose for living, and a home in heaven. Everybody needs that!

Jesus commands it. Jesus' Great Commission is clear: "Go and make disciples of all the nations" (Matthew 28:19 NLT). But, if you're like most people, sometimes you care more about what others think than what God thinks. You're more worried about your reputation than the salvation of others. But Jesus commands you to share your hope despite your worries.

You love God and people. The Bible says, "Christ's love compels us, because we are convinced that [he] died for all" (2 Corinthians 5:14 NIV). People often ask me, "What motivates you year after year to keep sharing the gospel around the world?" I tell them, "It's because I love Jesus Christ with all my heart, and I love people." Christ's love compels me to tell others about the hope I have in him.

You will be rewarded in heaven. Proverbs 11:30 says, "The fruit of the righteous is a tree of life, and he who wins souls is wise" (NKJV). Do you want to bear fruit and be wise? Bring people to Jesus. Do you want to leave a legacy? Make sure the people you know will be with you in heaven one day.

Right now, think of one person in your life who doesn't know Jesus yet. Pray, "God, I want the privilege of bringing this person into your family. I want them to be in heaven with me. Please help me not to hold back anymore."

Now, go tell them about Jesus!