Kamis, 03 April 2025

Bagaimana Anda Menanggapi Kasih Karunia Allah?

04 April 2025

Bacaan Hari ini:
Roma 3:22 "Yaitu kebenaran Allah karena iman dalam Yesus Kristus bagi semua orang yang percaya. Sebab tidak ada perbedaan."
--------------
Keselamatan adalah karunia cuma-cuma dari Allah. Dosa Anda dapat diampuni dan sekaligus mendapatkan tiket ke surga. Akan tetapi, meskipun keselamatan dari Allah diberikan secara gratis, tetapi itu mahal harganya— karena seseorang harus menebusnya. Yesus telah disalibkan dan telah menebus dosa-dosa Anda agar Anda diampuni.

Seandainya ada cara lain untuk sampai ke surga, bukankah seharusnya Allah sudah menggunakannya? Seandainya ada cara lain bagi Allah yang kudus membolehkan seseorang yang tidak sempurna masuk ke tempat yang sempurna, bukankah seharusnya Allah sudah melakukannya ketimbang harus mengorbankan Putra-Nya sendiri?

Banyak orang mengklaim bahwa Anda bisa masuk surga dengan menjadi orang baik atau dengan percaya bahwa Tuhan itu ada. Akan tetapi, apabila itu benar, mengapa Yesus harus mati? Dia tidak akan memberikan diri-Nya melewati penderitaan maut itu seandainya itu tidak penting.

Kebenaran yang sejati ialah bahwa setiap manusia penuh dengan dosa. Dan Allah yang sempurna tidak dapat mengizinkan Anda masuk ke dalam rumah-Nya yang sempurna tanpa harga yang sangat mahal yang harus dibayar untuk menebus dosa itu. Itulah sebabnya menjadi orang baik saja tidak cukup. Faktanya, tidak ada seorang manusia pun yang sejatinya baik. Alkitab mengatakan bahwa kita semua telah gagal dalam mengikuti kekudusan Allah. Itulah mengapa Anda membutuhkan Juruselamat!

Alkitab mengatakan, "Yaitu kebenaran Allah karena iman dalam Yesus Kristus bagi semua orang yang percaya. Sebab tidak ada perbedaan" (Roma 3:22). Anda dapat datang kepada Kristus bagaimana pun latar belakang Anda atau apa pun yang telah Anda lakukan. Bukankah itu hal terbaik yang pernah ditawarkan kepada Anda?

Apa yang paling membuat Anda malu? Yesus telah menebusnya. Anda dapat berhenti menyalahkan diri Anda sendiri karena Yesus telah dengan tulus menanggung rasa bersalah Anda itu. Anda tak perlu lagi menebus apa yang telah Dia tebus!

Renungkan hal ini:

- Di masa lalu—atau mungkin bahkan saat ini—bagaimana Anda mengandalkan sesuatu selain Yesus (seperti menjadi "orang baik" atau sekadar percaya bahwa Tuhan itu ada) untuk membawa Anda ke surga?

- Apa perbedaan yang tampak setelah mengetahui bahwa Yesus telah menebus dosa yang paling membuat Anda malu?

- Anda dapat datang kepada Kristus siapa pun Anda atau apa pun yang telah Anda lakukan. Apa arti kebenaran itu buat Anda?

Bacaan Alkitab Setahun :
Hakim-hakim 18-21; Lukas 7:31-50
____________
Berpalinglah dari dosa Anda hari ini, dan percayalah bahwa Yesus telah menebusnya dengan telah menjadi pengganti Anda di kayu salib. Itu sudah selesai! Sebesar itu Yesus mengasihi Anda.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
==========
How Do You Respond to Grace?
By Rick Warren

"God says he will accept and acquit us—declare us 'not guilty'—if we trust Jesus Christ to take away our sins. And we all can be saved in this same way, by coming to Christ, no matter who we are or what we have been like." Romans 3:22 (TLB)
----------------
Salvation is a free gift. You can have all your sins forgiven and get a free ticket to heaven. But, while salvation is free to you, it is also costly—because somebody had to pay for it. When Jesus went to the cross, he paid the price for your sins to be forgiven.

If there were any other way for you to go to heaven, don't you think God would have used it? If there were any other way for a holy God to let an imperfect person into a perfect place, don't you think God would have done it rather than sacrifice his own Son? Of course he would have.

Some people claim you can go to heaven by being a good person or by believing God exists. But if that's true, then why did Jesus have to die? He wouldn't have submitted himself to that kind of agony if it wasn't necessary.

The truth is, everyone is full of sin. And a perfect God couldn't let you into his perfect home without an enormous price being paid for that sin. That's why it's not enough to be a good person. In fact, there is no truly good person. The Bible says that every single one of us falls short of God's holiness. That's why you need a Savior!

The Bible says, "God says he will accept and acquit us—declare us 'not guilty'—if we trust Jesus Christ to take away our sins. And we all can be saved in this same way, by coming to Christ, no matter who we are or what we have been like" (Romans 3:22 TLB). 

You can come to Christ no matter who you are or what you've done. Isn't that the kindest thing that's ever been offered to you?

What are you most ashamed of doing? Jesus paid for it. You can stop beating yourself up—because Jesus allowed himself to be beaten up for it instead. You don't have to pay for something he's already paid for!

Turn from your sin today, and trust that Jesus has already paid for it by being your substitute on the cross. It is finished! That's how much Jesus loves you.


Rabu, 02 April 2025

Masalah Terbesar Anda dan Cara Mengatasinya

03 April 2025

Bacaan Hari ini:
Yesaya 59: 2 "Tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu."
-----------------
Di zaman ini, sebagian besar budaya tidak menganggap dosa itu jelek. Bahkan, banyak orang menganggap dosa itu seru!

Coba tengok media hiburan. Acara TV, meme media sosial, dan film biasanya menggunakan dosa untuk menciptakan dagelan. Inilah strategi Setan: untuk membuat Anda menertawakan hal-hal yang menyebabkan Yesus disalibkan. Setan membungkus dosa agar terlihat menarik. Jarang sekali di sosial media Anda melihat konsekuensi dari dosa.

Jika Anda ingin tahu betapa jeleknya dosa, lihatlah kayu salib. Penderitaan Yesus memperlihatkan kepada Anda seberapa besar pengorbanan-Nya untuk membayar lunas dosa-dosa Anda. Salib menunjukkan kerusakan yang ditimbulkan oleh dosa.

Dosa memiliki berbagai macam konsekuensi dalam hidup Anda! Berikut ini tiga di antaranya:
Dosa memisahkan Anda dari Allah Bapa. Mengapa? Sebab Allah itu kudus, dan Anda tidak. Dosa menciptakan konflik dan membuat sebuah jarak antara Anda dengan Bapa. Yesaya 59: 2 mengatakan, "Tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu." Dosa selalu meninggalkan kerenggangan setelahnya, bahkan antara Anda dengan Allah.

Dosa menyebabkan stres yang sangat besar dalam hidup Anda. Salah satu penyumbang stres terparah ialah rasa bersalah yang tidak disadari dan tidak terselesaikan. Raja Daud bermazmur, "Sebab kesalahanku telah menimpa kepalaku; semuanya seperti beban berat yang menjadi terlalu berat bagiku" (Mazmur 38: 4).

Memendam dosa dapat merusak emosi Anda. Ketika Anda melanggar hukum Allah, maka itu akan memimpin Anda pada kekhawatiran, ketakutan, rasa bersalah, dan ketidakamanan. Anda tidak akan mengalami ini apabila Anda selalu melakukan hal-hal dengan cara Allah. Namun, realitanya itu mustahil dilakukan, kita tidak akan bisa. Inilah realitas dosa.

Dosa menghukum Anda. Ketika Anda melanggar hukum Allah, maka akan selalu ada hukuman — penghukuman dari diri sendiri dan dari Allah yang maha adil. Mazmur 7:11 mengatakan, "Allah adalah Hakim yang adil dan Allah yang murka setiap saat."

Anda mungkin mengira masalah terbesar Anda ialah konflik dengan orang lain, masalah kesehatan, atau sulitnya mencari pekerjaan. Tetapi pada kenyataannya, masalah terbesar Anda ialah ketika Anda berperang dengan Allah.

Itulah mengapa Anda begitu frustasi! Itulah mengapa Anda tidak bisa tidur nyenyak. Itulah mengapa Anda stres. Anda tidak diciptakan untuk berperang dengan Pencipta Anda, yang begitu mencintai Anda. Dia menciptakan Anda, dan Dia telah mengutus Putra-Nya untuk mati bagi Anda. Dia ingin Anda hidup selaras dengan-Nya.

Renungkan hal ini:

- Ketika Anda mendapati diri Anda menertawakan dosa, kebohongan apa yang sedang Anda ucapkan pada diri Anda sendiri?

- Bagaimana Anda menganggap ringan dosa lewat acara TV, film, buku, dan media sosial yang Anda konsumsi?

- Bagaimana dengan memahami betapa berbahayanya dosa memengaruhi cara Anda memandang dan memahami kasih karunia Allah?

Bacaan Alkitab Setahun :
Hakim-hakim 14-17; Lukas 7:1-30
___________
Bertobatlah dari dosa Anda hari ini — dan setiap harinya — agar Anda bisa hidup damai dengan Allah.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
==========
Your Biggest Problem and What to Do about It
By Rick Warren

"It is your evil that has separated you from your God. Your sins cause him to turn away from you, so he does not hear you." Isaiah 59:2 (NCV)
-------------------
Today, most cultures don't think sin is ugly. In fact, many people think sin is fun!

Think about entertainment media. TV shows, social media memes, and movies often use sin for humor. This is Satan's strategy: to get you to laugh at the same things that put Jesus on the cross. Satan disguises sin to make it look attractive. Rarely in media do you see sin's consequences.

If you want to know how ugly sin really is, look at the cross. Jesus' suffering shows how much it takes to pay for your sins.

Sin has all sorts of consequences in your life! Here are three of them:

Sin alienates you from God. Why? Because God is holy, and you are not. Isaiah 59:2 says, "It is your evil that has separated you from your God. Your sins cause him to turn away from you, so he does not hear you" (NCV). Sin always leaves estrangement in its wake, even between you and God.

Sin creates significant stress in your life. One of the greatest sources of stress is unrecognized and unresolved guilt. King David said, "My guilt has overwhelmed me like a burden too heavy to bear" (Psalm 38:4 NIV). Holding on to sin takes an emotional toll. Breaking God's laws leads to worry, fear, guilt, and insecurity.

Sin condemns you. When you violate God's laws, there's always a penalty—in both self-condemnation and judgment from a righteous God. Psalm 7:11 says, "God is a righteous judge and always condemns the wicked" (GNT).

You may think your biggest problem is a relationship conflict, health issue, or trouble finding a job. But the reality is, your biggest problem is that you're at war with God.

That's why you often get so frustrated! That's why you sometimes struggle to sleep at night. That's why you're stressed out. You weren't made to live out of harmony with your Creator, who loves you. He made you, and he sent his Son to die for you. He wants you to be in harmony with him.

Repent of your sin today—and every day—so that you can be at peace with God.


_The Last Supper_: Menyelami Makna Pengkhianatan*


*_The Last Supper_: Menyelami Makna Pengkhianatan*

Oleh: Sigit B. Darmawan
31/03/2025

*I.*
Apa yang bisa kita bayangkan di malam yang hening, tiga belas orang duduk di sebuah ruangan dengan membawa beban masing-masing? Mereka tidak hanya berbagi roti dan anggur, tetapi juga kecemasan, pengkhianatan, janji, dan pengajaran yang tak sepenuhnya mereka pahami. 

_The Last Supper_ (2025) coba menangkap kembali salah satu peristiwa paling monumental dalam sejarah Kekristenan. Disutradarai oleh Mauro Borrelli, film ini membawa suasana yang lebih intim dari Perjamuan Terakhir Yesus bersama para murid-Nya.

Jamie Ward yang berperan sebagai Yesus, tenang menyembunyikan kesedihannya. Robert Knepper, yang memerankan Yudas, menjadi pusat perhatian dengan penggambaran karakternya. Ia tidak sekadar sebagai pengkhianat, tetapi sebagai manusia yang bergulat dengan keputusan-keputusan besar. Sementara itu, James Oliver Wheatley sebagai Petrus hadir dengan keteguhan sekaligus kerapuhan. 

_The Last Supper_ bukan sekadar kisah pengkhianatan dan kesetiaan, tetapi juga tentang konflik batin dan ketegangan psikologis di antara para murid. Film ini sangat minimalis—tanpa musik dan efek dramatis yang berlebihan. Tetapi, kesunyian yang mengiringi dialog Perjamuan Terakhir menciptakan suasana yang menggetarkan.

Kisah _The Last Supper_ telah banyak diteliti dan ditulis ulang dalam berbagai buku dan kajian teologis. Leonardo da Vinci dengan lukisannya _The Last Supper_ (1498) menjadi referensi visual dalam memahami bagaimana peristiwa Perjamuan Terakhir ini. 

Salah satu referensi klasik yang membahas momen Perjamuan Terakhir adalah buku _The Last Supper: A Meditation_ karya Francesco Albertini, seorang penulis dan pastor katolik, di abad ke-16. 

Karyanya menelaah makna teologis dan simbolis dari momen Yesus membagi roti dan anggur. Albertini memaknainya sebagai simbol penyerahan diri, kasih tanpa syarat, dan panggilan untuk hidup dalam pengampunan dan pengorbanan. 

Karya lainnya, _The Betrayal of Christ_ (2015) dari Peter Stanford, jurnalis Inggris, berfokus kepada figur Yudas. Stanford menggali kompleksitas karakter Yudas, dan bagaimana pengkhianatannya ditafsirkan dalam konteks historis dan teologis di sepanjang sejarah gereja. 

Dalam bukunya "_Leonardo and The Last Supper"_(2011), Ross King, penulis sejarah seni dari Kanada,  mengungkapkan bahwa peristiwa _The Last Supper_ adalah cerminan pergolakan batin manusia—dari keimanan, keraguan, hingga pengkhianatan. 

Dengan berbagai rujukan ini, film _The Last Supper_ (2025) membawa kita pada satu pemahaman bahwa narasi tentang Perjamuan Terakhir adalah sebuah kisah yang selalu hidup dan terus diinterpretasikan kembali.

*II.*
Yudas bukan satu-satunya murid yang melakukan kesalahan. Petrus, murid yang paling vokal membela Yesus, juga melakukan pengkhianatan. Ia telah menyangkal-Nya tiga kali sebelum ayam berkokok. Namun, ada perbedaan mendasar dalam bagaimana keduanya merespons kesalahan mereka.

Yudas memilih putus asa dan mengakhiri hidupnya. Setelah menyadari pengkhianatannya, ia mengembalikan 30 keping perak dan merasa tidak mampu menghadapi dunia.

Petrus, di sisi lain, memilih bertobat dan bangkit kembali. Ia menangis dalam penyesalan, tetapi akhirnya menjadi salah satu pemimpin utama dalam gereja mula-mula.

Dua respons ini mencerminkan bagaimana manusia menghadapi kesalahan dan kegagalan dalam kehidupan. Ada yang menyerah pada rasa bersalah, dan ada yang memilih untuk belajar darinya dan melanjutkan hidup.

Dalam kehidupan sehari-hari, berapa banyak orang yang terjebak dalam rasa bersalah tanpa menemukan jalan keluar? Dan berapa banyak yang memilih untuk menjadikan kesalahan sebagai titik balik untuk bangkit?

*III.*
Di dunia modern, pengkhianatan dan kesetiaan masih menjadi isu yang relevan. Kisah Yudas tidak sekadar tentang seorang murid yang menjual gurunya demi 30 keping perak. Ini adalah kisah tentang bagaimana kepercayaan dihadapkan pada tekanan. Bagaimana pilihan moral sering kali datang dengan konsekuensi yang berat.

Kisah pengkhianatan adalah realitas yang harus dihadapi manusia. Dari meja makan di Yerusalem dua ribu tahun lalu, hingga menyusup ke berbagai aspek kehidupan --- dari politik, bisnis, hingga persahabatan. 

Namun, di balik kisah pengkhianatan selalu ada kisah pengampunan. Yesus, meskipun tahu bahwa Dia akan dikhianati, tetap membasuh kaki para murid-Nya, termasuk Yudas. 

Ini adalah pengingat bahwa dalam kehidupan sehari-hari, kita juga dihadapkan pada pilihan: apakah kita akan membalas pengkhianatan dengan kebencian, atau kita mampu memaafkan dan melihat gambaran yang lebih besar?

_The Last Supper_ adalah cerminan dari kehidupan manusia yang penuh dengan dilema moral, konflik batin, dan pilihan-pilihan yang menentukan masa depan. Dari kisah klasik ini, kita belajar tentang kepercayaan, pengkhianatan, dan yang terpenting, tentang pengampunan. 

Di dunia yang individualistis dan penuh tekanan, konsep pengampunan semakin sulit ditemukan. Banyak orang memilih untuk memutus hubungan, menghakimi, atau bahkan membalas dendam ketika mengalami pengkhianatan.

Di era digital, kita sering melihat bagaimana seseorang yang melakukan kesalahan, seketika dihukum oleh publik di media sosial. Dalam sekejab, reputasi seseorang hancur karena satu kesalahan. Tidak ada ruang refleksi atau kesempatan kedua. Seakan-akan dunia modern telah kehilangan elemen _grace_ yang diajarkan di Perjamuan Terakhir. 

Namun, beberapa kisah nyata menunjukkan bahwa pengampunan masih mungkin, bahkan dalam situasi yang paling sulit. Salah satunya Nelson Mandela. 

Setelah 27 tahun dipenjara, Mandela tidak memilih untuk membalas dendam terhadap rezim _apartheid_ di Afrika Selatan. Sebaliknya, ia memimpin gerakan rekonsiliasi nasional, membuktikan bahwa pengampunan dapat menjadi kekuatan yang lebih besar daripada kebencian.

Banyak orang pernah dikhianati oleh pasangan, sahabat, atau rekan kerja. Namun, sebagian dari mereka mampu berdamai dengan keadaan, bukan karena melupakan, tetapi karena memilih untuk tidak membiarkan luka itu mendikte masa depan mereka.

*IV.*
Lalu apa yang bisa kita pelajari dari "_The Last Supper"_?. _Pertama, Setiap orang bisa melakukan kesalahan_. Yudas dan Petrus sama-sama melakukan kesalahan, tetapi respons mereka menentukan nasib mereka. 

_Kedua, Pengampunan bukan berarti melupakan, tetapi melepaskan beban_. Yesus memilih untuk tetap mengundang Yudas ke meja makan-Nya. Ia mengajarkan bahwa kebencian hanya akan mengikat kita dalam penderitaan, sementara kasih dan pengampunan membebaskan. 

_Ketiga, Kita semua memiliki kesempatan kedua_. Dunia modern kita sering kali terlalu cepat menghakimi dan menghukum. Jika kita ingin dunia yang lebih baik, kita harus belajar memberi ruang untuk pertobatan dan perubahan.

Pada akhirnya, _The Last Supper_ bukan hanya film religi yang menceritakan kembali kisah lama. Ia adalah pengingat bahwa setiap manusia akan menghadapi pengkhianatan, baik sebagai pelaku maupun korban. 

Namun, kisah ini juga menunjukkan bahwa dalam setiap pengkhianatan, ada kesempatan untuk bertobat, memaafkan, dan melanjutkan hidup dengan pemahaman yang lebih dalam.

Di dunia yang penuh konflik dan kebencian ini, kita bisa memilih: menjadi seperti Yudas yang terjebak dalam keputusasaan, atau seperti Petrus yang bangkit dan menggunakan kesalahannya sebagai batu loncatan menuju kehidupan yang lebih baik.

Maka, jika ada satu hal yang bisa kita ambil dari film ini, itu adalah pesan sederhana tetapi mendalam: "pengkhianatan mungkin tak terhindarkan, tetapi pengampunan selalu menjadi pilihan". *( www.sigitdarmawan.com )*

Selasa, 01 April 2025

Hanya Yesus yang dapat Menebus Dosa

02 April 2025

Bacaan Hari ini:
Habakuk 1:13 "Mata-Mu terlalu suci untuk melihat kejahatan dan Engkau tidak dapat memandang kelaliman."
------------------
Dalam mitologi Yunani dan Romawi, semua dewa — seperti Zeus, Jupiter, dan Apollo — memiliki kelemahan layaknya manusia. Mereka marah. Mereka punya hawa nafsu. Mereka tak sabar. Mereka menyambar orang dengan petir. Mereka tidak konsisten dan tidak bisa diandalkan.

Tetapi Allah yang sejati, Allah yang menciptakan alam semesta ini, adalah 100 persen murni, adil, dan tidak tercemar. Dia tidak pernah melakukan kesalahan, kotor, atau tidak sempurna. Dia kudus. Habakuk 1:13 mengatakan, "Mata-Mu terlalu suci untuk melihat kejahatan dan Engkau tidak dapat memandang kelaliman."

Karena Allah itu sempurna, maka Anda bisa percaya pada-Nya. Akan tetapi, kesempurnaan-Nya itu berarti Dia tidak dapat menoleransi dosa. Karena itulah, di atas kayu salib, Dia menanggung setiap dosa dunia dan mencurahkan hukuman atas dosa dunia kepada Putra-Nya yang sempurna, Yesus Kristus, yang dengan tulus melakukannya untuk kita.

Allah mengutus Yesus untuk menjadi pengganti Anda. Jika seandainya Yesus tidak menggantikan Anda, maka Anda harus menebus dosa Anda sendiri. Allah tidak ingin Anda menanggungnya. Yesuslah yang memikul hukuman Anda. Dia menjunjung keadilan dengan cara mengambil alih hukuman Anda.

Akan tetapi, itu tidak mudah buat Yesus. Ia tersiksa. Tentu Anda tahu betapa bersalahnya Anda karena sebuah dosa, bukan? Jika Anda jadi Yesus, bagaimana rasanya memikul rasa bersalah atas setiap tindakan mengerikan yang dilakukan manusia, setiap dosa manusia yang diperbuat terhadap sesama, setiap dosa yang dilakukan manusia dengan tersembunyi? Tentu saja bagi Yesus itu adalah siksaan mental, fisik, emosional, dan spiritual.

Di atas kayu salib, dengan suara nyaring, Yesus berseru, "Eli, Eli, lama sabakhtani?" Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?" (Matius 27:46). Yesus tidak hanya mengalami penderitaan fisik, tapi juga mengalami siksaan karena terpisahkan dari Bapa-Nya.

Allah yang mahakudus tidak tega, bahkan untuk melihat Putra-Nya sendiri, dikelilingi dengan dosa dunia. Dia mengalihkan pandangan-Nya sebab Yesus itu sempurna. Bisakah Anda bayangkan penderitaan Yesus?

Akan tetapi, Yesus Kristus bersedia memikul rasa sakit itu sebab Dia ingin Anda memiliki jalan untuk bersekutu dengan Allah Bapa yang kudus.

Seseorang harus menanggung hukuman itu, dan Yesus telah melakukannya buat Anda dan saya. Dan, berkat itulah, Anda dapat memiliki kehidupan yang kekal dan sepenuh dan bertujuan di bumi ini.

Renungkan hal ini:

- Mengapa mengasihi Allah berarti menjunjung keadilan?

- Allah telah mengutus Yesus untuk menjadi pengganti Anda—dan Yesus dengan tulus rela membayar harga untuk dosa-dosa Anda. Apa yang bisa Anda pelajari tentang sifat Allah dari pengorbanan Yesus menggantikan hukuman manusia?

- Apa artinya bagi Anda saat ini dengan mengetahui kebenaran bahwa Yesus telah menderita sengsara dan mati untuk Anda di kayu salib?

Bacaan Alkitab Setahun :
Hakim-hakim 13; Lukas 6:27-49
____________
Yesus telah menjadi pengganti Anda sehingga, ketika Allah melihat Anda, Dia tidak memandang dosa Anda. Dia hanya memandang kemuliaan Kristus.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
===========
Somebody Has to Pay for Sin
By Rick Warren

"Your eyes are too pure to look on evil; you cannot tolerate wrongdoing." Habakkuk 1:13 (NIV)
-----------------
In Greek and Roman mythology, all the gods—like Zeus, Jupiter, and Apollo—have human frailties. They get angry. They lust. They're impatient. They zap people with lightning bolts. They are inconsistent and unreliable.

But the real God, the God who created the universe, is 100 percent just and unpolluted. He's never done anything wrong, impure, or imperfect. He's holy. Habakkuk 1:13 says, "Your eyes are too pure to look on evil; you cannot tolerate wrongdoing" (NIV).

Because God is perfect, you can trust him. But his perfection also means that he cannot tolerate sin. So, at the cross, God, the Father, took every sin of the world and poured it all on his perfect Son, Jesus Christ, who volunteered to take it on.

God sent Jesus to be your substitution. If Jesus hadn't been your substitute on the cross, then you would've had to pay for your own sins. But Jesus satisfied the law. He did what justice demands. He accomplished this because he is God himself who lived a perfect life without sin.

But it wasn't easy for Jesus. In fact, it was torture. You know how guilty you feel over one sin? How would you like to carry the guilt of every sin—from the sins done in secret to the public, horrific ones? That would be mental, physical, emotional, and spiritual torture.

On the cross, Jesus cried out, "My God, my God, why have you forsaken me?" (Matthew 27:46 NIV). Jesus was experiencing physical agony—and the torment of being separated from his Father.

A holy God could not stand even to look at his Son, full of the sins of the world. God looked away because he is perfect. Can you imagine what this cost Jesus?

But he was willing to go through that pain because he wanted to provide a way for you to be in fellowship with a holy God.

Somebody had to take the punishment, and Jesus did it for you. Jesus became your substitute so that, when God looks at you, he doesn't see your sin. He sees the righteousness of Jesus Christ.

And because of that, you can experience both eternal life and a full, purposeful life here on earth.