Rabu, 02 April 2025

Masalah Terbesar Anda dan Cara Mengatasinya

03 April 2025

Bacaan Hari ini:
Yesaya 59: 2 "Tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu."
-----------------
Di zaman ini, sebagian besar budaya tidak menganggap dosa itu jelek. Bahkan, banyak orang menganggap dosa itu seru!

Coba tengok media hiburan. Acara TV, meme media sosial, dan film biasanya menggunakan dosa untuk menciptakan dagelan. Inilah strategi Setan: untuk membuat Anda menertawakan hal-hal yang menyebabkan Yesus disalibkan. Setan membungkus dosa agar terlihat menarik. Jarang sekali di sosial media Anda melihat konsekuensi dari dosa.

Jika Anda ingin tahu betapa jeleknya dosa, lihatlah kayu salib. Penderitaan Yesus memperlihatkan kepada Anda seberapa besar pengorbanan-Nya untuk membayar lunas dosa-dosa Anda. Salib menunjukkan kerusakan yang ditimbulkan oleh dosa.

Dosa memiliki berbagai macam konsekuensi dalam hidup Anda! Berikut ini tiga di antaranya:
Dosa memisahkan Anda dari Allah Bapa. Mengapa? Sebab Allah itu kudus, dan Anda tidak. Dosa menciptakan konflik dan membuat sebuah jarak antara Anda dengan Bapa. Yesaya 59: 2 mengatakan, "Tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu." Dosa selalu meninggalkan kerenggangan setelahnya, bahkan antara Anda dengan Allah.

Dosa menyebabkan stres yang sangat besar dalam hidup Anda. Salah satu penyumbang stres terparah ialah rasa bersalah yang tidak disadari dan tidak terselesaikan. Raja Daud bermazmur, "Sebab kesalahanku telah menimpa kepalaku; semuanya seperti beban berat yang menjadi terlalu berat bagiku" (Mazmur 38: 4).

Memendam dosa dapat merusak emosi Anda. Ketika Anda melanggar hukum Allah, maka itu akan memimpin Anda pada kekhawatiran, ketakutan, rasa bersalah, dan ketidakamanan. Anda tidak akan mengalami ini apabila Anda selalu melakukan hal-hal dengan cara Allah. Namun, realitanya itu mustahil dilakukan, kita tidak akan bisa. Inilah realitas dosa.

Dosa menghukum Anda. Ketika Anda melanggar hukum Allah, maka akan selalu ada hukuman — penghukuman dari diri sendiri dan dari Allah yang maha adil. Mazmur 7:11 mengatakan, "Allah adalah Hakim yang adil dan Allah yang murka setiap saat."

Anda mungkin mengira masalah terbesar Anda ialah konflik dengan orang lain, masalah kesehatan, atau sulitnya mencari pekerjaan. Tetapi pada kenyataannya, masalah terbesar Anda ialah ketika Anda berperang dengan Allah.

Itulah mengapa Anda begitu frustasi! Itulah mengapa Anda tidak bisa tidur nyenyak. Itulah mengapa Anda stres. Anda tidak diciptakan untuk berperang dengan Pencipta Anda, yang begitu mencintai Anda. Dia menciptakan Anda, dan Dia telah mengutus Putra-Nya untuk mati bagi Anda. Dia ingin Anda hidup selaras dengan-Nya.

Renungkan hal ini:

- Ketika Anda mendapati diri Anda menertawakan dosa, kebohongan apa yang sedang Anda ucapkan pada diri Anda sendiri?

- Bagaimana Anda menganggap ringan dosa lewat acara TV, film, buku, dan media sosial yang Anda konsumsi?

- Bagaimana dengan memahami betapa berbahayanya dosa memengaruhi cara Anda memandang dan memahami kasih karunia Allah?

Bacaan Alkitab Setahun :
Hakim-hakim 14-17; Lukas 7:1-30
___________
Bertobatlah dari dosa Anda hari ini — dan setiap harinya — agar Anda bisa hidup damai dengan Allah.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
==========
Your Biggest Problem and What to Do about It
By Rick Warren

"It is your evil that has separated you from your God. Your sins cause him to turn away from you, so he does not hear you." Isaiah 59:2 (NCV)
-------------------
Today, most cultures don't think sin is ugly. In fact, many people think sin is fun!

Think about entertainment media. TV shows, social media memes, and movies often use sin for humor. This is Satan's strategy: to get you to laugh at the same things that put Jesus on the cross. Satan disguises sin to make it look attractive. Rarely in media do you see sin's consequences.

If you want to know how ugly sin really is, look at the cross. Jesus' suffering shows how much it takes to pay for your sins.

Sin has all sorts of consequences in your life! Here are three of them:

Sin alienates you from God. Why? Because God is holy, and you are not. Isaiah 59:2 says, "It is your evil that has separated you from your God. Your sins cause him to turn away from you, so he does not hear you" (NCV). Sin always leaves estrangement in its wake, even between you and God.

Sin creates significant stress in your life. One of the greatest sources of stress is unrecognized and unresolved guilt. King David said, "My guilt has overwhelmed me like a burden too heavy to bear" (Psalm 38:4 NIV). Holding on to sin takes an emotional toll. Breaking God's laws leads to worry, fear, guilt, and insecurity.

Sin condemns you. When you violate God's laws, there's always a penalty—in both self-condemnation and judgment from a righteous God. Psalm 7:11 says, "God is a righteous judge and always condemns the wicked" (GNT).

You may think your biggest problem is a relationship conflict, health issue, or trouble finding a job. But the reality is, your biggest problem is that you're at war with God.

That's why you often get so frustrated! That's why you sometimes struggle to sleep at night. That's why you're stressed out. You weren't made to live out of harmony with your Creator, who loves you. He made you, and he sent his Son to die for you. He wants you to be in harmony with him.

Repent of your sin today—and every day—so that you can be at peace with God.


_The Last Supper_: Menyelami Makna Pengkhianatan*


*_The Last Supper_: Menyelami Makna Pengkhianatan*

Oleh: Sigit B. Darmawan
31/03/2025

*I.*
Apa yang bisa kita bayangkan di malam yang hening, tiga belas orang duduk di sebuah ruangan dengan membawa beban masing-masing? Mereka tidak hanya berbagi roti dan anggur, tetapi juga kecemasan, pengkhianatan, janji, dan pengajaran yang tak sepenuhnya mereka pahami. 

_The Last Supper_ (2025) coba menangkap kembali salah satu peristiwa paling monumental dalam sejarah Kekristenan. Disutradarai oleh Mauro Borrelli, film ini membawa suasana yang lebih intim dari Perjamuan Terakhir Yesus bersama para murid-Nya.

Jamie Ward yang berperan sebagai Yesus, tenang menyembunyikan kesedihannya. Robert Knepper, yang memerankan Yudas, menjadi pusat perhatian dengan penggambaran karakternya. Ia tidak sekadar sebagai pengkhianat, tetapi sebagai manusia yang bergulat dengan keputusan-keputusan besar. Sementara itu, James Oliver Wheatley sebagai Petrus hadir dengan keteguhan sekaligus kerapuhan. 

_The Last Supper_ bukan sekadar kisah pengkhianatan dan kesetiaan, tetapi juga tentang konflik batin dan ketegangan psikologis di antara para murid. Film ini sangat minimalis—tanpa musik dan efek dramatis yang berlebihan. Tetapi, kesunyian yang mengiringi dialog Perjamuan Terakhir menciptakan suasana yang menggetarkan.

Kisah _The Last Supper_ telah banyak diteliti dan ditulis ulang dalam berbagai buku dan kajian teologis. Leonardo da Vinci dengan lukisannya _The Last Supper_ (1498) menjadi referensi visual dalam memahami bagaimana peristiwa Perjamuan Terakhir ini. 

Salah satu referensi klasik yang membahas momen Perjamuan Terakhir adalah buku _The Last Supper: A Meditation_ karya Francesco Albertini, seorang penulis dan pastor katolik, di abad ke-16. 

Karyanya menelaah makna teologis dan simbolis dari momen Yesus membagi roti dan anggur. Albertini memaknainya sebagai simbol penyerahan diri, kasih tanpa syarat, dan panggilan untuk hidup dalam pengampunan dan pengorbanan. 

Karya lainnya, _The Betrayal of Christ_ (2015) dari Peter Stanford, jurnalis Inggris, berfokus kepada figur Yudas. Stanford menggali kompleksitas karakter Yudas, dan bagaimana pengkhianatannya ditafsirkan dalam konteks historis dan teologis di sepanjang sejarah gereja. 

Dalam bukunya "_Leonardo and The Last Supper"_(2011), Ross King, penulis sejarah seni dari Kanada,  mengungkapkan bahwa peristiwa _The Last Supper_ adalah cerminan pergolakan batin manusia—dari keimanan, keraguan, hingga pengkhianatan. 

Dengan berbagai rujukan ini, film _The Last Supper_ (2025) membawa kita pada satu pemahaman bahwa narasi tentang Perjamuan Terakhir adalah sebuah kisah yang selalu hidup dan terus diinterpretasikan kembali.

*II.*
Yudas bukan satu-satunya murid yang melakukan kesalahan. Petrus, murid yang paling vokal membela Yesus, juga melakukan pengkhianatan. Ia telah menyangkal-Nya tiga kali sebelum ayam berkokok. Namun, ada perbedaan mendasar dalam bagaimana keduanya merespons kesalahan mereka.

Yudas memilih putus asa dan mengakhiri hidupnya. Setelah menyadari pengkhianatannya, ia mengembalikan 30 keping perak dan merasa tidak mampu menghadapi dunia.

Petrus, di sisi lain, memilih bertobat dan bangkit kembali. Ia menangis dalam penyesalan, tetapi akhirnya menjadi salah satu pemimpin utama dalam gereja mula-mula.

Dua respons ini mencerminkan bagaimana manusia menghadapi kesalahan dan kegagalan dalam kehidupan. Ada yang menyerah pada rasa bersalah, dan ada yang memilih untuk belajar darinya dan melanjutkan hidup.

Dalam kehidupan sehari-hari, berapa banyak orang yang terjebak dalam rasa bersalah tanpa menemukan jalan keluar? Dan berapa banyak yang memilih untuk menjadikan kesalahan sebagai titik balik untuk bangkit?

*III.*
Di dunia modern, pengkhianatan dan kesetiaan masih menjadi isu yang relevan. Kisah Yudas tidak sekadar tentang seorang murid yang menjual gurunya demi 30 keping perak. Ini adalah kisah tentang bagaimana kepercayaan dihadapkan pada tekanan. Bagaimana pilihan moral sering kali datang dengan konsekuensi yang berat.

Kisah pengkhianatan adalah realitas yang harus dihadapi manusia. Dari meja makan di Yerusalem dua ribu tahun lalu, hingga menyusup ke berbagai aspek kehidupan --- dari politik, bisnis, hingga persahabatan. 

Namun, di balik kisah pengkhianatan selalu ada kisah pengampunan. Yesus, meskipun tahu bahwa Dia akan dikhianati, tetap membasuh kaki para murid-Nya, termasuk Yudas. 

Ini adalah pengingat bahwa dalam kehidupan sehari-hari, kita juga dihadapkan pada pilihan: apakah kita akan membalas pengkhianatan dengan kebencian, atau kita mampu memaafkan dan melihat gambaran yang lebih besar?

_The Last Supper_ adalah cerminan dari kehidupan manusia yang penuh dengan dilema moral, konflik batin, dan pilihan-pilihan yang menentukan masa depan. Dari kisah klasik ini, kita belajar tentang kepercayaan, pengkhianatan, dan yang terpenting, tentang pengampunan. 

Di dunia yang individualistis dan penuh tekanan, konsep pengampunan semakin sulit ditemukan. Banyak orang memilih untuk memutus hubungan, menghakimi, atau bahkan membalas dendam ketika mengalami pengkhianatan.

Di era digital, kita sering melihat bagaimana seseorang yang melakukan kesalahan, seketika dihukum oleh publik di media sosial. Dalam sekejab, reputasi seseorang hancur karena satu kesalahan. Tidak ada ruang refleksi atau kesempatan kedua. Seakan-akan dunia modern telah kehilangan elemen _grace_ yang diajarkan di Perjamuan Terakhir. 

Namun, beberapa kisah nyata menunjukkan bahwa pengampunan masih mungkin, bahkan dalam situasi yang paling sulit. Salah satunya Nelson Mandela. 

Setelah 27 tahun dipenjara, Mandela tidak memilih untuk membalas dendam terhadap rezim _apartheid_ di Afrika Selatan. Sebaliknya, ia memimpin gerakan rekonsiliasi nasional, membuktikan bahwa pengampunan dapat menjadi kekuatan yang lebih besar daripada kebencian.

Banyak orang pernah dikhianati oleh pasangan, sahabat, atau rekan kerja. Namun, sebagian dari mereka mampu berdamai dengan keadaan, bukan karena melupakan, tetapi karena memilih untuk tidak membiarkan luka itu mendikte masa depan mereka.

*IV.*
Lalu apa yang bisa kita pelajari dari "_The Last Supper"_?. _Pertama, Setiap orang bisa melakukan kesalahan_. Yudas dan Petrus sama-sama melakukan kesalahan, tetapi respons mereka menentukan nasib mereka. 

_Kedua, Pengampunan bukan berarti melupakan, tetapi melepaskan beban_. Yesus memilih untuk tetap mengundang Yudas ke meja makan-Nya. Ia mengajarkan bahwa kebencian hanya akan mengikat kita dalam penderitaan, sementara kasih dan pengampunan membebaskan. 

_Ketiga, Kita semua memiliki kesempatan kedua_. Dunia modern kita sering kali terlalu cepat menghakimi dan menghukum. Jika kita ingin dunia yang lebih baik, kita harus belajar memberi ruang untuk pertobatan dan perubahan.

Pada akhirnya, _The Last Supper_ bukan hanya film religi yang menceritakan kembali kisah lama. Ia adalah pengingat bahwa setiap manusia akan menghadapi pengkhianatan, baik sebagai pelaku maupun korban. 

Namun, kisah ini juga menunjukkan bahwa dalam setiap pengkhianatan, ada kesempatan untuk bertobat, memaafkan, dan melanjutkan hidup dengan pemahaman yang lebih dalam.

Di dunia yang penuh konflik dan kebencian ini, kita bisa memilih: menjadi seperti Yudas yang terjebak dalam keputusasaan, atau seperti Petrus yang bangkit dan menggunakan kesalahannya sebagai batu loncatan menuju kehidupan yang lebih baik.

Maka, jika ada satu hal yang bisa kita ambil dari film ini, itu adalah pesan sederhana tetapi mendalam: "pengkhianatan mungkin tak terhindarkan, tetapi pengampunan selalu menjadi pilihan". *( www.sigitdarmawan.com )*

Selasa, 01 April 2025

Hanya Yesus yang dapat Menebus Dosa

02 April 2025

Bacaan Hari ini:
Habakuk 1:13 "Mata-Mu terlalu suci untuk melihat kejahatan dan Engkau tidak dapat memandang kelaliman."
------------------
Dalam mitologi Yunani dan Romawi, semua dewa — seperti Zeus, Jupiter, dan Apollo — memiliki kelemahan layaknya manusia. Mereka marah. Mereka punya hawa nafsu. Mereka tak sabar. Mereka menyambar orang dengan petir. Mereka tidak konsisten dan tidak bisa diandalkan.

Tetapi Allah yang sejati, Allah yang menciptakan alam semesta ini, adalah 100 persen murni, adil, dan tidak tercemar. Dia tidak pernah melakukan kesalahan, kotor, atau tidak sempurna. Dia kudus. Habakuk 1:13 mengatakan, "Mata-Mu terlalu suci untuk melihat kejahatan dan Engkau tidak dapat memandang kelaliman."

Karena Allah itu sempurna, maka Anda bisa percaya pada-Nya. Akan tetapi, kesempurnaan-Nya itu berarti Dia tidak dapat menoleransi dosa. Karena itulah, di atas kayu salib, Dia menanggung setiap dosa dunia dan mencurahkan hukuman atas dosa dunia kepada Putra-Nya yang sempurna, Yesus Kristus, yang dengan tulus melakukannya untuk kita.

Allah mengutus Yesus untuk menjadi pengganti Anda. Jika seandainya Yesus tidak menggantikan Anda, maka Anda harus menebus dosa Anda sendiri. Allah tidak ingin Anda menanggungnya. Yesuslah yang memikul hukuman Anda. Dia menjunjung keadilan dengan cara mengambil alih hukuman Anda.

Akan tetapi, itu tidak mudah buat Yesus. Ia tersiksa. Tentu Anda tahu betapa bersalahnya Anda karena sebuah dosa, bukan? Jika Anda jadi Yesus, bagaimana rasanya memikul rasa bersalah atas setiap tindakan mengerikan yang dilakukan manusia, setiap dosa manusia yang diperbuat terhadap sesama, setiap dosa yang dilakukan manusia dengan tersembunyi? Tentu saja bagi Yesus itu adalah siksaan mental, fisik, emosional, dan spiritual.

Di atas kayu salib, dengan suara nyaring, Yesus berseru, "Eli, Eli, lama sabakhtani?" Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?" (Matius 27:46). Yesus tidak hanya mengalami penderitaan fisik, tapi juga mengalami siksaan karena terpisahkan dari Bapa-Nya.

Allah yang mahakudus tidak tega, bahkan untuk melihat Putra-Nya sendiri, dikelilingi dengan dosa dunia. Dia mengalihkan pandangan-Nya sebab Yesus itu sempurna. Bisakah Anda bayangkan penderitaan Yesus?

Akan tetapi, Yesus Kristus bersedia memikul rasa sakit itu sebab Dia ingin Anda memiliki jalan untuk bersekutu dengan Allah Bapa yang kudus.

Seseorang harus menanggung hukuman itu, dan Yesus telah melakukannya buat Anda dan saya. Dan, berkat itulah, Anda dapat memiliki kehidupan yang kekal dan sepenuh dan bertujuan di bumi ini.

Renungkan hal ini:

- Mengapa mengasihi Allah berarti menjunjung keadilan?

- Allah telah mengutus Yesus untuk menjadi pengganti Anda—dan Yesus dengan tulus rela membayar harga untuk dosa-dosa Anda. Apa yang bisa Anda pelajari tentang sifat Allah dari pengorbanan Yesus menggantikan hukuman manusia?

- Apa artinya bagi Anda saat ini dengan mengetahui kebenaran bahwa Yesus telah menderita sengsara dan mati untuk Anda di kayu salib?

Bacaan Alkitab Setahun :
Hakim-hakim 13; Lukas 6:27-49
____________
Yesus telah menjadi pengganti Anda sehingga, ketika Allah melihat Anda, Dia tidak memandang dosa Anda. Dia hanya memandang kemuliaan Kristus.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
===========
Somebody Has to Pay for Sin
By Rick Warren

"Your eyes are too pure to look on evil; you cannot tolerate wrongdoing." Habakkuk 1:13 (NIV)
-----------------
In Greek and Roman mythology, all the gods—like Zeus, Jupiter, and Apollo—have human frailties. They get angry. They lust. They're impatient. They zap people with lightning bolts. They are inconsistent and unreliable.

But the real God, the God who created the universe, is 100 percent just and unpolluted. He's never done anything wrong, impure, or imperfect. He's holy. Habakkuk 1:13 says, "Your eyes are too pure to look on evil; you cannot tolerate wrongdoing" (NIV).

Because God is perfect, you can trust him. But his perfection also means that he cannot tolerate sin. So, at the cross, God, the Father, took every sin of the world and poured it all on his perfect Son, Jesus Christ, who volunteered to take it on.

God sent Jesus to be your substitution. If Jesus hadn't been your substitute on the cross, then you would've had to pay for your own sins. But Jesus satisfied the law. He did what justice demands. He accomplished this because he is God himself who lived a perfect life without sin.

But it wasn't easy for Jesus. In fact, it was torture. You know how guilty you feel over one sin? How would you like to carry the guilt of every sin—from the sins done in secret to the public, horrific ones? That would be mental, physical, emotional, and spiritual torture.

On the cross, Jesus cried out, "My God, my God, why have you forsaken me?" (Matthew 27:46 NIV). Jesus was experiencing physical agony—and the torment of being separated from his Father.

A holy God could not stand even to look at his Son, full of the sins of the world. God looked away because he is perfect. Can you imagine what this cost Jesus?

But he was willing to go through that pain because he wanted to provide a way for you to be in fellowship with a holy God.

Somebody had to take the punishment, and Jesus did it for you. Jesus became your substitute so that, when God looks at you, he doesn't see your sin. He sees the righteousness of Jesus Christ.

And because of that, you can experience both eternal life and a full, purposeful life here on earth.


Senin, 31 Maret 2025

Mengasihi seperti Yesus

01 April 2025

Bacaan Hari ini:
Roma 15: 2 "Setiap orang di antara kita harus mencari kesenangan sesama kita demi kebaikannya untuk membangunnya."
------------------
Seandainya Anda sedang mengemudi di jalan bebas hambatan dan tiba-tiba ban mobil Anda kempes, lalu kebetulan ada mobil rombongan selebriti terkenal lewat, tentu tak ada seorang pun yang akan berharap mereka akan berhenti dan membantu Anda mengganti ban kempes Anda. Mereka mungkin terlalu sibuk atau terlalu penting untuk membantu Anda.

Namun itu bukanlah nilai-nilai kerajaan sorga—itu adalah nilai-nilai duniawi. Yesus mengajarkan bila Anda ingin menjadi orang yang besar, maka Anda harus menjadi "pelayan." Semakin Anda memberikan diri Anda sebagai seorang hamba dan melayani orang lain, semakin Anda menjadi yang terbesar dalam kerajaan sorga.

Beberapa tahun lalu, istri saya memberikan khotbah di empat acara besar dalam jangka waktu yang berdekatan. Begitu ia menyelesaikan misi pelayanannya, ia benar-benar kelelahan. Tapi yang ia lakukan ialah segera pergi ke dapur dan mulai memasak untuk satu keluarga di lingkungan kami yang sedang mengalami pergumulan berat. Dia tidak mementingkan dirinya sendiri. Dia mengesampingkan kelelahannya itu supaya ia bisa membantu orang lain. Dia telah melakukan ini berulang kali karena dia ingin menjadi semakin seperti Yesus. Dia ingin melayani.

Seperti apakah mengasihi seperti Yesus? "Setiap orang di antara kita harus mencari kesenangan sesama kita demi kebaikannya untuk membangunnya" (Roma 15: 2).

Salah satu cara untuk melayani seperti Yesus ialah dengan melayani orang lain seolah-olah Anda melayani Yesus sendiri. Yesus mungkin menyamar sebagai orang yang terluka di sekeliling Anda. Dia mungkin seseorang yang berpapasan dengan Anda di Senin pagi yang sibuk. Dia mungkin seseorang yang duduk di sebelah Anda saat menonton pertandingan sepak bola. Dia mungkin seseorang yang mengantre di belakang Anda di kasir supermarket. Dia mungkin seseorang yang paling sulit Anda kasihi yang sebenarnya sedang terluka teramat dalam.

Roma 12:13 mengatakan, "Bantulah dalam kekurangan orang-orang kudus dan usahakanlah dirimu untuk selalu memberikan tumpangan!"

Ada banyak orang di gereja, lingkungan, dan bahkan di keluarga Anda yang merupakan ibu tunggal yang bekerja mencari nafkah untuk keluarga mereka, ada para janda yang kesepian di rumah mereka yang hampa, ada seorang siswa yang kesulitan belajar.

Hari ini, apa yang dapat Anda lakukan untuk mengasihi mereka seperti Yesus?

Renungkan hal ini:

- Bagaimana Yesus memberi teladan apa artinya menjadi seorang hamba?

- Kapan seseorang pernah menunjukkan kasih Yesus kepada Anda dengan cara melayani Anda?

- Pikirkan seseorang dalam hidup Anda yang sedang terluka. Apa satu hal yang dapat Anda lakukan hari ini untuk mengasihi orang tersebut?

Bacaan Alkitab Setahun :
Hakim-hakim 11-12; Lukas 6:1-26
____________
Jika Anda ingin melayani Yesus, mulailah dengan mendatangi orang-orang di sekitar Anda yang tengah terluka hatinya.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
==========
Love like Jesus
By Rick Warren

"Each one of us needs to look after the good of the people around us, asking ourselves, 'How can I help?'" Romans 15:2 (MSG)
-------------------
If you're driving and get a flat tire, and a well-known celebrity drives by, nobody expects them to stop and help you. They're likely too busy or too important to help you with your problems.

But those aren't kingdom values—those are worldly values. Jesus said that, if you want to be great, you must be the servant of all. The more you give of yourself and serve other people, the greater you are in God's kingdom.

A few years back, my wife had four major speaking engagements in a short time period. She got home from one trip and was totally wiped out. But she went immediately to the kitchen and started cooking a meal for neighbors who were going through a major struggle. She didn't think she was too important. She put her exhaustion aside so she could help others. She has done this over and over again—because she wants to be like Jesus. She wants to serve.

What does it mean to love like Jesus? The Message paraphrase says, "Each one of us needs to look after the good of the people around us, asking ourselves, 'How can I help?'" (Romans 15:2 MSG).

In fact, one way to serve like Jesus is by serving others as if you're serving Jesus himself. Look for how Jesus might, in a way, be disguised as a hurting person in your neighborhood. He might be at the coffee station on Monday morning. He might be at the soccer game. He might be behind you in line at the grocery store. He might be the most unlovable person you know who is carrying a deep hurt. If you want to serve Jesus, then start by showing up for the hurting people around you.

The Living Bible paraphrase says, "When God's children are in need, you be the one to help them out. And get into the habit of inviting guests home for dinner or, if they need lodging, for the night" (Romans 12:13).

Many people in your church, neighborhood, and even family are single parents working to put food on the table, widows who are lonely in their empty houses, or students who are overwhelmed.

How can you love them like Jesus loves them?

Minggu, 30 Maret 2025

Sembuh dari Rasa Sakit Anda dengan Membantu Orang Lain

31 Maret 2025

Bacaan Hari ini:
1 Petrus 4:1 "Jadi, karena Kristus telah menderita penderitaan badani, kamupun harus juga mempersenjatai dirimu dengan pikiran yang demikian, --karena barangsiapa telah menderita penderitaan badani, ia telah berhenti berbuat dosa--, supaya waktu yang sisa jangan kamu pergunakan menurut keinginan manusia, tetapi menurut kehendak Allah."
--------------
Ketika Anda menderita, siapa seseorang yang paling Anda pikirkan? Diri Anda!

Mementingkan diri sendiri adalah sifat dasar manusia. Ketika Anda menderita, Anda ingin dihibur. Ketika Anda sakit, Anda ingin dipedulikan. Ketika Anda sedih, Anda ingin dipeluk. Rasa sakit membuat Anda mementingkan diri sendiri.

Namun, Allah berfirman bahwa, jika Anda ingin belajar mengasihi sebagaimana Dia mengasihi, maka Anda harus memerhatikan penderitaan orang lain, bahkan ketika Anda sedang menderita sekalipun.

Yesus adalah teladan terbaik kita dalam hal ini. Saat Ia berada di kayu salib, Ia mengalami penderitaan fisik, emosional, dan spiritual yang luar biasa. Ia menanggung semua dosa dunia! Namun, di saat-saat terakhir-Nya sekalipun, Ia peduli dengan penderitaan orang lain.

Yesus berdoa, "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat" (Lihat Lukas 23:34). Dan Ia berkata kepada penjahat di sebelah-Nya, "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus" (Lukas 23:43). Ia juga memastikan bahwa ibu-Nya akan dirawat setelah Ia tiada. Ia tidak memikirkan diri-Nya sendiri, bahkan saat Ia sedang sekarat.

Firman Tuhan mengatakan bahwa Anda harus memiliki sikap yang sama seperti Yesus (Filipi 2:5). Itu artinya, ketika Anda sengsara, Anda tetap harus melihat sekeliling Anda dan melihat siapa yang sedang menderita. Anda harus memikirkan orang lain, bahkan ketika Anda memedulikan diri Anda sendiri.

Ini sebuah pertanyaan yang sulit: Bagaimana Anda memandang penderitaan orang lain saat Anda sendiri juga sedang menderita?

Dikatakan dalam 1 Petrus 4:1-2: "Jadi, karena Kristus telah menderita penderitaan badani, kamupun harus juga mempersenjatai dirimu dengan pikiran yang demikian, --karena barangsiapa telah menderita penderitaan badani, ia telah berhenti berbuat dosa--, supaya waktu yang sisa jangan kamu pergunakan menurut keinginan manusia, tetapi menurut kehendak Allah."

Dengan kasih karunia Allah, Anda akan mampu mengesampingkan penderitaan Anda sendiri. Ketika Anda melakukannya, dosa akan kehilangan kuasanya dan Anda menjadi semakin seperti Yesus.

Ini terjadi kepada keluarga saya. Berkat kasih karunia Allah, kami mampu membantu orang lain yang sedang menderita, bahkan saat kami sendiri sedang menanggung luka yang dalam. Allah memberi kami tujuan di tengah penderitaan kami dan memampukan kami untuk membantu banyak orang.

Renungkan hal ini:

- Menurut Anda, pengalaman menyakitkan apa dalam hidup Anda yang dapat Tuhan gunakan untuk membantu orang lain yang mengalami hal yang sama?

- Apa saja cara yang dapat Anda lakukan untuk merawat diri Anda sendiri yang akan membantu Anda untuk lebih peduli kepada orang lain?

- Menurut Anda, mengapa membantu orang lain dapat menyembuhkan Anda?

Bacaan Alkitab Setahun :
Hakim-hakim 9-10; Lukas 5:17-39
___________
Tuhan juga dapat menggunakan penderitaan Anda untuk membantu orang lain yang tengah berjuang melawan penderitaan mereka.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
==========
You Heal from Pain by Helping Others
By Rick Warren

"Since Christ suffered and underwent pain, you must have the same attitude he did; you must be ready to suffer, too. For remember, when your body suffers, sin loses its power." 1 Peter 4:1 (TLB)
-----------------
When you're in pain, who's the person you're thinking of the most? You!

It's your nature to be self-centered—because you're human. When you're suffering, you want to be comforted. When you're sick, you want to be cared for. When you're sad, you want to be held. Pain makes you self-centered.

But God says that, if you're going to learn how to love like he does, you've got to try to see other people's pain, even when you're in pain.

Jesus is our greatest example of this. When he was hanging on the cross, he was in enormous physical, emotional, and spiritual pain. He was carrying all the sin of the world! But in his dying moments, he noticed the pain of others.

He prayed, "Father, forgive them. They don't know what they're doing" (Luke 23:34 GW). And he said to the guy next to him, "Today you will be with me in paradise" (Luke 23:43 GW). He also made sure his mother would be cared for. He wasn't thinking about himself, even when he was in agony.

God's Word says you should have the same attitude as Jesus (Philippians 2:5). That means, when you're in pain, you should look around and see who else is in pain. You should think of others, even as you care for yourself.

That's a hard one. How do you look at the pain of others while you're in pain?

The Living Bible paraphrase teaches, "Since Christ suffered and underwent pain, you must have the same attitude he did; you must be ready to suffer, too. For remember, when your body suffers, sin loses its power" (1 Peter 4:1).

With God's grace, you can look past your own pain. And when you do, sin loses its power and you become more like Jesus.

This has been true for my family. With God's grace, we've been able to help others who are in pain, even as we carry our own deep hurt. Because of this, God has given us purpose in our pain and helped many people to move forward in healing.

God can use your pain, too, to help others struggling with theirs.


Sabtu, 29 Maret 2025

Rawatlah Keluarga Rohani Anda

30 Maret 2025

Bacaan Hari ini:
1 Timotius 5: 1-2 "Janganlah engkau keras terhadap orang yang tua, melainkan tegorlah dia sebagai bapa. Tegorlah orang-orang muda sebagai saudaramu, perempuan-perempuan tua sebagai ibu dan perempuan-perempuan muda sebagai adikmu dengan penuh kemurnian."
-------------------
Jika Anda adalah murid Yesus, maka Anda tidak boleh hanya peduli pada keluarga Anda saja. Anda juga harus peduli dengan keluarga Allah — keluarga rohani Anda.

Siapakah keluarga rohani Anda? Mereka adalah saudara saudari Anda di dalam keluarga Allah.

Yesus berkata, "Sebab siapapun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di sorga, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku" (Matius 12:50). Itu artinya jika Anda ikut Yesus, maka Anda dan saya saling bersaudara! Kasih karunia Allah melalui Yesus Kristus mempersatukan kita sebagai sebuah keluarga. Mungkin Anda pernah mendengar ungkapan lama ini, "Darah lebih kental daripada air." Itu benar! Namun, kasih karunia Allah lebih kental daripada ikatan darah.

Surat dari Paulus kepada jemaat Kristen mula-mula berbunyi, "Janganlah engkau keras terhadap orang yang tua, melainkan tegorlah dia sebagai bapa. Tegorlah orang-orang muda sebagai saudaramu, perempuan-perempuan tua sebagai ibu dan perempuan-perempuan muda sebagai adikmu dengan penuh kemurnian" (1 Timotius 5: 1-2). Tuhan ingin Anda menganggap orang-orang di dalam tubuh Kristus (gereja) sebagai ayah, ibu, saudara, dan saudari rohani Anda.

Alkitab memberi tahu kita bahwa Yesus memiliki keluarga biologis, termasuk anak-anak Maria dan Yusuf lainnya. Mereka muncul berkali-kali dalam Kitab Suci, menyaksikan Yesus melakukan mukjizat. Salah satu saudara Yesus, Yakobus, menulis kitab Yakobus dalam Perjanjian Baru.

Akan tetapi, ketika Yesus sekarat, Dia tidak menyerahkan ibu-Nya kepada saudara saudari-Nya. Melainkan, Dia memercayakan Maria kepada Yohanes, murid-Nya yang Ia kasihi. Mengapa demikian? Yohanes 7: 5 mengatakan bahwa pada saat itu, belum ada satu pun dari saudara dan saudari Yesus yang menjadi orang percaya. Mereka termasuk di antara banyak orang yang tidak mengakui Yesus sebagai Anak Allah hingga setelah Kebangkitan-Nya. Barulah kemudian, setelah Yakobus menjadi salah satu pemimpin gereja di Yerusalem.

Yesus menyerahkan ibu-Nya untuk dirawat oleh Yohanes karena Yohanes sudah menjadi orang percaya dewasa. Yohanes ialah keluarga rohani-Nya yang memiliki ikatan yang lebih dekat di dalam ikatan kasih karunia, dibandingkan ikatan darah dengan keluarga biologis-Nya.

Sama halnya, Allah sudah merancang agar Anda menjadi keluarga rohani-Nya. Anda bisa memiliki ikatan yang lebih dekat dengan saudara-saudari Kristen Anda ketimbang, mungkin, dengan keluarga Anda sendiri. Dan hubungan yang erat ini akan menuntun Anda untuk merawat keluarga rohani Anda dengan baik.

Galatia 6:10 mengatakan, "Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman."

Renungkan hal ini:

- Apa yang seandainya bisa berubah dari cara Anda memperlakukan dan berinteraksi dengan orang percaya lainnya jika saja Anda menganggap mereka bagian dari keluarga Anda?

- Siapa saja dalam keluarga rohani Anda yang membutuhkan bantuan atau perhatian Anda sekarang? Apa yang akan Anda lakukan hari ini untuk merawat mereka?

- Jika Anda belum menjadi bagian dari keluarga Kristus, apa yang sedang menghalangi Anda untuk memercayakan hidup Anda kepada Yesus?

Bacaan Alkitab Setahun :
Hakim-hakim 7-8; Lukas 5:1-16
_________
Selalu lakukan apa pun yang Anda bisa untuk membantu mereka yang membutuhkan. Namun, berikan perhatian khusus kepada mereka yang ada di dalam keluarga rohani Anda.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
=========
Take Care of Your Spiritual Family
By Rick Warren

"Do not rebuke an older man harshly, but exhort him as if he were your father. Treat younger men as brothers, older women as mothers, and younger women as sisters, with absolute purity." 1 Timothy 5:1-2 (NIV)
--------------------
If you follow Jesus, you can't just care about your own family. You must also care about God's family—your spiritual family.

Jesus said, "Whoever does the will of my Father in heaven is my brother and sister and mother" (Matthew 12:50 NIV). That means that, if you follow Jesus, you and I are related! God's grace through Jesus Christ bonds us together as family.

A letter to some of the first Christians says, "Do not rebuke an older man harshly, but exhort him as if he were your father. Treat younger men as brothers, older women as mothers, and younger women as sisters, with absolute purity" (1 Timothy 5:1-2 NIV). God wants you to see other people in the body of Christ as your spiritual fathers, mothers, brothers, and sisters.

The Bible tells us Jesus had a biological family, including Mary and Joseph's other children. They show up many times in Scripture, watching Jesus do miracles and trying to talk him out of doing certain things. One of Jesus' half brothers, James, actually wrote the New Testament book of James.

But, as Jesus was dying, he did not entrust the care of his mother to any of his siblings. He entrusted her to John, his beloved disciple. Why is that? John 7:5 says that none of Jesus' brothers had become believers yet. They were among the many people who didn't recognize Jesus as the Son of God until after the resurrection. It wasn't until later that James became a leader of the church in Jerusalem.

Jesus entrusted his mom to John because John was already a mature believer. John was his spiritual family, with closer ties through the bonds of grace than even his biological family.

God designed his family of faith to be the same for you. You can have closer bonds with fellow Christians than you might even have with your own family. And those close bonds should lead you to take particularly good care of your spiritual family.

Galatians 6:10 says, "Whenever we have the opportunity, we should do good to everyone—especially to those in the family of faith" (NLT).

Always do whatever you can to help people in need. But pay special attention to those within your own spiritual family.


Jumat, 28 Maret 2025

Memaafkan dan Melupakan?

29 Maret 2025

Bacaan Hari ini:
Roma 8:28 "Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah."
---------------
Anda mungkin sudah mendengar ungkapan ini berulang kali: "Memaafkan dan melupakan." Hanya saja, ada satu masalah dengan ungkapan ini: Anda tidak akan bisa melakukannya. Itu mustahil!

Anda tak bisa melupakan rasa sakit dalam hidup Anda. Bahkan, Anda tidak bisa walaupun mencoba melupakannya. Setiap kali Anda mencoba untuk melupakan, pada akhirnya Anda hanya fokus pada hal yang sangat ingin Anda lupakan.

Sesungguhnya, Tuhan tidak ingin Anda melupakan. Sebaliknya, Dia ingin Anda percaya kepada-Nya dan melihat bagaimana Dia dapat mendatangkan kebaikan dari luka tersebut. Itu lebih penting daripada melupakan. Ketika Anda melihat Tuhan mendatangkan kebaikan dari situasi yang buruk, Anda akan mampu mengucap syukur kepada-Nya atasnya. Namun sebaliknya, Anda tidak akan pernah bisa bersyukur kepada Tuhan atas hal-hal yang sudah Anda lupakan.

Roma 8:28 mengatakan, "Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah."
Ayat ini tidak mengatakan bahwa segala perkara adalah baik— sebab tidak semua hal adalah baik adanya. Penyakit itu tidak baik. Hubungan yang rusak itu tidak baik. Perang itu tidak baik. Perlakuan kejam itu tidak baik.

Ada banyak hal dalam hidup ini yang jahat. Tidak semua perkara yang terjadi di dunia ini adalah kehendak Tuhan.
Akan tetapi, Tuhan berfirman bahwa Dia akan turut bekerja dalam segala sesuatu dalam hidup Anda untuk mendatangkan kebaikan apabila Anda percaya kepada-Nya. Datanglah ke hadirat-Nya dan berserulah, "Tuhan, aku memberikan setiap bagian hidupku."
Tuhan akan mengambil alih setiap kepingan tersebut dan memberikan Anda damai sejahtera.

Anda tak perlu melupakan kesalahan yang pernah dilakukan seseorang terhadap Anda. Anda tidak akan pernah bisa meskipun Anda mencobanya! Tapi sebaliknya, Tuhan berkata Anda tidak perlu melupakannya. Anda hanya perlu mengampuni dan kemudian melihat bagaimana Dia bekerja mendatangkan kebaikan dari luka Anda tersebut.

Renungkan hal ini:

- Siapa yang belum Anda maafkan karena Anda tidak ingin melupakan atau melepaskan apa yang telah mereka lakukan kepada Anda?

- Apa yang perlu Anda lakukan hari ini untuk mengampuni orang-orang tersebut dan melanjutkan hidup Anda? Bagaimana dengan mengetahui kebenaran firman bahwa Tuhan tidak mengharapkan Anda untuk melupakan rasa sakit Anda bisa membantu Anda?

- Bagaimana selama ini Anda melihat Tuhan bekerja dengan baik dalam hidup Anda di tengah situasi yang sulit?

Bacaan Alkitab Setahun :
Hakim-hakim 4-6; Lukas 4:31-44
___________
Damai sejahtera ini akan datang ketika Anda menyadari bahwa Anda dapat mengampuni sekalipun Anda tidak memahami maksud dari rasa sakit di dalam hidup Anda sebab Anda tahu Tuhan akan menggunakannya untuk mendatangkan kebaikan.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
=========
Forgive and Forget?
By Rick Warren

"And we know that in all things God works for the good of those who love him, who have been called according to his purpose." Romans 8:28 (NIV)
-------------------
You've heard this phrase over and over: "Forgive and forget." There's only one problem with it: You can't do it. It's impossible!

You really can't forget a hurt in your life. In fact, there's really no use in even trying to forget. Because when you try to forget, you end up focusing on the very thing you want to forget.

And the truth is, God doesn't want you to forget. Instead, he wants you to trust him and see how he can bring good out of the hurt. That's more important than forgetting. When you see God bring good out of a bad situation, you can thank him for that good work. You can't thank God for things you forget.

Romans 8:28 says, "And we know that in all things God works for the good of those who love him, who have been called according to his purpose" (NIV).

It doesn't say that all things are good—because all things are not good. Disease is not good. A broken relationship is not good. War is not good. Abuse is not good.

There are a lot of things in life that are evil. Not everything that happens in this world is God's will.

But God says he will work good out of the bad things in life if you will trust him. You can go to him and say, "God, I give you all the pieces of my life."

He will take your pieces and instead give you peace in your heart. This peace will come when you realize you can forgive, even if you don't understand the hurt in your life, because you know God will use that pain for good.

You don't have to forget the wrong thing someone did to you. You couldn't forget even if you tried! But God says there's no need to forget it. You just have to forgive and then see how God will bring good out of the hurt.